bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
Home » Blog » Teknik Budidaya Tanaman 2016
Filed: Blog
Advertisement
loading...

i
Chairani Hanum
TEKNIK
BUDIDAYA
TANAMAN
JILID 2
SMK
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional
ii
Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional
Dilindungi Undang-undang
TEKNIK
BUDIDAYA
TANAMAN
JILID 2
Untuk SMK
Penulis : Chairani Hanum
Perancang Kulit : TIM
Ukuran buku : 17,6 cm x 25 cm
HAN HANUM, Chairani.
a Teknik Budidaya Tanaman Jilid 2 untuk SMK oleh Chairani
Hanum —- Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah
Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan
Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 2008.
viii. 184 hlm
Daftar Pustaka : A1-A14
Glosarium : B1-B5
ISBN : 978-979-060-055-3
ISBN : 978-979-060-057-7
Diterbitkan oleh
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional
Tahun 2008
Diperbanyak oleh PT Macanan Jaya Cemerlang
iii
KATA SAMBUTAN
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia
Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen
Pendidikan Nasional, pada tahun 2008, telah melaksanakan penulisan pembelian hak
cipta buku teks pelajaran ini dari penulis untuk disebarluaskan kepada masyarakat
melalui website bagi siswa SMK.
Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan Standar
Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk SMK yang memenuhi syarat
kelayakan untuk digunakan dalam proses pembelajaran melalui Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional Nomor 12 tahun 2008.
Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh
penulis yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya kepada Departemen
Pendidikan Nasional untuk digunakan secara luas oleh para pendidik dan peserta
didik SMK di seluruh Indonesia.
Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada Departemen
Pendidikan Nasional tersebut, dapat diunduh (download), digandakan, dicetak,
dialihmediakan, atau difotokopi oleh masyarakat. Namun untuk penggandaan yang
bersifat komersial harga penjualannya harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan
oleh Pemerintah. Dengan ditayangkannya soft copy ini akan lebih memudahkan bagi
masyarakat untuk mengaksesnya sehingga peserta didik dan pendidik di seluruh
Indonesia maupun sekolah Indonesia yang berada di luar negeri dapat memanfaatkan
sumber belajar ini.
Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini. Selanjutnya, kepada
para peserta didik kami ucapkan selamat belajar dan semoga dapat memanfaatkan
buku ini sebaik-baiknya. Kami menyadari bahwa buku ini masih perlu ditingkatkan
mutunya. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat kami harapkan.
Jakarta,
Direktur Pembinaan SMK
iv
v
KATA PENGANTAR
Buku Teknik Budidaya Tanaman ini disusun berdasarkan kurikulum berbasis
kompetensi. Buku ini berisikan materi pokok teknik budidaya tanaman dengan
metode penyajiannya sesuai dengan indikator hasil belajar pada sekolah
menengah kejuruan.
Isi buku ini dibagi atas 4 (empat ) bagian, yang masing-masing bagian terdiri dari
beberapa bab. Bagian I terdiri dari 3 bab yaitu bab Pendahuluan, Pertumbuhan
dan Perkembangan (Bab II), serta
Fotosintesis dan Respirasi (Bab III). Bagian satu dari buku ini mencoba membahas
awal dari kehidupan dan proses dasar metabolisme tanaman. Sedangkan
bagian dua mencoba mengulas sumber hara dan air bagi tanaman bagaimana
mereka memperoleh kedua sumberdaya alam ini, mentranslokasikannya serta
menggunakan untuk kelangsungan hidupnya.
Bagian tiga dari buku ini mencoba memaparkan syarat tumbuh masing masing
kelompok tanaman yaitu tanaman hortikultura, tanaman pangan dan tanaman
perkebunan. Bagian ini berisi ulasan bagaimana pedoman teknis budidaya
masing-masing kelompok tanaman. Walaupun tidak seluruh tanaman di muat
teknik budidayanya dalam buku ini setidaknya ketiga bab ini dapat mewakili
untuk menuju sistem pertanian yang berkelanjutan, dengan menghasilkan produk
unggulan secara kualitas dan kuantitas.
Akhir dari buku ini mencoba teknik budidaya alternatif dengan menggunakan
media tanam bukan tanah, sistem ini akan memberikan pilihan utama pada
peningkatan mutu bahan pangan yang dihasilkan tanpa harus bergantung pada
media tanam tanah semata. Pertanian organik yang digalakkan akhir-akhir ini
merupakan solusi untuk memecahkan masalah peningkatan produksi pertanian
disatu sisi dan pencemaran lingkungan disisi lainnya.
Buku ini dirancang agar peserta didik yang membacanya dapat belajar sendiri
tidak harus bergantung pada tatap muka di depan kelas. Pada awal setiap bab
dimuat pendahuluan untuk dapat lebih memudahkan pemahaman terhadap isi
dari bab tersebut.
Ilustrasi dan gambar yang digunakan dalam buku ini juga diharapkan dapat
membantu siswa mempelajari dan mempraktekkan secara baik dan benar.
vi
Pada akhirnya keberhasilan proses relajar mengajar tidak hanya tergantung pada
sarana dan prasarana yang canggih, akan tetapi dituntut untuk setiap peserta
didik menekuni dan mencari tahu setiap permasalahan-permasalahan yang belum
diketahui dari ilmu tersebut.
Kepada editor dan Depdiknas beserta seluruh staffnya yang telah berupaya untuk
menyempurnakan dan menerbitkan buku ini sehingga terbit dan layak baca, kami
mengucapkan tarimakasih. Kami juga sangat mengharapkan saran dan kritik
untuk lebih menyempurnakan isi buku ini sehingga sesuai dengan perkembangan
ilmu pengetahuan.
Semoga kita mendapatkan ilmu yang bermanfaat, dan manfaat dari ilmu tersebut
Penulis
vii
DAFTAR ISI
KATA SAMBUTAN ………………………………………………………………………………….. iii
KATA PENGANTAR………………………………………………………………………………… v
DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………………………. vii
BAB 8 TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN PANGAN
(PADI,JAGUNG, KEDELAI) ……………………………………………………………………… 191
8.1 Teknik Budidaya Padi………………………………………………………………………….. 191
8.2 Teknik Budidaya Jagung …………………………………………………………………….. 205
8.3 Teknik Budidaya Kedelai …………………………………………………………………….. 213
BAB 9 TEKNIK BUDIDAYA HORTIKULTURA……………………………………………. 219
9.1 Pendahuluan ……………………………………………………………………………………. 219
9.2 Pembagian Hortikultura …………………………………………………………………….. 219
9.3 Fungsi Hortikultura …………………………………………………………………………… 219
9.4 Pengendalian Lingkungan Untuk Tanaman Hortikultura ………………………… 220
9.5 Perbanyakan Tanaman Hortikultura ……………………………………………………. 221
9.6 Teknik Budidaya Sayuran …………………………………………………………………. 207
9.7 Teknik Budidaya Tanaman Buah-Buahan ……………………………………………. 269
9.8 Teknik Budidaya Tanaman Hias ………………………………………………………… 313
LAMPIRAN A. DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………… 359
LAMPIRAN B. GLOSARIUM ………………………………………………………………….. 369
viii
191
BAB VIII
TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN PANGAN (PADI,JAGUNG,KEDELAI)
8.1. Teknik Budidaya Padi
a. Botani Tanaman
Berdasarkan literatur Grist (1960), padi
dalam sistematika tumbuhan
diklasifikasikan ke dalam Divisio
Spermatophyta, dengan Sub divisio
Angiospermae, termasuk ke dalam kelas
Monocotyledoneae, Ordo adalah Poales,
Famili adalah Graminae, Genus adalah
Oryza Linn, dan Speciesnya adalah
Oryza sativa L. Menurut D.Joy dan
E.J.Wibberley, tanaman padi yang
mempunyai nama botani Oryza sativa
dan dapat dibedakan dalam dua tipe,
yaitu padi kering yang tumbuh di lahan
kering dan padi sawah yang memerlukan
air menggenang dalam pertumbuhan
dan perkembangannya
Genus Oryza L. meliputi lebih kurang 25
spesies, tersebar di daerah tropik dan sub
tropik seperti Asia, Afrika, Amerika, dan
Australia.
Menurut Chevalier dan Neguier padi
berasal dari dua benua ; Oryza fatua
Koenig dan Oryza sativa L berasal
dari benua Asia, sedangkan jenis padi
lainnya yaitu Oryza stapfii Roschev dan
Oryza glaberima Steund berasal dari
Afrika Barat.
Padi yang ada sekarang ini
merupakan persilangan antara Oryza
officinalis dan Oryza sativa f spontania.
Tanaman padi yang dapat tumbuh baik di
daerah tropis ialah indica, sedangkan
japonica banyak diusahakan di daerah
sub tropis (Pustaka Bogor, 2005).
Berdasarkan literatur Aak (1992) akar
adalah bagian tanaman yang berfungsi
menyerap air dan zat makanan dari
dalam tanah, kemudian diangkut ke
bagian atas tanaman. Akar tanaman padi
dapat dibedakan atas :
1. Radikula; akar yang tumbuh pada
saat benih berkecambah. Pada
benih yang sedang berkecambah
timbul calon akar dan batang.
Calon akar mengalami
pertumbuhan ke arah bawah
sehingga terbentuk akar
tunggang, sedangkan calon
batang akan tumbuh ke atas
sehingga terbentuk batang dan
daun.
2. Akar serabut (akar adventif);
setelah 5-6 hari terbentuk akar
tunggang, akar serabut akan
tumbuh.
3. Akar rambut ; merupakan bagian
akar yang keluar dari akar
tunggang dan akar serabut. Akar
ini merupakan saluran pada kulit
akar yang berada di luar, dan ini
penting dalam pengisapan air
maupun zat-zat makanan. Akar
serabut biasanya berumur
pendek sedangkan bentuk dan
panjangnya sama dengan akar
serabut.
4. Akar tajuk (crown roots) ; adalah
akar yang tumbuh dari ruas
batang terendah. Akar tajuk ini
dibedakan lagi berdasarkan letak
kedalaman akar di tanah yaitu
akar yang dangkal dan akar yang
dalam. Apabila kandungan udara
di dalam tanah rendah, maka
akar-akar dangkal mudah
berkembang.
Gambar 49. Pertumbuhan akar
padi
Bagian akar yang telah dewasa (lebih tua)
dan telah mengalami perkembangan akan
berwarna coklat, sedangkan akar yang
baru atau bagian akar yang masih muda
berwarna putih.Padi termasuk golongan
tumbuhan Graminae dengan batang yang
tersusun dari beberapa ruas. Ruas-ruas
itu merupakan bubung kosong.Pada
kedua ujung bubung kosong itu
bubungnya ditutup oleh buku. Panjangnya
ruas tidak sama. Ruas yang terpendek
terdapat pada pangkal batang. Ruas yang
kedua, ruas yang ketiga, dan seterusnya
192
adalah lebih panjang daripada ruas yang
didahuluinya. Pada buku bagian bawah
dari ruas tumbuh daun pelepah yang
membalut ruas sampai buku bagian atas.
Tepat pada buku bagian atas ujumg dari
daun pelepah memperlihatkan
percabangan dimana cabang yang
terpendek menjadi ligula (lidah) daun, dan
bagian yamg terpanjang dan terbesar
menjadi daun kelopak yang memiliki
bagian auricle pada sebelah kiri dan
kanan.Daun kelopak yang terpanjang dan
membalut ruas yang paling atas dari
batang disebut daun bendera. Tepat
dimana daun pelepah teratas menjadi
ligula dan daun bendera, di situlah timbul
ruas yang menjadi bulir padi.
Pertumbuhan batang tanaman padi
adalah merumpun, dimana terdapat satu
batang tunggal/batang utama yang
mempunyai 6 mata atau sukma, yaitu
sukma 1, 3, 5 sebelah kanan dan sukma
2, 4, 6 sebelah kiri. Dari tiap-tiap sukma
ini timbul tunas yang disebut tunas orde
pertama.
Gambar 50 Pertumbuhan daun padi
Tunas orde pertama tumbuhnya didahului
oleh tunas yang tumbuh dari sukma
pertama, kemudian diikuti oleh sukma
kedua, disusul oleh tunas yang timbul dari
sukma ketiga dan seterusnya sampai
kepada pembentukan tunas terakhir yang
keenam pada batang tunggal.
Tunas-tunas yang timbul dari tunas orde
pertama disebut tunas orde kedua.
Biasanya dari tunas-tunas orde pertama
ini yang menghasilkan tunas-tunas orde
kedua ialah tunas orde pertama yang
terbawah sekali pada batang tunggal/
utama.
Pembentukan tunas dari orde ketiga pada
umunya tidak terjadi, oleh karena tunastunas
dari orde ketiga tidak mempunyai
ruang hidup dalam kesesakan dengan
tunas-tunas dari orde pertama dan kedua.
Padi termasuk tanaman jenis rumputrumputan
mempunyai daun yang
berbeda-beda, baik bentuk, susunan,
atau bagian-bagiannya.
Ciri khas daun padi adalah adanya sisik
dan telinga daun. Hal inilah yang
menyebabkan daun padi dapat dibedakan
dari jenis rumput yang lain.
Adapun bagian-bagian daun padi adalah
– Helaian daun ; terletak pada
batang padi dan selalu ada.
Bentuknya memanjang seperti
pita. Panjang dan lebar helaian
daun tergantung varietas padi
ang bersangkutan.
– Pelepah daun (upih) ; merupakan
bagian daun yang menyelubungi
batang, pelepah daun ini
berfungsi memberi dukungan
pada bagian ruas yang
jaringannya lunak, dan hal ini
selalu terjadi
– Lidah daun ; lidah daun terletak
pada perbatasan antara helai
daun dan upih. Panjang lidah
daun berbeda-beda, tergantung
pada varietas padi. Lidah daun
duduknya melekat pada batang.
Fungsi lidah daun adalah
mencegah masuknya air hujan di
antara batang dan pelepah daun
(upih). Disamping itu lidah daun
juga mencegah infeksi penyakit,
sebab media air memudahkan
penyebaran penyakit.
Daun yang muncul pada saat terjadi
perkecambahan dinamakan coleoptile.
koleoptil keluar dari benih yang disebar
dan akan memanjang terus sampai
permukaan air. koleoptil baru membuka,
kemudian diikuti keluarnya daun pertama,
daun kedua dan seterusnya hingga
mencapai puncak yang disebut daun
bendera, sedangkan daun terpanjang
biasanya pada daun ketiga. Daun
bendera merupakan daun yang lebih
pendek daripada daun-daun di bawahnya,
namun lebih lebar daripada daun
sebelumnya. Daun bendera ini terletak di
bawah malai padi. Daun padi mula-mula
193
berupa tunas yang kemudian
berkembang menjadi daun.
Daun pertama pada batang keluar
bersamaan dengan timbulnya tunas
(calon daun) berikutnya. Pertumbuhan
daun yang satu dengan daun berikutnya
(daun baru) mempunyai selang waktu 7
hari, dan 7 hari berikutnya akan muncul
daun baru lainnya.banyaknya daun padi
hingga terbentuknya malai.
Gambar 51 Bagian daun tanaman padi
Sekumpulan bunga padi (spikelet) yang
keluar dari buku paling atas dinamakan
malai. Bulir-bulir padi terletak pada
cabang pertama dan cabang kedua,
sedangkan sumbu utama malai adalah
ruas buku yang terakhir pada batang.
Panjang malai tergantung pada varietas
padi yang ditanam dan cara bercocok
tanam. Dari sumbu utama pada ruas buku
yang terakhir inilah biasanya panjang
malai (rangkaian bunga) diukur.
Panjang malai dapat dibedakan menjadi 3
ukuran yaitu malai pendek (kurang dari 20
cm), malai sedang (antara 20-30 cm), dan
malai panjang (lebih dari 30 cm).
Jumlah cabang pada setiap malai
berkisar antara 15-20 buah, yang paling
rendah 7 buah cabang, dan yang
terbanyak dapat mencapai 30 buah
cabang.
Jumlah cabang ini akan mempengaruhi
besarnya rendemen tanaman padi
varietas baru, setiap malai bisa mencapai
100-120 bunga (Aak, 1992).
Gambar 52 Malai padi
Bunga padi adalah bunga telanjang
artinya mempunyai perhiasan bunga.
Berkelamin dua jenis dengan bakal buah
yang diatas. Jumlah benang sari ada 6
buah,tangkai sarinya pendek dan
tipis,kepala sari besar serta mempunyai
dua kandung serbuk. Putik mempunyai
dua tangkai putik,dengan dua buah
kepala putik yang berbentuk malai
dengan warna pada umumnya putih atau
ungu (Departemen Pertanian, 1983).
Gambar 53 Bunga padi
Komponen-komponen (bagian) bunga
padi adalah:
– kepala sari
– tangkai sari,
– palea (belahan yang besar),
– lemma (belahan yang kecil),
– kepala putik,
– tangkai bunga.
Buah padi yang sehari-hari kita sebut biji
padi atau butir/gabah, sebenarnya bukan
biji melainkan buah padi yang tertutup
oleh lemma dan palea.
Buah ini terjadi setelah selesai
penyerbukkan dan pembuahan. Lemma
dan palea serta bagian lain yang
membentuk sekam atau kulit gabah
(Departemen Pertanian, 1983).
Jika bunga padi telah dewasa, kedua
belahan kembang mahkota (palea dan
lemmanya) yang semula bersatu akan
membuka dengan sendirinya sedemikian
rupa sehingga antara lemma dan palea
terjadi siku/sudut sebesar 30-600.
Membukanya kedua belahan kembang
mahkota itu terjadi pada umumnya pada
hari-hari cerah antara jam 10-12, dimana
suhu kira-kira 30-320C.
Di dalam dua daun mahkota palea dan
lemma itu terdapat bagian dalam dari
bunga padi yang terdiri dari bakal buah
(biasa disebut karyiopsis). Jika buah padi
telah masak, kedua belahan daun
194
mahkota bunga itulah yang menjadi
pembungkus berasnya (sekam).
Diatas karyiopsis terdapat dua kepala
putik yang dipikul oleh masing-masing
tangkainya.
Lodicula yang berjumlah dua buah,
sebenarnya merupakan daun mahkota
yang telah berubah bentuk.
Pada waktu padi hendak berbunga,
lodicula menjadi mengembang karena
menghisap cairan dari bakal buah.
Pengembangan ini mendorong lemma
dan palea terpisah dan terbuka. Hal ini
memungkinkan benang sari yang
memanjang keluar dari bagian atas atau
dari samping bunga yang terbuka tadi.
Terbukanya bunga diikuti dengan
pecahnya kandung serbuk, yang
kemudian menumpahkan tepung sarinya.
Sesudah tepung sarinya ditumpahkan
dari kandung serbuk maka lemma dan
palea menutup kembali. Dengan
berpindahnya tepung sari dari kepala
putik maka selesailah sudah proses
penyerbukkan.
Kemudian terjadilah pembulaian yang
menghasilkan lembaga dan endosperm.
Endosperm adalah penting sebagai
sumber cadangan makanan bagi
tanaman yang baru tumbuh (Departemen
Pertanian, 1983)
Peristiwa jatuhnya tepung sari yang
menempel pada kepala putik disebut
penyerbukan. Penyerbukan ini
berlangsung antara jam 09.00-11.00 pagi.
Padi mengadakan penyerbukan sendiri,
namun dapat terjadi pula penyerbukan
silang.
Kemungkinan terjadinya penyerbukan
silang secara alamiah pada padi jenis
cere 0-0,9 % sedangkan untuk jenis bulu
0-2,9 %.
Pembuahan merupakan kelanjutan dari
penyerbukan. Pada proses pembuahan
ini, pollen (serbuk sari) yang menempel
pada kepala putik dengan bantuan cairan
yang ada pada kepala putik, akan
berkecambah atau memanjang hingga
bertemu dengan indung telur, yang
akhirnya menghasilkan lembaga dan
endosperm.
Endosperm merupakan sumber makanan
cadangan bagi tanaman padi yang baru
tumbuh (berkecambah), terdiri dari zat
tepung yang diliputi oleh selaput protein,
disamping itu juga mengandung zat-zat
anorganik (Aak, 1992).
Secara umum padi dikatakan sudah siap
panen bila butir gabah yang menguning
sudah mencapai sekitar 80 % dan
tangkainya sudah menunduk.
Tangkai padi merunduk karena sarat
dengan butir gabah bernas.
Untuk lebih memastikan padi sudah siap
panen adalah dengan cara menekan butir
gabah. Bila butirannya sudah keras berisi
maka saat itu paling tepat untuk dipanen
(Andoko, 2002).
Secara umum pemasakan bulir pada
tanaman padi terbagi atas empat stadia,
yaitu :
1. Stadia masak susu (8-10 hari
setelah berbunga merata)
2. Stadia masak kuning (7 hari
setelah masak susu)
3. Stadia masak penuh (7 hari
setelah masak kuning
4. Stadia masak mati (6 hari setelah
masak penuh)(Aak, 1992).
Secara umum ada tiga stadia proses
pertumbuhan tanaman padi dari awal
penyemaian hingga pemanenan :
1. Stadia vegetatif ; dari
perkecambahan sampai
terbentuknya bulir. Pada varietas
padi yang berumur pendek (120
hari) stadia ini lamanya sekitar 55
hari, sedangkan pada varietas
padi berumur panjang (150 hari)
lamanya sekitar 85 hari.
