Home » Blog » Buah di Anak Krakatau
Filed: Blog
Advertisement
loading...

Lima belas tahun terakhir Waseh memang acap menyusuri Selat Sunda dengan kapal itu. la menepikan kapal di perairan Gunung Anak Krakatau, Provinsi Lampung, pada pukul 09.26. Joni bergegas melempar jangkar dan kapal Subur pun berlabuh. Suara debur mengiringi ombak yang berkejaran tiada lelah, lalu pecah di pantai yang tumbuh pepohonan seperti keben, ketapang, nyamplung, dan warn. Hingga punggung gunung berketinggian 150 meter di atas permukaan laut aneka spesies membentuk hutan di pulau berdiameter 3 km itu. Beberapa pohon seperti cemara laut Casuarina equisetifolia itu menjulang tinggi, seatap rumah dua lantai. Diameter pokok mencapai 50 cm. Jika riap tumbuh mencapai 1 cm per tahun, umur pohon anggota famili Casuarinaceae itu pada 2012 mencapai setengah abad.
gunung krakatau terletak di,
letak gunung krakatau,

Menurut ahli ekologi dari Pusat Penelitian Biologi LIPI, Prof Tukirin Partomihardjo PhD, keragaman jenis tumbuhan penyusun vegetasi di hutan itu juga relatif tinggi. Tukirin Partomihardjo dan tim eksplorasi Majalah Trubus melakukan analisis vegetasi di hutan Anak Krakatau. Tim membuat total 25 petak, masing- masing berukuran 10 m x 10 m sejak di tepi pantai hinggai ke punggung gunung. Doktor Biologi alumus Universitas Kagoshima, Jepang, itu mengidentifikasi spesies di setiap petak. Sekadar contoh di petak pertama, misalnya. terdapat 15 jenis tumbuhan seperti awar-awar Ficus septica, ketapang Terminalia catappa, dan tapak kuda Ipomoea pes-caprae. “Keragamannya cukup tinggi,” kata Tukirin. Makin ke atas, keragaman kian rendah. Di petak ke-10, misalnya, hanya terdiri atas 5 jenis tumbuhan. Di pos 9 yang merupakan pos pengamatan terakhir, hanya terdapat satu spesies. yakni cemara laut. “Itu wajar saja karena makin ke atas, makin ekstrem,” kata Tukirin. Jarak antarpos 100 meter.

Makin ke atas, cadangan air juga kian menipis. Selain itu kian ke atas suhu juga kian tinggi. Survei terakhir pada 2012, membuktikan bahwa di pulau itu tercatat 127 jenis tumbuhan. Beragam spesies itu membentuk hutan sekunderyang meneduhkan. Padahal, sebelum 1929, Pulau Anak Krakatau tak lebih dari tabula rasa. Daratan menjadi steril dari kehidupan setelah letusan dahsyat pada Senin 27 Agustus 1883 pukul 10.20. Letusan yang merenggut 36.000 jiwa itu menghancurkan Gunung Krakatau dan menyisakan puncak Rakata yang kini menjadi sebuah pulau. Di area bekas letusan itu dari kedalaman 180 meter, lalu muncul daratan pada 20 Januari 1929 atau 48 tahun pascaletusan Gunung Krakatau 1883. Daratan yang “tumbuh” rata-rata 4 meter per tahun itu adalah Gunung Anak Krakatau. Keruan saja, tanaman atau satwa tak mampu tumbuh karena kondisi lingkungan ekstrem. “Daratan yang muncul mula-mula masih mengeluarkan asap,” kata Tukirin. Namun, lambat-laun kehidupan pun berlangsung di sana.

Itu bermula dari seekor laba-laba yang tengah menenun rumahnya sebagaimana kesaksian ahli Botani dari Belgia, Edmond Cotteau. Bagaimana laba-laba mencapai Anak Krakatau? Tukirin Partomihardjo, mengatakan bahwa angin menerbangkan anakan laba-laba yang baru menetas hingga ke Anak Krakatau.
Serangga itu bertelur dan menyimpannya dalarr bentuk selubung atau kokon. Sebuah kokon terdiri atas 400-1.000 telur tergantung spesies. Tukirin menduga laba-laba itu ada yang bersal dari Pulau Sebesi berjarak 13 km dari Anak Krakatau. Namun, karena sumber pakan di Anak Krakatau tak tersedia maka serangga anggota ordo Aranaceae itu pun tak mampu bertahan hidup. Serangga karnivora itu bersifat kanibal.

