bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
Home » Blog » Kiat beternak atau budidaya cacing
Filed: Blog
Advertisement
loading...

CACING 1

Cacing sekarang bukan lagi hewan menjijikkan. Satwa melata bertubuh ramping itu kini dinobatkan sebagai hewan multiguna. Produsen farmasi dan kosmetik konon memakai cacing untuk beberapa produknya. Bahkan ada obat untuk tifus yang dipopulerkan berbahan baku cacing. Se lain itu ia pun dimanfaatkan untuk menanggulangi masalah sampah.Media bekas tempat hidupnya cocok sekali untuk pupuk organik. Media tersebut disebut kascing (bekas cacing) mengandung beragam unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Kandungan unsur hara berbeda tergantung media dan jenis pakan yang disantap cacing. Jika medianya serbuk gergaji maka kascingnya pasti banyak mengandung nitrogen. Sebaliknya kalau media berbahan baku jerami unsur kalium dominan. Saat ini kascing dilirik para pekebun.

Cacing untuk kesuburan Cacing sejak dahulu memang dikenal sebagai hewan penyubur tanah. Da lam proses makan mereka mengeluarkan kotoran berbentuk pelet. Pe let ini diselimuti lapis an gel yang menyatukan pelet-pelet menjadi satu kesatuan. Pe let menyebabkan membaiknya drainase dan aerasi tanah sehingga baik sekali bagi pertumbuhan tanaman. Pe let tidak hanya mengubah unsur hara ke bentuk yang mudah diserap akar tetapi juga berefek slow release. Artinya unsur hara itu dilepas secara perlahan-lahan untuk memasok kebutuhan tanaman. Pada saat yang sama kemampuan tanah memegang air juga bertambah. Cacing pun memecah bahan organik menjadi bagian yang lebih kecil. Dengan demikian mikroba tanah memiliki ruang lebih luas untuk aktivitasnya. Mereka juga memperoduksi enzim yang mengefektifkan kerja bakteri. Dengan kata lain kehadiran cacing membuat proses dekomposisi lebih cepat.

Jenis cacing Ada sekitar 3.000 spesies cacing tanah tetapi yang cocok dipelihara hanya setengahnya saja. Setiap jenis memiliki fungsi berbeda. Sebagai contoh jika ingin mengomposkan sampah pakailah cacing tiger (Eisenia foetida). Cacing ini terkenal rakus sekali sehingga kemampuan mengomposkan sampah lebih besar daripada yang lain. Ia jarang ditemukan di tanah yang miskin unsur hara. Sebab makanan cacing tiger justru bahan-bahan organik yang banyak tersedia di sampah. Ada tiga golongan besar cacing berdasarkan tempat hidupnya. Pertama cacing yang hidup di permukaan tanah. Spesies ini hidup di atas tanah tidak menggali lubang masuk ke kedalaman. Itu sebuah sifat berdasarkan naluri mencari makan. Cacing kelompok ini menyantap bahan-bahan dengan kandungan organik tinggi. Contohnya ialah Lumbricus rubbelus dan Eisenia foetida. Kelompok kedua berupa cacing yang hidup di lapisan top soil 20 cm-30 cm dari permukaan tanah. Mereka membuat lubang di tanah. Da lam proses pelubangan itu mereka sekaligus memperbaiki struktur tanah. Peredaran udara di dalam tanah juga meningkat lantaran terbentuknya “saluran” cacing di dalamnya.

Setelah tanah dilewati cacing beberapa Kiat mengolah unsur hara yang tadinya sulit diserap akar berubah menjadi bentuk lain yang lebih mudah terserap. Karena itu kehadiran cacing umumnya membuat kondisi tanah menjadi lebih baik. Golongan terakhir ialah cacing yang hidup jauh di dalam tanah. Spesies ini tinggal di lubang-lubang permanen di kedalaman 3 m atau lebih. Kadang-kadang mereka merayap ke permukaan tanah untuk mencari makanan seperti daun. Makanan itu dibawanya ke dalam tanah untuk dikonsumsi. Mereka bermanfaat saat kondisi kebun dipenuhi oleh daundaun yang gugur. Lumbricus terrestrisAporrectodea longa dan Octolasion cyaneum contoh cacing yang termasuk golongan mi. Cacing untuk diternakkan termasuk golongan pertama. Para peternak menyebutnya Lumbricus rubbelus. Sebenarnya ini penamaan yang salah kaprah. Sebab para peternak itu memelihara cacing berwarna merah maron dengan warna kuning di ekornya. Litelatur menyebutkan cacing berwarna merah maron dan berekor kuning ialah Eisenia foetida . Kesalahan terjadi lantaran sosok keduanya mirip sekali. Tubuh Eisenia foetida merah maron tetapi ekor tidak kuning. Untuk mempertahankan hidupnya kedua spesies ini membutuhkan media berkadar organik tinggi. Sampah serbuk gergaji jerami hanyalah beberapa media yang cocok untuk memeliharanya. Mereka tidak akan hidup jika dilepas ke tanah kecuali tanah tersebut benar-benar kaya bahan organik. Jadi kalau Anda membiarkan cacing-cacing itu bertebaran di tanah berartiAnda sedang memupuk tanaman dengan tubuh cacing mati.