2. Stadia reproduktif ; dari
terbentuknya bulir sampai
pembungaan. Pada varietas
berumur pendek lamanya sekitar
35 hari, dan pada varietas
berumur panjang sekitar 35 hari
juga.
3. Stadia pembentukan gabah atau
biji ; dari pembungaan sampai
pemasakan biji. Lamanya stadia
sekitar 30 hari, baik untuk
varietas padi berumur pendek
maupun berumur panjang.
Apabila ketiga stadia dirinci lagi, maka
akan diperoleh sembilan stadia. Masing195
masing stadia mempunyai ciri dan nama
tersendiri. Stadia tersebut adalah:
1. Stadia 0 ; dari perkecambahan
sampai timbulnya daun pertama,
biasanya memakan waktu eskitar
3 hari.
2. Stadia 1 ; stadia bibit, stadia ini
lepas dari terbentuknya duan
pertama sampai terbentuk
anakan pertama, lamanya sekitar
3 minggu, atau sampai pada
umur 24 hari.
3. Stadia 2 ; stadia anakan, ketika
jumlah anakan semakin
bertambah sampai batas
maksimum, lamanya sampai 2
minggu, atau saat padi berumur
40 hari.
4. Stadia 3 ; stadia perpanjangan
batang, lamanya sekitar 10 hari,
yaitu sampai terbentuknya bulir,
saat padi berumur 52 hari.
5. Stadia 4 ; stadia saat mulai
terbentuknya bulir, lamanya
sekitar 10 hari, atau sampai padi
berumur 62 hari.
6. Stadia 5 ; perkembangan bulir,
lamanya sekitar 2 minggu, saat
padi sampai berumur 72 hari.
Bulir tumbuh sempurna sampai
terbentuknya biji.
7. Stadia 6 ; pembungaan, lamanya
10 hari, saat mulai muncul bunga,
polinasi, dan fertilisasi.
8. Stadia 7 ; stadia biji berisi cairan
menyerupai susu, bulir kelihatan
berwarna hijau, lamanya sekitar 2
minggu, yaitu padi berumur 94
hari.
9. Stadia 8 ; ketika biji yang lembek
mulai mengeras dan berwarna
kuning, sehingga seluruh
pertanaman kelihatan kekuningkuningan.
Lama stadia ini sekitar
2 minggu, saat tanaman berumur
102 hari.
10. Stadia 9 ; stadia pemasakan biji,
biji berukuran sempurna, keras
dan berwarna kuning, bulir mulai
merunduk, lama stadia ini sekitar
2 minggu, sampai padi berumur
116 hari (Sudarmo, 1991).
Dibawah ini (Gambar 53) diberikan
tahapan pertumbuhan padi yang dimulai
dari perkecambahan sampai padi
dewasa.
Gambar 55 Padi dewasa
b.Varietas Unggul Padi
Gambar 54 Proses perkecambahan
padi
196
Varietas pada tanaman padi
mempunyai pengaruh besar terhadap
tingkat produktivitas. Di negara-negara
subtropis umumnya dibudidayakan
varietas japonica.
Ciri yang paling khas dari varietas itu
adalah butirnya bulat, batang tidak terlalu
panjang, serta berdiri kokoh. Sedangkan
di daerah tropis yang iklimnya
terpengaruh oleh angin muson varietas
utama yang dibudidayakan adalah
varietas indica yang berbatang tinggi.
Disamping berbatang tinggi varietas itu
cenderung memiliki tunas samping (side
shoots) (Hohnholz, 1986).
Gambar 56.Pertumbuhan Varietas IR64 di
lahan sawah
Varietas padi yang akan digunakan
haruslah memiliki ciri-ciri :
– Dapat beradaptasi dengan iklim
dan tipe tanah setempat
– Cita rasanya disenangi dan
memiliki harga yang tinggi di
pasaran lokal
– Daya hasil tinggi
– Toleran terhadap hama dan
penyakit
– Tahan rebah (IRRI, 2004).
Varietas unggul merupakan salah satu
komponen teknologi budidaya padi yang
mudah diadopsi petani.
Varietas unggul berperanan penting
dalam peningkatan hasil, perbaikan dan
diversifikasi mutu, dan penekanan
kehilangan hasil karena gangguan hama,
penyakit, maupun cekaman lingkungan.
Kondisi agro-ekosistem lahan
pertanaman padi di Indonesia sangat
beragam, demikian juga selera konsumen
terhadap mutu beras.
Kendala produksi terutama hama dan
penyakit bersifat dinamis, dapat berubah
karakter populasi, ras, atau strainnya.
Kondisi tersebut menuntut penyediaan
varietas unggul yang juga beragam dan
dinamis.
Varietas unggul yang dilepas dalam
beberapa tahun terakhir memiliki
keunggulan yang relatif berbeda. Hal ini
tentu memberikan peluang yang lebih
luas bagi petani dalam memilih varietas
yang akan dikembangkan.
Ada beberapa aspek yang perlu
mendapat pertimbangan dalam
menentukan pilihan, misalnya potensi
hasil, umur tanaman, ketahanan terhadap
hama dan penyakit, mutu beras, selera
konsumen, dan kondisi daerah
pengembangan. Bagi peneliti, aspek
tersebut memang menjadi pertimbangan
dalam merakit varietas unggul (Pustaka
Deptan, 2006).
Pemanfaatan Varietas Hasil Rekayasa
Bioteknologi
Pada umumnya tanaman memiliki
perbedaan fenotip dan genotip yang
sama. Perbedaan varietas cukup besar
mempengaruhi perbedaan sifat dalam
tanaman. Keragaman penampilan
tanaman terjadi akibat sifat dalam
tanaman (genetik) atau perbedaan
lingkungan kedua-duanya.
Perbedaan susunan genetik merupakan
salah satu faktor penyebab keragaman
penampilan tanaman.
Program genetik merupakan suatu
untaian susunan genetik yang akan
diekspresikan pada satu atau
keseluruhan fase pertumbuhan yang
berbeda dan dapat diekspresikan pada
berbagai sifat tanaman yang mencakup
bentuk dan fungsi tanaman dan akhirnya
menghasilkan keragaman pertumbuhan
tanaman (Sitompul dan Guritno, 1995).
Hasil penelitian dan pengembangan
Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN)
dalam bidang pertanian, khususnya pada
jenis tanaman padi hingga tahun 1999 ini
ialah berjumlah 6 (enam) varietas yaitu:
– Atomita I
– Atomita II,
– Atomita III,
197
– Atomita IV
– Padi gogo (lahan kering)
Situgintung, serta padi Cilosari.

Enam varietas padi unggul hasil
penelitian dan pengembangan Pusat
Penelitian dan Pengembangan Teknologi
Isotop dan Radiasi (P3TIR-BATAN)
tersebut memiliki keunggulan dibidang
varietas asal (induknya).
Keunggulan padi hasil pemuliaan dengan
radiasi adalah:
– produksinya tinggi
– tahan wereng coklat
– tahan penyakit hawar daun, dan
umurnya genjah.
– Disamping keunggulan tersebut
juga masih memiliki keunggulan
spesifik yang dimiliki oleh padi
varietas Atomita II tahan terhadap
lahan bergaram, varietas Cilbsari
tahan terhadap hama penggerek
batang dan rendemen cukup
tinggi (BATAN, 2000).
c. Macam dan warna beras
Warna beras yang berbeda-beda diatur
secara genetik, akibat perbedaan gen
yang mengatur warna aleuron, warna
endospermia, dan komposisi pati pada
endospermia.
• Beras “biasa” yang berwarna
putih agak transparan karena
hanya memiliki sedikit aleuron,
dan kandungan amilosa
umumnya sekitar 20%. Beras ini
mendominasi pasar beras.
• Beras merah, akibat aleuronnya
mengandung gen yang
memproduksi antosianin yang
merupakan sumber warna merah
atau ungu
• Beras hitam, sangat langka,
disebabkan aleuron dan
endospermia memproduksi
antosianin dengan intensitas
tinggi sehingga berwarna ungu
pekat mendekati hitam,
• Ketan (atau beras ketan),
berwarna putih, tidak transparan,
seluruh atau hampir seluruh
patinya merupakan amilopektin
• Ketan hitam, merupakan versi
ketan dari beras hitam.
Beberapa jenis beras mengeluarkan
aroma wangi bila ditanak (misalnya
‘Cianjur Pandanwangi’ atau ‘Rajalele’).
Bau ini disebabkan beras melepaskan
senyawa aromatik yang memberikan efek
wangi. Sifat ini diatur secara genetik dan
menjadi objek rekayasa genetika beras.
Di antara komponen teknologi yang
dihasilkan melalui penelitian, varietas
unggul memang lebih nyata
sumbangannya terhadap peningkatan
produksi padi nasional.
Akan tetapi, keunggulan suatu varietas
dibatasi oleh berbagai faktor, termasuk
penurunan ketahanannya terhadap hama
dan penyakit tertentu. Setelah
dikembangkan dalam periode tertentu
hingga saat ini Departemen Pertanian
telah melepas lebih dari 175 varietas
unggul padi yang sebagian besar
dihasilkan oleh Puslitbang Tanaman
Pangan.
8.1.4. Kandungan beras
Sebagaimana bulir serealia lain, bagian
terbesar beras didominasi oleh pati
(sekitar 80-85%). Beras juga
mengandung protein, vitamin (terutama
pada bagian aleuron), mineral, dan air.
Pati beras dapat digolongkan menjadi dua
kelompok:
• amilosa, pati dengan struktur
tidak bercabang
• amilopektin, pati dengan struktur
bercabang.
Komposisi kedua golongan pati ini
sangat menentukan warna
(transparan atau tidak) dan tekstur
nasi (lengket, lunak, keras, atau
pera).
d.Anatomi beras
Beras sendiri secara biologi adalah
bagian biji padi yang terdiri dari
198
• aleuron, lapis terluar yang sering
kali ikut terbuang dalam proses
pemisahan kulit,
• endospermia, tempat sebagian
besar pati dan protein beras
berada, dan
• embrio, yang merupakan calon
tanaman baru (dalam beras tidak
dapat tumbuh lagi, kecuali
dengan bantuan teknik kultur
jaringan). Dalam bahasa seharihari,
embrio disebut sebagai mata
beras.
e.Kegunaan Beras
Beras dimanfaatkan terutama untuk
diolah menjadi nasi, makanan pokok
terpenting warga dunia.
Selain itu, beras merupakan komponen
penting beras kencur dan param.
Minuman yang populer dari olahan beras
adalah arak dan Air tajin.
Dalam bidang industri pangan, beras
diolah menjadi tepung beras. Sosohan
beras (lapisan aleuron), yang memiliki
kandungan gizi tinggi, diolah menjadi
tepung rice bran.
Bagian embrio juga diolah menjadi
suplemen dengan sebutan tepung mata
beras.
Untuk kepentingan diet, beras dijadikan
sebagai salah satu sumber pangan bebas
gluten dalam bentuk berondong.
Data survey pada MT 2002/03 di 12
propinsi penghasil padi membuktikan
sekitar 90% dari 9,2 juta ha lahan sawah
telah ditanami varietas unggul baru.
Dari sekitar 80 varietas padi yang telah
berkembang di petani, beberapa varietas
banyak digunakan seperti IR64, Way
Apoburu, Ciliwung, Memberamo, dan
Ciherang, masing-masing dengan luas
tanam 4,20 juta ha, 0,80 juta ha, 0,62 juta
ha, 0,43 juta ha, dan 0,41 juta ha. Di
Jawa Barat, luas areal tanam varietas
Ciherang pada MT 2002/03 menduduki
urutan kedua setelah IR64, masingmasing
18% dan 33% dari total areal
pertanaman padi di sentra produksi
nasional ini.
Di antara varietas unggul yang telah
berkembang di petani, IR64 paling lama
bertahan karena hasil dan mutu berasnya
tinggi. Sebenarnya, Ciherang adalah hasil
persilangan antara varietas IR64 dengan
varietas/galur lain. Sebagian sifat IR64
juga dimiliki oleh Ciherang, termasuk hasil
dan mutu berasnya yang tinggi.
f.Syarat Tumbuh
f.1Iklim
Padi dapat tumbuh dalam iklim yang
beragam, tumbuh di daerah tropis dan
subtropis pada 45o LU dan 45o LS dengan
cuaca panas dan kelembaban tinggi
dengan musim hujan 4 bulan.
Rata–rata curah hujan yang baik adalah
200 mm/bulan atau 1500-2000 mm/tahun.
Padi dapat di tanam di musim kemarau
atau hujan. Pada musim kemarau
produksi meningkat asalkan irigasi selalu
tersedia. Di musim hujan, walaupun air
melimpah produksi dapat menurun
karena penyerbukan kurang intensif.
Di dataran rendah padi memerlukan
ketinggian 0 – 650 m dpl dengan
temperatur 22 – 27 oC sedangkan
didataran tinggi 650-1500 mdpl dengan
temperatur 19 – 23 oC.
Tanaman padi memerlukan penyinaran
matahari penuh tanpa naungan. Angin
juga berpengaruh terhadap pertumbuhan
tanaman padi yaitu dalam penyerbukan
dan pembuahan tetapi jika terlalu
kencang akan merobohkan tanaman
Temperatur sangat mempengaruhi
pengisian biji padi. Temperatur yang
rendah dan kelembaban yang tinggi pada
waktu pembungaan akan mengganggu
proses pembuahan yang mengakibatkan
gabah menjadi hampa.
Hal ini terjadi akibat tidak membukanya
bakal biji. Temperatur yang juga rendah
pada waktu bunting dapat menyebabkan
rusaknya pollen dan menunda
pembukaan tepung sari (Luh, 1991).
Tanaman padi dapat hidup dengan baik di
daerah yang berhawa panas dan banyak
mengandung uap air. Dengan kata lain,
padi dapat hidup baik di daerah beriklim
panas yang lembab.
199
Pengertian iklim ini menyangkut curah
hujan, temperatur, ketinggian tempat,
sinar matahari, angin, dan musim.
1. Tanaman padi membutuhkan
curah hujan yang baik, rata-rata
200 mm/bulan atau lebih, dengan
distribusi selama 4 bulan.
Sedangkan curah hujan yang
dikehendaki per tahun sekitar
1500-2000 mm.
Tanaman padi dapat tumbuh baik
pada suhu 230C ke atas, sedangkan
di Indonesia pengaruh suhu tidak
terasa, sebab suhunya hamper
konstan sepanjang tahun. Adapun
salah satu pengaruh suhu terhadap
tanaman padi yaitu kehampaan pada
biji.
2. Ketinggian daerah yang cocok
untuk tanaman padi adalah
daerah antara 0-650 meter
dengan suhu antara 26,5 0C –
22,5 0C, daerah antara 650-1500
meter dengan suhu antara 22,5-
18,7 0C masih cocok untuk
tanaman padi.
3. Sinar matahari diperlukan untuk
berlangsungnya proses
fotosintesis, terutama pada saat
tanaman berbunga sampai
proses pemasakan buah. Proses
pembungaan dan kemasakan
buah berkaitan erat dengan
intensitas penyinaran dan
keadaan awan.
4. Angin mempunyai pengaruh
positif dan negatif terhadap
tanaman padi. Pengaruh
positifnya, terutama pada proses
penyerbukan dan pembuahan.
Pengaruh negatifnya adalah
penyakit yang disebabkan oleh
bakteri atau jamur dapat
ditularkan oleh angin, dan saat
terjadi angina kencang pada saat
tanaman berbunga, buah dapat
menjadi hampa dan tanaman
roboh.
5. Pada musim kemarau peristiwa
penyerbukan dan pembuahan
tidak terganggu oleh hujan,
sehingga persentase terjadinya
buah lebih besar dan produksi
menjadi lebih baik.
f.2Tanah
Padi sawah ditanam di tanah berlempung
yang berat atau tanah yang memiliki
lapisan keras 30 cm dibawah permukaan
tanah. Menghendaki tanah Lumpur yang
subur dengan ketebalan 18 – 22 cm.
Keasaman tanah antara pH 4,0 – 7,0.
Pada padi sawah, penggenangan akan
mengubah pH tanam menjadi netral (7,0).
Pada prinsipnya tanah berkapur dengan
pH 8,1 – 8,2 tidak merusak tanaman padi
tetapi akan mengurangi hasil produksi
Tanah sawah yang mempunyai
persentase fraksi pasir dalam jumlah
besar, kurang baik untuk tanaman padi,
sebab tekstur ini mudah meloloskan air.
Pada tanah sawah dituntut adanya
Lumpur, terutama untuk tanaman padi
yang memerlukan tanah subur, dengan
kandungan ketiga fraksi dalam
perbandingan tertentu.
Sifat tanah sangat berbeda-beda dan hal
ini berhubungan dengan keadaan
susunan tanah atau struktur tanahnya. Air
dan udara yang tidak dapat beredar di
dalam tanah dapat menyebabkan kondisi
tanah tidak baik, contohnya tanah liat.
Tidak semua jenis tanah cocok untuk
areal persawahan. Hal ini dikarenakan
tidak semua jenis tanah dapat dijadikan
lahan tergenang air. Padahal dalam
sistem tanah sawah, lahan harus tetap
tergenang air agar kebutuhan air tanaman
padi tercukupi sepanjang musim tanam.
Oleh karena itu, jenis tanah yang sulit
menahan air (tanah dengan kandungan
pasir tinggi) kurang cocok dijadikan lahan
persawahan.
Sebaliknya, tanah yang sulit dilewati air
(tanah dengan kandungan lempung
tinggi) cocok dijadikan lahan persawahan.
Kondisi yang baik untuk pertumbuhan
tanaman padi sangat ditentukan oleh
beberapa faktor, yaitu posisi topografi
yang berkaitan dengan kondisi hidrologi,
porisitas tanah yang rendah dan tingkat
keasaman tanah yang netral, sumber air
alam, serta kanopinas modifikasi sistem
alam oleh kegiatan manusia.
200
g. Teknik budidaya padi sebatang
Produksi padi nasional pada bulan
Desember 1997 adalah 46.591.874 ton
yang meliputi areal panen 9.881.764 ha.
Hasil produksi padi sawah dapat
mencapai 6-7 ton/ha, sedangkan untuk
padi gogo produksi hanya mencapai 1-3
ton /ha (Reghawanti, 2005).
Sampai dengan tahun 2005, Indonesia
masih mengalami defisit pangan utama,
untuk padi sebesar 2,5 juta ton, kedelai
1,5 juta ton, gula 1,7 juta ton, sedangkan
pangan lainnya mengalami surplus. Ini
menunjukkan bahwa dalam 5 tahun ke
depan Indonesia masih harus memacu
produksi pangan untuk mengurangi
defisit.
Untuk memenuhi kebutuhan pangan yang
terus meningkat, lahan sawah beririgasi
tetap menjadi andalan bagi produksi padi
nasional. Program intensifikasi yang
dicanangkan sejak sekitar tiga dekade
lalu pada awalnya mampu meningkatkan
produksivitas dan produksi padi secara
nyata.
Tetapi sejak dekade terakhir produksivitas
padi cenderung melandai, bahkan ada
yang menurun di beberapa lokasi.
Intensifikasi budidaya padi harus terus
diupayakan. Salah satu metode yang
diterapkan adalah SRI (The System Of
Rice Intensification) yang pertama kali
dikembangkan oleh Henri De Laulanie di
Madagaskar pada tahun 1980.
SRI adalah sistem intensifikasi padi yang
menyinergikan tiga faktor pertumbuhan
padi untuk mencapai produktivitas
maksimal yaitu;
1) maksimalisasi jumlah anakan
2) pertumbuhan akar,
3) suplai hara, air, oksigen.
Cara tersebut menghemat air, karena
padi tidak digenangi layaknya di
persawahan. Air hanya digunakan untuk
menjaga kelembaban tanah agar akar
padi dapat tumbuh dengan baik karena
pada dasarnya padi bukan tanaman air.
Hal ini dimaksudkan agar suplai oksigen
ke akar cukup sehingga padi menjadi
sehat dan berkembang membentuk
karakter-karakter morfologi yang
mendukung peningkatan produktivitas
tanaman padi.
Dalam sistem SRI penggunaan pupuk
organik merupakan salah satu faktor
pembeda dibandingkan dengan sistem
non SRI.
Disamping itu produk yang dihasilkan dari
budidaya atau peternakan yang
menggunakan pupuk organik lebih disukai
masyarakat.
Alasannya, produk tersebut lebih aman
bagi kesehatan. Di negara-negara
maju, masyarakatnya mulai beralih
mengkonsumsi produk yang dihasilkan
secara organik.
Pupuk organik cair atau padat yang
diaplikasikan pada budidaya tanaman
atau peternakan memiliki nilai jual yang
lebih tinggi (Parnata, 2004).
Hasil metode SRI sangat memuaskan. Di
Madagaskar, pada beberapa tanah tak
subur yang produksi normalnya 2 ton/ha,
petani yang menggunakan SRI
memperoleh hasil panen lebih dari 8
ton/ha, beberapa petani memperoleh 10 –
15 ton/ha, bahkan ada yang mencapai 20
ton/ha. Sedangkan, di daerah lain
selama 5 tahun, ratusan petani memanen
8-9 ton/ha.
