bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
Home » Blog » AGROBUDIDAYA PERTANIAN 2016
Filed: Blog
Advertisement
loading...

Chairani Hanum
TEKNIK
BUDIDAYA
TANAMAN
JILID 1
SMK
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional
Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional
Dilindungi Undang-undang
TEKNIK
BUDIDAYA
TANAMAN
JILID 1
Untuk SMK
Penulis : Chairani Hanum
Perancang Kulit : TIM
Ukuran Buku : 17,6 x 25 cm
Diterbitkan oleh
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional
Tahun 2008
HAN HANUM, Chairani.
a Teknik Budidaya Tanaman Jilid 1 untuk SMK oleh Chairani
Hanum —- Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah
Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan
Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 2008.
xi. 178 hlm
Daftar Pustaka : A1-A14
Glosarium : B1-B5
Indeks : C1-C6
ISBN : 978-979-060-056-0
KATA SAMBUTAN
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan
karunia Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Direktorat Pembinaan Sekolah
Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar
dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional, telah melaksanakan
kegiatan penulisan buku kejuruan sebagai bentuk dari kegiatan
pembelian hak cipta buku teks pelajaran kejuruan bagi siswa SMK.
Karena buku-buku pelajaran kejuruan sangat sulit di dapatkan di pasaran.
Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan Standar
Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk SMK dan telah
dinyatakan memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses
pembelajaran melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 45
Tahun 2008 tanggal 15 Agustus 2008.
Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada
seluruh penulis yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya
kepada Departemen Pendidikan Nasional untuk digunakan secara luas
oleh para pendidik dan peserta didik SMK.
Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada
Departemen Pendidikan Nasional ini, dapat diunduh (download),
digandakan, dicetak, dialihmediakan, atau difotokopi oleh masyarakat.
Namun untuk penggandaan yang bersifat komersial harga penjualannya
harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Dengan
ditayangkan soft copy ini diharapkan akan lebih memudahkan bagi
masyarakat khsusnya para pendidik dan peserta didik SMK di seluruh
Indonesia maupun sekolah Indonesia yang berada di luar negeri untuk
mengakses dan memanfaatkannya sebagai sumber belajar.
Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini. Kepada
para peserta didik kami ucapkan selamat belajar dan semoga dapat
memanfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kami menyadari bahwa buku ini
masih perlu ditingkatkan mutunya. Oleh karena itu, saran dan kritik
sangat kami harapkan.
Jakarta,17 Agustus 2008
Direktur Pembinaan SMK

iv
KATA PENGANTAR
Buku Teknik Budidaya Tanaman ini disusun berdasarkan kurikulum
berbasis kompetensi. Buku ini berisikan materi pokok teknik budidaya
tanaman dengan metode penyajiannya sesuai dengan indikator hasil
belajar pada sekolah menengah kejuruan.
Isi buku ini dibagi atas 4 (empat ) bagian, yang masing-masing bagian
terdiri dari beberapa bab. Bagian I terdiri dari 3 bab yaitu bab
Pendahuluan, Pertumbuhan dan Perkembangan (Bab II), serta
Fotosintesis dan Respirasi (Bab III). Bagian satu dari buku ini mencoba
membahas awal dari kehidupan dan proses dasar metabolisme tanaman.
Sedangkan bagian dua mencoba mengulas sumber hara dan air bagi
tanaman bagaimana mereka memperoleh kedua sumberdaya alam ini,
mentranslokasikannya serta menggunakan untuk kelangsungan
hidupnya.
Bagian tiga dari buku ini mencoba memaparkan syarat tumbuh masing
masing kelompok tanaman yaitu tanaman hortikultura, tanaman pangan
dan tanaman perkebunan. Bagian ini berisi ulasan bagaimana pedoman
teknis budidaya masing-masing kelompok tanaman. Walaupun tidak
seluruh tanaman di muat teknik budidayanya dalam buku ini setidaknya
ketiga bab ini dapat mewakili untuk menuju sistem pertanian yang
berkelanjutan, dengan menghasilkan produk unggulan secara kualitas
dan kuantitas.
Akhir dari buku ini mencoba teknik budidaya alternatif dengan
menggunakan media tanam bukan tanah, sistem ini akan memberikan
pilihan utama pada peningkatan mutu bahan pangan yang dihasilkan
tanpa harus bergantung pada media tanam tanah semata. Pertanian
organik yang digalakkan akhir-akhir ini merupakan solusi untuk
memecahkan masalah peningkatan produksi pertanian disatu sisi dan
pencemaran lingkungan disisi lainnya.
Buku ini dirancang agar peserta didik yang membacanya dapat belajar
sendiri tidak harus bergantung pada tatap muka di depan kelas. Pada
awal setiap bab dimuat pendahuluan untuk dapat lebih memudahkan
pemahaman terhadap isi dari bab tersebut.
Ilustrasi dan gambar yang digunakan dalam buku ini juga diharapkan
dapat membantu siswa mempelajari dan mempraktekkan secara baik dan
benar.
v
Pada akhirnya keberhasilan proses relajar mengajar tidak hanya
tergantung pada sarana dan prasarana yang canggih, akan tetapi dituntut
untuk setiap peserta didik menekuni dan mencari tahu setiap
permasalahan-permasalahan yang belum diketahui dari ilmu tersebut.
Kepada editor dan Depdiknas beserta seluruh staffnya yang telah
berupaya untuk menyempurnakan dan menerbitkan buku ini sehingga
terbit dan layak baca, kami mengucapkan tarimakasih. Kami juga sangat
mengharapkan saran dan kritik untuk lebih menyempurnakan isi buku ini
sehingga sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
Semoga kita mendapatkan ilmu yang bermanfaat, dan manfaat dari ilmu
tersebut
Penulis
vi
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ……………………………………………………………… iv
DAFTAR ISI ………………………………………………………………………….. vi
JILID 1
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Pengertian …………………………………………………………. 1
1.2 Tindakan Budidaya Tanaman ………………………………. 2
1.3 Aspek dan Lingkup Teknik Budidaya Tanaman ………. 3
1.3.1. Aspek Budidaya Tanaman …………………………………… 3
1.3.2. Lingkup Budidaya Tanaman …………………………………. 4
1.3.3. Produk Budidaya Tanaman ………………………………….. 5
1.4 Potensi Sumber Daya Alam Indonesia …………………… 7
1.5 Peningkatan Produktivitas ……………………………………. 9
1.6 Rangkuman ……………………………………………………….. 10
1.7 Tugas ……………………………………………………………….. 10
BAB 2 PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN
2.1 Definisi Pertumbuhan dan Perkembangan ……………… 13
2.2 Perbedaan Pertumbuhan dan Perkembangan ………… 13
2.3 Perkecambahan Benih ………………………………………… 16
2.3.1. Hipogeal ……………………………………………………………. 16
2.3.2. Epigeal ……………………………………………………………… 17
2.4 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan ……. 17
2.4.1. Genetik ……………………………………………………………… 17
2.4.2. Curah Hujan ………………………………………………………. 17
2.4.3. Keadaan Tanah ………………………………………………….. 18
2.4.4. Suhu …………………………………………………………………. 19
vii
2.4.5. Cahaya Matahari ………………………………………………… 19
2.4.6. Hara ( Nutrisi Tanaman) dan Air 20
2.4.7. Hormon Tumbuhan …………………………………………….. 20
2.5 Pengukuran Pertumbuhan …………………………………… 22
2.6 Rangkuman ……………………………………………………….. 22
2.7 Evaluasi …………………………………………………………….. 23
BAB 3 FOTOSINTESIS DAN RESPIRASI
3.1 Definisi Fotosintesis dan Respirasi ……………………….. 24
3.2 Fotosintesis Pada Tumbuhan ……………………………….. 25
3.3 Daun dan Kloroplast ……………………………………………. 26
3.4 Lintasan Pada Fotosintesis ………………………………….. 27
3.4.1. Reaksi Terang ……………………………………………………. 27
3.4.2. Reaksi Gelap ……………………………………………………… 29
3.5 Fotosintesis Pada Alga dan Bakteri ………………………. 30
3.6 Faktor-Faktor Yang Menentukan Laju Fotosistesis ….. 30
3.7 Penggunaan dan Penyimpanan Hasil Fotosintesis ….. 31
3.8 Respirasi dan Faktor Yang Menentukan Laju
Respirasi …………………………………………………………… 31
3.9 Penemuan …………………………………………………………. 33
3.10 Rangkuman ……………………………………………………….. 34
3.11 Soal ………………………………………………………………….. 35
BAB 4 TRANSPOR AIR SERTA FOTOSINTETAT
TANAMAN
4.1 Pengantar ………………………………………………………….. 38
4.2 Mekanisme Pergerakan Air ………………………………….. 39
4.2.1. Difusi ………………………………………………………………… 40
4.2.2. Osmosis ……………………………………………………………. 40
4.2.3. Tekanan Kapiler …………………………………………………. 41
4.2.4. Tekanan Hidrostatik ……………………………………………. 42
4.2.5. Gravitasi ……………………………………………………………. 43
4.3 Mekanisme Tanaman Mengambil Air …………………….. 43
viii
4.4 Mekanisme Membuka dan Menutupnya Stomata ……. 45
4.5 Transpor Fotosintetat Melalui Floem ……………………… 47
4.6 Evaluasi …………………………………………………………….. 49
BAB 5 HARA TANAMAN DAN TANAH SEBAGAI
PENYEDIA HARA
5.1 Hara Tanaman …………………………………………………… 50
5.1.1. Unsur Hara Esensial …………………………………………… 50
5.1.2. Keseimbangan Hara ……………………………………………. 64
5.1.3. Analisis Kebutuhan Hara ……………………………………… 64
5.2 Tanah Sebagai Penyedia Hara …………………………….. 66
5.2.1. Proses Pembentukan Tanah ………………………………… 66
5.2.2. Profil Tanah ………………………………………………………… 68
5.2.3. Tekstur dan Struktur Tanah ………………………………….. 69
5.2.4. Kimia Tanah ………………………………………………………. 69
5.3 Bahan Organik Tanah …………………………………………. 72
5.4 Evaluasi …………………………………………………………….. 73
BAB 6 PUPUK DAN PENGELOLAAN PUPUK
6.1 Pengenalan Pupuk ……………………………………………… 75
6.1.1. Unsur-Unsur Pupuk …………………………………………….. 75
6.1.2. Klasifikasi Pupuk ………………………………………………… 76
6.2 Pupuk Buatan …………………………………………………….. 78
6.2.1. Sifat Umum Pupuk Buatan …………………………………… 78
6.2.2. Pupuk Nitrogen …………………………………………………… 80
6.2.3. Pupuk Posfat ……………………………………………………… 86
6.2.4. Pupuk Kalium …………………………………………………….. 88
6.2.5. Pupuk Kalsium, Magnesium Belerang dan Unsur
Mikro ………………………………………………………………….
6.2.6. Pupuk Majemuk ………………………………………………….. 90
6.3 Faktor Yang Mempengaruhi Macam dan Jumlah
Pupuk Yang Harus Diberikan Dalam Tanah …………… 93
ix
6.3.1. Jenis Macam Tanaman Yang Akan Dipupuk ………….. 94
6.3.2. Keadaan Kimia Tanah …………………………………………. 95
6.3.3. Keseimbangan Hara ……………………………………………. 95
6.4 Metoda Aplikasi Penempatan Pupuk …………………….. 95
6.4.1. Penempatan Pupuk Cairan ………………………………….. 95
6.4.2. Pupuk Padat ………………………………………………………. 96
6.5 Inspeksi dan Pengendalian Pupuk ………………………… 97
6.5.1. Nilai Ekonomi Pupuk …………………………………………… 97
6.5.2. Pergerakan Pupuk Dalam Waktu ………………………….. 98
6.6 Penyimpanan dan Pengawasan Mutu Pupuk …………. 101
6.6.1. Penyimpanan Pupuk …………………………………………… 101
6.6.2. Pengawasan Mutu Pupuk ……………………………………. 102
6.7 Manajemen Pupuk dan Pemupukan ……………………… 103
6.7.1. Manajemen Hara N 103
6.7.2. Manajemen Pupuk P 104
6.7.3. Manajemen Kalium 105
6.8 Evaluasi 105
BAB 7 SUMBER AIR BAGI PERTANIAN (IRIGASI)
7.1 Pengertian Irigasi ……………………………………………….. 106
7.2 Air Permukaan Tanah …………………………………………. 106
7.3 Air Tanah …………………………………………………………… 108
7.4 Daerah Aliran Sungai (DAS) ………………………………… 109
7.5 Sistem Pengambilan dan Pemberian Pengairan Bagi
Lahan Pertanian …………………………………………………. 111
7.5.1. Klasifikasi Air Pengairan ………………………………………. 112
7.5.2. Beberapa Cara Dalam Pengambilan Air Pengairan …. 115
7.5.3. Beberapa Cara Pemberian Air Pengairan ………………. 117
7.6 Prinsip-Prinsip Dasar Dalam Pemilihan Sistem
Pertanian …………………………………………………………… 120
7.6.1. Keadaan Topografi Karakteristik Lahan Serta Tanah .. 121
7.6.2. Derajat Peresapan Air Ke Dalam Tanah ………………… 122
x
7.6.3. Ketebalan Water Table ………………………………………… 123
7.6.4. Kemantapan Top Soil ………………………………………….. 123
7.6.5. Perbedaan Sistem Pertanaman ……………………………. 123
7.7 Sistem dan Bentuk-bentuk Jaringan Pengairan ………. 126
7.7.1. Prinsip-Prinsip Dasar Penataan Jaringan Pengairan .. 127
7.7.2. Bendungan ………………………………………………………… 128
7.8 Sistem Pengaliran Kelebihan Air …………………………… 130
7.9 Ketepatgunaan Pengairan Untuk Mencukupi
Kebutuhan Air Pada Lahan Pertanian ……………………. 136
JILID 2
BAB8 TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN PANGAN
(PADI,JAGUNG, KEDELAI)
8.1 Teknik Budidaya Padi ………………………………………….. 138
8.2 Teknik Budidaya Jagung ……………………………………… 169
8.3 Teknik Budidaya Kedelai ……………………………………… 185
BAB 9 TEKNIK BUDIDAYA HORTIKULTURA
9.1 Pendahuluan ……………………………………………………… 193
9.2 Pembagian Hortikultura ……………………………………….. 194
9.3 Fungsi Hortikultura ……………………………………………… 194
9.4 Pengendalian Lingkungan Untuk Tanaman
Hortikultura ………………………………………………………… 195
9.5 Perbanyakan Tanaman Hortikultura ………………………. 197
9.6 Teknik Budidaya Sayuran ……………………………………. 209
9.6.1. Teknik Budidaya Kentang ……………………………………. 219
9.6.2. Teknik Budidaya Tomat ……………………………………….. 231
9.6.3. Teknik Budidaya Cabai ……………………………………….. 241
9.6.4. Teknik Budidaya Paprika ……………………………………… 250
9.6.5. Teknik Budidaya Bawang Merah …………………………… 252
9.6.6. Teknik Budidaya Jahe …………………………………………. 259
9.6.7. Teknik Budidaya Seledri ………………………………………. 273
9.6.8. Teknik Budidaya Wortel ………………………………………. 277
xi
9.7 Teknik Budidaya Tanaman Buah-Buahan ………………. 281
9.7.1. Teknik Budidaya Rambutan …………………………………. 285
9.7.2. Teknik Budidaya Jeruk ………………………………………… 299
9.7.3. Teknik Budidaya Mangga …………………………………….. 310
9.7.4. Teknik Budidaya Pepaya ……………………………………… 315
9.7.5. Teknik Budidaya Pisang ………………………………………. 321
9.8 Teknik Budidaya Tanaman Hias …………………………… 333
9.8.1. Teknik Budidaya Anggrek ……………………………………. 341
9.8.2. Teknik Budidaya Mawar ………………………………………. 389
9.8.3. Teknik Budidaya Anthurium …………………………………. 393
9.8.4. Teknik Budidaya Adenium ……………………………………. 395
9.8.5. Teknik Budidaya Begonia …………………………………….. 397
9.8.6. Teknik Budidaya Bonsai ………………………………………. 399
9.8.7. Teknik Budidaya Rumput …………………………………….. 413
JILID 3
BAB 10 TEKNIK BUDIDAYA PERKEBUNAN
10.1 Teknik Budidaya Tembakau …………………………………. 424
10.2 Teknik Budidaya Kakao ……………………………………….. 438
10.3 Teknik Budidaya Kelapa Sawit ……………………………… 470
10.4 Teknik Budidaya Teh …………………………………………… 481
10.5 Teknik Budidaya Karet ………………………………………… 488
BAB 11 TEKNIK BUDIDAYA HIDROPONIK 509
BAB 12 PERTANIAN ORGANIK 535
DAFTAR PUSTAKA A
INDEX B
GLOSARIUM C
1
BAB I
PENGERTIAN DAN LINGKUP
TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN
1.1. Pengertian
Keperluan akan bahan pangan
senantiasa menjadi permasalahan
yang tidak putus-putusnya.
Kekurangan pangan seolah olah
sudah menjadi persoalan akrab
dengan manusia. Kegiatan pertanian
yang meliputi budaya bercocok
tanam merupakan kebudayaan
manusia paling tua.
Sejalan dengan peningkatan
peradaban manusia, teknik budidaya
tanaman juga berkembang menjadi
berbagai sistem. Mulai dari sistem
yang paling sederhana sampai
sistem yang canggih. Berbagai
teknologi budidaya dikembangkan
guna mencapai produktivitas yang
diinginkan.
Istilah teknik budidaya tanaman
diturunkan dari pengertian kata-kata
teknik, budidaya, dan tanaman.
Teknik memiliki arti pengetahuan
atau kepandaian membuat sesuatu,
sedangkan budidaya bermakna
usaha yang memberikan hasil. Kata
tanaman merujuk pada pengertian
tumbuh-tumbuhan yang diusahakan
manusia, yang biasanya telah
melampaui proses domestikasi.
Teknik budidaya tanaman adalah
proses menghasilkan bahan pangan
serta produk-produk agroindustri
dengan memanfaatkan sumberdaya
tumbuhan.
Cakupan obyek budidaya tanaman
meliputi tanaman pangan,
hortikultura, dan perkebunan.
Sebagaimana dapat dilihat,
penggolongan ini dilakukan
berdasarkan objek budidayanya:
· Budidaya tanaman, dengan
obyek tumbuhan dan diusahakan
pada lahan yang diolah secara
intensif.
· Kehutanan, dengan obyek
tumbuhan (biasanya pohon) dan
diusahakan pada lahan yang
setengah liar.
Budidaya tanaman memiliki dua ciri
penting yaitu:
1. Selalu melibatkan barang dalam
volume besar
2. Proses produksinya memiliki
risiko yang relatif tinggi.
Dua ciri khas ini muncul karena
pertanian melibatkan makhluk hidup
dalam satu atau beberapa tahapnya
dan memerlukan ruang untuk
kegiatan itu serta jangka waktu
tertentu dalam proses produksi.
Beberapa bentuk pertanian modern
(misalnya budidaya alga,
2
hidroponika telah dapat
mengurangkan ciri-ciri ini tetapi
sebagian besar usaha pertanian
dunia masih tetap demikian.
1.2. Tindak Budidaya
Tanaman
Kegiatan pertanian (budidaya
tanaman) merupakan salah satu
kegiatan yang paling awal dikenal
peradaban manusia dan mengubah
total bentuk kebudayaan.
Para ahli prasejarah umumnya
bersepakat bahwa pertanian
pertama kali berkembang sekitar
12.000 tahun yang lalu dari
kebudayaan di daerah “bulan sabit
yang subur” di Timur Tengah, yang
meliputi daerah lembah Sungai
Tigris dan Eufrat terus memanjang
ke barat hingga daerah Suriah dan
Yordania sekarang. Bukti-bukti yang
pertama kali dijumpai menunjukkan
adanya budidaya tanaman biji-bijian
(serealia, terutama gandum, kurma
dan polong-polongan pada daerah
tersebut.
Pada saat itu, 2000 tahun setelah
berakhirnya Zaman Es terakhir di
era Pleistosen, di dearah ini banyak
dijumpai hutan dan padang yang
sangat cocok bagi mulainya
pertanian.
Budidaya tanaman telah dikenal
oleh masyarakat yang telah
mencapai kebudayaan batu muda
(neolitikum), perunggu dan
megalitikum.
Pertanian mengubah bentuk-bentuk
kepercayaan, dari pemujaan
terhadap dewa-dewa perburuan
menjadi pemujaan terhadap dewadewa
perlambang kesuburan dan
ketersediaan pangan.
Teknik budidaya tanaman lalu
meluas ke barat (Eropa dan Afrika
Utara, pada saat itu Sahara belum
sepenuhnya menjadi gurun) dan ke
Timur (hingga Asia Timur dan Asia
Tenggara). Bukti-bukti di Tiongkok
menunjukkan adanya budidaya
jewawut (millet) dan padi sejak 6000
tahun sebelum Masehi.
Masyarakat Asia Tenggara telah
mengenal budidaya padi sawah
paling tidak pada saat 3000 tahun
SM dan Jepang serta Korea sejak
1000 tahun SM. Sementara itu,
masyarakat benua Amerika
mengembangkan tanaman dan
hewan budidaya yang sejak awal
sama sekali berbeda.
Budidaya sayur-sayuran dan buahbuahan
juga dikenal manusia telah
lama. Masyarakat Mesir Kuno (4000
tahun SM) dan Yunani Kuno (3000
tahun SM) telah mengenal baik
budidaya anggur dan zaitun.
Teknik budidaya tanaman pada
zaman dahulu tidak dikelompokkan
kedalam teknik budidaya, karena
pada saat itu belum melakukan
tindak budidaya tanaman, karena
sifatnya masih mengumpulkan dan
mencari bahan pangan.
Suatu kegiatan dimasukkan kedalam
tindak budidaya dikatakan apabila
telah melakukan 3 hal pokok yaitu;
1. Melakukan pengolahan tanah
3
2. Pemeliharaan untuk mencapai
produksi maksimum
3. Tidak berpindah-pindah
Pada umumnya kegiatan budidaya
tanaman terkait dengan tingkat
pengetahuan manusia pada masa
itu. Relevansi dari peradaban
tersebut terwujud pada kesadaran
untuk melaksanakan tindak
budidaya. Tindak awal dari
dimulainya teknik budidaya dimulai
dengan menetapnya seorang
peladang menempati suatu areal
pertanaman tertentu.
Teknik budidaya yang sudah maju
ditandai oleh adanya:
1. Lapang produksi
2. Pengelolaan yang berencana
3. Memiliki minat untuk mencapai
produksi maksimum dengan
menerapkan berbagai ilmu dan
teknologi.
Tingkatan teknik budidaya tanaman
berjenjang dari yang paling
sederhana sampai yang
maju/canggih. Nilai kegiatan
budidaya tersebut tergantung pada
tingkat ketiga dari teknik budidaya.
Tingkatan tindak budidaya tanaman
dicerminkan juga oleh tingkatan
pengelolaan lapang produksi.
Pengelolaan yang paling sederhana
sampai pengelolaan yang paling
maju, yaitu teknik budidaya yang
telah melakukan pengelolaan
terhadap unsur iklim, air, tanah dan
udara. Pada kelompok ini pelaku
budidaya telah dapat mengestimasi
produksi maksimumnya dan panen
yang tepat waktu. Sebagaimana
diketahui ketepatan saat panen
sangat menentukan nilau jual suatu
produk. Intensifikasi dalam
pengelolaan lapang produksi diikui
juga oleh meningkatnya sarana
agronomi baik bahan atau jasa.
1.3. Aspek dan Lingkup
Teknik Budidaya
Tanaman
1.3.1. Aspek budidaya
Aspek budidaya meliputi tiga aspek
pokok, yaitu:
1. Aspek pemuliaan tanaman
2. Aspek fisiologi tanaman
3. Aspek ekologi tanaman
Ketiga aspek ini merupakan suatu
gugus ilmu tanaman (crop science)
yang langsung berperan terhadap
budidaya tanaman dan sekali gus
terlihat pada produksi tanaman.
Hasil pemuliaan tanaman, berupa
varietas yang memiliki berbagai
sifat unggul. Akan tetapi sifat unggul
ini hanya akan muncul bila teknik
budidaya yang dilakukan sesuai
dengan sifat yang diinginkan
varietas unggul tersebut. Dengan
kata lain keberhasilan dalam
penggunaan varietas unggul sangat
tergantung pada bagaimana pelaku
budidaya telah melakukan tindak
budidayanya secara benar.
Peningkatan produksi pangan tidak
hanya mengandalkan penemuanpenemuan
varietas-varietas baru
yang mempunyai kelebihankelebihan
tertentu, tetapi juga harus
memperbaiki metoda atau teknik
budidayanya serta mengusahakan
cara bertanam yang benar.
Pemulia tanaman terus berupaya
untuk menghasilkan berbagai
4
modifikasi keunggulannya guna
mencapai peningkatan kebutuhan
manusia.
Aspek fisiologis dalam teknik
budidaya tanaman mencakup
segenap kelakuan tanaman dari
taraf benih sampai taraf panen.
Ekologi tanaman merupakan seluruh
faktor di luar tanaman utama (baik
biotik maupun abiotik) yang
mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan tanaman.
1.3.2. Lingkup budidaya
tanaman
Lingkup dari budidaya tanaman
terdiri dari bidang ilmu:
1. Pemuliaan tanaman
2. Teknologi benih
3. Pengolahan
4. Teknik budidaya
5. Pengendalian hama, penyakit
dan gulma
6. Pemanenan
Seluruh lingkup budidaya tanaman
berada dalam konteks yang padu.
Satu sama lain dan mempunyai
hubungan timbal balik yang erat.
Kegiatan budidaya tanaman itu
sendiri mengandung 3 faktor utama
yaitu:
a. Tanaman
b. Lingkungan tumbuh atau lapang
produksi dan teknik budidaya
atau pengelolaan.
c. Produk tanaman
Tanaman pertanian adalah tumbuhtumbuhan
yang dikelola manusia
pada batas tingkat tertentu. Jumlah
spesies yang termasuk kedalam
tanaman pertanian ini cukup banyak
mencapai 20.000 spesies lebih.
Meningkatnya peradaban dan
kebudayaan manusia serta
pemenuhan kebutuhan pangan,
sandang dan papan akan
menambah jumlah spesies yang
termasuk ke dalam tanaman
pertanian.
Tanaman mengalami dua tahap
perkembangan yaitu tahap
perkembangan vegetatif dan
reproduktif. Tahap perkembangan
vegetatif meliputi perkecambahan
benih, pemunculan dan
pertumbuhan bibit dan menjadi
tanaman dewasa. Sedangkan tahap
perkembangan reproduktif meliputi
pembentukan bunga, pembentukan,
pemasakan dan pematangan biji.
Lingkungan tumbuh tanaman dapat
digolongkan ke dalam lingkungan
abiotik berupa tanah atau
medium/substrat lainnya dan iklim
atau cuaca dan lingkungan biotik
berupa makhluk hidup lainnya.
Tanah atau medium/substrat
merupakan pemasok hara dan air
yang diperlukan tanaman selain
sebagai tempat hidup komponen
biotik, baik yang menguntungkan
maupun yang merugikan.
Iklim terdiri dari unsur/unsur seperti
udara, angin, suhu, kelembaban
udara, cahaya matahari, dan hujan.
Lingkungan biotik meliputi hama,
penyakit dan gulma yang merugikan
dan makhluk lainnya yang
menguntungkan tanaman.
5
Lingkungan tumbuh yang baik
memungkinkan produksi tanaman
yang baik juga. Tanaman dengan
lingkungan tumbuhnya saling
berinteraksi dan mempengaruhi satu
sama lain.
1.3.3. Produk budidaya
tanaman
Produk tanaman dapat
dikelompokkan menjadi dua bagian
yaitu:
1. Produk dari teknik budidaya
yang dapat digunakan langsung
2. Benih atau bibit yang merupakan
produk pertanian untuk
mempertahankan kelangsungan
budidaya .
Kedua produk tanaman ini memiliki
prinsip yang berbeda dalam
pengelolaannya.
Pengelolaan untuk menghasilkan
benih/bibit mencakup dua prinsip
yaitu:
a. Prinsip genetis, dalam prinsip
ini teknik budidaya diarahkan
untuk menghasilkan benih/bibit
yang bermutu genetik tinggi
yakni; murni genetik, jelas
varietas, atau benar tipe.
b. Prinsip agronomis, prinsip ini
mengarahkan teknik budidaya
untuk menghasilkan benih
bermutu fisiologis dan mutu fisik
yang tinggi, selain hasilnya juga
tinggi.
Sebagai ilustrasi bagaimana produk
tanaman pertanian di dunia sampai
pada tahun 2002 dapat dilihat pada
Gambar 1.
Pada Gambar 1 berikut ini dapat
dilihat walaupun spesies yang
dimanfaatkan manusia di dunia ini
mencapai 20.000 spesies, akan
tetapi produk terbesar diperoleh ada
tanaman bahan pangan seperti
gandum, padi, jagung dan kentang.
6
Gambar 1. Produksi tahunan beberapa tanaman pertanian di dunia
7
Peningkatan kebutuhan akan bahan
pangan, sandang, dan pangan pada
jenis tertentu akan menghasilkan
temuan varietas baru yang unggul
hanya pada jenis yang diminati saja,
sedangkan pada jenis lainnya relatif
lebih lambat.
Gambar 1 juga memperlihatkan
peningkatan produksi yang relatif
lebih cepat pada bahan makanan
yang berfungsi sebagai makanan
pokok dunia dibandingkan dengan
jenis makanan lainnya.
Peningkatan produksi pertanian
dunia sangat tergantung pada
bagaimana pelaku pertanian
melaksanakan teknik budidayanya.
Beberapa produk pertanian yang
saat ini berhasil berkembang cukup
berarti di Indonesia antara lain :
a. Tepung, beras, ubi kayu,
jagung, gandum
b. Buah-buahan : jeruk, pisang,
mangga, dll
c. Sayur-sayuran: kubis, kentang
d. Kacang-kacangan: kacang
tanah, kedelai
e. Ikan segar, udang, telur, susu,
dairy produk
f. Daging ayam, sapi, kerbau
g. Makanan jadi, minuman
h. Ternak, hasil peternakan,
makanan ternak
1.4. Potensi sumber daya
alam Indonesia.
Indonesia secara alamiah adalah
negara pertanian dengan budaya
pertanian yang kuat. Bertani,
beternak, berburu ikan dilaut adalah
keahlian turun-menurun yang sudah
mendarah daging. Teknologi dasar
ini sudah dikuasai sejak jaman
nenek moyang. Karena budaya
pertanian yang telah mendarah
daging maka usaha pada sektor
pertanian kita sebenarnya dapat
dipacu untuk berproduksi sebesarbesarnya.
Luasnya lahan, cadangan air yang
melimpah, dan potensi wilayah yang
tersedia mulai dari dataran rendah
sampai dataran tinggi yang
mendukung menjadi obsesi dalam
menjadikan Indonesia sebagai
pemasok hasil pertanian unggulan di
kemudian hari.
Indonesia memiliki potensi
sumberdaya yang tidak akan pernah
habis, dan akan tetap ada
sepanjang usia alam itu sendiri yakni
manusia,sinar matahari, tanah,
hutan, dan laut.
Manusia dengan akal dan budaya
lokal daerah yang beraneka ragam
akan menghasilkan beragam
teknologi budidaya yang unggul
spesifik lokasi. Teknik budidaya
yang berbasis pada keragaman
fertilitas tanah, yang berkaitan
dengan jenis tanaman yang sesuai
dengan kondisi setempat akan
mengakibatkan keunggulan
komparatif dari jumlah dan mutu
pertanian yang dihasilkan.
Biodiversitas tanaman dan hewan
Indonesia yang dapat dimanfaatkan
juga relatif tinggi. Hal ini
mengakibatkan munculnya
komoditas unggulan daerah yang
potensial.
8
Beberapa komoditas unggulan
daerah misalnya:
– Aceh yang berpotensi untuk
nilam dan tanaman hutan
– Banten dengan komoditas
unggulan padi, palawija,
sayuran dan buah-buahan
– Sumatera Utara yang terkenal
dengan tanaman perkebunannya
seperti kelapa sawit, karet dan
tembakau deli.
– Sumatera barat dengan padi dan
bengkuangnya
– Sumatera Selatan dengan buah
duku
– Jawa Barat dengan padi,
hortikultura, dan teh
– Madura yang memiliki
keunggulan dalam penghasil
jagung
– Maluku (Studi kasus pada
Kabupaten Buru seluas 511.619
ha) memiliki komoditas unggulan
terdiri kelapa 9.250,2 ha, kakao
6.239, 5 ha, cengkeh 4.590, 6
ha, jambu mete 1.213,4 ha, kopi
196, 6 ha, pala 456, 8 ha, dan
vanili 12,0 ha, dengan rata-rata
produktivitas yang diperoleh dari
komoditas perkebunan adalah :
kelapa 1,2 t/ha/tahun, kakao 1,0
t/ha/tahun, cengkeh 1,2
t/ha/tahun, jambu mete 0,8
t/ha/tahun, kopi 1,0 t/ha/tahun,
dan pala 0,9 t/ha/tahun.
Laut Indonesia lebih kurangnya 70%
belum dieksploitasi secara luas. Laut
yang menyimpan kekayaan
biodiversitas dan sumber gizi praktis
masih belum tersentuh bahkan
sebahagian besar belum
terbayangkan. Disamping itu kita
juga memiliki asset lain yang sangat
potensial yaitu hutan tropis yang
bertindak sebagai produsen oksigen
untuk kebutuhan umat manusia.
Sinar matahari sepanjang tahun
menyebabkan kita tidak memerlukan
rumah kaca yang mahal untuk
mengembangkan sektor
pertaniannya. Sinar matahari yang
memungkinkan terjadinya proses
fotosintesa pada tanaman
memungkinkan untuk
mengembangkan dan menghasilkan
komoditas pertanian yang sangat
besar.
Rancang bangun revitalisasi sektor
pertanian saat ini berfokus pada
penyiapan rancang bangun untuk
peningkatan produk pertanian
secara kuantitas dan kualitas.
Beberapa hal-hal yang harus
dirancang secara cermat dalam
rancang bangun tersebut meliputi
kondisi luas lahan yang tersedia
termasuk didalamnya jenisnya
(sawah, lahan tadah hujan, dan
lahan kering yang akan ditanami
untuk tanaman pangan), jenis
komoditas (hortikultura, perkebunan,
obat-obatan/ dan industri) serta
pelaku tindak budidaya (siapa
petaninya).
Untuk meningkatkan produktivitas
yang diinginkan, kebutuhan pupuk
dan pestisida untuk setiap
pertanaman harus dihitung dengan
cermat dan dirancang cara
pengadaannya dengan teliti agar
pupuk/pestisida berkualitas baik
sudah tersedia dengan jumlah yang
dibutuhkan pada waktu yang tepat.
9
Pengadaan bibit/benih berkualitas
baik dan diperlukan harus dirancang
secara tepat. Konservasi air melalui
pemanenan air hujan harus
dirancang secara baik dan memadai
agar tak terjadi kehilangan air yang
berlebihan, dan air tersebut dapat
dipakai sebagai air irigasi pada
musim kemarau berikutnya.
Desain/rancang bangun sistem
pertanian berkelanjutan akan
diterapkan di setiap daerah dan
harus disesuaikan dengan faktor
biofisik daerah (site specific) dan
disusun sedemikian rupa sehingga
sistem pertanian berkelanjutan
terwujud di setiap daerah.
Oleh karenanya untuk mencapai
cita-cita Indonesia sebagai negara
agraris yang unggul hendaknya
diperhatikan hal-hal berikut:
1. Sistem pertanian yang
disesuaikan dengan kondisi
biofisik daerah
2. Sistem usaha agribisnis
3. Teknik budidaya
4. Perbaikan proses produksi
5. Pemasaran produksi
6. Peningkatan akses masyarakat
terhadap teknologi
7. Pendanaan usahanya dan upaya
peningkatan pelanggan,
sehingga masyarakat mampu
meningkatkan profit
8. Meningkatkan pengembangan
produk dan memperbaiki kualitas
1.5. Peningkatan
produktivitas
Perubahan ekonomi dan
peningkatan pendapatan
masyarakat tani ke arah yang lebih
baik adalah salah satu tujuan
terpenting dari budidaya yang
dilakukan.
Peningkatan ekonomi itu harus
dapat diwujudkan, terutama melalui
peningkatan produktivitas pertanian.
Hal ini sangat berkaitan dengan
rancangan perbaikan teknik
budidaya di suatu daerah yang
harus didasarkan pada faktor biofisik
dan keadaan sosial, budaya, dan
ekonomi setempat dengan tujuan
agar produktivitas pertaniannya
dapat menjamin pendapatan petani
yang cukup tinggi untuk mendukung
kehidupan yang layak.
Dengan demikian penetapan
rancangan budidaya dan pemilihan
jenis komoditas yang akan
diusahakan di suatu daerah harus
dilakukan bersama- sama antara
pemerintah,peneliti dan masyarakat
petani.
Di samping itu perlu di
pertimbangkan jaminan terhadap
kelestarian lingkungan hidup. Setiap
buidaya tanaman yang dilakukan
disamping dapat meningkatkan
produktivitas, juga harus dapat
menekan/ mencegah penurunan
kualitas lingkungan (environmental
degradation) sehingga kenyamanan
hidup masyarakat dapat terjaga
secara lestari.
Karena itu tujuan akhir dari segala
upaya yang dilakukan pada setiap
usaha bertanam, apapun yang
dilakukan adalah untuk
mendapatkan hasil yang setinggi
mungkin baik dari segi kuantitas
10
maupun kualitas apakah itu berupa
bagian generatif atau vegetatif.
Pada kondisi yang kurang
menguntungkan atau dalam upaya
memperbaiki tingkat produktivitas
suatu jenis tanaman, pengetahuan
yang luas mengenai tanaman itu
sendiri khususnya menyangkut
proses produksi yang diperlukan
untuk menghasilkan produksi
optimum mutlak diperlukan.
Analisis konseptual dalam
mengidentifikasi seluruh faktor-faktor
pembatas produksi merupakan
landasan utama dalam
meningkatkan hasil pertanian.
1.6. Rangkuman
1. Teknik budidaya tanaman adalah
proses menghasilkan bahan
pangan serta produk-produk
agroindustri dengan
memanfaatkan sumberdaya
tumbuhan.
2. Awal dimulainya teknik budidaya
ditandai dengan menetapnya
seorang peladang menempati
suatu areal pertanaman tertentu.
3. Budidaya tanaman memiliki dua
ciri penting yakni selalu
melibatkan barang dalam volume
besar dan proses produksinya
memiliki risiko yang relatif tinggi.
4. Suatu kegiatan dimasukkan
kedalam tindak budidaya apabila
telah melakukan 3 hal pokok
yaitu: 1) melakukan pengolahan
tanah; 2) pememeliharaan untuk
mencapai produksi maksimum;
dan 3) tidak berpindah-pindah
5. Aspek budidaya meliputi tiga
aspek pokok, yaitu: 1) aspek
pemuliaan tanaman; 2) aspek
fisiologi tanaman; dan 3) aspek
ekologi tanaman
6. Produk tanaman dapat
dikelompokkan menjadi dua
bagian yaitu: produk yang dapat
digunakan langsung dan benih
atau bibit yang merupakan
produk pertanian untuk
mempertahankan kelangsungan
budidaya .
7. Peningkatan produksi pangan
dilakukan melalui penemuanpenemuan
varietas-varietas baru
yang mempunyai kelebihankelebihan
tertentu, perbaikan
metoda atau teknik budidayanya
serta mengusahakan cara
bertanam yang benar.
1.7. Tugas
1. Jelaskan secara ringkas
pegertian dari teknik budidaya
tanaman.
2. Perkembangan teknik budidaya
tanaman tidak terjadi secara
seketika, akan tetapi
barlangsung perlahan-lahan
akan tetapi pasti. Buatlah
perkembangan pertanian ini
secara skematis (dimulai dari
saat penggunaan teknologi
sederhana sampao modern)
sehingga jelas tergambar
bagaiman perkembangannya.
3. Menurut kamu adakah hubungan
antara peningkatan kebudayaan
dengan peningkatan teknik
budidaya tanaman
11
4. Amati daerah sekitarmu (jikalau
ada pergilah ke kawasan
pertanian) amati bagaimana
teknik budidaya yang telah
dilakukan, apakah teknik yang
dipergunakan sudah mencukupi
syarat untuk mencapai hasil
yang optimal
5. Buatlah tabel yang berisikan
teknik budidaya yang digunakan
pada padi sawah, jagung,
mentimun, kedelai, sawi dan
kelapa sawit.
No Jenis Teknik budidaya
1 Padi
sawah
………………………
2 ……… ……………………..
3 ……… …………………….
4 …….. …………………….
5 …….. …………………….
6 …….. …………………….
6. Apa perbedaan mendasar
sistem budidaya pertanian
yang dilakukan pada lahan
kering dan lahan sawah.
7. Apakah kita dapat menanam
setiap jenis tanaman pada
lokasi tertentu
8. Apa yang terjadi apabila kita
menggunakan pupuk dan
pestisida secara berlebihan
9. Dalam era otonomi daerah,
maka setiap kabupaten kota
telah membuat road map
komoditas unggulan,
ambillah salah satu sampel
10. daerah kabupaten atau kota
yang ada di daerahmu dan
tanyakan komoditas
unggulan apa yang menjadi
pilihan, dan potensi
produksinya pada tahun
mendatang.
11. Carilah informasi mengenai
keanekaragaman tanaman
asli yang ada di Indonesia