Persiapan beternak Sebelum memperoleh induk cacing terlebih dahulu persiapkan lokasi dan tempat pemeliharaan. Lokasi bisa di sembarang tempat asal tidak langsung terkena curahan air huj an tidak terlalu panas dan mudah terjangkau. Tempat pemeliharaan beragam: kotak kayu bambu ataupun wadah plastik. Peti kayu bekas kemasan buah atau sayuran yang sering dijumpai di pasar pun bisa dipakai. Peti dibuka bagian atasnya kemudian diberi alas karung goni. Alas ini tidak hanya menutupi dasar tetapi juga keempat sisinya. Tidak ada standar untuk ukuran kotak.

Yang penting kotak itu tidak mengandung bahan beracun murah mudah diperoleh dan kapasitas tampungnya memadai.. Sebagai acuan kotak 90 cm x 90 cm x 30 cm dapat dihuni 3 kg-4 kg bibit. Sedangkan wadah berukuran 45 cm x 35 cm x 15 cm menampung 250 gram bibit. Peletakan wadah bervariasi antara satu peternak dan peternak lain. Ada yang menggali tanah. Keempat sisinya diplester. Ke dalam lubang itu dimasukkan media untuk memelihara cacing. Model pemeliharaan ini memerlukan lahan relatif luas dan tidak bisa dilakukan di sembarang tempat. Cara lebih praktis memeliharanya dalam kotak yang disusun bertingkat. Rak-rak di setiap tingkat harus menonjol. Artinya rak paling atas kalau dimasukkan ujungnya masuk sampai ke dalam. Rak kedua Kiat beternak Cacing kalau didorong ke dalam ujungnya agak menonjol dibandingkan rak pertama. Demikian seterusnya sampai rak terbawah.

Jenis media sebagai tempat hidup sekaligus pakan cacing tergantung bahan yang tersedia. Prinsipnya media itu harus mengandung bahan organik tinggi. Ia mampu menahan air tidak beracun dan mudah terdekomposisi. Serbuk gergaji sampah organik daun-daunan rumput serutan kayu sekam dedak padi eceng gondok ampas singkong buahbuahan busuk sisa-sisa sayuran daun pisang kering adalah beberapa contoh bahan media untuk beternak cacing. Cacing termasuk hewan yang membutuhkan oksigen cukup untuk kehidupannya. Ku lit tubuh menjadi tempat masuknya oksigen dan keluarnya karbonmonoksida. Mereka aktif sekali pada suhu ruangan sekitar 22°C-28°C. Sedangkan pH media berkisar pada angka 65-75.

Cacing memang pemakan bahan organik tetapi mereka tidak akan menyantap makanan yang masih keras atau yang terlalu besar ukurannya. Mereka hanya mngkonsumsi pakan yang sudah lunak melalui proses pembusukan alami. Dengan persyaratan itu maka media atau pakan untuk cacing perlu diberi perlakuan sebelum dipakai. Untuk media dari kotoran ternak simpan kotoran tersebut selama 2-3 minggu di tong tertutup. Sega la macam kotoran ternak bisa dipakai kecuali kotoran anjing kucing dan kuda. Para peternak di sini banyak memakai kotoran kuda lantaran memiliki efek bagus bagi cacing. Namun di luar negeri kotoran kuda dihindari sebab ia mungkin saja mengandung cacing.
Dibuat rak bertingkat. Alat pencacah media Pelepah pisang juga bisa jadi media lain atau antibiotik yang berbahaya bagi cacing. Kotoran ketiga hewan itu juga bisa saja mengandung bakteri staphylococcus dan streptococcus. Perlakuan lebih rumit diperlukan bila bahan baku medianya sayuran atau sisa-sisa hasil pertanian. Ukuran bahan harus kecil. Karena itu sayuran bersosok besar perlu dicacah.

