bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
Home » Blog » Budidaya Melon 2016
Filed: Blog
Advertisement
loading...

KATA PENGANTAR
Melon merupakan buah-buahan semusim yang kini
berkembang sebagai komoditas agribisnis. Melon
memiliki nilai ekonomi dan prospek yang cukup besar
dalam pemasarannya namun memerlukan penanganan
intensif dalam budidayanya. Komoditas ini diminati oleh
masyarakat banyak dan mempunyai harga yang relatif
tinggi baik untuk pasar domestik maupun ekspor.
Dalam rangka pengembangan melon dan tantangan dalam
menghadapi era globalisasi serta perdagangan bebas, maka
tuntutan konsumen terhadap standar mutu produk dan
jaminan keamanan sangat diperlukan. Untuk itu, maka
perlu dilakukan penerapan budidaya melon yang baik dan
benar sesuai dengan Standar Prosedur Operasional (SPO)
Melon.
Buku SPO Melon disusun sebagai bahan informasi yang
memuat tentang budidaya melon yang baik dan benar
mulai dari Pembibitan sampai Penanganan Pasca
Panennya.
Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada berbagai pihak yang telah
berpartisipasi di dalam penyusunan buku ini, khususnya
kepada :
– Pusat Kajian Buah Tropika, IPB, Bogor
– Pusat Penelitian Hortikultura, Jakarta
– Balai Penelitian Buah Solok, Sumatera Barat
– Direktorat Perlindungan, Direktorat Jenderal Bina
Produksi Hortikultura, Jakarta.
ii
Buku Standar Prosedur Operasional Melon ini masih
belum sempurna, oleh karena itu sumbang saran dari
pembaca sangat diharapkan demi perbaikan dan
penyempurnaan buku ini. Akhirnya, semoga buku ini
dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang membutuhkan.PENDAHULUAN
Tanaman melon termasuk salah satu jenis tanaman buahbuahan
semusim yang mempunyai arti penting bagi
perkembangan sosial ekonomi khususnya dalam
peningkatan pendapatan petani, perbaikan gizi masyarakat
dan perluasan kesempatan kerja. Penerapan teknologi
budidaya maju melon di beberapa lokasi sentra produksi
belum sepenuhnya dilakukan oleh petani secara baik dan
benar. Hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan,
ketrampilan serta informasi yang diperoleh oleh petani
maupun petugas. Dalam rangka pengembangan melon dan
tantangan dalam menghadapi era globalisasi dan
perdagangan bebas maka tuntutan konsumen terhadap
standar mutu produk dan jaminan keamanan sangat
diperlukan. Untuk mengantisipasi hal tersebut maka perlu
adanya informasi mengenai Standar Prosedur Operasional
(SPO).
TARGET
Target standar buah yang akan dicapai dalam kerangka
penerapan Standar Prosedur Operasional Melon ini adalah:
1. Ukuran buah 1,6 – 2,5 kg/buah (rata-rata 2,1 kg/buah)
2. Bentuk sesuai deskripsi varietas
3. Jaring tebal, rapat dan merata sesuai dengan deskripsi
varietas
4. Buah tidak cacat, tidak terkontaminasi benda lain
maupun residu pestisida
5. Ukuran seragam (toleransi diluar standar 15 %)
6. Bentuk seragam (toleransi diluar standar 5 %)
2
7. Kadar gula (brix) 12 – 16 ° (daging merah), 10 – 12 °
(daging putih)
8. Tangkai tidak lepas, berbentuk T dan masih segar pada
saat dipanen (daging merah).
9. Tangkai masih segar saat dipanen (daging putih)STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
Nomor
SPO Melon I
Tanggal
Desember 2004
Standar Prosedur
Operasional
Pembibitan
Halaman
1/4
Revisi
I. Pembibitan
A. Definisi
Menyediakan bibit bermutu dari varietas yang unggul
dan sehat.
B. Tujuan
Untuk menyediakan bibit yang mampu berproduksi
sesuai dengan keunggulan varietas, sehat, mempunyai
daya adaptasi yang baik.
C. Validasi
Pengalaman petani, petugas, pelaku agribisnis dan hasil
penelitian
D. Alat dan Bahan
a. Benih melon hibrida F1 50 bungkus @ 10
g/bungkus
b. Tanah 4 karung a. 50 kg
c. Pupuk kandang 8 karung a. 50 kg
d. Polibag (ukuran 8 x 10 cm) 20.000 kantong
e. Bambu 10 batang
f. Plastik transparan 4 x 15 m
g. Pestisida (Marshal atau Kocide 77) 28 gram.
h. Fungisida (Previcur N 28 ml atau Benlate 14 gram)
I-1 2
Nomor
SPO Melon I
Tanggal
Desember 2004
Standar Prosedur
Operasional
Pembibitan
Halaman
2/4
Revisi
i. Pupuk daun (Complesal spesial tonic atau Mamigro
42 gram)
j. Lampu pijar 15 watt
E. Fungsi
a. Benih, untuk bahan tanaman.
b. Tanah, untuk media tanam.
c. Pupuk kandang, untuk menambah bahan organik
dan unsur-unsur hara yang diperlukan tanaman
serta memperbaiki sifat fisik tanah.
d. Polibag, untuk wadah media tanam/semai
e. Bambu untuk membuat sungkup tempat
pembibitan
f. Plastik transparan, untuk menutup sungkup tempat
pembibitan
g. Pestisida, untuk mencegah serangan hama
h. Fungisida, untuk mengendalikan serangan penyakit
i. Pupuk daun untuk menambah unsur hara melalui
daun
j. Lampu pijar, untuk menjaga suhu udara tempat
pemeraman benih
F. Prosedur Pelaksanaan
1. Pemilihan benih
a. Varietas hibrida.
b. Benih yang dipilih merupakan benih yang jelas
varietasnya (tepat jenis) dengan potensi yang
sesuai dengan karakteristik varietas tersebut.
c. Memiliki pasar yang jelas.Standar Prosedur
Operasional
Pembibitan
Halaman
3/4
Revisi
d. Varietas yang dipilih memiliki daya adaptasi
yang tinggi dengan agroklimat setempat.
2. Mutu benih
a. Tingkat kemurnian > 95 %
b. Daya kecambah > 90 % dan vigoritas kecambah
tinggi
c. Bebas dari biji gulma dan tidak cacat.
d. Benih sehat dan bebas OPT
3. Pembibitan
a. Media tanam
Media tanam yang digunakan adalah campuran
dari tanah dan pupuk kandang dengan
perbandingan 2 : 1. Media dimasukkan dalam
polibag ukuran 8 x 10 cm dan diletakkan di
dalam sungkup.
b. Sungkup
Sungkup terbuat dari rangka bambu lebar
bawah 1 – 1.25 m, tinggi 0.5 – 0.6 m,
bentuknya melengkung setengah lingkaran,
panjang sungkup disesuaikan kebutuhan bibit.
