Home » Blog » Alga alternatif bensin masa depan
Filed: Blog
Advertisement
loading...

Untuk menghasilkan seliter bioetanol berkadar 99%, Sulfahri hanya memerlukan 0,67 kg alga, Sulfahri memanfaatkan alga Spirogyra sp untuk membuat bioetanol karena relatif mudah memperoleh mahkluk mini itu. Alasan lain spirogyra istimewa karena, “Kandungan karbohidrat mencapai 64%,” kata Sulfahri. Itu hampir 3 kali lipat karbohidrat singkong, yang rata-rata cuma 25%. Itulah yang membuat spirogyra menjadi bahan baku bioetanol potensial. Harap maklum spirogyra memang tidak dapat dikonsumsi sehingga tak terjadi kompetisi dengan kebutuhan pangan. “Pemanfaatan bahan pangan untuk bioetanol bakal berdampak serius terhadap ketersediaan pangan,” kata Dr Ir Supriyanto, periset bioetanol di Pusat Biologi Tropik Wilayah Asean (SEAMEO Biotrop), di Bogor, Jawa Barat.

Kaya karbohidrat
Menurut Prof I Nyoman Kabinawa, periset alga di Pusat Penelitian Bioteknologi, alga yang memiliki kandungan karbohidrat tinggi cocok untuk bioetanol. “Minimal mengandung 25% karbohidrat,” kata Kabinawa. Sejatinya lemak bisa diolah menjadi biodiesel, tapi kandungannya paling tidak 30%. spirogyra menyimpan karbohidrat sebanyak 33-64% lemak sehingga cocok sebagai be-ariH bioetanol. Menurut Sulfahri, jenis kar; ifl dalam spirogyra adalah amfj- i zat tepung. Zat tepung tergolong alam dengan ukuran molekul tersusun oleh monomer glikosida. mampu memanfaatkan amilum langsung,” kata Sulfahri. Itu seba: menambahkan 0,12% enzim alfa-an untuk menguraikan ikatan polime’ menjadi gula berbentuk glukosa. dan dekstrin. Ketiga bahan itulah yang menjadi bioetanol. “Semakin yang dapat dimanfaatkan sel, tinggi pula kadar etanol yang tutur alumnus Institut Teknologi Nopember itu. Maklum, glukosa  maltosa adalah sumber energi bag penghasil etanol. Bakteri itu merijl glukosa dan maltosa menjadi etanol dalam kondisi tertutup tanpa udara proses fermentasi sehingga dijuluki fermentor.

Fermentasi tergolong proses bic a yang melibatkan bakteri hidup seh etanol yang dihasilkan disebut bioetanol. Produsen sejatinya bisa membuat dengan proses fisika atau hidrasi. Indua alkohol untuk farmasi maupun kosr- membuat etanol dengan cara itu lantas prosesnya jauh lebih cepat dan eflsa Pada risetilmiah itu, Sulfahri memanfaa’spirogyra dari lahan kampus Bioetanol 99% potensial pengganti bahan bakar minyak v Spirogyra mengandung karbohidrat hingga 64% ) di tempat yang memiliki cukup sinar matahari, air, dan karbondioksida. Sepuluh Nopember, SukoliloJawa Timur. enurut Kabinawa, spirogyra lazim di kolam air tawar yang tergenang nggi kandungan nitrogen dan fosfor, sabnya makhluk super mini itu maksimal 5%, memblender, lalu p-;mbahkan air suling sebanyak 15 kali alga kering. “Hasil itu yang nantinya akan untuk hidrolisis, pembuatan, dan fermentasi,” tutur Sulfahri.

Chlorella
Pada riset yang dibiayai oleh Beasiswa Unggulan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Sulfahri menambahkan 10% kapang Saccharomyces cerevisiae sebagai bakteri fermentor. Selang 10 hari, larutan itu pun mengandung 9,245% etanol, la lantas menyaring dan menyuling larutan itu sampai Bioetanol Spirogyra memperoleh bioetanol berkadar 99%. Hasilnya, untuk memperoleh seliter bioetanol berkadar 99% alias fuel grade ia memerlukan 0,67 kg spirogyra kering atau setara 6-7 kg segar. Bioetanol dari makhluk air bukan barang baru. Pada 2008, Ir Mujizat Kawaroe MScdi Fakultas Perikanan dan llmu Kelautan Institut Pertanian Bogor, juga meriset alga untuk membuat bioetanol. Bedanya, Mujizat menggunakan ganggang hijau biru dari jenis Chlorella (baca: Makhluk Mini Pengisi Tangki, Trubus Maret 2008). Chlorella berkadar karbohidrat 29-31% lebih laku sebagai pangan fungsional ketimbang bahan bakar, la berhasil membuktikan bahwa bioetanol dari alga menjadi solusi potensial kebutuhan bahan bakar. Menurut Ir Sri Nurhatika MP, peneliti di jurusan Biologi institut Teknologi Sepuluh Nopember, tingginya rendemen bioetanol menjadikan spirogyra berpeluang besar dikembangkan. “Bandingkan dengan singkong yangperlu 6,5kg, jagung 5,5 kg atau sagu yang butuh 5 kg untuk menghasilkan seliter bioetanol,” kata Nurhatika. Riset itu mengantarkan Sulfahri meraih sarjana dari jurusan Biologi ITS pada 2011.

shareShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someonePrint this page

komentar

klikaja
tags:

Related Post Alga alternatif bensin masa depan

CHEN PING VILLAGE LOKASI PERBANYAKAN CRYPTOMONADALES

Durian Yang Baik

ANGGREK LANGKA TUMBUH SUBUR BERKAT MIKORIZA

TEKNIK TRAWL ALIAS PUKAT HARIMAU

BUDIDAYA SAYUR