Sisa-sisa basil pertanian mungkin saj a tercemar residu pestisida. Supaya aman maka sebaiknya bahan-bahan tersebut dicuci di air mengalir dahulu sebelum dicacah dan dicampur dengan yang lain. Pencucian sekaligus menaikkan kelembapan mikro. Kelembapan ini dibutuhkan dalam proses dekomposisi menjadi bahan yang mudah disantap cacing. Setelah seluruh bahan terkumpul dicacah dan dicuci campur dan tumpukkan di suatu tempat. Tinggi tumpukan 1 m. Tutup bagian atas dengan karung basah tetapi biarkan keempat sisi terbuka. Seandainya tidak mencapai 1 m sebaiknya masukkan saja bahan ke karung. Pilih bahan yang masih memungkinkan udara keluar masuk misal karung goni atau karung plastik. Dekomposisi berlangsung selama 2 minggu. Se lama itu maka yang perlu dilakukan ialah membalik-balik tumpukan sehingga proses pematangan lebih cepat. Usai didekomposisi bahan siap dipakai untuk memelihara cacing. Kriteria bahan ideal untuk media cacing antara lain: pH 65-75. Kisaran suhu 20°C-28°C. Kadar air 40%-60%. Terlalu banyak air akan

Media biasanya dicampur, Ragam bahan untuk media menimbulkan bau tidak sedap. Media yang dipakai bisa berasal dari kompos hasil pertanian. Terbuka pula kemungkinan mencampur kompos dengan pupuk kandang dengan perbandingan 70%:30% untuk produksi kokon; perbandingan 50%:50% untuk pembesaran. Jarang sekali peternak yang memelihara cacing dengan media 100% kompos atau 100% pupuk kandang. Umumnya mereka mencampur kedua media itu mengomposkannya bersama-sama dan langsung memakainya setelah memenuhi syarat. Pemeliharaan Selesai mempersiapkan kandang dan media langkah berikut ialah memilih jenis cacing. Cacing impor asal Australia Eisenia foetida sampai sekarang dianggap paling menonjol efektivitasnya. Pilihan lain ialah Lumbricus rubbelus dan Pheretima asiatica.

Apapun jenis terpilih yang penting induk cacing harus berumur minimal 3 bulan tertua 10 bulan. Saat itu cacing dalam tahap produktif. Tolak cacing berumur lebih dari 10 bulan lantaran ia sudah uzur. Di bawah 3 bulan masih bisa dipakai asal dibesarkan dahulu. Ciri cacing produktif ialah adanya klitelium. Bagian ini mudah terlihat lantaran pada Eisenia foetida warnanya putih kekuningan sangat mencolok di tengah-tengah warna merah maron. Apalagi bentuk klitelium ini menonjol agak benjol dibandingkan bagian tubuh lain. Tebarkan induk cacing yang berperan sebagai bibit ke media siap pakai. Kesesuaian media dengan cacing bisa dicek melalui cara sederhana. Tebarkan beberapa ekor cacing. Perhatikan apakah mereka masuk ke dalam media dan tidak keluar lagi. Jika ya berarti media sudah nyaman bagi sang cacing. Kalau tidak proses lagi media tersebut sampai cacing betah hidup di dalamnya. Jumlah cacing yang ditebarkan tergantung volume media. Satu kilo cacing membutuhkan 20-40 liter media. Selama pemeliharaan sedikit sekali yang harus dilakukan peternak. Perawatan rutin ialah mengaduk-aduk media. Cacing membutuhkan

Model tempat beternak cacing media harus gembur banyak oksigen untuk hidup. Oksigen masuk melalui kulit dan keluar dari jalan yang sama dalam bentuk karbon dioksida. Seandainya kandunagn oksigen di media kurang cacing berusaha mencari ke permukaan. Suatu hal yang dihindari oleh mereka karena cacing tidak suka tempat terang. Itulah sebabnya penggaruan media secara rutin perlu dilakukan. Frekuensi penggaruan tergantung stituasi. Tidak perlu setiap hari tetapi minimal 2 hari sekali. Memberi pakan suatu kewajiban. Jumlahnya tergantung populasi cacing.