Metode SRI minimal menghasilkan panen
dua kali lipat dibandingkan metode non
SRI maupun metode lain yang biasa
diterapkan oleh petani.
Petani tidak harus menggunakan
masukan luar untuk memperoleh manfaat
SRI. Metode ini juga bisa diterapkan
untuk berbagai varietas yang biasa
dipakai petani.
Semua unsur potensi dalam tanaman
padi dikembangkan dengan cara
memberikan kondisi yang sesuai dengan
pertumbuhan mereka (Berkelaar, 2005).
Perpaduan antara pemakaian varietas
unggul padi sawah dan pemberian pupuk
organik cair pada sistem penanaman SRI
diharapkan dapat mengatasi
permasalahan masih rendahnya produksi
padi, selain itu juga diharapkan dapat
mengembangkan pertanian berkelanjutan
yang berwawasan lingkungan.
Air sangat perlu bagi kehidupan
tumbuhan. Kandungan air tumbuhan
bervariasi sesuai antar-spesies dan
201
dalam berbagai struktur tumbuhan dan
juga bervariasi antar siang dan malam
selama periode pertumbuhan.
Tumbuhan menggunakan air kurang dari
5 % air yang diserap. Sisanya hilang ke
atmosfer melalui transpirasi dari daun
tumbuhan.
Kebutuhan air untuk pengolahan tanah
sampai siap tanam (30 hari)
mengkonsumsi air 20% dari total
kebutuhan air untuk padi sawah dan fase
bunting sampai pengisian bulir (15 hari)
mengonsumsi air sebanyak 35 %.
Berdasar data tersebut sebetulnya sejak
tanam sampai memasuki fase bunting
tidak membutuhkan air banyak, demikian
pula setelah pengisian bulir.
Oleh karenanya 15 hari sebelum panen,
padi tidak roboh dan ditinjau dari aspek
pemberian air memang tidak perlu lagi.
Budidaya padi yang diterapkan dengan
konsep penghematan air yaitu
penggenangan hanya dilakukan selama
25 hari yaitu pada saat padi mengalami
masa bunting (pengisian malai). Konsep
hemat air ini menjadi acuan pada SRI
(budidaya padi sebatang), dan konsep ini
sangat mendukung keoptimalan
pertumbuhan dan perkembangan padi
karena bibit umur muda tumbuh lebih baik
dalam kondisi aerob / tidak tergenang
(berdasarkan riset jepang > 30 tahun),
mikroorganisme tanah lebih baik untuk
perakaran (pada tanah macak–macak
/tidak tergenang), jumlah sel aerenchym
akar padi sawah yang tergenang sangat
kecil, sedangkan pada tanah yang tidak
tergenang sangat tinggi, dan hama padi
sawah (keong mas) lebih terkendali.
Pengefisienan penggunaan air di petakan
dapat dilakukan dengan mengairi sawah
dalam keadaan macak-macak. Setelah
tanaman padi berumur 14 hari sampai
periode bunting tidak memerlukan air
yang banyak.
Kebiasaan petani menggenangi
sawahnya sampai 5 cm bahkan lebih
karena petani tidak membayar air yang
digunakan tersebut, sehingga cenderung
bermewah-mewah dengan air.
Berdasar hasil penelitian menggunakan
air pada padi sawah menunjukkan bahwa
sawah yang digenangi setinggi 5 cm
sejak tanam sampai bunting tidak
memberikan perbedaan hasil gabah
dengan sawah yang diairi macak-macak.
Hanya biasanya sawah yang diairi
macak-macak populasi gulma lebih
banyak terutama rumput-rumput berdaun
sempit.
Dengan irigasi macak-macak sampai
periode bunting, maka air dapat dihemat
penggunaannya.
Metode ini mampu menghemat
penggunaan benih padi sampai 80 %.
Jika biasanya untuk satu hektar lahan
diperlukan benih sekitar 50 kg, dengan
SRI hanya diperlukan 8-10 kg.
Produktivitas yang selama ini rendah ( 4-5
ton/ha ) dapat didongkrak dengan
penerapan SRI yang telah dilakukan di
beberapa provinsi dan telah diuji secara
statistik dapat mencapai 10 ton/ha.
Selain bertujuan untuk meningkatkan
produksi, penerapan metode SRI ternyata
mengandung konsep pertanian yang
berkelanjutan dan berwawasan
lingkungan.
Metode SRI lebih sedikit menggunakan
pupuk kimia serta sangat dianjurkan
menggunakan pupuk organik seperti
pupuk kandang, kompos, pupuk hijau
serta biomassa ( jerami ).
Teknik penanaman diawali dengan
pengolahan tanah, pembibitan,
penanaman, pemupukkan, pengendalian
hama, penyakit, dan gulma, dan diakhiri
dengan panen. Berikut ini adalah
tahapan teknik penanamannya sesuai
dengan urutan dari atas kebawah.
202
Pengolahan tanah
Penanaman hanya 1 tanaman per lubang
tanam
Tampilan gambar anakan maksikum,
masa puncak pertumbuhan vegetatif
Awal fase pengisian biji
Fase Pengisian biji
Fase Pematangan
Panen
Sawah yang tidak digenangi air, akan
dapat mengurangi emisi gas CH4 (gas
methan = gas rumah kaca ) di atmosfer.
Gas methan akan teremisi ke atmosfer
dari tanah – tanah yang tergenang
Berkelaar (2005) mengemukakan
bahwa terdapat empat kunci penerapan
SRI, yaitu :
1. Bibit dipindah lapang (transplantasi)
lebih awal
Bibit padi ditransplantasi saat dua
daun telah muncul pada batang
muda, biasanya saat berumur 8-15
hari. Benih harus disemai dalam
petakan khusus dengan menjaga
tanah tetap lembab dan tidak
tergenang air. Lebih banyak batang
yang muncul dalam satu rumpun, dan
dengan metode SRI lebih banyak
bulir padi yang dihasilkan oleh malai.
2. Bibit ditanam satu-satu daripada
secara berumpun
3. Jarak tanam yang lebar
Pada prinsipnya tanaman harus
mendapat ruang cukup untuk tumbuh.
Hasil panen maksimum diperoleh
pada sawah subur dengan jarak
tanam 50 x 50 cm, sehingga hanya 4
tanaman per m2. Dalam metode SRI
kebutuhan benih jauh lebih sedikit
dibandingkan metode tradisional,
salah satu evaluasi SRI menunjukkan
bahwa kebutuhan benih hanya 7
kg/ha, dibanding dengan metode
tradisional yang mencapai 107 kg/ha.
4. Kondisi tanah tetap lembab tapi
tidak tergenang air
Secara tradisional penanaman padi
biasanya selalu digenangi air.
Namun, sebenarnya air yang
menggenang membuat sawah
menjadi hypoxic (kekurangan
oksigen) bagi akar dan tidak ideal
untuk pertumbuhan. Akar padi akan
203
mengalami penurunan bila sawah
digenangi air, hingga mencapai ¾
total akar saat tanaman mencapai
masa berbunga. Saat itu akar
mengalami die back (akar hidup tapi
bagian atas mati). Keadaan ini
disebut juga “senescence”, yang
merupakan proses alami, tapi
menunjukkan tanaman sulit bernafas,
sehingga menghambat fungsi dan
pertumbuhan tanaman. Dengan SRI,
petani hanya memakai kurang dari ½
kebutuhan air pada sistem tradisional
yang biasa menggenangi tanaman
padi. Tanah cukup dijaga tetap
lembab selama tahap vegetatif, untuk
memungkinkan lebih banyak oksigen
bagi pertumbuhan akar. Sesekali
(mungkin seminggu sekali) tanah
harus dikeringkan sampai retak. Ini
dimaksudkan agar oksigen dari udara
mampu masuk kedalam tanah dan
mendorong akar untuk “mencari” air.
Sebaliknya, jika sawah terus
digenangi, akar akan sulit tumbuh dan
menyebar, serta kekurangan oksigen
untuk dapat tumbuh dengan subur.
Selanjutnya Berkelaar (2005)
menambahkan selain empat prinsip
utama diatas, ada dua praktek tambahan
lain yang sangat penting dalam metode
SRI.
Keduanya tidak berlawanan dan telah
lama dikenal oleh petani dalam bercocok
tanam. Sehingga untuk menerapkan
kedua praktek tambahan ini tidak terlalu
sulit.
Kedua praktek tambahan tersebut adalah
:
1. Pendangiran
Pendangiran (membersihkan gulma dan
rumput) dapat dilakukan dengan tangan
atau alat sederhana. Pendangiran
pertama dilakukan 10 atau 12 hari setelah
tranplantasi, dan pendangiran kedua
setelah 14 hari. Minimal disarankan 2-3
kali pendangiran, namun jika ditambah
sekali atau dua kali lagi akan mampu
meningkatkan hasil hingga satu atau dua
ton per ha.
Yang lebih penting dari praktek ini bukan
sekedar untuk membersihkan gulma,
tetapi pengadukan tanah ini dapat
memperbaiki struktur dan meningkatkan
aerasi tanah.
Pendangiran ini membutuhkan banyak
tenaga, bisa mencapai 25 hari kerja untuk
1 ha. Tapi hal ini tidak sia-sia karena hasil
panen yang diperoleh sangat tinggi.
2. Asupan Organik
Petani disarankan untuk menggunakan
kompos, dan hasilnya lebih bagus.
Kompos dapat dibuat dari macam-macam
sisa tanaman (seperti jerami, serasah
tanaman, dan bahan dari tanaman
lainnya), dengan tambahan pupuk
kandang bila ada.
Daun pisang juga bisa menambah unsur
potasium, daun-daun tanaman kacangkacangan
dapat menambah unsur N, dan
tanaman lain seperti Tithonia dan
Afromomum angustifolium, memberikan
tambahan unsur P.
Kompos menambah nutrisi tanah secara
perlahan-lahan dan dapat memperbaiki
struktur tanah.
Di tanah yang miskin jika tidak di pupuk
kimia, secara otomatis perlu diberikan
masukan nutrisi lain.
Pedomannya: dengan hasil panen yang
tinggi, sesuatu perlu dikembalikan untuk
menyuburkan tanah.
Keuntungan dari SRI :
– Hasil-hasil yang lebih tinggi, baik
itu butiran maupun jerami.
– Mempersingkat umur panen (± 10
hari).
– Pemakaian bahan kimia lebih
sedikit
– Kebutuhan air lebih sedikit
– Persen bulir sekam lebih sedikit
204
– Meningkatnya berat bulir
– Tanpa perubahan ada ukuran
bulir
– Tahan badai siklon
– Tahan dingin
– Kesehatan tanah meningkat
melalui aktivitas biologis
Pada SRI semua tampak ideal untuk
direalisasikan, tetapi disamping itu juga
memiliki keterbatasan, diantaranya :
– SRI membutuhkan lebih banyak
tenaga kerja per ha daripada
metode tradisional.
– Dengan SRI, diperlukan lebih
banyak waktu juga untuk
mengatur pengairan sawah
dibandingkan cara lama.
– Pendangiran juga membutuhkan
waktu lebih banyak bila sawah
tidak digenangi air terus.
– Awalnya, SRI membutuhkan 50-
100% tenaga kerja (yang terampil
dan teliti) lebih banyak, tapi lama
kelamaan jumlah ini dapat
menurun.
Walaupun metode ini masih perlu
pengembangan lebih lanjut akan tetapi
dari hasil yang diperoleh memperlihatkan
harapan dapat meningkatkan produksi
pangan nasional.
Dalam hal produksi beras nasional maka
beberapa upaya yang dibutuhkan untuk
memelihara kapasitas sumberdaya
pangan adalah untuk memelihara
kapasitas melalui:
a. Pembangunan dan rehabilitasi sistem
irigasi, serta perbaikan pengelolaan
sumber daya air dalam rangka
menyediakan air yang cukup untuk
pertanian. Untuk itu perlu dilakukan :
(i) perbaikan dalam pengaturan,
kelembagaan pengelolaan, dan
pemanfaatan sumberdaya air, seperti
penatagunaan ruang/wilayah dan
penerapan peraturan secara disiplin,
oleh Pemda dan Depdagri; (ii)
fasilitasi pengelolaan sumber daya air
dan pengairan oleh Meneg
Kimpraswil; (iii) fasilitasi pemanfaatan
lahan pertanian secara produktif,
efisien dan ramah lingkungan oleh
Deptan; dan (iv) pemanfaatan dan
pengawasan sumberdaya lahan dan
perairan oleh masyarakat.
b. Menekan berlanjutnya alih fungsi
lahan beririgasi kepada usaha non
pertanian. Hal ini menyangkut
pengaturan/pembatasan dengan
sistem insentif yang dilaksanakan
secara lintas institusi antara lain: (i)
penetapan peraturan dan
penerapannya secara disiplin oleh
Pemda dan BPN; (ii) fasilitasi bagi
pengembangan berbagai usaha
masyarakat berbasis pertanian oleh
Departemen Teknis; dan (iii)
pengawasan oleh masyarakat
sebagai pelaku usaha.
c. Membuka lahan pertanian baru pada
lokasi-lokasi yang memungkinkan
dengan tetap memperhatikan rencana
tata ruang wilayah dan kaidah-kaidah
kelestarian lingkungan; yang
difasilitasi oleh Pemda.
Upaya untuk memacu peningkatan
produktivitas usaha pangan mencakup :
(i) penciptaan varietas unggul baru,
dan teknologi berproduksi yang
lebih efisien;
(ii) teknologi pasca panen untuk
menekan kehilangan hasil; dan
(iii) teknologi yang menunjang
peningkatan intensitas tanam.
Upaya ini dilaksanakan secara
sinergis oleh institusi penelitian,
pengembangan dan penyuluhan
lingkup Departemen Pertanian,
Ristek/BPPT, Perguruan Tinggi,
dan Lembaga/Dinas Teknis
setempat yang melaksanakan
alih pengetahuan dan teknologi
kepada masyarakat.
(iii) Upaya menyediakan insentif
untuk meningkatkan minat
masyarakat mengembangkan
usaha pangan dilakukan melalui:
penyediaan prasarana
205
transportasi, komunikasi,
perdagangan (Pemda,
Kimpraswil, Swasta); pelayanan
administrasi perizinan usaha
produksi, industri, distribusi yang
sederhana dan cepat (Pemda);
pelayanankeuangan/permodalan
yang cepat dan murah (Pemda,
Swasta).
(iv) Di sisi permintaan, upaya
menurunkan konsumsi beras per
kapita dapat dilakukan melalui
penggalakan program
diversifikasi pangan dengan
pemanfaatan pangan sumber
kalori, protein, vitamin dan
mineral yang dapat diproduksi
secara lokal. Beberapa upaya
diantaranya adalah:
– Sosialisasi, pelatihan, dan
pendidikan sejak usia sekolah,
tentang pola makan dengan gizi
seimbang dengan sumbersumber
pangan bervariasi; oleh
lembaga-lembaga pendidikan dan
pelatihan daerah dengan
dukungan dari pusat.
– Pengembangan teknologi
pengolahan untuk meningkatkan
daya tarik ekonomis dan fisik dari
berbagai bahan pangan
lokal/tradisional non berasyang
difasilitasi oleh unit Litbang
Departemen Teknis, Deperindag,
Perguruan Tinggi dan Swasta.
– Pengembangan industri
pengolahan dengan bahan-bahan
pangan lokal oleh swasta yang
difasilitasi oleh Pemda dan
Deperindag.
8.2. Teknik Budidaya Jagung
a. Botani Jagung
(Zea mays L.) merupakan salah satu
tanaman pangan dunia yang terpenting,
selain gandum dan padi. Sebagai sumber
karbohidrat utama di Amerika Tengah dan
Selatan, jagung juga menjadi alternatif
sumber pangan di Amerika Serikat.
Penduduk beberapa daerah di Indonesia
(misalnya di Madura dan Nusa Tenggara)
juga menggunakan jagung sebagai bahan
makanan pokok.
Tanaman ini mempunyai fungsi banyak
yaitu:
a. Sumber karbohidrat
b. Pakan ternak (hijauan maupun
tongkolnya),
c. Diambil minyaknya (dari biji)
d. Tepung (dari biji, dikenal dengan
istilah tepung jagung atau
maizena),
e. Bahan baku industri (dari tepung
biji dan tepung tongkolnya).
Tongkol jagung kaya akan
pentosa, yang dipakai sebagai
bahan baku pembuatan furfural.
f. Bahan farmasi, jagung yang telah
direkayasa genetika juga
sekarang ditanam sebagai
penghasil bahan farmasi.
Berdasarkan bukti genetik, antropologi,
dan arkeologi diketahui bahwa daerah
asal jagung adalah Amerika Tengah
(Meksiko bagian selatan).
Budidaya jagung telah dilakukan di
daerah ini 10.000 tahun yang lalu,
kemudian teknologi ini dibawa ke Amerika
Selatan (Ekuador) sekitar 7000 tahun
yang lalu, dan mencapai daerah
pegunungan di selatan Peru pada 4000
tahun yang lalu. Kajian filogenetik
menunjukkan bahwa jagung (Zea mays
ssp. mays) merupakan keturunan
langsung dari teosinte (Zea mays ssp.
parviglumis).
Dalam proses domestikasinya, yang
berlangsung paling tidak 7000 tahun oleh
penduduk asli setempat, masuk gen-gen
dari subspesies lain, terutama Zea mays
ssp. mexicana. Istilah teosinte
sebenarnya digunakan untuk
menggambarkan semua spesies dalam
genus Zea, kecuali Zea mays ssp. mays.
206
Proses domestikasi menjadikan jagung
merupakan satu-satunya spesies
tumbuhan yang tidak dapat hidup secara
liar di alam.
Hingga kini dikenal 50.000 varietas
jagung, baik ras lokal maupun kultivar.
Jagung merupakan komoditas andalan
yang dirasakan mempunyai keunggulan
komparatif karena :
– Saat ini Indonesia masih
mengimpor jagung dalam jumlah
besar + 700.000 ton per tahun
untuk keperluan industri pakan
ternak.
– Peluang pakan ternak yang
cukup besar di Kalimantan Barat
dan saat ini Kalimantan Barat
masih mendatangkan jagung dari
Semarang (Jawa Tengah)
sebesar + 10.000 ton/tahun.
– Ketersediaan Lahan untuk
pengembangan jagung di
Kalimantan Barat cukup besar
yang didukung dengan
ketersediaan teknologi dan SDM.
Selain itu juga adanya serta
sudah terbentuknya kemitraan
dengan swasta yaitu di Sanggau
Ledo (Kab. Bengkawang)
b Deskripsi
Jagung merupakan tanaman semusim
(annual). Satu siklus hidupnya
diselesaikan dalam 80-150 hari.
Paruh pertama dari siklus merupakan
tahap pertumbuhan vegetatif dan paruh
kedua untuk tahap pertumbuhan
generatif.
Tinggi tanaman jagung sangat bervariasi.
Meskipun tanaman jagung umumnya
berketinggian antara 1m sampai 3m, ada
varietas yang dapat mencapai tinggi 6m.
Tinggi tanaman biasa diukur dari
permukaan tanah hingga ruas teratas
sebelum bunga jantan.
Meskipun beberapa varietas dapat
menghasilkan anakan (seperti padi), pada
umumnya jagung tidak memiliki
kemampuan ini.
Akar jagung tergolong akar serabut yang
dapat mencapai kedalaman 8 m
meskipun sebagian besar berada pada
kisaran 2 m.
Pada tanaman yang sudah cukup dewasa
muncul akar adventif dari buku-buku
batang bagian bawah yang membantu
menyangga tegaknya tanaman.
Gambar 57. Akar jagung
Batang jagung tegak dan mudah terlihat,
sebagaimana sorgum dan tebu, namun
tidak seperti padi atau gandum. Terdapat
mutan yang batangnya tidak tumbuh
pesat sehingga tanaman berbentuk roset.
Batang beruas-ruas. Ruas terbungkus
pelepah daun yang muncul dari buku.
Batang jagung cukup kokoh namun tidak
banyak mengandung lignin.
Gambar 58 Batang jagung
Daun jagung adalah daun sempurna.
Bentuknya memanjang. Antara pelepah
dan helai daun terdapat ligula. Tulang
daun sejajar dengan ibu tulang daun.
Permukaan daun ada yang licin dan ada
yang berambut. Stomata pada daun
jagung berbentuk halter, yang khas
dimiliki familia Poaceae. Setiap stomata
dikelilingi sel-sel epidermis berbentuk
kipas.
207
Struktur ini berperan penting dalam
respon tanaman menanggapi defisit air
pada sel-sel daun.
Gambar 59 daun jagung
Jagung memiliki bunga jantan dan bunga
betina yang terpisah (diklin) dalam satu
tanaman (monoecious).
Tiap kuntum bunga memiliki struktur khas
bunga dari suku Poaceae, yang disebut
floret. Pada jagung, dua floret dibatasi
oleh sepasang glumae (tunggal: gluma).
