bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
Home » Blog » Bioetanol
Filed: Blog
Advertisement
loading...

A to Sutisna terpaksa membatal-kan sebagian rencana pengiriman jamur merang ke pelanggan di Jakarta. Musababnya kumbung jamur berukuran 5      m x 12 m miiiknya mesti dibongkar karena keropos. Kumbung jamur merang memang mengandalkan konstruksi bambu, mulai dari rangka bangunan, rak jamur, dinding, sampai tiang penyangga. Pasteurisasi kumbung hingga suhu 100°C menjadikan bambu selalu lembap sehingga mudah iapuk. “Padahal umur pakai kumbung belum sampai 5 tahun,” kata petani dan pengepul jamur merang di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, itu. Harap mafhum, “Umur pakai bambu sangat ditentukan oleh ada tidaknya proses pengawetan,” kata Prof Dodi Nandika, guru besar Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Tanpa pengawetan, masa pakai bambu hanya 2-5 tahun. Dengan pengawetan, bambu tahan pakai hingga 10-15 tahun. Secara tradisional, masyarakat mengawetkan bambu dengan merendam dalam air atau lumpur selama 1-6 bulan, kadang sampai setahun. “Tujuannya untuk menghilangkan pati dari batang,” kata Naresworo Nugroho PhD, ahli rekayasa dan desain bangunan di Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Maklum, pati menjadi penarik kumbang bubuk untuk datang dan bertelur. Kehadiran serangga anggota famiii Bostrichidae itu dicirikan munculnya lubang-lubang seukuran ujung pena di permukaan bambu. Naresworo mengatakan sebaiknya jangan menebang bambu di musim hujan. “Ketika itu kadar pati mencapai puncak lantaran tanaman sedang memunculkan tunas,” kata wakil dekan Fahutan IPB itu.

Namun, tingginya permintaan terhadap bambu membuat orang menebang tanpa pandang musim. Bambu ditebang, di..: dan langsung dipakai konsumen ta”: melalui proses pengawetan yang makar waktu lama. Alhasil banyak orang senas: dengan Ato.

Ganti cairan

Kini ada teknologi pengawetan bamt- supersingkat: cukup proses selarra 30 menit bambu awet 30 tahun. Arinara MSi, pengajar di Departemen Hasil Hute’ Fakultas Kehutanan IPB menyebutma teknik boucherie yang disempurnakar Prinsip teknik boucherie-ditemukan ole- Dr Boucherie, peneiiti Prancis bidang pengawetan kayu pada 1838-yaitu menggantikan cairan tumbuhan dengar bahan pengawet berbahan dasar air “Caranya dengan memanfaatkan proses tranpirasi pada bambu,” kata Ir Edh Sandra MS, dosen Ekofisiologi Tumbuhan di Fahutan IPB. Itu berarti perlakuan mesti pada bambu yang masih melakukan proses evapotranspirasi, yaitu masih menyisakan daun segar. Oleh karena itu, “Paling lambat 5-6 jam pascatebang harus segera diperlakukan,” kata Naresworo.

Prosesnyamemanglebih cepat daripada cara tradisional, tapi juga menghadapi kendala. “Jika konsentrasi terlalu kental. larutan pengawet bakal sulit terserap,” kata Arinana MSi, pakar pengawetan kayu dan bambu di Fahutan IPB. Oleh karena itu konsentrasi larutan harus tepat. Biasanya konsentrasi 5-10% memberikan hasil terbaik. Mendiang Prof Morisco Kadyo, periset di Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, menyempurnakan

Alih-alih mengandalkan •r-ampuan jaringan hidup untuk mengisap :iian pengawet, Morisco yang wafat :ija 24 Agustus 2011 memaksa cairan ~emasuki pembuluh batang bambu dengan rantuan tekanan udara. “Cukup dengan -enggunakan tabung kompresor kecil •ang sering digunakan pedagang keiiiing,” ata Santo Ajie Dhewanto, putra mendiang ‘orisco yang juga pegiat konservasi dan Demanfaatan bambu. Cairan pengawet akan •neresap dan mengalir berdasarkan prinsip •apilaritas.

