Home » Blog » TEKNOLOGI BUDIDAYA HOLTIKULTURA KABUPATEN BANDUNG JAWA BARAT
Filed: Blog
Advertisement
loading...

Penyusunan Laporan Observasi Lapangan dengan judul Teknologi Budidaya Tanaman Hortikultura di Desa Cibodas, Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat merupakan tugas yang harus dipenuhi dalam Diklat Teknis Teknologi Budidaya Hortikultura Komoditas Tanaman Semusim Provinsi Jawa Tengah Tahun 2010 sebagai hasil akhir dari observasi lapangan yang dilakukan oleh para peserta diklat. Laporan ini memuat teknik budidaya tanaman hortikultura di Desa Cibodas, Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat yang meliputi pengolahan lahan, penggunaan benih, penanaman, pemupukan, perlindungan tanaman,  pengairan dan pemanenan.

BANDUNG TANI 1

Komoditas hortikultura merupakan komoditas potensial yang mempunyai nilai ekonomi yang tinggi dan wilayah pemasaran yang luas. Luas wilayah Indonesia dengan keragaman agroklimatnya memungkinkan perkembangan berbagai jenis tanaman baik tanaman hortikultura tropis maupun tanaman hortikultura subtropis. Salah satu aspek pendukung pengembangan hortikultura adalah adanya investasi yang melibatkan berbagai pihak, baik instansi pemerintah, swasta dan masyarakat tani untuk melaksanakan serangkaian kegiatan yang saling terkait. Produk hortikultura nasional saat ini baru mampu memasok kebutuhan pasar dalam negeri dan masih sangat sedikit yang diekspor. Sistem produksi di lokasi yang terpencar, skala usaha sempit dan belum efisien serta jumlah produksi yang terbatas menjadi penyebab utama produk hortikultura nasional kurang kompetitif di pasar internasional. Hal penting yang juga dituntut oleh pasar internasional adalah mutu produk hortikultura yang aman konsumsi yang dihasilkan dari budidaya ramah lingkungan.

Upaya pengembangan hortikultura yang ramah lingkungan dan aman konsumsi dapat dijalankan melalui penerapan budidaya yang sesuai dengan Good Agricultural Practices (GAP) dan Standard Operation Procedure (SOP). Sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian No. 48/Permentan/OT.140/ 10/ 2009 tentang Pedoman Budidaya Buah dan Sayur yang baik (Good Agriculture Practise for Fruit and Vegetables), tujuan dari penerapan pedoman budidaya buah dan sayur yang baik adalah untuk meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman, meningkatkan mutu hasil termasuk keamanan konsumsi, meningkatkan efisiensi produk, efisiensi penggunaan sumber daya alam, mempertahankan kesuburan tanah, kelestarian lingkungan dan sistem produksi yang berkelanjutan, mendorong petani dan kelompok tani untuk memiliki sikap mental yang bertanggung jawab terhadap produk yang dihasilkan, keselamatan dan keamanan diri dan lingkungan, meningkatkan daya saing dan peluang penerimaan oleh pasar domestik maupun internasional, memberi jaminan keselamatan terhadap konsumen dan meningkatkan kesejahteraan petani.

Tujuan Observasi Lapangan, Pelaksanaan observasi lapangan bertujuan:     membandingkan teori yang diterima di diklat dengan apa yang telah diterapkan di tingkat petani dan kelompok tani,   mendapatkan wawasan di luar dengan harapan bisa diterapkan di daerah masing-masing,    memperoleh data budidaya yang telah dilaksanakan oleh petani, kelompok tani maupun dari nara sumber.

Ruang Lingkup Observasi Lapangan, Ruang lingkup observasi lapangan dibatasi pada Teknologi Budidaya Hortikultura Tanaman Semusim di  Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat  Propinsi Jawa Barat.  Metode Pengumpulan Data, Pengumpulan data dengan menggunakan beberapa metode, yaitu:  Observasi, yaitu pengumpulan data dengan cara pengamatan langsung terhadap obyek penelitian.  Wawancara, yaitu pengumpulan data dengan cara tanya jawab dengan Dinas Pertanian Propinsi Jawa Barat dan kelompok tani.  Dokumentasi, yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan menghimpun data melalui catatan yang ada.  Studi Pustaka, metode ini dilakukan dengan mempelajari dan mengumpulkan data-data yang telah ada terkait dengan data atau informasi yang dibutuhkan.

