bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
Home » Blog » LITBANG PERTANIAN INDONESIA
Filed: Blog
Advertisement
loading...

litbangDAFTAR ISI Penduluan Penelitian 1. Pemanfaatan Pelepah Kelapa Sawit Dan Batang Kudzu untuk Bahan Baku Produk Kerajinan 2. Pengembangan Produk Kertas Seni Berbahan Baku Limbah Rumput Laut 3. Optimalisasi Perlakuan Bahan Baku Rotan dan Bambu untuk Pengembangan Disain Produk Kerajinan 4. Penelitian Limbah Cangkang Kelapa Sawit untuk Partikel Block (Interior) dan Furniture 5. Penelitian Pemanfaatan Sumberdaya Limbah Cangkang Kelapa Sawit, Kakao, Gambir dan Rumput Laut untuk Pewarna Batik dan Serat Alam Non Tekstil 6. Pengembangan Desain Batik Motif Khas Daerah Berbasis Budaya Lokal Sumber Bahan Baku (Bali, Sulawesi, dan Jawa) 7. Penelitian Perancangan Standar Angklung 8. Pemanfaatan Tempurung Kelapa untuk Mainan Anak Ramah Lingkungan 9. Teknologi Batik Untuk Fashion Dari Kulit Binatang Perekayasaan 10. Rekayasa Alat Polis Kerang dan Tempurung Kelapa 1 1. Rekayasa Alat Pembelah Bambu untuk Kerajinan 12. Rekayasa Alat Celup Zat Warna Alam Model Spiral Pendahuluan Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) merupakan unit pelaksana teknis di bawah Badan Pengkajian Kebijakan Iklim dan Mutu Industri Kementerian Perindustrian Rl. BBKB memiliki tugas melaksanakan penelitian, pengembangan, kerjasama, standardisasi, pengujian, sertifikasi, kalibrasi dan pengembangan industri kerajinan dan batik.Untuk mendukung pelaksanaan tugas tersebut, BBKB melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan yang dilakukan setiap tahun. Pada tahun 2014, BBKB melaksanakan 11 kegiatan litbang yang terdiri dari 8 kegiatan penelitian dan 3 kergiatan perekayasaan peralatan di bidang kerajinan dan batik. Pelaksanaan kegiatan-kegiatan tersebut dimaksudkan untuk membantu masyarakat dan pelaku industri kerajinan dan batik di Indonesia. Melalui brosur Hasil Litbang Balai Besar Kerajinan dan Batik tahun 2014 ini, Masyarakat diharapkan menerima informasi tentang litbang BBKB, sehingga dapat memanfaatkan secara langsung dan atau melakukan kerjasama dengan BBKB untuk mengembangkan industri kerajinan dan batik nasional. mulur berkisar antara 4,3 – 6,0 % masuk kategori rendah. Kadar lembab serat pelepah kelapa sawit sebesar 6,4 %. Kekuatan serat kudzu paling tinggi 35,49 dengan perlakuan pemasakan, masuk dalam rating strenght index dibawah 85 yang berarti lemah. Mulur serat kudzu berkisar antara 2,7 -6,0 % masuk kategori rendah sekali sampai rendah. Untuk Moisture Regain sebesar 9,2 % berada diatas kapas mentah namun masih dibawah serat sutera. Kesimpulan Dari hasil kegiatan penelitian ini dapat disimpulkan beberapa hal seperti: • Pemisahan serat pelepah kelapa sawit paling cepat dengan menggunakan alat dekortikator, yaitu 1 hari. Serat yang dihasilkan berwarna putih gading, mudah patah bila terkena tekukan. • Pemisahan serat pelepah kelapa sawit dengan perendaman NaOH, memerlukan waktu paling cepat 4 hari untuk konsentrasi 30g/L. Dengan serat berwarna coklat muda, sifatfisik lenturdan berbentukagak pipih. • Pemisahan serat pelepah kelapa sawit dengan fermentasi EM4 paling cepat 7 hari dengan perbandingan 3:1. Hasil seratnya berwarna krem sampai coklat muda, bentuknya agak bulat memanjang dan agak kaku. • Kekuatan serat kudzu paling tinggi 35,49 dengan perlakuan pemasakan (scouring). Nilai strenght indeks masuk dalam kategori rendah karena dibawah rating 85. Mulur berkisar antara 2,7 – 6,0% masuk dalam kategori rendah. Untuk kadar lembab bernilai 9,2 % berada dibawah serat sutera. • Kedua serat dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk produk kerajinan. PENGEMBANGAN PRODUK KERTAS SENI BERBAHAN BAKU LIMBAH RUMPUT LAUT Hadi Sumarto, S.Sn, Dkk Kerajinan Kertas Seni berbahan baku limbah rumput laut dan batang tebu Latar Belakang Salah satu industri kreatif yang mengalami perkembangan, adalah industri kerajinan kertas seni. Kertas seni yang di produksi, sebagaian besar berbahan pelepah pisang, atau abaca yang merupakan limbah dari hasil produksi pertanian. Upaya pengembangan lebih lanjut adalah