Pembibitan harus berada di tempat terbuka dan
sirkulasi udaranya baik.
c. Penyemaian benih
i. Benih direndam air hangat kuku (suhu + 40°
C) dicampur fungisida berbahan aktif
Propamokarb hidroklorida (Previcur N)
I-3 4
Nomor
SPO Melon I
Tanggal
Desember 2004
Standar Prosedur
Operasional
Pembibitan
Halaman
4/4
Revisi
konsentrasi 2 ml/l atau Benomyl (Benlate)
konsentrasi 0,5 g/l selama 4 – 6 jam
sebelum disemai. Untuk benih yang sudah
diberi perlakuan fungisida (biasanya
berwarna merah) maka perlakuan dengan
fungisida tidak diperlukan lagi.
ii. Benih ditiriskan dan diletakkan di atas
kertas koran basah selama 1 hari 2 malam
(36 jam) pada suhu 250 – 300C (dengan
pemanasan lampu pijar 15 watt berjarak 30
cm dari benih).
iii. Benih ditanam ke dalam media semai pada
kedalaman 2 cm dengan letak calon akar
atau bagian benih yang runcing berada di
bawah (media semai dalam keadaan basah).
d. Pemeliharaan bibit
Pesemaian dijaga selalu dalam kondisi lembab
namun tidak boleh terlalu basah (becek). Untuk
menjaga kesuburan bibit perlu diberi pupuk
daun misalnya complesal special tonic atau
Mamigro dengan konsentrasi 1,0 – 1,5 gram/l
dan penyemprotan pestisida Marshal atau
pestisida Kocide 77 konsentrasi 0,5 – 1,0
gram/l.
e. Bibit dipindahkan ke lapangan setelah berumur
10 – 14 hari atau telah memiliki 2 – 3 pasang
daun sejati. Penanaman bibit dilakukan pagi
atau sore hari pada bedengan yang sehari
sebelumnya telah disiram air terlebih dahulu
sampai basah.Standar Prosedur
Operasional
Pengolahan Tanah
Halaman
1/4
Revisi
II. Pengolahan Tanah
A. Definisi
Kegiatan memperbaiki struktur tanah sehingga tanah
menjadi gembur, aerase dan drainase lebih baik serta
membentuk bedengan sebagai tempat tumbuhnya
tanaman melon.
B. Tujuan
Menjamin pertumbuhan dan produksi tanaman secara
optimal
C. Validasi
Pengalaman petani, petugas, pelaku agribisnis dan hasil
penelitian
D. Alat dan bahan
a. Cangkul
b. Kapur pertanian 2,5 ton
c. Pupuk kandang 20 ton
d. Pupuk anorganik (ZA 250 kg, SP-36 450 kg, KCl
250 kg)
e. Pasak penjepit dari bambu/kayu 4.000 buah
f. Mulsa plastik 10 rol
g. Pelubang mulsa plastik (Kaleng bekas susu yang
dipanaskan)
h. Ajir dari bambu 20.000 batang
i. Tali rafia 20 rol
II-2
Nomor
SPO Melon II
Tanggal
Desember 2004
Standar Prosedur
Operasional
Pengolahan Tanah
Halaman
2/4
Revisi
E. Fungsi
a. Cangkul, untuk membersihkan sisa-sisa perakaran
tanaman, menggemburkan, menghaluskan tanah
dan membuat bedengan.
b. Kapur pertanian, untuk meningkatkan pH tanah
pada tanah masam hingga mendekati pH 7.
c. Pupuk kandang, untuk memperbaiki sifat fisik
tanah serta menambah bahan organik dan unsurunsur
hara yang diperlukan tanaman.
d. Pupuk anorganik (ZA, SP-36, KCl) untuk
menambah unsur hara (unsur N, P dan K) di dalam
tanah
e. Pasak penjepit dari bambu/kayu, untuk mengaitkan
sisi-sisi mulsa dengan bedengan agar mulsa tidak
mudah lepas.
f. Mulsa plastik, untuk menutup permukaan atas
bedengan yang bermanfaat untuk merangsang
perkembangan akar, mempertahankan struktur,
suhu dan kelembaban tanah, mencegah erosi tanah,
menekan pertumbuhan gulma, meningkatkan proses
fotosintesa dan mengurangi penguapan air dan
pupuk.
g. Kaleng bekas susu berdiameter + 10 cm untuk
membuat lubang pada mulsa.
h. Ajir dari bambu, untuk rambatan tanaman dan
menggantung buah.
i. Tali rafia, untuk mengikat ajir, mengikat batang dan
buah.
II-3
Nomor
SPO Melon II
Tanggal
Desember 2004
Standar Prosedur
Operasional
Pengolahan Tanah
Halaman
3/4
Revisi
F. Prosedur pelaksanaan
a. Lahan dibersihkan dari sisa tanaman dan sampah.
b. Penggemburan lahan dilakukan sampai kedalaman
20 – 30 cm, lahan dibiarkan/dikering-anginkan
selama 5 – 7 hari.
c. Penghalusan bongkahan tanah hasil pembajakan,
dibiarkan 4-5 hari.
d. Pembuatan bedengan dengan panjang maksimum
15 m, tinggi 30 – 50 cm, lebar bedengan 100 – 120
cm, lebar parit 50 – 60 cm. Tinggi dan lebar
parit disesuaikan dengan keadaan musim saat
penanaman. Pada musim hujan tinggi bedengan 50
cm agar perakaran tanaman tidak terendam air
sewaktu hujan deras.
e. Bila perlu dilakukan pemberian kapur dengan dosis
yang disesuaikan dengan derajat keasaman (ph)
tanah setempat rata-rata 1,5 – 2,5 ton/ha. Kapur
yang telah dihaluskan ditaburkan ke bedengan
kemudian diaduk agar merata dengan tanah.
f. Pemberian pupuk dasar berupa pupuk kandang
sebanyak 20 ton/ha dan pupuk ZA 250 kg/ha, SP-
36 450 kg/ha dan KCl. 250 kg/ha dengan cara
disebarkan secara merata ke seluruh bedengan,
diaduk-aduk dengan cangkul agar pupuk kandang
bercampur dengan tanah kemudian disiram air
sampai basah merata.
g. Pemasangan mulsa plastik hitam-perak dan
pembuatan lubang tanam
II-4
Nomor
SPO Melon II
Tanggal
Desember 2004
Standar Prosedur
Operasional
Pengolahan Tanah
Halaman
4/4
Revisi
i. Mulsa yang digunakan adalah plastik hitam
perak dengan lebar 100 – 125 cm.
ii. Bagian plastik berwarna perak menghadap ke
atas sedangkan yang berwarna hitam
menghadap ke bawah.
iii. Pemasangan mulsa dilakukan pada saat panas
terik matahari agar mulsa memuai sehingga
rapat menutup bedengan dan tanah dalam
keadaan basah. Gunakan pasak penjepit dari
bambu atau kayu untuk mengaitkan sisi-sisi
mulsa dengan bedengan agar mulsa tidak
mudah lepas.
iv. Setelah mulsa terpasang dilanjutkan dengan
pembuatan lubang tanam pada mulsa
menggunakan kaleng susu bekas berdiameter 10
cm yang dipanaskan. Jarak antar lubang bisa 45
cm x 60 cm atau 50 cm x 60 cm atau 60 cm x
70 cm tergantung jumlah populasi yang akan
ditanam. Kegiatan ini dilakukan 1 minggu
sebelum tanam.
h. Pemasangan ajir dilakukan sebelum tanam dengan
tinggi 2 – 2.5 m pada setiap lubang tanam/individu
tanaman. Bagian ajir yang masuk ke dalam tanah
sekurang-kurangnya sedalam 20 cm.
III-1
Nomor
SPO Melon III
Tanggal
Desember 2004
Standar Prosedur
Operasional
Penanaman di
Lapangan
Halaman
1/2
Revisi
III. Penanaman di Lapangan
A. Definisi
Memindahkan bibit dari tempat penyemaian ke areal
pertanaman.
B. Tujuan
Menumbuhkembangkan tanaman sampai berproduksi.