BANDUNG TANI 2

Teknik Analisa Data, Analisa data yang dilakukan dalam observasi lapangan ini adalah analisis deskriptif (paparan) yaitu menggambarkan temuan yang ada dilapangan secara langsung dan didukung dengan data-data yang telah didapat.  Kondisi Geografis. Kabupaten Bandung Barat terletak di 60º41’-70º19’ lintang selatan dan 107º22’-108º05’ bujur timur. Kabupaten dengan luas 1.305,77 km2  ini terletak di ketinggian rata-rata 700 m dan maksimum 1.330 m di atas permukaan laut. Kemiringan wilayah bervariasi antara 0–8%, 8–15% hingga diatas 45%. Secara geografis Kabupaten Bandung Barat berbatasan dengan beberapa kabupaten/kota yaitu: – sebelah barat :Kabupaten Cianjur – sebelah utara : Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Subang – sebelah timur : Kabupaten bandung dan Kota Cimahi. – sebelah selatan : Kabupaten Bandung dan Kabupaten Cianjur Cakupan wilayah Kabupaten Bandung Barat, meliputi 15 (lima belas) kecamatan, yaitu: Padalarang, Cikalongwetan, Cililin, Parongpong, Cipatat, Cisarua, Batujajar, Ngamprah, Gununghalu, Cipongkor, Cipeundeuy, Lembang, Sindangkerta, Cihampelas dan Rongga. Penggunaan lahan di Kabupaten Bandung Barat adalah untuk budidaya pertanian ±66.500,294 ha, kawasan lindung 50.150,928 ha, budidaya non pertanian ±12.159,151 ha dan lainnya ±1.768,654 ha Sentra pengembangan hortikultura ada di 5 kecamatan, yaitu Lembang, Cisarua, Gununghalu, Sindangkerta dan Ngamprah. B. Kondisi Budidaya Hortikultura di Kabupaten Bandung Barat Komoditas pertanian yang dikembangkan di Kabupaten Bandung Barat adalah: Padi sawah dan gogo Palawija: jagung, kedelai, kacang tanah, ubi kayu, dan ubi jalar Sayuran: paprika, cabai merah/ keriting, cabe rawit, tomat, kubis, brokoli, petsai/sawi/sosin, kembang kol, buncis, labu siam, dan jamur Buah-buahan : rambutan, jambu biji, strowberry, pisang, alpukat dan durian Tanaman hias: krisan, mawar, gerbera, karnation, sedap malam Tanaman biofarmaka: jahe. Tanaman yang menjadi komoditas unggulan adalah hortikultura dengan orientasi ke pasar regional, pasar modern/pasar nasional. Komoditas unggulan meliputi sayuran yang mencapai 25% (cabai merah besar, cabai keriting, tomat, paprika, kacang panjang, kol bunga, brokloli, labu siam, terong dan lain-lain) dan tanaman hias sebesar 57% (krisan mawar, gerbera, gladiol, anterium, sedap malam, anggrek dan lain-lain). Sedangkan yang merupakan komoditas unggulan yang berorintasi ekspor adalah zukini, horenzo, kaboca, paprika, umbi jepang, tomat momotaro, pekcoy, coisin baby, buncis baby dan jagung manis jepang. Kelompok Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) Tani Mandiri menggunakan beberapa sistem budidaya yaitu screen house, mulsa plastik lahan terbuka, hidroponik dan irigasi tetes. Bab ini lebih membahas budidaya dengan mulsa plastik lahan terbuka. A. Pengolahan Lahan Pada dasarnya untuk pengolahan lahan budidaya hortikultura pada beberapa daerah adalah sama. Pengolahan tanah bertujuan untuk memperbaiki sifat fisika, kimia dan biologi tanah, sebelum dilakukan penanaman. Pengolahan lahan di Kelompok P4S Tani Mandiri terdiri dari: Proses pembuatan kompos sebulan sebelumnya dengan menggunakan fermentasi pupuk kandang ditambah EM4 Pengolahan tanah diberikan pupuk kandang (pupuk dasar) kemudian dibuat bedengan Pemasangan mulsa Pembuatan lubang tanam