Lubangi

Dengan tekanan, cairan akan keluar di ujung bambu berdiameter 8 cm sepanjang 6        m dalam waktu 20-30 menit. Untuk memaksimalkan penyerapan bahan pengawet, kering anginkan bambu di bawah naungan selama 2-3 jam, lalu ulangi perlakuan. Bambu akan kering sempurna dalam 4-6 minggu. Setelah keringsempurna, bambu siap digunakan.

Cara lain mengawetkan bambu dengan metode vertical soak diffusion alias VSD yang diperkenalkan oleh Environmental Bamboo Foundation (EBFI. EBF adalah lembaga nirlaba di Bali yang bertujuan memperkenalkan bambu kepada masyarakat. Dengan metode VSD, cairan bahan pengawet diisikan ke dalam buluh bambu. Bambu tali berdiameter

1.         Lubangi ruas-ruas bambu dengan besi panjang dan lancip dari bagian ujung, sisakan 1 ruas di dekat pangkal

2.         Berdirikan bambu dengan pangkal di bawah, ikat agar tidak jatuh

3.         Masukkan cairan pengawet ke dalam bambu dengan pompa. Setiap hari selama 13 hari, tambahkan 1% volume untuk menggantikan cairan yang terserap

4.         Hari ke-14, lubangi ruas di pangkal untuk mengeluarkan cairan pengawet, biarkan sampai benar-benar habis

5.         Kering anginkan bambu di bawah teduhan selama 4-6 minggu dan hindarkan dari air hujan

5 cm setinggi 5-6 m memerlukan 20 I cairan bahan pengawet. Pengawetan dengan metode VSD dilakukan oleh Sahabat Bambu, sebuah usaha kecil di kawasan Kalasan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Mereka menyediakan bambu awet jenis tali, hitam, dan petung.

Untuk memperpanjang umur aur-nama lain bambu-gunakan bahan pengawet mengandung boron dalam bentuk campuran antara asam borat dan boraks atau berupa garam natrium borat. Menurut Naresworo, doktor dari Universitas Tokyo, pengawet berbahan dasar boron efektif menghalau kumbang bubuk, rayap, dan cendawan penyebab lapuk. Kelebihan lain, residu boron tergolong aman bagi lingkungan dan makhluk hidup.

Pengawet lain menggunakan bahan dasar larutan tembaga sulfat dan seng klorida. Namun, perlindungan keduanya tidak seampuh boron. Alternatif lain copper chrome arsene (CCA) yang merupakan gabungan tembaga dengan unsur arsen dan krom serta copper chrome boron (CCB)-gabungan antara tembaga, krom, dan boron.

Meski CCA mampu melindungi bambu hingga lebih dari 50 tahun, tetapi bersifat racun kuat bagi manusia dan hewan peliharaan. Sementara CCB, meskipun lebih aman, keampuhannya di bawah CCA. Menurut Prof Dodi Nandika, bambu bisa menggeser fungsi kayu, bahkan menggantikan fungsi baja sebagai kerangka konstruksi beton. Pengawetan menjadi vital agar aur tahan hingga 3 dekade.

Teknik Boucherie ala Morisco Tidurkan bambu dengan kemiringan 0-10 derajat. Siapkan cairan pengawet dalam tabung tertutup Pasang selang di pangkal bambu. Hubungkan kompresor dengan tabung cairan pengawet. Cairan akan naik ke bambu. Saat cairan menetes dari ujung, berarti seluruh bambu sudah basah Kering anginkan bambu di bawah teduhan selama 4-6 minggu dan hindarkan dari air hujan