C. Validasi
Pengalaman petani, petugas, pelaku agribisnis dan hasil
penelitian
D. Alat dan bahan
a. Air
b. Bibit
c. Gayung
E. Fungsi
a. Air, untuk menyiram tanah sehingga kondisi tanah
lembab dan mengurangi tingkat kelayuan.
b. Bibit untuk bahan tanaman.
c. Gayung untuk mengambil dan menyiram air ke
tanaman
F. Prosedur pelaksanaan
a. Sebelum penanaman bibit, bedengan disiram agar
cukup lembab.
III-2
Nomor
SPO Melon III
Tanggal
Desember 2004
Standar Prosedur
Operasional
Penanaman di
Lapangan
Halaman
2/2
Revisi
b. Penanaman bibit sebaiknya dilakukan pada pagi
hari sebelum jam 9 pagi atau sore setelah jam 15.30
untuk menghindari stres karena terik matahari.
c. Prosedur menanam:
i. Sehari sebelum pindah tanam, bedengan
direndam (dileb) agar bedengan basah atau
lubang tanam disiram sampai basah apabila air
tidak mencukupi.
ii. Sebelum tanam, media pada bibit disiram
sampai basah agar media tidak pecah pada saat
polibag dibuka.
iii. Lepaskan polibag dari media tanam bibit secara
hati-hati, bila perlu dirobek. Usahakan media
tanah pada bibit tetap kompak atau tidak pecah.
iv. Membuat lubang tanam pada bedengan sedalam
2 – 3 cm.
v. Usahakan posisi bibit dalam keadaan tegak
setelah ditanam, supaya bagian bibit tidak
menyentuh mulsa plastik.
vi. Setelah selesai penanaman, bibit disiram untuk
mengurangi tingkat kelayuan.
d. Tingkat kelembaban tanah diusahakan tetap
optimum.
e. Penyulaman dilakukan sejak hari ke-5 sampai ke-7
setelah penanaman.
1
Nomor
SPO Melon IV
Tanggal
Desember 2004
Standar Prosedur
Operasional
Pengairan
Halaman
1/3
Revisi
IV. Pengairan
A. Definisi
Memberi air sesuai kebutuhan tanaman pada daerah
perakaran tanaman dengan air yang memenuhi standar
pada waktu, cara dan jumlah yang tepat.
B. Tujuan
Menjamin kebutuhan air bagi tanaman sehingga
pertumbuhan dan proses produksinya berjalan optimal.
C. Validasi
Pengalaman petani, petugas, pelaku agribisnis dan
hasil penelitian
D. Alat dan bahan
a. Air
b. Pompa air
c. Selang plastik
d. Gembor
E. Fungsi
a. Air, untuk bahan untuk menyiram tanaman.
b. Selang, untuk menyalurkan air (apabila sumber air
lebih rendah dari pertanaman).
c. Pompa air, untuk menaikkan air (apabila sumber air
lebih rendah dari pertanaman).
IV-1 2
Nomor
SPO Melon IV
Tanggal
Desember 2004
Standar Prosedur
Operasional
Pengairan
Halaman
2/3
Revisi
d. Gembor untuk menyiram tanaman (apabila jumlah
air tidak mencukupi untuk menggenangi bedengan)
F. Prosedur pelaksanaan
a. Setelah tanam sampai umur 2 minggu penyiraman
dilakukan setiap hari atau 2 hari sekali pada waktu
pagi atau sore hari, dengan cara parit antar
bedengan digenangi sampai mencapai 2/3 tinggi
bedengan sambil air disiramkan ke masing-masing
tanaman atau lubang tanam disiram menggunakan
gembor apabila air tidak cukup untuk menggenangi
bedengan.
b. Pada awal pembentukan bunga pengairan dilakukan
seminggu 2 kali dengan cara parit antar bedengan
digenangi sampai mencapai 2/3 tinggi bedengan
atau lubang tanam disiram menggunakan gembor
apabila air tidak cukup untuk menggenangi
bedengan.
c. Pada saat pembentukan dan mulai pembesaran buah
pengairan dilakukan 3 hari sekali dengan cara parit
antar bedengan digenangi sampai mencapai 2/3
tinggi bedengan lubang tanam disiram
menggunakan gembor apabila air tidak cukup untuk
menggenangi bedengan.
d. Pada awal pembentukan jaring, penyiraman
dilakukan 4 hari sekali dengan menyiram setiap
tanaman menggunakan gembor, parit tidak perlu
digenangi.
IV-2
3
Nomor
SPO Melon IV
Tanggal
Desember 2004
Standar Prosedur
Operasional
Pengairan
Halaman
3/3
Revisi
e. Setelah jaring terbentuk pengairan dilakukan 3 hari
sekali dengan cara parit antar bedengan digenangi
sampai mencapai 2/3 tinggi bedengan lubang tanam
disiram menggunakan gembor apabila air tidak
cukup untuk menggenangi bedengan.
f. Pada saat pematangan buah yaitu setelah tanaman
berumur 55 hari pengairan dihentikan sampai saat
panen.
g. Pada daerah yang telah terinfeksi penyakit layu
Fusarium penyiraman langsung ke setiap tanaman
menggunakan gembor.
IV-3 V-1
Nomor
SPO Melon V
Tanggal
Desember 2004
Standar Prosedur
Operasional
Pengikatan dan
Pemangkasan
Halaman
1/3
Revisi
V. Pengikatan dan Pemangkasan
A. Definisi
Mengikat batang tanaman dan tangkai buah serta
memangkas dan membuang cabang-cabang yang tidak
produktif.
B. Tujuan
a. Menjamin pertumbuhan tanaman sehingga proses
produksi berlangsung maksimal dan mengurangi
kelembaban dalam tajuk tanaman sehingga akan
mengurangi resiko terjadinya serangan hama dan
penyakit.
b. Merangsang tumbuhnya tunas-tunas produktif
C. Validasi
Pengalaman petani, petugas, pelaku agribisnis dan hasil
penelitian
D. Alat dan bahan
a. Tali rafia
b. Gunting pangkas
E. Fungsi
a. Tali rafia, untuk mengikat batang tanaman dan
tangkai buah
V-2
Nomor
SPO Melon V
Tanggal
Desember 2004
Standar Prosedur
Operasional
Pengikatan dan
Pemangkasan
Halaman
2/3
Revisi
b. Gunting pangkas, untuk memangkas dan
membuang tunas-tunas yang tidak produktif
F. Prosedur pelaksanaan
a. Setelah tanaman berumur 12 hari atau setelah
memiliki 5 daun batang tanaman mulai diikat
dengan rafia pada ajir supaya tanaman merambat
pada ajir tersebut. Pengikatan ini dilakukan setiap 3
atau 4 hari sekali sampai ikatan mencapai ujung
ajir.
b. Sampai dengan ruas ke 8 dan diatas ruas ke 11,
cabang atau ranting yang tumbuh harus dipangkas
dengan menyisakan 1 helai daun.
c. Cabang pada ruas ke 9 – 11 dibiarkan tumbuh
sebagai calon buah yang akan dibesarkan.
d. Setelah buah dari cabang 9 – 11 tumbuh sebesar
bola pingpong, dipilih satu buah yang paling baik
(tidak cacat, bentuknya lonjong) untuk terus
dipelihara sampai besar, sedangkan cabang lainnya
dipotong disisakan 1 helai daun.
e. Setelah buah terpilih, pada saat itu juga dilakukan
pengikatan buah (gantung buah) untuk menghindari
patahnya tangkai buah serta kontak dengan tanah.
f. Ujung batang utama dipotong (toping) menyisakan
minimal 25 daun dan dipotong setelah calon buah
yang akan dibesarkan terpilih.
