bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
Home » Blog » PRODUSEN DAN PENCIPTA ALAT MESIN PERTANIAN
Filed: Blog
Advertisement
loading...

Pasang-Surut Bisnis Benih Kacang Panjang
Di lahan 3.000 m2 itu dibiarkan menua dan kering. Komsatun pemiliknya tak lagi tergiur menjual kacang panjang untuk konsumsi. la lebih tertarik menuai anggota famili Fabaceae itu sebagai benih. Setiap musim tan am ia memanen 400 kg benih. Dengan harga jual Rp 1.600 per 100 g setidaknya Rp64- juta mengalir ke rekeningnya per musim tanam atau Rp 16~juta per bulan. “^T” umlah pendapatan itu lebih besar ketimbang menjual kacang panjang I untuk konsumsi. Dari lahan 3.000 nr I ia menuai 3 ton kacang panjang segar. Dengan harga jual Rp 1.000/kg pekebun di Watugandang Kecamatan Prambon Nganjuk Jawa Timur itu hanya meraup omzet Rp3-juta per musim tanam atau Rp750.000 per bulan. Untuk memproduksi benih perempuan 50 tahun itu tak perlu mengeluarkan biaya pembelian benih. Benih diperoleh dari PT Riawan Tani produsen benih di Blitar Jawa Timur. Sejak 1983 Komsatun bekerja sama dengan PT Riawan Tani. Pembayaran benih dipotong dari hasil panen. Misalnya pekebun yang mengambil benih 5 kg saat panen menghasilkan 20 kg benih. Nah pembayaran kepada pekebun mitra hanya 15 kg. Selain itu penanganan pascapanen kacang panjang untuk benih tak memerlukan banyak tenaga kerja. Sebab penanganannya lebih mudah. Kacang panjang cukup dibiarkan tua panen lalu dikeringkan. Benih pun siap disetor ke Riawan Tani. Bandingkan dengan proses produksi kacang panjang segar yang membutuhkan tenaga kerja lebih banyak sebagai pencuci pengikat dan penimbang.

Benih-benih dari pekebun mitra itu diuji daya kecambahnya.
Oleh Riawan Tani benih-benih dari pekebun mitra itu diuji daya kecambahnya. Penguji mengambil sampel sejumlah benih. Sampel itu kemudian disemai di wadah bermedia lembap. Setelah 4 hari jumlah benih yang berkecambah dihitung. Bila yang berkecambah lebih dari 70% para pekebun mitra menerima pembayaran. Bila kurang benih kembali disortir lalu diuji ulang Uji lapangan untuk mengetahui kualitas benih hingga daya kecambah mencapai 70%. Begitulah cara produsen benih menjaga kualitas. Tujuannya agar kelak ketika benih disemaikan di lahan pekebun tak kecewa. Pasarmeluas Ketertarikan Komsatun memproduksi benih lantaran ajakan Sartono pemilik PT Riawan Tani. Kini tak hanya Komsatun yang menikmati laba dari produksi benih. Sekitar 10 orang pekebun mitra lain turut bergabung dan membentuk kelompok tani dengan total luas lahan yang dikelola mencapai 30 ha. Lahan itu tersebar di Kabupaten Nganjuk dan Kabupaten Kediri. Selain kacang panjang komoditas benih lain yang dihasilkan mereka adalah jagung dan terung. Bertambahnya pekebun mitra itu seirin; dengan meningkatnya permintaan benii yang mengalir ke Riawan Tani. Menuru: Pujianto penyelia PT Riawan Tani sejak 2002 permintaan benih sayuran teru> menanjak 5—10% setiap tahun. Itu lantaran pengguna benih produksi Riawan Tani meningkat setelah memperluas pasar hingg; Sumatera. ’’Mulanya hanya di Jawa dan Bal: Tahun depan kami akan menembus pasar Kalimantan dan Sulawesi” katanya. Yang juga merasakan naiknya permintaan benih adalah PT Agrobas Seed. produsen di Kediri Jawa Timur. Menuru: Anang Tri Nuryanto dari Agrobas Seed benih kacang panjang dan mentimun paling banyak diminta. Sebagai gambarar. permintaan benih kacang panjang bf: merah dan putih dengan rasio 50% : 50% dalam satu kemasan terdapat masing- masing 50% benih kacang panjang merah dan putih) mencapai 5 ton dalam 2 bulan. Bandingkan dengan 2 tahun lalu yang serapannya “cuma” 15 ton per tahun.

