Home » Blog » PENGHUBUNG SEJARAH NUSANTARA TIONGKOK
Filed: Blog
Advertisement
loading...

X67.NUSANTARA TIONGKOK

PENGHUBUNG SEJARAH NUSANTARA TIONGKOK

Hari itu 25 tahun silam H. Daruli berdiri di depan kediaman seorang kepala suku Dayak di Kalimantan Timur. Di hadapan mereka belasan guci dijejerkan. Tiba-tiba embusan angin mendorong pintu depan hingga terbuka. Sekejap mata Daruli menangkap benda kecokelatan di baliknya: sebuah guci kuno yang dirahasiakan kepala suku. Daruli bangkit mendekat ke pintu. Nalurinya sebagai pemburu guci kuno mengatakan nilai 1 guci itu lebih berharga ketimbang belasan guci yang disodorkan. Benar saja sang kepala suku terlihat gugup melihat Daruli berminat. Pemimpin suku Dayak itu buru-buru menutup pintu tanda guci kuno itu tak dijual. “Guci itu baru dilepas jika keturunan keluarga saya sudah habis. la warisan nenek moyang. Bila saya menjualnya maka kami bisa celaka”ujar kepala suku pada Daruli. Pantas bila sang kepala suku mempertahankan guci putih dengan strip-strip horizontal cokelat itu. Konon 300 tahun silam terjadi pertikaian antara 2 desa. Pertikaian dipicu pemenggalan kepala seorang laki-laki di masa damai. Hanya tubuh yang tersisa sementara kepala hilang! Padahal pemenggalan kepala cuma diizinkan saat ngayao (peperangan resmi red). Penggalan kepala musuh biasa dibawa sebagai prasyarat ketika seorang pria Dayak ingin menikah. Identitas sang pemenggal kepala terungkap waktu ia melangsungkan pesta pernikahan. Terjadilah perang antara desa si pemenggal dengan desa korban yang memakan ratusan jiwa. Nyawa yang hilang di kedua belah pihak membuat 2 kepala suku berduka. Untuk menghentikan perang kepala suku asal pembunuh berkenan mengabulkan permintaan kepala desa korban: guci putih berumur 600 tahun asal Tiongkok yang ada di hadapan Daruli. Daruli pun mengurungkan niat memiliki martavan—sebutan guci di Birma—bersejarah itu. Namun tiap kali ia menyusuri sungai melewati Tempayan asal rumah kepala suku itu untuk memburu guci Myanmar dibuatabad pandangannya terpaku ke arah pintu. la baru ke-13 berhasil mendapatkan guci idaman 6 tahun kemudian—ketika kepala suku dan 2 anaknya wafat. Guci berharga yang sekarang menjadi milik kolektor Dr Boedi Mranata itu diboyong ke Jakarta bersama 60-an guci lain dengan kapal kayu. Perjalanan Daruli ke Borneo setiap 2 kali setahun bukan tanpa alasan.”Dari seluruh penemuan guci

shareShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someonePrint this page

komentar

klikaja
tags: ,

Related Post PENGHUBUNG SEJARAH NUSANTARA TIONGKOK

Produk Herbal Terbaik Indonesia

BUDIDAYA TANAMAN CABAI MERAH

Iklan saja

HAMMERMILL PENGUPAS KULIT KOPI SEGAR

Ikan Louhan