dengan mencari bahan baku lain untuk menghasilkan kertas seni, antara lain rumput laut, limbah rumput laut dari zat warna alam dan ampas tebu. Rumput laut memiliki kandungan selulosa yang cukup tinggi, sehingga dimungkinkan untuk menjadi bahan baku kertas seni Tujuan Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui cara pengolahan rumput laut, limbah zat warna rumput laut dan limbah tebu untuk menjadi produk kertas seni yang siap pakai. Metode Penelitian ini dilakukan dengan membuat kertas seni dari 100% bahan baku utama (rumput laut sargassum, gelidium, Ulva atau ampas tebu) dan kombinasinya dengan serat pisang abaka dengan berbagai perbandingan. Kombinasi tersebut direbus dengan NaOH konsentrasi 10%. Produk Kerajinan Pembahasan Kertas seni rumput laut masih rentan sobek dengan kekuatan yang tidak terialu besar. Namun angka tersebut masih lebih besar daripada nilai indeks sobek kertas seni yang ada dipasaran. Diantara kertas seni rumput laut-abaka dan rumput laut-ampas tebu, tidak bias ditentukan produk mana yang paling baik karena hasilnya relatif sama. Akan tetapi, produk kertas seni dengan komposisi tebu yang banyak, memiliki indeks sobek yang tertinggi, 10,24 mN.m2/g. Dengan hasil tersebut, maka potensi ampas tebu masih lebih baik dalam hal kekuatan sobek. Secara fisik, kertas seni dari tebu masih memiliki nilai indeks jebol dan sobek yang tinggi dibandingkan dengan kertas seni rumput laut. Indeks tarik pada kertas seni hasil penelitian menunjukkan bahwa kertas seni dari ampas tebu memiliki nilai tertinggi. Serat ampas tebu yang berikatan lebih kuat daripada rumput laut, memberikan nilai tarik yang lebih tinggi. Semakin erat serat dalam berikatan, akan memberikan kekuatan pada kertas seni. Akan tetapi, dari semua hasil uji tersebut, masing-masing bahan baku memberikan ciri khas yang berbeda satu dengan yang lain dalam hal tekstur dan penampilan kertas. Kesimpulan • Limbah rumput laut mampu dicetak menjadi kertas seni dengan mengkombinasikannya dengan serat pisang abaka untuk meningkatkan daya rekat serat rumput laut. • Kertas seni limbah rumput laut campuran yang memiliki sifat fisik paling baik adalah kertas seni Sargassum. • Kertas seni ampas tebu memiliki kualitas fisikyang lebih baik daripada kertas seni rumput laut. • Limbah rumput laut dari produksi zat warna alam, mampu dimanfaatkan untuk bahan baku kertas seni. P e m a n f a a t a n n y a dilakukan dengan cara mengkombinasikannya berserta serat pisang dan dengan proses perebusan dengan NaOH kadar 10% dengan lama perebusan bervariasi OPTIMALISASI PERLAKUAN BAHAN BAKU ROTAN DAN BAMBU UNTUK PENGEMBANGAN DISAIN PRODUK KERAJINAN Dra. Zulmalizar, MM, Dkk Latar Belakang Hambatan saat ini kebutuhan bahan baku industri pengolahan rotan nasional mengalami kesulitan disebabkan antara lain adanya kebijakan ekspor bahan baku rotan, penguasaan teknologi pengolahan, finishing, dan disain produk, juga relatif masih kurang karena masih ditentukan oleh pembeli (buyer) dari luar negeri (job order). Identik dengan bambu olahan masih juga mengalami kendala di dalam peningkatan kualitas. Hambatan yang sering dihadapi oleh industri olahan adalah produk tersebut rentan terhadap kerusakan akibat serangga bubuk. Tujuan Meningkatkan kualitas bahan baku rotan dan bambu di dalam pengembangan diversifikasi produk kerajinan rotan dan bambu. Metode Pembahasan • Untuk memperoleh larutan bahan pengawet nabati dari daun babadotan dan mimba dapat dilakukan dengan cara ekstraksi dengan perbandingan 1:8, direbus hingga larutan tersisa 50%, dan pemakaian konsentrasinya adalah 1 liter bahan pengawet berbanding 1 kg bahan yang akan diawetkan Semakin lama pamakaian waktu perlakuan pengawetan baik dengan cara perebusan atau perendaman, kecenderungan retensi bahan pengawet akan semakin meningkat. Nilai retensi bahan pengawet terbesar (optimal) pada bambu petung terjadi pada perlakuan pengawetan dengan perendaman dalam waktu 4 hari dan perebusan selama 4 jam, yaitu 0,097 g/cm3, dan 0,117 g/cm3 dengan bahan ekstrak daun babadotan, 0,110 g/cm3 dan 0,109 g/cm3 dengan bahan pengawet ekstrak daun