Bunga jantan tumbuh di bagian puncak
tanaman, berupa karangan bunga
(inflorescence). Serbuk sari berwarna
kuning dan beraroma khas.
Bunga betina tersusun dalam tongkol.
Tongkol tumbuh dari buku, di antara
batang dan pelepah daun.
Pada umumnya, satu tanaman hanya
dapat menghasilkan satu tongkol
produktif meskipun memiliki sejumlah
bunga betina.
Gambar 60. Bunga jantan
Gambar 61 Bunga Betina
Gambar 62 Buah Jagung siap panen
Beberapa varietas unggul dapat
menghasilkan lebih dari satu tongkol
produktif, dan disebut sebagai varietas
prolifik. Bunga jantan jagung cenderung
siap untuk penyerbukan 2-5 hari lebih dini
daripada bunga betinanya (protandri).
c. Perbaikan teknologi produksi jagung
Untuk mengimbangi permintaan akan
produksi jagung maka pemerintah
menerapkan beberapa paket teknologi
intuk meningkatkan peoduksi jagung.
Dibawah ini diberikan merupakan
alternatif pertanaman jagung pada lahan
kering yang dikeluarkan Departemen
Pertanian.
Urutan kerja pada teknologi budidaya ini
adalah:
1. Pengolahan tanah sederhana
atau tanpa olah tanah (TOT).
2. Varietas yang digunakan adalah
bersari bebas (varietas Bisma)
maupun hibrida sebanyak 20
kg/ha, yang telah diperlakukan
ridomil, benih ditugal dengan
jarak tanam 80 x 40 cm dengan
2 biji /lubang .
3. Pemupukan sesuai dengan
rekomendasi setempat, yaitu
seluruh pupuk SP-36, KCI dan
208
1/2 bagian Urea diberikan
bersamaan tanam atau 7-10 hari
setelah tanam sebagai pupuk
dasar, dengan cara ditugal 5 cm
dari lubang tanaman.
4. Pupuk susulan ‘/2 bagian Urea
diberikan pada umur tanaman 1
bulan setelah tanam, pupuk
diberikan dengan cara tugal
sedalam 5-10 cm ditutup
kembali.
5. Penyiangan dilakukan 2 kali
yaitu umur 2 minggu dan 4
minggu setelah tanam sekaligus
membumbun.
6. Pengendalian hama penyakit
dilakukan dengan menerapkan
konsep pengendalian hama
terpadu (PHT).
7. Panen dan pasca panen,
tanaman dipanen apabila klobot
berwarna keputihan/coklat dan
mengering dengan biji mengkilap
dan kadar air 25-30 %.
Untuk lebih jelasnya perhatikan urutan
gambar berikut:
Gambar 63 Urutan penanaman jagung
d.gejala kahat hara
Beberapa gejala gejala kahat satu atau
lebih hara esensia pada jagung
Petani jagung harus belajar mengenal
gejala gejala kahat satu atau lebih hara
esensial yang diperlukan untuk
pertumbuhan tanaman yang sehat untuk
memperoleh hasil yang menguntungkan.
Kita harus dapat menjadi dokter untuk
tanaman jagungmu sendirl.
Melihat kebun secara teratur dan
mengidentifikasi gejala dari suatu
masalah merupakan aspek penting dari
budidaya tanaman. Keuntungan optimum
dari investasi untuk produksi tergantung
dari suplai hara yang cukup selama
pertumbuhan tanaman.
Gejala kahat hara yang timbul disebabkan
karena kebutuhannya tidak terpenuhi.
Hendaknya kebun dicek beberapa kali
selama satu musim. Kahat hara yang
dapat dideteksi dini dapat diatasi dengan
pemupukan dalam alur di sisi tanaman.
Andaikata tidak dapat diatasi dalam tahun
ini, asal diketahui di mana masalah
tersebut timbul, maka sudah merupakan
informasi yang sangat berarti untuk
perencanaan pemupukan pada musim
berikutnya.
Daun tanaman yang sehat harus
berwarna hijau tua. Hal ini menunjukkan
bahwa daun tersebut berkadar klorofil
tinggi yang sangat dibutuhkan untuk
menangkap sinar matahari untuk
menghasilkan gula yang diperlukan untuk
pertumbuhan dan perkembangan
tanaman.
Kahat nitrogen
Kahat nitrogen (N) tidak mudah dideteksi
waktu tanaman masih muda. Namun bila
berwarna hijau kekuningan, maka
kemungkinan tanaman kahat N. Bila
kahat N dapat dideteksi dini, pemberian
pupuk N dalam alur di sisi tanaman dapat
mengatasi masalah ini.
Setelah tanaman kira-kira setinggi lutut,
tingkat pertumbuhan akan meningkat
yang diikuti dengan kebutuhan N yang
meningkat cepat. Kebutuhan 3, 4 kg
N/ha/hari adalah umum dan kebutuhan ini
209
meningkat dua kali lipat saat
pertumbuhan maksimum. Bila N tidak
tersedia dalam jumlah cukup, maka
warna ujung daun tua akan berubah
menjadi kuning dan warna ini akan
berkembang sepanjang tulang daun
utama. Karena N sifatnya mobil dalam
tanaman, gejala kahat N ini berangsurangsur
akan merambah ke daun-daun di
atasnya. Daun tua kemudian akan mati.
Uji N jaringan tanaman dapat dilakukan
dengan menggunakan indikator kimia
atau alat elektronik untuk membantu
mengdiagnosis kahat N ini. Tanaman mati
muda dengan tongkol yang kecil dan
bijinya sedikit.
Kahat fosfor
Kahat fosfor (P) umumnya sudah tampak
waktu tanaman masih muda. Gejala awal
dimulai dengan daun yang berwarna
ungu-kemerahan. Tangkai yang lemah
dan kecil tanpa tongkol atau tongkolnya
kacil dan melilit – juga merupakan indikasi
kahat P. Suhu rendah dan udara kering
atau sangat basah pada awal
pertumbuhan atau restriksi fisik untuk
pertumbuhan akar dapat menyebabkan
kahat P, meskipun P dalam tanah cukup.
Kahat P juga menyebabkan panen
terlambat. Serapan P yang banyak per
hari saat pertumbuhan yang cepat
menekankan pentingnya kesuburan tanah
yang tinggi yang mampu menyuplai hara
P yang cukup.
Kahat kalium
Kahat kalium (K) dimulai dengan warna
kuning atau kecoklatan sepanjang pinggir
daun pada daun tua. Warna tersebut
akan berkembang ke arah tulang daun
utama dan pada daun-daun di atasnya.
Gejala umum kahat K lainnya adalah
warna coklat tua pada buku batang
bagian dalam dan dapat diketahui dengan
mengiris batang secara memanjang.
Ukuran tongkol kadang-kadang tidak
terlalu dipengaruhi seperti halnya pada
kahat N dan P, tetapi biji-biji jagung pada
ujung tongkol tidak berkembang dan
tongkol jagung banyak kelobotnya
dengan biji sedikit sebagai akibat kahat K.
Kalium juga merupakan faktor utama
dalam efisiensi penggunaan air dan
karena itu pengaruh kekeringan akan
lebih nyata bila tanaman kahat K. Saat
kebutuhan maksimum menyebabkan
serapan K lebih banyak daripada N. Hal
ini menunjukkan pentingnya kesuburan
tanah yang tinggi untuk mencapai
produksi yang menguntungkan.
Kahat hara lainnya
Kecuali N, P dan K, kahat hara lainnya
tidak sering dijumpai di lapang, tetapi
dapat merupakan pembatas penting
produksi. Kahat belerang (S) tampak
pada daun muda yang berwarna hijau
muda dengan pertumbuhan yang
terhambat. Sering dijumpai pada tanah
berpasir atau tanah dengan kadar bahan
organik rendah. Berbagai pupuk yang
mengandung S dapat digunakan untuk
mengatasi masalah ini.
Kahat magnesium (Mg) menyebabkan
timbulnya warna keputihan sepanjang
kanan kiri tulang daun pada daun tua
dengan warna merah keunguan
sepanjang pinggir daun. Gejala ini dapat
merupakan indikasi bahwa tanahnya
masam, terutama timbul pada tanaman
muda dengan pengolahan tanah yang
kurang intensif. Pemberian dolomit dapat
mengatasi masalah kahat Mg ini pada
tahun-tahun berikutnya. Bila pH tidak
merupakan masalah, maka sumber Mg
lainnya seperti Kalium-Magnesium-Sulfat
dapat mengatasi kahat Mg ini.
Daun pucuk yang mengering atau melilit
merupakan indikasi kahat tembaga (Cu).
Kahat seng (Zn) ditandai oleh garis-garis
klorotik yang paralel dengan tulang daun
utama pada daun muda, ruas pendek dan
tanaman kerdil. Tanaman tanpa tongkol
atau tongkolnya steril pada pertanaman
dengan populasi tinggi yang mendapat
pupuk cukup dapat disebabkan oleh
kahat boron (B).
210
Lahan masam mempengaruhi serapan
berbagai hara dan dapat menyebabkan
tanaman kahat hara, meskipun tanaman
dipupuk cukup. Uji tanah perlu
dilaksanakan secara teratur untuk
mengidentifikasi masalah-masalah yang
berkaitan dengan pH dan memonitor
kadar P dan K tanah. Uji nitrat pada profil
tanah akan memberikan informasi yang
baik untuk arahan pemupukan N di
daerah di mana residu nitrat masih tersisa
dari musim sebelumnya. Di daerah yang
lebih
Gejala Daun
Daun sehat mengkilat dan berwama hijau
tua bila tanaman mendapat suplai hara
yang cukup.
Kahat FOSFOR daunnya berwarna ungukemerahan,
terutama pada tanaman yang
masih muda.
Kahat KALIUM ujung dan tepi daunnya
berwarna kekuningan atau mengering.
Kahat NITROGEN dimulai dengan wama
kekuningan pada ujung daun dan
berkembang sepanjang tulang daun
utama.
Kahat MAGNESIUM menyebabkan
timbulnya garis-garis keputihan
sepanjang tulang daun dan seringkali
timbul warna ungu pada bagian bawah
dari daun tua.
KEKERINGAN menyebabkan tanaman
berwarna hijau-keabuan; daun-daun
menggulung sebesar pensil.
PENYAKIT Helminthosporium dimulai
dengan bercak kecil dan berangsurangsur
berkembang pada seluruh daun.
Zat kimia kadang-kadang menyebabkan
1. Batang sehat mempunyai ukuran
normal. Batang tersebut bila dipotong
memanjang akan terlihat bagian
dalam batang berwarna keputihan
dan sehat.
2. Tanaman perlu dipupuk KALIUM
apabila batang dipotong menunjukkan
wama coklat pada bukunya.
3. Kahat FOSFOR mempunyai batang
yang lemah dan kecil, kadang-kadang
tanaman tidak membentuk tongkol
atau tongkolaya kecil. Perhatikan
warna ungu pada daun tua.
4. Tanaman jagung membentuk
ANAKAN bila tanaman dipupuk terlalu
banyak Nitrogen pada awal
pertumbuhan.
5. Gejala serangan penyakit pada
batang juga menyebabkan timbulnya
ikatan pembuluh yang berwarna
kehitaman pada batang bagian atas
dengan warna yang lebih gelap pada
batang bagian bawah. Busuk pada
batang bagian dalam menyebabkan
tanaman cepat mati dan batangnya
patah. Tongkolnya mengecil
Gambar 64. Beberapa gejala kerusakan
pada batang jagung
Gejala pada akar
1. Akar yang banyak dan dalam dari
tanaman menunjukkan tanaman
sehat
2. FOSFOR pada awal
pertumbuhan menyebabkan
perkembangan akar tidak
sempurna.
3. Cacing akar memakan akar halus
dan membuat tanaman tidak
tumbuh sempurna
211
4. Tanah masam menyebabkan
akar bagian bawah berubah
warna dan busuk, terutama pada
akar penunjang yang tumbuh
pada buku ketiga dan keempat.
5. Kerusakan karena zat kimia
menyebabkan akar tidak
berkembang
Ciri-ciri kerusakan akar tanaman jagung
seperti tersebut diatas dapat dilihat pada
gambar berikut yang dimulai dari atas dan
seterusnya
1
2
3
4
5
Gambar 65. Beberapa gejala kerusakan
pada akar jagung
Gejala kekurangan, kelebihan ataupun
penyakit juga dapat dlihat pada tongkol
buah, seperti tertera diwah ini
1.TONGKOL NORMAL yang mendapat
cukup pupuk dan berproduksi tinggi,
beratnya sekitar 150-225 gram. Ujung
kelobot fidak penuh berisi biji.
2.TONGKOL BESAR yang beratnya lebih
dari225gram dengan bijiyang memenuhi
ujung kelobot merupakan indikasibahwa
populasi tanaman terlalu sedikit untuk
mencapai produksiyang menguntungkan.
3.TONGKOL KECIL menunjukkan bahwa
tanahnya kurang subur, populasi tanaman
terlalu banyak atau ada masalah lainnya.
4.KAHAT KALIUM menyebabkan ujung
tongkol tidak berbiji penuh, bijinya jarang
dan tidak sempurna.
5.KAHAT FOSFOR mengganggu
persarian dan pembentukan biji.
Tongkolnya kecil, sering bengkok dengan
pembentukan biji yang tidak sempuma.
RAMBUT HIJAU saat tongkol masak
menunjukkan bahwa tanaman terlalu
banyak dipupuk Nitrogen
UDARA KERING menyebabkan
pembentukan rambut yang lambat;
persarian tidak sempuma pada saat
pembentukan biji.
212
Gambar 66 Beberapa gejala kerusakan
pada tongkol
Biji jagung kaya akan karbohidrat.
Sebagian besar berada pada
endospermium. Kandungan karbohidrat
dapat mencapai 80% dari seluruh bahan
kering biji.
Karbohidrat dalam bentuk pati umumnya
berupa campuran amilosa dan
amilopektin.
Pada jagung ketan, sebagian besar atau
seluruh patinya merupakan amilopektin.
Perbedaan ini tidak banyak berpengaruh
pada kandungan gizi, tetapi lebih berarti
dalam pengolahan sebagai bahan
pangan.
Jagung manis tidak mampu memproduksi
pati sehingga bijinya terasa lebih manis
ketika masih muda.
Secara rinci kandungan zat apa saja yang
terdapat pada jagung adalah: gula,
kalium, asam jagung dan minyak lemak.
Utrennya (buah yang masih muda)
banyak mengandung zat protein, lemak,
kalsium, fosfor, besi, belerang, vitamin A,
B1, B6, C dan K.
Rambutnya mengandung minyak lemak,
damar, gula, asam maisenat dan garamgaram
mineral.
Biji buah jagung biasanya di buat tepung
jagung (maizena).
e. Manfaat dan kegunaan
Salah satu manfaat jagung adalah diuretik
(memperlancar air seni) karena
kandungan kaliumnya yang tinggi
terutama pada rambut dan tongkol
mudanya.
Selain itu, kandungan thiamin bisa
mengeringkan luka seperti misalnya luka
pada cacar air. Kandungan fosfornya baik
untuk tulang dan gigi.
Kegunaan jagung adalah:
1. Melancarkan air seni
2. Radang ginjal, batu ginjal
3. Hipertensi
4. Diabetes
5. Melancarkan ASI
6. Rakhitis
7. Batu empedu
8. Cacar air
9. Diare
10. Keguguran (rambut, daun dan
tongkol mudanya)
f. Teknik Budidaya Jagung Sukmaraga
Produksi jagung dewasa ini tidak dapat
memenuhi kebutuhan dalam negeri
sehingga diperlukan impor.
Keadaan ini tidak dapat dibiarkan karena
akan merugikan para peternak yang
membutuhkan pakan, dimana jagung
memegang peran 51 % sebagai bahan
pokok pembuatan pakan.
Untuk mengatasi hal ini maka dicarilah
varietas jagung yang dapat berproduksi
sampai 8,5 ton/ha.
Oleh karena itu perlu suatu acuan
teknologi budidaya jagung sukmaraga,
sehingga petani yang mencoba dan
mengembangkan jagung sukmaraga
dapat berhasil sesuai potensial hasil dari
jagung tersebut.
Diharapkan dengan berhasilnya petani
menerapkan jagung sukmaraga,
peningkatan produksi jagung dapat
meningkat. Mengingat jagung sukmaraga
adalah jagung komposit dapat ditanam
ulang sampai 3 (tiga) kali tanam tidak
seperti jagung Hibrida hanya 1 (satu) kali
tanam sehingga harus beli lagi, jadi cukup
menghemat input sarana produksi.
1Penyiapan lahan
1. Tanah dibajak 15-20 cm,
gemburkan dan ratakan, atau tanpa
olah tanah bagi tanah
gembur/ringan.
2. Bersih dari sisa-sia tanaman dan
tumbuhan pengganggu.
2. Penanaman
1. Buat lubang tanam dengan tugal
sedalam 5 cm.
2. Jarak tanam 75 cm x 40 cm (2
tanaman /rumpun), atau 75 cm x
20 cm (1tanaman /rumpun)
213
3. Masukkan benih dalam lubang
tanam dan tutup dengan tanah
atau pupuk kandang.
3 Pemupukan
1. Takaran pupuk: untuk yang telah
dika\ji di Lampung 350 kg
urea/ha + 150 kg SP 36/ha +
100 kg KCL/ha.
2. Pupuk diberikan 2 kali, pertama
7-10 hst (200 kg urea/ha + 150
kg SP 36/ha +100 kg KCL/ha)
kedua:30-35 hst(250 kg
urea/ha).
3. Pupuk diberikan dalam lubang/
larikan + 10 cm
4. Disamping tanaman ditutup
dengan tanah .
5.Penyiangan
1. Penyiangan pertama pada umur
15 hst.
2. Penyiangan kedua pada umur 28-
30 hst, dilakukan sebelum
pemupukan kedua.
6. Pengendalian hama penyakit
Pengendalian penyakit bulai dapat
dilakukan dengan: Benih jagung 1 kg
dicampur 2 gr Ridomil atau Saromil yang
dilarutkan dalam 7,5 –10 ml air.
Sedangkan untuk pengendalian hama
penggerek diberi insektisida Furadan 3G
melalui pucuk tanaman (3-4 butir/
tanaman).
7. Pemberian air (khususnya musim
kemarau)
Pada saat sebelum tanam 15 hari setelah
tanam 30 hst , 45 hst, dan 75 hst (6 kali
pemberian).
Sumber air dapat dari irigasi permukaan
atau tanah dangkal (sumur) pompa
8.Panen
Jagung siap dipanen jika klobot sudah
mengering dan berwarna coklat muda, biji
mengkilap, dan bila ditekan dengan kuku
tidak membekas.
g.Beberapa kendala budidaya jagung
hibrida
Jagung adalah tanaman yang sangat
akrab dengan petani. Komoditas ini
merupakan salah satu bahan pangan
andalan. Beberapa daerah di Indonesia
masyarakatnya menjadikan jagung
sebagai bahan makanan pokok di
samping beras dan umbi-umbian.
Tak heran, rencana mengembangkan
jagung hibrida di Indonesia hingga
mencapai produksi lima juta ton pada
tahun 2010 merupakan peluang besar
bagi petani untuk meningkatkan produksi
dan pendapatan.
Harus dicatat bahwa komoditas jagung
yang dihasilkan petani. selama ini
bersumber dari benih lokal yang ditanam
secara tradisional. Selain tingkat
produktivitas yang rendah, jagung lokal itu
tidak laku di pasaran dalam negeri
sebagai bahan baku industri pakan.
Kondisi sosial petani jagung juga
merupakan tantangan tersendiri bagi
usaha pengembangan jagung hibrida.
Sebagian besar petani, masih bergantung
pada kemurahan alam.
Belum akrab dengan teknologi, seperti
penggunaan pupuk dan obat-obatan.
Padahal, tanpa perlakuan khusus, benih
jagung hibrida tidak bakal mencapai
tingkat produktivitas standar, yaitu 7 ton-8
ton per hektar.
Analisa biaya produksi jagung hibrida
dicantumkan pada Tabel 10.
Jagung juga mempunyai beberapa
manfaat, dibawah ini adalah pohon
industri dari pada jagung
8.3 Teknik Budidaya Kedelai
a. Botani
Kedudukan kedelai dalam sisitematika
tumbuhan (taksonomi) diklasifikasikan
sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Devisi : Spermatophyta
Sub-divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Polypetales
Famili : Leguminosa
Sub Famili : Papilionoideae
Genus : Glysin
Species : Glycine max (L) Merill.
Kedelai dikenal dengan beberapa nama
lokal diantarnya adalah kedele, kacang
214
jepung, kacang bulu, gedela dan
demokam. Di jepang dikenal adanya
kedelai rebus (edamame) atau kedelai
manis, dan kedelai hitam (koramame)
sedangkan nama umum di dunia disebut
“soyabean”.
b. Morfologi
Susunan tubuh kedelai terdiri atas dua
macam alat organ utama yaitu vegetatif
dan generatif.
Organ vegetatif meliputi:
– akar
– batang
– daun
Organ generatif meliputi:
– bunga
– buah
– biji
Struktur akar tanaman kedelai terdiri atas
akar lembaga (radikula), akar tunggang
(radix primaria), dan akar cabang (radix
lateralis) berupa akar rambut.
