Menu
Dapatkan berbagai benih tanaman unggul stek, cangkok dan biji

Sasaran, Kebijaksanaan dan Program Repelita VI Sasaran pokok pembangunan kehutanan

Jan
22
2015
by : omtani3. Posted in : Blog

 hutan indonesia

Sasaran, Kebijaksanaan dan Program Repelita VI Sasaran pokok pembangunan kehutanan dalam Repelita VI adalah terpeliharanya hutan alam yang masih utuh seluas 92,4 juta hektare melalui pemantapan sistem pengelolaan hutan berkelanjutan yang mengarah pada terwujudnya optimalisasi fungsi ekologis serta peningkatan fungsi sosial-ekonomis hutan. Untuk menjamin kelestarian hutan dan sediaan bahan baku bagi industri dan konsumsi lokal, maka sasaran produksi kayu bulat selama Repelita VI adalah sebesar 188,3 juta meter kubik atau rata-rata sekitar 37,7 juta meter kubik per tahun yang bersumber dari hutan alam produksi tetap sekitar 22,5 juta meter kubik, hutan alam konversi 3,7 juta meter kubik, hutan tanaman 2,7 juta meter kubik, dan hutan rakyat serta kebun rakyat 8,7 juta meter kubik. Sasaran produksi kayu bulat untuk tahun ketiga Repelita VI adalah sebesar 26,3 juta meter kubik. Selanjutnya, dalam Repelita VI sasaran produksi hasil hutan nonkayu, yaitu produksi rotan sekitar 1.360 ribu ton, getah 364 ribu ton, tengkawang 29,8 ribu ton, tepung sagu 30 ribu ton, dan kayu bakar 788,6 juta meter kubik. Selain itu dikembangkan hasil hutan lain seperti madu lebah, nipah, jasa wisata alam, jasa ekologis, dan plasma nutfah. Untuk mencapai sasaran tersebut di atas, kebijaksanaan pembangunan kehutanan diarahkan pada kegiatan-kegiatan sebagai berikut: (1) pemantapan kawasan hutan dan peningkatan mutu serta produktivitas hutan negara dan hutan rakyat; (2) peningkatan efisiensi dan produktivitas pengelolaan hutan dan hasil hutan; (3) peningkatan peran serta masyarakat dan penanggulangan kemiskinan sekitar hutan serta peningkatan pendapatan daerah tertinggal; (4) peningkatan peran XII/38 serta koperasi, usaha menengah, kecil, dan tradisional dalam pemba- ngunan kehutanan; (5) peningkatan upaya pelestarian hutan sebagai pelindung lingkungan hidup dan ekosistem; dan (6) peningkatan kemampuan pengelolaan hutan di daerah. Dalam melaksanakan kebijaksanaan tersebut di atas disusun program-program pembangunan, yang terdiri atas program pokok dan program penunjang.

Program pokok meliputi program pemantapan kawasan hutan dan peningkatan produktivitas hutan alam; program pembangunan hutan tanaman baru; program pengembangan usaha perhutanan rakyat; dan program pengembangan usaha pengolahan hasil hutan. Sedangkan program penunjang terdiri dari 10 program, yaitu program penataan ruang; program penataan pertanahan; program inventarisasi dan evaluasi sumber alam dan lingkungan hidup; program penyelamatan hutan, tanah dan air; program rehabilitasi lahan kritis; program pembinaan daerah pantai; program penelitian dan pengembangan kehutanan; program pengembangan usaha menengah dan kecil; program pengerahan dan pembinaan transmigrasi dan perambah hutan; dan program pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan kehutanan. 2. Pelaksanaan dan Hasil Pembangunan Tahun Ketiga Repelita VI Pada tahun ketiga Repelita VI, kegiatan pembangunan kehutanan ditekankan pada upaya pemantapan status kawasan hutan tetap, pe-ningkatan pengelolaan hutan secara lestari, peningkatan pengawasan pengusahaan hutan, peningkatan efisiensi pengolahan hasil hutan, dan pemantapan pengelolaan kawasan konservasi. Dalam upaya pengelolaan hutan secara lestari telah dikembangkan model kesatuan pengusahaan hutan produksi di 6 XII/39 propinsi yaitu Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Jambi, Riau dan Sumatera Selatan. Model ini merupakan penyempurnaan dari sistem Hak Pengusahaan Hutan (HPH) yang selama ini diterapkan dengan lebih melibatkan masyarakat di sekitar hutan. Sejalan dengan itu, upaya pengetatan pengawasan pengelolaan hutan alam terus dilakukan dan telah menurunkan jumlah HPH serta mendorong pengelolaan hutan secara terpadu antara swasta dan BUMN kehutanan. Pengelolaan kawasan konservasi terus dimantap- kan melalui konsep keterpaduan konservasi dan pembangunan dengan melibatkan masyarakat dan swasta serta pemerintah daerah. Hasil selengkapnya diuraikan menurut masing-masing program. a. Program Pokok 1) Program Pemantapan Kawasan Hutan dan Peningkatan Produktivitas Hutan Alam Program pemantapan kawasan hutan dan peningkatan produktivitas hutan alam ditujukan untuk meningkatkan pemantapan kawasan hutan produksi tetap dan produktivitas hutan alam dalam memenuhi kebutuhan masyarakat dan industri hasil hutan secara lestari. Pada tahun ketiga Repelita VI telah dilaksanakan penataan batas kawasan hutan sepanjang 13,9 ribu kilometer atau meningkat 8,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya, terdiri atas batas luar sepanjang 10,1 ribu kilometer dan batas fungsi sepanjang 3,8 ribu kilometer (Tabel XII-25).