mimba. Nilai retensi bahan pengawet terbesar (optimal) pada bambu wulung terjadi pada perlakuan pengawetan dengan perendaman dalam waktu 4 hari dan perebusan selama 4 jam, yaitu 0,167 g/cm3, dan 0,074 g/cm3 dengan bahan ekstrak daun babadotan, 0,087 g/cm3 dan 0,061 g/cm3 dengan bahan pengawet ekstrak daun mimba. Nilai retensi bahan pengawet terbesar (optimal) pada rotan manau terjadi pada perlakuan pengawetan dengan perendaman dalam waktu 4 hari dan perebusan selama 4 jam, yaitu 0,094 g/cm3, dan 0,093 g/cm3 dengan bahan ekstrak daun babadotan, 0,105 g/cm3 dan 0,095 g/cm3 dengan bahan pengawet ekstrak daun mimba. Nilai derajat kerusakan bambu petung, wulung dan rotan manau rata rata terjadi pada perlakuan pengawetan dengan perendaman 2 hari dan perebusan 2 jam baik menggunakan bahan pengawet nabati ekstrak daun babadotan dan mimba. Perlakuan pengawetan yang optimal terjadi pada waktu perendaman 4 hari dan perebusan selama 4 jam, tidak menunjukan adanya kerusakan bambu dan rotan baik menggunakan bahan pengawet nabati ekstrak daun babadotan dan mamba maupun kimia borak-borik dan biflek. PENELITIAN LIMBAH CANGKANG KELAPA SAWIT UNTUK PARTIKEL BLOCK (INTERIOR) DAN FURNITURE Dra. Evi Yuliati rufaida,M.Si, Dkk Latar Belakang Perkebunan kelapa sawit banyak di jumpai di Indonesia, terutama di Pulau Sumatera, Kalimantan dan Papua. Dengan banyaknya perkebunan kelapa sawit tersebut, maka banyak pula tumbuh perusahaan minyak kelapa sawit. Perusahaan ini menghasilkan limbah antara lain cangkang kelapa sawit, yang dibiarkan menumpuk di sekitar perusahaan. Limbah ini sulit terurai dalam tanah, sehingga jika dibiarkan akan mengganggu lingkungan. Sampai saat ini pada umumnya limbah cangkang sawit digunakan untuk bahan bakar di perusahaan sawit yang bersangkutan. Kebutuhan untuk bahan bakar inipun tidak sebanyak limbah yang dihasilkan. Tujuan Memperoleh susbtusi bahan kayu untuk produk partikel block dengan berbagai ukuran dan prototipe produk interior serta furniture kombinasi kayu untukanak-anak. Metode r~ SELEKSI BAHAN BAKU LIMBAH CANGKANG KELAPA SAWIT PENGERINGAN Ukur Kadar Air PENGGILINGAN I Dengan Ms. Crusher PENYARINGAN (Skala 100 Mesh) TAN PA PENYARINGAN PENCAMPURAN/ PENGADUKAN LEM ALAMI (Dengan penumbukan) Daun talas, daun/kembang sepatu, latex/getah karet LEM SINTETIS Formaldehid, Lem PVaC, Lem Epoxy PELEPASAN DARI CETAKAN -;- PENCETAKAN (Dgn Ms Hot & Cold Pres) Variasi waktu: 1, 2, 3, 4 jam Suhu : Dlngin dan Panas (50,60, & 70°C), n = 5 ♦ PENGERINGAN (Dgn Oven & Sinar matahari) BAHAN BAKU SIAP (KOMPONEN) Uk. Cetakan : 20x30cm, 30x30cm, 30x60cm, Tebal: 5,10, 15, 20, 25 mm. Ukur kadar air dan berat Ukur kadar air dan berat PENGUJIAN: Rekat, Tekan, Geser, & Tarik Kesimpulan • Limbah cangkang sawit dapat diproses untuk dijadikan partikel block. Cangkang sawit yang baik untuk pembuatan partikelblock adalah cangkang yang telah bersih dari sabut, tetapi harus dihaluskan lagi sehingga menjadi butiran -butiran yang lembut. • Kelemahan yang ada jika butiran dibuat lembut, bahwa tekstur yang ditimbulkan tidak terlihat sehingga partikel block yang dihasilkan tidak berbeda dengan partikel block dari bahan yang lain. Tetapi jika butiran dipertahan besar-besar, kemudian dikombinasi dengan serbuk tempurung kelapa, partikel block yang dihasilkan jauh lebih bagus dan artistik. • Partikel block dari limbah cangkang sawit jika diolah lebih baik lagi dapat digunakan sebagai dinding atau ubin untuk di dalam ruangan dan hasilnya akan lebih meperindah bangunan yang didirikan. Proses Pembuatan papan cangkang kepala sawit PENELITIAN PEMANFAATAN SUMBERDAYA LIMBAH CANGKANG KELAPA SAWIT, KAKAO, GAMBIR DAN RUMPUT LAUT UNTUK PE WARN A BATIK DAN SERAT ALAM NON TEKSTIL Farida, Dipl. Teks, M.Sc Dkk Pewarna Rumput Pewarna Gambir Pewarna Kakao laut pada Serat Agel pada Serat Nanas pada Irat Bambu Latar Belakang Indonesia memiliki SDA alam yang melimpah. Sebagaian merupakan SDA yang banyak digunakan untuk bahan baku Industri. Produk sampingan dari Industri adalah limbah yang masih bisa dimanfaatkan sebagai bahan pewarna. Industri tersebut antara lain Kelapa sawit, Kakai, dan Rumput laut. Tujuan Memanfaatkan beragam tanaman yang terdapat di Indonesia sebagai bahan baku baru untuk pewarna batik dan SANT Metode cangkang kelapa sawit, kulit buah kakao, gambir, rumput laut ………..