Home » Blog » JAMU LEBIH BAIK DARIPADA OBAT KIMIA
Filed: Blog
Advertisement
loading...

Dewasa ini banyak orang yang telah menyadari efek samping yang ditimbulkan obat-obat sintetik, terutama bila digunakan dalam jangka waktu lama. Sehingga mereka kembali ke obat tradisional yang merupakan warisan nenek moyang kita. Karenanya banyak pakar meramalkan bahwa prospek mengebunkan tanaman obat, serta memproduksi jamu dan kosmetika tradisional sangat baik. Kembali ke alam atau back to nature bahasa aslinya sudah lama dicanangkan di luar negeri. Bila dulu Trend Kembali ke Obat dan Kosmetika Tradisional. Tidak memiliki efek samping, khasiatnya sudah teruji ratusan tahun mereka menyukai sayur dan buah kalengan, kini mulai memilih yang segar. Selain se-gar, mereka juga memilih hasil pertanian yang dibudidayakan hanya dengan bahan organik. Sehingga berkembang istilah pertanian organik (organic gardening). Lebih jauh lagi, mereka mulai menghindari penggunaan obat sintetik dan memilih obat hasil ekstraksi tumbuhan. Perkembangan itu menjalar ke negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Sebenarnya obat tradisional atau lebih dikenal dengan jamu dan kosmetika tradisional sudah digunakan nenek moyang kita sejak ratusan tahun yang lalu. Menurut berbagai catatan keraton di Jawa, Bali, dan Sulawesi Selatan, serta relief pada beberapa candi, tanaman obat sudah digunakan di Indonesia sejak abad VII. Untuk mengetahui perkembangan dan prospek tanaman obat di masa mendatang, berikut wawancara Trubus dengan para pakar. Drs. Joko Hargono Direktur Pengawasan Obat Tradisional, Dirjen POM—Depkes RI “Pengembangan obat tradisional Indonesia sudah diamanatkan GBHN 1988. Karenanya obat tradisional Indonesia memiliki prospek pengembangan yang cerah,” ungkap-nya. Hal tersebut juga didasarkan atas kenyataan bahwa banyak obat yang digunakan sekarang berasal dari pengembangan obat tradisional. Misalnya obat kinina berasal dari kulit batang kina yang oleh penduduk digunakan untuk penurun panas dan antimalaria yang tidak memiliki efek samping. Setelah diteliti terbukti mengandung alkaloid kinina yang berkhasiat menurunkan panas dan antimalaria. Kemudian kandungan aktif itu diisolasi untuk memproduksi obat modern. Meskipun berasal dari tanaman kina, kandungan aktif yang telah berdiri sendiri ini akan memiliki efek samping, seperti telinga berdengung dan lain-nya. Karena tidak ada lagi zat lain yang menghambat kegunaan dan efek sampingnya. Menurut Joko, pada prinsip-nya tanaman obat, baik yang digunakan dalam bentuk segar, simplisia, bubuk maupun ekstrak tanaman, tidak memiliki efek samping. Karena di dalam tanaman terdapat banyak sekali zat yang satu dan lainnya saling berinteraksi. Interaksi itu ada yang bersifat menghambat atau mendorong sehingga satu zat tidak bisa bergerak bebas. Contoh lain pengembangan tanaman obat, menurut Joko, adalah reserpina dari akar pule pandak, kolkisina dari daun tanaman bunga sungsang, atropina dari kecubung, striknina dari bidara laut, efedrina, kodeina, papa-verina, dan sebagainya. Dari kenyataan itu dapat disimpul-kan bahwa upaya pengembangan obat tradisional mempunyai landasan yang kuat. Di Indonesia berdasarkan kebijaksanaan Departemen