V-3
Nomor
SPO Melon V
Tanggal
Desember 2004
Standar Prosedur
Operasional
Pengikatan dan
Pemangkasan
Halaman
3/3
Revisi
g. Bekas pangkasan dikumpulkan di suatu tempat
yang telah disiapkan kemudian ditimbun dalam
tanah.
1
Nomor
SPO Melon VI
Tanggal
Desember 2004
Standar Prosedur
Operasional
Sanitasi Kebun
Halaman
1/2
Revisi
VI.Sanitasi Kebun
A. Definisi
Kegiatan menjaga kebersihan kebun dengan cara
membersihkan areal pertanaman dari gulma, daundaun,
ranting bekas pangkasan dan buah-buahan yang
busuk/rontok.
B. Tujuan
Menjamin proses produksi berlangsung secara
maksimal dengan menekan resiko serangan organisme
pengganggu tanaman serta menekan persaingan untuk
mendapatkan tempat tumbuh, sinar matahari dan unsur
hara.
C. Validasi
Pengalaman petani, petugas, pelaku agribisnis dan hasil
penelitian
D. Alat dan bahan
a. Kored
b. Cangkul
c. Gunting pangkas
E. Fungsi
a. Kored, untuk mencabut gulma atau sisa-sisa
perakaran tanaman.
VI-1 2
Nomor
SPO Melon VI
Tanggal
Desember 2004
Standar Prosedur
Operasional
Sanitasi Kebun
Halaman
2/2
Revisi
b. Cangkul, untuk membuang gulma atau sisa-sisa
perakaran tanaman dan untuk membuat lubang
untuk menimbun.
c. Gunting pangkas untuk memangkas cabang, daun
dan buah yang rusak.
F. Prosedur pelaksanaan
a. Pengendalian gulma
b. Dilakukan pada saat gulma mulai tumbuh. Gulma
yang tumbuh di sepanjang parit di luar lubang
tanam dibersihkan dengan kored, cangkul atau
secara manual (tangan) minimal seminggu sekali.
c. Pembersihan gulma pada lubang tanam dilakukan
secara manual dan intensif, minimal 3 hari sekali.
d. Kebersihan kebun
i. Membuang kotoran-kotoran, daun-daun, ranting
dan cabang bekas pangkasan.
ii. Pangkas daun, ranting dan buah-buahan yang
busuk dan rontok yang sakit atau yang
menunjukkan tanda-tanda terserang hama dan
penyakit.
iii. Bekas pangkasan dikumpulkan di suatu tempat
yang telah disiapkan kemudian ditimbun dalam
tanah atau dibakar.
iv. Semua peralatan setelah digunakan harus dicuci
sampai bersih, dikeringkan kemudian disimpan.
VI-2
1
Nomor
SPO Melon VII
Tanggal
Desember 2004
Standar Prosedur
Operasional
Pemupukan
(Pupuk Susulan)
Halaman
1/2
Revisi
VII.Pemupukan (Pupuk Susulan)
A. Definisi
Memberikan unsur hara tambahan atau susulan pada
tanaman.
B. Tujuan
Memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman untuk menjamin
pertumbuhan tanaman secara optimal dan
menghasilkan produksi dengan mutu yang baik.
C. Validasi
Pengalaman petani, petugas, pelaku agribisnis dan hasil
penelitian
D. Alat dan bahan
a. Pupuk anorganik: NPK 400 kg dan pupuk daun
(KNO3 4 kg)
b. Air
E. Fungsi
a. Pupuk anorganik untuk menambah unsur-unsur
hara yang diperlukan tanaman sesuai
kebutuhannya.
b. Air untuk melarutkan pupuk dan proses
metabolisme tanaman
VII-1 2
Nomor
SPO Melon VII
Tanggal
Desember 2004
Standar Prosedur
Operasional
Pemupukan
(Pupuk Susulan)
Halaman
2/2
Revisi
F. Prosedur pelaksanaan:
a. Pemupukan susulan I (7 HST) berupa pupuk NPK
konsentrasi 20 gram/liter sebanyak 200 ml larutan
pupuk/ tanaman.
b. Pemupukan susulan II (14 HST) berupa pupuk
NPK konsentrasi 40 gram/liter sebanyak 200 ml
larutan pupuk/ tanaman.
c. Pemupukan susulan III (21 HST/menjelang
pembungaan) berupa pupuk NPK konsentrasi 20
gram/liter sebanyak 200 ml larutan pupuk/
tanaman.
d. Pemupukan susulan IV (28 HST/setelah
pembungaan) berupa pupuk NPK konsentrasi 20
gram/liter sebanyak 200 ml larutan pupuk/
tanaman.
e. Tambahan pupuk KNO3 pada umur 45 HST
diberikan dengan cara disiramkan di sekitar
tanaman dengan konsentrasi 1 gram/ l air sebanyak
200 ml larutan/tanaman.
f. Pupuk susulan diberikan dengan cara dilarutkan
dalam air dan disiramkan di sekitar tanaman.
g. Untuk mendapatkan kebutuhan pupuk (jenis
maupun dosis) yang tepat sesuai kondisi setempat
sebaiknya dilakukan analisa hara tanah maupun
jaringan tanaman.
h. Keterangan : HST = hari setelah tanam.
VII-2
1
Nomor
SPO Melon VIII
Tanggal
Desember 2004
Standar Prosedur
Operasional
Pengendalian OPT
Halaman
1/15
Revisi
VIII. Pengendalian OPT
A. Definisi
Tindakan yang dilaksanakan untuk mencegah kerugian
pada budidaya tanaman yang diakibatkan oleh OPT
(hama, patogen dan gulma) dengan cara memadukan
satu atau lebih teknik pengendalian yang
dikembangkan dalam satu kesatuan.
B. Tujuan
Mengendalikan OPT untuk menghindari kerugian
ekonomi berupa kehilangan hasil (kuantitas) dan
penurunan mutu (kualitas) produk.
C. Validasi
Pengalaman petani, petugas, pelaku agribisnis, hasil
penelitian dan pedoman pengendalian hama terpadu.
D. Alat dan bahan
a. Prayer (aplikator)
b. Bahan pengendali OPT (pestisida, agen hayati)
c. Bahan perekat dan perata
d. Air
e. Alat pengaduk
f. Takaran (gelas ukur)
g. Sarung tangan
h. Masker
i. Kacamata
j. Topi
VIII-1 2
Nomor
SPO Melon VIII
Tanggal
Desember 2004
Standar Prosedur
Operasional
Pengendalian OPT
Halaman
2/15
Revisi
k. Perangkap OPT terdiri dari: Botol bekas air
kemasan/toples plastik, kapas, Methyl eugenol
E. Fungsi
a. Sprayer, untuk menyemprotkan bahan pengendali
ke tanaman.
b. Bahan pengendali OPT (pestisida, agen hayati),
untuk mengendalikan OPT.
c. Bahan perekat, untuk merekatkan pestisida pada
tanaman agar tidak mudah tercuci oleh air/hujan.
d. Bahan perata berfungsi agar pestisida dapat
membasahi seluruh permukaan tanaman yang
disemprot.
e. Air, untuk bahan mencampur pestisida
f. Alat perangkap OPT, untuk memikat lalat buah
jantan masuk ke dalam perangkap.
g. Alat pengaduk, untuk mengaduk pestisida dan air.
h. Takaran (gelas ukur) untuk menakar pestisida dan
air.
i. Sarung tangan, untuk melindungi tangan dari
pestisida
j. Topi untuk melindungi kepala dari pestisida
k. Masker untuk melindungi fungsi pernapasan dari
pestisida
l. Kacamata untuk melindungi mata dari butiranbutiran
halus pestisida.