“……….. ekstraksi j_____EEi air HwitmmmirmumBm i J alkohol teknis D pewarnaan j— —i katun sutera penguatan warna -………..—……………………………………. \ / simulasi pelorodan \ / pengujian Kesimpulan • Hasil pengujian ketahanan luntur terhadap pencucian rata-rata paling baik diperoleh sampel gambir, rumput laut dan cangkang sawit (nilai 4-5) • Hasil pengujian ketahanan luntur terhadap gosokan (basah) rata-rata paling baik diperoleh cangkang sawit dan rumput laut (nilai 4 – 4,5) • Arah warna sampel menunjukkan rata-rata kuning kemerahan dengan kekuatan warna paling kemerahan diperoleh masing-masing gambir A (Katun, Air, Kapur), kakao B (Katun, Air, Tawas), cangkang sawit D (Katun Alkohol, Kapur) dan rumput laut D (Katun Alkohol, Kapur). Sedangkan untuk arah warna paling kekuningan masing-masing diperoleh gambir D (Katun Alkohol, Kapur), kakao H (Sutera, Air, Tawas), cangkang sawit D (Katun Alkohol, Kapur) dan rumput laut D (Katun Alkohol, Kapur). • Hasil pewarnaan SANT paling tua diperoleh gambir, kakao, cangkang sawit dan rumput laut pada agel, serat nanas, rotan hati dan iratan bambu. Arah warna untuk gambir adalah cokelat kemerahan, kakao cokelat, cangkang sawit cokelat abu-abu dan rumput laut cokelat abu-abu. PENGEMBANGAN DESAIN BATIK MOTIF KHAS DAERAH BERBASIS BUDAYA LOKAL SUMBER BAHAN BAKU (BALI, SULAWESI, DAN JAWA) Irfa’ina Rohana Salma, S.ST, M.Sn, Dkk Latar Belakang Batik merupakan seni kerajinan membuat kain bermotif indah dengan proses menggunakan lilin (malam) sebagai perintang warna dalam proses pewarnaannya. Kegiatan membuat batik menghasilkan komoditas berupa bahan kain untuk sandang dan interior. Sejak batik dikukuhkan sebagai warisan budaya dunia yang berasal dari Indonesia oleh UNESCO tahun 2009, pembinaan dan pengembangan industri batik di berbagai daerah menjadi semakin gencar seakan mendapat momen yang tepat. Namun pembinaan dan pengembangan industri batik tersebut masih berfokus pada masalah teknis pelekatan lilin dan pewarnaan. Aspek pengembangan desain motif khas daerah belum menjadi perhatian penting, padahal pengembangan desain motif khas daerah akan menghasilkan batik yang unik berbeda dengan batik daerah lain dan memberi unsur kenangan kultural sehingga mampu meningkatkan nilai jual, tidak sekedar selembar kain biasa tetapi sebagai produk kain yang bernilai seni. Tujuan • Meningkatkan keanekaragaman motif batik daerah yang berasal dari ornamen etnis Bali, Sulawesi dan Jawa. • Desain motif batik yang dihasilkan diharapkan dapat menambah kasanah literatur motif batik di Indonesia. Metode SUMBER INSPIRASI ▼ T Eksplorasi Ide Perancangan Perwujudan Karya MOTIF BATIK BARU KHAS DAERAH Hasil Penciptaan desain batik ini telah menghasilkan 10 (sepuluh) produk batik baru yang memiliki ciri khas Bali, Sulawesi dan Jawa yang mempunyai ciri khas masing-masing daerah, serta 3 buah canting cap. Batik Cap “Motif Teratai Banji” (Bali) Batik Tulis “Motif Ceplok Jepon” (Bali) Batik Tulis Canting Cap “Motif Perahu Pinisi” (Sulawesi) “Motif Kopi Coklat Jember” (Jawa) Kesimpulan Seni budaya daerah/lokal dan kekayaan alam suatu daerah dapat digali dan dikembangkan untuk penciptaan desain baru motif batik khas daerah, sehingga batik yang dihasilkan bersifat khas, unik, mencerminkan identitas lokal, serta berbeda dengan batik dari daerah lainnya. Kegiatan pengembangan desain baru motif batik khas Bali, Sulawesi, dan Jawa ini sudah memiliki kualitas estetika yang bagus sehingga dapat diaplikasikan dalam IKM Batik daerah setempat. Dari kegiatan pengembangan motif batik daerah Bali, Sulawesi dan Jawa ini berhasil dikreasikan beberapa motif batik yaitu Motif “Ceplok Jepun” (Bali), “Perahu Pinisi” (Sulawesi), “Kakao” (Sulawesi), dan “Kopi Jember” (Jawa) serta 3 (tiga) canting cap yaitu Motif “Sekar Jagad” Bali (Bali), “Teratai Banji” (Bali), dan “Kopi Coklat” Jember (Jawa). B PENELITIAN PERANCANGAN STANDAR ANGKLUNG Dra. Evi Yuliati