13
BAB II
PERTUMBUHAN DAN
PERKEMBANGAN
2.1. Definisi Pertumbuhan
dan Perkembangan
Pertumbuhan tanaman dapat
didefinisikan sebagai peristiwa
perubahan biologis yang terjadi
pada makhluk hidup berupa
perubahan ukuran yang bersifat
irreversible (tidak berubah kembali
ke asal atau tidak dapat balik).
Perkembangan adalah proses
menuju pencapaian kedewasaan
atau tingkat yang lebih sempurna
pada makhluk hidup.
2.2. Perbedaan
pertumbuhan dan
perkembangan
Pertumbuhan pada makhluk hidup
bersel banyak (multiselluler) ditandai
dengan pertambahan ukuran sel
(sel bertambah besar dan panjang)
dan pertambahan jumlah sel.
Sedangkan pertumbuhan pada
makhluk ber sel satu (uniseluler)
ditandai dengan penambahan
ukuran sel.
Adanya proses pertumbuhan ini
dapat diukur dan dinyatakan secara
kuantitatif.
Secara empiris pertumbuhan
tanaman dapat dinyatakan sebagai
suatu fungsi dari
genotipe X lingkungan = F (faktor
pertumbuhan) internal X faktor
pertumbuhan eksternal).
Tanaman yang bertambah panjang
di tempat gelap belum dapat
dikatakan tumbuh walaupun
volumenya bertambah, karena bobot
kering sebenarnya menurun akibat
respirasi yang terus berlangsung,
sedangkan fotosintesa tidak terjadi.
Dalam keadaan normal
pertumbuhan bukan saja
pertambahan volume tetapi juga
diikuti oleh pertambahan bobot
kering.
Proses pertumbuhan tanaman terdiri
dari pembelahan sel, lalu diikuti oleh
pembesaran sel dan terakhir adalah
difrensiasi sel.
Pertumbuhan hanya terjadi pada
lokasi tertentu saja, yaitu pada
jaringan meristem.
Jaringan meristem adalah jaringan
yang sel-selnya aktif membelah.
14
Gambar 2. Titik tumbuh pada ujung batang kedelai
Gambar 3 Susunan sel titik tumbuh pada ujung akar
15
Mitosis terjadi pada daerah
meristem dan untuk pembelahan ini
Yang paling aktif dalam pembelahan
sel ini adalah jaringan meristem
ujung akar dan batang.
Aktivitas meristem kedua bagian ini
menyebabkan terjadinya
pertumbuhan ke bawah dan ke atas
yang disebut juga pertumbuhan
primer.
Sedangkan pertumbuhan ke
samping yang dimotori oleh
pembelahan sel-sel pada kambium
disebut pertumbuhan sekunder.
Proses pertumbuhan ini terjadi
karena adanya pembelahan mitosis,
yaitu pembelahan sel-sel tubuh.
diperlukan karbohidrat dan protein
dalam jumlah yang relatif besar.
Pembelahan itu sendiri ada dua
jenis yaitu meiosis dan mitosis.
Kalau mitosis pembelahan dari sel
tubuh sedangkan meiosis
pembelahan sel kelamin.
Untuk kegiatan mitosis ini maka
pengangkutan air, karbohidrat,
protein dan zat-zat lain ke daerah
meristem berjalan lancar.
Setelah pembelahan sel, akan
terjadi pembesaran sel. Seperti pada
pembelahan sel, pembesaran sel
juga terjadi pada jaringan meristem.
Urutan terakhir dari proses
pertumbuhan tanaman disebut
diferensiasi. Pertumbuhan
merupakan salah satu ciri makhluk
hidup.
Tumbuhan tumbuh dari kecil
menjadi besar dan berkembang dari
satu zigot menjadi embrio kemudian
menjadi satu individu yang
mempunyai akar, batang, dan daun.
Pertumbuhan merupakan hasil
interaksi antara faktor dalam dan
luar. Pertumbuhan merupakan
proses yang irreversibel artinya tidak
dapat balik
Perubahan dari kecil menjadi
dewasa pada kedelai misalnya
merupakan akibat dari proses
pertumbuhan dan perkembangan.
Berbeda dengan pertumbuhan,
proses perkembangan ini tidak
dapat diukur sehingga tidak dapat
dinyatakan secara kuantitatif.
Gambar 4. Susunan sel titik tumbuh
batang
Perkembangan pada tumbuhan
merupakan suatu proses menuju
tercapainya kedewasaan pada
tumbuhan tersebut. Tumbuhan
16
dikatakan dewasa jika tumbuhan
tersebut sudah membentuk bunga.
Pertumbuhan dan dan
perkembangan merupakan gejalagejala
yang saling berhubungan.
Pertumbuhan sebagaimana telah
didefinisikan sebagai pertambahan
ukuran (biasanya dalam bobot
kering) yang tidak dapat balik
(irreversibel). Sedangkan
perkembangan mencakup proses
diferensiasi, dan ditunjukkan oleh
perubahan-perubahan yang lebih
tinggi, menyangkut spesialisasi
secara anatomi dan fisiologi.
Diferensiasi merupakan salah satu
proses penting dalam budidaya
tanaman. Akan tetapi perubahan
dari sel sederhana ke organisme ber
sel banyak yang kompleks, belum
dapat dipahami secara sempurna.
Mekanisme diferensiasi tanaman
menjadi sel yang kompleks tidaklah
jelas. Akan tetapi faktor-faktor
penting yang mempengaruhi
diferensiasi jaringan sudah banyak
di teliti. Sebagai hasil dari penelitian
tersebut dikatakan beberapa faktor
seperti hara dan hormon tumbuh
merupakan faktor yang memegang
peranan penting dalam diferensiasi
tanaman.
Pertumbuhan yang terjadi pada
tumbuhan dibagi menjadi dua
macam yaitu pertumbuhan primer
dan pertumbuhan sekunder.
Pertumbuhan primer adalah
pertumbuhan ukuran panjang pada
bagian batang tumbuhan karena
adanya aktivitas jaringan meristem
primer. Sedangkan pertumbuhan
sel sekunder adalah pertambahan
besar dari organ tumbuhan karena
adanya aktivitas jaringan meristem
sekunder yaitu kambium pada kulit
batang, kambium batang, dan dan
akar.
Berdasarkan aktivitasnya, daerah
pertumbuhan pada ujung akar dan
ujung batang dibedakan menjadi tiga
daerah pertumbuhan yaitu:
– daerah pembelahan sel
– daerah perpanjangan sel
– daerah diferensiasi sel
2.3 Perkecambahan Benih
Perkecambahan merupakan proses
pertumbuhan dan perkembangan
embrio. Hasil perkecambahan ini
adalah munculnya tumbuhan kecil
dari dalam biji.
Proses pertumbuhan embrio saat
perkecambahan benih adalah
plumula tumbuh dan berkembang
menjadi pucuk dan radikula tumbuh
dan berkembang menjadi akar.
Berdasarkan letak kotiledon pada
saat perkecambahan dikenal dua
tipe perkecambahan yaitu hipogeal
dan epigeal.
2.3.1. Hipogeal
Pada perkecambahan ini terjadi
pertumbuhan memanjang dari
epikotil yang menyebabkan plumula
keluar menembus kulit biji dan
muncul diatas tanah kotiledon tetap
berada di dalam tanah, contohnya
kecambah jagung.
17
Gambar 5 Perkecambahan
hipogaeal
2.3.2. Epigeal
Pada perkecambahan ini hipokotil
tumbuh memanjang akibatnya
kotiledon dan plumula terdorong ke
permukaan tanah, sehingga
kotiledon berada diatas tanah,
contoh pada kacang hijau.
Gambar 6 Perkecambahan epigaeal
2.4. Faktor-faktor yang
mempengaruhi
pertumbuhan
Pengaruh lingkungan terhadap
pertumbuhan tanaman dapat dibagi
atas dua faktor yaitu lingkungan dan
genetik.
Lingkungan tumbuh tanaman sendiri
dapat dikelompokkan atas
lingkungan biotik (tumbuhan lain,
hama, penyakit dan manusia), dan
abiotik (tanah dan iklim)
Penjelasan dari faktor-faktor
tersebut dapat diringkas sebagai
berikut:
2.4.1. Genetik
Gen adalah faktor pembawa sifat
menurun yang terdapat di dalam
makhluk hidup. Gen berpengaruhi
setiap struktur makhluk hidup dan
juga perkembangannya,
Walaupun gen bukan satu-satunya
faktor yang mempengaruhinya.
Setiap jenis (spesies) memiliki gen
untuk sifat tertentu.
2.4.2. Curah hujan
Curah hujan dapat dinyatakan
dalam:
1) mm per tahun yang menyatakan
tingginya air hujan yang jatuh
tiap tahun.
2) banyaknya hari hujan per
tahunnya yang menyatakan
distribusi atau meratanya hujan
dalam setahun.
18
Besarnya curah hujan
mempengaruhi kadar air tanah,
aerasi tanah, kelembaban udara dan
secara tidak langsung juga
menentukan jenis tanah sebagai
tempat media tumbuh tanaman.
Oleh karenanya curah hujan sangat
besar pengaruhnya terhadap
pertumbuhan tanaman.
Tinggi dari permukaan laut.
Ketinggian tempat menentukan suhu
udara, intensitas cahaya matahari
dan mempengaruhi curah hujan,
yang pada gilirannya mempengaruhi
pertumbuhan tanaman.
Perbedaan ketinggian tempat dari
permukaan laut menyebabkan
perbedaan suhu lingkungan. Setiap
kenaikan 100m dari permukaan laut,
suhu akan turun sekitar 0,50C.
Kondisi ini tentunnya akan
mempengaruhi jenis tumbuhan yang
hidup pada ketinggian tertentu.
Misalnya kita menemukan banyak
tanaman kelapa (Cocos nuciferae)
pada daerah pantai, kemudian enau
(Arenga pinata) hidup di
pegunungan basah, rotan pada
daerah hutan hujan tropis, dan
banyak contoh lainnya.
Dari uraian tersebut diatas dapat
diketahui masing-masing tempat
hidup organisme (habitat)
mempunyai persyaratan khusus,
2.4.3. Keadaan Tanah
Tanah merupakan komponen hidup
dari lingkungan yang penting dalam
mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan tanaman. Tanahlah
yang menentukan penampilan
tanaman.
Kondisi kesuburan tanah yang relatif
rendah akan mengakibatkan
terhambatnya pertumbuhan
tanaman dan akhirnya akan
mempengaruhi hasil.
Pengaruh keadaan tanah dapat
dibagi menjadi tiga bagian yaitu:
1) Keadaan fisik tanah, yang
ditentukan oleh struktur dan
tekstur tanah, karenanya
pengaruhnya terhadap aerasi
dan drainase tanah
2) Keadaan kimia tanah yang
ditentukan oleh kandungan zat
hara di dalam tanah.
3) Keadaan biologi tanah yang
ditentukan oleh kandungan
mikro/makro flora dan fauna
tanah yang bertindak sebagai
resiklus hara dalam tanah
(dekomposisi).
Data kesuburan kimia, fisika dan
biologi suatu lahan merupakan data
awal yang harus diketahui sebelum
melakukan budidaya tanaman.
Pengelolaan lingkungan
menimbulkan beberapa persoalan
pada erosi tanah, pergantian iklim,
pola drainase dan pergantian dalam
komponen biotik pada ekosistem.
19
Pada tahun 1977 State of World
Environment Report (UNEP),
memperingatkan abhwa, tanah yang
dapat ditanami terbatas, hanya ±
11% permukaan bumi dapat
diusahakan untuk pertanian. Secara
total 1.240 juta ha untuk populasi
4.000 juta (rata-rata 0,31 ha/orang).
Area ini pada tahun 2.000 akan
tereduksi sampai hanya tinggal 940
juta ha dengan populasi penduduk
dunia 6.250 juta.
Sehingga perbandingan lahan/orang
tinggal 0,15 ha saja. Ini merupakan
suatu peringatan dan memerlukan
perhatian segera.
Pengaruh zat hara pada
pertumbuhan tanaman digambarkan
oleh Liebig dengan hukum
minimumnya yang berbunyi
“pertumbuhan atau hasil optimum
ditentukan oleh faktor atau hara
yang berada pada keadaan
minimum.
Dalam mendukung pertumbuhan
dan perkembangan tanaman
terdapat 3 fungsi tanah yang utama
yaitu:
1. Memberikan unsur-unsur
mineral, melayaninya baik
sebagai medium pertukaran
maupun sebagai tempat
persediaan.
2. Memberikan air dan sebagai
tempat cadangan air dimuka
bumi
3. Sebagai tempat berpegang dan
bertumpu untuk tegak.
2.4.4. Suhu
Suhu udara mempengaruhi
kecepatan pertumbuhan maupun
sifat dan struktur tanaman.
Tumbuhan dapat tumbuh dengan
baik pada suhu optimum. Untuk
tumbuhan daerah tropis suhu
optimumnya berkisar 22-370C.
Suhu optimum berkisar antara 25-
300C dan suhu maksimum 35-400C.
Tetapi suhu kardinal (minimum,
optimum, dan maksimum) ini sangat
dipengaruhi oleh jenis dan fase
pertumbuhan tanaman.
2.4.5. Cahaya matahari
Cahaya matahari (radiasi surya)
mempengaruhi pertumbuhan
tanaman melalui tiga sifat yaitu
intensitas cahaya, kualitas cahaya
(panjang gelombang) dan lamanya
penyinaran (panjang hari).
Pengaruh ketiga sifat cahaya
tersebut terhadap pertumbuhan
tanaman adalah melalui
pembentukan klorofil, pembukaan
stomata, pembentukan antocyanin
(pigmen merah) perubahan suhu
daun atau batang, penyerapan hara,
permeabilitas dinding sel, transpirasi
dan gerakan protoplasma.
20
2.4.6. Hara (nutrisi tanaman)
dan air
Hara dan air memegang peranan
penting dalam pertumbuhan dan
perkembangan tanaman. Salah satu
fungsi dari kedua bahan ini adalah
sebagai bahan pembangun tubuh
makhluk hidup.
Pertumbuhan yang terjadi pada
tanaman (sampai batas tertentu)
disebabkan oleh tanaman
mendapatkan hara dan air.
Bahan baku pada proses fotosintesa
adalah hara dan air yang nantinya
akan diubah tanaman menjadi
makanan.
Tanpa kedua bahan ini pertumbuhan
tidak akan berlangsung. Hara dan
air umumnya diambil tanaman dari
dalam tanah dalam bentuk ion.
Unsur hara yang dibutuhkan
tanaman dapat dibagi atas dua
kelompok yaitu hara makro dan
mikro.
Hara makro adalah hara yang
dibutuhkan tanaman dalam jumlah
besar sedangkan hara mikro
dibutuhkan dalam jumlah kecil.
Nutrien yang tergolong kedalam
hara makro adalah Carbon,
Hidrogen, Oksigen, Nitrogen, Sulfur,
Posfor, Kalium, Calsium, Ferrum.
Sedangkan yang termasuk golongan
hara mikro adalah Boron, Mangan,
Molibdenum, Zinkum (seng) Cuprum
(tembaga) dan Klor.
Jika tanaman kekurangan dari salah
satu unsur tersebut diatas maka
tanaman akan mengalami gejala
defisiensi yang berakibat pada
penghambatan pertumbuhan.
2.4.7. Hormon tumbuhan
Hormon (zat tumbuh) adalah suatu
senyawa organik yang dibuat pada
suatu bagian tanaman dan
kemudian diangkut ke bagian lain,
yang konsentrasinya rendah dan
menyebabkan suatu dampak
fisiologis. Diferensiasi tanaman juga
diatur oleh hormon (yaitu fithormon).
Saat ini dikenal hormon tumbuh
seperti auksin, giberelin, sitokinin,
asam absisi, etilen, asam traumalin,
dan kalin.
Auksin
Merupakan zat tumbuh yang
pertama ditemukan. Pengaruh
auksin terutama pada perpanjangan
atau pembesaran sel. Sifat dasar
auksin yang mempengaruhi
perpanjangan sel ini sering
digunakan sebagai pengukur
kecepatan pertumbuhan tanaman.
Beberapa respons pertumbuhan
dapat ditunjukkan dan dikendalikan
oleh auksin. Fototropisme yang
merupakan peristiwa pembengkokan
ke arah cahaya dari kecambah yang
sedang tumbuh, dapat didasarkan
oleh penyebaran auksin pada
bagaian tersebut yang tidak merata.
Pengaruh auksin pada
perpanjangan sel tanaman dapat
digambarkan dari hasil-hasil
percobaan sebagai berikut.
Bila ujung batang tanaman Avena
sativa dipotong, maka pertumbuhan
21
kaleoptil terhambat, akan tetapi bila
ujung batang ini ditempelkan
kembali pertumbuhan akan terjadi
lagi.
Apabila potongan ujung batang
Avena sativa tadi ditaruhkan pada
sepotong agar kemudian pada
bagian bawahnya diletakkan
potongan lainnya maka
pertumbuhan kaleoptil akan terjadi
juga.
Auksin dibuat di ujung batang dan
merangsang pertumbuhan kaleoptil.
Auksin merupakan istilah umum dari
IAA yang mempengaruhi
pertumbuhan batang ke atas dan ke
bawah, hormon ini dapat
merangsang ataupun menghambat
pertumbuhan tanaman tergantung
pada konsentrasinya.
Selain itu, konsentrasi auksin yang
sama dapat memberikan efek
berlainan pada pertumbuhan
batang. pucuk, dan akar. Seperti
fototropisme (pertumbuhan ke arah
cahaya), geotropisme (pertumbuhan
ke arah bumi).
Auksin dibentuk dalam ujung
kaleoptil bergerak ke bawah
(basipetal).
Auksin berfungsi untuk:
– merangsang perpanjangan sel
– merangsang pembentukan
bunga dan buah
– memperpanjang titik tumbuh.
Senyawa auksin bila terkena
matahari akan berubah menjadi
senyawa yang justru akan
menghambat pertumbuhan. hal
inilah yang menyebabkan batang
membelok ke arah datangnya sinar
bila diletakkan mendatar, karena
bagian yang tidak terkena sinar
pertumbuhannya lebih cepat dari
bagian yang terkena sinar sinar.
Giberelin
Mula-mula zat ini ditemukan pada
Giberella fujikuroi, yaitu jenis jamur
parasit pada tanaman padi. Hormon
ini ditemukan pertama sekali di
Jepang.
Bila auksin hanya merangsang
pembesaran sel, maka giberelin
merangsang pembelahan sel.
Terutama untuk merangsang
pertumbuhan primer.
Bedanya dengan auksin adalah
bahwa giberelin mempengaruhi
perkecambahan dan mengakhiri
masa dorman biji, sedangkan auksin
tidak
Giberelin dapat bergerak ke dua
arah sedangkan auksin hanya ke
satu arah.
Giberelin berfungsi untuk:
– menggiatkan pembelahan sel
– mempengaruhi pertumbuhan
tunas
– mempengaruhi pertumbuhan
akar
Kinin atau sitokinin
Hormon ini seperti halnya auksin
maka sitokinin juga memberikan
22
efek yang bermacam-macam
terhadap tanaman.
Zat ini mempercepat pembelahan
sel, membantu pertumbuhan tunas
dan akar. Sitokinin dapat
menghambat proses proses
penuaan (senescence).
Salah satu macam sitokinin adalah
kinetin yang terdapat dalam air
kelapa muda dan dalam ragi.
Lingkungan biotik yang
mempengaruhi pertumbuhan
tanaman diantaranya adalah
organisme pengganggu tanaman
dan allelopati (zat kimia yang
dihasilkan tumbuhan dan
mengganggu tumbuhan lainnya).
2.5. Pengukuran
pertumbuhan
Pertumbuhan tanaman dapat diukur
dengan berbagai cara antara lain:
1. Pertumbuhan panjang ranting
2. Pertambahan luas daun Daun
berasal dari promeristen titik
tumbuh batang. premordia daun
merupakan tonjolan pertama
yang membulat atau persegi
pada sisi promeristem. Tonjolan
tersebut diawali oleh
pembelahan secara antiklinal
dan periklinal pada lapisan luar
dari apikal meristem. Helai daun
berkembang menurut pola
tertentu.
3. Pertambahan diameter dahan
atau batang
4. Pertambahan volume terutama
pada buah
5. Pertambahan bobot segar dan
kering
2.6. Rangkuman
1. Pertumbuhan tanaman
didefinisikan sebagai peristiwa
perubahan biologis yang terjadi
pada makhluk hidup berupa
perubahan ukuran yang bersifat
irreversible (tidak berubah
kembali ke asal atau tidak dapat
balik), sedangkan
perkembangan adalah proses
pencapaian kedewasaan atau
tingkat yang lebih sempurna
pada makhluk hidup.
2. Faktor-faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan
tanaman dapat dibagi atas dua
yaitu lingkungan dan genetik.
3. Produksi suatu tanaman
ditentukan oleh kegiatan yang
berlangsung dalam sel dan
jaringan tanaman. Penumpukan
bahan kering adalah
penumpukan fotosintat pada sel
dan jaringan.
4. Faktor lingkungan yang
mempengaruhi pertumbuhan
dibagi atas 2 kelompok, yaitu
lingkungan biotik dan abiotik.
Lingkungan abiotik terdiri dari
curah hujan, tinggi dari
permukaan laut, suhu, cahaya
matahari, hara tanaman, dan
hormon tumbuhan.
23
2.7. Evaluasi
1. Buatlah defenisi pertumbuhan
dan perkembangan
2. Melakukan percobaan di luar
kelas
– Siapkanlah 9 buah polibek
dengan ukuran ½ kg tanah
– Kemudian isikan ke dalam
polibek tersebut tanah yang
telah dibersihkan terlebih dahulu
dari sampah dan ranting-ranting
kayu sebanyaak 2/3 volume
polibek
– basahi tanah tersebut sampai
keadaan lembab (jika dikepal
terasa basah tapi tanah tidak
menggumpal jika kepalan
dibuka)
– Tanamlah masing-masing
polibek dengan jagung.
– Kemudian letakkan 3 polibek
pada daerah terbuka atau
terkena sinar matahari langsung
(kelompok A), 3 polibek pada
ruangan tertutup (kelompok B),
dan sisanya 3 polibek lagi di
tempatkan pada ruang terbuka
tapi tidak pernah dilakukan
penyiraman (hanya pada awal
penanaman saja) (Kelompok C).
– Amati pertambahan tinggi
tanaman, jumlah daun, diameter
batang dan perubahan
morfologinya seperti warna dan
ketebalan daun
– Buatlah laporan hasil
pengamatan mu, dan jawablah
pertanyaan berikut berdaskan
hasil pengamatan di lapangan,
b. Berdasarkan pengamatan di
lapangan tanaman dari
kelompok mana yang memiliki
tinggi tanaman terbesar
c. Adakah perbedaan warna daun
dari ketiga percobaan ini, dan
apa yang menyebabkan
perbedaaan tinggi, jumlah daun
dan diameter batang dari ketiga
percobaan tersebut?