Akar kedele memiliki kemampuan
membentuk bitil akar (nodul). Bintil-bintil
akar bentuknya bulat atau tidak beraturan
yang merupakan koloni dari bakteri
Rhizobium japonicum. Bakteri ini
bersimbiosis dengan nitrogen bebas dari
udara.
Jumlah nitrogen yang dapat ditambat
bakteri ini berkisar 40-70% dari seluruh
nitrogen yang dibutuhkan tanaman.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tiap
hektar lahan yang ditanaman kacang
kedele dapat menghasilkan 198 kg bintil
akar per tahun atau setara dengan 440 kg
pupuk urea.
Pada tanah yang belum atau telah lama
tidak ditanami kacang-kacangan biasanya
populasimikrobia penambat N sedikit.
Oleh karenanya tanah yang belum pernah
ditanamami kacangan maka perlu
dikembangkan teknik inokulasi rhizobium.
Kedele berbatang semak yang dapat
mencapai ketinggian antara 30-100cm.
Batang beruas-ruas dan memiliki
percabangan antara 3 -6 cabang.
Tipe pertumbuhan kedele dibedakan 3
macam, yaitu:
– tipe determinate
– Tipe semi determinate
– Tipe indeterminate
Tipe determinate, memiliki ciri antara lain:
– ujung batang tanaman hampir
sama besarnya
– Pembungaan serentak
– Tinggi tanaman termasuk
kategori pendek sampai sedang
– Daun paling atas ukurannya
samabesar dengan daun bagian
tengah
Tipe indeterminate, mempunyai ciri antara
lain:
– ujung tanaman lebih kecil dari
ujung tengah
– ruas batangnya panjang panjang,
dan agak melilit
– pembungaan berangsur-angsur
dimulai dari bawah
– pertumbuhan vegetatif terus
menerus berlangsung
– Tinggi batang termasuk kategori
sedang sampai tinggi
– Ukuran daun paling atas lebih
kecil dibandingkan dengan daun
bagian tengah
Tipe semi-determinate mumpangai ciri
antara dua tipe diaras.
Daun kedelai mempunyai ciri antara lain
helai daun (lamina) oval dan tata letaknya
pada tangkai daun bersifat majemuk
berdaun tiga (trifoliatus).
Gambar 68 Daun kedele
215
Tanaman kedele memiliki bunga
sempurna (hermaphrodite), yakni pada
tiap kuntum bunga terdapat alat kelamin
betina (putik) dan alat kelamin jantan
(benangsari).
Mekarnya bunga berlangsung pada pukul
08.00-09.00 dan penyerbukannya bersifat
menyerbuk sendiri.
Kuntum bunga tersusun dalam rangkaian
bunga, namun tidak semua bunga dapat
menjadi polong (buah), sekitar 60%
bunga rontiok sebelum membentuk
polong.
Umur keluarnya bunga kedelai
bergantung varietasnya. Tanaman ini
menghendaki penyinaran pendek lebih
kurang 12 jam per hari.
Buah kedelai disebut polong yang
tersusun dalam rangkaian buah. Tiap
plong berisi antara 1-4 biji per polong.
Jumlah polong per tanaman bergantung
pada varietasnya. Kedelai yang
ditanaman pada tanah subur pada
umumnya dapat menghasilkan 100-
200polong/pohon.
Biji kedelai umunya berbentuk bulat, atau
pipih sampai bulat lonjong, dengan warna
bervariasi kuning, hijau, cokllat atau
hitam.
c. Varietas
Varietas kedelai sudah ditanam di
Indonesia pada mulanya berasal dari
diantaranya jepang, Taiwan, Amerika
Serikat, dan sebagainya.
Kriteria varietas unggul kedelai adalah:
– Berproduksi tinggi
– Berumur pendek
– Tahan (resisten) terhadap
penyakit berbahaya
– Mempunyai daya adaptasi luas
terhadap berbagai keadaan
lingkungan tumbuh.
d. Pedoman teknis
d.1Syarat Tumbuh
d.1.1 Tanah
Tanaman kedele dapat tumbuh pada
berbagai jenis tanah dengan drainase
dan aerasi tanah yang cukup baik
serta air yang cukup selama
pertumbuhan tanaman. Tanaman
kedele dapat tumbuh baik pada tanah
alluvial, regosol, grumosol, latosol
atau andosol. Pada tanah yang
kurang subur (miskin unsur hara) dan
jenis tanah podsolik merah-kuning,
perlu diberi pupuk organik dan
pengapuran.
d.1.2 Iklim
Kedele dapat tumbuh subur pada : curah
hujan optimal 100-200 mm/bulan.
Temperatur 25-27 derajat Celcius dengan
penyinaran penuh minimal 10 jam/hari.
Tinggi tempat dari permukaan laut 0-900
m, dengan ketinggian optimal sekitar 600
m. Air . Curah hujan yang cukup selama
pertumbuhan dan berkurang saat
pembungaan dan menjelang pemasakan
biji akan meningkatkan hasil kedele.
d.2.Teknik Budidaya
d.2.1 Persiapan lahan
Pengolahan lahan dimulai sebelum
jatuhnya hujan. Tanah diolah dengan
bajak dan garu/cangkul hingga gembur.
Untuk pengaturan air hujan perlu dibuat
saluran drainase pada setiap 4 m dan di
sekeliling petakan sedalam 30 cm dan
lebar 25 cm. Kedele sangat terganggu
pertumbuhannya bila air tergenang.
Tanah bekas pertanaman padi tidak perlu
diolah (tanpa olah tanah = TOT).
Jika digunakan lahan tegal lakukan
pengolahan tanah secara intensif yakni
dengan 2 kali dibajak dan sekali
diratakan.
Buat saluran dengan kedalaman 25–30
cm dan lebar 30 cm setiap 3–4 m, yang
berfungsi untuk mengurangi kelebihan air
sekaligus sebagai saluran irigasi pada
saat tidak ada hujan.
216
Gambar 69 Setelah penanaman padi
dapat dilakukan penanaman kedele
Perlakuan benih Untuk mencegah
serangan hama lalat bibit, sebelum
ditanam benih dicampur Marshall dengan
dosis 100 gram/5 kg benih. Benih
dibasahi secukupnya lalu dibubuhi
Marshall dan diaduk rata.
d.2.2Penanaman
Dianjurkan menggunakan benih
bersertifikat dengan kebutuhan benih
sekitar 40 kg/ha. Penanaman benih
dengan cara ditugal, jarak tanam 40 x 10
cm atau 40 x 15 cm sesuai kesuburan
tanah, setiap lubang tanaman diisi 2 butir
benih lalu ditutup dengan tanah tipis-tipis.
Gambar 70 Areal pertaanaman kedele
d.2.3 Pengairan
Fase pertumbuhan tanaman yang sangat
peka terhadap kekurangan air adalah
awal pertumbuhan vegetatif (15–21 HST),
saat berbunga (25–35 HST) dan saat
pengisian polong (55–70 HST). Dengan
demikian pada fase-fase tersebut
tanaman harus diairi apabila hujan sudah
tidak turun lagi.
d.2.4 Pemupukan
Dianjurkan menggunakan pupuk Urea 50
kg, TSP 100 kg dan KCl 50 kg/ha atau
sesuai anjuran setempat. Seluruh jenis
pupuk diberikan pada waktu bersamaan
yaitu saat pengolahan tanah terakhir.
Mula-mula Urea dan TSP dicampur lalu
disebar merata, disusul penyebaran KCl
kemudian diratakan dengan penggaruan.
d.2.5 Penyulaman Benih
Benih yang tidak tumbuh segera disulam,
sebaiknya memakai bibit dari varietas dan
kelas yang sama. Penyulaman paling
lambat pada saat tanaman berumur 1
minggu.
d.2.6 Penyiangan
Penyiangan dilakukan paling sedikit dua
kali, karena di lahan kering gulma tumbuh
dengan subur pada musim penghujan.
Penyiangan I pada saat tanaman berumur
2 minggu, menggunakan cangkul.
Penyiangan II bila tanaman sudah
berbunga (kurang lebih umur 7 minggu),
menggunakan arit atau gulma dicabut
dengan tangan.
d.2.7 Pengendalian hama
Tidak kurang dari 100 jenis serangga
dapat menyerang kedele. Pengendalian
di tingkat petani terutama di daerah
sentra produksi sering menggunakan
insektisida secara berlebihan tanpa
memperdulikan populasi hama.
Hal ini selain menambah biaya juga
merusak lingkungan dan menimbulkan
kematian serangga berguna.
Untuk mengurangi frekuensi pemberian
insektisida adalah dengan aplikasi
insektida berdasarkan pemantauan hama.
Insektisida hanya akan digunakan bila
kerusakan yang disebabkan oleh hama
diperkirakan akan menimbulkan kerugian
secara ekonomi, yaitu setelah tercapainya
ambang kendali.
Pengendalian hama dilakukan
berdasarkan pemantauan. Pengendalian
hama secara bercocok tanam (kultur
teknis) dan pengendalian secara hayati
(biologis) saat ini dilakukan untuk
menekan pencemaran lingkungan.
Pengendalian secara kultur teknis antara
lain:
– penggunaan mulsa jerami
– pengolahan tanah
– pergiliran tanaman dan tanam
serentak dalam satu hamparan
– penggunaan tanaman perangkap
jagung dan kacang hijau.
Pengendalian secara biologis antara lain:
– penggunaan parasitoid
Trichogrammatoidea bactraebactrae
– penggunaan Nuclear Polyhidrosis
Virus (NPV) untuk ulat grayak
Spodoptera litura (SlNPV) dan
untuk ulat buah Helicoverpa
armigera (HaNPV)
– Penggunaan feromonoid seks
yang mampu mengendalikan ulat
grayak.

Beberapa jenis hama kedele adalah:
217
Lalat Kacang atau lalat bibit (Ophiomya
phaseoli tryon).
Hama ini memiliki ciri-ciri:
– berukuran 1.5-2.0mm, warna
hitam mengkilat. Berkembang
biak cepat satu ekor betina dapat
menghasilkan telur 100-300 butir
selama perode dua minggu.
– Bentuk telur lalat kacang adalah
lonjong, panjang 0.28-0.36 lebar
0.12-0.20mm, berwarna putih
mutiara. Telur menetas setelah
umur 2-4 hari.
Gejala serangan
– Bercak-bercak tidak beraturan
pada biji dan daun
– Lubang kecil bekas gigitan
Pengendalian
– Pergiliran tanaman
– Insektisida
Ulat Grayak (Spodotera litura F)
Ciri-ciri
– ngengat berwarna gelap dengan
garis putih pada sayap depan
– larva yang masih kecil hidup
berkelompok
– pembentukan pupa diatas
permukaan tanah
– daur hidup 30-61 hari
Gejala serangan
Ulat ini merusak seluruh bagian tanaman
Pengendalian
– rotasi tanaman dengan memutus
siklus hidupnya
Ulat jengkal (chrysodeixis chalcites Esp)
Ciri biologi
– Imago serangga dewasa
meletakkan telurnya di
permukaan bawah daun
– Larva membentuk kepompong
dan dalam anyaman daun,
kemudian berubah menjadi pupa.
– Daur ( siklus hidup) hama ini
berlangsung selama lebih kurang
30 hari.
Gejala serangan
– Hama ini bersifat pemangsa
segala jenis tanaman (polifag)dan
stadium yang membahayakan
adalah larva.
– Larva menyerang seluruh bagian
tanaman, terutama daun-daunnya
sehingga menjadi rusak tidak
beraturan.
Pengendalian
– Pengendalian non kimiawi antara
lain dengan pergiliran (rotasi)
tanaman, mengatur waktu tanam
secara serempak pada areal
sehamparan, pengumpulan larva
untuk dimusnahkan.
– Penyemprotan insektisida selektif
apabila populasi hama mencapai
85 ekor instar 1 atau 32 instar 2
atau 17 ekor instar 3per 12
tanaman. Jenis insektisida yang
mangkus antara lain Dekasulfan
350 EC, folimat 500 SL, Gusadrin
150 WSC, Hostathion 40 EC,
atau Matador 25 EC sesuai
konsentrasi yang dianjurkan.
Penggulung Daun
(Lamprosema Indica F.)
Ciri Biologi
– Larva berwarna hijau terang dan
hidup dalam gulungan daun
muda.
– Pupa dibentuk dalam gulungan
daun yang direkatkan satu sama
lain dengan zat perekat dari
hama tersebut.
Gejala serangan
Hama ini merusak kedele pada umur
tanaman 3-6 minggu setelah tanam.
Bagian daun digulung dan dimakan
sampai tulang daunnya, sehingga daun
rusak.
Pengendalian
– Pergiliran tanaman yang bukan
sefamili ataupun dengan
mengumpulkan dan
memusnahkannya
– Pengendalian kimiawi dengan
insektisida selektif.
Ulat polong atau buah
(Heliothis armigera Hbn)
Ciri biologi
– ngengat berwarna wawo matang
kekuning-kuningan
218
– telur kecil-kecil
– larva berwarna merah tua
– pupa dibentuk diatas tanah
– daur hidup 62 hari
Gejala serangan
– larva melubangi polong kedelai
sehingga rusak
Pengendalian
– non kimiawi melalui pergiliran
tanaman bukan sefamili, waktu
ranam yang serentak, dan
mekanis dengan cara
mengumpulkan dan
memusnahkannya
– kimiawi dengan insektisida
misalnya durnban 20EC atu Dipel
WP pada konsentrasi yang
dianjurkan.
Penggerek polong
(Etiella zinckenella treit)
Ciri biologi hama
– ngengat warna abu-abu
– sayap belakang ditutup sisik
jarang warna agak cerah
– serangga betina mampu bertelur
73-300 butir diletakkan pada
kelopak bunga kedelai
– telur berwarna lonjong dengan
ukuran panjang 0.6mm.
– daur hidup hama 18-41 hari
Gejala serangan
– larva menggerek polong dan
tinggal di dalamnya
– kerusakan pada bunga
menyebabkan tanaman tidak
membentuk polong.
Penyakit
Penyakit utama pada kedelai adalah karat
daun Phakopsora pachyrhizi, busuk
batang, dan akar Schlerotium rolfsii dan
berbagai penyakit yang disebabkan virus.
Pengendalian penyakit karat daun
dengan fungisida Mancozeb.
Penyakit busuk batang dan akar
dikendalikan menggunakan jamur
antagonis Thrichoderma harzianum.
Pengendalian virus dilakukan dengan
mengendalikan vektornya yaitu serangga
hama kutu dengan insektisida Decis.
Waktu pengendalian adalah pada saat
tanaman berumur 40, 50 dan 60 hari.
d.2.8.Panen
Kedele harus dipanen pada tingkat
kemasakan biji yang tepat.
Panen terlalu awal menyebabkan banyak
biji keriput, panen terlalu akhir
menyebabkan kehilangan hasil karena biji
rontok.
Ciri-ciri tanaman kedele siap panen
adalah :
– Daun telah menguning dan
mudah rontok
– Polong biji mengering dan
berwarna kecoklatan
Panen yang benar dilakukan dengan cara
menyabit batang dengan menggunakan
sabit tajam dan tidak dianjurkan dengan
mencabut batang bersama akar.
Cara ini selain mengurangi kesuburan
tanah juga tanah yang terbawa akan
dapat mengotori biji.
219
BAB IX
TEKNIK BUDIDAYA
HORTIKULTURA
9.1. Pendahuluan
Hortikultura berasal dari Bahasa Latin
yang terdiri dari dua patah kata yaitu
hortus (kebun) dan culture (bercocok
tanam).Makna hortikultura dalam Buku
Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah
seluk beluk kegiatan atau seni bercocok
tanam sayur-sayuran, buah-buahan atau
tanaman hias.
Ilmu pengetahuan modern membagi
hortikultura atas 3 bagian yaitu:
• Sayur-sayuran
• Buah-buahan
• Hias.
Ilmu hortikultura berhubungan erat
dengan ilmu pengetahuan lainnya, seperti
teknik budidaya tanaman, mekanisasi,
tanah dan pemupukan, ilmu cuaca, dan
sebagainya.
Budidaya hortikultura pada umumnya
diusahakan lebih intensif dibandingkan
dengan budidaya tanaman lainnya.
Hasil yang diperoleh dari budidaya
holtikultura ini per unit areanya juga
biasanya lebih tinggi.
Lebih lanjut dikatakan tanaman
holtikultura memiliki berbagai fungsi
dalam kehidupan manusia. Misalnya
tanaman hias berfungsi untuk memberi
keindahan (aestetika), buah-buahan
sebagai makanan, dan lain-lain.
Holtikultura berinteraksi dengan disiplin
ilmu lainnya seperti kehutanan, agronomi,
dan ilmu terapan lainnya. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada Gambar
berikut ini.
Gambar 71 Hubungan antara hortikultura
dengan ilmu lainnya
9.2. Pembagian Hortikultura
Hortikultura dapat dikelompokkan atas 4
kategori yaitu:
• Tanaman Buah-buahan, kelompok
tanaman ini memiliki keanekaragaman
morfologi, seperti ada yang berbentuk
pohon (misalnya rambutan, mangga,
durian, jeruk, dan sebagainya), bentuk
semak (markisa).
• Tanaman sayuran, tanaman ini
merupakan tanaman hortikultura yang
utama. Beberapa jenis sayuran ada
yang berasal dari buah (tomat), daun
(bayam), akar (wortel), biji (buncis),
bunga (kembang kol) dan sebagainya.
Berbeda dengan tanaman buahbuahan,
sayuran memiliki umur yang
relatif singkat. Tanaman ini umumnya
dikonsumsi dalam bentuk segar, oleh
karenanya proses penanganannya
lebih spesifik dibandingkan dengan
hortikultura lainnya.
• Tanaman Hias, manfaat dari tanaman
hias ini adalah meningkatkan aestetika
lingkungan. Budidaya tanaman ini
dapat dilakukan pada ruang terbuka
maupun didalam ruangan.
• Lanskap arsitektur, lans kap
menggunakan tanaman tertentu yang
dipadukan dengan elemen-elemen
lainnya untuk menghasilkan
pemandangan yang indah. Aspek
utama dalam lanskap arsitektur ini
adalah penutupan permukaan tanah
yang umumnya diwakili dengan
rumput. Lanskap arsitektur sedemikian
pentingnya karena dapat memuaskan
masyarkat yang melihatnya dan
berpengaruh terhadap efek fisiologis
manusia. Perkembangan dari cabang
hortikultura ini demikian pesatnya
karena sangat dibutuhkan dalam
pembangunan supermal, taman
bermain, parkir, dan sebagainya.
9.3. Fungsi Hortikultura
Hortikurtura mempunyai beberapa fungsi
yakni:
• Sumber bahan makanan
• Hiasan/keindahan
• Pekerjaan
Berikut ini digambarkan piramida
kebutuhan bahan makanan manusia.
220
Kebutuhan terbesar terdapat pada
serealia dan kebutuhan terkecil terdapat
pada lemak dan gula.
Gambar 72. Piramida makanan
9.4. Pengendalian lingkungan untuk
tanaman hortikultura
Tujuan dari memodifikasi lingkungan
tumbuh tanaman hortikultura adalah
untuk memberikan lingkungan tumbuh
yang sesuai dengan keinginannya.
Tanaman hortikultura seperti layaknya
makhluk hidup lainnya membutuhkan
faktor lingkungan yang sesuai untuk
pertumbuhannya. Beberapa jenis
tanaman mampu atau mudah
beradaptasi dengan lingkungan
tumbuhnya, akan tetapi sebagian ada
yang tidak mampu sehingga
membutuhkan modifikasi lingkungan
pertanamannya.
Untuk daerah tropis, yang tersedia cukup
matahari, budidaya hortikutura dapat
dilakukan sepanjang tahun, berbeda
dengan daerah sub tropis yang
membutuhkan kontrol lingkungan tumbuh
tertentu jika ingin tetap melakukan
budidaya pada musim dingin.
Untuk tujuan tertentu juga kita
mengharuskan menggunakan kondisi
lingkungan terkontrol, misalnya untuk
mendapatkan bunga jenis tertentu yang
berkualitas tinggi diluar musim harus
ditanam pada kondisi ini.
Kondisi lingkungan yang terkontrol
tersebut dapat berupa bangunan :
• Rumah kaca
Gambar 73. Bentuk rumah kaca
• Rumah plastik (dapat berupa plastik
film, polyetilen, polivinil flourida,
fiberglass. Bangunan ini 30% lebih
murah dibandinngkan dengan
bangunan rumah kaca. Saat ini
beberapa pengusaha menggunakan
ini untuk tanaman ortikulturanya
karena lebih murah. Hanya
kelemahannya bahan
bangunannannya lebih bagus
digunakan pada daerah bersuhu
rendah, pada daerah panas dengan
curah hujan tinggi plastik ini mudah
rusak.
Gambar 74. Rumah plastik
• Pelindung dingin (Cold frames ).
Bangunan ini digunakan untuk
pembibitan untuk memberikan suhu
yang sesuai dengan jenis
tanamannya. Umumnya digunakan
untuk melindungi bibit hortikultura
dari suhu rendah.