Rufaida, M.Si Dkk Latar Belakang Di pasaran banyak produk angklung yang memiliki kualitas berbeda-beda untuk satu jenis yang sama. Musik angklung belum diketahui secara lengkap tentang standar kualitas produksinya, sehingga perlu diadakan penelitian tentang karakteristik musik angklung. Penelitian dilakukan terhadap bahan baku, proses pembuatan serta proses finishing angklung dan selanjutnya akan disusun dalam sebuah konsep standar kualitas produk kerajinan angklung yang dapat diajukan menjadi Standar Nasional Indonesia. Tujuan Mengetahui kualitas produk angklung di pasaran sebagai pertimbangan penyusunan konsep standar angklung. Metode Jenis bambu wmjm Sample angklung X” Struktur fisik bambu 1) Dimensi angklung 2) Kadar air Suara/nada 1) Frekuensi 1 Rtirntisan i.mc.mgan W ” I S; ” k| A standar Angklumj k Kesimpulan • Kualitas angklung ditentukan oleh kualitas bahan bambu, proses pengerjaan, dan pengukuran nada. • Bahan baku bambu angklung hitam dan apus menunjukan kualitas baik dan menghasilkan nada yang berkualitas standar • Nada angklung dipengaruhi oleh tinggi angklung, tinggi tabung resonansi dan diameter tabung resonansi.Dimensi rata-rata (tinggi angklung, tinggi tabung resonansi, diameter tabung resonansi) (dalam cm) – untuk nada C6 – C5 adalah Tinggi angklung : 24,4 sampai 40,3 (simpa-ngan baku 3,0-3,2) Tinggi tabung resonansi : 8,2 – 16,4 (simpangan baku 0,2 -0,6) Diametertabung resonansi: 3,2 -3,9 (simpangan baku 0,1 -0,3) untuk nada C7-C6 adalah Tinggi angklung : 13,8 – 24,8 (simpangan baku 2,4-3,5) Tinggi tabung resonansi : 4,2-8,1 (simpangan baku 0,2 -0,6) Diametertabung resonansi: 2,3-3,0 (simpangan baku 0,3 -0,4) • Frekuensi rata-rata sampel (dalam Hz) memiliki selisih dengan frekuensi standar nada internasional, yaitu untuk nada C5-C6 dan nada C6 -C7 : – angklung bambu hitam (-3,38 & -20,63), – angklung bambu apus ciamis (7,00 & -36,50) – angklung bambu apustasikmalaya (-10,25 & -42,1 3). • Kadar air rata-rata untuk angklung tabung besar 13,45 dan angklung tabung kecil 1 3,02. Angklung nada 1 oktaf bahan bambu apus Angklung nada 1,5 oktaf bahan bambu hitam PENELITIAN PEMANFAATAN TEMPURUNG KELAPA UNTUK MAI NAN ANAK RAMAH LINGKUNGAN DR. IR. Retno Widiastuti, MM. Dkk Latar Belakang Dengan adanya ketentuan SNI Wajib Mainan Anak yang berlaku mulai 1 Mei 2014 diharapkan semua mainan impor yang tidak memenuhi persyaratan SNI-ISO 8124 akan terbendung sehingga akan terjadi peningkatan permintaan ke produsen lokal yang telah memiliki standard yang berlaku. Tempurung kelapa di Indonesia telah lama menjadi sumber inspirasi para kreator untuk berbagai keperluan. Potensinya yang berlimpah dan tersebar hampir di seluruh Indonesia, menjadikan bahan ini berpotensi untuk dijadikan mainan anak. Ada beberapa hal yang menarik untuk diteliti terkait karakter bahan tempurung yaitu bentuk bulat , kekerasan menjadi kendala jika akan dibentuk sesuai keinginan, kendala lain dari tempurung adalah memiliki sifat kepadatan tinggi sehingga tidak mudah untuk diwarnai. Sifat-sifat tersebut menarik untuk diteliti sehingga melalui penelitian ini diharapkan dapat diciptakan berbagai mainan anak yang digemari anak, menarik, namun aman bagi anak maupun lingkungan. Tujuan Mengembangkan produk mainan anak yang ramah lingkungan, sedangkan tujuannya adalah diversifikasi produk mainan anakdari bahanyang aman dan ramah lingkungan Metode • Analisis Analisis dilakukan terhadap sumber bahan berbahaya dalam proses produksi mainan anak • Rencana Membuat rencana pengganti bahan yang menimbulkan bahaya pada mainan anak. • Melakukan uji coba Dilakukan pembuatan produk dengan bahan substitusi • Pengujian Melakukan pengujian terhadap produk yang sudah dibuat sesuai ketentuan SNI wajib untuk mainan anak Pembahasan Adapun hasil uji menunjukan bahwa mainan anak yang dibentuk dengan bantuan resin dan pewarna resin migrasi elemen Pb mencapai 31 mg/kg pada resin bening dan 153 mg/kg pada resin yang diberi pewarna, dimana batas Pb yang dibolehkan kurang dari 90 mg/kg. Untuk Uji migrasi elemen berbahaya pada tempurung untuk mainan anakyang tidak menggunakan bantuan