24
BAB III
FOTOSINTESIS DAN
RESPIRASI
3.1. Defenisi fotosintesis
dan respirasi
Fotosintesis adalah suatu proses
biokimia yang dilakukan tumbuhan,
alga, dan beberapa jenis bakteri
untuk memproduksi energi terpakai
(nutrisi) dengan memanfaatkan
energi cahaya.
Hampir semua makhluk hidup
bergantung dari energi yang
dihasilkan dalam fotosintesis.
Akibatnya fotosintesis menjadi
sangat penting bagi kehidupan di
bumi.
Fosintesis berasal dari kata foton
artinya cahaya, dan síntesis yang
berarti penyusunan.
Berdasarkan arti dari dua kata
tersebut diatas maka fotosintesis
adalah peristiwa penyusunan zat
organik (gula) dari zat anorganik
(air, karbondioksida), dengan
pertolongan energi cahaya.
Karena bahan baku yang digunakan
adalah zat carbon maka
fotosíntesis dapat disebut juga
asimilasi zat karbon.
Fotosintesis berperan dalam
menghasilkan sebagian besar
oksigen yang terdapat di atmosfer
bumi.
Organisme yang menghasilkan
energi melalui fotosintesis (photos
berarti cahaya) disebut sebagai
fototrof.
Fotosintesis merupakan salah satu
cara asimilasi karbon karena dalam
fotosintesis karbon bebas dari CO2
diikat (difiksasi) menjadi gula
sebagai molekul penyimpan energi.
Bahan baku untuk proses
fotosíntesis adalah karbondioksida
dan air. karbondioksida diambi
tanaman melalui mulut daun
(stomata), sedangkan air diambil
tanaman dari dalam tanah melalui
akar tanaman
Cara lain yang ditempuh organisme
untuk mengasimilasi karbon adalah
melalui kemosintesis, yang
dilakukan oleh sejumlah bakteri
belerang.
Relevansi dari fotosintesis pada
tanaman adalah pertumbuhan
perkembangan, penyimpanan dan
alokasi asimilat.
Perubahan pada proses ini akan
merubah laju fotosintesis itu sendiri
dan berakibat juga pada seluruh
proses fisiologi tanaman. Misalnya
cahaya mempengaruhi fotosíntesis
dan juga memberikan efek
fotomorfogenetik pada tanaman.
Respirasi secara sederhana
merupakan proses perombakan
senyawa organik menjadi senyawa
anorganik dan menghasilkan energi.
Respirasi dibagi atas dua yaitu
respirasi aerob dan anaerob.
Respirasi aerob adalah suatu proses
metabolisme tanaman dengan
menggunakan oksigen. Reaksi
25
proses ini dapat dituliskan melalui
persamaan reaksi sebagai berikut:
C6H12O6 + O2 H2O + CO2 +
Kalori
Respirasi anaerobik adalah reaksi
pemecahan karbohidrat untuk
mendapatkan energi tanpa
menggunakan oksigen.
Proses respirasi ini mengambil dan
menggunakan senyawa asam fenol
piruvat atau asetaldehid misalnya
sebagai pengikat hidrogen dan
membentuk asam laktat atau
alkohol.
Respirasi anaerobik dapat terjadi
pada:
1. Jaringan yang kekurangan
oksigen misalnya akar tanaman
yang terendam air
2. Biji yang berkulit tebal dan sulit
untuk ditembus oksigen
Pada respirasi anaerob ini bahan
baku (gula) tidak terurai lengkap
menjadi air dan karbondioksida,
maka energi yang dihasilkan lebih
kecil dibandingkan dengan respirasi
aerobik.
Secara sederhana reaksi pada
respirasi anaerobik dalah sebagai
berikut:
ragi
C6H12O6 C2H5OH + 2CO2
+ Kalori
3.2. Fotosintesis pada
tumbuhan
Pada dasarnya proses fotosintesis
merupakan kebalikan dari proses
respirasi. Proses respirasi bertujuan
memecah gula menjadi karbón
dioksida, air, dan energi.
Sebaliknya proses fotosintesis
mereaksikan (menggabungkan)
karbóndioksida dan air menjadi gula
dengan menggunakan energi
cahaya terutama cahaya matahari.
Tumbuhan bersifat autotrof, yang
artinya dapat mensintesis makanan
langsung. dari senyawa anorganik.
Tumbuhan menggunakan karbon
dioksida dan air untuk menghasilkan
gula dan oksigen yang diperlukan
sebagai makanannya.
Energi untuk menjalankan proses ini
berasal dari fotosintesis. Perhatikan
persamaan reaksi yang
menghasilkan glukosa berikut ini:
12H2O + 6CO2 + cahaya –>
C6H12O6 (glukosa) + 6O2 + 6H2O
Glukosa dapat digunakan untuk
membentuk senyawa organik lain
seperti selulosa dan dapat pula
digunakan sebagai bahan bakar.
Proses ini berlangsung melalui
respirasi seluler yang terjadi baik
pada hewan maupun tumbuhan.
Secara umum reaksi yang terjadi
pada respirasi seluler berkebalikan
dengan persamaan di atas.
Pada respirasi, gula (glukosa) dan
senyawa lain akan bereaksi dengan
oksigen untuk menghasilkan karbon
dioksida, air, dan energi kimia.
26
Tumbuhan menangkap cahaya
menggunakan pigmen yang disebut
klorofil. Pigmen inilah yang memberi
warna hijau pada tumbuhan.
Organel yang yang mengandung
klorofil disebut kloroplas. Klorofil
inilah yang menyerap cahaya yang
akan digunakan dalam fotosintesis.
Meskipun seluruh bagian tubuh
tumbuhan yang berwarna hijau
mengandung kloroplas, namun
sebagian besar energi kimia
dihasilkan di daun. Di dalam daun
terdapat lapisan sel yang disebut
mesofil yang mengandung setengah
juta kloroplas setiap milimeter
perseginya. Cahaya akan melewati
lapisan epidermis yang tidak
berwarna dan transparan, menuju
mesofil, tempat terjadinya sebagian
besar proses fotosintesis.
Permukaan daun biasanya dilapisi
oleh kutikula dari lilin yang bersifat
anti air untuk mencegah terjadinya
penyerapan sinar matahari ataupun
penguapan air yang berlebihan.
Fungsi daun yang utama adalah
sebagai tempat terjadinya
fotosintesis serta mengekspor
hasilnya ke seluruh bagian tanaman.
3.3. Daun dan Kloroplast
Fotosintesis dapat berlangsung
diseluruh bagian hijau tanaman,
akan tetapi bagian yang terbesar
dari pabrik fotosintesis ini adalah
pada daun. untuk fotosintesis
diperlukan karbondioksida yang
masuk melalui stomata.
Banyaknya stomata kira-kira meliputi
0.1 persen dari luas daun. Pada
sebagian besar tanaman, stomata
terdapat dibagian bawah daun.
Perkiraan banyaknya stomata pada
berbagai jenis tanaman jumlah
stomata pada permukaan daun
berkisar antara 0-100 buah,
sedangkan di bagian bawah daun
berkisar antara 0-600 buah.
Untuk dapat lebih memahami
bagaimana daun sebagai fungsi
pabrik makanan tanaman, kita dapat
memperhatikan Gambar 7.
27
Pada Gambar 7 tersebut diatas
dapat dilihat bagian penampang
lintang daun yang terdiri atas:
1. Kutikula (lapisan lilin)
2. Epidermis. Kulit luar organ
berupa lapisan lilin yang
mencegah kehilangan air
secara berlebihan.
3. Stomata: mulut daun, tempat
masuknya CO2
4. Mesophyll: berisi sel-sel
mayoritas luas kloroplas.
5. Bundel vaskuler (jaringan
pembuluh vaskular): bagian
yang menyediakan mineral dan
air kepada sel mesofil
6. Xylem: pembuluh tempat
transport air
7. Phloem: pembuluh tempat
transport makanan
8. Epidermis bagian bawah
9. Jaringan bunga karang
10. Sel tetangga
11. Stomata (mulut daun)
12. Pembuluh vena
3.4. Lintasan pada
Fotosintesis
Pada dasarnya, rangkaian reaksi
fotosintesis dapat dibagi menjadi
dua bagian utama yaitu reaksi
terang (karena memerlukan cahaya)
dan reaksi gelap (tidak memerlukan
cahaya tetapi memerlukan karbon
dioksida).
3.4.1. Reaksi Terang
Pada reaksi terang, klorofil
mengubah energi surya ke dalam
energi kimia (ATP dan NADPH.
Reaksi terang adalah proses untuk
menghasilkan ATP dan reduksi
NADPH2.
Reaksi ini memerlukan molekul air.
Proses ini diawali dengan
penangkapan foton oleh pigmen
sebagai antena.
Pigmen klorofil menyerap lebih
banyak cahaya terlihat pada warna
biru (400-450 nanometer) dan
merah (650-700 nanometer)
dibandingkan dengan hijau (500-600
nanometer).
Cahaya hijau ini akan dipantulkan
dan ditangkap oleh mata kita
sehingga menimbulkan sensasi
bahwa daun berwarna hijau.
Fotosintesis akan menghasilkan
lebih banyak energi pada
gelombang cahaya dengan panjang
tertentu. Hal ini karena panjang
gelombang yang pendek
menyimpan lebih banyak energi.
28
Di dalam daun, cahaya akan diserap
oleh molekul klorofil untuk
dikumpulkan pada pusat-pusat
reaksi.
Tumbuhan memiliki dua jenis
pigmen yang berfungsi aktif sebagai
pusat reaksi atau fotosistem yaitu
fotosistem II dan fotosistem I.
Fotosistem II terdiri dari molekul
klorofil yang menyerap cahaya pada
panjang gelombang 680nM,
sedangkan fotosistem I pada
panjang gelombang 700 nM.
Kedua fotosistem ini akan bekerja
secara simultan dalam fotosintesis,
seperti dua baterai dalam senter
yang bekerja saling memperkuat.
Fotosintesis dimulai ketika cahaya
mengionisasi molekul klorofil pada
fotosistem II, membuatnya
melepaskan elektron yang akan
ditransfer sepanjang rantai transpor
elektron.
Gambar 8. Lintasan fotosisitem I
Gambar 9. Lintasan fotosisitem II
Fotosistem II mengkatalis pelepasan
elektron dari molekul-molekul air.
Fotosistem I dengan menggunakan
lebih banyak energi dari foton-foton
yang diserapnya, mengkatalis
pelepasan elektron senyawa yang
mengikat elektron pada Fotosistem
II
Energi dari elektron ini digunakan
untuk fotofosforilasi yang
menghasilkan ATP, satuan
pertukaran energi dalam sel.
Pada tumbuhan dan alga,
kekurangan elektron ini dipenuhi
oleh elektron dari hasil ionisasi air
yang terjadi bersamaan dengan
ionisasi klorofil. Hasil ionisasi air ini
adalah elektron dan oksigen.
Oksigen dari proses fotosintesis
hanya dihasilkan dari air, bukan dari
karbon dioksida. Untuk lebih
memahami perbedaan mendasar
29
antara reaksi terang dan gelap
dapat dilihat pada Gambar 10.
Gambar 10 Skematik reaksi terang
dan gelap dari proses fotosintesis
Pendapat ini pertama kali
diungkapkan oleh C.B. van Neil
yang mempelajari bakteri fotosintetik
pada tahun 1930-an. Bakteri
fotosintetik, selain sianobakteri, tidak
menghasilkan oksigen karena
menggunakan ionisasi sulfida atau
hidrogen.
Pada saat yang sama dengan
ionisasi fotosistem II, cahaya juga
mengionisasi fotosistem I,
melepaskan elektron yang ditransfer
sepanjang rantai transpor elektron
yang akhirnya mereduksi NADP
menjadi NADPH
Hingga sekarang fotosintesis masih
terus dipelajari karena masih ada
sejumlah tahap yang belum bisa
dijelaskan, meskipun sudah sangat
banyak yang diketahui tentang
proses vital ini.
Proses fotosintesis sangat kompleks
karena melibatkan semua cabang
ilmu pengetahuan alam utama,
seperti fisika, kimia, maupun biologi
sendiri.
Pada tumbuhan, organ utama
tempat berlangsungnya fotosintesis
adalah daun.
Namun secara umum, semua sel
yang memiliki kloroplas berpotensi
untuk melangsungkan reaksi ini. Di
organel inilah tempat
berlangsungnya fotosintesis,
tepatnya pada bagian stroma.
Hasil fotosintesis (disebut fotosintat)
biasanya dikirim ke jaringan-jaringan
terdekat terlebih dahulu.
3.4.2. Reaksi gelap
ATP dan NADPH yang dihasilkan
dalam proses fotosintesis memicu
berbagai proses biokimia.
Pada tumbuhan proses biokimia
yang terpicu adalah siklus Calvin
yang mengikat karbon dioksida
untuk membentuk ribulosa (dan
kemudian menjadi gula seperti
glukosa).
Reaksi ini disebut reaksi gelap
karena tidak bergantung pada ada
tidaknya cahaya sehingga dapat
terjadi meskipun dalam keadaan
gelap (tanpa cahaya).
30
3.5. Fotosintesis pada alga
dan bakteri
Alga terdiri dari alga multiseluler
seperti ganggang hingga alga
mikroskopik yang hanya terdiri dari
satu sel.
Meskipun alga tidak memiliki struktur
sekompleks tumbuhan darat,
fotosintesis pada keduanya terjadi
dengan cara yang sama. Hanya saja
karena alga memiliki berbagai jenis
pigmen dalam kloroplasnya, maka
panjang gelombang cahaya yang
diserapnya pun lebih bervariasi.
Semua alga menghasilkan oksigen
dan kebanyakan bersifat autotrof.
Hanya sebagian kecil saja yang
bersifat heterotrof yang berarti
bergantung pada materi yang
dihasilkan oleh organisme lain.
3.6. Faktor-faktor yang
menentukan laju
fotosintesis
Secara umum, semua sel yang
memiliki kloroplas berpotensi untuk
dapat melangsungkan reaksi
fotositesis.
Berikut adalah beberapa faktor
utama yang menentukan laju
fotosintesis:
1. Intensitas cahaya.
Laju fotosintesis akan meningkat
sampai tingkat kompensasi cahaya,
yaitu tingkat cahaya pada saat
pengambilan CO2 sama dengan
pengeluaran CO2 (laju pertukaran
karbón=0). Apabila tingkat cahaya
terus meningkat, akan berkuranglah
kenaikan laju penyerapan CO2 untuk
setiap
2. Konsentrasi karbóndioksida.
Semakin banyak karbondioksida di
udara, maka semakin banyak juga
jumlah bahan yang dapat digunakan
tumbuhan untuk melangsungkan
fotosintesis.
3. Suhu
Enzim-enzim yang bekerja dalam
proses fotosintesis hanya dapat
bekerja pada suhu optimalnya.
Umumnya laju fotosintensis
meningkat seiring dengan
meningkatnya suhu hingga batas
toleransi enzim.
4. Kadar air
Kekurangan air atau cekaman
kekeringan menyebabkan stomata
tertutup, menghambat masuknya
karbondioksida sehingga dapat
mengurangi laju fotosintesis.
5. Kadar fotosintat (hasil
fotosintesis).
Jika kadar fotosintat seperti
karbohidrat berkurang, laju
fotosintesis akan naik.
Bila kadar fotosintat bertambah atau
bahkan sampai jenuh, laju
fotosintesis akan berkurang.
31
6. Tahap pertumbuhan
Penelitian menunjukkan bahwa laju
fotosintesis jauh lebih tinggi pada
tumbuhan yang sedang
berkecambah ketimbang tumbuhan
dewasa. Hal ini mungkin
dikarenakan tumbuhan
berkecambah memerlukan lebih
banyak energi dan makanan untuk
tumbuh.
3.7. Penggunaan dan
Penyimpanan hasil
fotosintesis
Hasil fotosintesis dapat digunakan
tanaman untuk beberapa
pemeliharaan, perbaikan bagianbagian
yang rusak, sebagai bahan
dasar pembentukan senyawasenyawa
bermanfaat lainnya, bahan
baku untuk pembakaran,
pertumbuhan/perkembangan serta
aktivitas tubuh lainnya, dan
disimpan dalam bentuk cadangan
makanan.
Penyimpanan cadangan makanan
tanaman dapat dalam bentuk:
1. Buah, misalnya mangga,
pepaya, rambutan, duku, dan
sebagainya
2. Biji, misalnya gandum, padi,
jagung dan sebagainya
3. Batang, misalnya tebu
4. Umbi, yang dapat dibagi atas
umbi akar (singkong dan bunga
dahlia) , batang (kentang) dan
lapis (bawang).
3.8. Respirasi dan faktor
yang menentukan laju
respirasi
Peristiwa respirasi atau pernafasan
akan menghasilkan sejumlah
karbondioksida yang dilepas ke
udara,
Laju respirasi ini tidak tetap akan
tetapi berfluktuasi dari waktu ke
waktu sebagai akibat pengaruh
berbagai faktor baik faktor dalam
maupun faktor luar.
Beberapa faktor yang yang
mempengaruhinya adalah:
1. Suhu
Seluruh reaksi kimia yang terjadi
pada makhluk hidup sangat
dipengaruhi suhu. Perubahan suhu
akan menimbulkan perubahan
dalam reaksi biokimia tanaman,
begitu juga dengan respirasi,
Hubungan antara kenaikan suhu
dengan reaksi biokimia pada pada
tanaman secara kuantitatif dapat
dinyatakan dengan persamaan
berikut ini.
Q10
laju pada (t + 100C)
laju pada t0C
32
Q10 untuk reaksi respirasi adalah 2-
3, ini berarti bahwa peningkatan
suhu sebesar 100C, akan
meningkatkan laju reaksi 2 -3 kali
lipat. Oleh karena itu pada daerah
panas, umbi kentang tidak dapat
menjadi lebih besar karena
fotosintesisnya rendah sedangkan
respirasinya tinggi.
2.Ketersediaan oksigen dan
karbondioksida
Ketersediaan oksigen ditempat
terjadinya respirasi aerob sangat
penting. Apabila oksigen tidak
tersedia maka respirasi tidak
berlangsung, dan seluruh proses
respirasi terhenti dan bahan-bahan
racun tertimbun sehingga tanaman
menjadi mati.
Karbondioksida
Kadar karbondioksida yang tinggi
(mencapai 10%) juga akan
menghambat laju respirasi semakin
rendah. Kondisi inilah yang selalu
dimanfaatkan oleh pedagang
hortikultura agar produk
hortikulturanya tetap segar.
3. Cahaya
Cahaya meningkatkan respirasi
secara tidak langsung yaitu melalui
pengaruh cahaya terhadap
fotosintesa.
Dengan meningkatnya laju
fotosintesa maka persediaan subtrat
bahan baku meningkat, yang berarti
juga meningkatkan respirasi.
Ada 3 ciri dari cahaya yang
mempengaruhi fotosintesis, yaitu
intensitaa cahaya, kualitas cahaya ,
dan lamanya penyinaran.
a. Intensitas cahaya. makin rendah
intensiyas cahaya, makin rendah
laju fotosintesis karena produksi
ATP dan NADPH tidak cukup tinggi.
Intensitas cahaya pada siang terik
pada musim kemarau di Indonesia
berada sekitar 10.000 kaki-lilin ( 1
kaki-lilin = intensiyas cahaya 1 lilin
jarak 1 kaki), tetapi hanya 25-30%
yang dipergunakan untuk
fotosíntesis oleh tanaman. Pada
bagian-bagian teduh bahkan hanya
10% saja. Oleh karena itu pada
siang hari intensitas cahaya tidak
merupakan faktor penghambat.
b. Kualitas cahaya. Kualitas cahaya
ditentukan oleh proporsi dari warnawarna
cahaya seperti merah,
kuning, hijau, biru, dan sebagainya.
klorofil menyerap warna didaerah
biru dan merah, yaitu panjang
gelombang yang paling banyak
digunakan dalm proses fotosintesis.
Sedangkan penyerapan yang
terendah adalah warna hijau. warna
hijau dari daun menujukkan bahwa
sinar hijau banyak dipantulkan. oleh
karena itu sinar hijau kecil sekali
pengaruhnya terhadap fototsintesis.
c. Lama penyinaran. Apabila CO2
serta faktor-faktor lain tidak terbatas,
maka penyinaran secara terusmenerus
akan menyebabkan
terjadinya fotosintesis secara terusmenerus
pula.
33
4. Pengurangan atau penambahan
air
Biji kering mempunyai tingkat
respirasi yang rendah, jika dilakukan
penambahan air akan mengaktifkan
enzim dan hal ini berarti respirasi
meningkat
5. Pengaruh mekanis dan zat
kimia
Pelukaan, gosong terbakar,
merupakan contoh-contoh yang
dapat meningkatkan laju respirasi.
Senyawa racun seperti sianida,
arsenit sebagainya juga dapat
membunuh tanaman yang berakibat
pada penghambatan enzim respirasi
6. Umur serta macam jaringan
Setiap macam jaringan memiliki laju
respirasi yang berbeda satu sama
lain. Laju respirasi dari jaringan
muda lebih cepat dibandingkan
dengan jaringan tua.
Jaringan yang sedang aktif tumbuh
juga memiliki laju respirasi yang
tinggi.
7.Kandungan hara dalam tanah.
Mg dan N merupakan dari bagian
klorofil, jadi langsung berpengaruh
pada fotosintesis. Unsur besi (Fe)
adalah bagian dari sitokrom, jadi
penting bagi reaksi terang.
Sedangkan unsur P penting bagi
fotosintesis karena merupakan
bagian ATP/ADP. Mn peenting
karena merupakan bagian dari
enzim.
3.9. Penemuan
Meskipun masih ada langkahlangkah
dalam fotosintesis yang
belum dipahami, persamaan umum
fotosintesis telah diketahui sejak
tahun 1800-an.
Pada awal tahun 1600-an, seorang
dokter dan ahli kimia, Jan van
Helmont, seorang Filandria
(sekarang bagian dari Belgia),
melakukan percobaan untuk
mengetahui faktor apa yang
menyebabkan massa tumbuhan
bertambah dari waktu ke waktu. Dari
penelitiannya, Helmont
menyimpulkan bahwa massa
tumbuhan bertambah hanya karena
pemberian air.
Tapi pada tahun 1720, ahli botani
Inggris, Stephen Hales berhipotesis
bahwa pasti ada faktor lain selain air
yang berperan. Ia berpendapat
faktor itu adalah udara.
Joseph Priestley, seorang ahli kimia
dan pendeta, menemukan bahwa
ketika ia menutup sebuah lilin
menyala dengan sebuah toples
terbalik, nyalanya akan mati
sebelum lilinnya habis terbakar. Ia
kemudian menemukan bila ia
meletakkan tikus dalam toples
terbalik bersama lilin, tikus itu akan
mati lemas.
Dari kedua percobaan itu, Priestley
menyimpulkan bahwa nyala lilin
telah “merusak” udara dalam toples
itu dan menyebabkan matinya tikus.
Ia kemudian menunjukkan bahwa
udara yang telah “dirusak” oleh lilin
tersebut dapat “dipulihkan” oleh
34
tumbuhan. Ia juga menunjukkan
bahwa tikus dapat tetap hidup dalam
toples tertutup asalkan di dalamnya
juga terdapat tumbuhan.
Pada tahun 1778, Jan Ingenhousz,
dokter kerajaan Austria, mengulangi
eksperimen Priestley. Ia
menemukan bahwa cahaya
matahari berpengaruh pada
tumbuhan sehingga dapat
“memulihkan” udara yang “rusak”.
Akhirnya di tahun 1796, Jean
Senebier, seorang pastor Perancis,
menunjukkan bahwa udara yang
“dipulihkan” dan “merusak” itu
adalah karbon dioksida yang diserap
oleh tumbuhan dalam fotosintesis.
Tidak lama kemudian, Theodore de
Saussure berhasil menunjukkan
hubungan antara hipotesis Stephen
Hale dengan percobaan-percobaan
“pemulihan” udara. Ia menemukan
bahwa peningkatan massa
tumbuhan bukan hanya karena
penyerapan karbon dioksida, tetapi
juga oleh pemberian air.
Melalui serangkaian eksperimen
inilah akhirnya para ahli berhasil
menggambarkan persamaan umum
dari fotosintesis yang menghasilkan
makanan (seperti glukosa).
3.10. Rangkuman
Tumbuhan hijau adalah tumbuhan
yang mengandung zat hijau daun
(klorofil). klorofil ini berada di
kloroplas.
Dalam kloroplas tanaman tingkat
tinggi terdapat dua macam klorofil
yang merupakan bahan penyerap
energi yang utama yaitu klorofil A
dan klorofil B.
Tumbuhan hijau berperan sebagai
produsen karena dapat membuat
makanan sendiri melalui proses
fotosintesis.
Fotosintesis adalah proses
penyusunan makanan pada zat hijau
daun (klorofil) dengan bantuan sinar
matahari. Dalam proses fotosintesis
ini, tumbuhan memerlukan air dan
mineral, seperti fosfor, besi,
magnesium, dan kalium.
Bahan baku untuk proses
fotosintesis adalah karbondioksida
dan air. Karbondioksida diambil oleh
tumbuhan hijau melalui mulut daun
(stomata) dan pori-pori kecil pada
batang (lentisel), sedangkan air
diambil dari tumbuhan hijau dari
dalam tanah melalui akar.
Fotosisntesis dapat menjadi lebih
cepat atau lambat, bergantung
pada:ketersediaan oksigen dan
karbondioksida, cahaya, air, hara
tanaman, mekanis dan zat kimia,
umur serta macam jaringan
tanaman.
Jaringan muda pada tanaman laju
fotosintesisnya relatif lebih cepat
dibandingkan dengan jaringan tua.
Jaringan yang sedang aktif tumbuh
juga memiliki laju respirasi yang
tinggi.
Laju respirasi ini tidak tetap akan
tetapi berfluktuasi dari waktu ke
waktu sebagai akibat pengaruh
berbagai faktor baik faktor dalam
maupun faktor luar
35
Hasil fotosíntesis ialah zat gula yang
digunakan sebagai bahan baku
untuk pembakaran (oksida biologis)
dalam tubuh tanaman dan berfungsi
untuk mengganti sel-sel yang rusak,
serta untuk menunjang pertumbuhan
dan aktivitas tumbuhan, sedangkan
oksigen berfungsi membantu
pernapasan tumbuhan.
Adapun oksigen digunakan untuk
membakar zat makanan (zat gula)
dan selebihnya dilepaskan melalui
stomata untuk pernapasan bagi
hewan dan manusia.
Oksidasi biologis adalah proses
pembakaran terhadap zat makanan
(zat gula) oleh oksigen didalam
tubuh yang menghasilkan energi
untuk beraktivitas dan
karbondioksida serta uap air sebagai
zat sisa.
Tidak semua zat hasil fotosíntesis
(zat makanan) digunakan oleh
tumbuhan hijau. Kelebihan zat hasil
fotosíntesis disimpan sebagai
cadangan makanan dalam buah,
batang, dan umbi.
3.11. Soal
Berilah tanda silang (X) pada
huruf A, B, C, dan D di depan
jawaban yang kamu anggap
benar.
1. Bahan yang diperlukan pada
proses fotosintesis adalah…
A. Air dan karbondioksida
B. Oksigen dan gula
C. Cahaya matahari
D. Klorofil
2. Hasil dari fotosíntesis adalah…
A. Air
B. Gula
C. Karbondioksida
D. Klorofil
3. Zat tepung yang terkandung di
dalam umbi akar seperti
singkong sebenarnya
merupakan hasil dari…
A. Pertumbuhan
B. Perkembangan
C. Kemosintesis
D. Fotosíntesis
4. Gula hasil fotosíntesis digunakan
untuk berbagai hal, kecuali…
A. Cadangan makanan
B. Bahan penghasil energi
C. Aktivitas pertumbuhan
D. Seluruhnya diubah ke bentuk
lain yang lebih dibutuhkan
36
5. Tempat berlangsungnya
fotosíntesis pada tumbuhan hijau
terdapat di…
A. Seluruh bagian tanaman yang
berwarna hijau
B. Daun
C. Akar
D. batang
6. Karbondioksida diambil tanaman
dari…
A. Udara
B. Air
C. Tanah
D. Senyawa kimia
7. Air diambil tanaman dari…
A. Udara
B. Air
C. Tanah
D. Senyawa kimia
8. Respirasi adalah…
A. Pembentukan senyawa
organik dari senyawa
anorganik
B. Pembentukan senyawa
anorganik dari senyawa
anorganik
C. Pembentukan senyawa
organik dari senyawa organik
D. Pembentukan senyawa
anorganik dari senyawa
organik
9. Respirasi memerlukan bahan
dasar…
A. Gula
B. Karbondioksida
C. Air
D. Oksigen
10. Tempat terjadinya fotosíntesis
adalah…
A. Daun
B. Bunga
C. Batang
D. Akar
II. Jawablah pertanyaanpertanyaan
dibawah ini
dengan benar!
1. Apakah perbedaan antara
fotosíntesis dengan respirasi
2. Jelaskan faktor-faktor yang
mempengaruhi fotosíntesis
3. Jika suhu meningkat mencapai
480C , apa yang terjadi pada
tanaman?
4. Apakah jamur dapat melakukan
fotosintesis? Jelaskan
jawabanmu
5. Apa yang terjadi jika tanaman
mengalami kekurangan air?
6. Mengapa tanaman dapat
membersihkan udara?
7. Mengapa umbi kentang pada
daerah tropis memiliki umbi yang
relatif lebih kecil dibandingkan
dengan daerah sub tropis?
37
8. Faktor-faktor apakah yang
sangat mempengaruhi
pembentukan klorofil?
9. Ketersediaan air tanah dapat
mempengaruhi fotosintesis.
Apakah hal ini disebabkan
karena ada hubungannya
dengan traspirasi, proses
tertutup dan terbukanya stomata,
atau karena adanya
hubungannya denagan proses
pemasukan karbondioksida?
10. Bagaiman kegiatan atau laju
fotosintesis pada tanaman bila
dihubungakan dengan kadar
oksigen yang tersedia diudara
sekitarnya?
11. Apakah fotosintesa terjadi pada
seluruh bagian tanaman,
jelaskan jawabmu
12. Fungsi klorofil pada proses
fotosintesis adalah untuk …….
13. Stomata daun tempat masuknya
karbondioksida akan menutup,
jika tanaman kekurangan …….
38
BAB IV
TRANSPOR AIR SERTA
FOTOSINTETAT
TANAMAN
4.1. Pengantar
Air merupakan 85–95% berat
tumbuhan herba yang hidup di air.
Kandungan air dalam tanaman
bervariasi antara 70 dan 90%,
tergantung umur, spesies, jaringan
tertentu, dan lingkungan. Air sangat
bermanfaat bagi kehidupan
tanaman. oleh karenanya
kelangsungan hidup tanaman di
muka bumi ini sangat tergantung
pada air, dengan kata lain tiada air
tiada kehidupan
Air dibutuhkan untuk bermacammacam
fungsi tanaman seperti:
a. Pelarut dan medium reaksi kimia
b. Medium untuk transpor, zat
terlarut organik dan anorganik
c. Medium memberikan turgor
pada sel tanaman. Turgor
menggalakkan pembesaran sel,
struktur tanaman, dan
penempatan daun
d. Hidrasi dan netralisasi muatan
pada molekul-molekul koloid .
Untuk enzim, air hidrasi
membantu memelihara struktur
dan memudahkan fungsi katalis.
e. Bahan baku fotosintesis, proses
hidrolisa dan reaksi-reaksi kimia
lainnya
f. Transpirasi untuk mendinginkan
permukaan tanaman.
Sistem yang menggambarkan
tingkah laku air dan pergerakannya
dalam tanah dan tubuh tanaman
didasarkan atas hubungan energi
potensial. Air mempunyai kapasitas
untuk melakukan kerja, yaitu akan
bergerak dari daerah dengan energi
potensial tinggi ke daerah dengan
energi potensial rendah.
Air dalam tanah dan tubuh tanaman
biasanya secara kimia tidak murni,
disebabkan oleh adanya bahan
terlarut dan cara fisik yang dibatasi
oleh berberapa gaya, seperti gaya
tarik menarik yang berlawanan,
gravitasi, dan tekanan. Oleh
karenanya eneri potensialnya lebih
kecil dari air murni. Dalam tubuh
tanaman energi potensial air ini
disebut potensi air.
Tanaman yang kekurangan air akan
menjadi layu, dan apabila tidak
diberikan air secepatnya akan
terjadi layu permanen yang dapat
menyebabkan kematian.
Air di alam ini mengalami peredaran,
yang disebut dengan daur air.
Daur air adalah perubahan yang
terjadi pada air secara berulang
dalam suatu pola tertentu.
Air yang ada di permukaan bumi
mengalami penguapan, yaitu
berubah menjadi uap air.
Uap air naik dan berkumpul
membentuk awan. Selanjutnya awan
sampai ke tempat bersuhu dingin.
39
Semakin jauh dari permukaan bumi
udara makin dingin. Saat
bersentuhan dengan udara dingin,
awan mengalami kondensasi
membentuk butiran air. Butiran air
ini jatuh kembali ke permukaan bumi
sebagai air hujan.
Untuk lebih jelasnya perhatikan
Gambar 11 dibawah ini.
Gambar 11 Peredaran air dimuka
bumi
Kerja ilmiah 1.
Tujuan: memahami pergerakan air
dimuka bumi
Dibawah ini diberikan bagan yang
belum terisi, merupakan proses
daur air. Isilah dengan benar kolom
dan tanda panah yang tersedia
dibawah ini.
Setelah menyelesaikan bagan
tersebut coba diskusikan
bagaimana agar peredaran air ini
tetap berlangsung sebagaimana
mestinya.
Menurut pendapatmu bagaimana
sisitem pertanian yang paling sesuai
dalam pertanaman padi sawah,
yang membutuhkan air dalam
pertanamannya.
4.2. Mekanisme
Pergerakan Air
Terdapat lima mekanisme utama
yang menggerakkan air dari suatu
tempat ke tempat lain, yaitu :
– difusi
– osmosis
– tekanan kapiler
– tekanan hidrostatik
Awan turun ke
permukaan bumi
…………
…………
…………
…………
………
………
………
………
…………
…………
…………
…………
…………
40
– gravitasi
4.2.1. Difusi
Difusi adalah pergerakan molekul
atau ion dari dengan daerah
konsentrasi tinggi ke daerah
dengan konsentrasi rendah.
Beberapa contoh difusi:
1. Apabila kita teteskan minyak
wangi dalam botol lalu
ditutup, maka bau minyak
wangi tersebut akan tersebar
ke seluruh bagian botol.
Apabila tutup botol dibuka,
maka bau minyak wangi
tersebut akan tersebar ke
seluruh ruangan, meskipun
tidak menggunakan kipas.
Hal ini disebabkan karena
terjadi proses difusi dari botol
minyak wangi (konsentrasi
tinggi) ke ruangan
(konsentrasi rendah).
2. Apabila kita meneteskan tinta
ke dalam segelas air, maka
warna tinta tersebut akan
menyebar dari tempat
tetesan awal (konsentrasi
tinggi) ke seluruh air dalam
gelas (konsentrasi rendah)
sehingga terjadi
keseimbangan. Sebenarnya,
selain terjadi pergerakan
tinta, juga terjadi pergerakan
air menuju ke tempat tetesan
tinta (dari konsentrasi air
yang tinggi ke konsentrasi air
rendah).
Laju difusi antara lain tergantung
pada suhu dan densitas (kepadatan)
medium.
Gas berdifusi lebih cepat
dibandingkan dengan zat cair,
sedangkan zat padat berdifusi lebih
lambat dibandingkan dengan zat
cair. Molekul berukuran besar lebih
lambat pergerakannya dibanding
dengan molekul yang lebih kecil.
Pertukaran udara melalui stomata
merupakan contoh dari proses
difusi. Pada siang hari terjadi proses
fotosintesis yang menghasilkan O2
sehingga konsentrasi O2 meningkat.
Peningkatan konsentrasi O2 ini akan
menyebabkan difusi O2 dari daun ke
udara luar melalui stomata.
Sebaliknya konsentrasi CO2 di
dalam jaringan menurun (karena
digunakan untuk fotosintesis)
sehingga CO2 dari udara luar masuk
melalui stomata.
Faktor yang mempengaruhi difusi
adalah:
– suhu
– kepadatan zat
– besar kecilnya perbedaan
konsentrasi
4.2.2. Osmosis
Osmosis adalah difusi melalui
membran semipermeabel. definisi
osmosisi secara lebih terperinci
adalah peristiwa bergeraknya
pelarut antara dua larutan yang
dibatasi membran semi permiable
dan (selaput permiable diffrensial)
berlangsung dari larutan yang
konsentrasinya tinggi ke konsentrasi
rendah.
41
Suatu larutan yang mempunyai
tekanan osmosis lebih tinggi
daripada larutan lain disebut
supertonik, sedangkan kebalikannya
disebut hiposonik. Bila dua larutan
sama tekanan osmosisnya, disebut
isotonik atau isomosi
Masuknya larutan ke dalam sel-sel
endodermis merupakan contoh
proses osmosis. Dalam tubuh
organisme multiseluler, air bergerak
dari satu sel ke sel lainnya dengan
leluasa.
Selain air, molekul-molekul yang
berukuran kecil seperti O2 dan CO2
juga mudah melewati membran sel.
Molekul-molekul tersebut akan
berdifusi dari daerah dengan
konsentrasi tinggi ke konsentrasi
rendah.
Proses Osmosis akan berhenti jika
konsentrasi zat di kedua sisi
membran tersebut telah mencapai
keseimbangan.
Osmosis juga dapat terjadi dari
sitoplasma ke organel-organel
bermembran.
Percobaan osmosis dapat dibuat
dengan menyekat tabung yang
berisi larutan gula 10% dalam air
(10% gula dan 90% air) dengan
membran semipermeabel. Apabila
tabung tersebut dicelupkan dalam
air, maka akan terjadi osmosis. Air
dari dalam gelas piala akan masuk
ke dalam tabung dan menaikkan
cairan yang ada dalam tabung.
Osmometer sederhana dibuat
dengan menyekat tabung dengan
membran. Osmosis dapat dicegah
dengan menggunakan tekanan.
Oleh karena itu, ahli fisiologi
tanaman lebih suka menggunakan
istilah potensial osmotik yakni
tekanan yang diperlukan untuk
mencegah osmosis.
Jika wortel direndam ke dalam
larutan garam 10% maka sel-selnya
akan kehilangan rigiditas (kekakuan)
nya. Hal ini disebabkan potensial air
dalam sel wortel tersebut lebih tinggi
dibanding dengan potensial air pada
larutan garam sehingga air dari
dalam sel akan keluar ke dalam
larutan tersebut. Jika diamati
dengan mikroskop maka vakuola
sel-sel wortel tersebut tidak tampak
dan sitoplasma akan mengkerut dan
membran sel akan terlepas dari
dindingnya. Peristiwa lepasnya
plasma sel dari dinding sel ini
disebut plasmolisis.
Faktor yang mempengaruhi osmosis
tergantung pada banyak sedikitnya
molekul zat pelarut
4.2.3. Tekanan kapiler
Apabila pipa kapiler dicelupkan ke
dalam bak yang berisi air, maka
permukaan air dalam pipa kapiler
akan naik sampai terjadi
keseimbangan antara tegangan
yang menarik air tersebut dengan
beratnya.
42
Gambar 12 Peristiwa kapilaritas
Tekanan yang menarik air tersebut
disebut tekanan kapiler.
Tekanan kapiler tergantung pada
diameter kapiler : semakin kecil
diameter kapiler semakin besar
tegangan yang menarik kolom air
tersebut.
Semakin kecil diameter tabung
semakin besar tinggi kolom cairan.
Partikel-partikel tanah bersifat
hidrofilik, dan mempunyai pori-pori
mikro. Air akan ditarik oleh partikel
tanah dan mengisi pori-pori tersebut
dan tetap dipertahankan melalui
tekanan kapiler. Kekuatan tekanan
ini tergantung pada ketersedian air.
Pada tanah yang lembab
kemampuan memegang airnya
rendah, sedangkan pada tanah
kering kemampuan memegang
airnya lebih besar.
4.2.4. Tekanan hidrostatik
Masuknya air ke dalam sel akan
menyebabkan tekanan terhadap
dinding sel sehingga dinding sel
meregang. Hal ini akan
menyebabkan timbulnya tekanan
hidrostatik untuk melawan aliran air
tersebut. Tekanan hidrostatik dalam
sel disebut tekanan turgor.
Tekanan turgor yang berkembang
melawan dinding sebagai hasil
masuknya air ke dalam vakuola sel
disebut potensial tekanan.
Tekanan turgor penting bagi sel
karena dapat menyebabkan sel dan
jaringan yang disusunnya menjadi
kaku.
Potensial air suatu sel tumbuhan
secara esensial merupakan
kombinasi potensial osmotik dengan
potensial tekanannya.
Jika dua sel yang bersebelahan
mempunyai potensial air yang
berbeda, maka air akan bergerak
dari sel yang mempunyai potensial
air tinggi menuju ke sel yang
mempunyai potensial air rendah.
Tekanan hidrostatik dalam sel
disebut tekanan turgor. Tekanan
turgor yang berkembang melawan
dinding sebagai hasil masuknya air
ke dalam vakuola sel disebut
potensial tekanan.
Tekanan turgor penting bagi sel
karena dapat menyebabkan sel dan
jaringan yang disusunnya menjadi
kaku.
43
Potensial air suatu sel tumbuhan
secara esensial merupakan
kombinasi potensial osmotik dengan
potensial tekanannya. Jika dua sel
yang bersebelahan mempunyai
potensial air yang berbeda, maka air
akan bergerak dari sel yang
mempunyai potensial air tinggi
menuju ke sel yang mempunyai
potensial air rendah.
4.2.5. Gravitasi
Air juga bergerak untuk merespons
gaya gravitasi bumi, sehingga perlu
tekanan untuk menarik air ke atas.
Pada tumbuhan herba, pengaruh
gravitasi dapat diabaikan karena
perbedaan ketinggian pada bagian
tanaman tersebut relatif kecil.
Pada tumbuhan yang tinggi,
pengaruh gravitasi ini sangat nyata.
Untuk menggerakkan air ke atas
pada pohon setinggi 100 m
diperlukan tekanan sekitar 20
atmosfer.
4.3. Mekanisme Tanaman
mengambil air
Sebagian besar air yang telah
diserap akan hilang dari tubuh
tanaman baik dalam bentuk uap air
maupun dalam bentuk tetesan air.
Dari keseluruhan air yang hilang
maka air yang hilang dalam bentuk
gutasi hanya kira-kira 1%. Dengan
demikian sebagain besar air yang
hilang adalah dalam bentuk uap air.
Pada sebagian besar hewan, cairan
cenderung di daur ulang melalui
sistem sirkulasi, sedangkan pada
tanaman air bergerak satu arah dari
akar melalui batang menuju daun.
Suplai air ini memungkinkan
tumbuhan melakukan proses
fotosintesis, memelihara turgor
sehingga tumbuhan dapat berdiri
tegak, menjaga suhu tajuk tetap
dingin, dan melakukan trasportasi
mineral terlarut.
Adanya lapisa lilin (kutikula) pada
epidermis daun dan batang, ataupun
lapisan gabus pada batang yang
telah mengalami pertumbuhan
sekunder dapat mengurangi
kehilangan air pada tumbuhan.
Perjalanan air dalam tumbuhan
dimulai dengan absorpsi air pada
permukaan akar. Air masuk ke
dalam akar melalui sel-sel epidermis
dan rambut akar (modifikasi sel
epidermis). Rambut akar
meningkatkan luas permukaan akar
sehingga absorpsi air menjadi lebih
efisien.
Rambut akar dijumpai pada ujung
akar yaitu pada daerah
pemanjangan sel.
Selanjutnya air dari epidermis
masuk ke dalam korteks akar.
Sebagian air masuk melalui
sitoplasma (rute simplas) dan
sebagian besar air melalui ruang
antar sel (rute apoplas).
Ketika mencapai endodermis, air
yang masuk dengan rute apoplas
dipaksa masuk ke dalam
endodermis karena pada
endodermis terdapat jalur/pita
Caspary.
44
Jalur Caspary merupakan lilin
(suberin) yang menebal pada
dinding transversal dan dinding
radial sel-sel endodermis. Suberin
tidak dapat ditembus oleh air
sehingga air dipaksa masuk ke
dalam sel-sel endodermis pada
bagian dinding tangensial. Ketika
masuk ke dalam sel, maka mineral
terlarut dalam air akan diseleksi oleh
membran plasma yang bersifat
semipermeabel.
Air dari sel-sel endodermis
selanjutnya masuk ke dalam
pembuluh xilem melalui proses
osmosis. Air dari pembuluh xilem
akar, bergerak melalui xilem batang
hingga ke xilem daun.
Cairan xilem yang ada dalam xilem
akar, xilem batang dan xilem daun
berhubungan satu dengan lainnya
membentuk suatu kolom.
Ada empat kemungkinan yang dapat
menerangkan mekanisme
perjalanan air tersebut, yaitu:
– tekanan akar
– pompa xilem
– aksi kapiler
– penarikan air ke atas.
Pada pagi hari, sering kita jumpai air
yang keluar dari permukaan daun
melalui proses gutasi. Gutasi terjadi
ketika air dalam tanah jenuh
sementara kehilangan air melalui
evaporasi kecil. Gutasi terjadi
karena adanya tekanan akar.
Tekanan akar terjadi karena adanya
gradien osmotik. Gutasi terjadi
melalui hidatoda yang terdapat pada
ujung-ujung pertulangan daun.
Gutasi terjadi jika malam hari udara
dingin dan siang hari udara lembab
dan hangat. Pada malam hari,
mineral yang diabsorpsi dipompa ke
dalam ruang antarsel disekeliling
xilem. Akibatnya potensial air pada
unsur pembuluh xilem berkurang
dan air bergerak ke dalamnya dari
sel-sel sekelilingnya.
Tidak adanya transpirasi pada
malam hari, tekanan di dalam xilem
membangun titik-titik penekanan air
larutan keluar hidatoda.
Walaupun air gutasi menyerupai air
embun, keduanya dapat dibedakan.
Air embun berasal dari kondensasi
uap air , sedangkan gutasi berasal
dari tekanan akar. Jika terkena
cahaya matahari, air gutasi
menguap dan meninggalkan residu
bahan organik dan garam mineral.
Gambar 13 Peristiwa gutasi pada
daun
45
Tekanan akar hanya terjadi pada
tumbuhan yang rendah dan jarang
melebihi 45 psi (pound per square
inch).
Sedangkan untuk tumbuhan yang
tinggi diperlukan tekanan hingga 150
psi.
Pada beberapa tanaman misalnya
pinus, tidak mengembangkan
tekanan akar. Jika batang dilukai
ternyata juga tidak menyebabkan air
tersembur ke luar. Demikian juga air
kapiler hanya dapat mencapai
ketinggian 0.5 m saja.
Transpirasi
Walaupun tekanan akar, pompa
xilem dan aksi kapiler berperan
dalam transpor air pada beberapa
tumbuhan, sebagian besar
mekanisme transpor air adalah
melalui proses penarikan air karena
penguapan atau transpirasi.
Transpirasi adalah proses
penguapan air melalui stomata.
Ketika celah stomata terbuka maka
molekul air akan bergerak dari
konsentrasi tinggi (di dalam daun) ke
konsentrasi rendah (lingkungan
luar).
Proses transpirasi dapat diterangkan
dengan mengacu sifat fisik air .
Molekul air akan melakukan tarik
menarik dengan molekul air lainnya
melalui proses kohesi. Selain itu
molekul air juga dapat melakukan
tarik menarik dengan dinding xilem
melalui proses adhesi.
Penguapan air melalui stomata akan
menarik kolom air yang ada di dalam
xilem, dan molekul air baru akan
masuk ke dalam rambut akar.
Teori kehilangan air melalui
traspirasi ini disebut juga teori
tegangan adhesi dan kohesi
Pada sebagian besar tumbuhan,
transpirasi umumnya sangat rendah
pada malam hari.
Transpirasi mulai menaik beberapa
menit setelah matahari terbit dan
mencapai puncaknya pada siang
hari.
Transpirasi berhubungan langsung
dengan intensitas cahaya. Semakin
besar intensitas cahaya semakin
tinggi laju transpirasi.
Faktor-faktor lingkungan lainnya
yang berpengaruh terhadap
transpirasi antara lain: konsentrasi
CO2, temperatur, kelembaban
relatif, kepadatan udara, dan
kecepatan angin.
4.4. Mekanisme membuka
dan menutupnya stomata
Stomata merupakan celah yang
dibatasi oleh dua sel penjaga. Sel
penjaga mempunyai penebalan
dinding khusus (bagian tertentu
menebal sedangkan bagian lainnya
tidak menebal) dan di dalam selnya
terdapat kloroplas
Pengamatan mikroskopis terhadap
permukaan daun menunjukkan
46
bahwa cahaya mempengaruhi
pembukaan stomatata.
Pada saat redup atau tidak ada
cahaya umumnya stomata
tumbuhan menutup. Ketika
intensitas cahaya meningkat
stomata membuka hingga mencapai
nilai maksimum.
Mekanisme membuka dan
menutupnya stomatata dikontrol
oleh sel penjaga. Dibawah iluminasi,
konsentrasi solut dalam vakuola sel
penjaga meningkat. Bagaimana
konsentrasi solut tersebut meningkat
?
Pertama, pati yang terdapat pada
kloroplas sel penjaga diubah
menjadi asam malat.
Kedua, pompa proton pada
membran plasma sel penjaga
diaktifkan. Pompa proton tersebut
menggerakkan ion H+, beberapa
diantaranya berasal dari asam
malat, melintasi membran plasma.
Asam malat kehilangan ion H+
membentuk ion malat. Hal ini
menaikkan gradien listrik dan
gradien pH lintas membran plasma.
Ion K+ mengalir ke dalam sel
tersebut melalui suatu saluran
sebagai respons terhadap
perbedaan muatan, sedangkan ion
Cl- berasosiasi dengan ion H+
mengalir ke dalam sel tersebut
melalui saluran lainnya dalam
merespon perbedaan konsentrasi
ion H+. Akumulasi ion malat, K+, dan
Cl- menaikkan tekanan osmotik
sehingga air tertarik ke dalam sel
penjaga.
Signal yang mengaktifkan enzim
pembentukan malat dan
mengaktifkan pompa proton di
dalam membran plasma adalah
cahaya merah dan cahaya biru.
Produksi asam malat dan influksion
K+ dan Cl- menarik air ke dalam sel
melalui proses osmosis. Ketika
vakuola sel penjaga memperoleh air,
sel tersebut membengkak dan
menyebabkan tekanan turgor naik.
Tekanan turgor ini akan mendesak
dinding tipis pada sel penjaga
sehingga mengakibatkan stomata
membuka.
Proses menutupnya stomata akan
terjadi pada saat sel penjaga
kehilangan ion K+ yang kemudian
disusul dengan hilangnya air melalui
proses osmosis yang menyebabkan
turgor sel penjaga menurun.
Adanya klorofil pada sel penjaga
mengakibatkan sel penjaga dapat
melangsungkan proses fotosintesis
yang menghasilkan glukosa dan
mengurangi konsentrasi CO2.
Glukosa larut dalam air sehingga air
dari jaringan di sekitar sel penjaga
akan masuk ke dalam sell penjaga
yang mengakibatkan tekanan turgor
sel penjaga naik sehingga stomata
akan membuka.
Faktor yang mempengaruhi
membuka dan menutupnya stomata
yaitu:
1. Faktor internal antara lain
