bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
Home » Blog » Bonsai Terbaik di Jakarta dan Bekasi
Filed: Blog
Advertisement
loading...

Best in show RCN koleksi Alfi Fatah, paling siap kontes dengan arah gerak, tata letak, dan proporsi sempurna Kerja keras Alfi Fatah selama dua bulan berbuah manis. Ra chinee pandok (RCN) miliknya meraih geiar best in show pada kontes adenium tingkat nasional di Bekasi, Jawa Barat Penampilan RCN itu memang IUE’ biasa. “Adenium (RCN, red) itu paling siap ikut kontes dibandingkan par; pesaingnya,” kata Supriyanto, juri asa Ponorogo, Jawa Timur. Itu tampak dari ara~ gerak, tata letak, dan proporsi bentuk raja fadh itu yang paling baik di antara para peserta. Alfi, hobiis di Jember, Jawa Timu’ memang mempersiapkan RCN itu secara maksimal. Mula-mula ia menyeleksi RCN yang akan diikutkan ke kontes. “Adenium itu harus memiliki percabangan yang seimbang,” kata Alfi. Dari 400 RCN koleks hanya lima yang lolos seleksi. Untuk membentuk percabangan yang merata Alf kemudian memangkas semua ranting.

Selang dua pekan tunas baru muncui saat itulah Alfi memupuk adenium dengan NPK. “Sebanyak 1 kg NPK dilarutkan dalam 10 liter air lalu saya siramkan ke adenium-adenium yang dipersiapkan untuk kontes salah satunya RCN,” katanya. Alfi menyiramkan empat gelas- berukuran 200 ml-larutan pupuk ke pot RCN berdiameter 80 cm setiap 12 hari. Sebelum pemupukan ia menyiramkan air ke pot hingga merata. Tujuannya agar media tidak terlalu panas waktu dipupuk,” tuturnya. Dengan begitu penyerapan pupuk lebih maksimal. Agar penampilan tanaman lebih prima, Alfi menyiramkan vitamin dan hormon pertumbuhan tanaman sebanyak 8 ml yang diencerkan dengan 10 liter air. Penyiraman ke seluruh media tanam sebelum tanaman berangkat ke arena kontes. Dengan persiapan seperti itu pantas raja fadh yang bertarung di kelas RCN CD (RCN dengan tinggi di atas 60 cm) itu menjadi best in show mengalahkan jawara adenium di kategori total performance (TC) di atas 60 cm. Unik kreasi. Di kelas RCN AB koleksi Alfi hanya mendapat posisi kedua, sedangkan posisi pertama diraih adenium milik M Fatah dari Bekasi. Pada kontes adenium nasional itu, “Secara umum kualitas pohon meningkat dibanding tahun lalu,” kata Yufan Latif SE, ketua panitia kontes.

Kontes nasional itu melombakan 36 kategori yang diikuti 351 peserta. ‘Total peserta 78 adenium di kelompok utama dan 273 tanaman di kelas pemula,” kata Yufan Latif. Kontes memperebutkan piala bergilir walikota Bekasi. “Meski dari jumlah peserta menurun dibanding kontes sebelumnya, tetapi dari segi kualitas tanaman meningkat” kata Yufan Latif.
Juara 1 Unik kreasi utama, bentuk menyerupai ikan mas dengan bonggot sebagai tubuhnya Juara 1 Arabicum CD utama, proporsi sempurna, dengan percabangan merata Bonsai tanpa kelas Pada saat yang sama juga berlangsung kontes bonsai di Taman Anggrek Indonesia Permai (TAIP), Pinangranti, Jakarta Timur. Kontes yang diselenggarakan oleh Persatuan Pecinta Bonsai Indonesia (PPBI) cabang Depok berlangsung meriah diikuti 60 peserta. Menurut Gunardi bin Suparman, ketua panitia, kontes kali ini untuk menggiatkan semangat para pencinta bonsai khususnya di Depok. “Pemain bonsai dari Depok kurang menonjol karena intensitas pertemuan anggota masih kurang. Oleh karena itu kontes kali ini lebih ke ajang silaturahmi antaranggota,” kata Gunardi.

