Home » Blog » DAUR ULANG BIOETANOL DAN MINYAK JELANTAH
Filed: Blog
Advertisement
loading...

X4.DAUR ULANG

DAUR ULANG BIOETANOL DAN MINYAK JELANTAH

Ini cara Himawan Adiyoso mengganti minyak tanah. Produsen bioetanol di Cilegon Banten itu mencampur bioetanol dan minyakjelantah. Perbandingannya 1:1. la juga menambahkan 10% surfaktan sebagai pelarut. Pabrik genteng batu bata keramikyang menggunakan minyak tanah dapat menghemat biaya bahan bakar. Sebab harga bioetanol-jelantah itu cuma Rp4.000; minyak tanah Rp6.300 per liter.  Hemat “Tak perlu antre minyak tanah” ujar Bambang Purnomo yang mendesain kompor bioetanol. Kompor tanpa sumbu itu praktis. Pengguna tinggal menuangkan bioetanol ke dalam wadah seukuran cangkir berisi200 ml. Api langsung menyembur saat kompor dinyalakan. Untuk mematikannya letakkan penutup berbentuk bulatan di atas wadah. “Satu liter bioetanol setara 7 liter minyak tanah” ujar Soekaeni rekan Bambang Purnomo sembari menggoreng tempe di atas kompor bioetanol.  Energi Listrik Limbah pengolahan singkong ternyata bermanfaat untuk menghasilkan gas metan. Berkat alat digester milik PT Budi Acid Jaya limbah dari 2 pabrik di WayJepara Lampung mampu menghasilkan 4.500 ton gas metan. Gas itu kemudian dijadikan bahan bakarpembangkit listrik. Kedua pabrik tapioka terbesar di dunia itu tak lagi mengandalkan bahan bakar fosil yang menipis. Investasi marak Dengan segala kelebihan di atas penggunaan bioetanol agaknya kian mendesak. Bukan hanya karena industri itu menjadi lokomotif pengembangan ekonomi dan menciptakan lapangan pekerjaan. Namun juga lantaran harga minyak bumi yang diperkirakan melambung hingga US$100 per barel (1 barel = 11735 liter) pada tahun mendatang. Itulah sebabnya Johan Bukit produsen bioetanol memperkirakan “Siapa pun presiden terpilih pada 2009 sulit mempertahankan subsidi bahan bakar.” Kondisi itu mendorong banyak investor membenamkan modal untuk membangun kilang hijau alias energi terbarukan. Johan Arnold Manonutu misalnya menjalin kemitraan dengan masyarakat Minahasa Selatan Sulawesi Utara. Anak tunggal mantan Menteri Penerangan zaman Bung Karno itu menggelontorkan dana jutaan rupiah untuk membeli 5 unit mesin produksi bioetanol berkapasitas masing-masing 2001/hari. Mesin-mesin itu “dipinjamkan” kepada warga Desa Menara Kecamatan Amurang Timur Kabupaten Minahasa Selatan. Satu unit mesin dikelola 3 orang. Johan menampung hasil produksi mereka yang mencapai 1.000 liter sehari dengan harga Rp6.000 per liter. “Harga itu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga cap tikus yang hanya Rp300 per liter” ujamya. Gap tikus yang ia maksud adalah sulingan nira aren berkadar etanol 35% yang lazim digunakan untuk bahan minuman keras. Johan memasarkan etanol itu ke beberapa rumahsakit untuk sterilisasi. Dengan harga jual Rpl6.000—Rpl7.000 per liter omzetnya Rpl6-juta—Rpl7-juta per hari. Edy Darmawan dari PT Indo Acidatama berencana membangun pabrik pengolahan berkapasitas 50-juta liter per tahun di Lampung. Begitu juga Sugar Group Company (SGC) pemilik 3 pabrik gula raksasa yang mendirikan pabrik berkapasitas sama di Lampung Tengah. Mereka mengendus peluang besar dengan membangun kilang hijau yang ramah lingkungan. Pangsa pasar terbentang luas harga memadai bahkan dapat digunakan untuk keperluan sendiri. Itulah bioetanol “bensin” dari tetumbuhan. Ingin membangun kilang di halaman rumah agar mencecap manisnya berbisnis bioetanol? (Sardi Duryatmo/Peliput: Andretha Helmina Imam Wiguna Lani Marliani & Nesia Artdiyasa) AlhilalHamdi Produsen Boleh Oplos Bioetanol uang kerja kira-kira 2 kali lapangan voli itu tampak resik. Dua buah meja panjang membentuk huruf L ada di sudut. Mesin ® 8 pendingin terus menyembur sehingga membuat nyaman. Itulah tempat kerja Alhilal Hamdi (53) sebagai komisaris utama Perusahaan Listrik Negara. Namun kadang-kadang ia tak sungkan berpanas-panas di tengah ladang singkong atau jarak pagar komoditas sumber bahan bakar nabati. Ketua Tim Nasional Pengembangan Bahan Bakar Nabati itu memang meniadi petani. Ia mengebunkan aren singkong dan iarak pagar. “Kalau punya ide tentang sesuatu saya selalu mencoba menanam sendiri. Dulu waktu pengembangan rami saya tanam rami” kata mantan menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada zaman Presiden Abdurrahman Wahid itu. Peran yang ia emban memang sangat menentukan berkembangnya bahan bakar nabati di Indonesia.

shareShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someonePrint this page

komentar

klikaja
tags: ,

Related Post DAUR ULANG BIOETANOL DAN MINYAK JELANTAH

TANGKAP LABA ASAP CAIR

ANTS & COCROACHES ELIMINARE PEMBASMI SEMUT DAN KECOA

Coba deh, Bekatul Kontrol Gula Darah

OBAT TRADISIONAL TEH HITAM PENYEMBUH LEVER

KONSUMSI JINTAN HITAM MEMPEROLEH MOMONGAN