VIII-2
3
Nomor
SPO Melon VIII
Tanggal
Desember 2004
Standar Prosedur
Operasional
Pengendalian OPT
Halaman
3/15
Revisi
F. Prosedur pelaksanaan
a. Melakukan pengamatan tanaman secara rutin dan
mengutamakan pengendalian secara mekanis dan
kultur teknis (tanaman yang terserang
hama/penyakit dicabut dengan tangan atau pisau,
dibuang dan dibakar atau dikubur sejauh mungkin
dari lokasi kebun).
b. Apabila tanaman terserang hama atau penyakit
maka dilakukan prosedur pengendalian dengan cara
penyemprotan pestisida secara selektif.
c. Penyemprotan harus dihentikan minimal 2 minggu
sebelum panen.
d. Pencampuran pestisida dengan air dilakukan secara
hati-hati dan tidak menyebabkan pencemaran
lingkungan.
e. Pestisida yang tidak habis dan botol atau kaleng
bekas wadah harus dimusnahkan di tempat
pembuangan limbah atau dikubur ke dalam tanah
yang jauh dari sumber air.
f. Peralatan setelah dipergunakan segera dicuci dan
limbah pencucian dibuang ke dalam bak peresapan
dan tidak boleh mencemari sumber air.
g. Pekerja yang melakukan penyemprotan sebaiknya
sudah pernah mendapatkan pelatihan mengenai tata
cara penggunaan alat semprot atau sudah
berpengalaman.
VIII-3 4
Nomor
SPO Melon VIII
Tanggal
Desember 2004
Standar Prosedur
Operasional
Pengendalian OPT
Halaman
4/15
Revisi
h. Pekerja yang melakukan penyemprotan dilengkapi
dengan peralatan khusus sebagai pelindung tubuh
seperti masker, kacamata, sarung tangan, topi dan
pakaian.
i. Selesai melakukan penyemprotan petugas harus
segera membersihkan seluruh badan dengan sabun
dan air bersih.
1. Pengendalian Hama
a. Lalat buah
Gejala : Buah yang terserang berwarna
kehitaman dan keras. Timbul bercak bulat
membusuk dan berlubang kecil. Buah akan
rusak dan rontok.
Penyebab : Bactrocera cucurbitae Coquilett
Pengendalian :
i. Cara kultur teknis :
– Melakukan sanitasi lingkungan,
mengumpulkan buah yang terserang,
baik yang jatuh maupun yang masih di
pohon kemudian musnahkan dengan
cara: 1). Masukkan buah yang terserang
ke dalam kantong plastik, ikat rapat
sehingga larva/lalat tidak bisa keluar,
atau 2). Kubur ke dalam tanah sedalam
+ 1 m untuk memastikan bahwa larva
tidak berkembang menjadi pupa
VIII-4
5
Nomor
SPO Melon VIII
Tanggal
Desember 2004
Standar Prosedur
Operasional
Pengendalian OPT
Halaman
5/15
Revisi
– Menanam selasih di sekililing kebun
sebagai tanaman perangkap
ii. Cara fisik/mekanik
– Pembungkusan buah dengan
kertas/kantong plastik.
– Penggunaan perangkap atraktan (bahan
pemikat lalat buah) dalam perangkap
yang terbuat dari toples plastik atau
botol plastik bekas air minum. Bahan
atraktannya adalah metil eugenol,
protein hidrolisa atau selasih.
Gambar Perangkap Lalat Buah
b. Thrips
Gejala : Daun muda atau tunas menjadi
keriting, tanaman menjadi kerdil. Serangannya
ditemui di tunas, daun, bunga dan buah.
VIII-5 6
Nomor
SPO Melon VIII
Tanggal
Desember 2004
Standar Prosedur
Operasional
Pengendalian OPT
Halaman
6/15
Revisi
Serangga menghisap cairan daun dan
bersembunyi di celah – celah daun pucuk yang
belum terbuka. Hama aktif menyerang pada
pagi hari atau senja. Serangan hama ini sangat
tinggi pada musim kemarau.
Penyebabnya : Thrips parvispinus Karny
Pengendalian :
i. Cara kultur teknis :
Melakukan sanitasi lingkungan dengan
memusnahkan sisa-sisa tanaman dan inang
lain di sekitar tanaman.
ii. Cara fisik/mekanis :
Memangkas bagian tanaman yang terserang
kemudian dibakar.
iii. Cara kimiawi :
Penggunaan insektisida berbahan aktif
dimetoate 400 g/l, sipermetrin 30,36 g/l,
tetasipaermetrin 30 g/l.
c. Kutu Daun
Gejala : Daun tanaman menggulung dan pucuk
tanaman menjadi keriting akibat cairan daunnya
dihisap hama. Ciri lain yaitu terdapat getah
cairan yang mengandung madu dan dari
kejauhan terlihat mengkilap.
VIII-6
7
Nomor
SPO Melon VIII
Tanggal
Desember 2004
Standar Prosedur
Operasional
Pengendalian OPT
Halaman
7/15
Revisi
Penyebab : Kutu aphids (Aphis gossypii
Glover).
Pengendalian :
i. Cara kultur teknis
– Sanitasi kebun dengan membersihkan
gulma di sekitar pertanaman.
– Daun yang terserang hama dipangkas,
kemudian dimusnahkan dengan cara
dibakar.
– Tidak menggunakan pupuk nitrogen
secara berlebihan
ii. Cara kimiawi
Menyemprot dengan insektisida berbahan
aktif tetasipermetrin 30,36 g/l terutama
pada bagian pucuk tanaman.
d. Kumbang daun
Gejala : Terdapat luka bekas serangan berupa
keratan konsentris pada daun. Pada stadia larva,
hama menyerang jaringan perakaran sampai
pangkal batang. Kerusakan pada akar atau
pangkal batang dapat menyebabkan tanaman
menjadi layu.
Penyebab : Aulacophora femoralis
Motschulsky
VIII-7 8
Nomor
SPO Melon VIII
Tanggal
Desember 2004
Standar Prosedur
Operasional
Pengendalian OPT
Halaman
8/15
Revisi
Pengendalian :
i. Cara kultur teknis
– Melakukan pergiliran tanaman dengan
tanaman yang tidak satu famili dengan
Cucurbitaceeae.
– Sanitasi kebun dengan membersihkan
gulma di sekitar pertanaman.
– Pengolahaan tanah harus sempurna
sehingga mematikan kumpulan telur
atau pupa hama yang masih terdapat
dalam tanah.
ii. Cara fisik/mekanis
Tanaman yang terserang berat dicabut,
kemudian dibakar.
iii. Cara kimiawi
Penyemprotan dengan insektisida berbahan
aktif profenofos, diafentiuron, metidation
e. Ulat perusak daun
Gelaja : Daun – daun tanaman yang terserang
menjadi meranggas hingga tinggal tulang
daunnya. Bahkan jika tanaman sudah berbuah
ulat ini menggerogoti kulit buah. Kadangkadang
merusak bunga sehingga menggagalkan
pembentukan buah.
Penyebab : Palpita sp. dan Spodoptera litura.
