bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
Home » Blog » Program Pengembangan Usaha Perhutanan Rakyat
Filed: Blog
Advertisement
loading...

hutan 3

Program Pengembangan Usaha Perhutanan Rakyat. Program pengembangan usaha perhutanan rakyat bertujuan untuk meningkatkan peran aktif masyarakat dalam pembangunan hutan tanaman pada lahan milik rakyat, milik marga, dan hutan konversi yang tidak berhutan, sehingga masyarakat akan memperoleh manfaat dari potensi hutan yang meningkat. Titik berat kegiatan diarahkan untuk mengembangkan hutan rakyat dan hutan kemasyarakatan. Pada tahun ketiga Repelita VI telah dikembangkan 36 unit percontohan hutan rakyat yang mencakup areal seluas 900 hektare dan memberikan dampak pada areal seluas 9.000 hektare di 11 propinsi. Jenis tanaman yang dikembangkan antara lain tanaman kayu energi biomassa, tanaman bambu bernilai tinggi, jenis tanaman untuk mengembangkan lebah madu dan ulat sutera, kayu manis, dan buah-buahan. Pada tahun ketiga Repelita VI telah berhasil dibangun hutan rakyat seluas 23,3 ribu hektare atau meningkat 23,3 persen dibanding tahun sebelumnya. Pengembangan budidaya lebah madu dan sutera alam terus ditingkatkan di berbagai daerah di Sumatera, Jawa dan Sulawesi. Pada tahun ketiga Repelita VI telah diproduksi 1.700 ton madu lebah dan 11,8 ribu ton benang sutera. Selain itu untuk meningkatkan produksi lebah madu telah diberikan bantuan sebanyak 30 paket koloni lebah madu bibit unggul dan 5.000 batang bibit pakan lebah kepada petani. Dalam rangka meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar hutan dilakukan pembinaan masyarakat desa hutan (PMDH). Kegiatan PMDH di luar Jawa dilakukan dalam bentuk HPH Bina Desa yang pada tahun ketiga Repelita VI telah dilaksanakan oleh 446 HPH di 824 desa binaan yang melibatkan 78 ribu KK petani di sekitar XII/43 hutan. Sementara itu, kegiatan PMDH di Jawa dan Bali dilaksanakan dalam bentuk tumpangsari di kawasan hutan yang pada saat ini telah melibatkan sebanyak 120,5 ribu KK.

Program Pengembangan Usaha Pengolahan Hasil Hutan Program pengembangan usaha pengolahan hasil hutan bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah dari hasil hutan baik hasil hutan berupa kayu maupun nonkayu dalam rangka meningkatkan efisiensi dan rasionalisasi pemanfaatan bahan baku yang semakin terbatas. Dengan program ini diharapkan terjadi perluasan kesempatan kerja dan peningkatan berusaha melalui koperasi, usaha menengah, dan usaha kecil. Upaya peningkatan efisiensi pemanfaatan bahan baku terus dilakukan melalui pengembangan industri pengolahan kayu. Upaya ini di samping mendorong pengembangan industri hilir, juga untuk meningkatkan diversifikasi produk yang mempunyai keunggulan kompetitif dan nilai tambah tinggi. Pada tahun 1996/97 produksi kayu gergajian adalah sekitar 3 juta meter kubik atau meningkat sekitar 48,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Produksi pulpa 1,8 juta meter kubik atau meningkat 94 persen dibandingkan tahun 1995/96. Sejalan dengan itu, produksi kayu lapis juga mengalami peningkatan dari 9,1 juta meter kubik menjadi 10,3 juta meter kubik atau meningkat sebesar 12,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya (Tabel XII-29). Realisasi nilai ekspor hasil hutan berupa kayu olahan pada tahun 1996/97 adalah sebesar US$ 4.429,6 juta atau meningkat sebesar 3,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya (Tabel XII-30). Peningkatan nilai ekspor tersebut disebabkan terutama oleh meningkatnya nilai XII/44 ekspor kayu lapis. Namun demikian, nilai ekspor kayu gergajian ke negara-negara di Asia, Eropa dan Australia hanya sebesar US$ 147 ribu atau turun 82,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya (Tabel XII-31). Penurunan tersebut terjadi karena pengaruh dari pengetatan ekspor produk kayu olahan setengah jadi dan meningkatnya permintaan kayu gergajian dalam negeri. Sebaliknya, nilai ekspor kayu lapis ke negara-negara di Asia, Eropa, Amerika mencapai US$ 4.429,5 juta atau meningkat sebesar 12,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya (Tabel XII-32). Sementara itu, nilai ekspor pulpa, kertas dan kayu perkakas mencapai US$ 1.394,5 juta. Ekspor hasil hutan non kayu mencapai sebesar US$ 362,9 juta atau menurun sebesar 18,8 persen dibanding tahun sebelumnya (Tabel XII-33). Penurunan ini terjadi terutama karena menurunnya harga jual rotan di pasaran dunia. Secara keseluruhan penerimaan devisa dari ekspor hasil hutan pada tahun ketiga Repelita VI adalah sebesar US$ 6.186,9 juta yang terutama berasal dari ekspor kayu olahan, pulpa dan kertas. Sementara itu, penerimaan negara bukan pajak dari sub sektor kehutanan pada tahun 1996/97 adalah sebesar Rp 1.360,7 milyar yang berasal dari Iuran Hasil Hutan (IHH), Dana Reboisasi (DR) serta Dana Bunga dan Jasa Giro DR (BDR). b. Program Penunjang 1) Program Penataan Ruang