Penataan batas tersebut dilaksanakan dalam rangka pemantapan kawasan hutan tetap seluas 113 juta hektare. Selain itu, dilakukan pula penataan batas areal kerja HPH yang telah meliputi sepanjang sekitar 12,5 ribu kilometer atau mencapai 75,8 persen dari target sepanjang 16,5 ribu kilometer. XII/40 Pengendalian perkembangan pengusahaan hutan yang dilaksanakan oleh swasta terus ditingkatkan. Sampai dengan tahun ketiga Repelita VI jumlah HPH turun dari 483 unit menjadi 447 unit, sedangkan luas areal turun dari 56,1 juta hektare menjadi 53,8 juta hektare atau turun sebesar 4,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya (Tabel XII-26). Terjadinya penurunan jumlah dan luas HPH itu disebabkan makin ketatnya pengawasan terhadap pengusaha HPH yang disertai dengan tuntutan agar pengusahaan hutan produksi dilaksanakan sesuai dengan sistem pengelolaan hutan secara lestari. Salah satu faktor penting yang mendukung terjaminnya kelestarian produktivitas hutan alam antara lain dilaksanakannya sistem tebang pilih tanam Indonesia (TPTI) secara lengkap dan benar oleh pemegang HPH. Setiap HPH diwajibkan untuk melakukan penanaman pengkayaan dan kebun pangkas yang berasal dari stek pucuk sebagai upaya untuk menjamin penyediaan bibit bermutu dalam jumlah yang cukup. Pada tahun ketiga Repelita VI kegiatan penanaman pengkayaan dan pembuatan kebun pangkas tersebut masing-masing mencapai 683,0 ribu hektare dan 410 hektare. Sementara itu produksi kayu bulat rimba dan jati pada tahun ketiga Repelita VI adalah 26,1 juta meter kubik yang berarti meningkat 4,9 persen dibanding tahun sebelumnya (Tabel XII-27). 2) Program Pembangunan Hutan Tanaman Baru Program pembangunan hutan tanaman baru bertujuan untuk meningkatkan potensi hutan tanaman yang dibangun di dalam kawasan hutan produksi dalam rangka meningkatkan produksi hasil hutan dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan kehutanan. Program tersebut juga dimaksudkan untuk menambah luas kawasan yang berhutan dengan tidak mengubah hutan alam menjadi hutan tanaman, sehingga konversi hutan alam yang masih utuh dan XII/41 produktif dapat dihindari. Dalam pembangunan hutan tanaman baru, keaneka-ragaman hayati dalam hutan tanaman ditingkatkan melalui diversifikasi jenis yang tepat dan sesuai dengan ekosistemnya serta mengutamakan penanaman dengan jenis pohon unggulan setempat. Dalam kaitannya dengan pembangunan hutan tanaman baru tersebut, pada tahun ketiga Repelita VI telah dibangun hutan tanaman industri (HTI) seluas 527,6 ribu hektare, atau meningkat 33,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pembangunan HTI dibedakan atas dasar jenis komoditas tanaman yang dikembangkan seperti HTI Pulpa dan HTI Kayu perkakas yang melibatkan penduduk setempat sebagai tenaga kerja utamanya. Di samping itu dikembangkan pula HTI-Trans yang dikaitkan dengan program transmigrasi. Sampai dengan tahun ketiga Repelita VI pembangunan HTI telah mencapai seluas 2,1 juta hektare (Tabel XII-28). HTI tersebut terdiri atas HTI Pulpa 838,1 ribu hektare, HTI Kayu perkakas 760,5 ribu hektare, HTI Trans 210 ribu hektare, dan penanaman jenis unggulan lainnya 300,2 ribu hektare. Dalam upaya meningkatkan peran serta masyarakat dalam pembangunan HTI tersebut telah dilakukan pula penanaman HTI dengan sistem tumpang sari. Kegiatan ini pada tahun 1996/97 telah berhasil memanen padi gogo sebesar 5.237 ton gabah kering, jagung 3.101 ton dan kacang-kacangan 447 ton. Selanjutnya untuk menunjang keberhasilan program HTI dalam penyediaan bibit yang berkualitas dalam jumlah yang mencukupi telah dilakukan upaya pengembangan sumber benih di Kalimantan Selatan dan Sumatera Selatan serta pembinaan produksi bibit dan persemaian permanen di 8 propinsi.

artikel lainnya Sasaran, Kebijaksanaan dan Program Repelita VI Sasaran pokok pembangunan kehutanan

Friday 16 October 2015 | Blog

TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN JILID 2 SMK Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar…

Monday 25 May 2015 | Blog

IKAN LAUT  DANGKAL. KONSUMSI Ali Suman mengatakan keragaman jenis ikan di laut dalam sangat tinggi tetapi…

Tuesday 14 April 2015 | Blog

DAUN PACAR Daun inaii biasanya sering dipakai untuk cat kuku atau e’:tex. Namun disamping itu masih…

Sunday 17 May 2015 | Blog

RUMPUT-RUMPUTAN DAPAT MENJADI BAHAN BAKU BIOETANOL Riset bioetanol memasuki era baru sejak 2009. George W Huber…

Rekening Pembayaran


BRI : 051201005742507 An/ : Budi Prihono, S.Sos
MANDIRI : 1380010506520 An/ : Budi Prihono, S.Sos
BNI : 0282198021 An/ : Budi Prihono, S.Sos
BCA : 0770538343 An/ : Budi Prihono, S.Sos
Info & Pemesanan : Kayamara Group, Perumnas Jl. Salak 5 No. 125 RT. 001/019, Ngringo, Jaten, Karanganyar 57772. Workshop : Triyagan
02718202839
085727072225
085727072225
marketingkayamara@gmail.com