bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
Home » Blog » Pembangunan Pasar Penunjang Beras Warehouse System
Filed: Blog
Advertisement
loading...

pembangunanpasar

Lokasi Proyek
Lokasi pembangunan Pasar Penunjang Beras dan Warehouse berada di desa Nglorog, Kecamatan Sragen, Kabupaten Sragen di atas tanah seluas 6,5 ha dengan status tanah milik kas desa, sehingga investor dapat melakukan pembebasan lahan dengan pola tukar guling maupun pembelian secara cash.
Uraian Proyek
Pemerintah Kabuparen Sragen melalui Dinas Perindagkop dan UKM berusaha untuk memfasilitasi pembangunan pasar penunjang beras dan warehouse system dalam satu kawasan terpadu kepada investor yang berlokasi di kelurahan Nglorog, kecamatan Sragen, dengan luas lahan 6,5 Ha.
Sedangkan sarana dan prasarana yang akan dibangun meliputi:
a. Ruko 2 lantai 27 buah
b. Kios 75 buah
c. Los 2 buah 96 petak
d. Gudang 4.800 m2
e. Lantai Jemur 19.000 m2
f. Kantor 90 m2
g- Pos keamanan, musholla, rest area dan kantin
Kebutuhan sarana pasar penunjang beras dan warehouse system ini didasarkan pada satu kepentingan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat petani beras, agar hasil produksi dapat ditampung untuk dipasarkan sesuai dengan harga yang wajar. Pembangunan pasar ini dimaksudkan agartercipta peluang dan kemudahan bagi petani dan pelaku usaha serta masyarakat untuk melaksanakan transaksi jual beli beras serta kemudahan untuk memperoleh beras bagi kebutuhannya.
Pola kerjasama yang ditaw’arkan dari pembangunan pasar penunjang beras dan warehouse system direncanakan dengan pola bagi hasil antara pemilik tanah (pihak pemerintah) clengan pemilik (investor). Adapun pengelola dari pasar ini diharapkan dari pihak investor. Sedangkan pengguna utama pasar berasal dari kelompok petani, pedagang, masyarakat umum yang terlibat dalam kegiatan perdagangan dan penyimpanan beras; para pedagang di pasar induk baik yang berada di tingkat propinsi maupun pusat (Jakarta); serta masyarakat pengunjung (pedagang, konsumen), baik yang berasal dari wilayah Kabupaten
Solo-Purwodadi. Jarak dari kota Solo kurang lebih 10 km dan dapat ditempuh dalam waktu 20 menit.
Uraian Proyek
Zona industri Kalijambe menempati lahan seluas 22 Ha. Kawasan ini dirancang sebagai zona terpadu yang menghubungkan para eksportir dengan produsen mebel serta kerajinan di Kabupaten Sragen dan sekitarnya. Di zona industri Kalijambe ditawarkan lokasi untuk aktivitas bisnis atau pun bengkel kerja bagi para eksportir dan perajin. Sebanyak 50 blok disediakan untuk eksportir dengan luas masing-masing 2000 meter persegi. Sedangkan bagi perajin disediakan sebanyak 370 blok dengan luas masing-masing 300 meter persegi. Untuk tahap awal, di kawasan tersebut telah dibangun 40 unit bengkel kerja (workshop) untuk eksportir anggota Asmindo dan 316 unit lainnya untuk pengusaha/ perajin. Pembukaan dan pengembangan zona industri di Kalijambe tersebut diperkirakan dapat menyerap 4000 tenaga kerja.