resin sebagai bahan pembentuk menunjukan bahwa tidak ditemukan unsur-unsur berbahaya pada mainan tersebut. Berdasarkan hasil uji tersebut maka untuk produk yang menggunakan resin sebagai perekatnya disarankan untuk berhati-hati dalam penetapan peruntukan mainan anak. Kandungan Pb yang tinggi kemungkinan terdapat pada pewarna resin yang lazim digunakan juga pada pewarna cat. Untuk mainan anak dari tempurung kelapa tanpa bahan penolong atau mengoptimalkan karakter tempurung perlu diperhatikan sifat fisik terutama pada kebersihan tempurung dari sabutnya, kelincipan bentuk mainan agar tidak melukai saat digunakan bermain. Kesimpulan Berdasarkan hasil uji baik menyangkut sifat fisik, mekanik, maupun migrasi zat berbahaya, maka dapat disimpulkan bahwa tempurung kelapa meskipun memerlukan alat bantu untuk membersihkan dari sabut yang kemungkinan bisa tertelan anak namun dengan kreativitas mampu dibuat berbagai jenis mainan anak seperti miniatur hewan (gajah, jerapah, kuda laut, kucing, kura-kura, ikan, katak, sapi, kuda, kupu-kupu, kumbang dll); miniature alat bunyi-bunyian ( kendang, tifa, tamborin,dll); Alat Peraga Edukasi (jam dinding, jam meja, dll); alat makan (sendok, garpu, cangkir,dll). Untuk mainan yang menggunakan resin sebagai bahan tambahan, maka harus diperhatikan kadar Pb (timah hitam) yang terkandung dalam pewarna resin. Timah hitam (Pb) mencapai 31 mg/kg pada resin bening dan 153 mg/kg pada resin yang diberi pewarna, dimana batas Pb yang dibolehkan kurang dari 90 mg/kg. Jauhkan dari kemungkinan digigit dan dicium baunya. 9 TEKNOLOGI BATIK UNTUK FASHION DARI KULIT BINATANG Pratiwi, SE. Dkk Latar Belakang Sejak batik dikukuhkan sebagai warisan budaya dunia yang berasal dari Indonesia, pengembangan untuk industri batik di beberapa daerah menjadi perhatian. Beberapa daerah berpacu unluk menunjukkan identitas daerah melalui visualisasi motif batik, karena industri batik merupakan industry kreatif yang dapat menyerap banyak tenaga kerja. Untuk itu pelestarian dan pengembangan industri batik perlu terus dilakukan dalam berbagai sektor, salah satu pengembangan industri batik bisa dilakukan dengan menerapkan proses batik pada media yang berbeda. Salah satu media yang dapat digunakan adalah kulit binatang. Penerapan proses batik pada produk kulit binatang untuk bahan fashion akan menambah keunikan produk yang dapat menarik konsumen batik didalam negeri maupun luar negeri, sehingga diharapkan akan dapat meningkatkan nilai jual produk yang dapat bersaing dengan produk luar negeri. Tujuan Mendapatkan teknologi pembatikan yang optimal untuk batik kulit sebagai bahan fashion sehingga dapat meningkatkan daya saing produkfashion berbahan dasar kulit binatang. Metode Pembahasan Hasil yang didapat dalam penelitian ini adalah jenis kulit binatang yang dapat diproses untuk batik yakni jenis kulit binatang kulit kras samak krom nabati yang belum dilakukan proses finishing anti air, komposisi malam batik yang baik untuk proses batik kulit dari hasil penelitian yakni komposisi malam dengan menggunakan jumalah kote 300 gram, Teknik pembatikan dilakukan pembasahan dahulu pada permukaan kulit, zat warna yang baik digunakan adalah zat warna pigmen, serta teknik pelorodan yang baik diterapkan pada proses batik kulit binatang dengan cara perendaman pada larutan minyak tanah kemudian dilakukan proses pengerokan hingga malam batik bersih dari permukaan kulit binatang. Kesimpulan • Teknologi batik dapat diterapkan pada kulit binatang yang sudah tersamak namun belum dilakukan finishing lapisan anti air (water proofing) • Jenis malam batik yang bagus untuk digunakan pembatikan pada kulit harus jenis malam batik yang memiliki daya lekatyang bagus dengan penggunaan kote sebanyak 300 gram untuk basis 1 kg malam batik. • Pewarna batik yang dapat digunakan untuk mewarnai kulit binatang antara lain naphtol, indigosol, remazol, rapid dan pigmen. Adapun dari jenis pewarna tersebut zat warna yang sangat mudah, praktis, ekonomis dan hasilnya bagus menggunakan zatwarna pigmen. • Proses pelepasan malam batik yang baitk dilakukan dengan sistem peremdaman