Home » Blog » Berjamur dan berbudidaya
Filed: Blog
Advertisement
loading...

Pertumbuhan jamur merata sehingga 75-80% produksi masuk kelas jumbo Soesiadi dan Erlita produksi bibit dan nutrisi rekayasa untuk hasilkan jamur merang jumbo Bobot jamur merang yang dipanen Soesiadi di Desa Jatiroto, Kecamatan Jatiroto, Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur, itu benar-benar fantastis. Setia Hadi Purnomo, pekebun di Kampung Pulomangga, Kelurahan Grogol, Kecamatan Limo, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat, rata-rata memanen jamur cawan (volva dalam bahasa Yunani berarti cawan) berbobot 43-55 g per buah atau 18-23 buah per kg. Hasil panen rata-rata pekebun lain paling hanya 25-33 g per buah alias 30-40 buah per kg Bobot fantastis itu mengatrol produksi rumah jamur Soesiadi. Harap mafhum persentase jamur bongsor mencapai 75-80% dari total panen. Sisanya berbobot dan berukuran normal. Dengan begitu peraih gelar pembudidaya pertanian terbaik dari Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono pada 2005 itu mampu memanen 140-170 kg per periode tanam selama 15 hari dari rumah tanam berukuran 4 m x 3 m x 4,5 m. Kumbung lain di Karawang, Jawa Barat, yang berukuran lebih besar (4 m x 6 m x 4,5 m) “hanya” menghasilkan 150-200 kg per periode panen. Soesiadi kini mengelola 6 kumbung dengan luasan sama. Setiap bulan, 4 kumbung memproduksi jamur merang. Rata-rata produktivitas 150 kg per kumbung alias total jenderal produksinya 600 kg jamur merang per bulan. Dengan harga jamur merang segar di tingkat petani Rpl8.000 per kg, pensiunan perusahaan produsen gula itu menangguk omzet Rpl0.800.000 per bulan. Pundi-pundinya kian menebal dari pesanan bibit jamur merang dari para pekebun lain sebanyak 20.000 baglog dan 300 liter bibit cair per bulan. Harga masing-masing Rp3.500 per baglog dan Rp 100.000 per liter.

Pakai miseliumPanen jamur merang raksasa itu berkat pemilihan bibit dan pemberian nutrisi tepaL Soesiadi menggunakan bibit F3. Bibit itu diperoleh dengan cara memperbanyakan biayai mumi (Fl). Menurut Prof Dr Ir Meity Suradji S naJ MSc, ahli jamur dari Fakultas Pertanian, lnstrr_~ Pertanian Bogor, indukan berukuran besar da’ ] padat mampu menghasilkan bibit jamur mera-J berkualitas: ukuran besar dan produktivitas : – m “Proses perbanyakan sebaiknya menggunaka’ miselium (kumpulan benang halus penyusun tubuh buah jamur, red) agar sifat bibit seperti | induk. Bila diperbanyak dari spora hasilnya ticai seragam,” ujar dosen dan peneliti di Departe~J Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, IPB, itu. I
Itu yang dilakukan oleh Soesiadi dan putrinya, Erlita Susi Handani. Menurut NS Adiyuwono, ahli jamur di Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, dalam pembibitan fakto’ terpenting ialah menjaga miselium pada suht I optimal yakni 32-35°C. Erlita memproduksi bibit asai miselium induk dalam bentuk pada: I (bermedia jerami) dan cair (dalam cairan nutris dan vitamin). “Per liter bibit cair setara dengar bibit. Itu membuat proses pengiriman bibi: «J luardaerah lebih ringkas. Aplikasinya pun lebr mudah tinggal semprot ke media,” tutur Erlita.
Bibit harus segera ditanam, kalau pun disimpan paling lama 3 minggu. Penggunaan bibit stok lama menyebabkan kualitas jamur merang jelek, produksi juga turun 50-75%. Soesiadi menanam di atas media tanam beri. J daun tebu hasil fermentasi selama 7 hari.
Hasil riset Soesiadi selama 30 tahun menunjukkan proses penyiapan media tanam I daun tebu lebih ringkas dibandingkan jerami. “Proses sterilisasi lebih cepat yakni 3 jam pada 1 suhu 60°C, sementara sterilisasi jerami butuh waktu 5 jam,” tutur Erlita. Proses sterilisasi leb r cepat karena pada media daun tebu risiko tumbuhnya cendawan liar yang tidak diharapkaJ lebih kecil. Alat pembuat nutrisi rekayasa disertai dengan pengatur suhu, pH, dan aerasi nutrisi yang mereka pakai harganya lebih murah separuh daripada harga dedak. Persentase penggunaan tepung nutrisi dibanding media tanam sama dengan dedak.
Carmin, pekebun di Indramayu, Provinsi Jawa Barat, juga bergantung pada pemberian nutrisi untuk mendongkrak bobot jamur merang. Carmin membuat mikroorganisme lokal (MOL) asai buah- buahan busuk tak termanfaatkan seperti nanas, kulit pisang, pepaya, jambu air, dan mangga. Kulit pisang, misalnya, dipakai lantaran kaya fosfor, sulfur, dan magnesium sebagai sumber hara mikro penting bagi tanaman.