Zona terpadu industri mebel dan kerajinan ini dilengkapi berbagai fasilitas pendukung aktivitas bisnis. Fasilitas tersebut antara lain: jalan aspal di lingkungan zona industri, drainase dan pagar pengaman yang melingkari kawasan, jaringan listik, telepon, air bersih, kantor perbankan, lembaga legalitas ekspor, show room, kiln dry (sarana pengeringan), mesin-mesin pendukung aktivitas kawasan industri, dan terminal angkut petikemas melalui kereta api.
Dengan berbagai kemudahan dan fasilitas komplit yang bakal diperoleh, para eksportir dan perajin bakal menggenggam banyak keuntungan bila menanamkan investasinya di zona industri mebel dan kerajinan Kalijambe. Yang pasti, dari kegiatan ekonomi pada satu lokasi menyebabkan pengusaha dapat menekan beberapa komponen biaya, antara lain; biaya bongkar muat dan biaya transportasi perajin karena mengambil tenaga kerja dari warga di sekitar zona industri, dukungan sumber bahan baku dan perajin, serta menghindari persaingan harga yang tidak wajar.
Penyetaraan dan peningkatan kualitas produk juga dapat selalu dikontrol karena mendapat pembinaan secara kontinyu dari pihak yang berkompeten, yakni Asmindo dan Pemkab Sragen. Pengusaha yang berinvestasi di zona industri juga diuntungkan dengan adanya jaminan pemasaran ekspor, jaminan harga, pembinaan, pendidikan dan pelatihan, kemudahan dalam pengurusan dan penyediaan dokumen-dokumen pendukung dari Asmindo. Tentu saja dengan dukungan utama berupa sumber daya manusia (pengrajin) yang potensial dan bahan baku yang mudah didapat.
Aktivitas ekonomi pun dipermudah dengan infrastruktur/ fasilitas umum menuju lokasi zona industri yang terawat baik.
Sangat dekat dengan jalan raya utama Solo-Purwodadi maupun jalur kereta api menuju Semarang. Jarak ke Bandara udara Adisumarmo pun cukup dekat, hanya berjarak 20 km dari lokasi zona industri mebel dan kerajinan Kalijambe. Nilai positif lainnya adalah adanya regulasi Pemerintah Kabupaten Sragen yang bersahabat dengan dunia usaha; misalnya tentang perijinan dan sertifikasi. Pemkab Sragen juga menyediakan data dan pemetaan zona serta sumber daya manusia (perajin).
Kondisi Eksisting
Pemerintah Kabupaten Sragen telah menetapkan sejumlah area sebagai zona industri yang diperuntukkan bagi pengembangan industri manufaktur. Luas lahan keseluruhan yang disediakan untuk zona industri ini mencapai 1.708 hektar, tersebar di delapan kecamatan, yakni kecamatan Kalijambe, Masaran, Sidoharjo, Ngrampal, Sambungmacan, Sumberlawang, Miri, dan Gemolong. Salah satu zona industri yang berkembang pesat adalah kawasan Kalijambe. Di zona Kalijambe ini, industri yang ada sebagian besar memproduksi mebel dan juga kerajinan (handicraft). Zona industri Kalijambe ini juga menggandeng perajin mebel setempat sebagai mitra kerja. Sebab wilayah Kalijambe selama ini merupakan sentra penghasil mebel rakyat terbesardi Sragen.
Kecamatan Kalijambe dipilih sebagai lokasi kawasan terpadu industri mebel dan kerajinan karena di daerah tersebut telah ada sedikitnya 380 unit usaha mebel dan kerajinan milik warga. Namun tidak semua perajin yang ada memiliki cukup modal karena besarnya biaya produksi, lemahnya jaringan pemasaran, belum mampu memenuhi kuantitas produksi bila dilakukan secara perorangan. Sementara di sisi yang lain, para pengusaha eksportir umumnya kesulitan memenuhi permintaan dengan kuota tertentu dari pembeli di luar negeri, terkait dengan kuantitas

