bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
Home » Blog » Menggiurkan Bisnis Basah Nata Kelapa
Filed: Blog
Advertisement
loading...

Omzet Konang Sri Hartono Rp200-juta per bulan dari nata kelapa. stilah tempat basah cocok bagi bisnis yang digeluti Konang Sri Hartono. la memang berbisnis air kelapa yang acap membuat basah ketika mengolahnya menjadi nata kelapa atau nata de coco. Setelah menjual hasil olahan mencapai 2ton per hari, ia kembali “basah’’ dengan omzet menggunung. Produsen di Desa Tirtomulyo, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, itu memang mengirimkan nata kelapa ke pabrik minuman di Semarang, Provinsi Jawa Tengah, Cirebon dan Bogor-keduanya di Jawa Barat.

Hartono memproduksi bahan minuman segar itu hingga 2 ton per hari. Satu kg nata berasal dari 1 liter air kelapa. Menurut Hartono biaya produksi per kg nata kelapa saat ini Rp500. Selain itu ia juga menyerap produksi 50 plasma di wilayah Yogyakarta, Bantul, Klaten, Purworejo dan Banyumas, la membeli satu kilogram lembaran nata seharga Rp 1.000. Total jenderal, ia mampu memasarkan 25-30 ton potongan nata setiap pekan. Hartono menjual potongan penganan kaya serat itu Rp 1.800 per kg. Tinggi permintaanMeski bermitra dengan para plasma, tetapi Hartono belum mampu melayani semua permintaan. Saat ini 37 ton permintaan nata belum ia penuhi. Permintaan melonjak hingga 3 kali lipat saat kemarau dan Ramadan. Itulah sebabnya Hartono berencana meningkatkan produksi hingga 60 ton nata potong per pekan. Begitu juga dengan produsen di Kelurahan Tengah, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Ahmad Ringin. la hanya sanggup memenuhi 60 ton nata potong permintaan per bulan.
Itu pun sebagian hasil bermitra dengan plasma di Cibinong. Produksi sendiri cuma 15 ton sebulan. Sementara permintaan rutin dari Riau dan Jambi tota 1 pekan atau 40 ton sebulan be J-T ia layani. Sebab, kapasitas proc–i rata-rata 4 ton nata per bular kelebihan produksi barulah dikrm Jawa,” kata Ringin. Bukan hanyg dan Ringin yang kelimpungan permintaan nata kelapa.

Agus Arifin di Kecamatan Kabupaten Sleman, Provinsi menghadapi hal serupa mempekerjakan 8 orang untuk r produksi 1 ton lembaran nata Selain memproduksi sendiri, Aas menampung produksi 37 memenuhi permintaan konsi~ mengumpulkan rata-rata 500 kg a nata setiap pekan dari plasma. Sayang, jumlah sebanyak iu belum mampu menutup kebutuha- saja permintaan industri maka- Kota Malang, Jawa Timur, yang rr. 28 ton lembaran nata per pekan. AgLs sanggup memenuhi seperempat per— itu lantaran ia juga mesti memasc- nata ke Cirebon, Jawa Barat, dan 13 Medan, Sumatera Utara. la menjua kelapa Rp 1.400 per kg. HambatanSekilas berbisnis nata kelapa menikmati minuman itu ketika har Padahal, beragam kendala menghadan; pebisnis seperti Agus. la kerap men protes warga di sekitar lokasi pr A “Mutu bahan baku dan proses produksi harus dijaga untuk menghasilkan nata de coco berkualitas,” tutur Erijanto D. Lukman.

Nata de coco dalam varian rasa (leci, stroberi, dan jeruk) stroberi, ikm ramadhan, permintaan nata s: hingga dua kali lipat,” tutur Agus rnn nata yang bagus berwarna agak SeTekstur kenyal, dan tidak berbau :~g baik kenyal dan bebas nata mengeluarkan bau tidak voma itu akibat penggunaan asam 2ig beraroma menyengat dalam produksi. Padahal, peningkatan mau tidak mau akan kian banyak cuka. menggenjot produksi, Aguske sebuah desa kecil di Igz Kabupaten Sleman. Di lokasi. 3k ada protes warga karena antarrumah berjauhan. Jarak Agus dengan rumah terdekat H’ dari 100 meter. Aroma tak yang memicu protes warga satu-satunya masalah yang kadang produsen nata,tan lain adalah kelangkaan r -siapa. Hartono, misalnya,~ mendatangkan air kelapa m jar kota seperti Kebumen »t Banyumas. Adapun Agus ercatangkan bahan baku dari ‘Drogo, Provinsi Yogyakarta, Purworejo dan Cilacap, nsi Jawa Tengah.produsen itu –ginginkan air kelapa yang _mi bebas campuran, bersih pengotor, dan berumur :.ik lebih dari sepekan sejak -ih kelapa terbelah dan air jTipung. Produsen menolak kelapa berumur lebih dari sepekan sebab kemanisannya turun. “Itu bisa menambah biaya produksi sebab lebih banyak gula yang mesti diberikan,” tutur Agus Arifin. Itu sebabnya para produsen di Yogyakarta atau Bogor tidak bisa mengambil dari tempat yang terlalu jauh, seperti di Sulawesi atau Manado. Selain itu mutu rendah bakteri starter juga acap menjadi kendala yang berdampak pada rendahnya mutu nata. “Baru 2-3 hari fermentasi, lembaran nata menjadi berair dan berbau,” tutur Agus yang pernah mengalami bakteri starter bermutu rendah.