cahaya matahari,
konsentrasi CO2, dan asam
absisat (ABA).
2. Faktor internal (jam biologis).
47
Cahaya matahari merangsang sel
penjaga menyerap ion K+ dan air,
sehingga stomata membuka pada
pagi hari.
Konsentrasi CO2 yang rendah di
dalam daun juga menyebabkan
stomata membuka.
Stomata akan menutup apabila
terjadi cekaman air.
Pada saat cekaman air, zat pengatur
tumbuh ABA diproduksi di dalam
daun yang menyebabkan membran
menjadi bocor sehingga terjadi
kehilangan ion K+ dari sel penjaga
dan menyebabkan sel penjaga
mengkerut sehingga stomata
menutup.
Faktor internal yaitu jam biologis
memicu serapan ion pada pagi hari
sehingga stomata membuka,
sedangkan pada malam hari terjadi
pembebasan ion yang
menyebabkan stomata menutup.
Stomata pada sebagian besar
tanaman umumnya membuka pada
siang hari dan menutup pada malam
hari.
Pada beberapa tumbuhan misalnya
kelompok tumbuhan CAM stomata
membuka pada malam hari
sedangkan pada siang hari stomata
menutup.
Menutupnya stomata pada siang
hari merupakan adaptasi untuk
mengurangi proses penguapan
tumbuhan yang hidup di daerah
kering.
Pada malam hari CO2 masuk ke
dalam tanaman dan disimpan dalam
bentuk senyawa C4. Selanjutnya
senyawa C4 akan membebaskan
CO2 pada siang hari sehingga dapat
digunakan untuk fotosintesis.
Adaptasi lainnya yang terdapat pada
tumbuhan xerofit untuk mengurangi
proses transpirasi yaitu memiliki
daun dengan stomata tersembunyi
(masuk ke bagian dalam) yang
ditutupi oleh trikoma (rambut-rambut
yang merupakan penjuluran
epidermis).
Pada saat matahari terik, jumlah air
yang hilang melalui proses
transpirasi lebih tinggi daripada
jumlah air yang diserap oleh akar.
Untuk mengurangi laju transpirasi
tersebut stomata akan menutup.
Menutupnya stomata akan
menurunkan jumlah CO2 yang
masuk ke dalam daun sehingga
akan mengurangi laju fotosintesis.
Pada dasarnya proses membuka
dan menutupnya stomata bertujuan
untuk menjaga keseimbangan
antara kehilangan air melalui
transpirasi dengan pembentukan
gula melalui fotosintesis.
4.5. Transpor fotosintetat
melalui floem
Tanaman mempunyai dua sistem
transpor yang terpisah yaitu xilem
dan floem.
Xilem berfungsi mengangkut air,
sedangkan floem berfungsi
48
mengangkut gula yang dihasilkan
dari proses fotosintesis.
Floem disusun oleh sel-sel
penghantar makanan yang disebut
unsur tapis yang tersusun dari ujung
ke ujung menyerupai tabung.
Melalui perforasi pada lempeng
tapis, larutan gula (disebut juga
cairan floem) bergerak bebas dari
satu sel ke sel berikutnya karena
adanya sitoplasma yang saling
berhubungan/kontinu.
Cairan floem terutama mengandung
sukrosa (molekul disakarida); selain
itu dapat mengandung ion-ion
anorganik, asam-asam amino, dan
zat pengatur tumbuh yang
dipindahkan dari satu bagian
tanaman ke bagian tanaman
lainnya.
Berbeda dengan cairan xilem yang
hanya bergerak satu arah dari akar
ke daun, cairan floem bergerak ke
berbagai arah pada tanaman.
Tempat gula dihasilkan baik dari
proses fotosintesis maupun hasil
dari pemecahan molekul pati disebut
sebagai sumber gula (sugar source).
Floem mengangkut gula dari sumber
gula, seperti daun atau batang hijau
ke bagian tanaman lainnya.
Tempat penerima gula, tempat gula
disimpan atau dikonsumsi disebut
sebagai sugar sink. Akar, ujung
tunas, dan buah yang sedang
tumbuh merupakan sugar sink.
Demikian juga bagian batang yang
tidak berfotosintesis, dan sel-sel
hidup pada batang pohon termasuk
sugar sink.
Struktur-struktur penyimpan seperti
akar tunggang tanaman bit gula,
umbi kentang, umbi lapis tanaman
lili merupakan sugar sink selama
musim panas ketika tumbuhan
menyimpan kelebihan gula.
Pada saat musim semi, ketika
tanaman mulai tumbuh dan
mengkonsumsi gula, akar bit gula,
umbi kentang, umbi lapis, maupun
struktur penyimpan lainnya menjadi
sumber gula, dan transpor gula
melalui floem terjadi dari bagian
tersebut ke organ yang sedang
tumbuh.
Jadi setiap tabung penghantar
makanan dalam floem mempunyai
ujung sumber gula (sugar source)
dan ujung sugar sink, tetapi dapat
berubah menurut musim atau tahap
perkembangan tanaman.
Apa yang menyebabkan cairan
floem mengalir dari sugar source ke
sugar sink. Laju alirannya dapat
mencapai 1 m/jam, terlalu besar jika
dihitung berdasarkan proses difusi
(dapat memerlukan waktu 8 tahun).
Mekanisme aliran massa merupakan
hipotesis yang banyak diterima.
Aliran gula melalui floem bergerak
dari sugar source ke sugar sink .
Pada bagian sugar source misalnya
daun : gula diangkut masuk ke
dalam tabung floem melalui
transport aktif. Muatan gula pada
ujung sumber (sugar source)
49
tersebut menaikkan konsentrasi
larutan dalam tabung floem.
Konsentrasi larutan yang tinggi
tersebut akan menarik air masuk ke
dalam tabung secara difusi.
Masuknya air tersebut meningkatkan
tekanan air pada bagian sugar
source di ujung floem.
Pada bagian sugar sink, misalnya
akar tanaman bit gula, gula dan air
meninggalkan tabung floem. Saat
gula meninggalkan floem, air akan
mengikutinya keluar melalui proses
osmosis.
Keluarnya gula menurunkan
konsentrasigula pada bagian ujung
sugar sink. Keluarnya air
menurunkan tekanan hidrostatik
dalam tabung. Adanya tekanan air
pada ujung pembuluh floem.
Kerja Ilmiah 2
1. Buatlah 2 (dua) model tanah
berlereng dengan kemiringan
yang sama pada sebuah mapan
2. Kemudian tanamilah satu model
tersebut dengan rumput,
sedangkan satunya lagi biarkan
dalam keadaan tidak bervegetasi
3. Letakkan dalam tempat terbuka
akan tetapi tidak terkena air
hujan secara langsung
4. Seminggu kemudian (setelah
rumput tumbuh), lakukan
pengamatan dengan
menyiramkan air dengan
menggunakan sprayer tangan
pada dua model tersebut
Gunakan sejumlah air yang
sama banyaknya, hingga terjadi
aliran air.
5. Amati yang terjadi pada kedua
permukaan lereng
4.6. Evaluasi
Petunjuk: jawablah dengan benar
1. Apa perbedaan difusi dengan
osmosis
2. Apa tujuan transpirasi bagi
tanaman
3. Jelaskan mekanisme membuka
dan menutupnya stomata, dan
faktor apa saja yang
mempengaruhinya
4. Jelaskan bagaiman mekanisme
pengangkutan air dan hasil
fotosintesa pada tanaman
50
BAB V
HARA TANAMAN DAN
TANAH SEBAGAI
PENYEDIA HARA
5.1. Hara Tanaman
Sampai saat ini telah diketahui
lebih dari 100 unsur kimia. Dari
lebih seratus ini hanya sekitar 17
yang merupakan hara esensial
bagi tanaman.
Karbon, Hidrogen, dan Oksigen
Karbon merupakan rangka dari
senyawa organik. Karbon diambil
dari atmosfir dalam bentuk
karbondioksida, yang biasa disebut
fotosintesa. Peristiwa ini
menghasilkan gula dan oksigen.
Oksigen dibutuhkan dalam
peristiwa respirasi.
Hidrogen bersama oksigen yang
bergabung menjadi molekul air,
merupakan molekul dalam jumlah
terbesar dalam tubuh tanaman. Air
dibutuhkan tanaman sebagai alat
transportasi mineral maupun
makanan tanaman, dan juga turut
berperan dalam beberapa reaksi
kimia dalam tubuh tanaman.
Hidrogen juga merupakan molekul
konstituen beberapa komponen
penyusun sel tanaman.
5.1.1.Unsur hara esensial
Pertumbuhan tanaman tidak hanya
dikontrol oleh faktor dalam
(internal), tetapi juga ditentukan
oleh faktor luar (eksternal). Salah
satu faktor eksternal tersebut
adalah unsur hara esensial. Unsur
hara esensial adalah unsur-unsur
yang diperlukan bagi pertumbuhan
tanaman. Apabila unsur tersebut
tidak tersedia bagi tanaman maka
tanaman akan menunjukkan
gejala kekurangan unsur tersebut
dan pertumbuhan tanaman akan
merana.
Berdasarkan jumlah yang
diperlukan kita mengenal adanya
unsur hara makro dan unsur hara
mikro. Unsur hara makro
diperlukan oleh tanaman dalam
jumlah yang lebih besar (0.5-3%
berat tubuh tanaman). Sedangkan
unsur hara mikro diperlukan oleh
tanaman dalam jumlah yang relatif
kecil (beberapa ppm/ part per
million dari berat keringnya).
Contoh:
Unsur N termasuk unsur hara
makro. Unsur ini diperlukan oleh
tanaman dalam jumlah 1-4 %
berat kering tanaman. Unsur
tersebut diperlukan oleh tanaman
sebagai penyusun asam amino,
protein, dan klorofil.
Apabila tanaman kekurangan
unsur N akan menunjukkan gejala
antara lain klorosis pada daun.
Gejala kekurangan N pertama kali
akan muncul pada daun tertua
Unsur Al tidak termasuk unsur hara
esensial, sebab unsur ini meskipun
jumlahnya banyak dalam tanah
tetapi tidak diperlukan bagi
pertumbuhan tanaman.
Keberadaan unsur Al justru dapat
bersifat racun bagi tanaman. Unsur
ini dapat mengikat fosfat sehingga
51
menjadi tidak tersedia bagi
tanaman.
Unsur Cu (cuprum) termasuk unsur
hara mikro. Unsur ini diperlukan
tanaman dalam jumlah yang relatif
kecil (6 ppm). Jika jumlahnya
banyak, Cu akan menjadi racun
bagi tanaman, misalnya: Cu akan
membunuh ganggang pada
konsentrasi 1 ppm.
Unsur hara makro antara lain: C,
H, O, N, P, K, S, Ca, dan Mg.
Sedangkan yang termasuk unsur
hara mikro adalah : Fe, B, Mn, Cu,
Zn, Mo, dan Cl.
Beberapa unsur ada yang esensial
bagi tanaman tertentu, misalnya
Na, Si dan Co. sedangkan oksigen
selain dalam bentuk CO2 dan H2O
juga dapat diambil dalam bentuk
O2, maupun senyawa lainnya.
Unsur C, H, dan O merupakan
penyusun utama makromolekul,
seperti: karbohidrat, lipid, protein
dan asam nukleat.
Setelah C, H, dan O, nitrogen
merupakan unsur hara makro
terpenting.
Nitrogen merupakan komponen
dari asam-asam amino (juga
protein), klorofil, koenzim dan
asam nukleat. Nitrogen sering
merupakan unsur pembatas
pertumbuhan.
Walaupun gas nitogen menyusun
78% atmosfir bumi, tumbuhan tidak
dapat menggunakannya secara
langsung.
Gas N2 tersebut harus difiksasi
oleh bakteri menjadi amonia (NH3).
Beberapa tumbuh-tumbuhan
(seperti kacang tanah, kedelai,
kapri, dan tumbuhan legume
lainnya) bersimbiosis dengan
bakteri Rhizobium spp.
Rhizobium ini dapat memfiksasii
gas N2 (yang terjerap dalam poripori
tanah) dan mengkonversinya
menjadi amonia.
Bakteri dari genus Azotobacter,
yang hidup bebas dalam tanah,
juga dapat melakukan fiksasi
nitrogen.
Molekul NH3 dengan segera
mengikat ion H+ membentuk ion
NH4+.
Jika bintil akar menghasilkan ion
NH4
+ melebihi yang diperlukan
tanaman maka ion NH4
+ akan
dibebaskan ke dalam tanah dan
dapat dimanfaatkan oleh
tumbuhan non legume, oleh bakteri
nitrifikasi (spesies dari genus
Nitrobacter dan Nitrozomonas)
dapat diubah menjadi ion nitrat.
Tumbuhan dapat mengambil
nitrogen dalam bentuk ion NH4+
maupun NO3
-. Akan tetapi
beberapa tumbuhan dapat juga
mengabsorpsi sejumlah nitrogen
dalam bentuk asam amino atau
urea.
Beberapa tumbuhan pemakan
serangga, misalnya: Venus flytrap
(Drocera sp) dan kantong semar
(Nephentes sp.) dapat mencerna
serangga menjadi asam amino
untuk memenuhi kebutuhan
nitrogennya.
52
5.1.1.1.Unsur hara makro
N, P, dan K merupakan tiga unsur
utama dalam kehidupan tanaman.
Nitrogen diambil dalam bentuk
nitrat (NO3
– ) atau amonium (NH4+).
Nitrogen digunakan tanaman
dalam sintesa asam amino, yang
merupakan bahan dasar
pembentukan protein.
Sumber utama nitrogen adalah
nitrogen bebas (N2) di atmosfir,
dan sumber lainnya senyawasenyawa
nitrogen yang tersimpan
dalam tubuh jasad.
Nitrogen sangat jarang ditemukan
menjadi komponen pelikan oleh
karena perilakunya yang mudah
larut dalam air.
Perilaku nitrogen inilah yang
menjadikan endapan-endapan
nitrogen yang relatif cukup banyak
ditemui pada daerah beriklim
kering dan itupun terbatas secara
setempat.
Kandungan nitrogen tanaman ratarata
sekitar 2 sampai 4% atau
terkadang dapat mencapai 6%.
Protoplasma makhluk hidup juga
mengandung protein.
Nitrogen juga dibutuhkan tanaman
untuk beberapa komponen vital
seperti klorofil, asam nukleat dan
enzim.
Defisiensi nitrogen akan
membatasi pembesaran dan
pembelahan sel.
Gejala defisiensi berupa tanaman
yang kerdil dan kuning akan
terlihat, terutama pada bagian
tanaman yang lebih tua.
Berikut beberpa gejala kekurangan
nitrogen pada tanaman yaitu:
– pertumbuhan lambat
– daun berwarna kuning
(kllorosis)
– nekrosis pada bagian ujung
daun,
Nitrogen merupakan unsur mobil
dalam tanaman, yaitu unsur dapat
dipindahkan dari jaringan tua ke
yang muda.
Gambar 14 dibawah menunjukkan
peredaran hara nitrogen di alam.
Nitrogen dapat hilang ke atmosfir
melalui denitrifikasi nitrat atau oleh
volatilisasi amonia.
Gambar 14. Peredaran nitrogen
53
Senyawa nitrogen yang tertambat
pada jasad hidup dan dilibatkan
dalam kegiatan fisiologisnya,
dikembalikan ke dalam peredaran
nitrogen setelah mengalami
mineralisasi.
Peruraian senyawa N-kompleks
menjadi senyawa N-anorganik
sederhana sehingga
memungkinkan digunakan lagi
dalam asimilasi jasad berlangsung
dalam dalam beberapa tahapan
yang melibatkan peranan berbagai
macam jasad pengurai.
Perubahan bentuk senyawa N ini
dapat dijelaskan pada Gambar 15
dibawah ini.
Gambar 15 . Perubahan bentuk
senyawa nitrogen
Energi yang dibebaskan dari
perubahan di atas akan digunakan
oleh berbagai jasad tanah itu untuk
melakukan kegiatannya termasuk
melakukan perubahan senyawa N
tahapan selanjutnya.
Proses perubahan bentuk senyawa
N-organik kompleks menjadi
senyawa N-organik lebih
sederhana (asam amino) disebut
aminasi.
Asam amino yang dibentuk
melalui aminasi akan terus
diserang untuk diuraikan dan
dimanfaatkan oleh jasad renik
sampai akhirnya akan membentuk
amonim yang disebut amonifikasi.
N-amonium hasil amonifikasi ini
akan digunakan oleh jasad renik
tanah, diserap tanaman, atau
ditambat oleh liat.
Tahapan selanjutnya adalah
perubahan senyawa N-amonium
menjadi senyawa nitrit (nitrifikasi).
Nitrifikasi merupakan suatu proses
oksidasi enzimatik yang dilakukan
sekelompok jasad renik dan
berlangsung dalam dua tahap
terkoordinasi.
Masing-masing tahapan dilakukan
sekelompok jenis jasad renik, yang
berbeda dari keompok jasad renik
yang bekrja pada tahap berikutnya.
Pencucian nitrat , terutama pada
tanah-tanah berpasir
menyebabkan kurangnya N dari
daerah perakaran tanaman.
Protein dan
senyawa
serupa
Pencernaan
enzimatik
Senyawa
amino
kompleks
CO2
Energi
Hasil lain
54
Fosfor
Fosfor diambil tanaman dalam
bentuk H2PO4
– dan HPO4
=
bergantung pada pH tanah.
Fosfor merupakan unsur yang
sangat labil karena
ketersediaannya dipengaruhi oleh
pH.
Peredaran P di alam disajikan
pada Gambar 16 dibawah ini.
Gambar 16. Peredaran hara posfot
di alam
Posfor alam memasuki sistem
tanah melalui penghancuran dan
peruraian yang berjalan lambat
oleh karena daya larutnya yang
rendah.
Walaupun pembebasan P dari
bentuk tidak larut batuan posfat
dan bentuk lain sangat lambat,
namun takaran P yang diangkut air
sungai dan diendapkan di laut
sangat besar.
Diperkirakan sekitar 3.5.juta ton P
per tahun terangkut dan
diendapkan di laut sebagai
Kalsiumposfat yang sukar larut.
Hanya sebagain kecil P yang
kembali ke tanah melalui guano
yang dihasilkan burung laut dan
oleh manusa melalui ikan yang
dikonsumsinya.
Hasil uraian P-alam berupa
senyawa posfat yang berada
dalam sisitem tanah dengan
berbagai jenjang kelarutan. Bentuk
posfat ini akan dikonsumsi jasad
hidup, dijerap liat tanah, bahan
organik, kation Al, Fe, Mn, Ca, dan
kation lain.
Posfat yang dikonsumsi akan
dilibatkan dalam sintesis
protoplasma dasn kembali
memasuki sisitem tanah setelah
diurai oleh bakteriposfat.
Pada pH rendah posfor terfiksasi
oleh ion aluminium sedangan
pada pH tinggi terfiksasi oleh besi
(Fe).
55
Oleh karenanya ketersediaan P
selalu menjadi faktor pembatas
untuk daerah hutan hujan tropis.
Beberapa faktor yang berperan
dalam pengendalian ketersediaan
hara posfor adalah:
1. pemupukan P
2. pelapukan bahan yang
mengandung P
3. serapan akar
4. jasad renik
5. jerapan dan pencucian
Gejala kekurangan P pada
tanaman memiliki ciri-ciri sebagai
berikut:
1. Pertumbuhan lambat
2. Menguningnya daun
(terutama pada daun tua)
3. Daun berwarna hijau gelap
4. Guguir daun
5. Berbuah sedikit dan
perkembangan biji
terhambat.
Gambar 17 Defisiensi Posfor pada
daun anggur
Gambar 18 Defisiensi posfor pada
tomat
Ruang berpikir.
menurut pendapatmu
apakah setiap tanaman
yang dibudidayakan
pada daerah tropis
harus dilakukan
pemupukan P
56
Kalium
Kalium diambil tanaman dalam
bentuk inon K. Ion ini tidak
disintesa menjadi komponen
tertentu.
Tanah dapat mengandung lebih
kurang 900-1400 pound per 1 m3
tanah, akan tetapi 90-98% kalium
ini terkonsentrasi pada mineral
primer dan tidak tersedia bagi
tanaman.
Sumber utama K berasal dari
pelapukan mineral yang
mengandung K.
Kalium dalam tanah dapat
dijumpai dalam 3 kemungkinan
yaitu:
a. secara kimi terikat dalam
mineral primer tanah
b. dapat dipertukarkan
ataupun diabsorbsi
c. dalam larutan tanah
Umumnya tanah yang kandungan
tanah liatnya tinggi cenderung
untuk mengandung kalium yang
relatif tinggi juga, dibandingkan
dengan tanah berpasir dan
organik.
Hanya sekitar 1-10% dari total
kalium yang terdapat dalam tanah
dapat diambil tanaman, dan hanya
1 sampai 2% dari yang terkandung
dalam tanah yang dapat
dipertukarkan.
Gambar 19 berikut ini
memperlihatkan beberapa bentuk
kalium dalam tanah
Gambar 19. Ketersediaan K dalam
tanah
Kalium merupakan bagian penting
dalam tranlokasi gula dan
pembentukan pati.
Kandungan Kalium pada sel
tetangga juga berperan dalam
mengatur membuka dan
menutupnya stomata.
Pertumbuhan, perluasan dan
ketahanan terhadap penyakit juga
dipengaruhi oleh cukup
tersedianya hara ini.
Peningkatan ukuran dan kualitas
buah-buahan, kacang, dan sayuran
juga dipengaruhi oleh ketersedian
yang cukup dari unsur ini.
Tanaman kentang, bit gula,
ataupun wortel membutuhkan
kalium yang cukup besar untuk
membantu akumulasi karbohidrat
dan translokasi asimilat keluar
daun.
57
Pertumbuhan vegetatif pada
tanaman sayuran seperti
asparagus dan kol juga
membutuhkan kalium dalam jumlah
besar.
Gejala kekurangan kalium pada
tanaman ditandai oleh:
1. Pertumbuhan lambat
2. Ujung daun mengalami
nekrosis yang dimulai pada
daun muda.
3. batang lemah
4. buah kecil kecil
Walaupun kalium penting untuk
semua tanaman tingkat tinggi dan
rendah akan tetapi hara ini bukan
merupakan bagian penyusun tubuh
tanaman.
Kalium tidak membentuk ligand
(molekul organik kompleks) yang
terutama berfungsi sebagai
aktivator suatu enzim atau kofaktor
dari sekitar 46 enzim.
Kalium disimpan dalam jumlah
besar di vakuola.
Kalium juga berperam dalam
membantu memelihara potensial
osmotis dan pengambilan air, dan
berpengaruh positif terhadap
penutupan stomata.
Tanaman yang cukup mengandung
K hanya sedikit mengalami
kekurangan air.
Kalium juga berfungsi
menyeimbangkan muatan-muatan
anion dan mempengaruhi
penyerapan dan transportasinya.
Beberapa hasil penelitian
memperlihatkan bahwa tanaman
yang cukup mengandung kalium
dapat mengurangi berjangkitnya
penyakit (misalnya Verticillium
yang menyebabkan layu pada
kapas) dan jatuh rebah pada
tanaman.
Telah diketahui kalium berperan
dalam fotosintesis karena secara
langsung meningkatkan
pertumbuhan dan indeks luas
daun.
Tingkat kritis K dalam jaringan
tumbuhan relatif tinggi, biasanya
sekitar 1.0% atau 4 kali lipat lebih
tinggi dibandingkan titik kritis
posfor.
Hampir seluruh kalium diserap
pada fase pertumbuhan vegetatif
hanya sedikit yang ditrasfer ke
buah atau biji.
Tanaman juga membutuhkan
kalsium, magnesium, dan sulfur
untuk pertumbuhan dan
perkembangannya.
Gambar 20, dan 21 dibawah ini
memperlihatkan gejala kekurangan
kalium pada paprika, dan daun
labu.
58
Gambar 20 Gejala kekurangan
kalium pada paprika
Gambar 21. Gejala kekurangan
kalium pada daun labu
Kalsium
Umumnya tanah-tanah mineral
banyak mengandung calsium,
karena mineral yang mengandung
unsur ini pada kerak bumi cukup
banyak misalnya apatit (Ca3 (PO4)
, kalsit (CaCO3), dan dolomit
(CaCO3, MgCO3).
Kalsium merupakan unsur esensial
yang paling tidak bergerak.
Pengambilan dan transpor terjadi
secara pasif.
Dibandingkan dengan ion-ion lain
hanya sedikit ataupun tidak ada
pengangkutan di dalam floem.
Status kalsium dalam tanah
berhubungan dengan pH yang
pengaruhnya lebih besar
dibandingkan dengan pengaruh
ketersediaannya.
Kalsium diambil tanaman dalam
bentuk ion Ca++. Senyawa ini
merupakan bagian esensial dari
dinding sel.
Kalsium disimpan pada jaringan
tanaman dan tidak dapat
diremobilisasi.
Kacang tanah membutuhkan
kalsium yang tinggi untuk
perkembangan polongnya.
Pengaplikasian unsur ini melalui
daun sering digunakan petani
untuk mengurangi bercak-bercak
hitam pada buah-buahan.
Gejala defisiensi Kalsium pertama
sekali terlihat pada daun-daun
muda, sebagian daun akan
berubah bentuk dan mengalami
klorosis, sedangkan pada organ
yang lebih tua jarang teramati
gejala defisiensi. Hasil ini
memperlihatkan bahwa kalsium
tidak didistribusikan ke bagian
yang lebih muda.
59
Gambar 22 Buah apel yang
mengalami kekurangan kalsium
Gambar 22 diatas memperlihatkan
buah apel yang kekurangan
kalsium kulit buahnya lembek pada
beberapa bagian buah dan
kemudian membusuk. Oleh
karenanya jika dalam pertumbuhan
buah kekurangan hara kalsium ini
buah akan busuk.
Secara umum ciri-ciri gejala
defisiensi kalsium adalah:
1. Tip burn pada daun muda
2. Matinya titik tumbuh pada
batang juga akar
3. Gejala abnormal dari daun
(berwarna lebih gelap)
4. Mati pucuk
5. Batang lemah
6. Buah busuk
Gambar 23 mengeringnya buah
tomat akibat kekurangan kalsium
Magnesium
Magnesium tanah berasal dari
pelapukan mineral primer (yaitu
biotit, serpentin, hornblende,
dolomit, dan olivin).
Seperti kation yang lain tanaman
mengambil magnesium dalam
bentuk ion Mg++.
Klorofil yang merupakan pabrik
berlangsungnya fotosintesis
mengandung magnesium sebagai
intinya.
Unsur ini bersifat mobil dan
merupakan aktivator beberapa
enzim.
Pengambilan magnesium
dilakukan secara aktif dan pasif.
Transpor terutama terjadi di dalam
aliran tranpirasi.
60
Gambar 24 Daun jeruk yang
mengalami defisiesi magnesium
Dibandingkan dengan kalsium,
maka magnesium lebih aktif
bergerak, dan dari beberapa
penelitian diketahui bahwa unsur
ini banyak terdapat pada pembuluh
floem (transpor aktif).
Gejala defisiensi magnesium:
1. Menguningnya tulang daun
tertama pada daun tua
2. Keriting pada tepi daun
3. Kuning sepanjang tulang
daun.
5.1.1.2. Unsur Hara Mikro
Mikronutrien dibutuhkan tanaman
dalam jumlah kecil. Yang
termasuk kedalam kelompok
mikronutrien ini adalah zinkum,
besi, mangan, kuprum, boron,
molibdenum, klor dan nikel.
Zinkum
Gejala kekurangan
1. Menurunnya pertumbuhan,
batang menjadi berbentuk
roset
2. Terhalangnya pembentukan
buah
3. Klorosis pada intervenal
daun
4. Dieback
Besi
Besi menyusun sekitar 5% dari
kerak bumi dan umumnya dijumpai
dalam tanah. Besi berasal dari
mineral primer ferro-magnesium
silikat.
Pada tanah yang drainasenya jelek
bentuk besi tereduksi (ferro= Fe2+)
meningkat, bahkan sampai
ketingkat beracun.
Kondisi inilah yang perlu menjadi
pertimbangan sistem pengairan
pada budidaya padi sawah.
Diambil tanaman dalam bentuk ion
Fe++, dan dibutuhkan untuk
pembentukan klorofil. Defisiensi
Fe dapat terjadi pada tanah yang
mempunyai pH tinggi.
61
Gejala kekurangan unsur ini pada
tanaman adalah:
1. Klorosis pada interveinal
2. Dalam beberapa kasus
ranting mati
Gambar 25 Defisiensi besi pada
daun bunga rose
Pada Gambar 25 dapat dilihat
bahwa gejala kekurangan besi ini
akan mengakibatkan daun
tanaman menguning, karena
gagalnya membentuk butir hijau
daun.
Gambar 26 Defisiensi besi pada
rerumputan
Gambar 27 Defisiensi besi pada
daun jeruk
Pada Gambar 27 dapat dilihat
menguningnya daun jeruk pada
daun nomor 2 dan 3 sebagai akibat
kekurangan besi.
Mangan
Mangan merupakan aktivator
beberapa enzim, dan juga
berperan dalam pembentukan
klorofil.
Mangan juga mengaktifkan asam
indolasetat oksidase (IAA) dalam
jaringan tanaman seperti Fe.
Mn juga relatif tidak bergerak dan
teristimewa ditranslokasikan ke
jaringan muda atau meristimatik.
Gajala kekurangan:
1. Klorosisi pada daun muda
2. Penguningan secara
gradasi
62
Gambar 28 Gejala defisiensi
mangan
Kuprum
Merupakan aktivator dari beberapa
enzim, dan memegang peranan
penting pada produksi vitamin A.
Gejala kekurangan hara cuprum
adalah:
1. pertumbuhan kerdil
2. mati pada pucuk terminal
3. hipo pikmentasi
4. mati dan keriting pada
ujung daun
Boron
Boron terdapat dalam tanah pada
tingkatan yang sangat rendah
sebagai asam borat (HBO3) dan
diabsorbsi oleh partikel tanah
sebagai borat
Pengambilan B diperkirakan
sebagai asam borat yang tidak
berdissosiasi, tampaknya terutama
pasif melalui aliran transpirasi.
Gambar 29 Gejala defisiensi boron
pada daun anggur
Gambar 30 Gejala toksisitas boron
pada daun tomat
63
Boron mempengaruhi
perkembangan sel dan
mengendalikan transpor gula dan
pembentukan polisakarida.
Fungsi lainnya selalu dikaitkan
dengan sisi aktif fosforilasi untuk
menghambat pembentukan pati
yang mencegah polimerisasi gula.
Dari beberapa hasil penelitian
boron merupakan unsur tidak
mobil.
Gejala kekurangan:
1. Matinya pucuk
2. Klorosis pada daun
3. Bintik kuning pada buah
atau umbi
4. menurunnya pembungaan
atau kegagalan polinasi
Molibdenum
Molibdenun diabsorbsi tanaman
dalam bentuk ion molibdat atau
MoO4
2-.
Ion ini digunakan dalam proses
transformasi senyawa nitrogen.
Perubahan nitrogen nitrat kedalam
asam amino dilakukan oleh enzim
nitrat reduktase yang
pembentukannya membutuhkan
molibdenum.
Konsentrasi yang tinggi dari unsur
ini pada pakan ternak dapat
menyebabkan keracunan ternak.
Gambar 31 Gejala defisiensi
molibdenum
Gejala kekurangan molebdenum
hampir sama dengan gejala
kekurangan nitrogen, hal ini
disebabkan hara molibdenum ini
berfungsi sebagai
transfer/pmbentukan senyawa N
(Gambar 31).
Gagalnya pembentukan senyawa
N pada tanaman yang kekurangan
Mo, menyebabkan terhambatnya
pertumbuhan vegetatif tanaman
tanaman menjadi kerdil.
Gejala kekurangan molibdenum
adalah sebagai berikut:
1. Pertumbuhan terhambat, pada
tanaman kekurangannya selalu
memberikan indikasi
kekurangan hara N, sebab ion
ini berperan dalam proses
konversi dan pembentukan
senyawa N.
2. Menggulungnya daun
3. Gugurnya bakal bunga
4. Bintik kuning pada jeruk
64
Klor
Klor diambil tanaman dalam bentuk
ion klorida (ion Cl-). Ion ini
dibutuhkan dalam reaksi
fotosintesis dan pengaturan
potensial turgor sel tanaman.
Umumnya gejala defisiensi Cl
jarang terjadi pada tanaman, yang
umum adalah gejala toksisitas.
Nikel
Nikel diabsorbsi tanaman dalam
bentuk kation divalen (Ni++). Nikel
merupakan bagian dari enzim
urease, yang berperan dalam
konversi amonia urea jaringan
tanaman, oleh karenanya ion ini
dibutuhkan dalam proses
metabolisme nitrogen.
Nikel dibutuhkan tanaman dalam
jumlah relatif sedikit. Konsentrasi
kritis pada tanaman sekitar 0.1
ppm.
Gejala defisiensi adalah:
– Klorosis pada daun muda
– Matinya titik tumbuh
Gambar 32 Daun yang mengalami
keracunan klor
5.1. 2.Keseimbangan hara
Keseimbangan hara untuk
pertumbuhan optimum tanaman.
Kelebihan dan kekurangan
menyebabkan efek negatif pada
tanaman.
Misalnya kelebihan magnesium
pada tanah dapat menghambat
pengambilan kalium.
Rendahnya pemberian fosfor dapat
menginduksi defisiensi zinkum.
Pemeliharaan keseimbangan hara
dalam tanah merupakan faktor
penting dari tujuan perbaikan
pertumbuhan dan perkembangan
tanaman.
Manajemen hara menjadikan tidak
budidaya tanaman menjadi lebih
ekonomis, efisiensi, dan tidak
merusak lingkungan.
5.1.3. Analisis kebutuhan
hara
Gejala keracunan dari pemberian
pupuk maupun pestisida dapat
menyebabkan terhambatnya
pertumbuhan perakaran tanaman.
Untuk menghindari kesalahan
dalam aplikasi pemberian kedua
bahan kimia tersebut dibutuhkan
analisa seberapa besar kebutuhan
satu unsur yang mendukung
pertumbuhan tanaman.
Analisa kesuburan tanah dan
analisa daun selalu digunakan
untuk memverifikasi defisiensi hara
atau gejala keracunan.
65
Analisis ini merupakan alternatif
terbaik dalam memprediksii
kebutuhan hara tanaman sebelum
tanaman mengalamii cekaman
(toksisitas) ataupun defisiensi.
Analisis tanah dan jaringan tanam
keduanya akan memberikan
alternatif untuk mengatasi kendala
keterbatasan media tumbuh
tanaman. Informasi yang lengkap
ini akan mengurangi kegagalan
panen pada budidaya yang
dilakukan.
Analisis jaringan tanaman akan
memberikan informasi status hara
pada tanah dan tanaman.
Keberhasilan dari analisa tanah
dan jaringan tanaman sangat
tergantung pada:
1. Metode pengumpulan dan
sampel yang representatif
2. Analisis yang akurat
3. Kebenaran interpretasi
hasil analisis
5.1.3.1. Analisis tanah
Gambar 33 dibawah ini diberikan
tahapan dari proses analisis tanah
Diawali dengan proses
pengambilan sampel tanah yang
mewakili.
Tanah yang diambil adalah tanah
yang akan digunakan sebagai
media tumbuh tanaman.
Untuk akurasi umumnya
dibutuhkan lebih kurang setengah
kilogram tanah per satu titik
sampel.
Gambar 33 Tahapan proses
analisis tanah
Tanah yang diambil bersifat
heterogen, tidak tertumpu pada
satu bagian saja dari hamparan
tanah yang tersedia.
Untuk menghasilkan data yang
akurat umumnya dibutuhkan lebih
kuran 20 titik sampel per satu
hektar lahan.
Kemudian 10 sampel tanah
dijadikan satu dan sepuluh lainnya
pada kelompok kedua.
Perlu diketahui hasil analis tanah
ini tidak mengukur hara yang
tersedia untuk tanaman akan tetapi
merupakan indeks dari sejumlah
hara dalam tanah
5.1.1.2. Analisis jaringan
tanaman
Analisis tanaman dimulai dengan
melakukan pengumpulan sampel
yang mewakili.
66
Pengelompokan sampel tanaman
dilakukan berdasarkan spesies,
fase pertumbuhan tanaman, dan
dalam bentuk apa ion hara yang
akan diamati
Untuk lebih jelasnya prosedur kera
dari analisis tanaman dapat
diperhatikan Gambar 34 dibawah
ini.
Gambar 34 Tahapan proses
analisis jaringan tanaman
Umumnya kandungan hara dalam
tanaman berfluktuasi sejalan
dengan fase pertumbuhannya.
Kandungan hara lebih kecil pada
tanaman yang tua, dan bervariasi
diantara bagian-bagian tanaman.
Misalnya jaringan reproduksi
umumnya memiliki konsentrasi
posfor yang lebih tinggi
dibandingkan dengan jaringan
vegetatif.
Analisis jaringan sangat menolong
kita untuk lebih memahami kondisi
pertanaman kita.
Sampel yang diambil merupakan
sampel yang berasal dari dua areal
yang berbeda, satu areal dimana
tanaman dapat tumbuh normal dan
satu lagi pada daerah yang
mengalami gejala
5.2. Tanah sebagai
Penyedia Hara
Media pertumbuhan tanaman yang
umum adalah tanah, tanah
mengandung mineral kompleks
yang berasal dari dekomposisi
bahan induk tanah dan bahan
organik.
Ada 4 komponen penting dari
tanah yaitu:
1. bahan mineral tanah
2. bahan organik
3. air tanah
4. udara tanah
Kombinasi kempat faktor akan
menghasilkan jenis tanah yang
berbeda. Komposisi yang paling
baik dari tanah adalah dengan
perbandingan yang cukup
seimbang diantara keempat
komponen.
5.2.1.Proses pembentukan
tanah
Perkembangan pembentukan
tanah merupakan proses
67
gabungan antara proses fisika dan
kimia serta diikuti aktivitas biologi
untuk merombak bahan induk
tanah.
Faktor yang mempengaruhi
pembentukan tanah adalah:
1. Bahan induk tanah
Tanah terbentuk dari peahanpecahan
batuan induk yang
berlangsung terus menerus akibat
faktor-faktor lingkungan.
Pecahan bahan induk tersebut
berlangsung akibat pelapukan dan
penghancuran melalui proses
fisika, kimia, dan biologi.
Pelapukan kimia meliputi
perubahan kimia dari bahan induk
melalui berbagai proses oksidasi,
hidrolisa, karbonisasi dan
sebagainya. Proses biologi
berlangsung akibat eksudat-ksudat
mikroba tanah dan akar tanaman
serta manussia dengan berbagai
aktivitasnya.
Kandungan hara yang dikandung
tanah tergantung dari bahan induk
tanahnya.
2. iklim.
Temperatur dan kelembaban tanah
adalah dua faktor utama dalam
proses pembentukan tanah.
Kinetika reaksi kimia tanah
dipengaruhi oleh temperatur.
Perubahan temperatur akan
berpengaruh terhadap kandungan
kelembaban tanah.
Hubungan suhu dengan
kelembaban tanah ini berbanding
terbalik, yang artinya semakin
tinggi suhu maka kelembaban
tanah semakin rendah.
Laju reaksi kimia tanah dapat
meningkat sebesar 2 sampai 3 kali
lipat jika suhu naik sebesar 100C.
Karena dekomposisi hanya aktif
jika tersedia air, maka tanah
dengan curah hujan tinggi akan
mengalami laju dekomposisi yang
cepat juga. Intensitas curah hujan
yang tinggi ini juga akan
mengakibatkan pencucuian hara
yang telah terdekomposisi tadi.
Pada daerah tropis dengan curah
hujan dan suhu yang tinggi
menjadikan tanah-tanah daerah ini
berwarna merah kekuningan
sebagai ciri tanah yang banyak
mengandung mineral besi oksida.
3. Makhluk hidup
Aktivitas mikro/makro flora dan
fauna tanah mempengaruhi proses
pembentukan tanah.
Organisme makro flora dan fauna
lebih mempengaruhi proses
pembentukan tanah melalui rekasi
mekanis, sedang organisme mikro
lebih berperan pada peristiwa kimia
dan biologi.
Mikro flora dan fauna tanah terjalin
menjadi satu sehingga sukar
dibedakan penguraian yang
dilakukan oleh fauna maupun flora
tanah.
68
Akan tetapi yang perlu diingat
adalah makhluk hidup ini berperan
dalam proses pembentukan tanah.
4. Topografi
Pada tanah miring atau tanah yang
agak kedap air, sejumlah besar air
yang jatuh diatasnya hilang karena
aliran permukaan.
Hal ini akan mengakibatkan dua
hal yaitu (1) kehilangan air yang
seharusnya masuk ke dalam tanah
dan (2) hilangnya tanah akibat
aliran air yang terlalu cepat.
Ketidaktersediaan air pada
tanah dengan topografi
miring ini akan
menghambat proses fisis,
kimia, dan biologi
pembentukan tanah.
5. Waktu
Karena proses pembentukan tanah
ini berlangsung lambat, maka
dibutuhkan sekitar seratus atau
seribu tahun untuk pembentukan
tanah dari bahn induknya.
Gambar 35 Perbandingan
volumetrik dari komposisi tanah
5.2.2. Profil tanah
Irisan melintang dari tanah disebut
profil tanah. Penampang lintang
tanah dapat kita lihat dari gambar
dibawah ini.
Horizon A adalah bagian
permukaan tanah yang paling
dipengaruhi oleh aktivitas makhluk
hidup dan iklim
Horizon B merupan horizon
akumulasi dari beberapa material
hasil pencucian dari horizon A
Akumulasi ini di sebut juga
illuviation.
Bahan induk (Horizon C),
merupalan lapisan terakhir.
Gambar 36 Penampang melintang
tanah
Faktor iklim merupakan faktor yang
paling menentukan dalam
perkembangan profil tanah, oleh
karenanya karakteristik umum
suatu tanah sangat tergantung
pada perubahan kondisi iklimnya.
69
Profil tanah merupakan bagian
penting bagi pertumbuhan
tanaman.
Kedalaman, tekstur dan struktur
tanah serta sifat kimia merupakan
syarat mutlak bagi media tumbuh
tanaman
5.2.3. Tekstur dan Struktur
Tanah
Tanah terdiri dari partikel-partikel
dengan beberapa ukuran.
Partikel mineral dibagi atas tiga
kelompok yaitu:
a. lempung
b. liat
c. pasir.
Struktur tanah
Partikel-partikel tanah dapat
dipisahkan lagi menjadi agregartagregat
tanah, group, atau
kelompok.
Ada 4 tipe agregat tanah, yaitu:
– granular
– prismatik
– balok,
– lempeng.
Gambar 37 Tipe agregat tanah
Pada Gambar 37 memperlihatkan
4 tipe agregat tanah yaitu granular
(no 1), balok (no.2) prismatik
(no.3), dan lempeng (no.4)
5.2.4.Kimia Tanah
5.2.4.1.Reaksi tanah
Raksi tanah digolongkan menjadi
dua yaitu reaksi netral, alkalin, dan
masam. Reaksi tanah
mempengaruhi ketersediaan hara
dan adanya unsur-unsur yang
beracun.
Reaksi tanah yang banyak
mengandung ion H+ dari pada OH
lebih bersifat masam, kebalikannya
dapat terjadi yaitu jumlah ion OH
lebih banyak dan disebut reaksi
alkalin. Jika konsentrasi ion H dan
ion OH sama maka reaksi
tanahnya netral.
Suatu tanah dikatak masam jika pH
kurang dari 7, netral bila pH sama
dengan 7, dan alkalin (basa) jika
pH lebih dari 7.
Dalam budidaya tanaman
pengetahuan mengenai adanya
unsur yang beracun lebih penting
dibandingkan dengan ketersediaan
hara itu sendiri, karena umumnya
tanaman lebih beradaptasi dengan
kondisi keterbatasan hara dari
pada efek beracun dari hara
tersebut.
Tanah masam dicirikan oleh
tingginya konsentrasi ion H+ .
Keberadaan ion hidrogen dalam
larutan tanah akan mempengaruhi
serapan hara dan pengaruh tidak
70
langsungnya terhadap
ketersediaan hara.
Beberapa unsur hara berkurang
bila pH dinaikkan misalnya besi,
mangan dan seng, sedangkan
molibdenun berkurang
ketersediaannya jika pH
diturunkan.
5.2.4.2.Kapasitas tukar kation
tanah
Kapasitas tukar kation
mencerminkan berapa banyaknya
kation yang dapat dipertukarkan
pada kompleks absorbsi tanah.
Jumlah bahan organik, tipe tanah,
dan jumlah mineral liat,
menentukan kapasitas tukar kation
pada kompleks absorpsi
Pertukaran kation dalam tanah
merupakan bagian penting dalam
proses masuknya hara ke dalam
tubuh tanaman.
Kemampuan nilai tukar kation yang
tinggi mencerminkan nilai
kesuburan tanah.
Perbandingan antara basa-basa
dengan kapasitas tukar kation yang
dinyatakan dalam persen (%)
disebut dengan kejenuhan basa.
Secara skematik perbandingan
antara basa-basa dangan
kapasitas tukar kation seperti
dibawah ini.
Semakin tinggi kejenuhan basa
berarti semakin tinggi kapasitas
tukar kation dan semakin rendah
jumlah ion H+ yang ada di
kompleks tanah.
Kapasitas tukar kation merupakan
indikator penting dari pengujian
kesuburan dan potensial
produktivitas tanah.
Kapasitas tukar kation
mencerminkan berapa banyaknya
kation yang dapat dipertukarkan
pada kompleks absorbsi tanah
Partikel liat dan bahan organik
tanah merupakan permukaan
mineral liat tanah yang mengikat
ion
Jumlah bahan organik, tipe tanah,
dan jumlah mineral liat
menentukan kapasitas tukar kation
pada kompleks absorpsi dan akan
mempengaruhi pergerakan hara
dari tanah ke akar tanaman.
Semakin tinggi kapasitas tukar
kation semakin tinggi kemampuan
kompleks absorpsi tanah untuk
mengikat kation-kation.
Kemampuan nilai tukar kation yang
tinggi mencerminkan nilai
kesuburan tanah.
Kation-kation yang memegang
peranan penting adalah kalsium,
magnesium, kalium, natrium,
amonium dan hidrogen. Empat
kation ini (Ca, Mg, K, dan Na)
merupakan nutrien penting untuk
pertumbuhan dan perkembangan
tanaman.
71
Faktor yang mempengaruhi
kapasitas tukar kation adalah
tekstur tanah.
Makin halus tekstur tanah makin
tinggi KTK nya. Pasir dan lempung
berpasir sedikit mengandung liat
koloid dan juga miskin bahan
organik dan humus, sebaliknya
tanah bertekstur halus
mengandung lebih banyak liat dan
juga humus. Dengan demikian
tanah halus ini mempunyai KTK
lebih tinggi dibandingkan tanah
pasir.
Nilai tukar kation tanah terdapat
didalam fraksi liat dan fraksi bahan
organisme. Liat merupakan misel
yang bermuatan negatif dan
pengikatan kation tidak mantap
seperti kation H+, Ca++, Mg++, K+,
dan Na+.
Derajat kejenuhan koloidal misel
tanah merupakan ukuran penting
bagi kesuburan tanah.
Pertukaran kation merupakan
reaksi yang terkadi pada bidang
jerap tanah dengan ilustrasi
gambar 37 berikut.
Sebagai ilustrasi kita ambil contoh
tanah mineral dengan Ca terjerap.
Tanah dalam keadaan optimum air
dan suhunya. Di dalam tanah
terdapat asam karbonat dan
organik yang berasal dari
perombakan makhluk hidup.
Melalui reaksi hidrolisa senyawa
asam tadi diuraikan menjadi H+
dan sisa asam-.
Ion hidrogen yang terbentuk
bekerja untuk menggantikan ion
kalsium yang berada pada
kompleks jerapan tanah.
Pertukaran ini terjadi disebabkan
oleh aksi massa dan karena ion
hidrogen diikat lebih kuat oleh
kempleks jerapan tanah
dibandingkan dengan kalsium.
Reaksi tersebut dapat dilukiskan
melalui reaksi sederhana dibawah
ini.
Reaksi ini berlangsung secara
ekivalen
Jika ion H dalam larutan tanah
menurun sedangkan ion Ca
mengalami peningkatan (sebagai
akibat dari pengapuran)reaksi akan
beralih kekiri.
Sebaliknya jika ion hidrogen
bertambah, sedangkan ion kalsium
berkurang, maka reaksi akan ke
kanan.
Tanah sangat dinamik, sehingga
reaksi kesetimbangan akan selalu
terjadi dalam tanah sesuai
perubahan keadaan.
Pada daerah yang curah hujan
tinggi, ion hidrogen banyak
memasuki kompleks jerapan tanah,
sedangkan ion kalsium keluar dari
kompleks tersebut, masuk ke
dalam larutan tanah.
72
Reaksi pertukaran kation diatas
melukiskan pertukaran kation yang
terjadi dalam tanah daerah humid.
Curah hujan yang tinggi akan
mengakibatkan tercucinya ion yang
dibutuhkan tanam.
Pengapuran dan pemupukan akan
membuat kesetimbangan reaksi
akan berbalik arah, yang
mengakibatkan lebih sedikit ion
hidrogen yang berada pada
jerapan tanah dan terjadi kenaikan
pH.
Kalium yang berasal dari pupuk
yang kemudian terjerap merupakan
unsur hara yang tersedia bagi
tanaman.
Oleh karenanya pertukaran kation
ini berguna bagi penyediaan unsur
hara bagi tanaman.
Gambar 38 Ilustrasi skematik dari
pertukaran kation antara
permukaan negative dari
partikel liat dan larutan tanah
5.3. Bahan organik tanah
Bahan organik tanah adalah
komponen utama dalam penentuan
tinggi rendahnya produktivitas dan
kesuburan tanah.
Kandungan bahan organik berkisar
antara 20 sampai 30 persen,
bergantung pada tekstur dan fraksi
mineral tanah.
Kurangnya bahan organik akan
mengurangi kation-kation yang
dapat dipertukarkan oleh karena itu
kesuburannya rendah.
Beberapa manfaat dari bahan
organik tanah adalah:
1. menjaga kestabilan agregat
tanah
2. Meningkatkan ketersediaan
tata udara dan infiltrasi
73
3. Meningkatkan kapasitas
daya ikat tanah terhadap
air
4. Sebagai buffer dalam
perubahan pH tanah
5. Menyediakan berbagai
sumber hara makro dan
mikro untuk kebutuhan
tanaman
6. Menyediakan bahan
makanan untuk
mikroorganisme tanah.
Bahan organik tanah berasal dari
residu tubuh tumbuhan dan hewan
yang telah mengalami berbagai
proses perombakan. Perombakan
ini akan menghasilkan tiga
komponen utama yaitu
polisakarida, lognin dan protein.
Polisakarida terdiri dari selulosa,
hemiselulosa, gula, pati dan pektin.
Lignin adalah kompleks material
yang berasal dari jaringan kayu
tumbuhan.
Senyawa-senyawa yang terdapat
dalam tumbuhan dapat
diklasifikasikan menurut tingkat
mudah tidaknya senyawa tersebut
didekomposisikan. Pembagian
tersebut tertera pada Tabel 1
dibawah ini.
Diantara senyawa-senyawa
tersebut diatas protein kasar
merupakan senyawa yang paling
kompleks karena mengandung
karbon, hidrogen, oksigen,
nitrogen, fosfor, besi, belerang dan
beberapa unsur lainnya.
Tabel 1. Tingkatan mudah tidaknya
jaringan organisme didekomposisi
Senyawa
organik
Total
persentase
bahan
organik
Laju
dekom
posisi
gula, pati,
protein
sederhana
1-5
protein
kasar
5-20
Hemi
selulosa
10-25
selulosa 30-50
Lignin,
lemak, lilin
10-30
Cepat
Sangat
lambat
5.4. Evaluasi
1. Sebutkan 15 unsur
esensial yang
dibutuhkan tanaman
2. Mengapa pemupukan
yang dilakukan pada
tanaman dilakukan pada
akhir musim hujan atau
pada awal musim
kemarau
3. Gejala kekurangan
kalsium selalu kelihatan
pada daun muda,
jeleskan jawabanmu
74
4. Usaha apa yang
perlu dilakukan untuk
mengatasi fluktuasi
suhu tanah yang
relatif tinggi
5. Pemupukan yang
melebihi dosis akan
mengakibatkan
menguningnya daun
tanaman, mengapa
dapat terjadi
demikian