Insentif dari Pemerintah Kabupaten
1. Pembebasan seluruh biaya perijinan di lokasi zona industry
2. Penyediaan sarana dan prasarana penunjang, antara lain jalan, listrik dan air bersih
3. Pelayanan informasi maupun data yang diperlukan berkaitan dengan kegiatan pembangunan

PEMBANGUNAN DRY PORT KALIJAMBE
Lokasi HroyeK
Pembangunan Dryport direncanakan satu kawasan dengan Zona industri Kalijambe yang terletak di desa Samberembe, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen.
Uraian Proyek
Rencana pembangunan dryport di Kalijambe terutama untuk mendukung pergerakan barang yang berada di kawasan zona ~”*-t$tri dan juga daerah sekitar Sragen seperti Kota Surakarta, Kabupaten Wonogiri, Karanganyar, Klaten dan Sukoharjo. Pada asarnya permintaan dari hinterland yang dihasilkan cukup besar, berdasarkan O-D survey Nasional 2001 arus barang dari
J
6 kab/kota sebesar 1.369.602 ton per tahun,
Potensi industri di Kabupaten Sragen dikelompokkan menjadi
dan aneka industri (5.720 perusahaan). Usaha pengolahan kayu menjadi mebel banyak dilakukan penduduk di Kecamatan Kalijambe. Industri lainnya yang cukup besar adalah tekstil. Setidaknya terdapat 6 perusahaan tekstil berskala besar di Kecamatan Masaran dan Sidoharjo. Kegiatan-kegiatan industri ini menjadi salah satu bidang yang pertumbuhannya bergerak cepat. Keberadaan dryport ini merupakan sarana pendukung untuk kelancaran aktivitas di zona industri Kalijambe.
Dryport atau pelabuhan darat adalah terminal peti kemas yang berada di suatu tempat di daratan yang merupakan kepanjangan tangan dari pelabuhan kapal laut dan dihubungkan dengan jalan rel kereta api. Peti kemas atau barang yang disimpan di dryport didistribusikan ke daerah lain yang memiliki dryport dengan menggunakan kereta api atau diteruskan dengan menggunakan angkutan darat bagi daerah yang memiliki dryport.
Dryport Kalijambe adalah satu dari dua fasilitas serupa yang berada di Jawa Tengah. Satu dryport lainnya berlokasi di Surakarta. Hanya saja, karena menyatu dengan zona industri, fasilitas dryport Kalijambe jauh lebih terintegrasi dalam banyak hal, misalnya dekat dengan stok bahan baku dan bengkel kerja
untuk memproduksi barang, serta dilengkapi dengan lembaga keuangan dan perijinan-sertifikasi. Selain itu, fasilitas jalan raya yang memadai dan letak yang strategis membuat dryport Kalijambe sangat mudah dijangkau kendaraan angkut bertonase besar.
Kondisi Eksisting
Provinsi Jawa tengah telah memiliki dryport Jebres di Surakarta dan akan dikembangkan dryport Kalijambe sebagai akibat kinerja dryport Jebres belum bisa maksimal karena letaknya di tengah Kota Solo. Dryport Kalijambe didukung dengan adanya sarana dan prasarana angkutan kereta api yang menghubungkan lokasi tersebut dengan pelabuhan laut.
Tahun 1999 potensi barang yang diekspor dari hinterland Surakarta sebesar 119.215 ton, namun yang menggunakan kereta api hanya 8,84% (10.538 ton)sedangkan sisanya menggunakan angkutan jalan raya (truk). Frekuensi pengoperasian kereta api yang melayani angkutan barang adalah
2 kali per hari (pagi dan sore)
Analisis Finansial
Investasi yang diperlukan dalam pembangunan dryport adalah container crane dan stacker. Untuk pengadaan kereta api barang dan jaringan jalan rel menggunakan sarana dan prasarana PT. Kereta Api. Biaya operasional Rp 37.000 per kilometer (sudah termasuk biaya dryport) dan biaya maintenance diasumsikan 20% dari biaya operasional. Adapun analisis kelayakan dryport Kalijambe sbb:
Biaya Investasi
NPV
IRR
Payback Period
Rp 20.800.000.000 Rp 5.920.000.000 22,14%
4 tahun
Insentif dari Pemerintah Kabupaten
1. Pembebasan seluruh biaya perijinan di lokasi zona industry
2. Dishubtel Provinsi Jawa Tengah akan membantu dan mendampingi investor dalam hal perijinan
3. PT. Kereta Api DAOS VI Yogyakarta akan memberikan informasi yang dibutuhkan investor dalam cakupan wilayah kerja DAOP VI Yogyakarta
4. Penyediaan sarana dan prasarana penunjang, antara lain jalan, listrik dan air bersih
5. Pemkab Sragen menyediakan lahan
d. PEMBANGUNAN USAHA GROSIR DI 20 KECAMATAN Lokasi Proyek
Rencana pembangunan usaha grosir dilaksanakan di 20 kecamatan dalam wilayah Kabupaten Sragen. Dimana pihak kecamatan akan menfasilitasi penyiapan lahan sesuai master plan tata ruang kecamatan/peruntukannya.
Uraian Proyek
Pembentukan usaha grosir untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan juga kelompok potensi usaha masyarakat (koperasi, warung, toko) di 20 kecamatan wilayah Sragen dengan cara meraih fasilitas dari distributor besar dan pabrikan dalam jumlah yang cukup dan harga terjangkau.
Usaha grosir rencananya dibangun di tempat strategis yang dapat memiliki pasar tetap dan mudah terjangkau konsumen. Jumlah pelanggan prospektif dilihat dari populasi penduduk Kabupaten Sragen ± 900.000 jiwa dengan 682.367 jiwa merupakan usia produktif.
Kondisi Eksisting
Lokasi Kabupaten Sragen berdekatan dengan Surakarta, Boyolali, Karanganyar, Semarang. Selama ini pedagang pengecer di pasar-pasar kecamatan tersebut membeli kebutuhan di Sragen bahkan Surakarta sehingga ketika dijual kepada masyarakat harganya sudah tinggi karena kompensasi biaya transport. Suplier untuk bahan baku barnag grosir adalah distributor besar dan pabrik dengan harga di bawah pasar. Kerjasama pembagian keuntungan dengan pola ini adalah net sales setiap bulannya, sesuai kesepakatan antara usaha grosir dan distributor.
Analisis Keuangan
Dalam pembangunan usaha grosir di salah satu kecamatan wilayah Sragen membutuhkan investasi sebagai berikut :
– Tanah (ukuran 30m x 40 m2 x Rp.400.000): Rp. 480.000.000
– Bangunan (260m2 x Rp. 2.000.000): Rp. 520.000.000
– Peralatan Komputer I Mesin hitung : Rp. 10.000.000 -Total: Rp. 1.010.000.000
Berdasarkan analisa investasi dapat disimpulkan, sebagai berikut
1. Biaya investasi 20 kecamatan : Rp. 20.200.000.000
2. NVP : Rp. 18.185.855.000
3. IRR : 26,33 %
4. Payback Period : 4 tahun
Insentif dari Pemerintah Kabupaten
1. Ijin survey di 20 kecamatan dalam Kabupaten Sragen
2. Pembebasan biaya ijin prinsip dan ijin lokasi
3. Pembebasan biaya ijin SIUP, TDP bagi pengusaha pemula
4. Pelayanan perijinan yang mudah, cepat, murah dan transparan dengan waktu penyelesaian maksimal 12 hari kerja
5. Penyediaan sarana dan prasarana penunjang, antara lain jalan, jembatan, air bersih
6. Pelayanan informasi maupun data yang diperlukan berkaitan dengan kegiatan pembangunan usaha grosir
Pusat grosir pakaian di Shopping centre

shareShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someonePrint this page

komentar

klikaja bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Related Post Pembangunan Pasar Penunjang Beras Warehouse System

MENGATASI KUTU DAN SUSAH BUANG AIR DENGAN PUCUK JAMBU

SILANGAN SANSEVIERIA MASONIANA DAN S. KIRKII

CHEN PING VILLAGE LOKASI PERBANYAKAN CRYPTOMONADALES

Sayuran Hidroponik lebih hemat tanpa naungan

PIGMEN KAROTENOID YANG TERSEBAR MERATA DI KULIT BUAH MEMBERI LATAR WARNA KUNING