Untuk mengatasi itu ia kemudian menyeleksi setiap bibit yang akan digunakan. Caranya, usai merebus bahan nata kelapa, Agus memasukkannya ke dalam botol lantas menutupnya. Selang dua hari: ayah satu putri itu mengamati permukaan bakal bibit.
Bibit yang dipakai adalah bibit kenyal dan bebas buih. Dengan cara itu hambatan itu kini tak pernah terulang. Menurut Agus yang menjadi anggota Paguyuban Nata De Coco Indonesia, “Risiko kegagalan lebih dari 596. Padahal dengan menjaga kualitas produksi, risiko itu dapat ditekan hingga kurang dari 1%,” katanya. Mustakim, pembuat nata di Kelurahan Tengah, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, pernah menghadapi nata kelapa yang buruk, yakni bertekstur lembek. Akibatnya produksi hingga 500 kg tak dapat terjual. “Nata berkualitas rendah akan menjadi bubur bila disimpan lebih dari tiga hari,” tutur Mustakim. Setiap hari ia mengambil 50 jerigen air kelapa berkapasitas 30 liter seharga Rp7.000 per jerigen dari 3 pasar besar di Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, dan Jakarta Timur.

Prospektif Jika beragam hambatan teratasi, produsen pasar nata yang membentang bakal menanti. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan, produksi nata untuk industri minuman di tanahair pada 2005 menyerap 905 ton dengan nilai lebih dari Rp4-miliar.Tahun berikutnya, angka itu naik menjadi 2.325 ton senilai Rp30- miliar dan meningkat lagi menjadi 8.660 ton tahun berikutnya. Menurut Masyarakat Perkelapaan Asia Pasifik, pada 2007 luas penanaman kelapa di tanahair mencapai 3.859.970 ha. Jumlah itu meningkat dibanding tahun sebelumnya seluas 3,8-juta ha. Sumatera sentra kelapa terluas 1,3-juta ha, Jawa 839.636 ha, sedangkan peringkat ketiga diisi Sulawesi 740.566 ha. Menurut Agus, peluang nata tetap prospektif. “Berapa pun hasil produksi plasma pasti diterima, asai berkualitas baik. Pasalnya, permintaan yang datang kerap melampaui produksi yang dihasilkan,” ujar Agus. la mensyaratkan mutu nata pasokan plasma harus berwarna putih keruh, mulus, dan kenyal. Hingga kini para plasma mampu memenuhi kriteria itu. Selain pasar domestik, mancanegara juga memerlukan nata kelapa. PT Niramas Utama, produsen di Tambun, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, rutin mengekspor nata kelapa ke berbagai negara seperti Jepang dan Hongkong. Sejak 1993 pasar Jepang meminta pasokan berton-ton setiap tahun. “Nata de coco menjadi produk andalan kami,” kata Erijanto D. Lukman, direktur Pemasaran PT Niramas Utama. Sayang, Erijanto enggan menyebut angka tepat produksi nata yang dihasilkan setiap tahun oleh pabrik makanan di kota Bekasi itu.

shareShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someonePrint this page

komentar

klikaja bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
tags:

Related Post Menggiurkan Bisnis Basah Nata Kelapa

BAHAN BAKU GRATIS DARI PRODUSEN KOPRA.

Budidaya Buncis

JINTAN HITAM MENURUNKAN GULA DARAH DAN KOLESTEROL

INOVASI MUTAKHIR ALAT PEMBUAT AIR HEKSAGONAL

RUMAH NYAMAR BUAT BUAYA BUAYA MEMBUAT SARANG SEBELUM BERTELUR.