Namun, jasadnya yang kemudian hancur turut berperan sebagai penyumbang bahan organik untuk kehidupan spesies lain berikutnya. Menurut Tukirin daratan baru itu jelas tak memiliki migrula alias simpanan biji dalam tanah. Itulah sebabnya, “Suksesi dari daerah bukaan steril menjadi komunitas hutan matang membutuhkan proses *.33 profesor riset itu. Suksesi adalah E :e-:entukan komunitas hutan alam beserta

Termuda, Teraktif
unung Krakatau 11.800 meter di atas permukaan laut) meletus dahsyat pada 27 Agustus 1883 dan membentuk kaidera berdiameter 6 km. Bagian-bagian kaidera itu kemudian menonjol di atas permukaan laut membentuk pulau-pulau kecil, Rakata, Sertung, dan Panjang. Pada 1929 kemudian muncul Gunung Anak Krakatau dari dasar lautan. Mula- mula tingginya hanya 8,39 meter, lalu bertambah menjadi 66,8 m pada 1933, 132,41 (1941), dan kini 400 m. Begitu juga volume gunung kian membesar. Menurut periset di Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Ir Igan Supriatman Sutawidjaja MSc, pada 1980, volume Gunung Anak Krakatau baru 2,35 km3, lalu meningkat menjadi 3,25 km3 (1990), 5,25 km3 (2000), dan 5,4 km3 (2005).
gunung krakatau meletus 1883,
gunung tambora,

Buah kedoya salah satu jenis tumbuhan yang dominan tumbuh di Gunung Anak Krakatau Lalu muncul asap pekat bagai tarian peri langityang meninggalkan kaidera. Itulah sebabnya, petugas Balai Konservasi Sumberdaya Alam Provinsi Lampung, Awaluddin, melarang kami naik ke pos berikutnya (pos 5 hingga pos 9). Pukul 15.45 itu tim eksplorasi Majalah Trubus pun turun gunung dan kembali ke tenda di tepi pantai. Sembari turun itu anggota tim bertanya kepada Awaluddin, “Apakah kondisi ini masih aman jika kami bermalam di sini?” Menurut Awaluddin keadaan masih aman. “Lihat saja burung-burung di sini belum beterbangan,” kata Awaluddin tenang. Itulah sebabnya kami tetap pada rencana semula, bermalam di Gunung Anak Krakatau. Rencananya kami membakar ikan sebagai camilan saat wawancara nanti malam. Namun, niat itu urung ketika Awaluddin yang bertelanjang dada itu tergopoh-gopoh menghampiri seraya berkata, “Kita harus meninggalkan pulau ini secepatnya!” la mengatakan hal itu hanya kira-kira 10 menit setelah memberi pernyataan bahwa bermalam di Anak Krakatau aman.
gunung toba,
gunung anak krakatau,

Nyamplung
Ratusan spesies tumbuh di Pulau Anak Krakatau. Itu bermula dari benih beragam tumbuhan yang datang menunggang gelombang laut. Namun, ada pula yang datang berkat tiupan angin dan jasa baik kelelawar dan burung. Empat spesies paling dominan di Gunung Anak Krakatau adalah kedoya Dysoxylum gandichaudianum, rupet Ficus pubinervis, bengkal batu Neonauclea calycina, dan Timonius compressiacaulis. Spesies-spesies itu antara lain tumbuh di bekas aliran lava.
Tukirin pernah mengamati batu letusan yang menyala itu baru padam benar setelah dua jam terendam air. Batu itu menggelinding ke pantai tak jauh dari Tukirin. Begitu terendam, batu tetap mengeluarkan asap dan baru padam dua jam berselang.
Akibat letusan itu memang banyak pohon terbakar. Namun, alam akan kembali mengatur suksesi di Anak Krakatau. Benih akan kembali datang di pantai dengan menunggang gelombang. Angin mengantarkan spora hingga tiba di sana. Burung dan kelelawar menebarkan beragam biji. Generasi kembali berganti secara alamiah. Dalam senyap, zonder ingar-bingar, alam itu mengatur suksesi secara damai.

shareShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someonePrint this page

komentar

klikaja
tags:

Related Post Buah di Anak Krakatau

KHASIAT BUAH CERME DAN KACANG HIJAU

JEPANG IMPORTIR TERBESAR TELUR

KEMASAN PEPAYA PISANG MELON DAN JAMBU BIJI

OT01 Pupuk TSB Tumbuh Sangat Baik

BIVITTATUS CRYPTANTHUS RAINBOW AND ASPARAGUS SPRENGERI