bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
Home » Blog » MENCARI TANAMAN OBAT
Filed: Blog
Advertisement
loading...

herbalisMerambah Hutan, Mencari Tanaman Obat Mencari tanaman obat di hutan ternyata tidak mudah. Kemungkinan dipatuk ular dan perjuangan menerobos rapatnya semak belukar merupakan risiko yang harus siap dihadapi. Itulah yang dialami oleh Wartawan Trubus, Onny Untung dan Untung Jaya ketika melakukan peliputan langsung ke tengah hutan di wilayah J ampang Tengah, Sukabumi beberapa waktu lalu. Berikut cerita perjalanan mereka. Gunung Pasir Awi yang berada di wilayah Jam-pang Tengah dapat dicapai melalui Desa Bojongjengkol, sekitar dua jam perjalanan ke arah selatan Sukabumi. Seluruh areal hutan di gunung ini dikelola oleh Perum Perhutani. Selain mengelola hutan lindung, Perum Perhutani pun menanam pinus dan mahoni di areal seluas 237 ha dalam Cangkorek yang airnya dipakai untuk mengobati sakit mata rangka Program Perhutanan Sosial. Hutan lindung yang terletak di Gunung Pasir Awilah tujuan kami. Diantar oleh Ji-din Petugas Perum Perhutani, kami berangkat dari Dusun Ci-jaha Pulo, Desa Bojongjengkol pukul 13.15 WIB di tengah-tengah cuaca mendung dan gelegar suara guntur di langit. Ditengah belukar Awai perjalanan tidak terlalu sulit. Pematang sawah yang li-cin dan terasering yang konturnya melingkar dengan mudah kami lalui. Setelah melewati tempat pembibitan pinus, perjalanan baru terasa berat. Tanpa memberikan pertanda terlebih dahulu, petunjuk jalan kami, Jidin, mendadak mengayunkan parang, menebas rimbunnya semak belukar yang menghadang di depan. Dalam waktu singkat tubuh Jidin hilang dari pandangan kami, tertutup kerimbunan semak belukar. Yang terdengar hanya suara parang yang membabat rumpun-rumpun perdu. “Pak Jidin, tunggu,” teriak saya sambil segera menyusulnya. Kami berdua segera mengikuti jejak Jidin, masuk ke tengah-tengah semak. “Jangan terlalu jauh, Pak,” kata Jidin mengingatkan kami. Peringatan ini memang perlu. Betapa tidak. Dalam ja-rak sepuluh meter saja, kami sudah tidak dapat melihat tubuh Jidin saking rimbunnya semak-semak yang harus kami terobos. Sempat juga terpikir oleh saya, mengapa Jidin tidak membawa kami lewat jalan se-tapak yang relatif lebih mudah dilalui. Namun ternyata itu memang perlu lantaran tanaman obat yang kami cari lebih banyak tumbuh di antara kerimbunan semak. Jadi, dengan terpaksa, sambil tetap was-pada terhadap kemungkinan dipatuk ular, kami berdua mengikuti jejak Jidin.

 

Tanaman obat pertama yang kami temui setelah men-jelusup di kerimbunan itu ialah nangsi (Pipturus repandus).

  • Kumpulan toko super murah >>
  • Dapatkan update koleksi kain batik berkualitas unggul solo >>
  • Produk terbaru seragam dan grosir kain dan baju murah >>
  • Segalanya jadi murah di sini dari kecantikan hingga life style >>
  • Berita dari produk batik tulis ningrat surakarta >>
  • Beralihlah pada yang alami dengan toko pertanian alami >>
  • Jasa promosi termurah, bikin web saja Rp. 350.000,- >>
  • Kamu ikira mutiara asli mahal?, disini murah, mulai Rp. 50.000,- >>
  • Tanaman perdu ini kami lihat tumbuh memanjat di batang pohon besar. Menurut Jidin, penduduk di sana biasanya merebus batang nangsi dan air rebusannya dipakai untuk mengobati penyakit ginjal dan saluran kencing. Sekitar dua puluh meter dari tempat nangsi, kami berhasil menemukan tanaman keras tu-lang (Chloranthus officinalis) yang daun, batang, dan akar-nya bisa dipakai untuk meng- obati penyakit kencing batu dan ginjal. Arca babi Dari tempat nangsi dan keras tulang, Jidin mengajak kami menyusuri tebing yang tertutup rapat oleh semak. Jalan yang ada di bawah tebing sama sekali bukan jalan seta-pak, tapi hanya sekadar tonjolan tanah yang agak miring sehingga untuk menyusuri jalan itu terpaksa kami merayap di tebing, sementara di bawah menanti jurang yang lumayan dalamnya. Setelah menyusuri tebing itu, sampailah kami ke tanah datar yang agak luas. Di sini kami melihat ki-cantung (Goniothalamus macrophyllus) yang batangnya juga biasa direbus untuk mengobati penyakit ginjal, sementara akarnya dimanfaatkan untuk obat demam. Bentuk daun ki cantung lanset dengan panjang 25 cm. Tanaman ini tumbuh di bawah sebatang pohon besar yang menjulang tinggi. Dua puluh menit dari tempat kami menemukan ki cantung, setelah berjalan melawan arus sungai kecil, sampailah kami ke suatu lokasi yang sangat terkenal karena adanya arca babi yang tergeletak di tengah sungai. Dua arca babi yang kami lihat sebenarnya hanya bongkahan batu yang bentuknya mirip babi, namun penduduk di sana menganggapnya keramat dan menjadi pertanda bahwa Gunung Pasir Awi memang merupakan daerah jelajah babi. Konon, babi yang terkena tembakan peluru pemburu selalu berusaha melarikan diri ke arca batu. Jika usahanya itu berhasil dan badannya bisa bergesekan dengan arca, luka tembakan itu akan langsung sembuh.

    shareShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someonePrint this page

    komentar

    klikaja bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

    bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

    bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
    tags: ,

    Related Post MENCARI TANAMAN OBAT

    MYRCIARIA JABOTICABA DAN MYRCIARIA CAULIFLORA

    Propolis Lebah Membelenggu Abses Paru

    CATOPSIS BERTERONIANA KARNIVORA BROMELIAD EPIFIT

    BUAH NAGA KULIT KUNING

    AMPUTASI