VIII-8
9
Nomor
SPO Melon VIII
Tanggal
Desember 2004
Standar Prosedur
Operasional
Pengendalian OPT
Halaman
9/15
Revisi
Pengendalian :
i. Cara kultur teknis
Pemangkasan cabang – cabang sekunder
sehingga hanya batang utama yang
dipelihara. Dengan pemangkasan ini, aerasi
di lingkungan tanaman menjadi lancar dan
serangan ulat menjadi lebih mudah
terkendali.
ii. Cara fisik/mekanis
Penangkapan lalat buah dengan alat
perangkap (sex pheromone) yang diberi
methyl eugenol untuk Spodoptera litura
(caranya sama dengan pengendalian hama
lalat buah).
iii. Cara kimiawi
Pengendalian dengan menggunakan
insektisida berbahan aktif betasiflutrin 25
g/l.
f. Tungau
Gejala : Pada daun terdapat luka nekrotis
berupa titik-titik kuning yang makin lama
menghitam kemudian daun yang terserang
melengkung dan terpelintir. Pada bagian bawah
daun yang terserang akan terlihat sekumpulan
hama yang tampak seperti titik– titik merah dan
kuning.
Penyebab : Tetranycus cinnabarinus boisduval
VIII-9 10
Nomor
SPO Melon VIII
Tanggal
Desember 2004
Standar Prosedur
Operasional
Pengendalian OPT
Halaman
10/15
Revisi
Pengendalian :
i. Cara kultur teknis
Sanitasi kebun dengan membersihkan
gulma di sekitar pertanaman.
ii. Cara fisik/mekanis
Tanaman yang terserang berat dicabut dan
dibakar.
iii. Cara kimiawi
Penggunaan akarisida berbahan aktif
propargit.
2. Pengendalian Penyakit
a. Antraknosa
Gejala : Pada daun, batang muda, bunga dan
buah terdapat bercak-bercak berwarna coklat
kelabu sampai kehitaman yang sedikit demi
sedikit melekuk dan bersatu. Jaringan tanaman
yang terdapat di bawahnya juga membusuk.
Penyebab : Collectotrichum lagenarium (Pass)
Ell. Et Halst.
Pengendalian :
i. Pengaturan jarak tanam yang tepat (45 cm x
60 cm, 50 cm x 60 cm atau 60 cm x 70 cm)
ii. Perendaman benih dengan fungisida
berbahan aktif azoksisitrobin 250 g/l atau
propineb 70%.
VIII-10
11
Nomor
SPO Melon VIII
Tanggal
Desember 2004
Standar Prosedur
Operasional
Pengendalian OPT
Halaman
11/15
Revisi
iii. Pembersihan bagian-bagian tanaman yang
mati.
b. Penyakit busuk buah
Gejala : serangan pada batang ditandai dengan
bercak coklat kebasahan yang memanjang.
Serangan serius dapat menyebabkan tanaman
mati layu. Daun yang terserang seperti tersiram
air panas kemudian meluas. Serangan pada
buah ditandai dengan bercak kebasah-basahan
yang menjadi coklat kehitaman dan lunak.
Makin lama bercak menjadi berkerut dan
mengendap. Pada bagian buah yang busuk
diselimuti kumpulan cendawan putih.
Penyebab : Phytophthora nicotianae B. de haan
var parastica (Dast).
Pengendalian :
i. Pemangkasan daun atau cabang yang
berlebihan untuk mengurangi kelembaban
di sekitar tanah.
ii. Rotasi tanaman dengan tanaman yang bukan
sefamili dengan melon.
iii. Mencabut tanaman yang terserang
kemudian dibakar.
VIII-11 12
Nomor
SPO Melon VIII
Tanggal
Desember 2004
Standar Prosedur
Operasional
Pengendalian OPT
Halaman
12/15
Revisi
c. Embun bulu (downy mildew)
Gejala : Serangan dimulai dengan adanya
bercak-bercak berwarna kuning muda yang
dibatasi oleh urat-urat daun sehingga terkesan
menjadi bercak bersudut. Semakin lama bercak
berubah warna menjadi kecoklatan. Apabila
daun dibalik maka akan terlihat kumpulan
konidia dan kondiofor cendawan berwarna
kelabu.
Penyebab : Pseudoperenospora cubensis
Barkely et Curtis.
Pengendalian :
i. Pemilihan lokasi penanaman yang jauh dari
tanaman yang sefamili.
ii. Daun yang terserang segera dipotong atau
dipangkas kemudian dibakar.
iii. Penyemprotan fungisida berbahan aktif
Simoksanil atau mancozeb.
d. Busuk pangkal batang (gummy stem blight)
Gejala : pangkal batang yang terserang mulamula
seperti tercelup minyak kemudian keluar
lendir berwarna merah coklat. Tahap berikutnya
tanaman layu dan mati. Daun tanaman yang
terserang akan mengering, apabila diremas
seperti kerupuk dan berbunyi kresek-kresek jika
diterpa angin.
VIII-12
13
Nomor
SPO Melon VIII
Tanggal
Desember 2004
Standar Prosedur
Operasional
Pengendalian OPT
Halaman
13/15
Revisi
Penyebab : Mycosphaerella melonis Passerini
Pengendalian :
i. Sanitasi dan kebersihan kebun
ii. Tanaman yang terserang dimusnahkan
dengan cara dibakar
iii. Penyemprotan fungisida berbahan aktif Cu,
thiram atau mancozeb.
3. Penanggulangan Defisiensi Unsur Hara
Defisiensi unsur hara dikenal sebagai penyakit
fisiologis merupakan penyakit yang muncul karena
kekurangan salah satu atau lebih unsur hara. Untuk
mengetahui adanya gejala ini harus dilakukan
pengamatan dan analisa secara cermat. Penyakit
fisiologis yang paling banyak ditemukan pada
tanaman melon di Indonesia adalah defisiensi unsur
hara boron, kalium.
a. Defisiensi unsur boron
Gejala : tanaman tumbuh kerdil dengan ruasruas
yang pendek. Batang tanaman kaku dan
terdapat beberapa luka/retakan yang
mengeluarkan lendir coklat kekuningan. Batang
ini mudah sekali patah. Jika gejala berlanjut
hingga tanaman dewasa maka tanaman sulit
menghasilkan buah. Apabila buah terbentuk
pun bentuknya abnormal.
VIII-13 14
Nomor
SPO Melon VIII
Tanggal
Desember 2004
Standar Prosedur
Operasional
Pengendalian OPT
Halaman
14/15
Revisi
Pengendalian :
i. Pemupukan unsur mikro yang mengandung
unsur boron seperti borate atau fertibor
dosis 2 g/tanaman.
ii. Penyemprotan pupuk daun yang
mengandung unsur mikro boron seperti
multimicro (B 0,3%) atau CaB (B 2%) dosis
1 – 2 ml/l mulai umur 10 minggu dan
diulang 10 hari sampai 3 kali aplikasi.
b. Defisiensi unsur kalium
Gejala : terdapat perubahan tepi daun dari
warna hijau menjadi kuning muda. Semakin
lama, warna kuning berubah menjadi
kecoklatan dan salah satu sisinya robek makin
lama seolah-olah membentuk gerigi pada tepi
daun tersebut. Tanaman yang kekurangan
kalium mempunyai daya tahan yang rendah
terhadap serangan hama dan penyakit. Selain
itu, rasa buah menjadi kurang manis dan
biasanya tanaman tidak tahan kekeringan.
Pengendalian :
i. Komposisi pemupukan unsur hara makro
NPK harus tepat dan seimbang.
ii. Penambahan pupuk susulan berupa KNO3
dosis 5 g/l.