Ilustrasi: Bahrudin

yang mengepul itu ke kotak stirofoar Cara itu sebetulnya mengundang baha,i Pusat Onkoiogi Lingkungan, Institut Kanter Universitas Pittsburgh, Amerika Seri-^; menyatakan bahan polistirena dala~ stirofoam berpotensi memicu kanker. Bukan hanya tak aman bagi kesehatc’ stirofoam juga mengancam lingkunga- Itu karena material berbahan dasar zr polistirena itu nyaris tidak bisa terurai : alam. “Kalaupun bisa, perlu ribuan tahi.’ untuk hancur karena proses fisik,” kata Pnr Khaswar Syamsu, periset di Departeme- Teknologi Industri Pertanian Institut PertaniE’ Bogor. “Dosa” stirofoam dimulai sejak proses pembuatan yang melibatkan polistirena d£’ gas freon yang merusak ozon.

Saat banyak negara melarang penggunaan freon, produsen menggantikar dengan gas hidroflorokarbon alias HFC. Dengan kemampuan memantulkan panas 1.000-3.000 kali lebih kuat ketimbang karbondioksida, HFC tidak benar-benar ramah lingkungan. Di balik berbaga fakta mengerikan itu, ternyata pemakaian stirofoam tetap marak.

Pati dan serat

Kondisi itulah yang membuat Ir Evi Savitri Iriani MSi, Dr Ir Titi Candra Sunarti MSi, Dr Ir Indah Yuliasih STP MSi, dan Dr Ir Nur Richana MSi dari Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor, prihatin. Mereka lantas meriset pembuatan biofoam, bahan serupa stirofoam tapi berbahan dasar pati dan serat alam. Pati ramah lingkungan, tidak membahayakan kesehatan, biaya pembuatan murah, serta pembuatan mudah.

Prosesnya mirip pembuatan crepes atau wafer. Mereka mencampurkan adonan terdiri atas pati dan serat. Sumber pati antara lain tapioka, sagu, dan kentang. “Pati akan mengembang saat pemanasan sehingga membentuk rongga udara,” tutur Evi. Sementara penambahan bahan yang mengandung serat alam seperti serat sabut kelapa dan ampok jagung memperkuat tekstur biofoam sehingga tidak mudah hancur saat digunakan.

Ampok adalah hasil sampingan dari penggilingan jagung yang terdiri dari lembaga jagung, kulit ari, dan sedikit endosperma. Biasanya ampok jagung dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Para periset memilih ampok dari penggilingan

Stirofoam Berbahan Singkong

Bahan polistirena dalam stirofoam berpotensi memicu kanker

Stirofoam berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. Muncul stirofoam berbahan nabati yang aman untuk keduanya.

Andre bersusah payah membuka simpul plastik berisi sapo tahu pesanannya untuk makan malam di kantor.Sesekali tangan pria 32 tahun itu menjauh dari simpul itu karena tak kuat menahan panas. Begitu terbuka, ia segera menuangkan penganan

3–‘I itu agar tidak bersaing dengan bahan s. ‘jin. Kelebihan lain, murah dan mudah 1 :-eroieh. Harga ampok jagung dari pabrik

‘ gg ngan hanya Rp2.000 per kg.

Selain serat, ampas pembuatan

: –g jagung itu juga mengandung 57% ir. 5% lemak, dan 11% protein. Semua .  :.ngan itu berperan untuk memperkuat _-:jr biofoam. Lemak berperan sebagai B2sdcizer-alas pelastik. Adapun protein -: agai polimer pembentuk matriks. Untuk -t” ngkatkan sifat fisik dan mekanik, Evi ^T-^mbahkan polivinii aikohol (PVOH). ” t;- bukan tergolong polimer alam, polivinii . • Dhol mudah terurai di tanah.