75
BAB VI
PUPUK DAN
PENGELOLAAN PUPUK
6.1. Pengenalan pupuk
Penggunaan pupuk pada tanah
pertanian dimulai bersamaan
dengan sejarah pertanian itu sendiri.
Pengunaan senyawa-senyawa kimia
untuk memperoleh pertumbuhan
tanaman yang baik baru dimulai
kurang lebih seratus tahun yang lalu.
Namun sekarang senyawa-senyawa
kimia tersebut merupakan
keharusan ekonomi bagi
kebanyakan tanah.
Kaidah yang harus dipatuhi
dalam aplikasi pupuk
Penggunaan senyawa kimia ini
dalam meningkatkan pertumbuhan
dan perkembangan harus
dilakukan mengikuti kaedah
kesehatan dan keselamatan kerja.
Bahaya bahan kimia yang
terkandung dalam pupuk
sebenarnya tergantung dari si
pemakainya. Bila pemakai nya
menggunakan secara baik, tepat
dan benar tentu saja tidak
berbahaya. Dan sebaliknya,
penggunaan dosis yang berlebihan
tanpa pertimbangan disertai aplikasi
yang tidak memberikan
perlindungan telah memperpanjang
sisi negatif pupuk itu sendiri. Tidak
sedikit kasus yang terjadi pada
petani seperti sesak nafas,
gangguan pencernaan, keracunan
dan berbagai kasus lainnya.
Disadari atau tidak, pengetahuan
yang minim dari pemakai pupuk
yang mengandung amonia (NH3
+)
dalam hal ini para petani secara
langsung maupun tidak membuat
aplikasi pupuk amonia menjadi
membahayakan dan memberikan
efek samping bagi penggunanya.
Padahal bila kita melakukan aplikasi
sesuai prosedur menurut dosis,
takaran dan petunjuk, maka kasuskasus
tersebut dapat diminimalisir.
Hal-hal yang perlu diperhatikan
sebelum menggunakan pupuk
adalah:
1. Kenali sifat bahan kimia yang
terkandung didalam pupuk
tersebut
2. tingkat kadar racun pada
setiap pupuk berbeda dari
yang paling rendah hingga
paling tinggi. Tinggi
rendahnya racun bisa dilihat
dari etiket yang tertera di
label kemasan pupuk.
3. Sebagai bahan kimia, racun
tersebut dapat masuk
kedalam tubuh manusia
melalui 3 cara yaitu melalui
kulit, mulut dan paru-paru.
Untuk itulah setiap
pengguna pestisida wajib
menggunakan topeng
muka, masker hidung,
sarung tangan, celemek dan
sepatu boot karet agar
pestisida tersebut tidak
masuk ke tubuh kita
6.1.1. Unsur-unsur pupuk
Untuk pertumbuhan yang normal
tanaman sedikitnya membutuhkan
16 unsur hara esensial yakni C, H,
O, yang diperoleh tanaman dari air
dan udara, unsur hara makro
76
N,P,K,Ca, Mg, S dan unsur mikro
Fe, Zn, Mn, Cu, Cl, B, dan Mo.
Hara Ca dan Mg diberikan tanaman
dalam bentuk kapur, walaupun tidak
dianggap pupuk kapur mempunyai
peranan penting sebagai sumber
hara Ca dan Mg.
Selain itu kapur mempunyai fungsi
utama yakni dapat menaikkan pH
tanah-tanah yang bereaksi masam,
meningkatkan ketersediaan P dan
mencegah keracunan besi dan
aluminium.
Unsur belerang banyak dijumpai
dalam bentuk pupuk buatan,
sehingga pemupukan belerang
jarang dilakukan, hal ini bukan
berarti belerang tidak penting untuk
pertumbuhan tanaman.
Belerang dijumpai dalam berbagai
pupuk dan pengaruhnya dianggap
penting. Akan tetapi secara hara ia
tidak kritis, oleh karena itu sering
tidak dianggap begitu penting.
Kecuali unsur hara mikro, tinggal
tiga unsur nitrogen, posfor dan
kalium, dan karena ketiga unsur ini
sering ditambahkan sebagai pupuk,
maka sering disebut sebagai unsur
pupuk
6.1.2. Klasifikasi pupuk
Untuk mengenal dan mengetahui
sifat-sifat, jenis dan macam pupuk
perlu dilakukan penggolongan atau
klasifikasi pupuk dengan dasar yang
berbeda-beda.
§ Berdasarkan sumbernya atau
terjadinya pupuk, pupuk
diklasifikasikan menjadi pupuk
alam dan pupuk buatan
§ Berdasarkan senyawa
kimianya pupuk diklasifikasikan
menjadi pupuk organik dan
pupuk anorganik
§ Berdasarkan kandungan
arañilla pupuk diklasifikasikan
menjadi pupuk tunggal dan
pupuk majemuk
§ Berdasarkan reaksinya di
dalam tanah, pupuk
diklasifikasikan menjadi pupuk
masam, pupuk basa dan
pupuk netral.
§ Berdasarkan bentuknya pupuk
diklasifikasikann menjadi
bentuk padat dan pupuk cair.
6.1.2.1. Pupuk berdasarkan
sumber atau cara terbentuknya
Pupuk alam adalah yang terjadi
secara alami di alam tanpa buatan
manusia atau melalui proses industri
atau pabrikan.
Pupuk alam selalu disamakan
dengan pupuk organik, karena
kebanyakan pupuk alam itu terdiri
dari senyawa organik.
Tetapi sebenarnya pupuk alam itu
tidak semuanya organik, misalnya
pupuk posfat alam yang kandungan
senyawanya anorganik .
Beberapa contoh pupuk alam
adalah guano, pupuk kandang,
pupuk hijau, night soil, dan tepung
tulang
77
Pupuk buatan
Pupuk buatan merupakan pupuk
yang dibuat oleh pabrik dengan
kandungan unsur hara tertentu.
Pada umumnya kandungan hara
nya lebih tinggi, mudah larut dan
cepat diserap oleh akar tanaman.
Alasan inilah yang membuat pupuk
ini banyak digunakan.
Akan tetapi pupuk ini mempunyai
kelemahan jika penggunaannya
berlebihan akan mengakibatkan
kerusakan lingkungan dan tanaman.
Selain itu pupuk ini tidak
mengandung hara mikro dan hanya
mengandung unsur hara tertentu
saja misalnya N. Contohnya urea
hanya mengandung hara nitrogen
saja.
6.1.2.2 Pupuk berdasarkan
senyawa kimianya
Pupuk organik dan anorganik adalah
penggolongan pupuk berdasarkan
sifat kimianya.
Pupuk organik adalah pupuk dengan
senyawa organik, yang merupakan
hasil pelapukan bahan-bahan
organik dan biasanya mempunyai
kandungan hara yang rendah.
Pupuk organik dipakai kerena ia
secara lambat dan graduil
membebaskan N sepanjang musim.
Pupuk ini juga membantu untuk
mempertahankan keadaan fisik
pupuk yang baik bila dicampurkan
dengan pupuk lain, sehingga
memudahkan penyebaranya.
Pupuk anorganik
Pupuk anorganik adalah pupuk yang
mempunyai senyawa kimia
anorganik. Contoh pupuk anorganik
adalah ZA (NH4)2SO4.
Pupuk berdasarkan kandungan
haranya digolongkan atas pupuk
tunggal dan pupuk majemuk
Pupuk tunggal merupakan pupuk
yang hanya mengandung satu unsur
pupuk. Unsur pupuk tersebut ada
tiga yaitu nitrogen, posfor, dan
kalium.
Pupuk yang mengandung unsur
pupuk lebih dari satu disebut pupuk
majemuk. Pupuk majemuk yang
mengandung dua unsur saja disebut
pupuk majemuk tak lengkap,
sedangkan jika mengandung
ketiganya (N, P, dan K) disebut
pupuk majemuk lengkap.
6.1.2.3 Pupuk berdasarkan
reaksinya
Pupuk yang diberikan ke tanah akan
mempengaruhi sifat reaksi tanah.
Pupuk dapat menurunkan pH
disebut pupuk asam, sedangkan
pupuk yang dapat menaikkan pH
disebut pupuk basa, dan ada juga
pupuk yang bereaksi netral.
6.1.2.4. Pupuk berdasarkan
bentuknya
Berdasarkan bentuknya pupuk
dibedakan atas pupuk padat dan
pupuk cair.
Untuk pupuk padat dapat dibagi lagi
berdasarkan ukurannya seperti
78
serbuk, kristal, butiran (granular)
pelet, tablet atau khelat.
Pupuk padat dapat diaplikasikan
melalui tanah atau daun, dengan
memperhatikan hal berikut: jika
pupuk tersebut mudah larut dalam
air, maka pemberiannya dapat
dilakukan melalui daun atau
sebaliknya. Salah satu contoh pupuk
yang mudah larut dalam air adalah
urea.
Pupuk cair terbagi dua yaitu pupuk
yang berbentuk cairan ataupun
pupuk padat yang mudah larut
dalam air.
Pupuk padat yang mudah larut
dalam air disebut pupuk solution
fertilizer.
6.2. Pupuk buatan
Pupuk jenis ini mengandung unsur
hara tertentu dan umumnya
mempunyai kandungan hara yang
tinggi.
6.2.1 Sifat umum pupuk buatan
Nilai suatu pupuk buatan ditentukan
oleh sifat-sifatnya, yang harus
diketahui nilai suaatu pupuk adalah:
– Kadar unsur pupuk
– Kelarutan pupuk
– Kemasaman pupuk
– Higroskopisitas
– Bekerjanya pupuk
– Indeks garam
6.2.1.1. Kadar unsur pupuk
Banyaknya unsur hara yang
dikandung oleh sutatu pupuk
merupakan faktor penentu utama
untuk menilai pupuk tersebut,
karena jumlah unsur hara
menentukan kemampuannya untuk
menaikkan kandungan hara tanah.
Kadar unsur hara dinyatakan dalam
persen N, persen P2O5, dan persen
K2O. Misalnya pupuk urea 45%
artinya dalam setiap 100 kg pupuk
urea mengandung 45 kg N.
6.2.1.2. Kelarutan pupuk
Kelarutan pupuk menyatakan mudah
tidaknya suatu pupuk larut dalam air,
dan diserap akar tanaman.
Sifat kelarutan pupuk perlu diketahui
dalam hal:
– Penentuan atau pemilihan
metode cara pemupukan
– Waktu pemupukan
– Penggunaan pupuk dan
untuk jenis tanaman apa.
Misalnya pupuk yang bersifat mudah
larut dapat diaplikasikan pada saat
tanam atau setelah tanaman
tumbuh, dan pupuk ini sesuai untuk
jenis tanaman semusim
Pupuk yang tidak mudah larut dapat
disebar dilapang pada waktu
sebelum tanam dan sesuai untuk
tanaman tahunan.
79
6.2.1.3. Kemasaman pupuk
Reaksi fisiologis pupuk yang
diberikan ke tanah dapat bersifat
masam, alkalis atau netral.
Sifat kemasaman pupuk dinyatakan
dengan nilai ekivalen kemasaman,
yang artinya berapa jumlah Kg kapur
(CaCO3) yang diperlukan untuk
meniadakan kemasaman yang
disebabkan oleh penggunaan 100
Kg suatu jenis pupuk.
Misalnya pupuk ZA dengan ekivalen
110, artinya untuk menghilangkan
kemasaman yang disebabkan oleh
penggunaan 100 Kg ZA perlu
ditambahkan sebanyak 110 Kg
kapur.
Dengan mengetahui sifat
kemasaman pupuk kita akan
menggunakan pupuk yang bersifat
alkalis untuk tanah-tanah masam,
atau sebaliknya.
6.2.1.4. Higroskopisitas pupuk
Higroskopisitas adala sifat mudah
tidaknya pupuk bereaksi dengan uap
air.
Pupuk yang higroskopis kurang baik
karena mudah menjadi basah atau
mencair bila tidak tertutup.
Walaupun pada kondisi kelembaban
udara rendah pupuk ini dapat
kembali kering, tetapi menjadi
bongkahan yang keras.
Umumnya untuk mengurangi sifat
higroskopisnya pupuk ini dibuat
dalam bentuk butiran, untuk
mengurangi bidang sentuh dengan
uap air.
6.2.1.5. Cara bekerjanya pupuk
Bekerjanya pupuk adalah waktu
yang diperlukan sejak saat
pemberian pupuk hingga pupuk
tersebut dapat diserap tanaman.
6.2.1.6. Indeks garam
Pemupukan dapat meningkatan
konsentrasi garam di dalam larutan
tanah.
Indeks garam merupakan gambaran
perbandingan kenaikan tekanan
osmotik karena penambahan 100 g
pupuk dengan kenaikan tekanan
osmotik karena penambahan 100 g
NaNO3.
Sifat ini penting diketahui untuk
menentukan penempatan pupuk
yang tepat.
Misalnya dosis urea per Ha =
Sedangkan ZA
Indeks garam 107 Urea
Indeks garam 236 ZA
80
Berdasarkan indeks garam diatas
maka pupuk yang dipilih adalah urea
(80.7) karena indeks garamnya
lebih rendah dibandingkan dengan
ZA (162.7)
6.2.2. Pupuk nitrogen
Macam pupuk nitrogen
Pupuk N organik dan anorganik
dibedakan menjadi tiga bentuk yaitu
– bentuk organik
– bentuk anorganik
6.2.2.1. Bentuk organik
Pupuk organik, seperti sampah, sisa
ikan, ampas jarak, dan sebainya
(Tabel 2), harus mengalami
aminisasi, amonifikasi, dan nitrifikasi
sebelum nitrogennya menjadi
tersedia bagi tanaman.
Akibatnya mereka tidak seefektif
NaN3. Na4NO3 atau (NH4)2SO4, dan
tidak menghasilkan respons
tanaman yang cepat, apalagi kalau
keadaan tanah tidak menunjang
proses-proses dekomposisi tersebut.
6.2.2.2. Bentuk anorganik
Bahan–bahan yang disebut dalam
Tabel 3 mempunyai satu
persamaam, yaitu mereka dapat
dibuat dari N2 udara.
Penggunaan pupuk N yang lebih
banyak disebabkan oleh:
– Jumlah gas nitrogen yang
terdapat dalam atmosfer cukup
tersedia.
– Teknologi pembuatan pupuk N
telah begitu maju, sehingga
biaya pembuatan jauh lebih
murah dari pada pupuk P dan K.
Disamping itu, cara pembuatan
yang dipakai sekarang
memungkinkan dihasilkannya
berbagai macam bahan dalam
jumlah banyak, sehingga
penggunaannya lebih praktis.
Sebagai akibat dari kenyataan
diatas pembawa N sintetik atau
buatan makin lama makin
memegang peranan penting.
Hampir seluruh keperluan pupuk N
Indonesia berasal dari pembawa
nitrogen anorganik sintetik ini.
Bentuk amonia
Dikenal berbagai macam pembawa
N. anorganik yang dapat mensuplai
N dalam pupuk majemuk.
Mungkin proses sintetik yang paling
paling penting ialah pembuatan gas
amonia dari unsur-unsur hidrogen
dan nitrogen.
Reaksianya adalah sebagai berikut:
N2 + 3H2 2NH3
Reaksi ini sangat penting karena
menghasilkan senyawa yang pada
saat ini dianggap paling murah.
Satu hali lain yang penting, ialah
reaksi ini merupakan langkah
pertama dalam pembuatan bahanbahan
pupuk N yang lainnya.
81
Tabel 3 menyajikan susunan dan
sumber dari pupuk–pupuk yang
terpenting.
Kisaran kadar N dari berbagai pupuk
N sangat lebar, bervariasi antara
3% yang terdapat dalam super fosfat
yang diamoniatkan hingga 82%
yang ada dalam pupuk amonia
cairan.
Juga beberapa bentuk N, seperti
senyawa amonium dan nitrat dan
juga urea dan sianada disajikan
dalam Tabel 3.
Dua yang terakhir bila mengalami
hidrolisis dalam tanah menghasilkian
ion NH4
+ yang dapat diabsorpsikan
tanaman atau dioksidasikan menjadi
nitrat.
Walaupun semua bahan yang
dikemukakan dalam Tabel 3 dipakai
sebagai pembawa N, senyawasenyawa
yang mengandung
ammonium (NH4
+) dan nitrat (NO3
-)
ternyata paling banyak digunakan
sebagai pupuk.
Gas amonia yang diperoleh secara
demikian dapat digunakan untuk tiga
hal.
– Pertama, gas tersebut dibawah
tekanan tinggi dapat dicairkan
menjadi amonia cairan.
Senyawa ini digunakan dalam
pembuatan superfosfat yang
diamoniatkan dan pupuk
majemuk lainnya. Senyawa ini
dapat langsung dipakai sebagai
pupuk N.
– Kedua, gas amonia dapat
dilarutkan dalam air
menghasilkan NH4OH. Bahan ini
dapat dipakai secara tersendiri
sebagai pupuk, atau lebih sering
dipakai sebagai pelarut
pembawa nitrogen lain separti
NH4NO3 dan urea yang
dinamakan larutan nitrogen.
Pabrik pupuk Sriwijaya
menghasilkan amonia cairan
sebagai hasil sampingan dan
umumnya dipakai sebagai
pendingin pabrik-pabrik es.
– Ketiga, gas amonia dipakai
untuk pembuatan pupuk N
lainnya.
Anhidrous ammonia
Nitrogen atmosfir merupakan
sumber nitrogen utama di muka
bumi. Kemudian nitrogen berikatan
dengan hidrogen membentuk
amonia.
Hara yang umum terdapat dalam
pupuk adalah N, P2O5, dan K2O
dalam bentuk tunggal ataupun
majemuk. Pupuk yang hanya
mengandung satu unsur disebut
pupuk tunggal, sedangkan yang
mengandung lebih dari satu unsur
disebut pupuk majemuk. Sebagai
contoh dapat disebut kalium nitrat
dan amonium fosfat.
Awal dari terbentuknya senyawa
nitrogen diawali dengan reaksi
antara hidrogen (H+) dan nitrogen
(N) pada temperatur dan tekanan
tinggi yang menghasilkan amonia
(NH3).
Rincian reaksi tersebut seperti yang
tertera dibawah ini.
82
Katalisator reaksi pembentukan
amonia hanya dapat berlangsung
pada suhu dan tekanan tinggi.
Temperatur yang dibutuhkan
mencapai 400-500 0C, dengan
tekanan 2.200 pound per m2.
Amonia inilah yang kemudian
dikonversi kebeberapa bentuk lain
seperti tertera pada Gambar 39 .
Gambar 39 Konversi ammonia
kebeberapa bentuk
pupuk nitrogen
Amonia cair
Amonia anhidrous larutan pupuk
nitrogen yang dilarutkan dalam air.
Kandungan nitrogen pada pupuk
amonia cair yang diperdagangkan
sekitar 20% N, dalam bentuk
amonia. Untuk menghindari
kehilangan nitrogen dari pupuk
amonia cair ini, umumnya
pengaplikasiannya ke tanaman
melalui penyuntikan ke air
permukaan tanah.
Pupuk nitrogen mudah tercuci
terbawa air hujan, mengurai,
dan menguap
83
Tabel 2 Pembawa Nitrogen organik
Pupuk Sumber % Nitrogen
Darah kering Tempat pemotongan 8-12
Sisa-sisa daging Tempat pemotongan 5-10 (3-13% P2O5 )
Tepung daging Tempat pemotongan 10-11 (1-5% P2O5 )
Sisa ikan kering
Pengalengan dan ikan
yang tak dapat dimakan 6-10 (4-8% P2O5 )
Tepung biji
kapas
Ampas 6-9 (2-3% P2O5 dan 1-
2% K2O)
Batang
tambakau
Sisa 1.5-3.5 (4-9% K2O)
Tepung jarak Ampas 5-7 (2% P2O5 dan 1%
P2O5 )
Tepung coklat Ampas 3.5-4.5
Tabel 3 Pembawa nitrogen anorganik
Pupuk Rumus kimia Sumber
%
Nitrogen
Natrium nitrat NaNO3
Salpeter Cili atau
dibuat 16
Amonium Sulfat (NH4)2SO4 Hasil sampingan
arang dan gas 21
Amonium nitrat NH 4NO3
Dibuat 33
“Cl-nitro” dan
A.N.L.a
NH 4NO3 dan
dolomit
Dibuat 20
Urea CO (NH2)2 Dibuat 42-45
Kalsium
sianamida
CaCN2 Dibuat 22
Amonia cairan NH3 cairan Dibuat 82
Larutan amonia NH4OH encer Dibuat 20-25
Amofos NH4.H2PO4 Dibuat 11
(48% P2O5
)
Diamonium
fosfat
(NH4)2 HPO4 Dibuat 21
(53% P2O5
)
84
Amonium nitrat (34-0-0)
Amonium nitrat merupakan pupuk
nitrogen yang paling banyak
digunakan setelah perang dunia ke
II.
Pupuk ini dihasilkan dari reaksi
antara asam nitrit dengan senyawa
amonia ahhidrous (Gambar 40)
Pupuk amonium nitrat adalah pupuk
yang dapat menyumbangkan dua
jenis hara N dalam bentuk amonium
(NH4+) dan nitrat (NO3
-).
Setelah asam nitrit dihasilkan,
selanjutnya direaksikan dengan
amonia anhidrous membentuk
amonium nitrat (Gambar 41).
Produk komersial dari pupuk
amonium nitrat dapat dalam bentuk
padat, granular, larutan dan kapsul.
Bentuk pupuk ini padat dan kristalin ,
berwarna putih, tidak higroskopis
dan bekerjanya cepat.
Kandungan N dari pupuk amonium
nitrat yang diperdagangkan berkisar
antara 33-34%.
Gambar 40. Reaksi pembentukan
asam nitrit
Amonium sulfat
Umumnya pupuk amonium sulfat
yang beredar dipasaran
mengandung 21% nitrogen dan 24%
belerang.
Pembentukan pupuk ini berasal dari
reaksi antara amonia dengan asam
sulfat, dengan reaksi sebagai
berikut:
Urea CO(NH2)2
Pupuk urea adalah salah satu jenis
pupuk N yang paling tinggi
kandungan nitrogennya. Urea selain
digunakan sebagai pupuk juga
sering digunakan sebagai protein
substitusi dari hewan ruminansia.
Pembentukan pupuk ini diawali
dengan reaksi antara ammonia
dengan karbondioksida pada
temperatur 170-2100C dengan
tekanan berkisar antara 170-400
atmosfir.
Pada suhu tinggi amonium karbonat
memperlihatkan sifat tekanan
disosiasi yang tinggi.
Pembentukannya menghasilkan
banyak panas, selama tekanan
parsial bahan-bahan yang sedang
di raeaksikan melebihi tekanan
diosiasi amonium karbonat.
Reaksi berikut dari karbonat ke urea
hanya terjadi dalam suasana cairan
atau padat dan koversi
keseimbangan menurun karena
terbentuknya air.
85
Reaksi pembentukkannya terdapat
adalah sebagai berikut berikutnya:
Konsentrasi kandungan urea dari
reaksi diatas mencapai lebih kurang
80%.
Penggunaan pupuk urea dilapangan
dapat dalam bentuk konsentrat atau
dalam bentuk granular, sedangkan
kandungan nitrogen dari pupk urea
ini sekitar 45%.
Pupuk urea memiliki sifat higrokopis
yang relatif lebih tinggi
dibandingkan dengan pupuk lainnya.
Oleh karenanya penggunaannya di
lapangan biasanya diberikan dalam
3 tahapan selama masa
pertanaman.
Sifatnya ini juga yang menyebabkan
penggabungan dan penyimpanan
pupuk ini dengan pupuk lainnya
memerlukan perhatian khusus.
Nitrat fosfat.
Dengan menggunakan HNO3
sebagai pengagam batu fosfat
diperoleh nitrat fosfat. Senyawa ini
banyak dipakai untuk pembuatan
pupuk majemuk.
Amonium sulfat nitrat
Pupuk ini merupakan habungan
antara amonium sulfat dan amonium
nitrat. Pupuk ini diperdagangkan
dalam bentuk kristal berwarna
kuning kemerahan.
Gambar 41 Tahapan pembentukan
amonium dari asam nitrit
Amonium sulfat mengandung 26%
dan 37% SO4, 19.5% tersedia dalam
bentuk amonium dan 6.5% sebagai
nitrat.
Nilainya sebagai pupuk tidak
berbeda jauh dengan ZA,
86
kelebihannya dibandingkan ZA,
kada N nya lebih tinggi dan ¼ dari
jumlah N tersedia dalam bentuk
nitrat, yang dapat diserap tanaman
tanpa mengalami perubahan kimia
terlebih dahulu.
6.2.3. Pupuk Posfat
Hampir semua pupuk posfat
komersial berasal dari batuan
posfat.
Bahan baku pembuatan pupuk
posfat (posfat alam) banyak disuplai
dari Afrika Utara (Tunisia, Aljajair,
dan Maroko) dan Amerika Serikat.
Super fosfat.
Pada saat ini super fosfat
merupakan pupuk fosfat utama
(Tabel 4).
Pupuk yang berkadar 16-21% P2O5
diperoleh dengan menambahkan
sejumlah asam sulfat pada batu
fosfat.
Fosfat yang dulu sering dipakai
adalah bentuk ini, yang
mengandung 31% Pa05, 50%
CaSO4 dan 19% kotoran.
Sekarang beredar pupuk tripel
super posfat 40-47% P2O5 tersedia.
Reaksi pembuataannya adalah
sebagai berikut :
Ca3 (PO4)2 + 4H3PO
3 Ca (H2PO4)2 + kotoran
Tripel super fosfat yang
diperdagangkan di Indonesia dalam
bentuk pelet.
Pupuk yang berkadar P tinggi ini,
bila tidak diberikan dalam bentuk
pelet akan segera bereaksi dengan
tanah, dan biasanya P berakhir
dalam bentuk terikat.
Dengan adanya bentuk pelet ini,
maka kontak dengan tanah
diperkecil sehingga jumlah yang
diikat tanah dapat dikurangi.
Superfosfat bereaksi sangat masam
dan umumnya dianggap akan
meningkatkan kemasaman tanah
bila diberikan pada tanah. Nyatanya,
ia tidak memberikan efek
kemasaman tanah.
Akan tetapi bila superposfat
diberikan pada tanah ber-pH rendah
maka pupuk ini bertendensi
menaikkan kemasaman tanah,
sedangkan pada tanah ber-ph
antara 7.5 dan 8.5 memberikan efek
yang berlainan.
Fosfat yang diamoniatkan.
Fosfat yang diamoniatkan
mengandung 3 hingga 4% N dan 16-
18% P2O5. Pupuk ini biasa dibuat
dari superfosfat yang diberi larutan
amonia atau larutan nitrogen
Amofos yang mengandung 11% N
dan 48% P2O5 juga merupakan
pupuk dagangan.
Pupuk ini sangat cocok untuk tanah
berkadar K tinggi dan banyak
membutuhkan N dan P.
Tepung tulang
Tepung tulang merupakan asam
fosfat yang mahal. Lambat tersadia
dalam tanah. Dalam jumlah besar
87
pun tepung tulang tidak akan
mengganggu tanaman.
Batu fosfat.
Bila ingin menggunakan batu fosfat
sebagai pupuk terlebih dahulu harus
digiling halus.
Penggilingan ini dapat meningkatkan
ketersediaan P, apalagi bila pada
tanah tersebut terdapat bahan
organik yang sedang mengalami
dekomposisi.
Batu fosfat merupakan pupuk fosfat
yang paling sukar larut dibandingkan
pupuk fosfat lainnya.
Jika kita urutkan ketersediaan posfat
mulai dari cepat ke lambat tersedia
adalah sebagai berikut: amonium
fosfat, super fosfat, tepung tulang
dan batu fosfat.
Walaupun rumus konvensional batu
fosfat adalah Ca3(PO4)2, sabenarnya
rumusnya jauh lebih kompleks dari
pada itu.
Nyatanya ia mendekati rumus
flourapatit, 3Ca3(PO4)2.CaF2. Oleh
karenanya ia sangat sukar larut.
Batu fosfat yang pernah ditambang
sebagai pupuk di Indonesia ialah
batu fosfat dari Cirebon. Pupuk
tersebut dikenal sebagi fosfat
Cirebon, merupakan kalsiumtrifosfat
yang mengandung 28% P2O5 larut
dalam HCl keras atau 14% P2O5
larut dalm 2% asam nitrat.
Sebelum dipakai, batu tersebut
harus terlebih dahulu digiling halus
(80% melampaui saringan 0.17
mm).
Sebagian besar dari pupuk ini
dipakai oleh perkebunan teh, kelapa
sawit, dan karet sebagai pangganti
super fosfat. Untuk tanaman
tahunan pupuk fosfat yang lambat
tersedia tidak menjadi halangan,
berlainan dengan tebu, tanaman ini
memerlukan pupuk fosfat cepat
tersedia.
Pupuk berkadar fosfat tinggi.
Perlu pula kiata menyebut dua
macam fosfat berkadar tinggi yang
belum banyak dipakai, yaitu: kalsium
metafosfat, Ca(PO4)2 yang berkadar
62-63% P2O5 dan asam super fosfat
yang mengandung 76% P2O5 (Tabel
3)
Kalsium meta fosfat, atau sering
disebut metafos dibuat dari batu
posfat atau batu kapur yang
direaksikan daengan P2O5 (Tabel
3).
Asam superfosfat
Pupuk ini merupakan senyawa yang
berkadar P2O5 paling tinggi (Tabel
3). Larutan ini dapat dipakai untuk
membuat pupuk larutan lain atau
membuat superfosfat berkada P
tinggi (54% P2O5 ).
Efektifitas pupuk posfat yang
diberikan ke dalam tanah
dipengaruhi oleh dua faktor yakni
ukuran butiran pupuk dan cara
pemberian pupuk.
Makin halus ukuran butiran,
efektivitasnya makin tinggi, artinya
pupuk yang diberikan akan cepat
larut dan membentuk H2PO4 di
88
dalam larutan tanah sehingga dapat
mempercepat tanaman menyerap
unsur tersebut.
Cara pemberian yang tepat juga
akan meningkatkan efektifitas pupuk
seperti pemberian pupuk P cara
lubang dan jalur merupakan cara
terbaik
6.2.4. Pupuk kalium
Pupuk kalium dibuat dari deposit
garam kalium, dan pada umumnya
berasosiasi dengan magnesium,
sulfat, dan klor.
Kainit dan garam pupuk kandang
merupakan sumber kalium yang
biasa dijumpai. Kalium klorida dan
sulfat yang berasal dari Jerman dan
Prancis merupakan senyawasenyawa
kalim yang telah
dimurnikan.
Kalium sulfat
Pupuk ini dikenal juga dengan nama
zwavelzure kali (ZK) dengan rumus
kimia (K2SO4).
Kalium magnesium sulfat
Pupuk ini dikenal dengan nama
patent kali, merupakan garam
rangkap pupuk kieserit (MgSO4) dan
pupuk ZK (K2SO4) dengan rumus
kimia K2SO4.MgSO4.
Semua garam kalium yang dipakai
sebagai pupuk larut dalam air dan
segera tersedia.
Tidak seperti pupuk N, pupuk K
walupun diberikan dalam jumlah
banyak tidak mempengaruhi pH
tanah.
Pemberian KCl yang banyak pada
kentang dan tembakau dapat
menurunkan kwalitas hasil
tanaman.
Kalium khlorida dan sulfat banyak
dipakai di Indonesia, terutama untuk
tanaman tembakau, sisal, dan
tanaman perkebunan.
Beberapa tanaman sayuran
memerlukan kalium, sedangkan padi
hampir tidak pernah dipupuk K.
Seluruh keperluan kalium di
Indonesia didatang dari luar negri.
Kalium-magnesium sulfat, walaupun
berkadar K rendah, Mulai banyak
digunakan di terutama didaerah
yang kekurangan magnesium.
Dibandingkan dengan batu kapur
dolomitik atau dolomit, kaliummagnesium
merupakn sumber Mg
yang disukai.
Sebagin besar dari kulit coklat, abu
ampas tebu atau abu sabut kelapa
cukup banyak mengadung K, akan
tetapi bahan ini belum dimanfaatkan
secara sempurna.
Sekam padi mengandung kurang
lebih 2% kalium. Pada umumnya
sekam ini dibakar dan abunya
dibiarkan tanpa dipergunakan.
Kadar K dalam abu sekam kurang
lebih sama dengan 30% K2O.
Sisa-sisa pertanian dalam bentuk
kulit coklat, sabut dan batok kelapa,
ampas tebu dan sekam padi
merupakan sumber kalium yang
cukup berarti.
89
6.2.5. Pupuk kalsium,
magnesium belerang dan
unsur mikro
Unsur hara kalsium termasuk hara
makro sekunder bersama dengan
magnesium dan belerang.
Sumber kalsium dalam tanah
berasal dari mineral tanah primer
seperti kalsit (CaCO3), dolomit (Ca
Mg(CO3)2 , dan garam-garam
sederhana seperti gipsum (CaSO4)
dan Ca-posfat.
Pemupukan kalsium umumnya
diberikan dalam bentuk kapur atau
garam-garam yang mengandung
kalsium.
Penambahan kapur ke dalam tanah
mempunyai dua fungsi yaitu
menaikkan pH dan meningkatkan
ketersediaan hara.
Kalsium dalam pupuk
Beberapa bentuk kalsium yang
biasa dipakai untuk pertanian adalah
kalsium karbonat (CaCO3), kalsium
hidroksida (Ca(OH)2, kalsium oksida
(CaO) dolomit (CaMg(CO3)2, dan
kalsium silikat (CaSiO3)
Magnesium dalam pupuk
Sumber utama pupuk magnesium
diperoleh dari batuan dolomit
(CaMg(CO3)2, garam pahit
(MgSO4.7H2O) dan kiserit
(MgSO4.H2O).
Efisiensi pupuk dolomit sangat
tergantung pada kehalusannya,
semakin halus pupuk tersebut
semakin efektif sebagai pupuk.
Pupuk belerang
Kehilangan S dari bidang serap
tanah dapat disebabkan oleh erosi,
pencucian dan terangkut tanaman
dari tanah petani sama dengan 20-
30 kg per hektar.
Untuk daerah yang memiliki curah
hujan tinggi maka besarnya
kehilangan akibat pencucian ini akan
lebih besar.
Akan tetapi belerang tanah juga
dapat mengalami penambahan
melalui hujan dan salju.
Jumlahnya tergantung dari tempat,
dan bekisar 2-3 kg per hektar hingga
lebih dari 100 kg bila dekat dengan
pusat industri atau gunung berapi
yang masih aktif.
Pada usaha pertanian umum
masalah penambahan belerang
dapat diselesaikan secara otomatis.
Dalam pengelolaan tanah belerang
dikembalikan kedalam tanah dengan
bentuk pupuk hijau, sisa tanaman
dan pupuk kandang.
Pupuk buatan seperti super fosfat
dan kalium sulfat mengandung
sejumlah belerang. Pemberian 10
ton pupuk kandang yang diperkuat
dengan 250 kg superfosfat
mengandung lebih dari 50 kg
belerang. Jumlah ini saja sudah
melebihi belerang yang hilang.
Dari keterangan diatas, kelihatannya
masalah belerang tidak serawan
hara posfor.
90
Pupuk mikro
Penambahan unsur mikro pada
pupuk harus dilakukan dan
dikendalikan lebih teliti dari pada
penambahn unsur makro.
Perbedaan antara jumlah unsur
mikro yang diberikan pada waktu
terjadi dan keracunan sangat kecil.
Akibatnya, unsur mikro hanya
diberikan bila kita yakin bila unsur
itu diperlukan dan jumlah yang
dibutuhkan diketahui.
Bila tanaman kekurangan suatu
unsur mikro harus diatasi, terutama
saat masalahnya sangat medesak
maka garam dari unsur mikro yang
kurang ditambahkan kedalam tanah
(Tabel 5).
Tembaga, Fe dan Zn pada
umumnya diberikan sebagai garam
sulfat, sedangkan B sebagai boraks.
Molibdenum ditambahkan sebagai
N-molibdat. Besi dan Zn dapat
diberikan sebagai khelat.
Jumlah hara mikro yang
ditambahkan harus terkendalikan
karena kalau tidak, dapat
menyebabkan kerusakan pada
tanaman.
Pupuk yang mengandung unsur
mikro mempunyai arti yang cukup
penting, karena tidak dapat kita
sangkallagi kesalahan perharaan
tanaman, disebabkan kekurangn
unsur ini kian hari kian menjadi
kenyataan.
6.2.6. Pupuk Majemuk
Pupuk yang mengandung lebih dari
satu unsur hara disebut pupuk
majemuk (pupuk campuran). Pupuk
campuran biasanya paling sedikit
terdiri dari dua dan tiga dari unsur
pupuk.
Yang pertama disebut pupuk
majemuk tidak lengkap dan yang
terakhir pupuk lengkap.
Banyaknya unsur pupuk
dicampurkan dalam perbandingan
yang dapat menunjang keperluan
unsur hara.
Contohnya, larutan amonia, super
fosfat, KCl dan sejumlah bahan
organik dapat dipakai suatu pupuk
majemuk yang lengkap.
Kondisi fisik
Disamping mensuplai N, P, dan K
dalam jumlah sebanding, pupuk
majemuk harus mempunyai
beberapa sifat lain.
Yang terpenting dalam hubungan ini
ialah kondisi fisik dari pupuk
campuran tersebut. Pupuk tersebut
harus tetap bersifat “drillable” sejak
dibeli, kemudian disimpan hingga
pada waktu diberikan ke dalam
tanah.
Beberapa pupuk majemuk tidak
dapat dipakai karena sifat
menggumpal kemudian mengeras.
Pupuk-pupuk yang sering tidak
memuaskan jika dicampur ialah
campuran amonium dan natrium
nitrat, amonium sulfat dan kalium
chlorida.
91
Sifat higrokopis beberapa bahan,
seperti amonium nitrat, sering
menyebabkan pupuk majemuk
menggumpal.
Cara yang paling aman untuk
menghindari penggumpalan adalah:
– Pupuk disimpan dalam
kantong tahan kelembapan,
– Pupuk dicampurkan dengan
bahan yang dapat menyerap
kelembapan.
Dalam kasus kedua bahan-bahan
seperti batang jagung atau kotoran
ayam yang dikeringkan dapat
dicampurkan untuk menyerap uap
air udara. Kapur dolomitik sering
digunakan menyangga
kecendrungan terjadinya
kemasaman, dan ia juga dapt
merupakn suatu “conditioner”.
Salah satu cara lain agar pupuk
tidak menggumpal ialah dengan
membuat pelet segera setelah
dicampur.
Pupuk yang dipeletkan bebas dari
debu, disamping ia mudah dihandel.
Granulasi mengurangi kemungkinan
pupuk ditiup angin dan mengurangi
kecepatan bereaksi dengan tanah.
Pengaruh pupuk majemuk terhadap
ph tanah
Pupuk pembentuk asam
Hampir semua pupuk majemuk,
kecuali bila memperoleh perlakuan
tertentu, bertendensi memciptakan
residu yang bereaksi masam pada
tanah. Hal ini disebabkan oleh
pembawa-pembawa N, terutama
yang bersifat amonia. Efek utama
yang diperlihatkan oleh ion-ion NH4
ialah bila ion ini dinitrifikasikan.
Bila senyawa amonium di
oksidasikan maka bertendensi
menambah kemasam, seperti
diperlihatkan pada reaksi berikut:
NH4 + 2 O2 2 H+ + NO3
– +H2O
Eefek ion NH4 lain yang tidak kalah
pentingnya, adalah potensinya
dalam menurunkan pH tanah.
Contohnya, bila (NH4)2(SO4)
ditambahkan kedalam tanah,
sebagian dari ion NH4
+ segera
diadsorpsikan oleh kompleks koloid
tanah menggantikan sejumlah
ekivalen kation-kation lain.
Bila ion metal yang digantikan, maka
ion tersebut peka pada pencucian.
Dan ini akhirnya dapt berakibat
penurunan pH tanah. Sebaliknya,
bila ion–ion H yang digantikan, asam
sulfat akan muncul dalam larutan
tanah.
Pembentukan asam sulfat yang
sama akan terjadi bila
mengabsorpsikan ion NH4 lebih
banyak dari pada ion SO4.
Diamping senyawa-senyawa
amonium, bahan-bahan seperti urea
dan beberapa bahan organik, yang
bila dihidrolisiskan menghasilkan ion
NH4
+ merupakan sumber
berkompetensi terhadap
kemasaman tanah. Pupuk P dan K
yang biasa dipakai hampir tidak
mempunyai pengaruh pada pH
tanah, terkecuali bila pupuk tersebut
mengandung N.
92
Tabel 4 Pembawa fosfor
Fertilizer Bentuk kimia Sumber
% kadar
P2O5
tersedia
Super fosfat Ca(H2PO4) +CaHPO4 Dibuat dari batu
fosfat 15-50
Super fosfat
Amoniat
NH4H2PO4 CaHPO4
Ca3(PO4)2(NH4)2 SO4 Dibuat
16-19
(3-4 % N)
Amofos NH4H2PO4 Dibuat 48 (11% N)
Diamonium
sulfat
(NP4)2HPO4 Dibuat 53(21% N)
Tepung
tulang
Ca3 (PO4)2 Pemotongan 20-25
Batu fosfat Flour atau Chlor apatit Batu fosfat 25-30
Ca-meta
fosfat
Ca (PO3)2 Dibuat 62-63
Asam fosfat H3PO4 Dibuat 54
Asam super
fosfat
H3PO4 dan H4P2O7 Dibuat 70
Tabel 5 Pupuk Kalium
Pupuk Rumus kimia % Kalium
Kalium chlorida KCL dan garam K
lainnya K2SO4
48-60
Kalium sulfat
Garam ganda dari K dan
Mg (mengandung 25%
MgSO4)
48-50
Kalium-magnesium sulfat KCL sebagian besar 20-30
Garam pupuk kandang KCL sebagian besar 20-30
Kainit KCL sebagian besar 12-16
Kalium nitrat KNO3 44(13% N)
Abu kayu K2CO3 sebagian besar 3-7 (1-2% P2O5)
Batang tembakau Organik 4-9 (2-4% N)
Kulit coklat Organik 2
Ubu ampas tebu Anorganik 30
Abu sabut kelapa Anorganik 30
93
Jaminan dari pupuk tunggal, seperti
amoniumsulfat mudah
diinterpretasikan, karena nama dan
susunan dari bahan tersebut
dicantumkan pada label atau dicetak
pada pembungkusnya.
Bila jumlah unsur yang terdapat
dalam bahan yang dicantumkan,
maka kemurnian dari pada pupuk
tersebut dapat diketahui. Misalnya,
bila bahan tersebut adalah NaNO3
maka kadar N nya 16%.
Akan tetapi jika tidak, maka kita
akan melakukan analisa hara pupuk
yang menyatakan berapa jumlah
relatif dari N, P2O5,dan K2O dalam
pupuk tersebut.
Jadi, jika pada kantong pupuk
tertulis angka perbandingan 5-10-10
artinya pupuk ini mengandung 5%
N-total, 10% P-tersedia, dan 10% K
larut dalam air.
Umumnya pupuk komersial
menggunakan perbandingan
haranya 1-2-2, misalnya, 5-10-10, 6-
12-12, 10-20-20, dan 15-30-30.
Pupuk demikian bila diberikan dalam
jumlah ekivalen yang sama akan
mempunyai hara yang sama.
Misalnya jika kita memberikan pupuk
jenis A (10-20-20)sebanyak 500
maka hal ini ekivalen dengan
memberikan memberikan jumlah N,
P2O5, dan K2O yang sama dengan
5-10-10
6.3. Faktor yang
mempengaruhi macam
dan jumlah pupuk yang
harus diberikan dalam
tanah
Nilai pertanian dari suatu pupuk
tidak menentu, karena bahan ini
mudah berubah.
Oleh karenanya macam dan jumlah
pupuk yang diberikan harus dapat
mengikuti perubahan-perubahan ini.
Tanah dan pupuk terjadi reaksi kimia
dan biologis yang mempengaruhi
mutu pupuk.
iklim yang dapat mempengaruhi
tanah, tanaman dan pupuk. perlu
diperhatikan. Bila ada kelebihan
atau kekurangan air, efisien penuh
dari pemupukan sukar diharapkan.
Sebetulnya, setiap faktor yang dapat
membatasi pertumbuhan tanaman
akan menurunkan efensiansi
pemupukan, dan akibatnya respons
dari tanaman terhadap pemupukan
juga tergangu.
Jika faktor-faktor lain tidak
merupakan pembatas, maka jumlah
pupuk dapat ditentukan dengan
tingkat kepastian tertentu.
Meskipun keadaannnya sangat
kompleks, petunjuk-petunjuk tertentu
dapat diikuti dalam menentukan
macam atau jumlah pupuk yang
harus di berikan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan
adalah:
94
1. Macam tanaman yang akan
diusahakan: nilai ekonomi
tanaman, kemampuan
tanaman menyerap hara
2. Keadaan kimia tanah
sehubungan dengan jumlah
hara tersedia
3. Keadaan fisik tanah
sehubungan dengan kadar
air aerasi (tata udara tanah)
6.3.1Jenis Macam tanaman
yang akan dipupuk
Tanaman bernilai ekonomi tinggi,
seperti brokoli memerlukan
pengeluarkan biaya pupuk majemuk
lengkap dan jumlah yang diberikan
dihitung berdasarkan respons per kg
yang akan diperoleh.
Akibatnya, untuk tanaman semacam
ini dipakai pupuk majemuk lengkap
dalam jumlah banyak. Sebanyak 2
ton pupuk dengan analisa 8-16-16
sering disarankan.
Untuk tanaman bernilai ekonomi
rendah biasanya pupuk yang
disarankan lebih sedikit. Hasil
tambahan yang diperoleh karena
pemberiaan pupuk tidak cukup untuk
membayar biaya tambahan pupuk
itu.
Kita harus selalu ingat bahwa
produksi tertinggi yang dicapai
karena pemupukan tidak selalu
menghasilkan uang yang banyak
atau keuntungan yang besar.
Dengan kata lain, hukum
penghasilan yang menurun
merupakan faktor utama dalam
praktek pemupukan setiap tanaman.
Oleh karena itu, pemberian jumlah
pupuk yang sedang untuk semua
tanah harus dikembangkan. Biaya
hasil tambahan yang diperoleh
sudah dapat dipastikan. Jika kita
dapat menentukan kemampuan
hasilnya untuk membayar tambahan
pupuk, maka dosis pupuk dapat
dinaikkan.
Bila jumlah hara yang diabsorpsi
tanaman banyak, maka pemupukan
dapat ditingkatkan, yaitu untuk
mengimbangi kehilangan hara dari
dalam tanah.
Pupuk yang diberikanpada pada
tanaman tidak seluruhnya dapat
diambil tanaman.
Pertimbangan kita selaku pelaku
tindak agronomi adalah bagaimana
mengembangkan kemampuan tanah
menyediakan hara, bila jumlah hara
kurang baru kita akan memberikan
dalam bentuk pupuk.
Untuk hara posfor, karena karena
reaksi pengikatan fosfat sangat
cepat, maka pemberian unsur ini
jumlahnya jauh lebih besar dari
yang diabsorpsi tanaman.
Kemampuan berbagai tanaman
mengabsorpsikan hara
Setiap jenis tanaman memiliki
kemampuan yang berbeda dalam
mengabsorbsi hara dari dalam
tanah. Umpamanya, kacang tanah,
lebih dapat mengabsorbsi K,
walaupun kadar K tanah rendah,
sedangkan kedelai tidak. Akibatnya,
95
respons dari pemberian K yang
ditunjukan lebih nyata pada kedelai
dari pada kacang tanah.
6.3.2 Keadaan kimia tanah
Bagian tanah yang perlu
diperhatikan adalah analisa
kimianya. Ada dua cara analisa
kimia yang dipakai sehubungan
dengan unsur hara dalam tanah
yaitu analisa total dan parsial.
Analisa total adalah analisa total
semua unsur yang terdapat dalam
tanah, tidak tergantung dari bentuk
atau tingkat ketersediannya.
Data demikian sangat berguna
untuk membantu meramalkan
tingkat ketersedian hara bagi
tanaman. Analisa parsial adalah
analisa yang hanya mengukur hara
yang tersedia bagi tanaman (hanya
sebagian dari jumlah hara yang
terdapat dalam tanah).
6.3.3.Keseimbangan hara
Sebelum kita membicarakan
berbagai bahan pupuk, satu hal
berikut ini perlu sekali diperhatikan.
Ketiga unsur pupuk bila dipakai
secara tepat, mereka tidak saja
mengendalikan, mengimbangi,
mendukung dan mengisi satu sama
lain, tetapi juga unsur-unsur lainnya.
Hubungan ini sangat penting dalam
praktek pemupukan, karena
berkaitan dengan ekonomi dan
efektivitas pemupukan.
Sebaiknya unsur-unsur yang
diberikan merupakan tambahan bagi
unsur-unsur yang sudah ada
didalam tanah, sehingga jumlah
keseluruhan N, P da K yang tersedia
bagi tanaman berada dalam
perbandingan yang tepat.
Pada waktu bersamaan
ketersediakan unsur esensial
lainpun harus baik. Sacara singkat,
keseimbangan kesuburan secara
menyuluruh harus sedemikian rupa
sehingga dapat menunjang
pertumbuhan tanaman.
Akan tatapi, dalam praktek keadaan
yang demikian sangat sukar dicapai.
Tanah merupakan sesutu yang
selalu tidak diketahui kwalitasnya,
demikian pula ketersedian unsurunsur
setiap musimnya.
6. 4. Metoda aplikasi
penempatan pupuk
6.4.1. Penempatan pupuk
cairan
Penggunaan pupuk cairan belum
membudaya bagi petani Indonesia,
walaupun di luar negeri sudah
umum digunakan.
Aplikasi pupuk cair ini dapat
dilakukan dengan 3 cara yaitu:
(1) pemberiaan ke dalam tanah;
(2) pemberian pada air irigasi
(3) disemprotkan pada tanaman.
Pemberian langsung pada tanah
Praktek pemberian amonia cairan
dan pupuk N lain pada tanaman
hortikultura selalu dilakukan dengan
96
menggunakan alat khusus dengan
tekanan tertentu disemprotkan
sedalam lebih kurang 10 cm dalam
tanah.
Jika disemprotkan ke dalam tanah
tanaman tidak akan rusak dan
kehilangan amonia dapat ditekan.
Cara ini mungkin lebih efisien
karena pupuk amonia yang
digunakan merupakan bahan baku
yang termurah.
Dalam air irigasi
Cara ini digunakan dalam
pengaplikasian pupuk amonia
cairan, asam fosfat dan kadangkadang
pupuk majemuk lengkap
dilarutkan dalam air irigasi dan
disebarkan mengikuti aliran irigasi.
Cara ini mengurangi ongkos
penyebaran dan memungkinkan
penggunaan pembawa N yang
murni.
Diberikan sebagai semprotan pada
daun
Pemberian langsung dari unsur
mikro yang dicampur urea pada
tanaman memperlihatkan
kemungkinannya.
Cara pemupukan ini sangat unik,
karena kita tidak memerlukan
tambahan alat dan biaya serta dapat
digabungkan bersama sama dengan
pemberian insektisida.
6.4.2. Pupuk padat
Pemberian jumlah yang tepat dan
ekonomis dari berbagai pupuk, serta
cara penempatan pupuk dalam
tanah sama pentingnya dan tidak
boleh dilupakan.
Pupuk harus ditempatkan dalam
tanah sedemikian sehingga
sehingga tanaman memperoleh
keuntungan semaksimalnya. Ini
tidak saja meliputi daerah
penempatan, tetapi juga waktu
penempatan dari pupuk. Cara
penempatan akan dibahas sesuai
dengan jenis tanaman tanamannya.
Jagung, kapas dan kentang
Tanaman ini biasanaya dipupuk
secara baris, sebagian atau seluruh
pupuk diberikan pada saat tanam.
Bila diberikan secara baris, pupuk
biasanya ditempatkan dalam baris
sisi atau kedua sisi, tranaman.
Bila jumlah pupuk yang diberikan
banyak, adalah sangat bijaksana
menyebar rata sebagian dari pupuk
kemudian mengaduk dan
membenamkan ke dalam tanah
sebelum benih atau bibit ditanam.
Sayuran
Sayuran juga memerlukan
pemupukan seperti tanaman
lainnya. Akan tetapi, jumlahnya
tidak banyak dan biasanya diberikan
secara baris, terutama pupuk N dan
NaNO3.
Pemupukan Ini dilakukan setelah
tanaman tumbuh baik dan sebagai
tambahan terhadap kekurangan
hara yang tersedia dalam tanah.
97
Untuk tanaman semangka
pemberian dapat diberikan
disekeliling tanaman (spot).
Biji-bijian
Untuk jenis biji-bijian pupuk dapat
diberikan disamping biji. Pemberian
pupuk P dan N melalui cara disebar
rata, dimasukkan dalam tanah,
kemudian diaduk sebelum biji
disemai.
Pemupukan pada tanah sawah
berbeda dari pesemaian, yaitu
jumlahnya lebih banyak.
Pupuk P diberikan sesaat sebelum
tandur, sama seperti pesemaian.
Pupuk N tidak diberikan sekaligus
tapi dibagi dua. Yang pertama
diberikan beberapa minggu setelah
tandur. Sebelum pupuk diberikan air
dikeluarkan hingga macak-macak,
kemudian pupuk disebar diantara
baris sambil diinjak kedalam lumpur.
Pemberian pupuk yang kedua
diberikan dengan cara yang sama
tapi beberapa minggu kemudian,
setelah pemberian yang pertama.
Pupuk kalium diberikan bersama
pemupukan P secara sebar rata.
Padang rumput
Sebaiknya padang rumput dipupuk
pada saat ditanam. Pupuk dapat
diberikan bersamaan dengan tanah
dan dibenamkan .
Pemberiannya harus dilakukan hatihati
jangan sampai merusak bagian
atas dan pangkal akar rerumputan.
Pohon-pohonan
Pohon buah-buahan atau
perkebunan seperti karet biasanya
dipupuk secara individuil.
Pupuk diberikan sekeliling batang.
Jaraknya ditentukan oleh macam
tanaman.
Pupuk dimasukkan kedalam tanah.
Bila tanaman perlu dipupuk, maka
pemupukan biasanya dilakukan
sesaat sebelum menanam tanaman
6. 5. Inspeksi dan
pengendalian pupuk
6.5.1.Nilai ekonomi pupuk
Nilai suatu pupuk ditentukan oleh
kandungan haranya. Pemilihan
apakah membeli pupuk majemuk
atau tunggal, seperti NaNO3, (NH4)
2(SO4)4, dan sebagainya adalah
lebih memperhitungkan kadara hara
yang dibutuhkan dalam jumlah
tinggi.
Kadar analisa pupuk merupakan
pilihan utama, karena semakin tinggi
analisa kadarnya terutama dari
pupuk majemuk, makin banyak hara
yang dapat diperoleh setiap
dolarnya.
Penggunaan pupuk majemuk
beranalisa tinggi belum familiar
digunakan di Indonesia. Para petani
masih mengunakan pupuk tunggal
yang kebetulan berkadar N dan P
tinggi.
Pupuk majemuk dipakai oleh
beberapa pengusaha perkebunan
98
besar. Macan pupuk yang
digunakan sangat terbatas dan
analisa yang umum mereka pakai
12-12-12 atau 20-20-20.
Harga pupuk persatuan unsur yang
termurah adalah K, menyusul P dan
kemudian N. Hal ini perlu
diperhatikan bila membeli pupuk.
Kita dapat juga menghemat dengan
membeli pupuk tunggal yang
kemudian mengaplikasikannya
secara terpisah kedalam tanah.
Untuk pupuk superfosfat biasanya
diberikan secara tersendiri. Bila
pupuk kandang tersedia,
penggunaan superfosfat, kapur ,
dan pupuk kandang sangat
dianjurkan.
Natrium nitrat dan (NH4) 2(SO4)4
serta pupuk N serupa digunakn
sebagi pupuk yang diberikan secara
“ top dressing” atau side dressing.
Pupuk dapat diberikan secara
terpisah, asalkan cara
pemberiannya tepat, dengan
demikian biaya pencampuran dapat
dihemat.
Salah satu kendala jika ingin
mencampur sendiri pupuk adalah
ketersediaan bahan baku yang
ekonomis dan murah.
Disamping itu dibutuhkan
pengetahuan khusus dalam metode
pencampurannya, bergantung sifat
dari pupuk itu sendiri.
Pencampuran juga membutuhkan
bahan kodisioner agar campuran
merata/homogen. Bahan ini juga
relatif sulit dipasaran. Oleh
karenanya alasan ekonomis untuk
mencampur sendiri pupuk dinilai
kurang ekonomis.
6.5.2. Pergerakan pupuk dalam
waktu
Agar dapat mengetahui cara yang
paling tepat untuk memberikan
pupuk ke tanah maka terlebih
dahulu kita harus mengetahui
bagaimana gerakan dari pupuk
tersebut dalam tanah.
Sebagai contoh fosfat merupakan
hara yang tidak mobil, terkecuali
pada tanah yang berpasir.
Akibatnya, ia dapat diabsorpsikan
tanaman secara efektif, pupuk
tersebut harus ditempatkan dalam
daerah perkembangan akar.
Pemberian melalui penyebaran
diatas tanah, tidak mensuplai P bagi
akar-akar tanaman yang tumbuhnya
dalam.
Disamping imobilitas fosfat, jumlah
pupuk yang diperlukan selama
musim tanam, dan dapat hilang
karena pencucian merupakan
beberapa pertimbangan kapan
pupuk harus diberikan.
Berbeda dengan kalium dan
nitrogen (bentuk tertentu), kedua
unsur ini bertendensi untuk mobil
dan bergerak keluar dari daerah
penempatan semula. Gerakan
umumnya adalah vertikal, mengikuti
gerakan air, apakah keatas atau
kebawah.
99
Translokasi ini sangat
mempengaruhi waktu dan cara
penempatan N dan K. Misalnya
sangatlah tidak sarankan untuk
memberikan N sekaligus karena
kemungkinanpencucian.
Pupuk nitrat dapat diberikan melalui
“top dressing” disebar di atas
permukaan tanah. Alasan ini
digunakan karena sifat nya yang
mudah larut dan bertendensi untuk
bergerak ke bawah.
Gerakan nitrogen dan juga K perlu
dipertimbangkan dalam penempatan
pupuk, terutama ditinjau dari
penempatan biji.
Bila pupuk ditempatkan secara
larikan dibawah biji, gerakan garam
keatas bersama air kapiler dapat
merusak pertanaman. Hujan setelah
tanam yang kemudian disusul
dengan musim kering panjang
memungkinkan terjadinya
kerusakan. Oleh karenanya jangan
menempatkan pupuk langsung
diatas biji atau dipermukaan tanah.
6.5. Inspeksi dan
pengendalian pupuk
6.5.1.Nilai ekonomi pupuk
Nilai suatu pupuk ditentukan oleh
kandungan haranya. Pemilihan
apakah membeli pupuk majemuk
atau tunggal, seperti NaNO3, (NH4)
2(SO4)4, dan sebagainya adalah
lebih memperhitungkan kadara hara
yang dibutuhkan dalam jumlah
tinggi.
Kadar analisa pupuk merupakan
pilihan utama, karena semakin tinggi
analisa kadarnya terutama dari
pupuk majemuk, makin banyak hara
yang dapat diperoleh setiap
dolarnya.
Penggunaan pupuk majemuk
beranalisa tinggi belum familiar
digunakan di Indonesia. Para petani
masih mengunakan pupuk tunggal
yang kebetulan berkadar N dan P
tinggi.
Pupuk majemuk dipakai oleh
beberapa pengusaha perkebunan
besar. Macan pupuk yang
digunakan sangat terbatas dan
analisa yang umum mereka pakai
12-12-12 atau 20-20-20.
Harga pupuk persatuan unsur yang
termurah adalah K, menyusul P dan
kemudian N. Hal ini perlu
diperhatikan bila membeli pupuk.
Kita dapat juga menghemat dengan
membeli pupuk tunggal yang
kemudian mengaplikasikannya
secara terpisah kedalam tanah.
Untuk pupuk superfosfat biasanya
diberikan secara tersendiri. Bila
pupuk kandang tersedia,
penggunaan superfosfat, kapur ,
dan pupuk kandang sangat
dianjurkan.
Natrium nitrat dan (NH4) 2(SO4)4
serta pupuk N serupa digunakn
sebagi pupuk yang diberikan secara
“ top dressing” atau side dressing.
Pupuk dapat diberikan secara
terpisah, asalkan cara
pemberiannya tepat, dengan
100
demikian biaya pencampuran dapat
dihemat.
Salah satu kendala jika ingin
mencampur sendiri pupuk adalah
ketersediaan bahan baku yang
ekonomis dan murah.
Disamping itu dibutuhkan
pengetahuan khusus dalam metode
pencampurannya, bergantung sifat
dari pupuk itu sendiri.
Pencampuran juga membutuhkan
bahan kodisioner agar campuran
merata/homogen. Bahan ini juga
relatif sulit dipasaran. Oleh
karenanya alasan ekonomis untuk
mencampur sendiri pupuk dinilai
kurang ekonomis.
6.5.2 .Pergerakan pupuk dalam
waktu.
Agar dapat mengetahui cara yang
paling tepat untuk memberikan
pupuk ke tanah maka terlebih
dahulu kita harus mengetahui
bagaimana gerakan dari pupuk
tersebut dalam tanah.
Sebagai contoh fosfat merupakan
hara yang tidak mobil, terkecuali
pada tanah yang berpasir.
Akibatnya, ia dapat diabsorpsikan
tanaman secara efektif, pupuk
tersebut harus ditempatkan dalam
daerah perkembangan akar.
Pemberian melalui penyebaran
diatas tanah, tidak mensuplai P bagi
akar-akar tanaman yang tumbuhnya
dalam.
Disamping imobilitas fosfat, jumlah
pupuk yang diperlukan selama
musim tanam, dan dapat hilang
karena pencucian merupakan
beberapa pertimbangan kapan
pupuk harus diberikan.
Berbeda dengan kalium dan
nitrogen (bentuk tertentu), kedua
unsur ini bertendensi untuk mobil
dan bergerak keluar dari daerah
penempatan semula. Gerakan
umumnya adalah vertikal, mengikuti
gerakan air, apakah keatas atau
kebawah.
Translokasi ini sangat
mempengaruhi waktu dan cara
penempatan N dan K. Misalnya
sangatlah tidak sarankan untuk
memberikan N sekaligus karena
kemungkinanpencucian.
Pupuk nitrat dapat diberikan melalui
“top dressing” disebar di atas
permukaan tanah. Alasan ini
digunakan karena sifat nya yang
mudah larut dan bertendensi untuk
bergerak ke bawah.
Gerakan nitrogen dan juga K perlu
dipertimbangkan dalam penempatan
pupuk, terutama ditinjau dari
penempatan biji.
Bila pupuk ditempatkan secara
larikan dibawah biji, gerakan garam
keatas bersama air kapiler dapat
merusak pertanaman. Hujan setelah
tanam yang kemudian disusul
dengan musim kering panjang
memungkinkan terjadinya
kerusakan. Oleh karenanya jangan
menempatkan pupuk langsung
diatas biji atau dipermukaan tanah.
101
6.6. Penyimpanan dan
pengawasan mutu pupuk
6.6.1.Penyimpanan pupuk
Penyimpanan pupuk merupakan
suatu hal yang perlu diperhatikan,
kerena penyimpanan pupuk yang
ceroboh dapat merusak, sifat kimia
dan fisik pupuk.
Pupuk yang bersifat hidroskopis
tidak boleh disimpan secara
ceroboh, pupuk tersebut dapat
menjadi lembab dan mencair atau
bila kelembapan berkurang pupuk
menjadi keras dan membentuk
bongkah-bongkah besar sehingga
sulit dalam hal aplikasinya.
Penyimpanan pupuk sering
dilakukan digudang-gudang
pelabuhan. Gudang daerah
perkebunan dan koperasi unit desa.
Gudang Penyimpanan Pupuk
Letak gudang pupuk harus jauh dari
api atau bahan yang mudah
terbakar, dan gudang tidak boleh
lembab.
Kelembapan di dalam gudang dapat
menimbulkan penggumpalan pupuk
atau mecairnya pupuk. Mencairnya
pupuk akan mempercepat rusaknya
karung pembungkus pupuk.
Selanjutnya pupuk mudah tercecer
dan atau tercampur satu sama lain.
Dalam mengatasi pengaruh
kelembapan perlu adanya perhatian
khusus dalam pembuatan gudang.
Gudang permanen atau gudang
yang digunakan untuk penyimpanan
pupuk dalam waktu yang lama,
dinding dan lantainya harus dibuat
dari beton. Lantai gudang harus
dilapisi dengan bahan aspal atau
bahan lain.
Bagi kios pupuk, koperasi unit desa
yang menyimpan pupuk dalam
waktu pendek, dinding gudang
hendaknya dibuat dari seng, jika
lantai terbuat dari semen maka
harus diberi alas balok berjarak 0.5-
1m.
Atap gudang tidak boleh bocor agar
pupuk tidak terkena hujan yang
dapat merusak sifat fisik kimia
pupuk.
Pupuk yang mengandung asam
keras akan menghancurkan karung
pembungkus pupuk, akibatnya
pupuk tercecer bersatu sama lain
dan terjadi reaksi kimia yang
mengurangi mutu pupuk.
Pintu gudang hendaknya diletakkan
pada dua bagian sisi gudang
sehingga memudahkan
pengambilan pupuk pengambilan
pupuk persediaan lama dan
memudahkan pula penyimpanan
pupuk yang baru datang serta dapat
dipisahkan secara mudah terhadap
letak pupuk.
Peredaran udara dalam gudang
diusahakan sebaik mungkin dan
selalu segar, oleh karenanya
dibutuhkan beberapa ventilasi yang
pembukaan dan penutupannya
dapat diatur sedemikian rupa sesuai
dengan kondisi cuaca.
102
Tidak dibenarkan untuk mencapur
gudang untuk pupuk dengan gudang
untuk bii-bijian atau benih atau
sebagainya, karena dapat
mempengaruhi kualitas pupuk.
Dalam hal penyimpanan pupuk
sebaiknya dilakukan pemisahan
antara jenis pupuk yang satu
dengan lainnya. Hal ini selain
memudahkan pengawasan juga
untuk menjaga mutu pupuk.
Tumpukan dalam gudang
Tumpukan dalam gudang yang
terlalu tinggi akan menyebabkan
rusaknya karung, dan tidak stabilnya
tumpukannya.
Pupuk yang dibagian bawah akan
mengalami tekanan yang cukup
tinggi sehingga mengakibatkan
pupuk menjadi keras.
Oleh karenanya dalam hal tumpukan
pupuk yang perlu diperhatikan
adalah:
– Letak tumpukan
Harus ada jarak cukup lebar antara
tumpukan satu dengan lainnya dan
juga letak tumpukan pupuk dengan
dinding gudang. Hal ini penting
disamping memudahkan pekerja
dalam hal menumpuk juga
menghindari kelembaban yang tinggi
jika menempel pada dinding gudang.
– Karung yang ditumpuk
Tingginya tumpukan karung harus
mempunyai ukuran, berat, isi dan
bahan yang bagian mulut karung
mengarah ke dalam. Cara ini
memberikan tumpukan yang mantap
serta tidak mudah roboh.
– Tinggi tumpukan
Tinggi tumpukan bergantung pada
alat apa yang digunakan sewaktu
melakukan pekerjaan penumpukan.
Bagi yang menggunakan alat
tumpukan dapat mencapai 20
karung, akan tetapi jika dengan
tenaga manusia hanya 10
tumpukan.
6.6.2 Pengawasan mutu pupuk
Pengawasan mutu pupuk
mempunyai arti segala-galanya bagi
petani dalam proses peningkatan
produksi pertanian.
Jaminan mutu pupuk, baik fisik
maupun kimia dalam pupuk harus
dicantumkan pada bagian luar
kemasan yang berisikan:
– Berat bersih
– Nama dan cap perusahaan
pupuk tersebut
– Komposisi kimia atau
persentase kandungan hara
pupuk
– Potensial kemasaman pupuk
– Nama dan alamat produsen
pupuk
103
6.7. Manajemen pupuk dan
pemupukan
Manajemen pemupukan yang baik
akan menghasilkan peningkatan
produksi secara kualitas dan
kuantitas.
Dari beberapa hasil penelitian
memperlihatkan pemberian pupuk
yang membabi buta tanpa
melakukan manajemen yang benar
menghasilkan pengrusakan
lingkungan.
Keuntungan dari melakukan
manajemen pemupukan adalah:
– Dihasilkan paket pemupukan
yang efisien dan efektif
– Perhitungan ekonomi yang
tinggi pada untung rugi
penggunaan pupuk
– Memperkecil kerusakan
lingkungan
– Lebih fleksibel, dan bersifat
spesifik bergantung pada
jenis tanah atau media
tumbuh tanaman, dan sistem
pertanian yang digunakan.
– Jaminan keamanan dan
kualitas makanan
– Peningkatan mutu produksi
– Melindungi tanah dan air dari
kerusakan
Langkah-langkah dalam
manajemen praktis pemupukan
adalah sebagai berikut:
– Memilih jenis tanaman yang
paling sesuai dengan kondisi
lingkungan dimana tanaman
tersebut akan ditanam
– Siapkan media tumbuh yang
baik sehingga tidak
mengganggu kelancaran
proses perkecambahan .
– Gunakan Benih dan bibit
yang berkualitas
– Waktu tanam yang tepat
agar tanaman lebih mampu
beradaptasi pada
lingkungannya.
– Pengelolaan air yang baik
6.7.1 Manajemen hara N
Hara N dibutuhkan tanaman untuk
mendukung pertumbuhannya serta
menentukan kualitas hasilnya.
Berdasarkan kedua fungsi inilah
pemupukan N pada tanaman
dilakukan tidak satu kali, bahkan
sering petani memberikan pupuk N
yang berlebihan.
Tujuan yang ingin dicapai dari
pemupukan N yang kita lakukan
adalah tidak merusak lingkungan
karena berlebihan, segera tersedia
untuk dapat diambil tanaman, dan
sesuai dengan kebutuhannya.
104
Langkah awal dari manajemen
pemupukan N adalah mengetahui
status nitrogen tanah atau N dalam
media tumbuh.
Disamping itu kita juga harus
mengetahui status N dalam air
irigasi, terutama untuk pertanian
lahan basah. Dengan mengetahui
kandungan hara yang dikandung air
irigasi maka kita akan memberikan
pupuk N yang lebih tepat jumlahnya.
Analisa tanaman juga dapat
membantu untuk mengetahui
konsentrasi hara dalam tanaman.
Berdasarkan ketiga hal diatas
(status N tanah, N pada air irigasi,
dan analisa tanaman) kita membuat
berapa yang keluar/ diambil
tanaman dan sejumlah berapa yang
harus kita tambahkan
Hal yang tidak kalah pentingnya
adalah pemanfaatan jasad
penambat nitrogen, dan faktor-faktor
yang menghambat proses
penambatan N tersebut.
Adalah lebih baik jika kita
menggunakan pupuk N yang lambat
tersedia, sehingga N yang diberikan
tidak hilang ataupun tercuci.
Waktu yang tepat pemberian N
membantu agar N yang diberikan
dapat diambil tanaman pada waktu
dibutuhkan.
Beberapa jenis tanaman lebih
menyukai pemberian pupuk N
melalui daun. Nitrogen yang
diaplikasikan melalui daun dapat
segera diambil tanaman. Hasil
penelitian menunjukkan lebih 50%
nitrogen dapat diambil setelah 60
menit diaplikasikan melalui daun dan
lebih 90% setelah 24 jam
diaplikasikan. Teknik ini lebih efisien
untuk menghindari kehilangan N
yang diberikan.
6.7.2. Manajemen pupuk P
Pupuk posfor tidak sama dengan
pupuk nitrogen, umumnya pupuk ini
lambat tersedia. Pergerakan pupuk
ini yang relatif lambat menyebabkan
pergerakannya tidak begitu jauh dari
pupuk ditempatkan.
Manajemen pemberian pupuk P
dapat dilakukan dengan langkahlangkah
berikut:
– Analisa tanah
Hasil analisa yang akurat
memberikan langkah yang tepat
mengenai berapa jumlah P yang
harus ditambahkan.
– Pemberian yang wajar
Pupuk P dalam tanah mudah
berubah ke dalam bentuk P yang
tidak tersedia bagi tanaman. Oleh
karenanya upaya mengurangi
bidang kontak pupuk ini dengan
tanah merupakan usaha untuk dapat
meningkatkan ketersediaan posfor.
Metode penyebaran dalam barisan
tanaman merupakan metode yang
efektif dalam penggunaan pupuk ini.
Pupuk ini juga dapat diaplikasikan
melalui air irigasi.
105
– Analisa tanaman
Kandungan P dalam tanaman
merupakan gambaran ketersediaan
P dalam larutan tanah. Berdasarkan
kandungan P yang ada dalam
jaringan tanaman dan dibandingkan
dengan P dalam tanah, kita dapat
menduga jumlah P yang harus
ditambahkan
6.7.3. Manajemen kalium
Kalium lebih mobl dibandingkan
dengan pergerakan hara lainnya.
Langkah-langkah yang ditempuh
dalam manajemen pupuk kalium ini
adalah:
– Analisa tanah
– Pemberian posfor yang
sewajarnya
– Analisa tanaman
6.8. Evaluasi
Isilah titik-titik diwah ini dengan
benar.
1. Menurut pendapatmu mana
yang lebih besar pengaruh
negatifnya jika kita
memberikan pupuk berlebih
pada tempat yang terbuka
dibandingkan dalam pot
2. Kekurangan suatau hara dapat
di duga hanya dengan analisa
tanaman? Jelaskan
3. Pemberian pupuk padat pada
tanaman perkebunan
dilakukan melalui………….. dan
hal hal apa yang harus
diperhatikan
4. Menurut pendapatmu mana
lebih menguntungkan
penggunaan pupuk majemuk
atau tinggal.
5. Tuliskan cara-cara
penyimpanan pupuk
berdasarkan bentuknya
6. Gambar dibawah ini adalah
gambar pemupukan pada
tanaman karet belum
menghasilkan. Jelaskan
kedua gambar dibawah ini