Sebagai patokan seekor cacing mengkonsumsi pakan setengah dari bobot tubuhnya. Ini jumlah maksimal. Jumlah konsumsinya turun jika suhu ruangan tidak ideal bagi cacing. Terlalu banyak memberi pakan menimbulkan bau tidak sedap terhadap lingkungan sekitar. Biarkan cacing menghabiskan pakan itu dahulu kemudian tambah lagi jika populasinya sudah bertambah. Jenis pakan bervariasi tergantung pengalaman peternak. Untuk pembesaran ada yang memakai perbandingan 50% kompos dan 50% pupuk kandang; produksi kokon pupuk kandang 30% dan kompos 70%. Ada 2 cara pemberian. Pertama dengan sistem tugal. Lubangi salah satu bagian media kemudian masukkan pakan ke dalamnya. Tutup lagi pakan dengan media. Cacing akan menyerbu tempat itu sehingga cukup tidaknya jumlah pakan cukup dilihat dari satu tempat. Cara Ki a t B riak Caciirig

kedua dengan menebarkannya tipis-tipis di permukaan media. Tebaran pakan kemudian ditutup bahan tidak tembus cahaya supaya cacing mau merayap ke permukaan media yang sudah gelap gulita. Hal lain yang perlu diperhatikan ialah populasi cacing. Reproduksi hewan melata ini demikian pesat. Dalam seminggu seekor cacing memproduksi 2-4 kokon (telur cacing). Dalam waktu 2-3 minggu kokon menetas menjadi calon cacing. Setiap kokon berisi beberapa calon cacing. Menurut pengalaman para peternak satu kokon menghasilkan 1-4 calon cacing. Peternakan berorientasi komersial perlu memisahkan wadah berisi anak cacing dan indukan. Induk cacing mengeluarkan kokon. Sesaat setelah menghasilkan kokon sang induk dipindahkan ke wadah lain dengan media yang baru. Para pemula yang pertama kali menernakkan cacing dianjurkan memindahkan sang induk satu bulan setelah dipelihara.

Kokon di wadah bekas indukan akan menetas dalam waktu 2-3 minggu. Biarkan anak cacing itu menjalani hidupnya sampai dewasa di sana. Setelah berumur 25 bulan anak cacing itu sudah siap berproduksi ditandai keluarnya klitelium. Itulah waktu yang tepat memindahkan cacing dewasa ini ke tempat lain untuk dijadikan indukan baru. Media bekas cacing generasi pertama itu disebut kascing. Inilah yang dipakai para ibu rumah tangga untuk memupuk tanaman kesayangan mereka. Umumnya peternak jarang menjual kascing dalam waktu 25 bulan setelah kokon menetas. Pertimbangan mereka kemungkinan kascing itu masih berisi telur. Penjualan kascing biasanya dilakukan 2 bulan setelah pemindahan indukan baru. Jadi total “umur” kascing sekitar 45 bulan. Kascing itu memang tidak akan mereka pergunakan lagi. Warna media yang sudah menjadi kascing itu menjadi gelap. Lingkungannya sudah tidak cocok untuk sang cacing. Volume kotoran cacing sudah terlalu banyak dan ini menjadi racun bagi cacing itu sendiri. Itulah sebabnya media seperti ini dijadikan kascing. Sementara itu induk cacing yang pertama kali dibeli setiap 15 hari sekali akan memproduksi kokon. Dengan demikian setiap 15 hari sekali pula mereka dipindahkan ke wadah baru. Proses pemindahan kokon dan cacing remaja hasil produksi mereka sama dengan proses yang dialami cacing generasi pertama. Dengan memperhitungkan populasi tingkat produktivitas dan lama produksi maka bisa diprediksi volume kascing yang akan diperoleh per satuan waktu.

Cuma butuh lahan sedikit, Kendala Se lama masa pemeliharaan sering muncul beragam masalah. Berdasarkan pengalaman peternak masalah tersebut antara lain bau media dan hama. Lingkungan beraroma tidak sedap mungkin saja muncul di sekitar peternakan cacing. Aroma yang mengganggu itu sebenarnya terjadi lantran terlalu banyak makanan yang diberikan ke cacing. Untuk itu volume pakan perlu dikurangi. Mungkin saja dari wadah menetes air. Buang kelebihan air dengan cara memiringkan wadah sekitar 45(. Lantas tambahkan media kering untuk menyerap kelebihan air yang masih ada. Bila media terlalu kering siram dengan air sampai lembap. Kendala lain ialah usaha cacing untuk keluar dari media. Ini menandakan ada yang salah dengan pH atau suhu. Cek keduanya dengan pH meter/kertas indikator dan termometer. Kendala lain ialah hama. Tikus menjadi masalah utama. Binatang pengerat ini biasanya mengacak-acak media berusaha mencari cacing.