terlebih dahulu menggunakan minyak tanah kemudian dilakukan proses pengerokan malam batik hingga bersih. • Untuk meningkatkan kualitas dan penampakan dari kulit batik perlu dilakukan penyetrikaan dengan tekanan tinggi. REKAYASA ALAT POLIS KERANG DAN TEMPURUNG KELAPA Suharyanto,ST, MT. Dkk Latar Belakang Kulit Kerang dapat dibuat untuk bahan kerajinan interior seperti kap lampu sedangkan tempurung kelapa dapat dibuat produk kerajinan – alat rumah tangga, pot maupun alas meja, nampan. Disaat ini teknologi peralatan tepat guna sangat dibutuhkan dan dituntut keberadaannya karena dipandang mampu untuk meningkatkan produktivitas Industri Kecil dan Menengah (IKM). Produksi kelapa dan produk sampingannya di Indonesia cukup banyak karena pohon kelapa cocok tumbuh didaerah tropis, Indonesia juga mempunyai lautan yang luas yang menghasilkan kulit kerang yang banyak. Maka sangat tepat bila digunakan teknologi dalam penyempurnaan baik berupa proses maupun peralatan yang akan menghasilkan produk kerajinan dengan bahan baku kulit kerang dan tempurung kelapa. Dalam proses penyempurnaan kulit kerang dan tempurung kelapa biasanya IKM menggunakan alat sederhana yaitu dengan menggunakan alat polis supaya halus, namun masih ada kendala yang menyebabkan prouktifitasnya rendah. Permasalahan yang timbul di IKM dalam proses polis masih dijumpai debu yang beterbangan disekitar alat maupun ruang kerja sehingga akan mengganggu kesehatan para pekerja. Penggunaan peralatan polis pada kondisi sekarang dirasakan masih belum tepat guna dan belum ramah lingkungan Tujuan • Mendapatkan peralatan polis kulit kerang dan tempurung kelapa yang efektif, efisien dan tepat guna. • Membantu IKM kulit kerang dan IKM tempurung kelapa, karena alat tersebut dapat diterapkan di industri kulit kerang dan industri tempurung kelapa. • Membuat rekayasa alat polis kerang dan tempurung kelapa yang nyaman dan ramah lingkungan. Rekayasa Alat Polis kerang/tempurung kelapa I Uji Coba Alat Polis Pembahasan Alat Polis Kerang dan Tempurung kelapa ini dapat bekerja dengan baik karena dilengkapi dengan penyedot debu supaya debu tidak beterbangan diruang kerja tetapi dapat disedot dan ditampung dalam kantong yang disediakan, dilengkapi dengan alat gerinda yang dapat memolis kerang maupun tempurung kelapa dalam kondisi kasar, sedang dan halus. Pengoperasian dan perawatan mesin ini mudah dan sederhana, bisa bekerja dengan baik apabila dioperasikan dengan tertib. Kapasitas alat per jam dapat memolis tempurung kelapa bagian luarsebanyak 11 tempurung kelapa bagian luar. Kapasitas alat per jam dapat memolis tempurung kelapa bagian dalam sebanyak49 tempurung kelapa bagian dalam. Kapasitas alat per jam dapat memolis kulit kerang mutiara bagian luarsebanyak 8 kulit kerang mutiara bagian luar. Berat total 10 kerang mutiara 1075 gr = 1,075 kg. Kesimpulan Dari hasil perekayasaan alat dan uji coba alat yang telah dilaksanakan, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: Dihasilkan Rekayasa Alat Polis Kerang dan Tempurung Kelapa dengan spesifikasi sebagai berikut : Panjang :5 cm, lebar : 53 c, tinggi : 65 cm, berat: 45 kg, kapasitas pemolisan/jam : 11 Tempurung kelapa (bagian luar)/ 49 (bagian dalam)/ 8 Kulit kerang Mutiara Kapasitas produksi dipengaruhi oleh ketrampilan operator. Penggunaan alat polis ini multi guna dapat memolis kulit kerang dan tempurung kelapa, nyaman dioperasionalkan karena dilengkapi penyedot debu sehingga debu akibat proses akan tertampung, tidak beterbangan mengotori ruangan. REKAYASA ALAT PEMBELAH BAMBU UNTUK KERAJINAN Suharyanto, ST, MT. Dkk Latar Belakang Industri kerajinan bambu merupakan kegiatan padat karya yang mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja. Kurang lebih 20% produk kerajinan bambu dilndonesia adalah produk untuk pemenuhan permintaan ekspor. Sasaran konsumen luar negeri adalah para peminat kerajinan bambu dari Jepang, Italy, Jerman dan Hongaria. Jenis produk kerajinan bambu yang diminati oleh konsumen-konsumen tersebut; antara lain adalah aneka kerajinan bambu yang memiliki fungsi kehidupan (life style) seperti: tempat buah, kue, baki