Kesehatan, pengembangan obat tradisional diarahkan pada fitofarmaka, yaitu sediaan obat nabati yang keamanan dan khasiatnya telah dibuktikan. Sedang bahan ba-kunya berwujud simplisia atau sediaan galenik yang telah memenuhi persyaratan yang berlaku. Sehingga biaya yang diperlukan untuk pengembangan relatif tidak besar dengan jangka waktu yang tidak terlalu lama. Sebenarnya upaya pengembangan tanaman obat tidak hanya dilakukan di Indonesia. Cina, Korea, India, Jepang, Jerman, dan Italia, malahan RRC yang memiliki catatan tentang obat tradisional tertua sejak 2.000 tahun SM, sudah mempelajari penggunaan tanaman obat secara mendalam sejak lama. Sedangkan Indonesia, menurut Joko, baru saja memulai menterjemahkan catatan-catatan kuno yang terdapat di Jawa, Bali, Ujung* Pandang dan lainnya. Tetapi terhadap beberapa jenis tanaman obat telah dilakukan penelitian secara terpadu yang saling melengkapi. Misalnya budidaya, standarisasi, kandungan aktif, keamanan (toksisitas), dan khasiatnya. Hal tersebut terwujud setelah dibentuknya organisasi-organisasi seperti Perhimpunan Penelitian Bahan Obat Alam (PERHIPBA), dan Ke-lompok Kerja Tanaman Obat Indonesia (POKJANAS TOI). Kemudian dibentuk pula Pani-tia Nasional Koordinasi Penelitian Obat Tradisional Indonesia oleh Menteri Ristek sehingga upaya mewujudkan penelitian terpadu itu semakin mantap. Namun upaya ini mengundang tiga pendapat yang berbeda, yaitu pendapat yang pro, ragu-ragu, dan kontra. Pendapat atau sikap ragu-ragu atau kontra ini disebabkan ku-rangnya pengetahuan tentang tumbuhan obat. Hal itu dapat diatasi dengan meningkatkan upaya-upaya penyebaran informasi kepada masyarakat melalui berbagai cara. Harus diingat bahwa pengetahuan masyarakat akan tanaman obat, baik tentang tumbuhan itu secara fisik, kandungan, khasiat, maupun keamanan penggunaannya, dapat lebih ditingkatkan dan dimantapkan jika disertai bukti-bukti hasil penelitian. Karena itu peneliti-an-penelitian ilmiah tentang tanaman obat yang meskipun sudah teruji secara empiris sejak dulu memegang peranan yang sangat penting. Ny. Mooryati Soedibyo Presiden Direktur PT Mustika Ratu “Prospek jamu dan kosmetika tradisional cukup baik terutama dengan adanya keinginan untuk back to nature yang A’v. Moorvati Soedibyo . Semua pihak dituntut untuk meneliti dan mengembangkan tanaman obat” dipelopori oleh negara maju,” jelas Ny. Mooryati. Masyarakat di negara maju itu telah mengetahui efek samping yang ditimbulkan obat-obat sintetik, sehingga mereka sekarang menyukai sesuatu yang serba alami. Memang mereka tidak mengenal jamu tapi memilih obat yang bahan aktifnya diekstrak langsung dari tumbuhan. Sedangkan di Indonesia pemanfaatan bahan alami ini sudah dimulai ribuan tahun yang lalu oleh nenek moyang kita. Prospek pemanfaatan tanaman obat dapat juga dideteksi dari perkembangan jenis produk dan permintaan yang masuk ke Mustika Ratu yang meningkat terus. Pada awainya Mustika Ratu hanya memproduksi beberapa jenis jamu dan kosmetika tradisional. Tapi saat ini sudah sekitar 300 jenis jamu dan lebih dari 300 jenis kosmetika tradisional yang dibuatnya. Bahkan pemasarannya sudah merambah ke luar negeri seperti Malaysia, Brunei, Singapura, dan Belanda. Tapi untuk merebut pasar