106
BAB VII
SUMBER AIR BAGI
PERTANIAN (IRIGASI)
7.1.Pengertian Irigasi
Irigasi secara umum didefinisikan
sebagai pemberian air kepada tanah
dengan maksud untuk memasok
kelembaban tanah esensial bagi
pertumbuhan tanaman.
Tujuan umum irigasi adalah:
1. Menjamin keberhasilan
produksi tanaman dalam
menghadapi kekeringan jangka
pendek
2. Mendinginkan tanah dan
atmosfir sehingga akrab
dengan pertumbuhan tanaman
3. Mengurangi bahaya cekaman
kekeringan
4. Mencuci atau melarutkan
garam dalam tanah
5. Melunakkan lapisan olah dan
gumpalan-gumpalan tanah
Secara implisist tujuan umum irigasi
tersebut mencakup pula kegiatan
drainase pertanian terutama
berkaitan dengan tujuan mencuci
dan melarutkan garam tanah.
7.2. Air permukaan tanah
Seluruh keperluan air bagi tanaman
dan untuk kelembaban tanahnya
dicukupi oleh ketersediaan air
pengairan yang berasal dari air
permukaan dan air tanah. Sumber
air permukaan yaitu sungai, danau,
waduk dan curah air hujan, sedang
sumber air tanah yaitu air tanah
bebas dan air tanah tertekan.
Ketersediaan air pengairan bagi
pertanian itu berbeda-beda
tergantung pada:
– Musim
– Lokasi sumber air
– Usaha-usaha konservasi air.
Tanaman yang mengalami
kekurangan air akan mengalami
cekaman kekeringan.
Beberapa tipe dari cekaman adalah
sebagai berikut:
1. Tipe meteorology
2. Tipe Hidrologi
3. Tipe pertanian
4. Tipe Sosial ekonomi
Kekeringan meteorology, adalah
cekaman kekeringan yang
disebabkan keterbatasan curah
hujan yang berkepanjangan.
Kekeringan dapat dinyatakan
sebagai suatu keadaan dimana
berkurangnya jumlah air disebabkan
oleh menurunnya daya dukung
tanah terhadap ketersediaan air.
Pada kondisi ini tanah yang
berfungsi sebagai tempat cadangan
penyimpan air tidak dapat
melaksanakan fungsinya.
107
Kekeringan hidrologi, adalah
kekeringan yang berasosiasi dengan
efek periode singkat dari curah
hujan.
Dalam hal ini air pada pool
cadangan seperti pada reservoir dan
sungai tidak mencukupi untuk
semua kebutuhan dari makhluk yang
membutuhkannya. Hal ini dapat juga
disebabkan oleh tidak adanya
kontrol terhadap peredaran air
(siklus hidrologi).
Kekeringan sosial ekonomi, adalah
keadaan perubahan sosial ekonomi
masyarakat yang disebabkan oleh
keterbatasan air. Jumlah dan
kualitas air yang tidak mencukupi
berakibat pada rendahnya hasil
pertanian atau bahan makanan
sehingga menyebabkan perubahan
tatanan sosial masyarakat.
Walaupun curah hujan di Indonesia
relatif cukup tinggi, tetapi
ketersediaannya perlu
diperhitungkan secara kualitas dan
kuantitas.
Ketersediaan air pengairan yang
cukup banyak dan bebas dari
pencemaran dan bahan-bahan
buangan yang tidak dapat meracuni
tanaman merupakan pilihan untuk
pengairan yang dapat dapat
dimanfaatkan.
Oleh karenanya untuk
mempertahankan ketersediaan air
perlu diperhatikan hal-hal sebagai
berikut:
a. Debit yang memadai
b. Berkualitas menurut
pandangan dari segi
pertanian atau jelas nya
cukup mengandung unsurunsur
hara bagi tanaman dan
unsur-unsur mineral bagi
kesuburan tanah.
Indonesia dan seluruh daerah
tropika curah hujan merupakan
sumber yang pokok bagi tersedianya
air pengairan terutama air
permukaan.
Air hujan yang tercurah pada suatu
daerah sebagian akan terinfiltrasi
melalui pori-pori tanah ke dalam
tanah dan sebagian lagi karena
daya resap pori-pori tanah tidak
memungkinkan akan membentuk
aliran air permukaan (run off) yang
terus mengalir ke bawah dan masuk
ke sungai-sungai.
Aliran air permukaan biasanya
mengangkut unsur-unsur hara dari
tanah di bagian atas ke tanah
bagian bawah atau langsung
terangkut ke dalam sungai yang
selanjutnya ke muara dan laut atau
menyampaikannya ke danau-danau
atau waduk-waduk yang telah
dibuat.
Air sungai, danau atau waduk yang
demikian kalau diuji biasanya
menunjukkan kualitas air yang
banyak mengandung unsur hara
yang penting bagi tanaman.
Air hujan yang terinflitrasikan ke
dalam tanah sebagian akan
mengalir kembali ke luar dari tanah
dan masuk ke sungai-sungai tetapi
sebagian akan bertahan sementara
di dalam tanah dan selanjutnya
sedikit demi sedikit air tanah akan ke
luar pula melalui mata air ke
108
permukaan tanah dalam jangka
waktu yang relatif lama.
Air tanah ini menjamin terpenuhinya
kebutuhan manusia akan air minum
dan lain-lain.
Dalam kaitan dengan bergeraknya
air pada lapisan permukaan tanah
dan dalam lapisan bawah tanah, kita
mengenal istilah-istilah:
– interflow
– ground water
– groun water run off.
a. interflow, yaitu aliran air yang
meresap ke lapisan tanah
permukaan dan kemudian
mengalir kembali ke luar dari
lapisan tanah permukaan
tersebut ke permukaan tanahnya
b. ground water, yaitu air tanah
atau jelasnya air permukaan
yang meresap ke dalam tanah
dan berkumpul di bagian lapisan
bawah tanah yang kemudian
sedikit demi sedikit akan ke luar
melalui mata air
c. ground water run off, yaitu
limpasan air tanah.
Hujan yang turun pada suatu atau
beberapa daerah selanjutnya akan
mengalir dan masuk ke dalam paritparit,
selokan-selokan, sungaisungai
kecil dan menyatu dalam
sungai besar, untuk seterusnya
mengalir ke muara/laut atau ke
danau.
Jadi sungai tersebut berfungsi
mengumpulkan dan mengalirkan
curahan air hujan dari suatu daerah
lairan sungai (DAS).
7.3. Air Tanah
Daerah penampungan (reservoir,
reservation) air tanah terdapat di
lapisan bagian bawah tanah,
tepatnya di dalam lapisan padat atau
batuan yang sarang yang biasanya
terbentuk dari bahan-bahan pasir
dan kerikil, tufa vulkanis, batu
gamping dan beberapa bahan
lainnya.
Lapisan penampungan air tanah ini
selanjutnya dikenal sebagai lapisan
pengandungan air atau aquifer, air
yang terkumpul disini mudah
bergerak dari tempatnya yang lebih
tinggi ke tempat-tempat yang lebih
rendah.
Berkaitan dengan kondisi dan
letaknya di dalam tanah, lapisan
pengandung air (aquifer) tersebut
biasanya dibedakan menjadi
sebagai berikut :
a. lapisan pengandung air tanah
yang bebas atau tidak terbatas
(unconfined aquifer). Lapisan ini
di bagian bawahnya terdapat/
dibatasi oleh lapisan kedap air,
sedang disebelah atasnya
berupa muka air yang
berhubungan dengan atmosfer.
b. Lapisan pengandung air tanah
yang tertekan/ terbatas (confined
aqufer). Lapisan ini di bagian
atas dan di bagian bawahnya
dibatasi oleh lapisan kedap air.
109
c. Lapisan pengandung air tanah
tumpang (perched aquifer).
Lapisan ini terletak di atas
lapisan kedap air yang tidak
begitu luas, berada pada zona
aerasi di atas water table.
Karena volume air pada lapisan
ini mengandung air tanah
tidakbanyak maka perched
aquifer kurang dapat diandalkan
sebagai sumber air.
Pemanfaatan air tanah untuk
pengairan dengan memanfaatkan air
yang berasal dari mata air dengan
teknik penyedotan sampai saat ini
masih terbatas.
Umumnya pengairan yang dilakukan
adalah dengan memanfaatkan aliran
sungai.
Alasan keterbatasan penggunaan air
sumber mata air ini adalah:
a. Kebanyakan lapisan
pengandung air tanah berada
jauh di dalam tanah, yang sulit
untuk penggaliannya
b. Penggunaan alat penyedot air
memerlukan biaya yang tidak
kecil bagi ukuran hidup para
petani.
c. Menghindari mengeringnya
sumber-sumber air tanah
(konservasi air)
d. Kesadaran para petani
sehubungan dengan
pengetahuannya yang
meningkat, bahwa penggunaan
air tanah yang berlebihan dapat
mengakibatkan :
(1) penurunan permukaan
tanah;
(2) perembesan air asin, yang
dapat berakibat tidak dapat
dimanfaatkannya air tanah
tersebut.
Pengambilan air tanah untuk
kepentingan pengairan pertanian
hanya dilakukan terbatas dan itupun
hanya dilakukan dibeberapa daerah
tertentu, pada saat-saat musim
kemarau.
Penggunaan air tanah yang terus
menerus secara berlebihan, akan
mengakibatkan perembesan air laut
ke daratan melewati garis pantai.
Dengan berkembangnya
pembangunan industri-industri besar
di daerah-daerah perkampungan,
para pengusaha industri dituntut
agar tidak menggunakan air tanah
secara berlebihan.
Secara ringkas bagaimana
pergerakan air dimuka bumi ini
digambarkan pada Gambar 40
dibawah ini .
7.4. Daerah aliran sungai
(DAS)
Sebagai telah dikemukan, sungai
berfungsi sebagai penyalur air hujan
pada suatu daerah aliran sungai.
Demikian pentingnya nilai daerah
aliran sungai tersebut, terutama bagi
pertanian dan pencegahanpencegahan
peluapan air.
Pemeliharaan kawasan ini perlu
diupayakan secara serius agar tidak
terjadi kerusakan lingkungan.
110
Daerah aliran sungai berdasarkan
pola-polanya dibedakan menjadi :
a. Daerah aliran sungai dengan
pola ”Bulu Burung”.
Di daerah aliran sungai ini selain
terdapat sungai utama, tidak
jauh daripadanya, disebelah kiri
dan kanan terdapat pula sungaisungai
kecil atau anak-anak
sungai.
Sewaktu hujan mengguyur
daerah ini anak-anak sungai
akan berfungsi pula mengalirkan
air hujan yang mengalir ke
dalamnya, dengan demikian
debit air yang meluap pada
sungai utama dan anak-anak
sungainya akan tetap kecil,
dengan demikian kalaupun
terjadi banjir akan berlangsung
lambat, sedang pembuangannya
berlangsung cepat.
b. Daerah aliran sungai dengan
pola ”Radial/Melebar”. Di
daerah aliran sungai inipun
terdapat sungai utama/ besar,
dengan beberapa anak
sungainya, hanya anak-anak
sungai tersebut melingkar dan
akan bertemu dengan sungai
utamanya pada suatu titik
(daerah), sehingga kalau
digambarkan akan berbentuk
bagaikan kipas. Terkumpulnya
curah hujan di daerah aliran
sungai ini, dengan sebagian
mengalir dan sebagian mengalir
ke sungai utama dan terbagi lagi
ke anak-anak sungainya, yang
kemudian bertemu pada suatu
titik/ suatu daerah, akan
mengakibatkan banjir besar di
daerah pertemuan tersebut.
c. Aliran sungai dengan pola
”Paralel/Sejajar”. Daerah
aliran sungai ini terdiri dari 2
jalur daerah aliran, yang
memang paralel, yang
dibagian hilir keduanya
bersatu sehingga merupakan
satu sungai besar. Sewaktu
curah hujan mengguyur
daerah-daerah di sekitar
aliran sungai tersebut, maka
pada daerah hilir dimana
terjadinya pertemuan tadi
akan terjadi peluapanpeluapan
air yang cukup
besar.
Terjadinya peluapan-peluapan air
(banjir) seperti dikemukakan di atas
memang di daerah-daerah tertentu
dapat membawa dan
menyampaikan unsur-unsur hara
dan atau mineral tertentu yang dapat
menyuburkan tanaman dan
tanahnya, akan tetapi jika
dibandingkan dengan kerugian yang
ditimbulkan (seperti erosi,
pelongsoran, tersapunya tanaman
yang dibudidayakan, hancurnya
rumah-rumah penduduk, dan lainlain)
maka kerugian itu adalah jauh
lebih besar.
Terlebih lebih kalau akibat
pengikisan-pengikisan tanah lapisan
permukaan tadi mengakibatkan
bagian-bagian tanah yang tersisa
menjadi sangat kurus/tidak produktif,
sangat melarat akan unsur-unsur
hara dan mineral yang diperlukan
tanaman.
Karena itulah maka perlindungan
terhadap daerah-daerah aliran
sungai perlu diperhatikan.
111
Gambar 42 berikut merupakan
ilustrasi bagaimana drainase
mempengaruhi ketersedian dan pola
penyebaran hara.
Gambar 42. Manajemen pengairan
merubah distribusi garam tanah
7.5. Sistem Pengambilan
dan pemberian Pengairan
bagi Lahan Pertanian
Air yang tersedia di alam tidak
seluruhnya dapat dimanfaatkan bagi
kepentingan pengairan tanaman,
seperti air yang salinitasnya tinggi,
air yang asam, air yang tercemar,
dan lain sebagainya.
Jadi air bagi pengairan lahan-lahan
pertanian sifat dan kualitas air
pengairan itu sangat berpengaruh
dan menentukan.
Pengolahan tanah yang baik,
pemberian pupuk yang sempurna
dan pemakaian bibit-bibit tanaman
unggul dalam usaha pertanaman
akan tetapi kalau air pengairannya
mempunyai salinitas ataupun
kemasaman yang berpengaruh,
maka pertumbuhan tanaman tidak
mungkin terjamin, bahkan
kemungkinan pula tidak terjadi
pertumbuhan tersebut.
Untuk menilai sifat dan kualitas air
perlu diketahui konsentrasi total
serta konsentrasi bahan-bahan
tertentu yang terkandung dalam air
pengairan (irigasi).
Konsentrasi garam total merupakan
kriteria tunggal yang terpenting.
Kalau kemasaman tanah akibat
pengaruh dari air pengairan yang
masam masih dapat diatasi dengan
pemberian bahan-bahan kapur
pertanian secukupnya, akan tetapi
jika tingkat salinitasnya tinggi maka
sulit dilakukan pengelolaannya.
Penggunaan air dengan kadar
salinitas tinggi dibutuhkan
penanganan khusus seperti
pencucian atau dihindari
pemakaianya.
112
7.5.1. Klasifikasi Air pengairan
Kualitas air pertanian yang perlu
diperhatikan adalah kandungan zatzat
yang terdapat pada air tersebut.
Yang perlu dinilai kandungan zat-zat
pada air pengairan tersebut adalah
sebagai berikut:
– Zat atau unsur garam yang
melarut dalam air pengairan,
yang dapat menghambat
pertumbuhan tanaman. Kadar
garam total ini dinyatakan dalam
suatu ppm atau sebagai tingkat
DHL (Daya Hantar Listrik) dalam
satuan micr/cm.
– Kadar natrium dalam air tanah
kadarnya relatif tinggi dibanding
dengan kation-kation lain dan
dapat mengakibatkan perubahan
sifat fisik dan kimiawi dalam
tanah.
Dalam penilaian air irigasi ini turut
menjadi perhatian adalah
berhubungan dengan kandungan
kimia dari unsur-unsur berbahaya
yang biasa disebut SAR.
US Salinity Laboratory Staff
mengemukan cara menghitung SAR
dengan rumus sebagai berikut :
SaR:
2
Na
++ ++
+
Ca + Mq
Dengan rumus ini kadar kation
dinyatakan dalam satuan
miliekuivalen tiap liter.
Unsur Boron yang merupakan salah
satu bahan peracun (phytotoxic)
dalam kadar yang relatif tinggi,
ternyata sangat menghambat
pertumbuhan tanaman.
Selanjutnya, dilakukan
pengamatan mengenai klasifikasi
air pengairan (irigasi) menurut
penilaian US Salinity Laboratory
Staff dan menurut SCOFIELD.
Klasifikasi air pengairan
berdasarkan nilai SAR menurut
perhitungan US Salinity
Laboratory Staff, disusun dalam
Tabel 6.
US Salinity Laboratory Staff
selanjutnya mengemukakan
metode tentang klasifikasi air
pengairan berdasarkan
penilaiannya terhadap:
– Tingkat DHL (Daya Hantar
Listrik)
– Kadar garam total
– Persentase natrium dan
kadar unsur boron, yang
mempengaruhi pertumbuhan
tanaman.
Hasil pengamatan ini kemudian
diklasifasikan atas beberapa kelas
yaitu:
– Klasifikasi 1 (Kelas 1)
menggolongkan air
pengairan (irigasi) yang baik
sekali bagi pemanfaatannya
di bidang pertanian
– Klasifikasi 2 (Kelas 2) masih
menyatakan cukup baik
113
– Klasifikasi 3 (Kelas 3) perlu
dihindari karena dapat
banyak merugikan (Tabel
7).
Seluruh kadar kation-kation dalam
perhitungan ini dinyatakan dalam
satuan miliekuivalen/liter.
Air pengairan yang tergolong
baik sekali (Kelas 1) dalam keadaan
normal dapat diberikan
kepada relatif semua jenis
tanaman, sedangkan kelas 2 baik
untuk jenis tanaman tertentu saja.
Sedang air pengairan yang
tergolong kelas 3 adalah yang
kurang baik bagi pertumbuhan
tanaman sehingga air pengairan ini
perlu dicegah bagi usaha pertanian.
Scofield mengemukakan hasil
penilaiannya yang lebih terperinci
terhadap klasifikasi air irigasi.
Dalam hal ini mereka melakukan
penilaian tidak hanya berdasarkan
kadar natrium, garam total dan
DHL, akan tetapi lebih terperinci.
Klasifikasi air menurut Scofield
berdasarkan atas :
– Tingkat DHL
– Kadar garam total
– Persentase Na+,
– Kadar ion-ion Chlorida dan
Sulfat
– kandungan unsur boron,
Berdasarkan penilaiannya terhadap
air irigasi tersebut maka dapat
digolongkan menjadi 5 kelas seperti
pada Tabel 8.
114
Tabel 6 Klasifikasi air pengairan berdasarkan nilai SAR (Bandingan
adsorbsi natrium).
Kelas air AIR Nilai SAR Penjelasan
1 0-8 Baik sekali
2 8-18 Baik
3 16-26 Kurang Baik
4 >26 Buruk
Tabel 7 Klasifikasi air irigasi menurut US Salinity Laboratory
Kelas air
R
DHL
(Micr/cm)
Kadar garam
total (ppm))
Na+
(%)
Boron
(ppm)
1
2
3
0 – 1000
1000 3000
> 3000
0 – 700
700 – 2000
> 2000
0 – 60
60– 75
> 75
0,0 – 0,5
0,5 – 2,0
> 2,0
115
Tabel 8. Klasifikasi air
pengairan (irigasi)
menurut Scofield
Kls
air
DHL
(Mie
r/c
m)
Na+
(%)
Cl-
SO4
(ppm)
Boron
(ppm)
Penjelas
an
1 0-250 0-20 0-4
0,00-
0,67
sangat
baik
2
250-
750 20-40 4-7
0,67-
1,33 baik
3
750-
2000 40-60 7-12
1,33-
2,00
agak
baik
4
2000-
3000 60-75
12-
30
2,00-
2,50
kurang
baik
5 3000 >75 > 30 2,50
kurang
sesuai
SUMBER : Irigasi dan Drainase,
DEPDIKBtJD,1982
Penelitian tentang sifat dan
kualitas air pengairan, biasanya
para peneliti mengambil sample air
sungai, air saluran irigasi, sumur
ataupun mata air, sekitar 2 liter
dan kemudian ditaruh pada
bejana plastik.
Baru dilakukan analisis meliputi:
– penentuan kation dan anion
– pH
– DHL (daya hantar listrik)
– Kandungan lumpurnya.
7.5.2. Beberapa cara dalam
pengambilan air pengairan
Dalam pemilihan sumber air
pengairan (irigasi) agar air dapat
disalurkan dari sumbernya ke
daerah-daerah pertanian, maka
faktor lokasi sumber air dan teknik
pengambilannya.
Di dalam menentukan lokasi sumber
harus terpikirkan:
1. Debit yang mantap yang yang
diperhitungkan dapat mencukupi
kepentingan/kebutuhan air
tanaman
2. Kualitas air yang cukup baik,
bagi penunjang pertumbuhan
dan perkembangan tanaman;
Tabel 8. Klasifikasi air pengairan (irigasi) menurut Scofield
Kls
air
DHL
(Mier/cm)
Na+
(%)
Cl-SO4
(ppm)
Boron
(ppm)
Penjelasan
1 0-250 0-20 0-4 0,00-0,67 sangat baik
2 250-750 20-40 4-7 0,67-1,33 baik
3 750-2000 40-60 7-12 1,33-2,00 agak baik
4 2000-3000 60-75 12-30 2,00-2,50 kurang baik
5 3000 >75 > 30 2,50 kurang
sesuai
SUMBER : Irigasi dan Drainase, DEPDIKBtJD,1982
116
3. Lokasi sumber air dekat atau
tidak seberapa jauh dari areal
pertanian yang
membutuhkannya serta mudah
dalam pengambilannya.
Di dalam teknik pengambilan dan
penyalurannya dapat menggunakan
teknik pembuatan clan (bendungan),
penggunaan alat-alat yang
sederhana, atau penggunaan
pompa air.
1. Pembuatan dam (bendungan).
Dam atau bendungan dibuat dengan
maksud agar air sungai yang
terbendung itu dapat dinaikkan air
permukaannya dengan demikian
pengambilan atau penyalurannya
ke areal pertanian akan lebih
mudah. Biasanya untuk kepentingan
air ini permukaan yang terbendung
dihubungkan dengan parit-parit
atau saluran yang dirancang dan
dibuat menyebar ke lahan-lahan
pertanaman.
2. Penggunaan alat-alat yang
sederhana
Di beberapa daerah tertentu di
Jawa dalam usaha mengairi
lahan pertaniannya, para petani
menggali sumur-sumur dan dengan
menggunakan timba air diambil
dan digunakan untuk mengairi
pertanamannya.
Apabila lahan-lahan pertaniannya
berbatasan dengan saluran atau
jaringan irigasi, tetapi letak lahan
pertaniannya sedikit lebih tinggi
dari permukaan air pada
saluran/jaringan, para petani
menggunakan bor untuk
mengalirkan air ke areal
pertanamannya.
3. Penggunaan pompa air (water
pump)
Usaha pengambilan atau penyaluran
air pengairan dapat dilakukan pula
dengan membuat sumur pompa
atau pemompaan air sungai yang
letaknya atau permukaan airnya ,
sedikit lebih rendah dari
kedudukan lahan pertanian. Pompa
yang sering digunakan untuk
kepentingan pertanian yaitu :
Centrifugal water pump (pompa
pusingan) dan Propeller waterpump
(pompa baling-baling),
digerakkan oleh motor disel.
Pemberian air pengairan dengan
cara-cara tersebut di atas dapat
diambil dari sumber airnya yang
kemudian disalurkan ke lahan
pertanian. Usaha demikian
tampaknya mudah, akan tetapi
dalam praktek nya sering
menimbulkan kesulitan dan
masalah.
Keterbatasan curah hujan (pada
musim kering) akan
mengakibatkan air pengairan pada
lahan pertanaman petani lain dan
keterbatasan jumlah air ini
menghambat pengaliran air ke
areal lainnya.
Hambatan tersebut dapat juga
disebabkan oleh berbagai kondisi
alami dan aturan-aturan yang
dibuat manusia sendiri.
117
7.5.3. Beberapa cara
pemberian air pengairan
Pemberian air irigasi pada lahan
pertanian dapat dilakukan
dengan beberapa cara dan
disesuaikan dengan:
1. Perancangan lahan-lahan
pertanian
2. Kebutuhan tanaman untuk
pertumbuhan dan
perkembangannya.
Pemberian air pengairan pada
permukaan tanah tujuannya adalah
melakukan pembasahan di sekitar
lapisan olah tanah (top soil).
Dengan dilakukannya pengairan ini
selain memudahkan pengolahan
tanah, juga menambahkan unsurhara
yang terkandung dalam air
irigasi ke dalam tanah serta
memudahkan akar-akar tanaman
untuk dapat
mengambil/menyerapnya.
Cara pemberian air pengairan pada
permukaan tanah dapat dibedakan
menjadi:
7.5.3.1.Cara penggenangan
(flooding)
Cara penggenangan adalah cara
pemberian air ke lahan pertanian
sehingga menggenangi permukaan
tanahnya.
Cara penggenangan ini dapat
dikelompokka atas:
1. Penggenangan secara bebas
2. Penggenangan secara terbatas,
seperti pada petak-petak
pertanaman yang dibatasi
dengan galengan-galengan,
contohnya pada petak-petak
persawahan.
7.5.3.2. Cara penyaluran air di
antara bedengan
Kalau lahan pertanaman dirancang
secara bedengan (lebar bedengan
biasanya antara 1,5 m sampai 2 m)
yang pada batas tiap bedengan
dibuatkan parit kecil yang sangat
dangkal, maka air pengairan dapat
disalurkan ke dalamnya.
Dengan cara demikian penggunaan
air pengairan dapat dikurangi,
karena tidak seluruh permukaan
tanah harus diairi seperti halnya
pada cara penggenangan.
7.5.3.3.Cara penyaluran air di
antara larikan/baris tanaman
Larikan bentuknya hampir sama
dengan bedengan, bedanya
adalah dalam hal lebarnya, lebar
larikan hanya sekitar 0,5 m dan
tiap larikan hanya dapat
ditumbuhi satu barisan/sederetan
tanaman, sedangkan satu
bedengan dapat , ditumbuhi 4
atau 5 barisan/deretan tanaman.
Air pengairan dialirkan pada
alur-alur kecil yang membatasi
tiap larikan.
Cara 7.5.3.1 dan 7.5.3.3. banyak
dilakukan bagi lahan-lahan
pertanaman padi.
118
Akan tetapi untuk pertanaman
tembakau, bawang merah atau
putih, kacang-kacangan, sayursayuran,
tebu dan sebagainya cara
pengairan 7.5.3.2. lebih efisien
digunakan.
Cara penggenangan air pada
petak-petak persawahan dilakukan
pula dengan cara yang berbeda,
yaitu:
a. Penggenangan secara terusmenerus,
tetapi bersikulasi
Cara ini dilakukan dengan
melakukan penggenangan secara
terus menerus. Akan tetapi airnya
terus mengalir, air yang lama ke
luar petak diganti dengan aliran
baru.
Cara ini biasanya dilakukan pada
daerah persawahan dengan
persediaan air pengairan yang
mencukupi. Dengan cara ini
biasanya tanaman lebih terjamin
kebutuhan air nya.
Namur demikian ada
kekurangannya:
1) Efisiensi pengairan rendah
karena banyak nya air
yang terbuang melalui aliran
permukaan
2) Sebagian unsur-unsur hara
yang terkandung dalam air
pengairan akan teralirkan
terus tanpa dimanfaatkan
oleh tanaman.
b. Penggenangan secara terus
menerus dan keadaan airnya
tidak mengalir.
Cara ini dapat dilakukan pada
daerah-daerah persawahan yang
persediaan air pengairannya tidak
banyak dan di perkirakan tidak bakal
mencukupi kalau aliran air
permukaan berlangsung terus.
c. Pemberian air pengairan
secara terputus -putus .
Pengertian ini dalam interval
tertentu selama beberapa hari
dilakukan
penyaluran/penggenangan
kemudian berhenti dan berulang
lagi begitu seterusnya selama
musim pertanaman.
Biasanya cara demikian
dilakukan dengan maksud
memperbaiki aerasi tanah dan
menghemat pendayagunaan air
pengairan, efisiensi penggunaan
air yang cukup tinggi, kehilangan
air melalui perkolasi dan aliran
permukaan sekitar 20-30%.
Keuntungan yang diperoleh dengan
menerapkan cara ini adalah :
1. Efisiensi penggunaan air
cukup tinggi;
2. Air pengairan dapat dihemat;
3. Pemberian air dapat
dilakukan secara teratur dan
merata;
4. Dapat memperbaiki aerasi
tanah pada zona perakaran;
terjadinya penambahan
119
unsur-unsur hara dalam
tanah yang mudah diserap
oleh akar tanaman.
Namun demikian, kekurangannya
ada pula, yaitu:
1. Diperlukannya biaya yang
lebih besar bagi pengaturan
air yang intensif dan
penggunaan lebih banyak
tenaga
2. Penekanan terhadap,
pertumbuhan gulma
(tanaman pengg a n g g u )
k u r a n g e f e k t i f .
7.5.3.1. Cara
penyaluran air di
bawah tanah
Sesuai dengan perancangan
lahan/petak pertanaman yang
tidak memerlukan penggenangan
air pada permukaan tanah, maka
dapat dilakukan pemberian air
pengairan dengan cara
mengalirkannya pada parit-parit
pembatas lahan pertanaman
yang keadaannya cukup dalam.
Cara ini hanya dapat dilakukan
dengan baik pada areal
pertanaman yang datar di mana
terdapat lapisan kedap air atau
permukaan air tanah yang relatif
dangkal.
Cara ini dapat pula dilakukan
dengan mengalirkan air pengairan
pada pipa-pipa besi/paralon
yang dibenamkan di bawah permukaan
tanah sekitar lahan-lahan
pertanaman tersebut, hasilnya
sama seperti di atas .
Penggunaan cara ini akan kurang
efektif dan efisien, rumit dan
memerlukan biaya kalau
diterapkan pada lahan-lahan pertanaman
yang keadaan tanahnya
tidak datar.
7.5.3.2.Cara pemberian air
pengairan dengan pancaran
Sprinkle irrigation system atau cara
pemberian air pengairan dengan
pancaran dilakukan dengan
menggunakan pipa-pipa yang
dipasang atau ditanam, yang
penempatannya dan dengan
tekanan tertentu.
Cara pemberian air pengairan
secara pancaran umumnya
diterapkan pada lahan-lahan pertanaman
yang dipakai untuk
membudidayakan jenis tanaman
yang bernilai ekonomi tinggi dan
kebutuhan airnya relatif sedikit.
Penggunaan sprinkle irrigation
system memang merupakan
pengairan dengan efisiensi tinggi
serta dapat diterapkan pada daerahdaerah
pertanian dengan
topografi bergelombang, tetapi
dengan menerapkan cara ini harus
diperhatikan pula faktor-faktor
sebagai berikut :
(1) memerlukan biaya yang cukup
tinggi;
(2) memerlukan keahlian dan
perhitungan yang tepat dalam
merancang tata letak;
(3) bagi areal pertanaman yang
berubah-ubah arah dan
kecepatan anginnya, cara
120
pemberian air pengairan
dengan sistem pancaran dapat
dikatakan tidak sesuai dan tidak
efisien.
Sprinkler irrigation system dapat
dilakukan dengan memanfaatkan
:
1.Pipa yang berlubang-lubang
Air pengairan disalurkan ke dalam
pipa dengan tekanan air yang
rendah, maka air akan
terpancarkan melalui lubanlubang
dalam bentuk yang seragam,
tanah dan tanaman bagikan disiram
2.Pipa ber-nozzle
(bersemprotan) tetap atau
berputar:
Air pengairan disalurkan ke dalam
pipa, dengan adanya tekanan air
sedang sampai tinggi, nozzle yang
di bagian mulutnya berlubanglubang
dengan diameter kecil-kecil
akan menyemprotkan air ke luar.
Penggunaan pipa ber-nozlle yang
berputar akan menghasilkan
semprotan air yang sempurna.
Dalam pengetahuan yang
berkaitan dengan pemberian
pengairan ini tidak lengkap
kiranya kalau tidak dikemukanan
tentang sis tem irigasi
berdasarkan peranan gravitasi.
Dalam hal ini dikenal:
a. Gravity irrigation atau irigasi
gaya berat
Sistem ini menggunakan cara di
mana pemberian/ penyaluran air
pengairan ini sepenuhnya
dengan memperhatikan gaya
berat, misalnya irigasi
permukaan tanah, irigasi di
bawah permukaan tanah, irigasi
secara pancaran bertekanan
rendah dan pemberian air pengairan
(irigasi) melalui pipa yang
berlubang-lubang.
Khusus bagi irigasi secara.
pancaran (sprinkler irrigation) dan
irigasi melalui pipa yang
berlubang-lubang (perforated
pipe irrigation) letak sumber air
pengairan harus lebih tinggi dari
lahan yang akan diairi, dengan
demikian keperluan tenaga
tekanan tercukupi.
b. Non gravity irrigation atau
irigasi non gaya berat
Cara ini dilakukan
pemberian/penyaluran air
pengairan tidak sepenuhnya
tergantung dari gaya berat.
Keperluan tenaga tekanan
diperoleh dari tenaga pompa
yang umumnya digerakkan
dengan Motor, misalnya pada
pemberian/penyaluran air
pengairan secara pancaran
bertekanan sedang sampai tinggi.
7.6. Prinsip -prinsip
dasar dalam pemilihan
sistem Pertanian
Penerapan di lapisan sistemsistem
pemberian, penyaluran
dan pengahran air pengairan ke
dan dari lahan-lahan pertanaman
sebagai disebutkan di muka
121
tidaklah semudah seperti yang
telah diteorikan, karena
penerapannya di lapangan
terutama sangat tergantung pada
perencanaan rancangan jaringan
pengairan yang dibuat untuk
keperluan tersebut.
Dalam perancangannya selalu
dijumpai kendala-kendala yang
kompleks yang berkaitan dengan
berbagai kondisi alami dan tata
cara penggunaan air pengairan
yang dibuat manusia sendiri,
hambatan/kendala tersebut
antara lain sebagai berikut :
a.Keadaan topografi termasuk
karakteristik lahan dan tanah
setempat.
b.Keperluan penyediaan air yang
dibutuhkan oleh tanamannya.
c.Cara-cara usaha tani, yang
dalam hat ini termasuk
kedalamanakar tanaman,
kebiasaan tumbuh tanaman.
d.Kualitas air pengairan dan
kuantitas tersedianya air
tersebut pada sumbersumbernya.
e.Cara pemberian air pengairan
ke petak-petak lahan pertanaman.
f. Keadaan iklim setempat, terutama
unsur-unsurnya.
g.Tata cara penggunaan air
pengairan di antara para
pemakai air pengairan tersebut.
7.6.1. Keadaan topografi dan
karakteristik lahan serta tanah
Dalam hal ini yang perlu
diperhatikan ialah tentang arah,
derajat dan keseragaman dari
lereng atau kemiringan tanah atau
yang biasa lebih dikenal sebagai
slope association of land (asosiasi
lereng).
Kemiringan tanah atau tanah
berlereng ini ada bermacam-macam,
ada yang tidak beraturan,
ada yang memanjang dan ada
pula yang seragam beraturan,
yang mengenai hal ini
pemberian air pengairan agar
efektif dan efisien harus
disesuaikan dengan kondisi
kemiringan tanah tersebut, jelasnya
sebagai berikut :
a. Pemberian dan pengaliran air
pada tanah berlereng yang tidak,
beraturan di mana terdapat
selokan-selokan pengairan,
seharus. nya dibuatkan terlebih
dahulualur-alur dengan
mengikuti gad kontur (contour)
dan pengairan disalurkan
melalu: alur-alur tersebut ke
lahan-lahan pertanaman.
Selain dengan cara itu, pada
tanah berlereng yang tidak
beraturan dapat pulp diterapkan
sprinkle irrigation system
(pemberian air pengairan secara
pancaran).
b. Pemberian air pengairan pada
tanah berlereng yang
memanjang serta seragam
beraturan, ternyata akan
lebih efektif dan mudah
pelaksanaannya kalau
122
memanfaatkan alur-alur di atas
dan membuatkan galengangalengan
(pematang).
Pemberian air pengairan pada lahan
yang datar secara merata adalah
lebih sesuai kalau pemberiannya
dilakukan secara pengenangan
(flooding) seperti pada petak
sawah yang dibata dengan
galengan-galengan (lahan sawah
basah).
7.6.2. Derajat peresapan air ke
dalam tanah
Dalam perancangan sistem
pengairan penting memperhatikan
hatikan derajat meresapnya air
pengairan ke dalam tanah dan
keseragaman peresapannya ke
dalam lapisan-lapisan bawah tanah
(permeabilitas tanah).
– Tanah-tanah pertanaman
yang menurut pengamatan
menyerap air pengairan
sangat lambat/perlahanlahan
sebaiknya diberi air
pengairan secara
penggenangan (floding)
selama jangka waktu
tertentu, namun demikian
hendaknya jangan
sampai berlebihan sebab
dapat mengakibatkan
hanyutnya bagian
permukaan tanah tersebut.
– Lapisan-lapisan tanah yang
menunjukkan daya
permeabilitasnya rendah,
besar kemungkinan akan
menyebabkan genangan air
yang bersifat merugikan
zona perakaran tanaman
yang mengakibatkan pula
terganggunya
pertumbuhan, karena
itulah maka pengaliran
(drainase) air genangan
tersebutharus dirancang
pula dengan sebaik-baiknya.
– Terutama pada tanah-tanah
berkandungan bahan
lempung lumpur rancangan
pembentukan petak-petak
pertanaman yang memberi
keleluasaan. untuk
pengolahannya harus
diperhatikan benar-benar,
sebab tanah-tanah demikian
biasanya cenderung
menyerap, air pengairan
secara lambat dari lapisan
permukaannya.
Derajat aliran peresapan air
pengairan ke lapisan-lapisan bawah
tanah (sub soil) terutama akan
sangat tergantung pada ukuran
dan penyebaran pori-pori
tanahnya.
Dalam praktek lapangan untuk
mengetahui daya efektif
penyerapan air pengairan pada
tanah dapat diukur dengan
derajat ketebalan pembasahan.
Derajat ketebakan kebasahan
merupakan pernyataan yang
menyatakan berapa besar
pembasahan tanah, yang
seharusnya segera dilakukan
setelah kurun waktu pemberian air
pengairan.
123
7.6.3. Ketebalan water table
Dalam merancang pemberian
pengairan kita harus memperhatikan
ketebalan rumah tangga air lahanlahan
pertanaman.
Disamping itu juga harus
memperhatikan kuantitas garam
atau unsur-unsur mineral yang
larut dalam air.
Kuantitas garam atau unsur-unsur
mineral tersebut seringkali
merupakan faktor yang
memerlukan pemberian air
pengairan secara lebih banyak
dari pada yang semestinya agar
dapat diperoleh pemberian air
pengairan yang efisien.
Pemberian pengairan secara
ringan hendaknya diperhatikan,
karena pemberian secara
demikian bermanfaat melindungi
naiknya water table tanah
mencapai lapisan zona perakaran
tanaman.
7.6.4. Kemantapan top soil
Dalam perancangan pemberian air
pengairan pada lahan-laha
pertanaman hendaknya diperhatikan
juga mengenai stabilitas tata
kemantapan dari lapisan top soil
(lapisan permukaan tanah, yan
tebalnya hanya sekitar 30-35 cm).
Lapisan permukaan tanah yang,
terdiri dari tanah-tanah dengan
struktur yang mudah pecah dalam
campuran larutan air pengairan/air
curahan hujan, menghendaki
pengolahan secara khusus.
Setiap fase pertumbuhan tanaman
juga menghendaki penanganan
khusus, misalnya tanaman-tanaman
muda yang mulai tumbuh akan
berbeda penanganannya dengan
tanaman yang sudah dewasa.
Jenis tanah yang berbeda juga
menginginkan penanganan
pengairan yang berbeda.
Misalnya untuk tanah yang mudah
lepas pemberian air pengairan
secara bedengan atau larikan, dapat
menghindari pengikisan atau
penghanyutan.
7.6.5. Perbedaan sistem
pertanaman
Perbedaan sistem pemberian air
pengairan (irigasi) hendaknya
diperhatikan dalam perancangan
sistem-sistem pengairan.
Sistem pertanaman yang rapat
harus dibedakan bagi pertanaman
dengan sistem penanaman yang
berjarak tanam renggang, selain
itu tebal lapisan perakaranpun
memerlukan pertimbangan
tersendiri.
Meresapnya air permukaan
pengairan ke dalam tanah
ditentukan oleh kesesuaian dan
kebiasaan sistem perakaran
tanaman.
124
Di Amerika Serikat tentang hal ini
pernah dilakukan penelitian yang
memakan waktu lama (5 tahun), dan
hasilnya menyimpulkan bahwa :
a. Sekitar 80-90% keseluruhan
kebutuhan air pengairan oleh
tanaman diambil dari lapisanlapisan
tanah sampai kedalamannya
3 feet (kaki)
b. Tanaman dengan sistem
perakaran yang dalam masih
dapat mengambil air yang
tersedia sampai kedalaman 5
feet (kaki).
Dengan memanfaatkan kesimpulan
di atas dapat diambil langkah–
langkah bahwa pemberian air
pengairan hendaknya dapat
menjangkau lapisan tanah setebal 3
kaki, dengan demikian sekaligus
menyediakan air pengairan bagi
tanaman-tanaman berakar dangkal.
Tabel 9. Kebutuhan air beberapa jenis tanaman pada setiap fase
fenologi
Kebutuha air (mm)1
Jenis
tan
Pemben
tukan
tunas
Vegetati
f
Pembu
ngaan
Pembentu
kan
buah/umbi
Pematangan
Kentang 70
(25)
160
(35)
220
(40)
150
(30)
50
(10)
Tomat 78
(30)
82
(20)
185
(30)
93
(20)
62
(20)
Tembak
au
16
(10)
96
(30)
132
(30)
160
(40)
96
(30)
Tebu 83
(30)
495
(90)
1190
(180)
132
(30)
100
(30)
Jagung 56
(20)
167
(30)
115
(15)
250
(40)
62
(15)
Kacang
tanah
51
(15)
162
(30)
235
(35)
162
(30)
40
(10)
Kedelai 30
(20)
165
(35)
292
(45)
47
(10)
41
(10)
1Angka dalam kurung dalam hari.
Sumber: Doorenbus et al. (1979) data diolah
125
Setiap jenis tanaman memiliki
kebutuah akan air yang berbeda.
Dibawah ini (Tabel 9) diberikan
contoh kebutuhan air masing masing
jenis tanaman.
Kebiasaan tumbuh tanaman
Tumbuh tanaman tidak sama,
ada yang tegak dan ada pula
terkulai menjangkau permukaan
tanah.
a. Tanaman-tanaman yang
tumbuh tegak, kalaupun tanah
permukaan atau sekitarnya
mengalami pembasahan yang
agak berlebihan tidak begitu
berakibat pada kerusakan
tanamannya.
b. Tanaman-tanaman yang
tumbuhnya terkulai menjangkau
permukaan tanah, jika
permukaan tanah jenuh air akan
menyebabkan kerusakan.
Dengan demikian kebiasaan
tumbuh tanaman perlu pula
diperhatikan. Derasnya aliran air
pengairan sering menyebabkan
pembahasan permukaan secara
berlebihan, dan merusak tanaman.
Oleh karena itu air pengairan yang
deras hendaknya diimbangi dengan
pembuatan pematang-pematang
pada lahan pertanaman, sebagai
penahan derasnya aliran air.
g.Kualitas air pengairan
Kualitas air pengairan meliputi
jumlah kandungan ion yang
berbahaya, ataupun hara yang
berguna bagi tanaman.
Air pengairan harus mengandung
zat-zat hara bagi pertumbuhan
harus dapat menambah tingkat
kesuburan, tanah, air
pengairan harus terbebas dari
bahan- bahan buangan limbah
yang dapat merugikan atau
meracuni tanaman.
Karena demikian pentingnya kualitas
air ini, maka dalam perancangan
pemberian air pengairan pada
lahan-lahan pertanaman, pekerjaan
yang harus didahulukan yaitu
meneliti secara, laboratoris sifat
kimiawi dari kualitas air pengairan
(irigasi), inklusif kandungan mikroflora
dan mikro-fauna yang
terkandung dalam air.
Air irigasi yang mengandung zat
beracun ini akan menyebabkan
keracunan tidak saja bagi
tanaman tapi juga bagi manusia
yang mengkonsumsinya.
h. Kondisi iklim dan cuaca setempat
Dalam perancangan pemberian air
pengairan pada lahan-lahan
pertanaman, kondisi iklim dan
cuaca setempat tidak boleh
diabaikan, melainkan harus benarbenar
pula diperhitungkan.
Pada daerah-daerah pertanian
yang beriklim basah, sistem
pemberian pengairan akan menjadi
lebih efektif kalau disertai pula
dengan tindakan-tindakan
penyediaan sistem
pengaliran/drainase yang memadai.
Pada daerah-daerah pertanian yang
beriklim kurang basah dimana
berlangsungnya, musim kering
126
yang lebih panjang, perlu
dirancang dan diterapkan sistem
pemberian air pengairan yang
teratur dengan tata cara
pendistribusiannya, yang
terjamin, seperti ialah sistem
Subak di Bali yang memberikan
manfaat yang demikian besar bagi
para petani pemakainya
7.7. Sistem dan Bentukbentuk
Jaringan Pengairan
Dari uraian-uraian yang telah
dikemukakan diatas dapat
ditegaskan mengenai prinsipprinsip
dasar tentang penataan
jaringan pemberi air pengairan
(irigasi) bagi lahan pertanian.
Namun, sebelum itu perlu
diketahui tentang prinsip prinsip
dasar pengairan tersebut. Kita
harus mengetahui terlabih dahulu
manfaat dan keuntungan dari
sistem yang kita gunakan.
Yang dimaksud dengan jaringan
irigasi yaitu prasarana irigasi,
yang pada pokoknya terdiri dari
bangunan dan saluran
pembuangan air beserta
perlengkapannya.
Berdasarkan pengelolaannya
dapat dibedakan antara jaringan
irigasi utama dan jaringan irigasi
sekunder, dan irigasi tertiar.
Jaringan Irigasi Utama
Meliputi bangunan bendung,
saluran-saluran primer dan
sekunder termasuk bangunanbangunan
utama dan pelengkap
saluran pembawa dan saluran
pembuang. Bangunan ini
merupakan bangunan yang mutlak
diperlukan bagi eksploit, meliputi
bangunan pembendung,
bangunan pembagi dan bangunan
pengukur.
Bangunan bendung berfungsi agar
permukaan air sungai dapat naik
dengan demikian memungkinkan
untuk disalurkan melalui pintu
pemasukan ke saluran pembawa.
Bangunan pembagi berfungsi
agar air pengairan dapat
didistribusikan di sepanjang
saluran pembawa (saluran primer)
ke lahan-lahan pertanaman melalui
saluran sekunder dan saluran
tersier.
Terdiri pula bangunan ukur yang
berfungsi mengukur debit air
yang masuk ke saluran.
Dengan demikian distribusi air
pengairan ke lahan-lahan
pertanaman melalui saluran
sekunder dan saluran tersier
dapat terkontrol dengan baik,
sesuai dengan pola
pendistribusian air pengairan
yang telah dirancang
Jaringan Irigasi Tersier
Merupakan jaringan air pengairan
di petak tersier, mulai air luar dari
bangunan ukur tersier, terdiri dari
saluran tersier dan kuarter
termasuk bangunan pembagi
tersier dan kuarter, serta
bangunan pelengkap lainnya yang
127
terdapat di petak.
7.7.1. Prinsip-prinsip Dasar
Penataan Jaringan Pengairan
Berkaitan dengan keterbatasan
kondisi bagi perancang pemberian
air pengairan pada lahan-lahan
pertanian seperti telah
dikemukakan maka prinsip-prinsip
dalam penataan jaringan pemberi air
pengairan (irigasi) dapat
dikemukakan sebagai berikut.
a.Prinsip-prinsip dasar penataan
jaringan
1. Sistem irigasi bagi lahanlahan
pertanian yang terdiri
dari jaringan irigasi utama
dan jaringan irigasi tersier,
harus berada pada tempat
tertentu pada lahan-lahan
yang letaknya lebih tinggi
dari lahan dari letak lahan
pertanaman.
2. Sistem irigasi harus ditata
sependek atau sesingkat
mungkin dan dengan
demikian dapat tercegah
berkurangnya tekanan
aliran air dan air
pengairannya selama dalam
perjalanan dikarenakan halhal
yang tidak terduga dan
dengan pendek/singkatnya
jarak tatanan sistem irigasi
tersebut, maka di samping
sarana-sarana pembagi air
pengairan dapat dibangun
seekommis mungkin juga
daya penyampaiannya dapat
terjamin.
3. Jaringan irigasi utama dan
jaringan irigasi tersier
sebaiknya dibangun sejalan
mengikuti garis kontur atau
mendekati ke arah itu
terutama untuk maksud
memperoleh ketinggian
terjunan aliran air yang
cukup menambah tekanan
aliran air selanjutnya,
sehingga air pengairan dapat
mencapai lahan pertanaman
yang lebih
4. Saluran-saluran tersier harus
mampu mengalirkan air
dengan cukup ke petakpetak
tersier, dalam hal ini
untuk pesawahan harus
mampu melakukan
penggenangan (flooding).
5. Pembangunan tanggultanggul
di kedua tepi saluran
tersier ataupun kuarter
sebaiknya tidak terlalu tinggi
agar dengan demikian air
permukaan pada saluransaluran
dapat mudah
dilimpahkan keareal
pertanaman yang akan diberi
air.
6. Saluran pembuang air
pengairan dari petak-petak
pertanaman yang airnya
telah dimanfaatkan untuk
flooding (penggenangan)
ataupun furrowing
(penyaluran)hendaknya
dibuat sedemikian rupa agar
dapat berfungsi dengan
lancar, karena kalau saluransaluran
pembuang itu tidak
berfungsi dengan baik atau
pun pembuatannya
128
diabaikan, banyak
kemungkinan terjadinya
kejenuhan pada air di
petak-petak pertanaman.
Disamping itu dapat terjadi
peluapan mengingat
masuknya air secara terus
menerus sedang
pembuangannya sangat
sulit atau tidak ada, lebihlebih
kalau permeabilitas air
pengairan di lahanlahan/
petak-petak
pertanaman tersebut
sangat minim. Saluran
pembuang air ini adalah
lebih baik kalau
berhubungan dengan
saluran pembuang yang
alami (sungai, celah-celah
jurang, dan sebagainya)
atau dibuat khusus
tergantung pada keadaan
lahan setempat dan
kepentingannya.
Prinsip fundamental diatas
seharusnya diterapkan pada sistem
jaringan pengairan yang dipilih atau
digunakan.
Dari sekian banyak system jaringan
pengairan system yang sering
digunakan adalah: sistem,
random dan sistem parallel.
– Sistem random jaringan
pengairan. Sistem ini banyak
digunakan karena secara
leluasa dapat disesuaikan
terhadap kondisi lahan yang
dihadapi, dengan hanya
sedikit atau tidak
memerlukan perubahan
keadaan to-pografi.
Rancangan penataannya
yang baik akan
menghasilkan pemberian air
pengairan yang efektif
karena dengan perancangan
dan penataannya yang baik
itu akan mampu menampung
aliran air yang tersedia
secara maksimum yang
dengan ancar melalui
sarana-sarananya akan
sampai ke petak-petak
pertanaman. Saluran induk
(utama) biasanya
mengikuti tempat dengan
elevasi tertinggi yang
berada di punggung lahan
atau disepanjang garis
kontur.
– Sistem paralel jaringan
pengairan Dengan s istem
ini, jaringan pemberi air
pengairan dan jaringan
pengalir/pembuangnya
dibangun secara sejajar
beraturan. Karenany
sistem ini umumnya
diterapkan pada lahan
yang datar dan juga pada
lahan yang berlereng
sedang yang tidak banyak
bergelombang, maka pada
lahan yang terakhir ini
saluran utama (induk) harus
dibuat atau digali dengan
mengikuti garis kontur
(seperti pada jaringan
dengan sistem random
dengan elevansi ketinggian
yang cukup, dengan
demikian pengairan dapat
tergiring dengan
tekanan/dorongan yang
kup lumayan untuk masuk ke
dalam saluran-saluran
sekunder dan tersier dan
129
selanjutnya ke petakpetak
penanaman.
7.7.2.Bendungan
Bendungan merupakan bangunan
air yang dibangun secara
melin.tang pada sungai, yang
tujuannya agar permukaan air
sungai di sekitarnya dapat naik
sampai ketinggian tertentu, dengan
demikian air sungai tadi dapat
dialirkan melalui pintu sadap ke
ke saluran-saluran pembagi air
pengairan ke lahan-lahan
pertanian.
Bendungan harus dibuat secara
kuat agar tetap tahan untuk
jangka waktu panjang/lama,
tinggi tepi tembok bendung
didasarkan pada debit
maksimum untuk jangka
waktu tertentu.
Bagian-bagian bendung
meliputi:
a. Badan bendung, yang
pembuatannya dari
pasangan-pasangan batu
kali atau dengan beton,
dengan tinggi yang
disesuaikan dengan
kepentingan air irigasi.
b. Pintu penguras : Dibuat di
ujung badan yang ada
bersambung dengan saluran
kantong penguras dibuatkan
pinto masuk.
c. Pintu pengambilan : Dibuat
di ruang penguras yang
diletakkan sekitar 1 meter
atau lebih di atas lantai .
Dalam merancang jaringan
pengairan dan drainasenya, yang
garis besarnya telah
dikemukakan, hasil rancangan
akan ada manfaatnya dan mudah
dan tepat dilaksanakan di lapangan
kalau rancangannya benar-benar
atas dasar hasil survai yang teliti
yang menghasilkan data-data
yang dapat diandalkan mengenai
hal-hal sebagai berikut :
a. Sumber air pengairan yang
memungkinkan termasuk
kualitas nya
b. Topografi dan keadaan lahan
yang memungkinkan dalam
pembangunan
saluran/jaringan, terutama
mengenai keadaan lereng
terkecil dan terbesar di mana
saluran-saluran (induk dan
atau pembagi) akan
ditempatkan pada lahan
tersebut
c. Macam dan kegiatan
petanaman yang akan
diusahakan dengan terjaminnya
air pengairan ke areal
pertanaman itu
d. Demi terjaminnya air
pengairan ke areal
pertanaman tersebut, sistem
jaringan pengairan yang
dipilih adalah yang sangat
memungkinkan untuk
diterapkan
e. Panjang jangkauan aliran air
pengairan yang dapat
diperkirakan sampai ke areal
130
pertanaman dan petak-petak
pertanaman, sejak dari sumber
airnya
f. Pembatas-pembatas yang
terdapat pada lahan di mana
jaringan air pengairan akan
ditempatkan
g. Faktor-faktor yang
menunjang bagi
terlaksananya pembangunan
jaringan pengairan, terutama
yang terdapat di sekitar lahan
yang akan ditempati sarana
jaringan.
Data-data di atas merupakan
informasi yang sangat penting
bagi penentuan dan keberhasilan
rancangan dan pelaksanaannya.
Memperkirakan kebutuhan air
Hal penting yang diperhatikan
adalah bahwa dengan
dibangunnya irigasi yang
menghubungkan sumber air
dengan petak pertanaman,
adalah agar petak-petak
pertanaman memperoleh air
pengairan yang cukup bagi
pertumbuhan tanaman.
Agar supaya maksud di atas
tercapai dengan baik atau
mendekati, maka kebutuhan air
di petak-petak pertanaman tersebut
perlu diperkirakan atas
dasar:
a. Tingkat pemakaian:
Tingkat pemakaian adalah
jumlah air keseluruhan yang
ditranspirasikan tanam an dan
yang dievaporasikan oleh
tanah dari areal lahan pertanaman
dalam satuan waktu
dibandingkan terhadap area
lahan yang bersangkutan.
Tingkat pemakaian air
tergantung pada pertanaman
yang ada di area lahan yang
bersangkutan beserta kondisi
iklim setempat.
b. Tingkat efisiensi jaringan
Tingkat efisiensi jaringan ialah
ketepatgunaan jaringan
pengairan yang ada dalam menyampaikan
secara teratur air
pengairan ke petak-petak pertanaman.
7.8. Sitem Pengaliran
Kelebihan Air
Kondisi curah hujan dan
kemarau sangat mempengaruhi
kondisi lahan yang ada di
Indonesia. Pada musim kemarau
banyak lahan menjadi kering,
karena musim kemarau yang
berlangsung secara
berkepanjangan, sehingga
banyak lahan menjadi kering.
Kondisi ini mengakibatkan tnaha
tidak dapat digunakan untuk
pertanian.
Keterbatasan ini dapat ditanggulangi
dengan melengkapi jaringan
pengairan, baik jaringan masuknya
air maupun jaringan keluarnya.
Dengan demikian pada
daerah/lahan-lahan pertanaman
yang kelebihan air harus diusahakan
pembuangan kelebihan
tersebut, yaitu dengan melengkapi
131
jaringan-jaringan pemberi air
pengairan dengan jaringan/saluran
pembuangan air (drainase).
Gambar 42 Penggunaan drainase
untuk mengelola ketersediaan air
tanah tanah
Daerah-daerah lahan yang perlu
mendapatkan drainase:
a. Daerah/lahan-lahan yang
permukaan air tanahnya tinggi
sebagai akibat pemberian air
pengairan yang berlebihan
atau karena rembesan air dari
saluran air pengairan tersebut.
b. Daerah atau lahan-lahan
bercekungan atau rawa-rawa di
mana aliran air terhenti, lahanlahan
demikian yang tidak sedikit
jumlahnya/ luasnya dapat
diusahakan untuk usaha
pertanian lahan basah setelah
setelah genangan-genangan
airnya dapat dialirkan
c. Dataran rendah yang menjadi
tempat penampungan limpasan