Program penataan ruang ditujukan untuk menata pemanfaatan ruang dalam suatu wilayah sehingga diperoleh manfaat yang optimal baik secara nasional maupun wilayah. Kegiatan pokoknya adalah inventarisasi dan identifikasi tata guna hutan dalam rangka memaduserasikan antara tata guna hutan kesepakatan (TGHK) dan rencana tata ruang wilayah propinsi (RTRWP). Sampai dengan tahun XII/45 ketiga Repelita VI usaha pemaduserasian tersebut telah diselesaikan di 19 propinsi, sedangkan 8 propinsi lainnya masih dalam proses. Melalui program ini benturan kepentingan penggunaan lahan dari berbagai sektor dapat dikurangi sehingga pelaksanaan pembangunan dapat lebih berdaya guna. 2) Program Penataan Pertanahan Program ini ditujukan untuk meningkatkan ketepatan dan kepastian tentang status hukum dan potensi kawasan hutan. Pada tahun 1996/97 perubahan status kawasan hutan untuk pembangunan non kehutanan seluruhnya berjumlah 85 lokasi meliputi areal seluas 433 ribu hektare yang terdiri atas 55 lokasi untuk pembangunan pertanian/perkebunan seluas 357,2 ribu hektare, dan untuk pembangunan pemukiman transmigrasi sebanyak 30 lokasi seluas 75,8 ribu ha. 3) Program Inventarisasi dan Evaluasi Sumber Alam dan Lingkungan Hidup Program ini bertujuan untuk mengembangkan informasi sumber daya alam guna menunjang pembangunan kehutanan terutama pemantapan batas kawasan hutan tetap dan batas fungsinya, serta penilaian stok sumber daya hutan. Pada tahun ketiga Repelita VI inventarisasi hutan melalui penafsiran citra satelit mencakup areal seluas 101,2 juta hektare; penafsiran potret udara skala 1:20.000 seluas 2,2 juta hektare; pemotretan 221 unit HPH seluas 21,6 juta hektare; pembuatan peta vegetasi 52 unit seluas 7,4 hektare; pembuatan peta garis bentuk 62 unit seluas 7,3 juta hektare; dan survai pencadangan areal HPH seluas 115,3 ribu hektare. XII/46 4) Program Penyelamatan Hutan, Tanah, dan Air Tujuan program ini adalah untuk meningkatkan kemampuan dalam memulihkan dan menjaga serta meningkatkan kelestarian sumber daya hutan terutama di kawasan lindung, sehingga fungsi hutan sebagai penyangga sistem kehidupan meningkat dan senantiasa lestari. Kegiatan dalam program ini dilaksanakan melalui pengembangan kawasan pelestarian alam, taman buru, konservasi jenis, perlindungan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, dan pengembangan hutan lindung. Keseluruhan kegiatan ini dilakukan melalui pendekatan sistem secara terpadu. Pada tahun ketiga Repelita VI telah ditetapkan 2 taman nasional (TN) baru, yaitu TN Kayan Mentarang di Kalimantan Timur dan TN Wakatobi di Sulawesi Tenggara, sehingga keseluruhan taman nasional berjumlah 35 unit dengan total luas sekitar 11,3 juta hektare. Sampai dengan tahun ketiga Repelita VI jumlah kawasan konservasi sumber daya alam berupa cagar alam, suaka margasatwa, taman wisata, taman buru, dan taman laut masing-masing sebanyak 178 unit, 66 unit, 86 unit, 13 unit, dan 10 unit dengan areal masing-masing seluas 6,3 juta hektare; 4,5 juta hektare; 855,1 ribu hektare; 207 ribu hektare; dan 613,2 ribu hektare (Tabel XII-34). Pengembangan taman nasional dan pembinaan masyarakat yang tinggal di sekitarnya secara terpadu terus ditingkatkan. Beberapa proyek percontohan yang dikembangkan dan diharapkan menjadi model baik di tingkat nasional maupun internasional adalah TN Kerinci Seblat, TN Gunung Leuser, TN Gunung Gede Pangrango, TN Gunung Halimun, TN Kutai, dan TN Siberut Mentawai. Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat dan menumbuhkan rasa cinta terhadap lingkungan alam pada tahun ketiga Repelita VI XII/47 telah dilakukan pembinaan generasi muda pecinta alam, kelompok pelestarian sumberdaya alam (KPSA) dan kader konservasi masing-masing sebanyak 1.159 kelompok, 1.054 kelompok dan 25 ribu kelompok. Pada tahun ketiga Repelita VI jumlah hutan yang terbakar masih cukup tinggi yaitu mencapai areal seluas 10,4 ribu hektare.