221
Gambar 75. Pelindung bibit dari suhu
rendah
• Paranet, beberapa jenis hortikultura
sangat disukai serangga, oleh
karenanya paranet ini dibuat, untuk
melindungi tanaman dari
serangannya.
• Rumah kasa
Gambar 7.6. Rumah kasa
9.5.Perbanyakan tanaman hortikultura
Perbanyakan tanaman hortikultura dibagi
atas dua yaitu perbanyakan vegetatif dan
generatif.
Perbanyakan generatif adalah
perbanyakan yang menggunakan biji
sebagai calon individu baru.
Biji merupakan hasil dari petemuan dari
sel kelamin betina dan sel kelamin jantan,
terbentuk zygot yang kemudian
berkembang menjadi buah.
Biji tanaman hortikultura memiliki
berbagai bentuk dan ukuran. Ada yang
berbiji besar seperti pada spesies
kacang-kacangan ada juga yang bijinya
kecil seperti pada spesies serealia.
Baik tidaknya sumber tanaman yang
berasal dari biji sangat tergantung pada
sifat genetik dari kedua induknya (induk
jantan dan betina). Awal terbentuknya biji
dimulai dari fertilisasi yang merupakan
gabungan antara gamet betina dan
jantan, yang terjadi setelah penyerbukan.
Tahap berikutnya sesudah fertilisasi
adalah perkembangan ovul menjadi biji.
Untuk meningkatkan mutu produk
hortikultura pemuliaan tanaman
melakukan persilangan, untuk
menghasilkan benih unggul. Kriteria
keunggulannya juga berbeda-beda, ada
varietas yang tahan terhadap penyakit,
cekaman abiotik, keindahan warna
bunga, dan sebagainya tergantung pada
permintaan pasar. Sebelum benih hasil
pemulia ini dilepas ke masyarakat, maka
harus terlebih dahulu dilakukan sertifikasi.
Pengelompokan benih
Berdasarkan tahapan sertifikasinya, maka
benih dikelompokkan atas:
• Breeder seed, adalah benih yang
dihasilkan oleh pemulia, yang belum
dilakukan pengujian lebih lanjut.
• Foundation seed, setelah dilakukan
pengujian terhadap kemurnian
genetiknya dan identitasnya benih ini
dimasukkan ke kategori benih dasar
• Registered seed, proses pendaftaran
untuk benih sertifikasi.
• Certified seed, benih yang sudah
brsertifikasi.
Pengujian Kualitas Benih
Pengujian kualitas benih untuk
mengetahui viabilitasnya, dapat dilakukan
pengujian benih yaitu:
• Tes perkecambahan benih adalah
tahapan pengujian yang melihat
berapa besar persentase kecambah
dari suatu jenis benih. Pengujian ini
dapat dilakukan pada bak pasir,
kecambah atau menggunakan kertas
merang.
• Uji dingin, uji ini memperlakukan
benih dengan perlakuan temperatur
rendah sekitar 100C, sebelum
222
dikecambahkan pada kondisi suhu
normal. Hasil uji ini akan
menunjukkan benih-Benih yang
mampu beradaptasi pada suhu
rendah.
• Tes tetrazolium, benih diuji dengan
menggunakan zat kimiatetrazolium
klorida. Kemampuan benih
berkecambah setelah dilakukan
perendaman dengan tetrazolium
menunjukkan kemampuan benih
tersebut untuk tetap berrespirasi. Uji
ini hanya memperlihatkan
kemampuan benih berrepirasi tidak
memperlihatkan kemampuan
berkecambah.
• Tes kemurnian benih, melalui uji
kemurnian benih secara mekanis
dapat diketauhi dengan melihat
berapa persentase kehadiran benih
lainnya dibandingkan dengan benih
tanaman utama.
Pemecahan dormansi benih
Dormansi artinya terhambatnya
pertumbuhan (perkembangan) untuk
sementara meskipun keadaan
lingkungannya sebenarnya bersifat
menunjang. Beberapa benih tanaman
hortikultura tidak akan berkecambah pada
kondisi normal. Benih seperti ini
memerlukan penanganan khusus.
Beberpa perlakuan yang dilakukan untuk
memecah dormansi adalah:
• Fisik (mekanis, suhu, cahaya).
Perlakuan mekanis dilakuan pada biji
yang kulitnya keras maka dilakukan
skarifikasi. Proses pengikisan dapat
dilakuan dengan memasukkan biji ke
dalam drum dicampur pasir kemudia
diputar. Perlakuan skarifikasi pada
biji harus dilakukan secara hati-hati
karena terlalu keras akan merusak
embrio biji. Perlakuan suhu tinggi
juga dapat membantu memecah
dormansi, pans yang ditimbulkannya
akan menyebabkan retaknya kulit
sehingga air dapat masuk dan benih
dapat berkecambah. Benih selada
(Lactuca sativa) membutuhkan
perlakuan cahaya (sekitar 660
nanometer) agar dapat
berkecambah.
• Bahan kimia (perlakuan asam,
pencucian dengan air, perendaman).
Kulit biji yang keras dapat diberi
perlakuan asam sulfat selama
beberapa menit untuk melunakkan
kulit bijinya. Pencucian dengan air
juga dapat dilakukan pada kulit biji
yang mengandung senyawa kimia,
Pencucian ini akan menyebabkan
terjadinya proses hidrolisa dan zat
kimia yang dikandung kulit akan
terurai dan biji dapat berkecambah.
Perendaman dalam larutan etil
alkohol atau kalium florida juga dapat
membantu memecah dormansi.
Perendaman dengan larutan ini juga
akan menghasilkan perkecambahan
yang serentak.
Beberapa faktor lingkungan yang harus
diperhatikan selama proses
perkecambahan adalah:
• kelembababan udara
• Suhu udara
• Cahaya matahari
• Komposisi udara
• Bebas hama dan penyakit
Perbanyakan generatif
Persemaian
Perkecambahan adalah proses yang
merupakan gabungan proses respirasi
dan kerja hormon. Proses metabolisma
ini didukung oleh energi yang berasal dari
embrio. Cadangan makanan seperti
protein, lemak dan minyak di metabolisma
pada proses respirasi dan menghasilkan
energi.
Aktivitas persemaian ini membutuhkan
penanganan yang kelak akan
menentukan hasil budidaya tanamannya.
Tempat persemaian dapat menggunakan
beberapa alternatif bergantung pada jenis
yang akan dibibitkan.
Metoda persemaian dapat dilakukan di
lapangan terbuka atau pada bak
kecambah, ataupun pot.
223
Gambar 77. Teknik penanaman benih
langsung di lapangan
Gambar 78 Bak kecambah yang dalam
satu tempat banyak tanaman
Gambar 79 Tipe bak kecambah satu
lubang satu tanaman
Gambar 80 Pot pembibitan
Teknik persemaian
Persemaian untuk benih- benih yang
berbiji besar dapat dilakukan dengan
menanam langsung, akan tetapi untuk
benih yang kecil dapat dibantu dengan
mencampur terlebih dahulu dengan pasir
dan meletakkannya pada kertas lalu
ditaburkan pada jalur yang sudah
ditentukan dalam bak kecambah.
Gambar 81 Bak persemaian yang telah
diisi dengan tanah
Gambar 82 Persemaian pada bak
kecambah untuk benih yang
berukuran besar
Gambar 83 Persemaian pada bak
kecambah untuk benih
berukuran kecil
Pindah tanam
Pindah tanaman dilakukan yang
disesuaikan dengan umur masing-masing
jenis tanaman, beberapa jenis tanaman
ada yang cepat akan tetapi ada juga yang
lambat.
Kriteria tanaman dapat dilakukan pindah
tanaman jika tanaman muda tersebut
telah memiliki dua daun yang telah
membuka sempurna sempurna.
Gambar 84.Tanaman yang siap di
lakukan pindah tanam
Jika tanaman berasal dari pembibitan
maka tanaman muda dapat dicongkel
224
dengan menggunakan alat secara hatihati,
kemudian memisahkannya satu per
satu lalu ditanam, seperti Gambar 84
dibawah ini
Gambar 85. Teknik pindah tanam dari
bibit yang ditanam pada bak
kecambah
Alternatif lainnya adalah dengan
mencabut bibit, pegang tangkai daun
dengan batangnya sekaligus dan tarik
hati-hati keatas, seperti Gambar berikut.
Gambar 86 Teknik mencabut bibit dari pot
Perbanyakan vegetatif
Perbanyakan cara ini adalah
perbanyakan yang menggunakan material
tanaman selain biji. Perbanyakan secara
vegetatif ini adalah cara perbanyakan
tanaman yang terjadi tanpa melalui
perkawinan.
Perbanyakan ini hanya melibatkan satu
induk saja, calon individu baru
(keturunan) berasal dari bagian tubuh
induknya. Karena hanya melibatkan satu
induk, maka makhluk hidup baru memiliki
sifat biologis yang sama dengan
induknya.
Jaringan vegetatif yang digunakan dapat
berupa batang, akar, ataupun daun.
Perbanyakan vegetatif dikelompokkan
menjadi dua kelompok, yaitu vegetatif
alami dan buatan. Pada
perkembangbiakan vegetatif alami
makhluk hidup baru terbentuk tanpa
bantuan manusia, sedangkan vegetatif
buatan tanaman baru terbentuk dengan
bantuan manusia.
Saat ini dikenal perbanyakan vegetatif
yang menggunakan teknik kultur jaringan.
Perbanyakan dengan metode ini
menghasilkan calon invidu baru yang
lebih banyak dibandingkan dengan
perbanyakan vegetatif dengan metode
lainnya. Karena metode ini dapat
memperbanyak satu sel menjadi beratusratus
individu baru.
Beberapa keuntungan dan kerugian
menggunakan perbanyakan vegetatif,
yaitu:
• Tanaman yang dihasilkan memiliki
sifat yang sama dengan induknya
• Lebih Cepat menghasilkan
• Sangat membantu bagi tanaman
yang tidak menghasilkan biji
• Terhindar dari serangan penyakit
benih
• Harga jual lebih tinggi
• Tidak terjadi alterasi dari sifat
induknya
Vegetatif alami
Beberapa cara perbanyakan vegetatif
alami adalah sebagai berikut:
• Membelah diri, yaitu perbanyakan
diri dengan cara membelah diri.
Perbanyakan ini terjadi pada
tumbuhan tingkat rendah, misalnya
ganggang hijau.
• Spora, tumbuhan yang berkembang
biak dengan cara ini antara lain
adalah Paku (misalnya suplir) , jamur
dan ganggang.
• Akar tinggal atau rizoma,
merupakan batang yang tertanam
dan tumbuh di dalam tanah. Batang
tersebut tumbuh mendatar dan
tampak seperti akar. Jika ujung
rizoma tumbuh menjadi tumbuhan
baru maka tumbuhan tersebut tetap
bergabung dengan tumbuhan induk
dan membentuk rumpun, contohnya
jahe.
• umbi lapis, perbanyakan cara ini
contohnya terjadi pada bawang
merah. Umbi bawang merah ini
berlapis-lapis dan ditengahnya
tumbuh tunas. Umbi lapis baru yang
berasal dari tunas ketiak terluar
225
tumbuh membentuk tunas yang
disebut siung.
Gambar 87a. Perbanyakan dengan
rizoma
• umbi batang, perbanyakan tanaman
dengan cara ini contohnya terjadi
pada tanaman kentang dan ubu jalar.
Umbi pada kentang ini
sesungguhnya adalah batang yang
tumbuh ke dalam tanah. Ujung
batang itu menggembung
membentuk umbi untuk menyimpan
cadangan makanan. Pada satu
lekukan di permukaan batang yang
menggembung (umbi) tersebut
terdapat tunas yang disebut mata
tunas.
Gambar 87b. Perbanyakan dengan umbi
batang
• umbi akar, perbanyakan cara ini
terjadi pada wortel. Akar berubah
fungsi untuk menyimpan cadangan
makanan sehingga disebut umbi
akar. Jika umbi akar ditanam maka
akan tumbuh tunas-tunas baru dari
bagian yang merupakan sisa batang.
• geragih, batang yang tumbuh
menjalar diatas atau dibawah
permukaan tanah disebut geragih.
Tunas pada buku-buku batang dapat
tumbuh menjadi tumbuhan baru.
Ujung geragih yang menyentuh
tanah akan membelok keatas . Pada
bagaian bawah geragih muncul akar
serabut.
Gambar 88 Perbanyakan dengan geragih
• Tunas, contoh tanaman hortikultura
yang berkembang biak dengan tunas
adalah pisang. Disekitar pohon
pisang yang sudah besar tumbuh
tunas baru. Tunas tunas ini tumbuh
berdekatan dengan pohon induk dan
membentuk rumpun.
Gambar 89 Perbanyakan dengan tunas
Perbanyakan vegetatif buatan
Perbanyakan vegetatif buatan terjadi
dengan bantuan manusia. Beberapa
perbanyakan vegetatif buatan adalah:
• Cangkok, jenis tumbuhan yang biasa
dicangkok pohon buah-buahan
misalnya mangga, jeruk, dan lainlain.
Umumnya jenis tumbuhan
berkayu mudah dicangkok walaupun
tidak seluruhnya, misalnya cemara.
Mencangkok tanaman dilakukan
dengan cara mengupas kulit batang
kemudian dikuliti, bagian yang dikuliti
tersebut dilapisi dengan tanah yang
subur kemudian dibungkus dengan
sabut kelapa, ijuk atau plastik.
Gambar 90 Teknik mencangkok
tanaman
• Setek batang, potongan batang
tumbuhan yang hendak di setek
harus mempunyai sebuah mata
sebagai bakal tunas. Potongan
batang ini umumnya merupakan
batang yang sudah cukup tua.
Penanaman batang potongan batang
ini dilakukan pada tanahyang subur
dan gembur
226
Gambar 91. Perbanyakan dengan setek
batang
• Setek daun, perkembangbiakan
dengan setek daun umumnya
diterapkan pada tanaman hias
misalnya begunia. Daun yang
disetek ini harus cukup tua, dan
tanah yang digunakn sebagai media
tumbuh harus gembur dan lembab.
Perkembangbiakan dengan setek
daun ini dilakukan dengan
meletakkan daun yang sudah dipilih
tadi diatas permukaan tanah.
Beberapa hari kemudian tumbuh
tunas baru yang kemudian dapat
dipindahkan ketempat lain. Beberapa
contoh setek daun terlihat pada
Gambar 92 berikut.
Gambar 92 Beberapa jenis perbanyakan
dengan setek daun
• Tempel (okulasi), cara perbanyakkan
ini dilakukan dengan menempelkan
tunas dari satu tumbuhan ke batang
tumbuhan lain. Setiap tumbuhan itu
mempunyai sifat yang berbeda.
Batang dan tunas yang diokulasi
berasal dari dua tumbuhan. Batang
yang ditempel merupakan tumbuhan
yang mempunyai akar dan batang
yang kuat.
Gambar 93. Perbanyakan tanaman
dengan teknik menempel
• Sambung pucuk (enten), sambung
pucuk merupakn penyatuan pucuk
dengan batang bawah. Pucuk dan
batang bawah yang disambung itu
berasal dua tumbuhan. Sambung
pucuk dapat menghasilkan tanaman
yang lebih baik mutunya. Bila
dibandingkan dengan okulasi,
ternyata sambung pucuk lebih cepat
menghasilkan. Cara sambung pucuk
dapat dilakukan terhadap tanaman
hias, buah-buahan, dan perkebunan.
Sambung pucuk dilakukan secara
sederhana. Batang bawah diperoleh
dari semaian biji. Pucuk diambil dari
cabang tumbuhan yang mempunyai
sifat- sifat baik seperti berbunga
indah dan berbuah manis, atau
lainnya. Pucuk kemudian disambung
dengan batang bawah .
Penyambungan dilakukan dengan
menggunakan tali plastik.
Gambar 94 Teknik sambung pucuk
• Runduk, jenis tumbuhan yang dapat
dikembangbiakan dengan runduk
sangat sedikit. Tumbuhan itu
mempunyai batang yang panjang
dan lentur. Tumbuhan yang dapat
dikembangbiakan dengan cara
merunduk misalnya melati ,
alemanda, apel, dan lain-lain.
Perkembangbiakan dengan cara ini
sangat sederhana. Batang tanaman
dikerat sedikit, batang itu kemudian
227
dilengkukkan atau dirundukkan
ketanah. Kemudian batang yang
dikerat itu, ditimbun dengan tanah,
seperti Gambar 95 berikut ini.
Gambar 95 Teknik perbanyakan tanaman
dengan runduk
9.6. Teknik Budidaya Sayuran
a. Produsen Sayuran
Permintan akan sayuran terus meningkat,
sejalan dengan peningkatan kebutuhan
karena pertambahan jumlah penduduk,
juga disebabkan oleh peningkatan
kesadaran akan manfaat mengkonsumsi
sayuran.
Keberhasilan industri sayuran tergantung
pada beberapa faktor yaitu:
• Keahlian produsen sayur untuk
memasarkan produknya
• Ketersediaan benih unggul
• Kualitas produk
• Ketepatan waktu antara panen dan
sampainya produk kepada
konsumen
• Tengkulak, pengecer, perantara
b. Hal-hal yang perlu diperhatikan
Beberapa hal perlu diperhatikan dalam
melaksanakan budidaya sayuran.
Hal-hal tersebut adalah :
1. Sayuran dikonsumsi dalam bentuk
segar
2. Sayuran memerlukan penanganan
khusus
3. Sayuran dengan nilai ekonomi tinggi
4. Persaingan internasional
Produksi sayur dikonsumsi dalam bentuk
segar
Produsen sayuran dapat berupa
pertanian besar, pada rumah kaca atau
rumah plastik dengan kondisi lingkungan
terkontrol, pada sepetak lahan, ataupun
hanya pada beberapa bedengan.
Dibandingkan dengan produk pertanian
lainnya seperti leguminosa (kacangkacangan),
sebaran dan distribusi
sayuran lebih kecil, hal ini disebabkan
pengiriman ke daerah yang jauh
dibutuhkan penanganan khusus dari
produk ini.
Oleh karena produk sayuran ini
dikonsumsi dalam bentuk segar, maka
untuk mengatasinya biasanya pihak
produsen membangun industrinya dekat
dengan kota.
Faktor-faktor seperti fluktuasi produksi
sayuran setiap harinya, alat transportasi,
dan jarak antara konsumen dengan
produsen merupakan bagian penting
yang perlu diperhatikan oleh produsen
sayur.
Disamping hal tersebut diatas, kondisi
lingkungan marupakan faktor penentu
dalam menentukan keberhasilan produk
sayuran. Ketersedian air yang cukup,
suhu, kelembaban udara dan angin, pada
masa pertumbuhan akan mempengaruhi
kualitas dari sayuran.
Bagaimana menangani
sayuran
Pembekuan atau penyimpanan dalam
ruangan pendingin, pengalengan dan
pengeringan menjadi mekanisme yang
utama agar produk sayuran dapat
digunakan konsumen. Produsen sayur
yang melakukan penanganan yang baik
dari mulai tanam sampai panen serta
pascapanennya, sehingga sampai ke
konsumen turut menentukan tinggi
rendahnya harga pproduk sayur tersebut.
Sayuran bernilai
ekonomi tinggi
Pertanaman sayuran pada rumah kaca
merupakan trend baru untuk menghasilan
produk sayuran bermutu.
Beberapa keuntungan dari bertanam
sayuran pada rumah kaca adalah:
• Kondisi lingkungan yang terkontrol
sehingga pertumbuhan tanaman jadi
lebih baik
• Produknya tidak tergantung musim
• Kualitas sayur lebih tinggi.
228
• Produsen dapat mengatur saat
panen yang disesuaikan dengan
nilai jual tertinggi di pasar.
Oleh karena pertanaman sayuran pada
rumah kaca membutuhkan input energi
yang tinggi dibandingkan dengan
bertanam di lahan, maka umumnya
sayuran yang ditanam pada rumah kaca
ini adalah sayuran yang memiliki nilai
ekonomi tinggi.
Persaingan pasar
internasional
Kemampuan produk sayuran untuk dapat
bersaing pada kompetisi internasional
ditentukan oleh:
• Kemampuan produsen sayur untuk
menyediakan produk sayuran yang
bermutu baik selama perjalanan
maupun setelah sayuran sampai ke
tangan konsumen.
• Harga dasar yang memadai dimana
harga dasar ini ditentukan oleh biaya
proses produksi dan pasca panen,
resiko produksi, resiko kebijakan
politik, dan laju nilai tukar moneter.
Di beberapa negara luar seperti Amerika
Serikat menerapkan teknologi yang efektif
dalam memproduksi sayuran. Hal ini
dilakukan untuk menurunkan nilai jual
serendah mungkin akan tetapi masih
menguntungkan produsen dan dapat
bersaing pada tingkat internasional.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah
penggunaan teknologi atmosfir terkontrol
pada kemasan sayuran, sehingga
sayuran dapat bertahan lebih lama.
Penggunaan teknologi ini dinilai jauh lebih
efisien dan efektif karena biaya yang
relatif murah dan tidak merusak mutu
sayuran.
c. Tenaga Kerja Mekanisasi dan
Efisiensi Produksi
Beberapa tahun terakhir ini produk
sayuran menjadi bahan perhatian
masyarakat dunia. Disamping untuk
pemenuhan kebutuhan gizi manusia,
produk sayuran ini juga memberikan
keuntungan yang menggiurkan.
