Home » Blog » Budidaya pisang dari solok
Filed: Blog
Advertisement
loading...

Pisang hasil silangan Drs Edsa» beserta rekan dari Balai Pe’~Ni Tanaman Buah Tropika di 5>a Sumatera Barat, itu siap panen saat ban 8-9 bulan. “INA-03 sudah berbunp u umur 7 bulan sementara induknya ketan, baru berbunga pada umur 1C nj| kata Kepala Balai, Dr Catur Hermanta 34 muncul bunga hingga panen, pisa-z n rata memerlukan 30-40 hari. Semak – :5 berbunga, kian cepat pula panen. INA-03 menghasilkan buah 10-; dengan 6-8 sisir per tandan. Rasanya n dengan kadar kemanisan mencapai 25 briks. Pisang bertekstur buah kerrya tahan simpan hingga 18 hari. Keurgz. lain, INA-03 tahan penyakit layu fusariur i bakteri. Layu fusarium merupakan pe~ « nomor 2 yang paling menyerang 1 sd setelah penyakit darah. Penyakit Fusarium oxysporum itu menyeba:s kerugian lebih dari 35 %. Celaa«| cendawan itu dapat bertahan di cam tanah hingga 30 tahun. Pisang ideal Hasil uji di 3 lokasi yang terirra cendawan fusarium di Jawa Eai dan Sumatera Barat membukn+a bahwa INA-03 tahan layu fusarj “Pisang INA-03 tetap tumbuh baik :.a lahan yang terinfeksi cendawan kata Edison. Catur menuturkan, IN^-I hampir mendekati sifat pisang yang “Pisang ideal adalah berbatang periril berumur genjah, daun tegak, taraa tandan panjang, tangkai buah panjang. cm tahan terhadap organisme penggans Sosok Ideal dari Solok INA-03 yang genjah, produktitivitas tinggi, dan tahan fusarium mendekati pisang ideal. A m’03’ hasil silangan ketan-01 dengan calkuta-4.

Kadar kemanisan 24,5—25° briks ^ Pisang INA-03 menghasilkan buah 10— 18 kg per tandanng terinfe . aa membukti yu fusar h baik ldawan jrtan, ig yang id iang penc igak, tang i panjang penggang II dengan 14,5—250 briks i buah 10—18 kg mi . ar ahli patologi tanaman itu. ke 3naman pisang yang ideal 2 m, sehingga mudah MH isr-ya. “Daun tegak sehingga r ^j-.an luas dapat ditanam pisang Mr . – 3- karena daunnya tak saling m.-: Sumber genetiknya ada pada f ra-angan dan ketan,” kata Catur. !9lHP>. ‘j’Gan panjang, lebih dari 50 cm, HfB.r i agar buah tegak lurus sehingga hiiw n-an bagus dan seragam. Imrez- begitu pekebun mudah plp-as dan memasarkan. “Sumber i H ‘ a ada pada pisang prancis,” kata k Eeain tandan, tangkai buah pun bu • i aanjang sehingga buah rapat dan < . ~:-3ng-tindih. Contohnya cavendish «r : ;.ang ambon hijau. Kriteria pisang ia inya adalah tahan organisme ‘sgu tanaman.

“Indonesia terkenal MK gudang plasma nutfah pisang H:.: penyakit. Sekitar 24 organismeggarggu tanaman pisang ada di —a’ kata Catur. nan terhadap penyakit layu fusarium dan enurut Catur jumlah pisang yang 1 – rekati ideal di Indonesia masih terbatas, ier rii terdapat hanya sekitar 30 pisang pr-‘:ekati ideal. Oleh karena itu kehadiran KT raa,-g INA-03 tepat sebagai pilihan bagi m~i pekebun. Pisang itu merupakan £ oersilangan pisang ketan-01 dengan -‘3-4. Calcuta-4 memiliki sifat berbiji, “-.aa-n satu buah bisa terdapat 63 biji, Pisang Jumbo elain lna-03, Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika Solok, Sumatera Barat, juga memiliki FHIA-25 yang potensial sebagai pisang olahan seperti keripik dan tepung. Produktivitasnya 25-40 ton per ha setahun. Bobot buah 30-50 kg per tandan. Bahkan, pernah bobot buah mencapai 60 kg per tandan. Tanaman yang toleran terhadap penyakit layu fusarium dan tahan layu bakteri itu berbunga pada umur 315-335 hari. Lembaga itu memperoleh FHIA 25 dari International Transit Centre yang memiliki lebih dari 1.000 aksesi atau calon induk di Belgia. Buah pisang f FHIA tahan simpan hingga 24 hari setelah panen.

“Namun, bila digunakan sebagai bahan baku keripik sebaiknya segera diolah 1-2 pekan pascapetik agar daging buah tidak hancur saat diiris,” ujar Drs Edison HS dari Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika. FHIA 25 tumbuh baik di ketinggian 2-700 meter di atas permukaan laut. FHIA-25 menghasilkan buah 25—40 ton/ha/tahun tapi calkuta tahan terhadap penyakit layu bakteri,” kata Edison. Ketan-01 tidak berbiji, tapi tanamannya rentan terhadap layu bakteri. “Kami beruntung persilangan antara ketan dan calkuta menghasilkan keturunan yang lebih baik daripada induknya,” ujar Edison. Matang berbeda Drs Edison HS beserta rekan mulai menyilangkan kedua induk itu pada 1989. Mereka menghabiskan hari-harinya di kebun pisang.

Kerap kali mereka berdiri di tangga yang bersandar di tanaman pisang yang sedang berbunga secara bergantian. Tujuannya agar mereka mendapatkan waktu tepatuntukmenyilangkan pisang. Maklum, ketika itu belum banyak literatur yang membahas cara menyilangkan tanaman anggota famili Musaceae itu. “Waktu itu kami belum tahu kapan bunga betina dan jantan matang, sehingga terpaksa memelototi bunga pisang sepanjang hari bahkan sampai tengah malam,” ujar alumnus jurusan Biologi Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat, itu. Setelah beberapa kali megamati untuk persilangan, akhirnya Edison mendapatkan waktu tepat menyilangkan pisang, yaitu pukul 06.00. “Bunga betina matang lebih dahulu daripada jantan. Tanda bunga betina matang adanya lendir di putiknya,” kata Panca Jarot Santoso SP MSc, rekan Edison, yang juga membantu proses penyilangan pisang. Meski menyilangkan tepat waktu, saat putik dan benangsari matang, belum tentu menghasilkan pisang yang memiliki embrio.

shareShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someonePrint this page

komentar

klikaja

Related Post Budidaya pisang dari solok

DAUR ULANG BIOETANOL DAN MINYAK JELANTAH

Pelatihan Budidaya Ikan Air Tawar 6 Jenis

TANAH BUKAN HANYA UNTUK BUDIDAYA TANAMAN.

Si Hitam Sehatkan Jantung

RISIKO HIPERTENSI DAPAT DIKURANGI DENGAN CRYPTOMONADALES