Tingginya kebakaran hutan tersebut karena faktor iklim yang kurang menguntungkan. Upaya untuk menanggulangi kebakaran hutan tersebut telah mendapat perhatian dari banyak negara diantaranya Jepang, Australia, Canada, Jerman dan Amerika Serikat melalui berbagai kegiatan bantuan. Untuk menanggulangi kebakaran hutan tersebut telah dikembangkan satuan tugas pemadam kebakaran hutan dan regu pemadam kebakaran. Guna mendukung pekerjaan di lapangan, pada saat ini telah dilakukan pelatihan untuk 58 orang instruktur kebakaran hutan tingkat nasional; pelatihan pengendalian kebakaran hutan bagi 314 orang yang berasal dari LSM, BUMN, dan HPH; serta pelatihan pencegahan dan pemadaman kebakaran hutan yang dilaksanakan di setiap propinsi. 5) Program Rehabilitasi Lahan Kritis Rehabilitasi lahan kritis ditujukan untuk memulihkan kondisi lahan yang sudah kritis, sehingga fungsinya meningkat baik sebagai sumber daya pembangunan maupun sebagai penyangga sistem kehidupan. Rehabilitasi lahan kritis ini dilaksanakan pada kawasan hutan tetap yang rusak, lahan pertanian kritis, dan lahan kritis lainnya. Pada tahun ketiga Repelita VI telah dilaksanakan rehabilitasi hutan seluas 44,0 ribu hektare dan rehabilitasi lahan kritis di luar kawasan hutan seluas 540 ribu hektare. Selanjutnya sebagai acuan XII/48 pelaksanaan kegiatan reboisasi dan rehabilitasi lahan kritis untuk tahun berikutnya dilakukan pula penyusunan pola rehabilitasi lahan dan konservasi tanah (Pola RLKT) di 39 daerah aliran sungai (DAS) meliputi areal 6,6 juta hektare dan rencana teknik lapangan (RTKL) di 32 sub DAS seluas 2,7 juta hektare. Dalam rangka mendorong pengembangan usaha tani produktif yang berwawasan lingkungan di areal pertanian lahan kering, sejak tahun 1988 telah dikembangkan pemberian kredit usaha konservasi daerah aliran sungai (KUK-DAS). Sampai dengan tahun ketiga Repelita VI melalui KUK-DAS tersebut telah disalurkan dana sebesar Rp 21 milyar dengan melibatkan 28 ribu orang petani di 360 desa yang tersebar di 21 propinsi. Selanjutnya untuk mendorong pengembangan hutan rakyat pada tahun 1996/97 telah dikembangkan kredit usaha hutan rakyat dan berhasil menyalurkan kredit sebesar Rp 800 juta rupiah untuk lahan seluas 400 hektare. 