VIII-14
15
Nomor
SPO Melon VIII
Tanggal
Desember 2004
Standar Prosedur
Operasional
Pengendalian OPT
Halaman
15/15
Revisi
iii. Penyemprotan pupuk daun yang
mengandung unsur kalium tinggi seperti
Complesal merah (K2O 15%) dosis 2 g/l.
c. Defisiensi unsur Magnesium
Gejala : kekurangan megnesium terlihat pada
daun tua. Di antara tulang daun terlihat klorosis,
warna daun menguning dan terdapat bercakbercak
merah kecoklatan sedangkan tulang
daun tetap berwarna hijau.
Pengendalian :
i. Pengapuran dengan dolomit
(CaCO3MgCO3) dosis 1,5 – 2 ton/ha
ii. Penyemprotan pupuk daun yang
mengandung unsur magnesium seperti
multimicro (Mg 3,4%) dosis 2 ml/l atau
complesal merah (MgO 1,4%) dosis 2 g/l.
VIII-15 1
Nomor
SPO Melon IX
Tanggal
Desember 2004
Standar Prosedur
Operasional
Panen
Halaman
1/3
Revisi
IX. Panen
A. Definisi
Kegiatan memetik buah yang telah siap panen atau
mencapai kematangan fisiologis sesuai persyaratan
yang telah ditentukan.
B. Tujuan
Memperoleh hasil sesuai dengan tingkat kematangan
buah.
C. Validasi
Pengalaman petani, petugas, pelaku agribisnis dan hasil
penelitian.
D. Alat dan bahan
a. Pisau
b. Keranjang
E. Fungsi
a. Pisau, untuk memotong tangkai buah
b. Keranjang, untuk wadah buah yang telah dipanen.
F. Prosedur pelaksanaan
a. Penentuan saat panen
Penentuan saat panen dapat dilakukan dengan
cara mengamati penampakan fisik buah dan umur
tanaman :
IX-1
2
Nomor
SPO Melon IX
Tanggal
Desember 2004
Standar Prosedur
Operasional
Panen
Halaman
2/3
Revisi
i. Jaring pada kulit buah telah terbentuk dengan
sempurna,tebal dan merata.
ii. Adanya retakan yang terjadi pada pangkal
tangkai buah.
iii. Terjadi perubahan warna kulit buah, misalnya
dari hijau tua menjadi kekuningan.
iv. Kulit buah terasa halus tidak berbulu.
v. Munculnya aroma buah melon yang khas.
vi. Tangkai buah berwarna kekuningan
vii. Pada melon berdaging putih panen dilakukan
pada umur 35 hari setelah pembungaan
sedangkan pada melon berdaging merah pada
umur 40 hari setelah pembungaan.
viii. Daun dan tangkai mulai menguning.
b. Waktu dan Cara Panen
Prosedur pelaksanaannya:
i. Panen dilakukan pada pagi hari antara jam
08.00 s/d 11.00.
ii. Penyemprotan pestisida sudah dihentikan paling
tidak 2 minggu sebelum panen
iii. Dalam satu hamparan panen dilakukan secara
bertahap, maksimum dua kali dengan selang
waktu 2 – 3 hari.
iv. Panen pertama dilakukan terhadap buah yang
sudah benar-benar siap panen, sedangkan
sisanya dipanen pada tahap berikutnya.
IX-2 3
Nomor
SPO Melon IX
Tanggal
Desember 2004
Standar Prosedur
Operasional
Panen
Halaman
3/3
Revisi
v. Tangkai buah dipotong dengan pisau disisakan
2 – 3 cm atau membentuk huruf T dan
diletakkan miring agar getah tidak menetes di
buah.
vi. Pemotongan tangkai buah dilakukan secara
hati-hati agar buah tidak rusak.
vii. Buah yang telah dipanen dikumpulkan di
keranjang, diberi alas dan diletakkan di tempat
yang teduh.
viii. Penumpukan buah dilakukan secara hati-hati,
maksimum 7 baris dan setiap baris diberi
pelapis misalnya jerami, kertas atau korang
bekas untuk menghindari kerusakan kulit buah.
ix. Selesai panen buah secepatnya dipindahkan ke
bangunan penampungan buah.
x. Tanaman yang sudah dipanen segera dibongkar
dan dibuang di tempat yang jauh dari areal
penanaman.
IX-3
1
Nomor
SPO Melon X
Tanggal
Desember 2004
Standar Prosedur
Operasional
Penanganan
Pasca Panen
Halaman
1/5
Revisi
X. Penanganan Pasca Panen
A. Definisi
Kegiatan sortasi, pengkelasan, pengemasan dan
penyimpanan buah berdasarkan ukuran dan standar
mutu yang telah ditentukan.
B. Tujuan
Menghasilkan buah dengan standar mutu yang baik dan
seragam.
C. Validasi
Pengalaman petani, petugas, pelaku agribisnis dan hasil
penelitian.
D. Alat dan Bahan
a. Kain lap
b. Sarung tangan
c. Timbangan
d. Lakban
e. Keranjang buah
f. Stiker
g. Kemasan kotak karton
h. jaring/net plastik
i. Gudang
X-1 2
Nomor
SPO Melon X
Tanggal
Desember 2004
Standar Prosedur
Operasional
Penanganan
Pasca Panen
Halaman
2/5
Revisi
E. Fungsi
a. Kain lap, untuk membersihkan kotoran pada kulit
buah
b. Sarung tangan, untuk melindungi pekerja dan
melindungi buah dari kerusakan.
c. Timbangan, untuk menimbang buah
d. Lakban, untuk menutup kemasan kotak karton.
e. Stiker, untuk tanda pengenal pada buah
f. Kemasan kotak karton, untuk kemasan buah sesuai
ukuran
g. Jaring/net plastik, untuk alat pengemasan buah.
h. Gudang, untuk tempat penyimpanan buah.
F. Prosedur Pelaksanaan
1. Sortasi dan Pengkelasan Buah
a. Di tempat penampungan dilakukan penyortiran
buah. Dipilih buah yang mulus, jaring tebal dan
merata, bentuknya normal, tidak luka, tidak
terserang penyakit, tidak ada cacat fisik maupun
mikrobiologis, tidak ada noda getah, tidak ada
bintik-bintik kehitaman, tidak ada noda kudis
(scab), tidak ada luka memar.
b. Setelah buah disortir kemudian ditimbang dan
dilakukan pengkelasan berdasarkan berat buah
dan penampakan fisik.
i. Kelas A berat > 1,5 kg.