B. Persemaian Persemaian bertujuan untuk mendapatkan tanaman yang seragam. Pada Kelompok P4S Tani Mandiri proses persemaian dilakukan dengan Penyiapan media yang terdiri dari tanah yang belum pernah digunakan 60%, pupuk kandang 20%, arang sekam 10% dan dolomit 10%. Penanaman benih C. Penanaman Penanaman merupakan kegiatan memindahkan benih dari persemaian ke lahan atau area penanaman hingga tanaman berdiri tegak dan tumbuh secara optimal di lapangan. Penanaman yang dilaksanakan di lokasi OL adalah bervariasi sesuai dengan jenis/varietas yang ditanam misalnya tanaman letucce ditanam dengan jarak tanam 20 x 20 cm sedangkan tomat jarak tanam 60 x 70 cm. D. Pemupukan Pemupukan adalah penambahan unsur hara ke dalam tanah apabila kandungan unsur hara dalam tanah tidak mencukupi untuk mendukung pertumbuhan tanaman secara optimal dengan tujuan mempertahankan status hara tanah agar memenuhi kebutuhan hara tanaman sehingga dapat menjamin pertumbuhan tanaman secara optimal dan berproduksi dengan mutu yang optimal pula. Pemupukan yang dilakukan di lahan milik Kelompok P4S Tani Mandiri yang menggunakan mulsa plastik dilakukan 1(satu) kali dalam 1 tahun sedangkan yang tidak menggunakan mulsa dilakukan 1 kali dalam 1 musim tanam. Jenis pupuk yang digunakan adalah pupuk organik (kandang) dan pupuk kascing (bekas cacing) dan pupuk anorganik adalah pupuk NPK sebagai pupuk susulan, selain itu digunakan pula pupuk kandang yang difermentasi dengan menggunakan EM4 dengan perbandingan 100 liter air dicampur pupuk kandang sebanyak 25 kg direndam dalam air selama 40 hari adapun aplikasinya dengan dikocor dalam lubang tanam. E. Perlindungan Tanaman Kegiatan pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dilakukan dengan sistem terpadu untuk menurunkan populasi OPT atau intensitas serangan sehingga tidak merugikan secara ekonomis dan aman bagi lingkungan. Adapun tujuan daripada pegendalian OPT adalah untuk menghindari kerugian ekonomi berupa kehilangan hasil (kuantitas) dan penurunan mutu (kualitas) produk serta menjaga kesehatan tanaman, keamanan produk dan kelestarian lingkungan hidup. Jenis OPT yang dijumpai pada lokasi OL adalah hama yang berupa ulat dan kumbang sedangkan penyakit adalah Thrips dan busuk batang, karat daun dan embun tepung hal ini disebabkan karena intensitas curah hujan yang tinggi sebagai akibat anomali iklim. Guna mengatasi dan mencegah serangan hama dan penyakit tersebut di atas dilakukan dengan penyemprotan yang berupa Agensia Hayati berupa bawang putih dan kunyit yang dihaluskan dengan komposisi 0,25 kg bawang putih, 0,25 kg kunyit dicampur dengan 2 liter air yang didiamkan selama 2 hari untuk menurunkan suhu, yang diaplikasikan dengan penyemprotan pada atas dan bawah daun dengan dosis 250 cc larutan untuk 1 tangki selain itu juga digunakan fungisida. F. Pengairan Pengairan adalah kegiatan memberikan air sesuai kebutuhan tanaman di sekitar perakaran dengan air yang memiliki standar baku mutu pada waktu, cara dan jumlah yang tepat. Sedangkan tujuan pengairan adalah menjamin ketersediaan air bagi tanaman untuk mengganti air yang hilang akibat penguapan, hanyut, air yang meresap ke dalam tanah, air yang mengalir ke permukaan tanah dan lainnya sehingga pertumbuhan dan proses produksinya optimal. Sistim pengairan pada lokasi OL adalah langsung dari air hujan