Home » Blog » Sejuta telur dari Jogja
Filed: Blog
Advertisement
loading...

Siang itu j arum jam menunjukkan pukul 12.00. Empat colt boks berplat AB memasuki areal gudang PG di Bokesan, Sleman, Yogyakarta. Ketika pintu boks dibuka tampak telur puyuh tersusun rapi dalam keranjang. Telur itu dikumpulkan dari berbagai lokasi peternakan. Beberapa karyawan sibuk menurunkan, menyortir dan menata telur di kardus. Jumlah telur disesuaikan ukuran kardus. Kardus berukuran 50 cm x 60 cm x 40 cm diisi 600 butir dan segera disimpan di cold storage menunggu jadwal pengiriman. Aktivitas itu kian meningkat saat matahari tergelincir di ufuk barat. Beberapa karyawan angkut memanggul dan mengatur kardus di bak truk berkapasitas 15 ton. Sebelum dinaikkan, setiap kardus dilabeli nama dan tujuan pengiriman, serta dihitung. Setelah selesai, bak truk ditutup terpal hitam.

Di sisi truk masih ada 2 colt diesel berkapasitas masing-masing 6 ton yang harus diisi telur. Mobil-mobil itu sedang mempersiapkan pengiriman ke Jakarta, Bandung, Karawang, Subang, dan Cikampek. “Pengiriman ke Jakarta dan Bandung setiap harinya mencapai 300.000, atau 30% dari total pengiriman,” kata Pujianto SET, manajer produksi. Selebihnya telur dikirim ke kota-kota di Jawa Tengah pada siang hari. Khusus pasar di luar pulau Jawa seperti Lampung, Banjarmasin, dan Balikpapan dikirim via udara. Menurut Pujianto, selama ini pemasaran lancar-lancar saja. Namun, bukan berarti tanpa risiko yang menimbul¬kan kerugian besar. Saat banjir melanda Jakarta, misalnya 2 truk berkapasitas masing-masing 6 ton tak terjual. Karena hampir semua pasar tutup. Kerugian yang ia tanggung sekitar Rp60-juta.

Sejuta Telur dari Yogyakarta
Gelar nomor satu untuk produksi telur puyuh pantas di sandang oleh Yogyakarta. Setiap hari dari sana dikirim sekitar 1-juta butir telur puyuh ke berbagai kota di Jazva, Sumatera, dan Kalimantan. Angka yang cukup fantastis. Itu semua berkat kemitraan yang dilakukan PT Peksi Gunaraharja (PG) sejak 1997. Menjelang lebaran 2002 banyak pedagang pulang kampung mengakibatkan telur menumpuk. “Mau ngga mau harus dijual meski dengan harga murah. Daya tahan telur paling banter seminggu. Berapa pun harganya dijual,” ujar Pujianto. Waktu itu harga beli di peternak Rp60/ butir, sementara harga jual hanya Rp45. Kerugian Rpl2-juta kembali harus ditanggung. Itu belum termasuk biaya untuk menanggung telur apkir yang mencapai 5%. Telur yang dipasarkan PG dikumpulkan dari 1.200 peternak di sekitar Yogyakarta. Mereka tersebar di Gunungkidul (200 peternak), Kulonprogo (500), Bantul (300), dan Sleman (200).

Itu belum termasuk 30 peternak di Magelang dan 12 orang di Batang, keduanya di Jawa Tengah. Setiap 2 hari produksi mereka diambil. Karena kemitraan inilah PG mampu menjaga kontinuitas pasokan sepanjang tahun. Sebagai inti PG menyediakan pakan. Sementara plasma wajib menjual telur ke inti. Kelak biaya pakan diperhitungkan dengan telur. “Harga pakan maupun telur disesuaikan pasar. Peternak menerima selisih antara biaya pakan dan hasil penjualan telur sebagai keuntungan,” kata alumnus Fakultas Ekonomi UGM itu. ‘ Dengan cara kemitraan ini peternak- peternak kecil berpopulasi 1.000—2.000 mm eanraej- «.esejahteraannya. Mereka i’ir. sempit 4 m x 6 m untuk beternak puyuh. f /nilah hasil akhir penyilangan puyuh lokal dan introduksi yang J dilakukan PT Peksi Gunaraharja. Bobot rata-rata 220 g pada umur 35 hari dan produktivitas telur sekitar 80%. Ukuran telur mencapai 10—13 g; puyuh lokal, 10 g. Keistimewaan lain puyuh blasteran itu cukup nak. Lalu-lalang karyawan tak membuatnya stres. Persilangan dilakukan untuk mengatasi produksi rendah dan mortalitas tinggi. Itu lantaran kualitas puyuh Coturnix coturnix japonica turun akibat persilangan secara terus-menerus. “Kalau bisa menekan kematian hingga 15%, peternak banyak untung,” kata Subono Wiwoho, kepala divisi hatchery.

omtanithumb

shareShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someonePrint this page

komentar

klikaja

Related Post Sejuta telur dari Jogja

Strategi sosialisasi untuk menunjang penemuan baru

Iklan pilihan 5454654

BUDIDAYA BUAYA ALA EKO SOEWARNO

NGERI! RUMAH PENYEDOT WALET

PENGGU-NAAN BAKTERISIDA SEBAGAI ANTISIPASI PENCEGAHAN LAYU