X-2
3
Nomor
SPO Melon X
Tanggal
Desember 2004
Standar Prosedur
Operasional
Penanganan
Pasca Panen
Halaman
3/5
Revisi
ii. Kelas B berat 1 – 1,5 kg.
iii. Kelas C berat < 1 kg, buah muda, terlalu matang, memar , cacat dan di luar kelas (off - grade) c. Para penyortir dan pegawai harus menggunakan sarung tangan dari kain rajut/katun supaya tidak mengotori dan/atau merusak buah. d. Buah yang sudah ditimbang kemudian dibersihkan dengan kain lap, ditempeli sticker dan siap untuk dikemas, disimpan dalam gudang atau didistribusikan. 2. Pengemasan buah a. Buah dimasukkan kedalam kemasan dari kertas karton yang mempunyai sekat, lubang ventilasi dan dasarnya diberi potongan-potongan kertas. b. Dalam satu kemasan hanya berisi buah dengan kelas yang sama. c. Kemasan harus bersih dan bebas dari semua benda asing. d. Setiap kemasan harus diberi label dari bahan yang tidak beracun (tinta dan lemnya) yang menerangkan: i. Identifikasi produk (nama, asal dan kode produsen yang telah diketahui). X-3 4 Nomor SPO Melon X Tanggal Desember 2004 Standar Prosedur Operasional Penanganan Pasca Panen Halaman 4/5 Revisi ii. Asal produk (nama varietas dan tulisan “melon” apabila produk tidak terlihat dari luar). iii. Daerah asal (nama negara, lokasi tumbuh dan nama asal/daerah). iv. Spesifikasi komersial (kelas, ukuran dengan minimum dan maksimum, kode, ukuran, jumlah buah). e. Sebelum kemasan ditutup dan di lakban, di atas buah diberi potongan-potongan kertas f. Buah dapat juga dikemas satu persatu menggunakan jaring/net plastik. 3. Penyimpanan buah a. Penyimpanan buah untuk keperluan pasar dalam negeri i. Gudang yang digunakan harus bersih, kering dan bebas hama, sirkulasi udara lancar. ii. Buah ditata rapi, maksimum 7 lapis dan setiap lapis diberi alas jerami, kertas atau koran bekas. iii. Buah disimpan tidak lebih dari seminggu. b. Penyimpanan buah untuk pengiriman jarak jauh (ekspor) X-4 Nomor SPO Melon X Tanggal Desember 2004 Standar Prosedur Operasional Penanganan Pasca Panen Halaman 5/5 Revisi i. Gudang penyimpanan memiliki sistem pendingin dan sistem kontrol atmosfir. ii. Kondisi atmosfir dalam gudang penyimpanan: konsentrasi oksigen < 8 %, konsentrasi CO2 > 2 %, kelembaban udara
> 80 % dan suhu 13 – 150 C.
iii. Dengan menggunakan sistem kontrol
atmosfir kesegaran buah melon dapat
dipertahankan selama 21 – 30 hari setelah
petik.
X-5
3
CONTOH FORM ISIAN
Form isian dimaksudkan untuk memudahkan pelacakan
dan konfirmasi setiap kegiatan. Pembuatan dan pengisian
form sebaiknya berdasarkan blok. Berikut ini contoh form
isian sebagai check list yang dapat digunakan dan
dimungkinkan untuk dimodifikasi sesuai kebutuhan di
lapangan.
A. SPO Pembibitan
Nama Pemilik : . . . . . . . . . . . . . . .
Alamat Kebun : . . . . . . . . . . . . . . .
Catatan Penyiapan Media Tanam
Tanggal Bahan
Media
Jumlah
Media
(kantong)
Luas
Sungkup
(m²)
Cara
Penyiapan *)
Operator
Keterangan *) Dapat ditulis pada lembar tersendiri
Catatan Pesemaian
Tanggal Varietas Jumlah
benih (biji)
Asal
benih
Cara
Penyemaian *)
Operator
Keterangan *) Dapat ditulis pada lembar tersendiri
4
B. SPO Pengolahan tanah
Nama Pemilik : . . . . . . . . . . . . . . .
Alamat Kebun : . . . . . . . . . . . . . . .
Catatan Pengolahan Tanah
Tanggal Blok Luas
(ha)
Kondisi
Lahan
Riwayat
Penggunaan
Lahan *)
Cara
Pengolahan *)
Operator
Keterangan *) Dapat ditulis pada lembar tersendiri
C. SPO Penanaman
Nama Pemilik : . . . . . . . . . . . . . . .
Alamat Kebun : . . . . . . . . . . . . . . .
Catatan Penanaman
Tanggal Blok Luas
(ha)
Jumlah
bibit (btg)
Cara
Penanaman *)
Operator
Keterangan *) Dapat ditulis pada lembar tersendiri
5
D. SPO Pengairan
Nama Pemilik : . . . . . . . . . . . . . . .
Alamat Kebun : . . . . . . . . . . . . . . .
Catatan Pengairan
Tanggal Blok Umur Tan.
(HST)
Luas
(ha)
Cara Pengairan *) Operator
Keterangan *) Dapat ditulis pada lembar tersendiri
E. SPO Pengikatan dan Pemangkasan
Nama Pemilik : . . . . . . . . . . . . . . .
Alamat Kebun : . . . . . . . . . . . . . . .
Catatan Pengikatan dan Pemangkasan
Tanggal Blok Umur
Tan.
(HST)
Luas
(ha)
Cara
Pengikatan
*)
Cara
Pemangkasan
*)
Operator
Keterangan *) Dapat ditulis pada lembar tersendiri
6
F. SPO Sanitasi Kebun
Nama Pemilik : . . . . . . . . . . . . . . .
Alamat Kebun : . . . . . . . . . . . . . . .
Catatan Sanitasi Kebun
Tanggal Blok
Umur Tan.
(HST)
Luas (ha) Cara Sanitasi *) Operator
Keterangan *) Dapat ditulis pada lembar tersendiri
G. SPO Pemupukan (Pupuk Susulan)
Nama Pemilik : . . . . . . . . . . . . . . .
Alamat Kebun : . . . . . . . . . . . . . . .
Catatan Pemupukan
Tanggal Blok
Umur
Tan.
(HST)
Luas
(ha)
Nama
Pupuk
Dosis
Cara
Pemupukan*)
Operator
Keterangan *) Dapat ditulis pada lembar tersendiri
7
H. SPO Pengendalian OPT
Nama Pemilik : . . . . . . . . . . . . . . .
Alamat Kebun : . . . . . . . . . . . . . . .
Catatan Pengendalian OPT
Tanggal Blok
Umur
Tan.
(HST)
Luas
(ha)
Jenis
OPT
Bahan
Pengendali Dosis
Cara
Aplikas
i *)
Operator
Keterangan *) Dapat ditulis pada lembar tersendiri
I. SPO Panen
Nama Pemilik : . . . . . . . . . . . . . . .
Alamat Kebun : . . . . . . . . . . . . . . .
Catatan Panen
Tanggal Blok Luas
(ha)
Cara Panen
*)
Jumlah Produksi
(kg) Operator
Keterangan *) Dapat ditulis pada lembar tersendiri
8
Catatan Pembongkaran Tanaman
Tanggal Blok Luas
(ha)
Cara Pembongkaran *) Operator
Keterangan *) Dapat ditulis pada lembar tersendiri
J. SPO Penanganan Pasca Panen
Nama Pemilik : . . . . . . . . . . . . . . .
Alamat Kebun : . . . . . . . . . . . . . . .
Catatan Pengkelasan
Jml Dalam
Tanggal Kelas (kg)
Jumlah
Prod.
(kg)
Cara
Pengkelasan
*) A B
Jumlah
Rusak
(kg)
Operator
Keterangan *) Dapat ditulis pada lembar tersendiri
9
Catatan Pengemasan
Kelas A Kelas B
Tanggal Cara
Pengemasan*) (kg)
Jml
Kardus
(unit)
(kg)
Jml
Kardus
(unit)
Operator
Keterangan *) Dapat ditulis pada lembar tersendiri

shareShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someonePrint this page

komentar

klikaja bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
tags: ,

Related Post Budidaya Melon 2016

PENTINGNYA KELEMBABAN UNTUK TANAMAN ANGGREK

Parfum branded berbahan kemenyan

CARA PEMELIHARAAN IKAN MASKOKI REMAJA

HAMMERMILL PENGUPAS KULIT KOPI SEGAR

BROCCHINIA TATEI YANG TUMBUH SEPANJANG VENEZUELA BAGIAN SELATAN