Dari penjualan benih kacang panjang 50% : 50% saja
Dari penjualan benih kacang panjang 50% : 50% saja perusahaan itu meraup omzet Rpl65-juta dalam 2 bulan. Padahal selain kacang panjang 50% : 50% Agrobas juga menyediakan kacang panjang 30% : 70% dan kacang panjang benih hitam. Anang menuturkan serapan pasar umumnya di Jawa Timur Jawa Tengah bagian timur (Cepu Blora Solo) dan Bali (Klungkung Gianyar). Meningkat Dua tahun terakhir permintaan benih lokal memang melambung. Menurut Sartono peningkatan itu antara lain karena adanya kebijakan pemerintah tentang benih impor yang harus diperbanyak di Indonesia setahun setelah impor. Kebijakan itu membawa berkah bagi para produsen benih lokal. Riawan Tani misalnya penjualannya meningkat dari tahun ke tahun terutama pada kurun 1998—2000. Ketika itu tingkat penjualan benih sayuran melonj ak taj am. Sayang Puj ianto tak ingat seberapa besar jumlah kenaikannya. ’’Pada saat itu perusahaan kami sedang jaya- jayanya” kenang Pujianto. Saat itu tingginya penjualan benih dipicu oleh meroketnya Produksi benih term melaju nilai tukar mata uang dolar akibat hantaman krisis moneter. Dampaknya para importir enggan mendatangkan benih ke tanahair lantaran harga impor melambung sehingga pekebun sayuran berpaling pada benih- benih lokal. Pada 2001 kondisi perekonomian mulai membaik. Nilai tukar dolar terhadap rupiah menurun. Namun kondisi itu justru memperburuk penjualan benih. Benih-benih impor kembali membanjiri pasar tanahair. ’’Saat itu pendapatan kami Gatot Arifin benih impor terganjal peraturan pemerintah anjlok menjadi 30% dari total pendapatan tahun sebelumnya” ujar Pujianto. Untuk meningkatkan pendapatan ’’Kami memperluas pasar” tambahnya. Bisnis benih yang pasang-surut memang tak dapat dipungkiri. Produsen benih seperti PT Seminis Vegetable Seed Indonesia pun turut merasakan ombang-ambing usaha benih. Menurut Ir Agus Setiyono sales manager Indonesia—Malaysia Seminis permintaan benih sayuran pada 2004—2006 meningkat rata-rata 10—20%. Pada 2006 omzet penjualan benih mencapai Rp350-miliar per tahun. Namun pada triwulan pertama 2007 penjualan benih justru merosot 30% dibanding periode sama tahun sebelumnya. Agus menduga menurunnya penjualan dipicu beberapa faktor. Enam bulan terakhir para pekebun cabai mengeluhkan serangan hama dan penyakit sehingga panen mereka anjlok.

Mereka Tak Memiliki Modal Untuk Membeli Benih
Akibatnya mereka tak memiliki modal untuk membeli benih pada masa tanam berikutnya. Meski biaya pembelian benih hanya menyerap 30% dari total biaya produksi tetapi berpengaruh besar bagi para pekebun. Mereka berpaling pada komoditas lain yang minim risiko. ’’Produsen benih pun turut merasakan dampaknya” katanya. Dipengaruhi alam Benih cabai bagi PT Inkoseed produsen benih di Bandung Jawa Barat justru menjadi andalan meraup laba. Dari kelima komoditas—cabai tomat melon sawi dan lobak—benih cabai yang paling banyak diminta para pekebun. Sejak 2004—2005 rata-rata penjualan anggota famili Solanaceae itu mencapai 350 kg per tahun setara 100 ha bila kebutuhan benih 35 kg per ha. Jumlah itu jauh lebih tinggi ketimbang komoditas lain yang rata-rata penjualannya kurang dari 100 kg per tahun. Menurut Dadi rendahnya penjualan benih tomat lantaran berbagai kendala. Salah satunya adalah produktivitas benih. Pasalnya jumlah biji pada tomat sangat sedikit. ’’Dari satu buah tomat biji yang lulus seleksi hanya 10 biji” kata Dadi. Bandingkan dengan cabai yang bisa mencapai puluhan biji. Selain itu nilai ekonomis cabai lebih tinggi ketimbang tomat. Dadi menuturkan pada harga cabai terendah Rp2.500— Rp3.000 per kg para pekebun masih bisa kembali modal. Sedangkan tomat pada saat harga anjlok hingga titik terendah yaitu Rp500 per kg para pekebun rugi besar lantaran rata-rata biaya produksi tomat minimal Rp 1.000 per kg. Namun kondisi alam yang tak bisa diprediksi mempengaruhi fluktuasi permintaan benih. Itu dirasakan betul oleh PT Inkoseed produsen benih di Bandung Jawa Barat. Ir Dadi Rasmada—general manager Inkoseed—menuturkan sepanjang 2006 penjualan benih merosot hingga 30% dari tahun sebelumnya. “Kemarau 2006 lebih panjang sehingga banyak pekebun enggan menanam” kata Dadi. Dadi berharap pendapatan bakal melimpah pada Agustus 2006 awal musim hujan. Pada saat itu para pekebun mulai bercocok tanam. ’’Penjualan pada awal musim hujan mencapai 70% dari total penjualan setahun” kata ayah 5 anak itu. Namun hingga penghujung November hujan yang dinanti tak juga tiba. Baru pada Desember hujan mengguyur seantero Nusantara. Datangnya hujan ternyata tak juga mendongkrak penjualan benih. Dadi menduga para pekebun enggan menanam karena takut mengambil risiko lantaran musim yang tak menentu. Akibatnya penjualan benih Inkoseed merosot tajam. Meski didera berbagai kendala toh tak menyurutkan para produsen benih untuk terus melangkah. “Selama masih ada pekebun permintaan benih masih terus mengalir. Oleh sebab itu pertanian Indonesia mesti terus berkembang” kata Agustinus Mulyono Herlambang direktur PT Multi Global Agrindo produsen benih lokal di Karanganyar Solo Jawa Tengah.

HINOKA ALSINDO

Pemesanan :

Jl. Raya Nerogong No. 133
Sepanjang Jaya, Rawa Lembu – Bekasi
Telp. 021-821 7747
HP. 085217403036

shareShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someonePrint this page

komentar

klikaja bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
tags: ,

Related Post PRODUSEN DAN PENCIPTA ALAT MESIN PERTANIAN

Tanaman Gelombang Cinta Yang Tumbuh Baik di Atas Rumah

JIKA INGIN MENGHASILKAN BIOETANOL BERKADAR 95%

KASIAT HERBAL JAGUNG, SEMANGKA, MADU UNTUK KESEHATAN

AHLI PENGGEMUKAN KAMBING

Berita Anugrah Agro Inovasi Badan Litbang Pertanian 2011