Berbagai upaya yang dilakukan untuk
meningkatkan produksi sayuran antara
lain:
• Penelitian di dalam dan luar negeri.
• Peningkatan efisiensi produksi
• Teknologi panen dan pasca panen,
• Kebijakan pemerintah
Berikut ini merupakan usaha bagaimana
meningkatkan mutu dan nilai jual sayur
yang perlu dilakukan, yaitu:
• Mekanisasi
• Penanganan pasca panen dan
kualitas bahan
• Kultur teknis
Mekanisasi
Beberapa alat mekanisasi turut
membantu agar proses produksi sayuran
lebih efisien dan efektif.
Penggunaan traktor misalnya dalam
pengolahan tanah dinilai lebih efisien dan
efektif, karena disamping biayanya yang
relatif murah dibandingkan dengan
penggunaan tenaga manusia juga luaran
yang dihasilkannya lebih besar.
Penggunaan sprayer dengan
menggunakan mesin dalam
pengaplikasian pupuk dan pestisida juga
membantu petani sayur memudahkan
pekerjaannya.
Pengunaan mulsa pada pertanaman
sayuran juga dapat menghemat biaya
pengendalian gulma dan penyakit tertentu
yang perantara pembiakannya pada
tanah.
Penanganan pasca panen dan kualitas
bahan
Mudah rusaknya produk sayuran ini
membutuhkan perhatian khusus terhadap
alat panen yang digunakan.
Kerusakan buah tomat pada waktu
pemanenan merupakan salah satu contoh
penanganan pasca panen yang tidak
baik. Misalnya kita harus menentukan
varietas apa yang kita tanam, waktu
masak dan panen, metode pemetikan,
dan tinggi tumpukan pada kontainer yang
dapat mempengaruhi kualitas sayur.
Tidak selamanya penggunaan
traktor/mesin pada sayuran berakibat
baik, akan tetapi sangat tergantung pada
jenis sayurannya. Misalnya mesin ini tidak
baik digunakan untuk pemanenan
kentang, akan tetapi untuk pemanenan
sayuran daun seperti kangkung dinilai
lebih efisien.
229
Mekanisasi dan kultur teknis
Pengenalan mekanisasi menyebabkan
perubahan yang dramatis terhadap kultur
teknis sayuran. Salah stau contohnya
adalah pada kasus mekanisasi tomat di
Amerika Serikat. Sekitar tahun 1962
pemanenan tomat dilakukan dengan
tenaga manusia (memetik dengan
tangan), untuk lahan yang luas
pemanenan dengan sistem ini akan
menggunakan waktu yang lama (sampai
satu minggu). Akibatnya terjadi
kelambatan panen, dan buah terlalu
masak sehingga cepat rusak.
Pekerjaan ini akan lebih mudah dan
jaminan terhadap mutu sayur tetap
terjaga maka dilakukan pemanenan
dengan menggunakan mesin. Begitu juga
yang terjadi pada panen anggur,
pemetikan dengan menggunakan mesin
lebih efisien dibandingkan dengan
menggunakan tangan.
Akan tetapi penggunaan alat mekanisasi
pertanian membutuhkan persyaratan
khusus pada kultur teknisnya yang
disesuaikan dengan spesifikasi dari mesin
yang digunakan.
Misalnya dalam pemanenan anggur jarak
tanam yang digunakan adalah jarak
tanam yang disesuaikan dengan lebar
mesin yang digunakan agar tidak
terhalang lalu lintas mesin pada waktu
panen.
Sistem penanaman langsung untuk
beberapa jenis sayuran tertentu dengan
luasan tanam yang besar penggunaan
mesin tanam jauh lebih efisien
dibandingkan dengan penggunaan
tenaga manusia.
Oleh karenanya penggunaan
mekanisasi/alat mesin pada waktu
pengolahan tanah, penanaman,
pemeliharaan, panen dan pasca panen
pada budidaya sayuran efisien dan efektif
tergantung pada:
• jenis sayur yang ditanam
• Luas areal pertanaman
• Ketersediaan tenaga kerja
Umumnya mekanisasi secara normal
menjalankan fungsinya untuk
meningkatkan dua hal yaitu:
• Merupakan pengembangan dan
modifikasi untuk memudahkan
pekerjaan tangan.
• Mesin dibutuhkan pada pekerjaan
yang tidak dapat dikerjakan oleh
tenaga manusia
d. Perencanaan Budidaya Sayur
Pertama sekali yang perlu mendapat
pertimbangan jika hendak memilih
bertanam sayuran adalah:
• Serangga dan gulma merupakan
hambatan yang selalu hadir dan
merusak setiap budidaya sayur
• Kondisi lingkungan seperti cuaca
(panas, kering, curah hujan, sinar
matahari yang terik) mempengaruh
produksi sayur secara kuantitas dan
kualitas.
Perencanaan budidaya sayuran meliputi
pertimbangan akan 3 hal yaitu:
1. Pemilihan kultivar dan varietas
2. Faktor pendukung dan hambatan
3. Lokasi kebun
4. Sistem pertanaman
Pemilihan Kultivar dan Varietas sayur
Sayur-mayur adalah tanaman yang unik
di dalam dan produknya amat berbeda
dengan kategori yang umum dilakukan
pada tanaman lain.
Hampir tiap bagian dari tanaman dapat
dimakan sebagai sayuran.
e. Pengelompokan Sayuran
Sayuran dapat diklasifikasikan atas:
1. Klasifikasi botani (Tabel 13)
2. Klasifikasi berdasarkan bagian yang
dapat dimakan
Klasifikasi sayuran atas bagian yang
dapat dimakan
Sayuran juga dapat diklasifikasikan atas
bagian apa dari sayuran tersebut yang
dapat digunakan. Bagian tanaman
tersebut dapat berasal dari daun, tangkai
daun, umbi, batang, akar, bunga, buah
ataupun biji.
Daun
Daun dari sayuran dapat dikonsumsi
dalam bentuk segar ataupun di masak.
Yang termasuk golongan ini adalah:
bayam, kangkung, peleng, daun
singkong, kol, selada, dan sebagainya.
Tangkai daun
Yang termasuk ke dalam golongan ini
misalnya seledri.
230
Umbi lapis
Umbi lapis umumnya berada dibawah
tanah dengan sedikit daun berada di
permukaan tanah.
Daun bawang juga dapat digunakan
sebagai sayuran disamping umbilapisnya.
Yang termasuk golongan ini adalah
bawang merah, bawang putih, bawang
bombay.
Batang
Batang adalah bagian tanaman yang
mendukung daun, bunga dan buah
tanaman. Salah satu contoh yang
tergolong sayuran ini adalah asparagus.
Umbi
Sayuran umbi dapat merupakan
modifikasi dari beberapa bagian tanaman,
misalnya kentang,
Akar
Beberapa akar sayuran dapat
dimanfaatkan sebagai sayur.
Awalnya akar ini tumbuh seperti akar
pada umumnya, sejalan dengan
pertambahan waktu akar membesar.
Yang termasuk kelompok ini misalnya
adalah wortel, bit, dan ubi jalar
Bunga
Contoh sayuran yang dimakan bunganya
adalah: brokoli, dan kembang kol.
Buah
Tidak ada perbedaan yang pasti antara
buah dan sayuran buah.
Akan tetapi umumnya buah-buahan
digunakan sebagai hidangan penutup
(dessert), sedangkan buah sayuran
dimakan sebagai menu utama.
Yang termasuk kelompok sayuran buah
adalah, mentimun, labu, terong, tomat,
lada, buncis dan sebagainya.
Biji
Kacang ercis ataupun buncis merupakan
sayuran yang berasal dari biji.
Ada beberapa jenis sayuran biji yang
digunakan sebagai sayuran ketika bijinya
masih lunak, contohnya buncis dan sweet
corn, akan tetapi ada juga yang
digunakan setelah bijinya menjadi keras
contohnya biji bunga matahari, kacang
tanah.
Hambatan dan dukungan
Kumpulkan seluruh informasi dari kebun
yang akan ditanami.
Hal ini dibutuhkan untuk melakukan
pengananan khusus untuk lokasi-lokasi
yang spesifik.
Data yang dibutuhkan
Data yang perlu dikumpulkan adalah:
• Jenis sayuran apa yang akan
ditanam
• Kesuburan tanah yang meliputi
kesuburan fisik, khemis dan biologi
tanah. Riwayat pemupukan yang
telah pernah dilakukan pada lahan
tersebut juga perlu diketahui.
Disamping itu karena tanaman
sayuran menyukai tanah yang
gembur dan kaya bahan organik
maka dibutuhkan juga informasi
mengenai kandungan bahan organik
tanah.
• Kumpulkan data produksi tanaman
pada periode lalu dari areal tersebut.
• Musim tanam.Kumpulkan semua
data perubahan pola curah hujan
dari lokasi. Data ini dibutuhkan untuk
menentukan kapa waktu tanam yang
paling tepat.
Lokasi kebun
Keberhasilan budidaya sayuran sangat
tergantung apakah tanaman kita cukup
mendapat sinar matahari atau tidak.
Artinya lokasi pertanaman tidak boleh
terlindung dari sinar matahari.
Pemilihan areal pertanaman yang
terlindung dari cahaya matahari akan
menghasilkan produk sayuan yang tidak
sehat.
Lokasi yang dipilih adalah lokasi yang
mempunyai kesuburan tanah yang relatif
tinggi. Tanah tersebut cukup kandungan
hara dan bahan organiknya.
Sistem pertanaman
Tidak ada satupun tanah yang dapat
ditanami semua jenis tanaman. Oleh
karenanya informasi kesuburan tanah
dari lokasi merupakan hal yang penting
diketahui sebelum melakukan usaha
penanaman sayuran.
Ada beberapa pilihan sistem pertanaman
pada budidaya sayur yaitu
• Intercroping, beberapa jenis sayuran
dapat ditanam secara bersamaan
pada satu lokasi. Sistem tanam ini
juga dapat mengurangi serangan
hama, disamping mengefisienkan
231
pemanfatan lahan. Salah satu
contohnya adalah budidaya kacang
panjang dengan menggunakan ajir
yang berasal dari batang jagung
manis. Terlebih dahulu kita
menanam jagung, baru setelah
sebulan dilakukan penaman kacang
panjang.
• Monokultur, sistem ini hanya
menanam satu jenis saur pada
luasan areal tertentu
Pengeringan Sayuran
Teknik ini dapat digunakan untuk
pengeringan bawang daun dengan kadar
air ideal sebesar 9,68%.
Dehidrasi dengan vacuum dryer. Teknik
ini dapat digunakan untuk seledri, bawang
merah dan lobak. Kadar air terbaik
adalah 10,31% dengan TSS sebesar
57,72%.
Dehidrasi dengan teknik blansing. Teknik
ini dapat diaplikasikan untuk kubis dan
wortel. Kadar air setelah perlakuan
adalah 12%. Rehidrasi terhadap produk
kering akan menghasilkan bentuk
sayuran segar seperti semula.
Gambar 96. sayuran yang dikeringkan
Tabel 12 Klasifikasi Botani beberapa
jenis sayuran
Famili,genus,spesies
Nama
umum
Monocotyledons
Amaryllidaceae (famili
amarylis)
– Allium cepa
– Allium sativum
Araceae(famili arum)
– Colocasia
esculenta
Gramineae (famili grass)
– Zea mays var
praecox
– Zea may var
rugosa
Liliaceae
– Asparagus
officinalis
Bawang
merah
Bawang
putih
Keladi/talas
Jagung
popcorn
Jagung
manis
Asparagus
Dicotyledons
Chenopodiaceae
– Beta vulgaris
– Beta vulgaris ,
cicla group
– Spinacia oleracea
Composite
– Helianthus annus
– Lactuca sativa
Convulaceae
– Ipomea batatus
Crucefera
– Brassica
oleraceae
– Brassica rapa
– Raphanus satvus
Cucurbitaceae
– Citrulus lanatus
– Cucumis sativus
– Cucurbita pepo
Leguminosae
– Arachis hypogaea
– Gliycine max
– Phaseolus
Bit
peleng
(Bahasa
Karo)
Bunga
matahari
Ubi jalar
Kol
Sawi pakchoi
Radish
Semangka
Timun
labu
232
vulgaris
– Pisum sativum
– Vigna radiata
Malvaceae
– Abelmoschus
esculentus
Polygonaceae
– Rheum
rhabarbarum
Solanaceae
– Capsicum annum
– Capsicum
frutescens
– Lycopersicum
esculentum
– Solanum
melongena
– Solanum
tuberosum
Tetra goniaceae
– Tetragonia tetra
gonioides
Umbelliferae
– Apium graveolens
– Daucus carota
Kacang
tanah
Kedele
Kacang
buncis
Kacang
ercis
Okra
Rhubarb
Cabai
besar
Cabai rawit
Tomat
Terong
Kentang
Bayam
New
Zeland
Seledri
Wortel
9.6.1. Tenik Budidaya Kentang
a. Deskripsi
Kentang adalah tanaman dari keluarga
Solanaceae yang memiliki akar umbi
yang dapat dimakan. Kata kentang juga
biasanya digunakan untuk menyebut akar
ini.
Kentang adalah salah satu makanan
pokok di Eropa walaupun awalnya
berasal dari Amerika Selatan.
Tanaman kentang pertama kali dibawa
dan dikembangbiakkan di Eropa pada
abad XVI. Kentang merupakan tanaman
dikotil yang bersifat semusim dan
berbentuk semak/herba.
Batangnya yang berada di atas
permukaan tanah ada yang berwarna
hijau, kemerah-merahan, atau ungu tua.
Akan tetapi, warna batang ini juga
dipengaruhi oleh umur tanaman dan
keadaan lingkungan. Pada kesuburan
tanah yang lebih baik atau lebih kering,
biasanya warna batang tanaman yang
lebih tua akan lebih menyolok.
Bagian bawah batangnya bisa berkayu.
Sedangkan batang tanaman muda tidak
berkayu sehingga tidak terlalu kuat dan
mudah roboh.
b. Jenis Kentang
Kentang (Solanum tuberosum L)
termasuk jenis tanaman sayuran
semusim, berumur pendek dan berbentuk
perdu/semak. Kentang termasuk tanaman
semusim karena hanya satu kali
berproduksi, setelah itu mati. Umur
tanaman kentang antara 90-180 hari.
Dalam dunia tumbuhan, kentang
diklasifikasikan sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotiledónea
Famili : Solanaceae
Genus : Solanum
Species : Solanun tuberosum
Dari tanaman ini dikenal pula spesiesspesies
lain yang merupakan spesies liar,
di antaranya Solanum andigenum L,
Solanum anglgenum L, Solanum
demissum L dan lain-lain.
Varitas kentang yang banyak ditanam di
Indonesia adalah kentang kuning varitas
Granola, Atlantis, Cipanas dan Segunung.
233
Belakangan ini Pusat Penelitian dan
Pengembangan Hortikultura melepas 2
jenis kentang yaitu:
Merbabu-17
• Potensi hasil 30-40 ton/ha
• Khusus untuk sayur
• Tahan terhadap penyakit busuk daun
dan hama lalat pengorok daun
Manohara
• Potensi hasil 20-37 ton/ha
• Tahan busuk daun
• Cocok untuk prosesing
Kentang sangat digemari hampir semua
orang. Bahkan di beberapa daerah, ada
yang menjadikannya makanan pokok.
Selain itu, kentang juga banyak
mengandung vitamin B, vitamin C, dan
sejumlah vitamin A. Sebagai sumber
karbohidrat yang penting, di Indonesia,
kentang masih dianggap sebagai sayuran
yang mewah.
c.Syarat Tumbuh
Iklim
a. Daerah dengan curah hujan rata-rata
1500 mm/tahun sangat sesuai untuk
membudidayakan kentang. Daerah
yang sering mengalami angin
kencang tidak cocok untuk budidaya
kentang.
b. Lama penyinaran yang diperlukan
tanaman kentang untuk kegiatan
fotosintesis adalah sekitar 9-10
jam/hari. Lama penyinaran juga
berpengaruh terhadap waktu dan
masa perkembangan umbi.
c. Suhu optimal untuk pertumbuhan
adalah 18-210C. Pertumbuhan umbi
akan terhambat apabila suhu tanah
kurang dari 10 derajat C dan lebih
dari 30 derajat C.
d. Kelembaban yang sesuai untuk
tanaman kentang adalah 80-90%.
Kelembaban yang terlalu tinggi akan
menyebabkan tanaman mudah
terserang hama dan penyakit,
terutama yang disebabkan oleh
cendawan.
Media Tanam
a. Secara fisik, tanah yang baik untuk
bercocok tanaman kentang adalah
yang berstruktur remah, gembur,
banyak mengandung bahan organik,
berdrainase baik dan memiliki
lapisan olah yang dalam. Sifat fisik
tanah yang baik akan menjamin
ketersediaan oksigen di dalam tanah.
b. Tanah yang memiliki sifat ini adalah
tanah Andosol yang terbentuk di
pegunungan-pegunungan.
c. Keadaan pH tanah yang sesuai
untuk tanaman kentang bervariasi
antara 5,0-7,0, ini tergantung pada
varietasnya. Untuk produksi yang
baik pH yang rendah tidak cocok
ditanami kentang. Pengapuran
mutlak diberikan pada tanah yang
memiliki nilai pH dibawah 7.
Ketinggian Tempat
Daerah yang cocok untuk menanam
kentang adalah pada dataran
tinggi/daerah pegunungan, dengan
ketinggian antara 1.000-3.000 m dpl.
Ketinggian idealnya berkisar antara 1000-
1300 m dpl. Beberapa varitas kentang
dapat ditanam di dataran menengah (300-
700 m dpl).
d. Pembibitan
Bibit Tanaman kentang dapat berasal
dari:
– Umbi
– stek batang
– stek tunas daun.
Umbi
Umbi bibit berasal dari umbi produksi
berbobot 30-50 gram. Pilih umbi yang
cukup tua antara 150-180 hari, umur
234
tergantung varietas, tidak cacat, umbi
baik, varitas unggul.
Umbi disimpan di dalam rak/peti di
gudang dengan sirkulasi udara yang baik
(kelembaban 80-95%).
Lama penyimpanan 6-7 bulan pada suhu
rendah dan 5-6 bulan pada suhu 250C.
Pilih umbi dengan ukuran sedang,
memiliki 3-5 mata tunas.
Gunakan umbi yang akan digunakan
sebagai bibit hanya sampai generasi
keempat saja.
Setelah bertunas sekitar 2 cm, umbi siap
ditanam.
Bila bibit diusahakan dengan membeli,
(usahakan bibit yang kita beli
bersertifikat), berat antara 30-45 gram
dengan 3-5 mata tunas.
Penanaman dapat dilakukan tanpa dan
dengan pembelahan. Pemotongan umbi
dilakukan menjadi 2-4 potong menurut
mata tunas yang ada.
Sebelum tanam umbi yang dibelah harus
direndam dulu di dalam larutan Dithane
M-45 selama 5-10 menit.
Walaupun pembelahan menghemat bibit,
tetapi bibit yang dibelah menghasilkan
umbi yang lebih sedikit daripada yang
tidak dibelah. Hal tersebut harus
diperhitungkan secara ekonomis.
Stek Batang
dan stek tunas
Cara ini tidak biasa dilakukan karena
lebih rumit dan memakan waktu lebih
lama.
Bahan tanaman yang akan diambil stek
batang/tunasnya harus ditanam di dalam
pot.
Pengambilan stek baru dapat dilakukan
jika tanaman telah berumur 1-1,5 bulan
dengan tinggi 25-30 cm.
Stek disemaikan di persemaian.
Apabila bibit menggunakan hasil stek
batang atau tunas daun, ambil dari
tanaman yang sehat dan baik
pertumbuhannya.
e. Pedoman Teknis Budidaya
Pengolahan Media Tanam
Lahan dibajak sedalam 30-40 cm sampai
gembur benar supaya perkembangan
akar dan pembesaran umbi berlangsung
optimal.
Kemudian tanah dibiarkan selama 2
minggu sebelum dibuat bedengan.
Pada lahan datar, sebaiknya dibuat
bedengan memanjang ke arah Barat-
Timur agar memperoleh sinar matahari
secara optimal, sedang pada lahan
berbukit arah bedengan dibuat tegak
lurus kimiringan tanah untuk mencegah
erosi.
Lebar bedengan 70 cm (1 jalur
tanaman)/140 cm (2 jalur tanaman), tinggi
30 cm dan jarak antar bedengan 30 cm.
Lebar dan jarak antar bedengan dapat
diubah sesuai dengan varietas kentang
yang ditanam. Di sekeliling petak
bedengan dibuat saluran pembuangan air
sedalam 50 cm dan lebar 50 cm.
Teknik Penanaman
Pemupukan Dasar
• Pupuk dasar organik berupa kotoran
ayam 10 ton/ha, kotoran kambing
sebanyak 15 ton/ha atau kotoran
sapi 20 ton/ha diberikan pada
permukaan bedengan kurang lebih
seminggu sebelum tanam, dicampur
pada tanah bedengan atau diberikan
pada lubang tanam.