lamaran dan tempat sampah. Permasalahan yang dihadapi industri kerajinan anyaman bambu satu diantaranya adalah terbatasnya peralatan termasuk alat pembelah bambu. Fenomena ini sangat terasa terutama di level industri mikro, kecil dan menengah yang membuat produk kerajinan anyaman bambu. Tujuan Memperoleh prototype alat pembelah bambu untuk kerajinan anyaman yang mampu meningkatkan produktifitas dan efisiensi serta harga terjangkau oleh IKM. Metode Mulai Identifikasi Data Perancangan I Identifikasi Proses Produksi Identifikasi Proses Produksi Indetifikasi Material dan Komponen Standar O Q. I Persiapan Mesin dan Alat Produksi I Proses Pembuatan l Pembahasan Dari data uji coba alat pembelah bambu yang disajikan pada beberapa tabel diatas , tebal daging bambu dari 0,6 s.d 1,8 Cm tidak berpengaruh terhadap waktu yang digunakan untuk pembelahan bambu. Dari data uji alat pembelah bambu Panjang bambu merupakan variable yang sangat berpengaruh terhadap waktu pembelahan bambu. Hal tersebut disebabkan karena untuk memecahkan bambu hanya memerlukan tekanan awal untuk membelah serat sebagai jalan awal pisau dalam membelah bambu mengikuti alur serat bambu. Sebagai catatan bahwa dalam pembelahan bambu perlu dicermati bahwa pada awal tekanan pertama untuk pembelahan tidak diijinkan awalannya berupa ruas dari bambu yang akan dibelah. Hal ini dikarenakan untuk memecahlan ruas dari bambu diperlukan tekanan lebih besar daripada tekanan yang digunakan untuk pembelahan serat batang dari bambu tersebut. Kesimpulan Rekayasa alat pembelah bambu untuk kerajinan telah berhasil di rekayasa sesuai dengan perencanaan. Alat pembelah bambu dengan spesifikasi Panjang : 3 m, lebar 65 cm dan tinggi 85 cm digerakkan dengan motor induksi system 1 phase dengan daya listrik 736 Watt (1 HP) serta troke atau langkah alat pembelah bambu sepanjang 2,5 meter. Pengoperasian alat pembelah bambu bisa dilakukan oleh satu orang operator dengan kemampuan produksi sebanyak 4320 bilah bambu/ jam dengan ukuran panjang 2,4 m dan lebar bilahan 2 cm. REKAYASA ALAT CELUP ZAT WARNA ALAM MODEL SPIRAL 12 Sujanarto, SE Dkk Latar Belakang Salah satu tahapan proses dalam pembatikan adalah proses pewarnaan dengan cara pencelupan. Proses pencelupan dapat dilakukan pada kain batikan per potong menggunakan antara lain bak celup, waskom plastik, alat sleregan, namun dapat juga dilakukan pada kain batikan ukuran panjang menggunakan alat jigger. Hasil pewarnaan menggunakan alat jigger sering kurang merata terutama bagian pinggir kain. Hal ini mungkin karena kain batikan saling menempel. Oleh karena itu perlu diteliti perekayasaan alat pencelupan model spiral yang dapat mencelup kain batikan ukuran panjang dan ada jarak antar kain yang dicelup Tujuan mendapatkan teknologi pewarnaan dengan alat pencelupan model spiral. Metode Metode yang digunakan adalah ekperimental, meliputi penuangan gagasan melalui perancangan desain dan gambar kerja, pemilihan material, pembuatan protipe, ujicoba (experiment), dan evaluasi. Kesimpulan • Alat pencelupan batik model spiral dengan spesifikasi: penggerak motor listrik 1 phase, 220 V, 3,61 A, 1/2 HP Vi HP (1 60 watt), 5 -1450 Rpm ; dimensi: (PxLxT) 240 cm x 120 cm x 100 cm, dan berat: 85 kg, as roll spiral stainless steel 8 mm, as utama stainless steel 1 inch, as besi 6 mm, dan tempat pegangan kain pada rol spiral, lager pillow block 1 inch. • Kapasitas bak larutan 60 liter, panjang kain sekali pengerjaan (celupan) 16,25 m, dan hasil celupan merata • Kapasitas produksi perhari sangat dipengaruhi oleh jenis zat warna yang digunakan • Penggunaan alat pencelupan model spiral dapat meningkatkan kapasitas produksi, dengan hasil celupan yang rata, lebih efisien dan ekonomis. Balai Besar fm Kerajinan dan Batik’S^

shareShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someonePrint this page

komentar

klikaja bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Related Post LITBANG PERTANIAN INDONESIA

JAMU LEBIH BAIK DARIPADA OBAT KIMIA

Bagan Warma Daun – Daftar Istilah Pertanian

Buku pintar budidaya ternak walet

Sukses menanam jagung hibrida

BATUK