aliran air permukaan dari
daerah/lahan-lahan yang lebih
tinggi di sekitarnya.
d. Daerah di sekitar muara sungai
dan wilayah pantai dimana
karena pengaruh, pasang surut
sering terjadi pembentukan
tanah-tanah timbul, atau tanah
bentukan alami/tanah timbul
tersebut dapat dimanfaatkan
sebagai lahan-lahan
pertanaman yang subur
setelah pengaruh pasang
dapat diatasi dengan
pembangunan pematangpematang
serta saluransaluran
pengaliran.
e. Daerah/lahan-lahan sepanjang
tebing sungai yang sering
mengalami peluapan air
132
Gambar 43 Pengaturan Pengairan
Sesuai dengan
Kebutuhan Tanaman
Sistem Drainase
Drainase Permukaan
Drainase permukaan (surface
drainase) yaitu mengalirkan
kelebihan air atau kasarnya
membuang kelebihan air yang
tergenang.
Secara teknis drainase tersebut
dibagi atas:
a. Land forming, yaitu
perataan permukaan tanah
yang meliputi perataan
tanah yang tidak beraturan
atau bergelombang serta
perataan tanah yang
bercekungan;
b. Bedding system yaitu
dengan cara
pembuatan semacam
bedengan yang dibuat
agak luas panjang, yang
di bagian tepinya agak
miring, terutama cara ini
supaya dilakukan pada
lahan yang
berkemiringan (slope)
kurang dari 1,5% dengan
permeabilitas lambat.
Lebar bedengan harus
disesuaikan dengan
keperluan penanaman
jenis tanaman, sifat
drainase, cara pengolahan
tanah dan kemiringan
lahan tersebut, akan tetapi
makin besar derajat
kemiringan lahan maka
bedengan harus dibuat
semakin sempit.
c. Cross slope ditch, yaitu
dengan cara pembuatan
saluran yang memotong
lereng (kemiringan) yang
lebih mennyerupai
pemberntukan teras, yang
kerapkali disebut pula
drainase teras.
d. Random ditch system,
yaitu sistem saluran acak
menghubungkan
beberapa cekungan atau
tempat-tempat yang
mempunya alani
pengaliran airnya buruk
dengan cara membuat
saluran pengalir
dihubungkan dengan
aliran pembuangan
133
e. Paralel ditch system atau
sistem saluran paralel,
yang dengan cara ini
saluran pembuangan
dibuat sejajar dengan jarak
antara nya disesuaikan
dengan kebutuhan.
f. Field ditch system sistem
saluran lapangan
drainase dengan
memperhatikan sisitem
ini pembuatannya
dengan
mengkombinasikan caracara
pembuatannya
secara paralel dan acak
g. Interception ditch system
atau sistem saluran
intersepsi, dengan
sistem ini di daerah
aliran. sungai, di daerah
pasang surut (tidal) dan
lahan lahan dimana
berlangsung perembesan
air dari saluran irigasi
dibangun saluran
pencegat atau penangkap
air berlebihan.
Merancang sistem
drainase
Dalam merancang suatu cara
pengaliran air pengairan (drainase)
agar tidak terjadi kelebihan pada
lahan pertanaman, yang perlu
diperhatikan beberapa faktor
yang berpengaruh, yaitu faktor
a. jenis tanah dari lahan yang akan
diberi saluran drainase;
b. kondisi iklim, terutama curah
hujan;
c. kedalaman permukaan air
tanah yang sesuai untuk jenis
tanaman yang dibudidayakan
Dalam hal merancang pengaliran
aliran air pengairan (drainase) yang
perlu dan penting diperhatikan yaitu
faktor-faktor keadaan lahan
sehubungan dengan pemasangan
pipa-pipa bawah permukaan tanah.
Adapun faktor yang perlu
diperhatikan adalah sebagai berikut:
a. faktor keadaan topografi,
apakah datar, landai, berbukitbukit
atau lahan berlereng curam;
b. faktor keadaan tanah,
terutama tentang kedalaman
tubuh tanah, luas lahan, sifat
fisik dan sifat kimia tanah;
c. faktor permukaan air tanah,
terutama tentang kedalamannya,
fluktuasi musim penghujan dan
musim kemarau, banyaknya air
pengairan yang diberikan, dan
perkolasi.
d. faktor curah hujan, terutama
tentang keadaan dan sifat aliran
permukaan (run of) sehubungan
dengan curah hujan di mans
e. faktor jenis tanaman yang
dibudidayakan.
134
RANCANGAN DALAM
PELAKSANAAN
Gambar 44 Sketsa lahan
pertanaman dengan saluran
irigasi dan saluran drainase
searah.
Keterangan:
A,B,C,D = Petak pertanaman
1= saluran drainase
2.=Jalan inspeksi
3= saluran irigasi
4= saluran drainase lateral
5=bangunan pembagi
Pada sketsa di atas di antara
saluran irigasi dan saluran dibuat
jalan inspeksi, untuk melancarkan
pengawasan dan pemeliharaan
saluran-saluran tersebut.
Tentang penggalian saluran
secara random , merupakan
penggalian saluran yang dapat
dikatakan tidak teratur, biasanya
diterapkan pada lahan-lahan
pertanaman dengan penurunan
yang cukup dalam dan lebar.
Pada lahan yang merupakan lahan
penurunan yang dangkal sampai
hampir dangkal topografi yang
teratur, penggalian seluruh drainase
biasanya dibuat sejajar antara satu
dengan yang lain, seperti sketsa
dibawah ini
Gambar 45 Sketsa lahan
pertanaman dengan penurunan
pangkal dan topografi teratur
dengan saluran drainase sejajar
Penggalian saluran drainase
permukaan (surface drainase)
seperti dikemukakan diatas kalau
dibandingkan dengan penggalian
lahan dan pemasangan pipa-pipa
saluran pada penerapan sisitem
drainase bawah permukaan.
Drainase bawah permukaan lebih
menguntungkan sebab:
1. lebih mudah dalam
pelaksaan
2. memungkinkan kapasitas
penyaluran air yang lebih
besar
135
3. pengerjaannya dapat
dilakukan dengan tenaga
manusia
Tata letak pipa saluran harus
disesuaikan dengan keadaan
tanahnya ada 4 alternatif:
(1) natural system atau
penataan letak pipa
saluran seta: acak;
(2) herring bone system
atau penataan letak
pipa saluran dengan
mengikuti pola tulang
ikan.
(3) interception system atau
dengan mengikuti pola
intersepsi
(4) gridiron system atau
penataan letak pipa secara
berkisi-kisi.
Gambar 46 Tata letak pipa
saluran
Setelah tata letak pipa saluran
ditentukan, penggalian tanah
harus dilakukan sesuai dengan
kedalaman yang telah dipertimbangkan,
pada dasar galian
biasanya ditempatkan lapisan pasir,
kemudian ditempatkan lapisan ijuk
secukupnya dan di antara ke dua
lapisan ini baru diletakkan pipa
salurannya, di atas lapisan injuk
ditempatkan lagi lapisan pasir dan
terakhir dilakukan kompaksi
(pengurungan) dengan tanah
yang digali semula.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat
pada Gambar 47 berikut.
Gambar 47. Sketsa pembuangan
drainase
136
7.9.Ketepatgunaan
pengairan untuk
mencukupi kebutuhan air
pada lahan pertanian
Penggunaan air pengairan dari
sumber-sumber tertentu tidak
semena-mena digunakan
didasarkan atas:
a. Air yang tersedia untuk
memenuhi kebutuhan hidup
yang selalu berkembang
semakin tidak mencukupi.
b. Keterbatasan kemampuan
(teknologi, sarana, dan
financial)untuk memenuhi
kebutuhan air keperluan
sehari-hari yang meningkat
dalam jumlah dan mutu yang
mengikuti pertambahan
penduduk dan peningkatan
taraf hidupnya.
c. Nilai produktivitas air untuk
irigasi secara financial
kurang kompetitif (efisien
ekonomi nisbi rendah)
dibandingkan dengan untuk
keperluan lainnya, terutama
industri, keperluan seharihari
dan sebagainya
d. Adanya kecaman yang
semakin meningkat terhadap
pemenuhan tuntutan
kelestarian daya dukung
lingkungan.
Tabel 11dibawah ini merupakan
gambaran keterbatasan
ketersediaan sumberdaya air untuk
pengembangan irigasi sampai tahun
2020. Dari analisa nilai
keseimbangan neraca air tanah
antara kemampuan pasok dan
kebutuhan di 90 satuan wilayah
sungai (SWS) ternyata 25
diantaranya (meliputi 8 propinsi yaitu
daerah khusus ibukota Jakarta,
Jawa barat, Jawa tengah, daerah
Istimewa Jokyakarta, Bali dan Nusa
Tenggara Barat) diperkirakan antara
tahun 1990-2015 sudah mengalami
defisit neraca air (Direktorat Bina
Program Pengairan, Direktorat
jenderal Pengairan departemen
Pekerjaan Umum 1991).
Dengan mengetahui kebutuhan air
tanaman dapat diberi batasan
berapa jumlah air yang dibutuhkan
tanaman untuk pertumbuhan dan
perkembangannya.
Berbagai faktor yang berpengaruh
terhadap kebutuhan dan
ketersediaan air adalah sebagai
berikut
a. Jenis dan sifat tanah, pada
tanah berpasir dibutuhkan
lebih banyak air diandingkan
tanah liat atau lempung
b. Macam dan jenis tanaman,
tanaman padi membutuhkan
lebih banyak air
dibandingkan dengan
tanaman kacangan ataupun
137
padi gogo.
c. Keadaan iklim, teruma cuah
hujan dan suhu harian,
kedua peubah ini merupakan
penentu dari neraca air
tanah.
d. Keadaan topografi berbeda
memberikan penangan yang
berbeda, tanah bertofografi
datar membutuhkan air lebih
kecil dibandingkan yang
tofografi bergelombang atau
berbukit.
e. Luas lahan pertanaman
Tabel 10 Perkiraan potensi air dengan pengembangan irigasi
menurut wilayah, tahun 1990-2020
Perkiraan Potensi Air
1000 ha
Potensi
Pengembangan
Irigasi 1000 Ha
Wilayah
1990 2020 1990 2020
Sumatera 10.938 10.228 4.009 3.972
Jawa 83 62 83 62
Bali dan Nusa
Tenggara
98 90 98 90
Kalimantan 16.506 14.464 3.693 3.693
Sulawesi 1.249 1.228 5.35 5.24
Maluku dan
Irian Jaya
13.813 13.800 2.525 2.524
Indonesia 42.128 41872 10.944 10.865
Sumber: Diolah dari hasil perkiraan TIM JICA-FIDP dalam Makalah
Direktur Bina Teknik Direktorat Jenderal Pengairan, Departemen
Pekerjaan Umum (1996).
A1
DAFTAR PUSTAKA
Abidin. 1990. Dasar-Dasar
Pengetahuan tentang
Zat Pengatur Tumbuh,
Angkasa, Jakarta.
Access South Bonsai
information. Perawatan
sederhana Bonsai.
Diakses 25 Februari
2008
Access South Bonsai
information. Memualai
Bertanam Bonsai.
Diakses 25 Februari
2008
Aggangan, N.S. B.Dell and N.
Malajczuk, 1998.
Effects of chromium
and nickel on growth
of the ectomycorrizal
fungus Pisolithus and
formation of
ectomycorrizas on
Eucalyptus urophylla
S.T. Blake.
Geoderma 84 : 15-27.
Anggrek@yahoogroups.com.
Vanda Metusalae
Anggrek Baru dari
Indonesia. Diakses
23 januari 2008
Agustina, L., 2004.Dasar Nutrisi
Tanaman, PT
Rineka Cipta,
Jakarta.
Agroklimat, Badan Litbang
Pertanian.
Asahi Chemical MFG.Co
ltd.1980. Atonik a
New Plant Stimulant.
Japan.
Al-Kariki, G.N., 2000. Growth of
mycorrhizal tomato
and mineral
acquisition under salt
stress. Mycorrhiza J.
10/2 : 51-54.
Ali, G.M., E.F. Husin, N. Hakim
dan Kusli, 1997.
Pemberian mikoriza
vesikular asbuskular
untuk meningkatkan
efisiensi pemupukan
fosfat tanaman padi
gogo pada tanah
Ultisols dengan
perunut 32P. p. 597-
605 dalam Subagyo
et al (Eds). Prosiding
Kongres Nasional VI
HITI, Jakarta, 12-15
Desmber 1995.
Suprapto SS. 2007. Budidaya
Tembakau.
http://72.14.235.104/se
arch?q=cache:k-
UhXqs_TKkJ:www.ekol
ogi.litbang.depkes.go.id
/data/vol%25202/SSupr
apto2_3.pdf+Budidaya+
tembakau&hl=id&ct=cln
k&cd=6&gl=id. Diakses
tanggal 19 September
2007. 1 page.
http://id.Wikipedia.org/wiki.
bawang Merah. Diakses
24 januari 2008
A2
http://72.14.235.104/search?q=c
ache:k-
UhXqs_TKkJ:www.ekolo
gi.litbang.depkes.go.id/da
ta/vol%25202/SSuprapto
2_3.pdf+Budidaya+temba
kau&hl=id&ct=clnk&cd=6
&gl=id2007. Budidaya
Tembakau.. Diakses
tanggal 19 September
2007. 1 page.
http://warintek.bantul.go.id/web.p
hp?mod=basisdata&kat=
1&sub=2&file=32b.,
2007. Budidaya
Tembakau Virginia.
.
Diakses tanggal 19
September 2007. 1 page.
http://www.boyolali.go.id 2007.
Kebun. Diakses tanggal
19 September 2007. 1
page.
Acquaah G. 199. Horticulture
Principles and Practices.
Prentice-Hall, Inc. United
States of America.
Azcon, R. and F. El-Atrash,
1997. Influence of
arbuscular mycorrhizae
and phosphorus
fertilization on growth,
nodulation an N2 fixation
(15N) in Medicago sativa
at four salinity level. Biol.
Fertil. Soils 24 : 81-86.
Ba, A.M., K.B. Sanon , R.
Doponnois, and J.
Dexheimer, 2000. Growth
response of Afselia
africana Sm. seedlings to
ectomycorrhizal
inoculation in a nutrientdeficient
soil. Mycorrhiza
J. 9/2 : 91-95.
Badan Agribisnis Departemen
Pertanian bekerjasama
Penerbit Kanisius. 1999.
Kelayakan Investasi
Agribisnis I (Pisang,
Durian, jeruk, alpukat).
Kanisius. Yogyakarta
Badan Penelitian dan
Pengembangan
Pertanian. 1992.
Baharsyah, J.S. 2007. Mengonveri Air
dengan Limbah Pabrik Gula.
Fakultas Pertanian IPB. www.
google.com
Baharsyah, J.S. 2007.
Mengonveri Air dengan
Limbah Pabrik Gula.
Fakultas Pertanian IPB.
www. google.com
Balai Pengkajian Teknologi
Pertanian ( BPTP )
Sulawesi Selatan :
http://sulsel.litbang.depta
n.go.id/
Online version:
http://sulsel.litbang.depta
n.go.id/mod.php?mod=bu
letin&op=viewarticle&cid=
1&artid=17
A3
Baon, J.B. 1996. Blotong
Sebagai Bahan Organik
dan Hara Bagi
Pertanaman Kakao,
Balai Penelitian
Perkebunan Jember.
Bertanaman Rambutan. Panebar
Swadaya.
Bonus Trubus no. 342. 1998.
Analisis Komoditas Kebal
Resesi.
BPPT, Gd.1 – Lt.16 , Jl. M.H.
Thamrin 8, Jakarta 10340
Telpon : (021) 3168701 –
02, Fax. (021)3149058
BPPT, Gd.1 – Lt.16 , Jl. M.H.
Thamrin 8, Jakarta 10340
Technical Support
(021)71112109;
Customer Care
081389010009; Fax.
(021)3149058
bptp-jatim@litbang.deptan.go.id;
bptp_jatim@yahoo.com.
Buckman, H.O dan N.C Brady. 1982.
Ilmu Tanah. Terjemahan
Soegiman.Bratara Karya
Aksara Jakarta.
Budi Samadi, Ir. 1997. Usaha
Tani Kentang. Penerbit
Kanisius. Yogyakarta
Budidaya Tanaman Anthurium.
Balai Pengkajia
Teknologi Pertanian
KarangplosoInstalasi
Penelitian Dan
PengkajianTeknologi
Pertanian Wonocolo
Cahyono, B., 1998. Tembakau :
Budidaya dan Analisis
Usaha Tani. Kanisius,
Yogyakarta.
Chan, E. (2000). Tropical fruits of
Malaysia & Singapore.
Hong Kong: Periplus
Editions. (Call no.:
RSING 581.95957 CHA)
Purdue University, Centre
for new crops & plant
products. (1995). New
crop factsheet:
Rambutan. Retrieved on
February 11, 2003.
Chang, S-t, J.A. Bushwell & S-w.
Chiu. 1993. Mushroom
Biology and Mushroom
Products. Nam Fung
Printing Co., Ltd.
Contributor Francis T. Zee, 1995.
Nephellium Sp. USDAARS,
National Clonal
Germplasm Repository,
Hilo, HI. Pardue Uiversity
(center for New crops &
Plant product.
Cruz, 1995. Mechanism of
drought resistance in
Pterocarpus indicus
enhanced by inoculation
with VA mycorriza and
Rhizobium. Biotrop Spec.
Publ.No56 : 131-137.
Biology and
Biotechnology of
Mycorrhizae.
A4
Cruz, A.F., T. Ishii, and K.
Kadoya., 2000. Effect of
arbuscular mycorrhizal
fungi on tree growth, leaf
water potential, and
levels of 1-
aminocyclopropane-1-
carboxylic acid and
ethylene in the roots of
papaya under water
stress conditions.
Mycorrhiza J. 10/3 : 121-
123.
C.T. Wheeler, I.M. Miller, R.
Narayanan,
D.Purushothaman
Daswir dan L, Panjaitan. 1981.
Perkembangan Kelapa
Sawit diIndonesia.
Prosiding Konp.Budidaya
Karet dan Kelapa Sawit.
BPPM.p189-198.
Departemen Pertanian. 2005.
Organisme
Pengganggu Utama
Tomat
Dinas Pertanian dan Kehutanan
Kabupaten Bantul Jalan
KH. Wahid Hasyim 210
Palbapang Bantul 55713
Telp. 0274-367541
Duriat AS. Budidaya cabai
Sehat. Balai penelitian
tanaman Sayuran
lembang. Bandung.
Endang, S. R. 2001.
FORKOMIKRO.e-mail
:endangyk@yogya.wasan
tara.net.id
Graham H. N.; Green tea
composition,
consumption, and
polyphenol chemistry;
Preventive Medicine
21(3):334-50 (1992).
Gandjar, I. 1993. Microbial
utilization of agricultural
waste for food. UNESCO
Regional Training
Workshop on Advances
in Microbial Processings
for th Utilization of
Tropical Raw Materials in
the Production of Food
Products. Los Banos,
The Philippines. October
11-20, 1993.
Februari 2000 Editor : Kemal
Prihatman
Fleibach, A.R. Martens and H.H.
Reber, 1994. Soil
microbial biomass and
microbial activity in soil
treated with heavy metal
contaminated sewage
sludge. Soil Biol.
Biochem. 26 (9) : 1201 –
1205.
Fitter AH dan Hay RKM. Fisiologi
Lingkungan
Tanaman.Gadjah mada
Universiy Press.
Yogyakarta
Fragrant Orchids.mht. Orchid of
Indonesia
A5
Hakim,N;M.Y.Nyakpa;A.M.Lubis;
S.G.Nugraha;M.R.
Saul;M.A. Diha;Go Ban
Hong dan H.H. Beiley.
1986. Dasar-Dasar Ilmu
Tanah. Universitas
Lampung, Lampung.
Heddy, S. 1996. Hormon
Pertumbuhan, Program
Penulisan Proyek Pelita
DEPDIKBUD dan
Pelaksanaan Pendidikan
Diploma (DIII) Universitas
Brawijaya. Rajawali
Press. Jakarta.
Heddy Suwasono. 1987. Biologi
Pertanian (Tinjauan
singkat tentang anatomi,
fisiologi, sistematika, dan
genetika dasar tumbuhtumbuhan.
Rajawali pers.
Jakarta.
Hong Kong.Desmeth, P. 1999.
Microorganisms
Sustainable Use and
Access Regulation
International Code of
Conduct. MOSAICC.
Directorate General XII
Science, Research and
Development of the
Commission of
theEuropean Union.
Belgian Coordinated
Collections of
Microorganisms,
Brussels, Belgium.
http://www.anisorchid.com.
Anggrek Lain. Diakses 15
Januari 2008
http://www.my normas.com//
Rumput apa?. Diakses
15 januari 2008
http://www.my normas.com//
cara-cara Rumput
membiak Diakses 15
januari 2008
http://www.my normas.com//
Jenis-jenis Rumput Turf.
Diakses 15 januari 2008
http://www.my normas.com//
Masalah-masalah
Rumput Turf. Diakses 15
januari 2008
http://www.my normas.com//
Nama Scientifik. Diakses
15 januari 2008
http://www.my normas.com//
Penanaman . Diakses 15
januari 2008
http://www.my normas.com//
Penyediaan Tapak
Diakses 15 januari 2008.
http://warintek.bantul.go.id/web.p
hp?mod=basisdata&kat=
1&sub=2&file=32., 2007.
Budiaya Tembakau
Virginia. Diakses tanggal
19 September 2007. 1
page.
http://www.boyolali.go.id/isi/isi_pt
s.asp?isi=kebun. 2007.
Kebun. Diakses tanggal
19 September 2007. 1
page.
http://en.wikipedia.org/wiki/Hydro
ponics Diakses 15 januari
2008
A6
http://id.wikipedia.org/wiki/Fotosi
ntesis” Diakses 15
januari 2008
http://tabloidgallery.wordpress.co
m/2007/09/29/begonia/
Diakses 15 januari 2008
http://warintek.bantul.go.id/web.p
hp?mod=basisdata&kat=
1&sub=2&file=32
September 2000
http:// warintek.progressio.or.id/-
by rans, 2006. Diakses
15 januari 2008
http://whatcom.wsu.edu/ Diakses
15 januari 2008
http://www.deptan. .go-id/
Diakses 15 januari 2008
http://www.orchid.or.jp/ Diakses
15 januari 2008
http://www.ristek.go.id Diakses
15 januari 2008
http://www.votawphotography.co
m.com.teknik
http://id.wikipedia.org/wiki/Bunga
_matahari” Diakses 23
Januari 2008
http://agrolink.moa.my/doa/bdc/b
ungaros.html. diakses 23
Januari 2008
http://www.agromedia.net/compo
nent/option.com_banner//
Itemid,o/task,click.bid,3.
Membentuk Bonsai
Adenium. Diakses 23
januari 2008.
“http://id.wikipedia.org/wiki/Bons
ai” diakses 18 Februari
2008
http://www.mynormas.com/ caracara
Rumput membiak.
Diakses 25 Februarai
2008
http://www.mynormas.com/
Amalan Kultura Diakses
25 Februarai 2008
http://www.mynormas.com/ jenisjenis
Rumpurt Turf.
Diakses 25 Februarai
2008
www.mynormas.com masalahmasalah
Rumputr Turf.
Diakses 25 Februarai
2008
www.mynormas.com.
Penanaman. Diakses 25
Februarai 2008
http://www.mynormas.com.
Penyediaan tapak.
Diakses 25 Februarai
2008
http://www.mynormas.com/
Diakses 25 Februarai
2008
A7
http://www.mynormas.com/ Top
dressing. Diakses 25
Februarai 2008
http://ms.wikipedia.org/wiki/Hidro
ponik. Diakses 25
Februarai 2008
http://groups.yahoo.com/group/a
gromania/BUDIDAYA
TANAMAN KAKAO,
Persiapan Naungan dan
Pangkasan Bentuk.
http://www.pustakadeptan.
go.id/agritek/ppua
0148.pdf. Budidaya
Tanaman karet Diakses
25 Februarai 2008
“http://id.wikipedia.org/wiki/Ercis”
Diakses 25 Februarai
2008
Pusat penelitian &
Pengembangan
Hortikultura.
Pengeringan Sayuran.
Diakses 25 Februarai
2008
Pusat Penelitian &
Pengembangan
Hortikultura. Jenis
kentang. Diakses 23
januari 2008.
Pusat Penelitian &
Pengembangan
Hortikultura. Budidaya
Bawang Merah. Diakses
23 januari 2008.
Pusat Penelitian &
Pengembangan
Hortikultura. Jenis Tomat.
Diakses 23 januari 2008.
Pusat penelitian &
Pengembangan
Hortikultura. Budidaya
Tanaman Buncis rambat.
Diakses 23 januari 2008
Pusat penelitian &
Pengembangan
Hortikultura.tanaman
Sayur Cabai.. Diakses 23
januari 2008
Indonext.com. Budidaya Cabe
dalam Polybag. Diakses
23 Januari 2008.
IPTEKnet. All rights reserved
Office : BPPT, Gd.1 –
Lt.16 , Jl. M.H. Thamrin
8, Jakarta 10340
Technical Support
(021)71112109;
Customer Care
081389010009; Fax.
(021)3149058 Seledri.
Diakses 23 januari 2008
IPTEKnet. Bawang merah rights
reserved
Office : BPPT, Gd.1 –
Lt.16 , Jl. M.H. Thamrin
8, Jakarta 10340
Technical Support
(021)71112109;
Customer Care
081389010009; Fax.
(021)3149058
A8
Imas, T., R.S. Hadioetomo, A.W.
Gunawan dan Y. Setiadi,
1989. Mikrobiologi Tanah
II. Depdikbud Ditjen Dikti,
Pusat Antar Universitas
Bioteknologi, IPB.
Interstate publisher. 1998.
Western Fertilizer
Handbook. United Stated
Amerika.
Indonext.com. Teknik Budidaya
Bawang Merah. Diakses
12 Januari 2008
Isroi, S.Si, M.SiPeneliti Mikroba
Balai Penelitian
Bioteknologi Perkebunan
Indonesia Lembaga Riset
Perkebunan Indonesia
Jalan Taman Kencana
No. 1 Bogor 16151 Telp.
0251 324048/327449
Fax. 0251 328516
Email:mailto:ipardboo@in
do.net.id;
mailto:isroi@ipard.com
info@duniaflora.com. 2007.
Hijau Rumput berkat
kondisioner. Diakses 27
Januari 2008
Jana Arcimovičová, Pavel
Valíček (1998): Vůně
čaje, Start Benešov.
ISBN 80-902005-9-1 (in
Czech) Jahe (Zingiber
Officinale) Sumber:
Sistim Informasi
Manajemen
Pembangunan di
Perdesaan, BAPPENAS,
Jakarta,
Joner, E.J. and C. Leyval, 2001.
Influence of arbuscular
mycorrhiza on clover and
ryegrass grown together
in a soil spiked with
polycyclic aromatic
hydrocarbons.
Mycorrhiza J. 10/4 : 155-
159.
Joiner, J.N. 1981. Foliage Plant
Production, Prent
Production. Prentice- Hall
Englewood Cliffs, New
Jersey.
Jumin HB, 1994, dasar-dasar
Agronomi. PT Rja
Gafindo persada.
Jakarta.
Jana Arcimovičová, Pavel
Valíček (1998): Vůně
čaje, Start Benešov.
ISBN 80-902005-9-1 (in
Czech)
Kabirun, S. and J. Widada, 1995.
Response of soybean
grown on acid soil to
inoculation of vesiculararbuscular
mycorrhizal
fungi. Biotrop Spec.
Publ.No56 : 131-137.
Biology and
Biotechnology of
Mycorrhizae.
Kanisius an badan Agribisnis
Departemen pertanian.
Kelayakan investasi
Agribisnis 1 (Pisang,
Durian, Jeruk Alpukat).
Jakarta
A9
Kantor Wilayah Departemen
Pertanian Propinsi
Maluku. 1996.Pertanian
Maluku dalam Prospek
Agribisnis. Kantor
Wilayah. Departemen
Pertanian Propinsi
Maluku, Ambon. hlm 4.
Kantor Statistik Propinsi Maluku.
2000. Maluku dalam
Angka.
Kantor Statistik Propinsi Maluku,
Ambon. hlm 246.
Kartasapoetra AG. Dan Mulyani
Sutedjo. Teknologi
Pengairan Pertanian
Irigasi.1994. Bumi
Aksara. Jakarta.
Khan, A.G., 1993. Effect of
various soil environment
stresses on the
occurance, distribution
and effectiveness of VA
mycorrhizae. Biotropia 8 :
39-44.
Khan, M.H., 1995. Role of
mycorrhizae in nutrient
uptake and in the
amelioration of metal
toxicity. Biotrop Spec.
Publ.No56 : 131-137.
Biology and
Biotechnology of
Mycorrhizae.
Killham, K, 1994. Soil ecology.
Cambridge University
Press
Kim, K.Y., D. Jordan, and
McDonald, 1998. Effect
of phosphate-solubilizing
bacteria and vesiculararbuscular
mycorrhizae
on tomato growth and soil
microbial activity. Biol.
Fertil. Soils 26 : 79-87.
Kirsop B.E. & J.J. Snell (eds.).
1982. Maintenance of
Microorganisms. A
Manual of Laboratory
Methods. Academic
Press, Inc. London.
Komagata, K. 1994. Background
of Microbial Industry in
Japan. In: Komagata, K.,
T. Yoshida, T. Nakase, H.
Osada. (eds.).
Proceedings of the
International Workshop
on Application and
Control of
Microorganisms in Asia,
pp. 1-11. March 14-18,
1994, Science and
Technology Agency,
Tokyo, Japan.
Kusumo, S. 1990. Zat Pengatur
TumbuhTanaman. Jasa
Guna, Jakarta.
Lamina. 1989. Kedelai dan
Pengembangannya. CV
Simplex, Jakarta.
A10
Lembar Informasi Pertanian
(LIPTAN) LPTP Koya
Barat, Irian Jaya No. 02/99
Lembar Informasi Pertanian
(LIPTAN) BIP Irian Jaya
No. 109/92 Diterbitkan
oleh: Balai Informasi
Pertanian Irian Jaya Jl.
Yahim – Sentani –
Jayapura Budidaya
Tanaman Karet.
Lima TahunPenelitian dan
Pengembangan
Pertanian 1987-1991.
BadanPenelitian dan
Pengembangan
Pertanian, Jakarta. hlm.
14.
Lingga, P. 1994. Petunjuk
Penggunaan Pupuk.
Penebar Swadaya,
Jakarta.
Loka Pengkajian Teknologi
Pertanian Koya Barat
Lozano, JMR., and R. Azcon,
2000. Symbiotic
efficiency and effectivity
of an autochthonous
arbuscular mycorrhizal
Glomus sp. from saline
soils and Glomus
deserticola under salinity.
Mycorrhiza 10/3 : 137-
143.
Mahisworo, Kusno Susanto dan
Agustinus Anung,
Bertanam Rambutan;
Jakarta:
Malaysian Agricultural Research
and Development
Institute, MARDI, G.P.O.
Box 12301, Kuala
Lumpur, 50774 Malaysia
Chanthaburi Horticultural
Research Center,
Amphur Kloong,
Chanthaburi, Thailand
USDA/ARS, National
Clonal Germplasm
Repository, P.O. Box
4487, Hilo, Hawaii 96720,
U.S.A.
Masiworo, Sutanto K dan Anung
A. 1990. Lembar
Informasi Pertanian
(LIPTAN) BIP Irian Jaya
No. 136/93 Diterbitkan
oleh: Balai Informasi
Pertanian Irian Jaya Jl.
Yahim – Sentani –
Jayapura.
Matnawi, H., 1997. Budidaya
Tembakau Bawah
Naungan Karet
Matsuo T dan Hoshikawa. 1993.
Science of The Rice
Plant. Morphology.
Nosan Gyoson Bunka
Kyokai. Tokyo
McGonigle, T.P.M. and M.H.
Miller, 1993. Mycorrhizal
development and
phosphorus absorption in
maize under conventional
and reduced tillage. Soil
Sci. Soc. Am. J. 57 (4) :
1002-1006.
A11
Morte, A., C.Lovisolo and A.
Schubert, 2000. Effect of
drought stress on growth
and water relations of the
mycorrhizal association
Helianthemum
almeriense – Tervesia
claveryi. Mycorrhiza J.
10/3 : 115-119.
Munyanziza, E., H.K. Kehri, and
D.J. Bagyaraj, 1997.
Agricultural
intensification, soil
biodeversity and agroecosystem
function in the
tropics : the role of
mycorrhiza in crops and
trees. Applied Soil
Ecology 6 : 77-85.
Nakase, T. 1998. Asian Network
on Microbial Researckes
(ANMR): Promotion of
Microbiology and
Biotechnology in Asian
Region. International
Conference on Asian
Network on Microbial
Researches. Gadjah
Mada University,
Yogyakarta, February 23-
25.
Nuhamara, S.T., 1994. Peranan
mikoriza untuk reklamasi
lahan kritis. Program
Pelatihan Biologi dan
Bioteknologi Mikoriza.
Oliveira, R.S., JC. Dodd and
PML. Castro, 2001. The
mycorrhizal status of
Pragmites australis in
several polluted soils and
sediments of an
industrialised region of
Northern Portugal.
Mycorrhiza J. 10/5 : 241-
247.
Pracaya. 1989. Bertanam
mangga. Penebar
Swadaya. Jakarta
Prada@com. Rumput
penutup tanah yang
paling ideal
Penebar Swadaya, 1991, cet ke-
3. 80p; 21 cm.
Pierce LC. 1987. Vegetables
characteristics,
production, and
Marketing. John Wiley
and Sons. United States
of America.
pn8.co.id. Budidaya Teh
Poedjiwidodo Y. 1996. Sambung
Samping Kakao.Trubus
Agriwidya Ungaran
Pusposutarjo S. 2001.
Pengembangan irigasi
(Usaha tani berkelanjutan
dan gerakan hemat air.
Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi
Departemen Pendidikan
nasional.
A12
Rahardi F.; Rina Nirwan S. dan
Iman Satyawibawa,
Agribisnis tanaman
perkebunan. Jakarta:
Penebar Swadaya, 1994.
Vi + 67p; ilus.; 21 p.
Rambutans set to become
mainstream fruit
Copyright © 2001-6, The
Australian Nutrition
Foundation Inc (Nutrition
Australia is the
registered business name
for the Australian
Nutrition Foundation Inc)
– All rights reserved
Disclaimer – Privacy
Policy
Rani, D.B.R., S. Ragupathy and
A. Mahadevan, 1991.
Incidence of vesicular –
arbuscular mycorrhizae
(VAM) in coal waste.
Biotrop Special Publ. 42 :
77-81 in Soerianegara
and Supriyanto (Eds)
Proceedings of Second
Asean Conference on
Mycorrhiza.
Rao, N.S Subha, 1994.
Mikroorganisme tanah
dan pertumbuhan
tanaman. Edisi Kedua.
Penerbit Universitas
Indonesia.
Ratledge, C. 1992.
Biotechnology: the socioeconomic
revolution? A
synoptic view of the world
status of biotechnology.
In : DaSilva, E.J., C.
Ratledge, A. Sasson
(eds.). Biotechnoloy,
economic and social
aspects. Issues for
developing countries.
Cambridge University
Press.
Saono, S. 1994. Non-medical
application and control of
microorganisms in
Indonesia. In: Komagata,
K. , T. Yoshida, T.
Nakase & H. Osada.
(eds.). Proceedings of the
International Workshop
on Application and
Control of
Microorganisms in Asia,
pp 39-60. March 14-18,
1994. Science and
Technology Agency,
Tokyo, Japan.
Sasson, A. 1998.
Biotechnologies in
developing countries:
present and future
Volume 2: International
co-operation. UNESCO
Publishing Imprimerie
PUF, France. Steinkraus,
K. H. (ed.) 1996.
Handbook of indigenous
fermented foods. 2nd
revised and expanded
edition. Marcel Dekker.
New York.
A13
Singh, S., and K.K. Kapoor,
1999. Inoculation with
phosphate-solubilizing
microorganisms and a
vesicular-arbuscular
mycorrhizal fungus
improves dry matter yield
and nutrient uptake by
wheat grown in a sandy
soil. Biol. Fertil. Soils 28 :
139-144.
Soepardi.1979. Sifat dan Ciri
Tanah I. IPB.Bogor
T. Yamamoto, M Kim, L R Juneja
(editors): Chemistry and
Applications of Green
Tea, CRC Press, ISBN 0-
8493-4006-3
Solaiman, M.Z., and H. Hirata,
1995. Effect of
indigenous arbuscular
mycorrhizal fungi in
paddy fields on rice
growth and NPK nutrition
under different water
regimes. Soil Sci. Plant
Nutr., 41 (3) : 505-514.
Splittstoesser WE. 1984.
Vegetables Growing
Handbook. Van Nostrand
Reinhold Company.New
York.
Sudarmo, S., 1991. Tembakau :
Pengendalian Hama dan
Penyakit. Kanisius,
Yogyakarta.
Sumarno. 1993. Teknik
pemuliaan kedelai. Dalam
S. Somaatmadja, M.
Ismusnadji, Sumarno, M.
Syam, S.O. Manurung, dan
Yuswadi (Ed.). Kedelai.
Pusat Penelitian dan
Pengembangan Tanaman
Pangan, Bogor. hlm. 243-
261.
Surono, I.S. & A. Hosono. 1994.
Microflora and their
enzyme profile in terasi
starter. Biosc. Biotech.
Biochem. 58 (6): 1167-
1169.
Thomas, R.S., R.L. Franson, and
G.J. Bethlenfalvay, 1993
Separation of arbuscular
mycorrhizal fungus and
root effect on soil
aggregation. Soil Sci. Soc.
Am. J. 57 : 77-81.
Van Wambake A. 1991. Soil of
the Tropic (properties and
apprasial) McGraw-Hill,
Inc.Toronto.
Widada, J, dan S. Kabirun, 1997.
Peranan mikoriza vesikular
arbuscular dalam
pengelolaan tanah mineral
masam. p. 589-595 dalam
Subagyo et al (Eds).
Prosiding Kongres
Nasional VI HITI, Jakarta,
12-15 Desmber 1995.
Widyawan R dan Prahastuti S.
1994. Bunga Potong. Pusat
dokumentasi dan Informasi
Ilmiah. LIPI. Jakarta
A14
Wright, S.F. and A. Upadhyaya,
1998. A survey of soils for
aggregate stability and
glomalin, a glycoprotein
produced by hyphae of
arbuscular mycorrhizal
fungi. Plant and Soil 198 :
97 – 107.
www.hort.purdue.edu/newcrop/cr
opfactsheets/Rambutan.ht
ml
www.irwantoshut.com
www.irwantoshut.com
www.naturalnusantara.,co.id.
2008 Budidaya karet.
Diakses 23 Januari 2008
www.perkebunan.litbang.deptan.
go.id.2007. Tembakau.
Diakses tanggal 15
November 2007. 1 page.
www.wikipedia.org. 2007.
Tembakau. Diakses
tanggal 15 November
2007. 1 page.
www.warintek.com. 2007.
Tembakau (Nicotiana
tabacum L.). Diakses
tanggal 15 November
2007. 4 pages.
www.perkebunan.litbang.deptan.
go.id., 2007. Tembakau.
Diakses tanggal 15
November 2007. 1 page.
www.wikipedia.org. 2007.
Tembakau. Diakses
tanggal 15 November
2007. 1 page.
www.warintek.com. 2007.
Tembakau (Nicotiana
tabacum L.). Dikutip dari:
Diakses tanggal 15
November 2007. 4
pages.
www.balittas.info/index.php?opti
on=isi&task=view&id=16
&Itemid=50 – 75k –
Cached. 2007. Balittas.
Diakses tanggal 20
September 2007. 1 page
Zaini, Z., T. Sudarto, J. Triastoro,
E. Sujitno dan Hermanto,
1996. Usahatani lahan
kering : Penelitian dan
Pengembangan. Proyek
Penelitian Usahatani lahan
Kering. Pusat Penelitian
Tanah dan Agroklimat.
Bogor
Zarate, J.T. and R.E. Dela Cruz,
1995. Pilot testing the
effectiveness of arbuscular
mycorrhizal fungi in the
reforestation of marginal
grassland. Biotrop Spec.
Publ.No56 : 131-137.
Biology and Biotechnology
of Mycorrhizae.
Zedan, H. 1992. The economic
value of microbial diversity.
Key note paper presented
at the VIIth International
Conference for Culture
Collections. Beijing, China.
October 1992.
B1
GLOSARIUM
Analisa hara pupuk : menyatakan berapa jumlah relatif dari N,
P2O5,dan K2O dalam pupuk tersebut
ATP (Adenosine
Triposfat)
: satuan pertukaran energi dalam sel.
Aerasi : Tata udara tanah
Allelopati :
Auksin : zat tumbuh yang pertama ditemukan yang
bekerja pada proses perpanjangan atau
pembesaran sel.
Bekerjanya pupuk : adalah waktu yang diperlukan sejak saat
pemberian pupuk hingga pupuk tersebut dapat
diserap tanaman
:
Curah hujan :
Daur air : adalah perubahan yang terjadi pada air secara
berulang dalam suatu pola tertentu.
Diferensiasi : proses pertumbuhan tanaman disebut
Derajat peresapan air Angka yang menyatakan derajat meresapnya
air pengairan ke dalam tanah dan keseragaman
peresapannya ke dalam lapisanlapisan
bawah tanah
Derajat
ketebakan
kebasahan
merupakan pernyataan yang menyatakan
berapa besar pembasahan tanah, yang
seharusnya segera dilakukan setelah kurun
waktu pemberian air pengairan.
Difusi : adalah pergerakan molekul atau ion dari
dengan daerah konsentrasi tinggi ke daerah
dengan konsentrasi rendah
Embrio : Calon individu baru
Epidermis : Kulit luar organ berupa lapisan lilin yang
mencegah kehilangan air secara berlebihan
Epigeal : Proses perkecambahan yang hipokotilnya
tumbuh memanjang akibatnya kotiledon dan
plumula terdorong ke permukaan tanah,
sehingga kotiledon berada diatas tanah
Fotosintesis : Pengubahan bentuk tanaga matahari menjadi
bentuk lain
Fotosisitem I : Molekul klorofil yang menyerap cahaya pada
panjang gelombang 700 nM.
Fotosistem II : Terdiri dari molekul klorofil yang menyerap
B2
cahaya pada panjang gelombang 680nM
Fototropisme : merupakan peristiwa pembengkokan ke arah
cahaya
Flooding (Cara
penggenangan)
adalah cara pemberian air ke lahan pertanian
sehingga menggenangi permukaan tanahnya.
Gen : faktor pembawa sifat menurun yang terdapat
di dalam makhluk hidup
Giberelin : Hormon yang bekerja hanya merangsang
pembelahan sel. Terutama untuk merangsang
pertumbuhan primer
Gravity irrigation
atau irigasi gaya
berat
Sistem ini menggunakan cara di mana
pemberian/ penyaluran air pengairan ini
sepenuhnya dengan memperhatikan gaya
berat
ground water, yaitu air tanah atau jelasnya air permukaan
yang meresap ke dalam tanah dan berkumpul
di bagian lapisan bawah tanah yang kemudian
sedikit demi sedikit akan ke luar melalui mata
air
Habitat : Tempat tinggal makluk hidup
Higroskopisitas
pupuk
: adala sifat mudah tidaknya pupuk bereaksi
dengan uap air.
Hipogeal : Pada perkecambahan ini terjadi pertumbuhan
memanjang dari epikotil yang menyebabkan
plumula keluar menembus kulit biji dan muncul
diatas tanah kotiledon tetap berada di dalam
tanah
Hormon (zat tumbuh) : suatu senyawa organik yang dibuat pada
suatu bagian tanaman dan kemudian diangkut
ke bagian lain, yang konsentrasinya rendah
dan menyebabkan suatu dampak fisiologis
Hiposonik : Suatu larutan yang mempunyai tekanan
osmosis lebih rendah daripada larutan lain
Indeks garam : merupakan gambaran perbandingan kenaikan
tekanan osmotik karena penambahan 100 g
pupuk dengan kenaikan tekanan osmotik
karena penambahan 100 g NaNO3
Irigasi Isecara umum didefinisikan sebagai
pemberian air kepada tanah dengan maksud
untuk memasok kelembaban tanah esensial
bagi pertumbuhan tanaman
interflow, yaitu aliran air yang meresap ke lapisan tanah
permukaan dan kemudian mengalir kembali ke
luar dari lapisan tanah permukaan tersebut ke
B3
permukaan tanahnya
Isotonik atau isomosi : Suatu larutan yang mempunyai tekanan
osmosis yang sama dengan larutan lain
Kelarutan pupuk : menyatakan mudah tidaknya suatu pupuk larut
dalam air, dan diserap akar tanaman.
Kekeringan dapat dinyatakan sebagai suatu keadaan
dimana berkurangnya jumlah air disebabkan
oleh menurunnya daya dukung tanah terhadap
ketersediaan air
Kekeringan hidrologi, adalah kekeringan yang berasosiasi dengan
efek periode singkat dari curah hujan
Kekeringan
meteorology
, adalah cekaman kekeringan yang
disebabkan keterbatasan curah hujan yang
berkepanjangan
Kekeringan sosial
ekonomi,
adalah keadaan perubahan sosial ekonomi
masyarakat yang disebabkan oleh
keterbatasan air
Kadar unsur pupuk Banyaknya unsur hara yang dikandung oleh
sutatu pupuk
Kemasaman pupuk : Reaksi fisiologis masam dari pupuk yang
diberikan ke tanah
Karbohidrat : Zat gula
Klorofil : Atau biasa disebut zat hijau daun. zat ini
sangat berguna untuk mengubah zat yang
diserapnya menjadi zat-zat makanan
Kloroplas :
Kinin atau sitokinin : Zat hormone yang bekerja mempercepat
pembelahan sel, membantu pertumbuhan
tunas dan akar, dan dapat menghambat
proses penuaan (senescence).
Kutikula : Lapisan dari lilin yang melindungi permukaan
daun dari teriknya cahaya matahari atau
lingkungan yang kurang menguntungkan
Kualitas air
pengairan
Adalah jumlah kandungan ion yang
berbahaya, ataupun hara yang berguna
bagi tanaman
Kohesi : Gaya tarik menarik Molekul air dengan
molekul air lainnya
Layu permanen : Tanaman yang kekurangan air dan apabila
disiram tidak dapat pulih kembali.
Mesofil : Sel-sel pada bagian daun yang banyak
mengandung kloroplas (lebih kurang
setengah juta kloroplas setiap milimeter
B4
perseginya)
Meiosis : pembelahan sel kelamin
Meristem : Jaringan muda yang senantiasa membelah
(meristematis)
Mitosis : pembelahan dari sel tubuh
Multiselluler : makhluk hidup bersel banyak
:
nilai ekivalen
kemasaman,
: yang artinya berapa jumlah Kg kapur (CaCO3)
yang diperlukan untuk meniadakan
kemasaman yang disebabkan oleh
penggunaan 100 Kg suatu jenis pupuk
Nutrisi : Mineral yang dibutuhkan tanaman
Osmosis : peristiwa bergeraknya pelarut antara dua
larutan yang dibatasi membran semi
permiable dan (selaput permiable diffrensial)
berlangsung dari larutan yang konsentrasinya
tinggi ke konsentrasi rendah
Pertumbuhan : didefinisikan sebagai peristiwa perubahan
biologis yang terjadi pada makhluk hidup
berupa perubahan ukuran yang bersifat
irreversible (tidak berubah kembali ke asal
atau tidak dapat balik)
Pertumbuhan primer : adalah pertumbuhan ukuran panjang pada
bagian batang tumbuhan karena adanya
aktivitas jaringan meristem primer.
Pertumbuhan
sekunder
: adalah pertambahan besar dari organ
tumbuhan karena adanya aktivitas jaringan
meristem sekunder yaitu kambium pada kulit
batang, kambium batang, dan dan akar.
Perkembangan : proses menuju pencapaian kedewasaan atau
tingkat yang lebih sempurna pada makhluk
hidup
Perkecambahan : merupakan proses pertumbuhan dan
perkembangan embrio
:
Phloem : pembuluh tempat transport makanan
Plasmolisis : Peristiwa lepasnya plasma sel dari dinding sel
:
Potensi air : energi potensial air yang terkandung dalam
tubuh tanaman
Pupuk buatan Pupuk buatan merupakan pupuk yang dibuat
oleh pabrik dengan kandungan unsur hara
tertentu
Pupuk asam Pupuk dapat menurunkan pH disebut
Pupuk basa Pupuk yang dapat menaikkan pH
B5
Pupuk tunggal : Pupuk yang hanya mengandung satu unsur
Pupuk majemuk : Pupuk yang mengandung lebih dari satu unsur
Reaksi terang : reaksi fotosintesis yang memerlukan cahaya
Reaksi gelap : reaksi fotosintesis yang tidak memerlukan
cahaya
Respirasi : merupakan proses perombakan senyawa
organik menjadi senyawa anorganik dan
menghasilkan energi
Respirasi aerob : suatu proses metabolisme tanaman dengan
menggunakan oksigen yang
Respirasi anaerob : reaksi pemecahan karbohidrat untuk
mendapatkan energi tanpa menggunakan
oksigen
Run off aliran air permukaan
Stomata : Mulut daun
Suhu minimum : Suhu paling rendah dimana organisme masih
dapat melaksanakan metabolismenya
Suhu maksimum : Suhu paling tinggi dimana organisme masing
dapat melaksanakan metabolisme
Suhu optimum : Suhu paling baik untuk kelangsungan
metabolisme pada makhluk hidup
Sugar sink : Tempat penerima gula, tempat gula disimpan
atau dikonsumsi
Supertonik : Suatu larutan yang mempunyai tekanan
osmosis lebih tinggi daripada larutan lain
Sprinkle Irigation air pengairan secara pancaran
Stomata : merupakan celah yang dibatasi oleh dua sel
penjaga
Tumbuhan hijau : Tumbuhan yang mengandung zat hijau daun
(klorifil)
Tekanan turgor. : Tekanan hidrostatik dalam sel disebut
Top dressing Pembeian pupuk melalui disebar di atas
permukaan tanah.
Transpirasi : adalah proses penguapan air melalui stomata
Uniselluler : Organisme ber sel tunggal
Xylem : Merupakan jaringan pengangkutan air
Zigot : Sel hasil penyatuan sel betina (ovum)
dengan sel kelamin jantan
C1
INDEKS
A
Absorbsi,106
Agregat 550
agroindustri,
1
Aglonema
351
agroekosiste
m, 167
Aerasi 537
Anggrek 353
Arumanis 323
Air, 30,31
Air tanah, 120
Air
permukaan
tanah,117
Air sungai,
119
Air hujan,119
Amonifikasi,
49
Ambon
kuning 334
an organik,87
Antraknose
267,380
Aspek
pisiologi, 4
Aspek
ekologi, 4
Apatit, 55
Aspek
pemuliaan
tanaman, 4
Abiotik, 4
Ajir 248
Akar
rambut.157
Akar
serabut,157
Akar
tajuk,158
Akar tinggal
216
Alternaria 250
Aktinomicetes
539
Amonia,88,90
Amonium.88
Amonium
nitrat,91
Amonium
sulfat,92
Amofos,95
Analisis, 6
Analisa
kebutuhan
hara,66
Analisa
tanah,66
Analisa
tanaman,67,1
14
Anhidrous
ammonia, 89
Anual 345
Angin,171
Anatomi
beras,169
Anggrek 353
Ambon lumut,
117
Amonium
sulfat
nitrat,94
Akar primer,
11
Akar
sekunder, 11
aplikasi,107
Aphids sp,
367
Al, 45
Aerasi, 13
Autotrop, 19
Asam
superfospat,
97
Asimilasi 18
Asupan 178,
ATP, 23
Anthurium,
407
Adenium, 409
Alas pot, 415
Analisa
tanah, 430
Aeroponik,
510
B
Bahan
pangan, 1.
Bahan
organik
tanah,78
Bakteri 539
Bakteri
fotosintetik,
24
Badan
bendung,143
Bajak tanah
194
Bak
kecambah
213
Batu
fospat,96
Batu bata
522,523
Batang 226
Bawang
merah 264
Barangan
merah 334
Bendungan,1
43
Bedding
system,148
Bedding plant
345
Bedengan
234, 364
Bercak daun
384, 386
Bercak coklat
384
Bercak bunga
387
Bassiana,
367
Benih 210,
512
Budidaya,
tanaman, 1
Biannual 345
Bulir padi,
160
Biotik, 4
Bioinsektisida
367
Bibit,177,246
Bunga, 5,226
Bunga potong
349
Buah 226
Benih, 5,512
Berta
chrysolineate,
307
Besi, 59
Bekicot 376
Bibit, 5
Biji 227
Bibit 234
Biji-bijian,108
Biologis,7
Bobot kering,
8
Boron,62
Buah-buahan
205
Bundel
vascular, 21
Buah
padi,162
Bunga
padi,161
Busuk lunak
385
Busuk daun
238
Busuk umbi
238
Busuk
rimpang 279
Busuk hitam,
39, 379
Batang
bawah, 403
Batang atas,
403
Bunga
matahari, 405
Begonia, 411
Batuan
penghias,
415
Bentuk
bonsai, 416
Bonsai, 413
Bonsai tegak
lurus, 416
Bonsai tegak
lurus
beraturan,
416
Bonsai tegak
lurus tidak
teratur, 416
Bonsai
tersapu
angin, 418
Bonsai anak
air terjun, 418
Bonsai semi
anak air
terjun, 418
Bonsai
berkelompok,
419
C
Cabe 253
Cabe kering
261
Cacahan
pakis 349
Cahaya, 19,
28,400,
425,529
Cangkok 218
Cattleya 364
Cercospora
Carote, 292
Curah hujan,
13, 313
Cu,45
Clostridium
sp 547
Cross slope
ditch,148
C2
CVPD 318
Catlea 234
Climbing
rose, 401
Cangkok, 511
D
Daerah aliran
sungai
(DAS),122
Daya pikat
347
Daun 226
Difusi,32
Diferensiasi,
10
Dekorasi 347
Dendrodium
264, 353
Deskripsi 327
Determinate,
198
Distribusi, 13
Dichocricic
punetiferalis
307
Dolomit 55
Dormansi 211
Defisiensi
kalsium,
55,57
Def.magnesiu
m, 59
Def-besi, 59
Defmangan,
62
Drainase.123,
146,147
E
Ekologi 300
tanaman, 4
Endosperm,
163
Endo
mikoriza 547
Ekto mikoriza
547
Eksternal, 7
Epidermis,
10,20
Embrio, 10,11
EM4 554
Epikotil, 11
Epifit 355
Epoh 244
Elektron, 23
F
G
Ganggang
307
Gulma,5,307
Genotip,7
Genetik, 12
Generatif
358, 407, 427
Geragih 217
Gaminae,
158
Gravitasi, 35
Glukosa, 40
Gejala
kekurangan
boron, 63
Gravity
irrigation, 133
Ground
water,119
Gulma, 280,
433
H
Hama 5.
249, 332, 341
Ha.peng.
umbi 237
Hama trip
237
Hanging plant
345
Hara 525
Herba, 239,
345
Herring bone
system,151
helai daun,
159
Hidrogen, 44
Hidrolisa,
30,212
Higroskopisit
as,85
hortikultura,1,
205,206
Houseplant
346
Hipokotil, 11
Hipogeal, 12
Hara, 13
Hara mikro,
59
Hara makro,
44
Hara mikro,
44
Hayati,390
Hybrind tea,
401
Hybrind
prepertual,
401
Hypa 548
Hidroponik,
509
Hidroponok
rakit apung,
510,517,519
I
Ilmu tanah
ionisasi. 23
Intensitas
cahaya,
26,170, 354
Indeks
garam,85
Indrabela 5p,
307
Inditerminate,
198
insektisida
369
insektisida
hayati 367
Ingenhausz,
29
Inokulum 368
Internal, 44
Inter cropping
228
Inter flow.119
Interception,1
49
Interception
system,151
Indoor 347
Iklim,,69,105,
402
117, 300.
170,199
irigasi
J
Jagung,182
jaminan
pupuk,103
Jahe 271
Jahe putih
272
Jahe emprit
272
Jahe merah
272
Jalur caspary,
36
Jelita 244
Jeruk 311
Joseph
Priestly, 29
Jaringan
irigasi,140.
Jar.ir.tersier,1
40
Jar-irutama,
140
K
Kahat hara
187
Kalium,
52,77,
Kalim
sulfat.98
Kalium
magnesium
sulfat, 98
Karbon, 44
Kadar
pupuk.84
Kandungan
beras,169
Kapasitas
tukar
kation,74
Kapok
kuning333
Kalsit, 55
Kalsium,
55,99
Karbondioksi
da, 20,26
Karat Uredo
sp 387
Kebiasaan
tanaman,137
Kedelai 197
Kekeringan
189
kehutanan,2
Kelembaban
nisbi 355, 528
Kemurnian
C3
benih 211
Keseimbahan
hara,65,107
Ketebalan
rumah tangga
air.136
Kelautan
pupuk, 84
Kemasaman
pupuk,84
Kentang 131
Kemiringan
tanah.134
Ketepatan
pengairan,15
3
Ketinggian
tempat 301
Kepik
anggrek 377
Kuantitas, 6
Kualitas, 6.
Kualitas
air.127.139
Kultur teknis
224
Kultivar 225
Kumbang
penggerek
371, 372
Kebutuhan
air,144
Kompos 542
Kompos
Bioaktif 553
Kutu daun
237, 287,378
Kutu kebul
249
Kutu perisai
372
Kutu putih
374
Kutu
tempurung
378
Kompos
366,536
Komposisi,
300
Kondensasi,
31
Konidium
381
Korteks, 10
Kedelai, 11
Kotiledon, 12
Klasifikasi
pupuk,81
Klasifikasi
irigasi,125
Klor,64
Klorofil, 19
Klorosis, 47
Kloroplas,
19,20
Kutikula,21
Kultur
jaringan 215
Kuprum, 62
Kumbang
koksi, 390
Ketuaan
bunga, 390
Kuping gajah,
407
Kerikil, 523
L
Larva 370,
371
Layu bakteri
238, 279
Lalat kacang
202
Lahan sawah
265
Layu
Sklerotium
382
Lembang 1,
254
Leguminosa
540
lingkungan,
12, 354
lidah
daun,159
lingkungan
354
litofit 356
laju respirasi
27
lokasi 227
Lubang tanah
Lidah agjah,
407316
Lempengan
rumput, 432
Larutan hara,
524
M
Mangga, 322
Malai
padi,161
Magnesium,
57,99,100
Manfaat 245,
327
Manohora
232
medium,
media 5,
Media tanam
359
Makhluk
hidup, 7,70
Manajemen
pupuk.113
Man-hara
N.114
Man- hara
P.115
Makro 538
Mangan,60
Mineralisasi,
48
Mikro,99
Mikroorganis
me 553
Mikoriza 547
Multiseluler, 7
Media tanam
133, 301
Membelah
diri 216
Meristem,9,1
0 Merbabu
232
Mesophyl, 21
Mitosis, 10
Meiosis,10
Mekanisasi
223
Minimum, 13
Molibdenum,
63
Morfologi 197
Mulut daun
21
Mulsa
235,248,537
Monokultur
228
Monopodial
353
Mosaik 251
Mawar, 401
Mawar tea,
402
Metode kultur
air, 510
Metoda arus
kontinyu, 521
Mengukur Ph,
527
Mycelia 551
N
Natural
system,151
NADPH,
23,24
NADPH2,
23,24
Nagka 335
Neolitikum, 2
Nephentens
sp, 48
Nephelium
lappaceum
297
Nematoda
287
Nitrogen, 46
Nitrifikasi, 49
Nikel,64
Nilai
pupuk,109
NPV 202
NFT, 510
O
Optimum,
6,13
Oncidium,
364 469
Organel, 19
Organisme
tanah 538
Oksigen,
19,44
Oriza
sativa,157
Opal 245
Orong-orong
237
Organik
535,537
Osmosis, 33
Okulasi, 403
P
Padi,157
Pupuk 366
Paket
teknologi,185
Padang
rumput,108
Pangan, 1
Paprika 262
Paralel ditch
sytem,148
Pangkas 248
Paranet 209
Parmarion
Pupilaris
375
Perenial 345
Penanaman
348
Persilangan
356
C4
Penggerek
daun 373
Pemakan
daun 374
Pertanian
organik
Pestisida 530
Panen,
186,194,204,
239, 252,
260.263, 268,
281, 288.
308, 319’ 342
Pascapanen,
186,252,282,
309,320, 351
Pedoman
teknis, 301,
315, 330,
337, 361
Pepaya
cibinong 327
P.Bangkok
328
P-Hawai 329
P.Jingga 329
P-Mas 330
pH 527
Pigmen, 23
Pipa
berlubang,13
2
Pipa
bernozzle.13
0
Piretrum 281
Pisang 333
Pecahan
genting 365
Perkebunan,1
Permata, 244
Persilangan
356
Pergerakan
Pelepah
daun,
159,160
Penggenanga
n,130
Proses
produksi, 2
Produksi 240
Perkembanga
n vegetatif, 5
Pemupukan,
110 201, 247,
339
Peruraian, 48
Pengairan,12
4,236
Pengapuran
304
Pengemasan
242
Penyaluran
air,129,131
Penyakit 238,
332, 340
Penyiangan
236, 318
Penyiraman
247, 360
Pendangiran,
178
Perkembanga
n generatif, 5
penempatan
pupuk,104
Penyakit, 5,
259,318
Penyiangan
201
Penyiapan
255
Penataan
jaringan.141
Peredaran N,
47
Perbanyakan
tanaman 209
Penggenanga
n,142
Persiapan
212
Pintu
penguras,143
Pintu
pengambilan.
143
Pengemasan
343
Pindah tanam
214
Penggulung
daun 203
Penggerek
polong 204
Pen.pisang
341
Pola tanam
304
Perkecambah
an 211
Prinsip
genetis, 5
Prinsip
agronomis, 5
Produktifitas,
6,180
Pertumbuhan
,7,
11
Perkembanga
n,7,11
Pelindung
dingin 208
Penyimpanan
pupuk,111,
306
Persiapan
lahan,200
Persemaian
214, 255
Pengairan
200
Penanaman
331
Pemupukan
dasar 235,
331
Penyulaman
235
Penanaman
200
Perawatan
305
Perompesan
258
Pola bulu
burung,122
Pola
radial,122
Pola
paralel.122
Polinia 357
Prokambium,
10
Profil tanah,
71
Phloem, 21
Ploneta
diducta, 307
Potensial air,
37
Posfat, 5
Pohonpohonan
128.
Pompa
air.108
Pupuk alam,
82
——- an
organik’
82,83
—– basa,83
—-
belerang,100
—– asam,83
——hijau
540,541
——padat
83,540
——cair,
83,545
—-
buatan,82,84
—– kalium 98