Cara penanggulangan dengan kontrol setiap hari. Begitu terlihat bekas korekan tikus ratakan lagi media itu sehingga tikus “lupa” dengan tempat sumber makanannya. Cara pencegahan lain dengan memasang net di kaki rak sampai ketinggian 1 m. Panen Panen cacing dilakukan setelah populasi melimpah. Teknik memanen sama dengan memindahkan cacing dewasa dan induk ke wadah baru. Ini diciptakan sesuai sifat cacing. Mereka memang tidak memiliki mata. Namun sensor cahaya di kulit tubuhnya sangat sensitif. Ketika terkena sinar secara otomatis cacing berusaha mencari tempat yang lebih gelap. Kebiasaan inilah yang dijadikan alat panen. Sejumlah media diambil dan ditumpuk berbentuk kerucut. Cacing yang ada di bagian atas secara otomatis bergerak ke dasar tumpukan mencari tempat yang lebih gelap. Sementara itu secara perlahan-lahan media di bagian atas diambil sambil dipilah oleh tangan. Demikian seterusnya sehingga akhirnya terlihatlah kumpulan cacing di dasar tumpukan. Cara lain dengan memancing kedatangan sang cacing. Tumpukkan sejumlah pakan di tempat terpisah yang jauh dari gerombolan cacing. Hewan ini akan menyerbu ke sana. Di perjalanan mereka ditangkap dan dimasukkan ke wadah panen.

Pecahkan masalah sampah dengan cacing Selain untuk skala usaha beternak cacing juga dimungkinkan bagi hobiis tanaman. Tujuan utama mereka ialah mengambil kascing. Bila tidak minimal masalah sampah mereka terpecahkan. Karena tujuannya berbeda maka segi estetika dari kandang perlu diperhatikan. Mulailah dengan membuat sebuah kotak kayu. Ukuran minimal: panjang 90 cm lebar 60 cm dan tinggi 60 cm. Usahakan agar ukurannya. Cacing menempuh di bawah tinggal panen tempat media biarkan cacing ke bawah sedikti lebih besar daripada / 90cm gerobak sampah di kebun Anda. Kotak ini memiliki kaki penyangga sehingga gerobak bisa masuk ke bawahnya. Di bagian dasar wadah El dipasang kawat saringan. Jarak antarkawat 5 cm. Selanjutnya buat sepasang lubang di salah satu dinding kotak. Melalui lubang di dinding itu dipasang dua potong kayu sepanjang 75 (disesuaikan dengan ukuran lebar kotak yang Anda buat). Di ujung-ujung potongan kayu tersebut pasanglah dua potong kayu. Ujung yang berada di luar kotak berfungsi sebagai batang pengaduk. nia foetida Sedangkan yang bagian dalam ialah pengaduknya. Selanjutnya hamparkan selembar kertas koran yang sudah dibasahi air di lantai saringan kawat.

Taburkan kompos atau pupuk kandang matang dan segenggam cacing. Di bagian atasnya ditaburi bahan organik yang belum menjadi kompos alias sampah. Penaburan tipis-tipis saja. Lantas tutup dengan sehelai lembaran plastik atau karpet bekas. Penumbuhan koloni cacing hams secara perlahan-lahan. Setiap minggu penambahan bahan organik tidak boleh lebih dari ketinggian 7 cm. Bila Anda mempunyai pasokan bahan organik melebih jumlah itu bunt beberapa kandang cacing. Atau biarkan dahulu di luar kandang sampai lapisan terdahulu habis terurai. Jenis cacing yang dipelihara sama seperti pada skala usaha yakni Eisenia foetida atau Lumbricus rubbelus. Teknik pemindahan dan pemakaian media sebagai kascing juga serupa. Cara mengatasi masalah hama bau tidak sedap dan volume pemberian pakan juga serupa. Hanya tujuan pemeliharaan yang berbeda.

shareShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someonePrint this page

komentar

klikaja bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Related Post Kiat beternak atau budidaya cacing

KATEGORI DAUN BULAT DAUN PIPIH TRIFASCIATA VARIEGATA

CEGAH BURUNG HANTU MASUK RUMAH WALET

KOLEKTOR REPTIL DI KOTA PAHLAWAN

MENGATASI BERAGAM PENYAKIT DENGAN CRYPTOMONADALES

SIRIH, PINANG, GAMBIR MAMPU MENYEMPITKAN VAGINA