Pada kontes itu peserta tidak dibagi ke dalam kelas-kelas khusus. Semua jenis dan ukuran tanaman diadu dalam satu kelas. Toh kualitas bonsai yang tampil di atas rata-rata. Para pemilik tanaman menampilkan bonsai- bonsai yang sudah matang. Keserasian pot dengan bonsai juga tampak jelas. Penilaian juri pun tidak melihat jenis tanaman, tetapi kondisi pohon dan keserasian pohon dengan pot. Penjurian selama dua jam itu berlangsung sengitTjhangSoekimto, Kuswanda.dan Mukti yang menjadi juri kesulitan memilih juara. “Rata-rata peserta tampil bagus, sehingga selisih nilainya sedikit,” kata Soekimto. Akhimya, kontes menobatkan bonsai santigi milik Frans Adi Jaya sebagai jawara. “Keseimbangan, keserasian, kesehatan, dan kematangan terpenuhi. Gerak dasar bagus, liukan sempurna. Ditambah perpaduan pohon dengan pot serasi,” kata Soekimto.

Frans Adi Jaya menuturkan, santigi tanpa kawat itu didapatkan dalam kondisi belum matang. “Ini bonsai yang saya dapatkan setengah jadi pada 2007 dari Cikarang, Jawa Barat. Saya mengganti posisi titik pandang yang awainya dari depan diubah menjadi dari belakang,” kata Frans. Usaha selama 4 tahun itu tak sia-sia. Pada kontes sebelumnya di Yogyakarta (2011, red) santigi juga termasuk dalam 10 tanaman terbaik di kategori utama. Tercapai Seminggu sebelumnya di tempat yang sama digelar kontes aglaonema. Total 70 aglaonema beragam jenis berebutjuara pada kontes yang diselenggarakan Paguyuban Aglaonemania Indonesia (PAGI). “Kontes kali ini diikuti peserta se-Jabodetabek,” kata Rishal M Luthan, ketua panitia. Kontes yang berjalan alot selama 3 jam itu memperebutkan juara di tiga kelas: majemuk, tunggal, dan juvenil. Moonlight mutasi milik nurseri Ayu sebagai juara di kelas tunggal. Aglaonema itu tampil maksimal dengan warna mutasinya. Wama mutasi dari kuning menuju kemerahan merata da’ bawah sampai atas. Sosok tanaman yan: besar terlihat kokoh. “Susunan dan bentu- daunnya pun serasi,” tutur Rishal, sala~ seorang juri.
Sementara di kelas majemuk, white legacy milik Heri Purnomo meraih peringka:Fuad Affandi bogoi peribahosa maksud hati memeluk gunung, sayang tangan tak sampai. Hasrat memiliki alat pembungkus sayuran, betapa sulit terwujud saat mulai beragribisnis pada pengujung abad ke-20. Bagi dia harganya terlampau mahal. Padahal, pasar swalayan yang akan ia pasok, mensyaratkan beragam sayuran mesti dikemas rapi dalam plastik transparan. Semula pengasuh Pondok Pesantren Al Ittifaq di Bandung, Jawa Barat, itu hanya menjual hasil panen ke pasar tradisional di Ciwidey, Kabupaten Bandung.

Namun, penerima Satya Lencana Wirakarya itu tak pasrah, la membeli pengering rambut yang menyemburkan uap panas itu untuk merekatkan plastik pembungkus sayuran. Dengan peranti itu ia rutin memasok 21 jenis sayuran ke pasar swalayan di Bandung dan Jakarta. Kini ia mengirimkan 3,5 ton sayuran setiap hari. Tentu saja tanpa alat pengering rambut karena pengemas sayuran telah terbeli. Sebuah inovasi, meski betapa sederhananya, amat penting di dunia agribisnis, termasuk jamur merang. Para pekebun jamur merang Volvariella volvacea (bahasa Yunani volva berarti cawan) seperti tak henti berinovasi. Mereka menambah sebuah drum untuk pasteurisasi, memanfaatkan selubung plastik, pemanfaatan pupuk hayati, dan memberi uap panas. Langkah itu berdampak besar karena mampu meningkatkan produksi hingga 50% dan meningkatkan kualitas seperti selera pasar.

shareShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someonePrint this page

komentar

klikaja bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Related Post Bonsai Terbaik di Jakarta dan Bekasi

JEPANG IMPORTIR TERBESAR TELUR

Virus DBD Takluk pada Daun Pepaya

Daun pun Bersolek dengan bunga bunga yang semerbak

Cara merawat ikan hias versi 2

Sragen Penghasil Garut dan Tempe