luar negeri yang lebih luas kita harus meningkatkan mutu. Apalagi produk negara lain seperti Cina dan India sudah lebih dulu dikenal. Padahal bahan-bahan yang digunakan sama saja seperti kunyit dan kapulaga. Malahan mereka mau mengimpor kapulaga dari Mustika Ratu. Tapi Ny. Mooryati sangat menyayangkan minat masyarakat kita terhadap jamu yang masih sangat rendah. Menurutnya karena masyarakat masih asing dan tidak menganggap peninggalan nenek moyang ini penting untuk perawatan kesehatan. Anggapan negatif itu didukung pula dengan tidak adanya data kongkret tentang khasiat suatu jenis tanaman, yang ada sekarang ini hanya data empiris. Lain dengan di Cina. Semua rakyatnya sudah jamu min-ded. Bahkan rumah sakit di sana juga menggunakan jamu. Selain itu pemerintah di sana juga sangat mendukung misalnya HERBAL AFIAFIT JINTEN HITAMsaja mengeluarkan peraturan pelarangan impor jamu, dan ada instruksi untuk menggunakan jamu. Sedangkan di Indonesia, menurut pengamatan Ny. Mooryati, yang menggerakkan jamu hanya pihak swasta, bahkan sering dipertanyakan oleh para dokter tentang penelitian dan lain-lain. Tapi bila ada dokter yang menggunakan jamu disebut ‘terkun’ (dokter-dukun) atau tidak sesuai kode etik. Diakui oleh Ny. Mooryati, untuk mengembangkan perjamuan Indonesia, Mustika Ratu tidak bisa sendiri. Sehingga dibentuk Persatuan Pengusaha Jamu Indonesia dan Ny. Mooryati ditunjuk sebagai ketuanya. Hal ini pun tidak bisa berjalan tanpa dukungan pihak lain, maka or-ganisasi itu bekerja sama dengan para dokter, perguruan tinggi, dan Depkes yang tergabung dalam POKJANAS TOI. DR. Martha Tilaar Presiden Direktur PT Martina Berto—Jakarta “Prospek jamu di masa yang akan datang sangat besar. Asai sistem yang ada di Indonesia saat ini diperbaiki sehingga ada kerja sama antara pemerintah, badan penelitian dan pengusaha jamu,” ungkapnya. Contohnya di RRC. Di sana sudah ada rumah sakit yang menggunakan jamu. Bahkan Korea yang hanya memiliki satu jenis tanaman obat yaitu ginseng sudah lebih maju daripada kita. Sedangkan di Indonesia, meskipun tanaman obatnya masih berdasarkan data empiris sudah didukung oleh pemerintah, tapi masih ada pihak yang antipati. “Misalnya saja ada dokter yang mengakui khasiat tanaman obat karena tidak memiliki efek samping, tapi mereka takut menggunakannya karena akan dicap ‘terkun’ atau melanggar kode etik”. Produsen jamu Sari Ayu ini juga mengungkapkan, “Di Indonesia belum ada yang mengebunkan tanaman obat secara monokultur. Sebenarnya prospek mengebunkannya juga sangat baik.” Sehingga ia merencanakan untuk membuat kebun plasma nutfah seluas 5 ha. Sayangnya pihak yang diajak kerja sama menolak dengan berbagai alasan padahal ia akan membiayai seluruh rencana tersebut. Mak-sudnya, dari kebun itu ia ingin mengembangkan jamu secara ilmiah sekaligus dengan clinical trial. Sehingga dapat diketahui secara pasti kan-

shareShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someonePrint this page

komentar

klikaja
tags: , ,

Related Post JAMU LEBIH BAIK DARIPADA OBAT KIMIA

CHAMPION ADENIUM ARABICUM BATANG TUNGGAL

memisahkan duri dari daging ikan

Meningkatkan produktivitas lahan pertanian Repelita VI

BUAH LEZAT BERKHASIAT OBAT

Budidaya Srikaya Bikin Kaya