6) Program Pembinaan Daerah Pantai Program ini ditujukan untuk mencegah perusakan lingkungan dan meningkatkan pembinaan pelestarian fungsi ekosistem pantai. Pada tahun ketiga Repelita VI telah dilakukan uji coba teknis rehabilitasi hutan bakau di 16 propinsi sebanyak 23 unit dengan areal seluas 2.455 hektare; bantuan bibit kepada petani di sekitar areal uji coba seluas 1.700 hektare; pelatihan bagi 362 orang petugas, petani dan anggota lembaga swadaya masyarakat (LSM); serta pengkajian 11 lokasi baru untuk kawasan konservasi perairan. 7) Program Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Program ini ditujukan untuk mengkaji penerapan ilmu-ilmu kehutanan dalam rangka pengelolaan hutan dan pengolahan hasil XII/49 hutan, serta pengembangan dan penyebaran berbagai paket teknologi yang diperlukan. Pada tahun ketiga Repelita VI kegiatan penelitian dititikberatkan pada konservasi alam hayati ex-situ dan in-situ; silvikultur; inventarisasi satwa dan flora langka; serta penelitian sosial ekonomi kehutanan, efisiensi pengolahan kayu dan diversifikasi hasil olahan dengan jumlah penelitian sebanyak 454 judul. Tenaga peneliti di bidang kehutanan yang mendukung kegiatan penelitian tersebut berjumlah 308 orang yang terdiri atas ahli peneliti sebanyak 24 orang, peneliti sebanyak 32 orang, ajun peneliti sebanyak 86 orang, dan asisten peneliti sebanyak 65 orang serta calon peneliti sebanyak 101 orang. 8) Program Pengembangan Usaha Menengah dan Kecil Program ini ditujukan untuk meningkatkan kemampuan dan peran serta usaha menengah, usaha kecil, dan usaha tradisional dalam pembangunan kehutanan dalam rangka meningkatkan pendapatan masyarakat dan memperluas lapangan kerja. Pada tahun ketiga Repelita VI telah dilakukan kegiatan HPH Bina Desa yang mencakup 446 HPH dengan pendanaan mencapai Rp. 17,3 milyar. Kegiatan ini telah memberikan lapangan kerja dan kesempatan berusaha masyarakat di sekitar hutan kepada 78 ribu KK dan 824 desa binaan di sekitar hutan. Sementara itu 64 perusahaan HPH telah mengalihkan 12,6 juta lembar saham kepada 352 koperasi senilai Rp. 14,3 milyar. Di samping itu dalam tahun 1996/97 BUMN sub sektor kehutanan telah menyalurkan dana sebesar Rp 6,3 milyar untuk pembinaan 1.242 unit usaha kecil dan koperasi.

shareShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someonePrint this page

komentar

klikaja bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Related Post Program Pengembangan Usaha Perhutanan Rakyat

Menanam Buah Melonpun dapat tumbuh subur di atap rumah

SCANDAROON PUTIH NENEK MOYANG MERPATI

Cara Jitu Jadi Raja Singkong

Pengembangan Beras Organik di Sragen

OT04 RUMPUT GANDUM UNTUK DIET