dan pengairan dari sumber mata air dengan menggunakan selang dan sprinkle. G. Penyiangan Kegiatan yang dilakukan apabila terdapat gulma/rumput yang mengganggu tanaman pokok. Gulma dapat merebut nutrisi yang seharusnya dapat dimanfaatkan oleh tanaman pokok. H. Pemanenan Pemanenan adalah kegiatan memetik buah/sayuran yang telah siap panen yaitu pada saat mencapai kematangan fisiologis sesuai dengan varietas yang digunakan dengan tujuan untuk mendapatkan buah/sayur dengan tingkat kematangan sesuai permintaan pasar dengan mutu buah/sayur sesuai standar pasar Beberapa jenis tanaman yang dibudidayakan oleh Kelompok Tani Tani Mandiri Desa Cibodas Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat Provinsi Jawa Barat masa panen disesuaikan dengan jenis komoditas tanaman seperti roman letuce 35 hari, lolorosa 30 hari, tomat cheri 60 hari, head letuce 40 hari, negi 40 hari. A. Permasalahan Permasalahan yang dihadapi pada Kelompok P4S Tani Mandiri adalah Adanya anomali iklim Belum diterapkannya SOP dan GAP Satu kali pengolahan tanah ditanam beberapa macam komoditas Harga sarana prasarana yang semakin naik B. Upaya Pemecahan Masalah Untuk menghadapi adanya anomali iklim kelompok P4S Tani Mandiri menggunakan screen house dalam budidaya tanaman, serta mengikuti perkembangan informasi tentang perubahan cuaca dari BMG melalui media televisi maupun radio. Mensosialisasikan pentingnya manfaat penerapan SOP dan GAP kepada petani, agar menghasilkan tanaman dan produksi yang baik, sehingga mampu menghadapi persaingan pasar. Mengubah perilaku petani dari konvensional menuju pertanian modern agar mau mengurangi jumlah komoditas tanaman dari empat menjadi dua komoditas dengan maksud untuk mendapatkan kualitas dan kuantitas yang optimal untuk menghadapi pangsa pasar. Dengan penggunaan pupuk organik, agensia hayati, dan pestisida nabati untuk mensiasati semakin tingginya harga sarana dan prasarana pertanian (saprodi). Disamping itu bahan-bahan tersebut tersedia disekitar kita dan ramah lingkungan. Dan untuk mensiasati tingginya harga benih kita dapat membuat bibit sendiri dengan cara stek pucuk seperti pada tanaman tomat momotaro. Kesimpulan Setelah kami mendapatkan bekal teori di dalam mengikuti Diklat Teknis Budidaya Hortikultura Komoditas Tanaman Semusim Provinsi Jawa Tengah Tahun 2010, dapat kami simpulkan Anomali iklim besar pengaruhnya terhadap hasil produksi. Kelompok tani telah menguasai teknologi budidaya tanaman hortikultura secara modern namun belum menerapkan SOP dan GAP sepenuhnya. Saran Menerapkan SOP dan GAP dalam budidaya agar produksi yang dihasilkan untuk meningkatkan daya saing dipasar ekspor. Adanya teknologi- teknologi yang diperlukan untuk memenuhi persyaratan guna mempercepat program SOP dan GAP Perlu adanya sosialisasi tentang SOP dan GAP secara intensif terhadap semua pihak yang terkait sehingga terjadi kesatuan pengertian dan pemahaman.

shareShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someonePrint this page

komentar

klikaja
tags:

Related Post TEKNOLOGI BUDIDAYA HOLTIKULTURA KABUPATEN BANDUNG JAWA BARAT

GURAH ADALAH PENGOBATAN ALAMI YANG SUDAH TURUN TEMURUN

Informasi untuk pupuk yang ramah lingkungan

Budidaya rumput laut dengan sukses luar biasa

JENIS SAPI YANG BANYAK DIGEMUKKAN PETERNAK

Strategi sosialisasi untuk menunjang penemuan baru