Skin lentur

Untuk membuat biofoam, Evi -riggunakan bahan gliserol sebagai T~ilastik lantaran bahan itu dapat ~T-icegah adonan lengket dengan cetakan. E 35t wujud adonan itu menjadi seperti ::onan martabak yang kentai, Evi dan r-an-rekan memasukkan dalam ftakan berbentuk lempengan zersegi panjang. Selang 1-3 menit, biofoam pun jadi. Dari r’galaman Evi, formulasi mesti ~enyesuaikan bentuk cetakan.

:snggunaan cetakan berbeda rangan adonan yang sama -embuat hasil cetakan pecah.

*omposisi pati dan serat harus : sesuaikan dengan bentuk

Ir Evi Savitri Iriani MSi, Dr Ir Titi Candra Sunarti MSi sebagian dari tim IPB yang mengembangkan biofoam dari limbah pertanian

Musababnya.ampokjagungmengandung amilopektin dan amilosa yang menentukan arah dan banyaknya adonan mengembang. Semakin banyak pati, semakin lentur biofoam. Sebaiiknya, terlalu banyak serat menghasilkan biofoam yang kaku dan berat. Sementara, teriaiu banyak menambahkan bahan tinggi protein membuat lempengan biofoam mudah hangus saat pencetakan.

Kandungan amilopektin ampok jagung yang mencapai 79,1% menghasilkan biofoam dengan pori-pori kecil dan berdensitas rendah. Artinya, menghasilkan produkyang ringan. Sementara bahan seperti tepung jagung, tepung beras maupun I tapioka dengan kandungan *1 amilosa tinggi akan a sulit mengembang dan cenderung menghasilkan

biofoam yang tahan air tapi kaku dan tidak lentur sehingga mudah patah.

Menyerap air

Pemanfaatanbiofoamtidaksekadarwadah atau pembungkus makanan. Perempuan- perempuan peneiiti itu juga membuat dalam bentuk pot lantaran mudah terurai di tanah. ‘Tanam saja dengan potnya sekalian, toh biofoam akan hancur dalam 2 bulan,” kata Titi Candra Sunarti. Bentuk lainnya adalah sebagai penahan benturan untuk mengirim buah.

Bahan pati menjadikan biofoam bersifat higroskopis alias menyerap air. Itu menjadikan biofoam belum mampu menyamai sifat mekanis stirofoam yang lentur dan tahan air. Menurut Titi, sejatinya hal itu bisa diakali dengan menambahkan polimer sintetis untuk meningkatkan kelenturan. Sayangnya, itu akan menambah biaya produksi dan memperlambat masa penguraian. Saat ini saja, harga biofoam karya mereka mencapai Rp290 per lembaran berukuran 12 cm x 20 cm. Jauh di atas stirofoam yang hanya RplOO untuk ukuran sama.

Bobot menjadi persoalan lain. Biofoam ampok jagung berbobot 0,33-0,55 g/cm , sedangkan stirofoam hanya 0,04 g/cm. “Bahan yang berasal dari serbuk kelapa memiliki densitas rendah, masalahnya bahan itu lebih banyak menyerap air,” kata Titi. Toh, meski dirundung seabrek kekurangan, laju penguraian wadah organik itu ratusan bahkan ribuan kali lebih cepat dari stirofoam biasa. (Pranawita Karina)

Cetak Biofoam

1.         Aduk campuran 3 bagian tapioka danl bagian ampok jagung, tambahkan PVOH 30% bobot, aduk terus hingga merata

2.         Tambahkan 50% air dan 5% plasticizer dari total adonan

3.         Aduk adonan hingga merata

4.         Cetak dengan tekanan 1 Pa bersuhu 150-170°C selama 2-3 menit

shareShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someonePrint this page

komentar

klikaja bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Related Post Bioetanol

Budidaya Semangka Cukup Menguntungkan

BUAH HATI DATANG BERKAT MADU EKSKLUSIF

RED MAGENTA MEMILIKI EKOR MAHKOTA

INSULIN DAN ALKALOID MEMEGANG PERANAN PENTING

BUDIDAYA TANAMAN JAMUR MERANG