kalsium,99,10
0
—- kandang
349, 543

majemuk,102
—–mikro,100
—-
nitrogen,86
——posfat,95
Plyanta, 401
Pedoman
teknis, 402
Pemilihan
tanaman, 420
Pembentukka
n bonsai, 420
Pemilihan
bentuk
bonsai, 422
Pemilihan
tanah, 423
Perawatan
bonsai, 423,
514
Pengairan,
424,435
Pemupukan ,
424,434, 514
Pengairan
,431,435
Pemangkasa
n, 434
Pindah
tanam,
512513
Pasir, 522
Perlit, 524
Perawatan
media tanam,
526
Ph meter,
527
Q
R
Raja bulu 335
Rambut akar,
36
Rambutan
297,298
Ram.binjai
298
Ram.cimacan
298
C5
Ram-aceh
lebak 298
Random ditch
system,148
Rebah bibit
386
Rekayasa
bioteknologi,1
67
Radikula, 157
Reaksi
terang, 21
Reaksi gelap,
21
Reaksi tanah,
73
Rimpang 283
Rhizobia 546
Run off,119
Runduk 220
Rumah
kaca,207
Rm..kasa 209
Rm.plastik,20
8
Rumput, 427
Rumput
gajah,
428,429
Rumput gajah
mini, 429
Rumput
jepang, 430
Rumput
peking, 430
Rumput golf,
430
Rumpun, 423
S
Sabut kelapa
365
Sprofit 356
setek bang;
seteng daun
234
sayursayuran,
3
,108,221,222
Saluran,144
Saldrainase,
151
Sekam bakar
349
Seledri 285
irrigation,132
Spora 216
Spodoptera
spp 267
Syarat
tumbuh
199,232,245,
254,264, 273,
286. 311,
330.336. 354
Stolon, 428,
433
Substrat, 510
Sirkuasi air,
514
Serbuk kayu,
524
Sumber hara,
525
T
Tanaman
berkayu 346
Tanjung I
254
Tanjung II
254
Tataletak,152
Teknik, 1
Terestrial 355
Tanah,68,172
,199, 254,314
Tanah
berlereng.135
Tanaman
menghasilkan
318
Tanaman
inang, 369
370,
Tali rafia
363
Tembakau
281
Tindak
budidaya, 2
Thrips
anggrek 377
Tingkat
pemakain.14
5
Ting.efisiensi,
145
Teknik
budidaya, 3,
200
Tekanan
hidrostatik, 34
Tekstur
tanah, 72
Tekanan
kapiler,
34
Tekanan
turgor, 35
Tekanan
akar, 38
Tempel 219
Temperatur
,311, 391,399
Tinggi dari
permukaan
laut, 13
Tilakoid, 21
Tip burn, 57
Transpirasi,
30
Turgor, 30
Tungau 370
Tungau
merah 370
Tungau
jingga 377
Tomat 243
Topografi,
70,134
Top soil.136
Trichogramm
a toideea 202
Tunas 218
Temperatur,
391
Teknik
pemangkasa
n bonsai, 420
Topdressing
435
U
Uji dingin 210
Ulat grayak
202
Ul-engkal 202
Ul- polong
203
Umbi 269
Um-batang
216
Um- lapis 216
Uniseluler,7
Unsur N, 44
Unsur mobil,
47
Unsur pupuk,
81
Urea,92,93
Ulat grayak
C6
237
Ulat buah 250
Ulat bunga
373, 374
Ulat jengkal
307
V
Vanda teret
364
Varitas
unggul, 4,
Var.padi 166,
Vegetatif 215,
357,407, 428
Veg.alami
216
Vena, 21
Venus flytrap
, 46
Verticillium,
54
Vegetatif 358
Virus 239
Vitamin, 425
Vertikultur,
519
Vermikulit
524
W
Warna beras,
168
Waktu,71
Wali songo,
407
X
Xilem akar,
36
Y
Z
Zamrud 245
Zinkum, 59
Zigot, 11
D1
DAFTAR TABEL
1 Tingkatan mudah tidaknya
jaringan organisme
didekomposisi
.
.. … … … … … … … … 79
2 Pembawa Nitrogen organik ………………………… 87
3 Pembawa nitrogen
anorganik ………………………… 90
4 Pembawa fosfor ………………………… 97
5 Pupuk Kalium ………………………… 98
6 Garam-garam unsur mikro
yang biasa dipakai pada
pupuk ………………………… 101
7 Klasifikasi air pengairan
berdasarkan nilai SAR
(Bandingan adsorbsi natrium) ………………………… 125
8 Klasifikasi air irigasi menurut
US Salinity Laboratory ………………………… 126
9 Klasifikasi air
pengairan (irigasi)
menurut Scofield ………………………… 127
10 Kebutuhan air beberapa
jenis tanaman pada setiap
fase fenologi ………………………… 138
11 Perkiraan potensi air
dengan pengembangan
irigasi menurut wilayah,
tahun 1990-2020 ………………………… 154
12 Analisa ekonomi usaha
tani jaugung hybrida ………………………… 195
13 Klasifikasi botani
beberapa jebis sayuran ………………………… 229
D2
14 Jenis hama penyakit pada
bawang ………………………… 270
15 Klasifikasi buah-buahan
menurut kedudukan
sistematik, tipe, dan
pemanfaatan ………………………… 294
16 Jarak tanam dan jumlah
pohon perhektar ………………………… 462
17 Kriteria kematangan buah
berdasarkan jumlah
berondolan ………………………… 479
18 Jenis polifonel pada teh
yang telah teridentifikasi
dan tingkat kandungan
rata-rata ………………………… 482
19 Produksi pucuk basah
pada berbagai tingkat
jarak tanam ………………………… 486
20 Kriteria umur batang untuk
okulasi ………………………… 491
21 Unsur hara dan sumbernya ………………………… 532
22 Gejala-gejala kekurangan
hara ………………………… 534
23 Kadar rataan unsur hara
yang terdapat pada pupuk
kandang ………………………… 544
24 Berbagai sumber bahan
organik (tanaman) dan C/N
nya ………………………… 544
D3
DAFTAR GAMBAR
1 Titik Tumbuh pada Ujung Batang kedelai …………………… 8
2 Susunan sel titik tumbuh pada ujung akar ………………….. 9
3 Susunan sel titik tumbuh batang ……………………………….. 10
4 Perkecambahan Hipogaeal ……………………………………. 11
5 Perkecambahan Epigaeal ………………… …………………… 12
6 Skematik proses fotosintesa ……………………………………. 20
7 Penampang melintang daun …………………………………… 21
8 Skematik reaksi terang dan gelap dari
proses fotosintesa………………………………………………………. 22
9 Lintasan fotosintem I ……………………………………………….. 24
10 Lintasan fotosistem II………………………………………………… 25
11 Peredaran air dimuka bumi…………………………………………. 31
12 Peristiwa kapilaritas. ………………………………………………. 34
13 Peristiwa gutasi pada daun ………………………………………. 37
14 Daur unsur nitrogen lingkungan ………………………………… 47
15 Perubahan bentuk senyawa nitrogen ………………………….. 48
16 Peredaran hara posfat di alam …………………………………… 50
17 Defisiensi fosfor pada daun anggur ………………………….. 51
18 Defisiensi posfor pada tomat ……………………………………. 52
19 Ketersediaan K dalam tanah …………………………………….. 53
20 Gejala kekurangan kalium pada paprika …………………….. 56
21 Gejala kekurangan kalium pada daun labu…………………… 56
22 Buah apel yang mengalami kekurangan kalsium…………… 57
23 Mengeringnya buah tomat akibat kekurangan kalsium…… 58
24 Daun jeruk yang mengalami defisiensi magnesium……….. 58
25 Defisiensi besi pada daun bunga rose …………………………. 60
26 Defisiensi besi pada rumputan ……………………………………. 60
27 Defisiensi besi pada daun jeruk ………………………………….. 61
28 Gejala defisiensi mangan ………………………………………. 61
29 Gejala defisiensi boron pada daun anggur ………………….. 62
30 Gejala toksisitas boron pada daun tomat ……………………. 63
31 Gejala defisiensi molibdenum ………………………………….. 64
32 Daun yang mengalami keracunan klor ………………………… 65
33 Tahapan proses analisis tanah ………………………………….. . 67
34 Tahapan proses analisis jaringan tanaman ……………………. 68
35 Perbandingan volumetrik dari komposisi tanah ……………. 71
36 Penampang melintang tanah …………………………………….. 72
37 Tipe agregat tanah ………………………………….. …………… 73
D4
38 Ilustrasi skematik dari pertukaran
kation antara permukaan negatif
dari partikel liat dan larutan tanah ……………………………… 77
39 Konversi ammoniak ke beberapa
bentuk pupuk nitrogen ……………………………………………..
91
40 Tahapan pembentukan amonium dari asam nitrit ………… 94
41 Manajemen pengairan merubah
distribusi garam tanah…………………………………………………
123
41 Penggunaan drainase untuk mengelola
ketersediaan air ………………………………………………………..
146
43 Pengaturan pengairan sesuai dengan
kebutuhan tanaman ……………………………………………….
147
44 Sketsa lahan pertanaman dengan saluran irigasi
dan saluran drainase searah ………………………………………. 150
45 Sketsa lahan pertanaman dengan penurunan
pangkal dan topografi dengan
saluran drainase sejajar …………………………………………….. 151
46 Tata letak pipa saluran ……………………………………………… 152
47 Sketsa pembuangan drainase …………………………………….. 153
48 Pertumbuhan akar padi ……………………………………………. 158
49 Pertumbuhan daun padi …………………………………………… 159
50 Bagian daun tanaman padi ……………………………………….. 160
51 Malai padi ………………………………………………. 161
52 Bunga padi ………………………………………………. 161
53 Proses perkecambahan padi ……………………………………… 165
54 Padi dewasa ………………………………………………. 166
55 Pertumbuhan varietas IR 64 di lahan sawah ……………. 166
56 Akar jagung ………………………………………………. 183
57 Batang jagung ………………………………………………. 184
58 Daun jagung ………………………………………………. 184
59 Bunga jantan jagung ………………………………………………. 185
60 Bunga betina jagung ………………………………………………. 185
61 Buah jagung siap panen …………………………………………… 185
62 Urutan penanaman jagung ………………………………………… 186
63 Beberapa gejala kerusakan
dari batang jagung ………………………………………………….
190
64 Beberapa gejala kerusakan
pada akar jagung ………………………………………………. …..
191
65 Beberapa kerusakan pada tongkol jagung 192
66 Pohon industri jagung ………………………………………………. 196
67 Daun kedelai …………………………………………………………… 198
68 Setelah penanaman padi dapat dilakukan 200
D5
penanaman kedele ……………………………………………….
69 Areal pertanaman kedele ………………………………………….. 200
70 Hubungan antara hortikultura dengan ilmu lainnya 205
71 Piramida makanan ………………………………………………. 207
72 Bentuk rumah kaca ………………………………………………. 207
73 Rumah plastik …………………………………………….. 208
74 Pelindung bibit dari suhu rendah 209
75 Rumah kasa ………………………………………………. 209
76 Teknik penanaman benih langsung di lapangan 212
77 Bak kecambah yang dalam satu tempat banyak tanaman 213
78 Tipe bak kecambah satu lubang satu tanaman 213
79 Pot pembibitan ……………………………………………………. 213
80 Bak persemaian yang telah diisi dengan tanah 213
81 Persemaian pada bak kecambah untuk benih yang
berukuran besar ……………………………………………………. 214
82 Persemaian pada bak kecambah untuk benih berukuran
kecil ……………………………………………………………………. 214
83 Tanaman yang siap dilakukan pindah tanam ……………… 214
84 Teknik pindah tanam dari bibit yang
ditanam pada bak kecambah ……………………………………… 214
85 Teknik mencabut bibit dari pot ………………………………….. 215
86 Perbanyakan dengan rhizome ……………………………………. 216
87 Perbanyakan dengan umbi batang …………………………….. 217
88 Perbanyakan dengan geragih ……………………………………. 217
89 Perbanyakan dengan tunas ……………………………………….. 217
90 Teknik mencangkon tanaman ……………………………………. 218
91 Perbanyakan dengan setek batang
………………………………………………………………………
218
92 Beberapa jenis perbanyakan
dengan setek daun ……………………………………………….
219
93 Perbanyakan tanaman
dengan teknik menempel ………………………………………….
219
94 Teknik sambung pucuk …………………………………………….. 220
95 Teknik perbanyakan tanaman
dengan runduk …………………………………………………………
220
96 Sayuran yang dikeringkan ……………………………………….. 228
97 Tanaman cabe …………………………………………………….. 253
98 Penanaman cabe pada lahan terbuka
dengan mulsa plastik ………………………………………………. 257
99 Buah cabe paprika …………………………………………………. 262
100 Bawang merah yang sudah dikering 264
D6
siap untuk dijual ……………………………………………………
101 Seledri daunyang ditanam dalam pot ………………………. 285
102 Penampang tangkai daun dari seledri tangkai …………….. 286
103 Aneka jenis buah rambutan berdasarkan
besar kecilnya biji …………………………………………………..
298
104 Rambutan mengkal (belum masak sempurna) 308
105 Rambutan masak …………………………………………………… 308
106 Kebun jeruk berastagi ………………………………………………. 311
107 Buah jeruk yang masih pentil ……………………………………. 319
108 Buah jeruk yang masih hijau …………………………………….. 320
109 Buah jeruk yang siap panen …………………………………….. 320
110 Mangga duren ……………………………………………………. 322
111 Mangga arumanis …………………………………………………… 323
112 Pepaya cibinong ……………………………………………………. 327
113 Pepaya bangkok …………………………………………………… 328
114 Pepaya hawai ……………………………………………………….. 329
115 Pepaya jingga ………………………………………………. …….. 329
116 Pepaya emas ………………………………………………………….. 330
117 Pisang ambon lumut ………………………………………………. 333
118 Pisang kapok kuning ………………………………………………. 333
119 Pisang ambon kuning ………………………………………………. 334
120 Pisang nangka ……………………………………………………….. 325
121 Pisang raja bulu ……………………………………………………. 335
122 Tanaman yang diletakkan pada pot gantung………………… 346
123 Tanaman hias yang diletakkan dalam ruangan 346
124 Penggabungan golongan tanaman
berkayu dalam satu lanskap …………………………………….. 347
125 Mawar kampung ………………………………… ………………….. 401
126 Bunga matahari ……………………………………………………….. 405
127 Salah satu jenis anthurium ………………………………………… 407
128 Adenium ………………………………………………………………. 409
129 Salah satu jenis begonia …………………………………………… 411
130 Tanaman yang dibonsai …………………………………………. 413
131 Aneka bentuk pot bonsai ………………………………………… 414
132 Beberapa bentu pot 99) gajah (b) naga ……………………… 415
133 Batu penghias bonsai ……………………………………………. 415
134 Bonsai bentuk tegak lurus beraturan ………………………….. 416
135 Bonsai tegak lurus tidak beraturan ……………………………. 417
136 Bentuk bonsai tersapu angin ………………………………… 418
137 Bonsai anak air terjun ………………………………………… 418
138 Bonsai berkelompok ………………………………… 419
139 Beberapa alat bantu yang digunakan 420
D7
dalam bertanam bonsai ……………………………………………
140 Tahapan pembuangan akar ………………………………… ….. 421
141 Pengkawatan pada proses pembentukan bonsai ………….. 421
142 Beberapa teknik pemangkasanan …………………………….
pada pembentukan bonsai …………………………………
422
143 Pengikatan pada pangkal batang
sehingga batang membengkak …………………………………
422
144 Pembentukan cabang bonsai ………………………………… 423
145 Lapangan rumput pada halaman rumah 427
146 Bibit rumput gajah ………………………………… 428
147 Stolon rumput ………………………………… 428
148 Bagian-bagian rumput ………………………………… 428
149 Rumput gajah ………………………………… 429
150 Padang Golf ………………………………… 430
151 Bibit rumput dalam bentuk rumpun
(a) penanaman rumpun rumput di lapangan (b) …………… 432
152 Bibit rumput dalam bentuk sod/lempengan ……………….. 433
153 Cara penanaman bibit di lapangan …………………………….. 433
154 Beberapa jenis alat pemutung rumput 434
155 Dua jenis rumput yaitu …………………………………
rumput golf (kiri) gajah (kanan) 437
156 Pertanaman tembakau ………………………………… 438
157 Batang tembakau
…………………………………………………….
439
158 Biji tembakau ……………………………………………………. 440
159 Bunga tembakau …………………………………………………….. 441
160 Penyemaian benih tembakau …………………………………….. 443
161 Cara mencanut bibit tembakau …………………………………… 443
162 Proses pengeringan daun tembakau 447
163 Buah kakao ……………………………………………….. 452
164 Buah kelapa sawit ……………………………………………………. 470
165 Perkebunan kelapa sawit ………………………………………….. 470
166 Kelapa sawit di pembibitan awal (atas)
dan di pembibitan utama …………………………………………. 475
167 Pohon teh ………………………………………………………….. 481
168 Kebun entres ………………………………………………………….. 491
169 Cara mengokulasi karet ……………………………………………. 492
170 Bakal batang bawah …………………………………………………. 492
171 Pemotongan batang bawah ……………………………………….. 493
172 Batang bawah siap dilakukan okulasi ………………………… 493
173 Pekerjaan mengokulasi ……………………………………………. 493
174 Batang bawah dengan tunas hasil okulasi ………………….. 493
D8
175 Bibit karet siap di tanam ………………………………………….. 494
176 Pengangkutan bibit karet dengan truk atau jender ………. 494
177 Mesin traktor pengolahan lahan …………………………………. 495
178 Pembuatan ajir pada lahan datar ………………………………. 495
179 Pembuatan ajir pada lahan bergelombang 496
180 Mesin pembuat lubang tanam ……………………………………. 496
181 Bentuk lubang tanam ……………………………………. 496
182 Mal untuk mengukur kedalaman lubang tanam …………… 496
183 Penimbunan lubang tanam setelah
pindah tanam dengan mempergunakan
tenaga manusia ……………………………………………………….. 497
184 Perkecambahan benih karet sebagai
sumber batang bawah ……………………………………………… 498
185 Kacangan yang sudah tumbuh 498
186 Kacangan yang siap di tanam ke lapangan …………………. 498
187 Penanaman kacangan diantara barisan karet ……………….. 499
188 Proses pencampuran pupuk ………………………………….. 500
189 Pemberian pupuk pada tanam
belum menghasilkan ……………………………………………….. 501
190 Penyiangan gulma pada kawasan
tanaman penutup tanah …………………………………………. 501
191 Bidang sadap karet ……………………………………………….. 503
192 Tanaman karet belum menghasilkan ………………………… 504
193 Penimbangan lateks ………………………………………………. 507
194 Komponen penyususn dalam kultur air ………………………. 510
195 Salah satu stoples sebagai wadah hidroponik ……………….. 510
196 Menanam tumbuhan dalam air dengan
menggunakan gabus dan kapas
sebagai penyangga ………………………………………………….. 511
197 Beberapa hidroponik substrat ……………………………………. 515
198 Hara pada bak dialirkan dengan bantuan
pompa masuk ke paralon berbentuk O.
Dari paralon tersebut nutrient dialirkan
ke talang penanaman dan melalui selang
inlet akan mengalir dalam talang yang
dibuat miring akan masuk kembali
ke dalam paralon melalui
selang outlet menuju
tangki penampungan ……………………………………………….. 516
199 Sayuran ditanam dengan aeroponik ……………………………. 516
200 Pot piva PVC yang disususn vertikal
D9
menyerupai rak ………………………………………………………. 520
201 Beberapa peralatan dan cara
pembuatan lubang tanam
pada kolom vertikal bambu ……………………………………… 520
202 Teknik pembuatan lubang
tanam pada wadah tanam ……………………………………….. 520
203 Wadah yang telah siap diisi media
tanam dan ditanami ………………………………………………… 520
204 Beberapa model susunan kolum horizontal ………………… 520
205 Kolom horizontal bambu yang telah
siap disusun dan siap untu ditanami …………………………… 521
206 Sawi yang dibudidayakan
dalam kolom vertikal paralon …………………………………… 521
207 Slada yang dibudidayakan dalam
kolom vertikal paralon ………………………………………….. 521
208 Sawi sendok yang dibudidayakan
secara vertikal ……………………………………………………… 521
209 Salah satu contoh hidroponik
dengan menggunakan
metode arus kontinyu …………………………………………… 522
210 Hidroponik dengan menggunakan pasir ……………………. 523
211 Tanaman tomat yang ditanam pada jerami kering ………. 524
212 Penampang melintang akar
yang tidak bermikroriza ……………………………………………. 548
213 Penampang melintang akar bermikoriza …………………….. 548
214 Perbedaan pertumbuhan akar
kedelai bermikroriza dengan tidak ……………………………. 549

shareShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someonePrint this page

komentar

klikaja bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
tags: ,

Related Post AGROBUDIDAYA PERTANIAN 2016

TANAH BUKAN HANYA UNTUK BUDIDAYA TANAMAN.

MENYEMBUHKAN ANEMIA LENGAN LEMPUYANG

Pengembangan Beras Organik di Sragen

Informasi untuk pupuk yang ramah lingkungan

KHASIAT BUAH CERME DAN KACANG HIJAU