Erlita mengomposkan campuran media dan nutrisi selama 3 hari. Lalu membalik media dan diamkan kembali 3 hari. “Pengomposan media berlangsung sempurna bila suhu di media mencapai 50°C dan pH media netral 6,5-7. lr NS Adiyuwono, “Media kapas mampu meningkatkan bobot jamur merang hingga 75%” Lenny Meliani, “Bibit tepat disertai pengomposan dan pasteurisasi media yang sempurna kunci jamur merang berukuran besar dan merata.” Jamur hasil budidaya Lenny Meliani berukuran besar Cirinya terasa panas jika tersentuh tangan,” tutur Erlita. Keesokan harinya masukkan media dalam kumbung. Selanjutnya siram media dengan air bersih sehingga menjadi lembap. Penyiraman perlu karena selama fermentasi dalam suhu tinggi kadar air media berkurang drastis. Lalu tutup kumbung dan lakukan sterilisasi dengan uap panas selama 5 jam, suhu 60°C. “Bila menggunakan media daun tebu cukup 3 jam,” ujar Erlita. Selanjutnya tebar bibit jamur merang. Biarkan jamur tumbuh dalam kondisi kumbung berkelembapan 80%. Cara mencapainya dengan menyiram lantai kumbung. “Penyiraman ke media menyebabkan calon pin heod (kepala jamur, red) yang halus patah,” ujarnya.
Semakin tepat komposisi media dan aliran uap sterilisasi, kian seragam ukuran jamur merang yang dihasilkan. Menurut Meity, faktor lingkungan seperti aliran oksigen dalam kumbung sangat mempengaruhi pertumbuhan jamur merang. Itu sebabnya doktor alumnus University ofThe Philippines, Los Banos, itu menyarankan agarsaat jamur mulai membentuk tubuh buah beri sedikit cahaya dan udara dengan cara membuka jendela kumbung.

Soesiadi biasanya membuka lubang udara di bagian tengah dinding kumbung, yaitu 30 menit setelah menebar bibit dan pada hari ke-5 setelah penanaman selama 10-20 menit Kekurangan oksigen menyebabkan tubuh buah jamur menjadi kempis. Suhu dalam kumbung diusahakan 30-32°C. Sepuluh hari setelah tebar bibit, jamur merang siap dipanen. Frekuensi panen setiap hari. Pada panen pertama Soesiadi menuai 3 kg jamur per kumbung. Lantas meningkat hingga mencapai puncak pada hari ke 7-8 sebanyak 35 kg per kumbung per panen. Setelah itu produksi menurun hingga habis pada hari ke-15. Setia Hadi Purnomo menuturkan panen jamur merang tergantung kondisi cuaca. Pada musim hujan produktivitas cenderung turun. Soesiadi memanen jamur merang saat masih berbentuk kancing sehingga tahan simpan 3hari pada suhu ruang. Itu tentu menguntungkan sebab waktu penjualan menjadi lebih lama. Kualitas jamur merang jelek jika dalam sehari tubuh buah mengembang dan membentuk payung sehingga tidak disukai konsumen. Se:e a panen usai, bersihkan kumbung dan sikat dengan air. Semprotkan formalin agar tidak aa bakteri dan cendawan tumbuh. Tutup kumburc selama sehari. Kumbung pun siap memproduksi’ jamur-jamur merang jumbo kembali.
Media kapas Nun di Cilandak, Jakarta Selatan, Lenny Meliani juga mampu menghasilkan jamur me’-ig berukuran jumbo hingga hampir sekepal tanga- orang dewasa. Menurut pemilik 15 kumbung masing-masing seluas 50 m2 itu penggunaan bibit berkualitas, pengomposan, dan pasteurisas berperan penting dalam produksi jamur. Lenny menggunakan bibit F3 asai pembib: di Purwakarta, Provinsi Jawa Barat. Satu baglog digunakan untuk 1 m2 luasan media. Pengalaman! Lenny membina para petani di Karawang, mere«l kerap membeli bibit jamur merang oplosan. “Harganya memang lebih murah, tetapi produks i jamur anjlok dan ukurannya kecil hingga sebes- l kelereng,” ujar ibu 2 anak itu. Setiap periode produksi alumnus Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Bandung, itu mampu menuai 150-250 kg jamur merang per kumbung | Bobot rata-rata 40 g per buah yang dijual Rp22.000-Rp25.000 per kg yang dikemas dala~ plastik berjaring. “Bila dibiarkan, sebanyak 50% produksi bisa mencapai hampir 100 g, tetapi kurang disukai pasar,” ujar Lenny yang menjual.

shareShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someonePrint this page

komentar

klikaja
tags:

Related Post Berjamur dan berbudidaya

Jamur merang (Vorvariella volvacea)

Sayuran Hidroponik lebih hemat tanpa naungan

SEDIA PERLENGKAPAN BUDIDAYA WALET

Indonesia Launching Varietas Unggul Baru Sayuran

BIOETANOL BAHAN BAKAR MASA DEPAN