• Pupuk anorganik berupa SP-
36=400kg/ha.
Cara Penanaman
Penyedian bibit
Bibit yang diperlukan jika memakai jarak
tanam 70 x 30 cm adalah 1.300-1.700
kg/ha dengan anggapan umbi bibit
berbobot sekitar 30-45 gram.
Pengaturan jarak tanam dan waktu tanam
Jarak tanam kentang tergantung pada
jenis varietasnya. Misalnya varietas
Dimanat dan LCB jarak tanamnya 80 x 40
sedangkan varietas lain 70 x 30 cm.
Waktu tanam yang tepat adalah diakhir
musim hujan pada bulan April-Juni, jika
lahan memiliki irigasi yang baik/sumber
air, maka kentang dapat ditanam dimusim
kemarau.
Sebaiknya tidak menanam kentang pada
musim hujan, dan penanaman yang baik
jika dilakukan dipagi/sore hari.
Pembuatan lubang tanam, dan mulsa
Lubang tanam dibuat dengan kedalaman
8-10 cm. Bibit dimasukkan ke lubang
tanam, ditimbun dengan tanah dan tekan
235
tanah di sekitar umbi. Bibit akan tumbuh
sekitar 10-14 hst.
Mulsa jerami perlu dihamparkan di
bedengan jika kentang ditanam di dataran
medium.
Pemeliharaan
Penyulaman
Untuk mengganti tanaman yang kurang
baik, maka dilakukan penyulaman.
Penyulaman dapat dilakukan setelah
tanaman berumur 15 hari. Bibit sulaman
merupakan bibit cadangan yang telah
disiapkan bersamaan dengan bibit
produksi. Penyulaman dilakukan dengan
cara mencabut tanaman yang
mati/kurang baik tumbuhnya dan ganti
dengan tanaman baru pada lubang yang
sama.
Penyiangan
Lakukan penyiangan secara kontinyu dan
sebaiknya dilakukan 2-3 hari
sebelum/bersamaan dengan pemupukan
susulan dan penggemburan. Jadi
penyiangan dilakukan minimal dua kali
selama masa penanaman. Penyiangan
harus dilakukan pada fase kritis yaitu
vegetatif awal dan pembentukan umbi.
Pemangkasan Bunga
Pada varietas kentang yang berbunga
sebaiknya dipangkas untuk mencegah
terganggunya proses pembentukan umbi,
karena terjadi perebutan unsur hara untuk
pembentukan umbi dan pembungaan.
Pemupukan
Selain pupuk organik, maka pemberian
pupuk anorganik juga sangat penting
untuk pertumbuhan tanaman.
Pupuk yang biasa diberikan Urea dengan
dosis 330 kg/ha, TSP dengan dosis 400
kg/ha sedangkan KCl 200 kg/ha.
Secara keseluruhan pemberian pupuk
organik dan anorganik adalah sebagai
berikut:
a. Pupuk kandang: saat tanam 15.000-
20.000 kg.
b. Pupuk anorganik
1. Urea/ZA: 21 hari setelah tanam
165/350 kg dan 45 hari setelah
tanam 165/365 kg.
2. SP-36: saat tanam 400 kg.
3. KCl: 21 hari setelah tanam 100 kg
dan 45 hari setelah tanam 100 kg.
c. Pupuk cair: 7-10 hari sekali dengan
dosis sesuai anjuran.
Pupuk anorganik diberikan ke dalam
lubang pada jarak 10 cm dari batang
tanaman kentang.
Pengairan
Tanaman kentang sangat peka terhadap
kekurangan air. Pengairan harus
dilakukan secara rutin tetapi tidak
berlebihan.
Pemberian air yang cukup membantu
menstabilkan kelembaban tanah sebagai
pelarut pupuk. Selang waktu 7 hari sekali
secara rutin sudah cukup untuk tanaman
kentang.
Pengairan dilakukan dengan cara disiram
dengan gembor/ember/atau dengan
mengairi selokan sampai areal tanaman
lembab (sekitar 15-20 menit).
Hama dan Penyakit
Hama
a. Ulat grayak (Spodoptera litura)
Gejala: ulat menyerang daun dengan
memakan bagian epidermis dan
jaringan hingga habis daunnya.
Pengendalian: (1) mekanis dengan
memangkas daun yang telah
ditempeli telur; (2) kimia dengan
Azordin, Diazinon 60 EC, Sumithion
50 EC.
b. Kutu daun (Aphis Sp) Gejala: kutu
daun menghisap cairan dan
menginfeksi tanaman, juga dapat
menularkan virus bagi tanaman
kedelai. Pengendalian: dengan cara
memotong dan membakar daun
yang terinfeksi, menyemprotkan
Roxion 40 EC, Dicarzol 25 SP.
c. Orong-orong (Gryllotalpa Sp)
Gejala: menyerang umbi di kebun,
akar, tunas muda dan tanaman
muda. Akibatnya tanaman menjadi
peka terhadap infeksi bakteri.
Pengendalian: menggunakan tepung
Sevin 85 S yang dicampur dengan
pupuk kandang.
d. Hama penggerek umbi (Phtorimae
poerculella Zael)
Gejala: pada daun yang berwarna
merah tua dan terlihat adanya jalinan
seperti benang yang berwarna
kelabu yang merupakan materi
pembungkus ulat. Umbi yang
236
terserang bila dibelah, akan terlihat
adanya lubang-lubang karena
sebagian umbi telah dimakan.
Pengendalian: secara kimia
menggunakan Selecron 500 EC,
Ekalux 25 EC, Orthene &5 SP,
Lammnate L.
e. Hama trip (Thrips tabaci). Gejala:
pada daun terdapat bercak-bercak
berwarna putih, selanjutnya berubah
menjadi abu-abu perak dan
kemudian mengering. Serangan
dimulai dari ujung-ujung daun yang
masih muda. Pengendalian: (1)
secara mekanis dengan cara
memangkas bagian daun yang
terserang; (2) secara kimia
menggunakan Basudin 60 EC, Mitac
200 EC, Diazenon, Bayrusil 25 EC
atau Dicarzol 25 SP.
Penyakit
a. Penyakit busuk daun Penyebab:
jamur Phytopthora infestans. Gejala:
timbul bercak-bercak kecil berwarna
hijau kelabu dan agak basah, lalu
bercak-bercak ini akan berkembang
dan warnanya berubah menjadi
coklat sampai hitam dengan bagian
tepi berwarna putih yang merupakan
sporangium. Selanjutnya daun akan
membusuk dan mati. Pengendalian:
menggunakan Antracol 70 WP,
Dithane M-45, Brestan 60, Polyram
80 WP, Velimek 80 WP dan lain-lain.
b. Penyakit layu bakteri, Penyebab:
bakteri Pseudomonas solanacearum.
Gejala: beberapa daun muda pada
pucuk tanaman layu dan daun tua,
daun bagian bawah menguning.
Pengendalian: dengan cara menjaga
sanitasi kebun, pergiliran tanaman.
Pemberantasan secara kimia dapat
menggunkan bakterisida, Agrimycin
atu Agrept 25 WP.
c. Penyakit busuk umbi Penyebab:
jamur Colleotrichum coccodes.
Gejala: daun menguning dan
menggulung, lalu layu dan kering.
Pada bagian tanaman yang berada
dalam tanah terdapat bercak-bercak
berwarna coklat. Infeksi akan
menyebabkan akar dan umbi muda
busuk. Pengendalian: dengan cara
pergiliran tanaman , sanitasi kebun
dan penggunaan bibit yang baik.
d. Penyakit fusarium
Penyebab: jamur Fusarium sp.
Gejala: infeksi pada umbi
menyebabkan busuk umbi yang
menyebabkan tanaman layu.
Penyakit ini juga menyerang kentang
di gudang penyimpanan. Infeksi
masuk melalui luka-luka yang
disebabkan nematoda/faktor
mekanis. Pengendalian: dengan
menghindari terjadinya luka pada
saat penyiangan dan pendangiran.
Pengendalian kimia dengan Benlate.
e. Penyakit bercak kering (Early Blight)
Penyebab: jamur Alternaria solani.
Jamur hidup disisa tanaman sakit
dan berkembang biak di daerah
kering. Gejala: daun terinfeksi
berbercak kecil yang tersebar tidak
teratur, berwarna coklat tua, lalu
meluas ke daun muda. Permukaan
kulit umbi berbercak gelap tidak
beraturan, kering, berkerut dan
keras. Pengendalian: dengan
pergiliran tanaman.
f. Penyakit karena virus
Virus yang menyerang adalah: (1)
Potato Leaf Roll Virus (PLRV)
menyebabkan daun menggulung; (2)
Potato Virus X (PVX) menyebabkan
mosaik laten pada daun; (3) Potato
Virus Y (PVY) menyebabkan mosaik
atau nekrosis lokal; (4) Potato Virus
A (PVA) menyebabkan mosaik lunak;
(5) Potato Virus M (PVM)
menyebabkan mosaik menggulung;
(6) Potato Virus S (PVS)
menyebabkan mosaik lemas. Gejala:
akibat serangan, tanaman tumbuh
kerdil, lurus dan pucat dengan umbi
kecil-kecil/tidak menghasilkan sama
sekali; daun menguning dan jaringan
mati. Penyebaran virus dilakukan
oleh peralatan pertanian, kutu daun
Aphis spiraecola, A. gossypii dan
Myzus persicae, kumbang Epilachna
dan Coccinella dan nematoda.
Pengendalian: tidak ada pestisida
untuk mengendalikan virus,
pencegahan dan pengendalian
dilakukan dengan menanam bibit
237
bebas virus, membersihkan
peralatan, memangkas dan
membakar tanaman sakit,
memberantas vektor dan pergiliran
tanaman.
f. Panen dan Pascapanen
Panen
Ciri dan Umur Panen
Umur panen pada tanaman kentang
berkisar antara 90-180 hari, tergantung
varietas tanaman.
Pada varietas kentang genjah, umur
panennya 90-120 hari; varietas medium
120-150 hari; dan varietas dalam 150-180
hari. Secara fisik tanaman kentang sudah
dapat dipanen apabila daunnya telah
berwarna kekuning-kuningan yang bukan
disebabkan serangan penyakit; batang
tanaman telah berwarna kekuningan dan
agak mengering.
Selain itu tanaman yang siap panen kulit
umbi akan lekat sekali dengan daging
umbi, kulit tidak cepat mengelupas bila
digosok dengan jari.
Cara Panen
Waktu memanen sangat dianjurkan
dilakukan pada waktu sore hari/pagi hari
dan dilakukan pada saat hari cerah. Cara
memanen yang baik adalah sebagai
berikut: cangkul tanah disekitar umbi
kemudian angkat umbi dengan hati hati
dengan menggunakan garpu tanah.
Setelah itu kumpulkan umbi ditempat
yang teduh. Hindari kerusakan mekanis
waktu panen.
Prakiraan Produksi
a. Granola/Atlantis: produksi 35-40
ton/ha.
b. Red Pontiac: produksi 15 ton/ha.
c. Desiree: produksi 18 ton/ha.
d. DTO: produksi 20 ton/ha.
e. Klon no. 17: produksi 30-40 ton/ha.
Standar Produksi
Standar ini meliputi klasifikasi dan syarat
mutu, cara pengambilan contoh, cara
pengujian contoh, syarat penandaan dan
pengemasan.
Kentang yang segar adalah umbi batang
dari tanaman kentang dalam keadaan
utuh bersih dan segar, sesuai dengan
SNI-01-3175-1992
Klasifikasi dan Standar Mutu
Menurut ukuran berat, kentang segar
digolongkan dalam:
a) Kecil: 50 gram kebawah.
b) Sedang: 51-100 gram.
c) Besar: 101-300 gram.
d) Sangat besar: 301 gram ke atas.
Menurut jenis mutunya kentang segar
digolongkan dalam 2 jenis mutu, yaitu
mutu I dan mutu II.
a) Keseragaman warna dan bentuk:
mutu I=seragam; mutu II=seragam.
b) Keseragaman ukuran: mutu
I=seragam; mutu II=seragam.
c) Kerataan permukaan kentang: mutu
I=rata; mutu II=tidak disyaratkan.
d) Kadar kotor (bobot/bobot): mutu
I=maksimum 2,5%; mutu
II=maksimum 2,5%.
e) Kentang cacat (bobot/bobot): mutu
I=maksimum 5%; mutu II=maksimum
10%.
f) Ketuaan kentang: mutu I=tua; mutu
II=cukup tua.
Untuk mendapatkan hasil kentang yang
sesuai dengan standar maka dilakukan
pengujian yang meliputi:
a. Penentuan keseragaman ukuran
kentang
Timbang seluruh cuplikan,
kemudian timbang tiap butir
dalam cuplikan. Pisahkan butirbutir
yang beratnya
diatas/dibawah ukuran berat yang
telah ditentukan dan timbanglah
semuanya. Bila presentase berat
butir yang diatas/dibawah ukuran
berat masing-masing
sama/kurang dari 5% maka
contoh dianggap seragam.
b. Penentuan kerataan permukaan
kentang
Timbang seluruh cuplikan dan
ukur benjolan yang terdapat pada
tiap butir dalam cuplikan.
238
Pisahkan butir-butir cuplikan yang
mempunyai benjolan lebih dari 1
cm sama/kurang dari 10% jumlah
cuplikan maka cuplikan dianggap
mempunyai permukaan rata.
c. Penentuan kadar kotoran
Timbanglah sampai mendekati
0,1 gram sebanyak lebih kurang
500 gram cuplikan dalam wadah
yang telah ditera sebelumnya dan
tuanglah kedalalam sebuah bak
kayu yang disediakan khusus
untuk itu. Pilihlah kotoran-kotoran
dan timbanglah berat masingmasing.
d. Penentuan cacat pada kentang
segar
Timbang seluruh cuplikan dan
tentukan butir-butir kentang yang
cacat. Pisahkan butir-butir yang
cacat dan timbanglah semuanya.
Bila presentase berat butir-butir
yang cacat sama/kurang dari
50%, maka cuplikan dianggap
Mutu I dan bila sama/kurang dari
10% maka cuplikan dianggap
Mutu II.
e. Penentuan ketuaan pada kentang
segar
Timbanglah seluruh cuplikan dan
tentukan butir contoh yang
tua/cukup tua. Pisahkan butir
yang tua/cukup tua dan
timbanglah semuanya. Bila
presentase berat butir contoh
yang kulitnya mengelupas
beratnya lebih dari ¼ bagian
permukaannya sama/kurang dari
5%, maka cuplikan dianggap tua
dan bila sama/kurang dari 10%,
maka cuplikan dianggap cukup
tua.
Pengambilan Contoh
Contoh diambil secara acak dari jumlah
kemasan seperti terlihat berikut ini. Tiap
kemasan diambil contoh sebanyak 10 kg
dari bagian atas, tengah dan bawah.
Contoh tersebut dicampur merata tanpa
menimbulkan kerusakan, kemudian dibagi
menjadi empat dan dua bagian diambil
secara diagonal.
Cara ini dilakukan beberapa kali sampai
contoh mencapai 10 kg.
b) Untuk jumlah kemasan dalam lot 1
sampai 3, contoh yang diambil
semua.
c) Untuk jumlah kemasan dalam lot 4
sampai 25, contoh yang diambil 3.
d) Untuk jumlah kemasan dalam lot 26
sampai 50, contoh yang diambil 6.
e) Untuk jumlah kemasan dalam lot 51
sampai 100, contoh yang diambil 8.
f) Untuk jumlah kemasan dalam lot 101
sampai 150, contoh yang diambil 10.
g) Untuk jumlah kemasan dalam lot 151
sampai 200, contoh yang diambil 12.
h) Untuk jumlah kemasan dalam lot 201
atau lebih, contoh yang diambil 15.
Petugas pengambil contoh harus
memenuhi syarat yaitu orang yang
berpengalaman atau dilatih lebih dahulu
dan mempunyai ikatan dengan badan
hukum.
Pengemasan
Kentang dikemas dengan keranjang atau
bahan lain dengan berat netto maksimum
80 kg dan ditutup dengan anyaman
bambu kemudian diikat dengan tali
rotan/bahan lain. Isi kemasan tidak
melebihi permukaan.
Di dalam keranjang atau kemasan diberi
label yang bertuliskan :
Nama barang.
• Jenis mutu.
• Nama/kode perusahaan/eksportir.
• Berat netto.
• Produksi Indonesia.
• Negara/tempat tujuan.
9.6.2. Teknik Budidaya Tomat
a. Deskripsi
Tanaman tomat merupakan tanaman
perdu semusim, berbatang lemah dan
basah. Daunnya berbentuk segitiga.
Bunganya berwarna kuning.
Buahnya buah buni, hijau waktu muda
dan kuning atau merah waktu tua. Berbiji
banyak, berbentuk bulat pipih, putih atau
krem, kulit biji berbulu.
Perbanyakan dengan biji kadang-kadang
dengan setek batang cabang yang telah
tua.
Tomat umumnya dibudidayakan pada
lahan kering atau pada lahan sawah.
239
Tanaman ini tidak membutuhkan
persyaratan khusus, akan tetapi
menghendaki tanah yang gembur.
Tanaman ini dapat dibudidayakan secara
monokultur maupun dengan sistem
multiple cropping.
b.Varietas Tomat
Jenis-jenis Tomat
• Tomat biasa (lycopersicum
commune) buahnya bulat pipih,
lunak, bentuknya tidak teratur.
• Tomat Apel (Lycopersicum
pyriforme) buah bulat, kuat dan
sedikit keras seperti buah apel,
tumbuh baik di dataran tinggi
• Tomat kentang (Lycopersicum
grandifolium) buah bulat, padat, lebih
besar dari tomat apel, daun lebar
agak rimbun.
Beberapa varietas tomat yang sekarang
sedang dikembangkan adalah sebagai
berikut:
Mirah
• Potensi hasil 30-35 ton/ha
• Rasa manis masam
• Buah bulat agak lonjong
• Umur panen 55-59 hari
• Cocok untuk dataran rendah
• Daya simpan 8 hari
• Toleran terhadap penyakit layu
bakteri
Opal
• Potensi hasil 30-50 ton/ha
• Rasa manis masam
• Buah lonjong
• Umur panen 58-61 hari
• Cocok untuk dataran rendah
• Daya simpan 9 hari
• Toleran terhadap penyakit layu
bakteri
Zamrud
• Potensi hasil 30-45 ton/ha
• Rasa manis asam
• Buah bulat
• Umur panen 59-61 hari
• Daya simpan 8 hari
240
• Cocok untuk dataran rendah
• Toleran terhadap penyakit layu
bakteri
c.Manfaat
Tomat termasuk sayuran buah yang
sangat digemari. Banyak sekali
penggunaan buah tomat, antara lain
sebagai bumbu sayur, lalap, makanan
yang diawetkan (saus tomat), buah segar,
atau minuman (juice).
Selain itu, buah tomat banyak
mengandung vitamin A, Vitamin C, dan
sedikit vitamin B.
d. Syarat Tumbuh
Tomat secara umum dapat ditanam di
dataran rendah, medium, dan tinggi,
tergantung varietasnya.
Namun, kebanyakan varietas tomat
hasilnya lebih memuaskan apabila
ditanam di dataran tinggi yang sejuk dan
kering sebab tomat tidak tahan panas
terik dan hujan.
Suhu optimal untuk pertumbuhannya
adalah 23°C pada siang hari dan 17°C
pada malam hari.
Tanah yang dikehendaki adalah tanah
bertekstur liat yang banyak mengandung
pasir. Dan, akan lebih disukai bila tanah
itu banyak mengandung humus, gembur,
sarang, dan berdrainase baik. Sedangkan
keasamanR tanah yang ideal untuk
pertumbuhannya adalah pada pH netral,
yaitu sekitar 6-7.
e. Pedoman Budidaya
Bibit dan Persemaian
Benih tomat dapat langsung diperoleh
dari suplier atau disiapkan sendiri.
Sebetulnya menyiapkan sendiri benih
tomat yang baik tidaklah terlalu sukar.
Caranya adalah sebagai berikut:
1. Buah tomat dipilih yang sehat,
tidak cacat, dan matang penuh
dari varietas yang unggul. Buah
yang telah dipilih selanjutnya
diperam selama tiga hari sampai
warna buah berubah menjadi
merah gelap dan lunak.
Kemudian bijinya dikeluarkan
bersama lendirnya.
2. Biji beserta lendir difermentasi
selama 3 hari sampai lendir dan
airnya terpisah dari biji.
3. Biji yang telah terpisah tadi
segera dicuci dan dijemur selama
kurang lebih 3 hari atau hingga
kadar airnya kurang lebih 6%.
4. Biji yang telah kering dapat
langsung disemai atau disimpan.
Bila telah diperoleh, sebaiknya benih
disemaikan dahulu sebelum ditanam
pada bedengan yang tetap.
Bedengan persemaian dibuat dengan
ukuran lebar antara 0,8-1,2 m dengan
panjang sekitar 2-3 m, dan tinggi sekitar
20-25 cm.
Jarak antarbarisan adalah 5 cm.
Bedengan yang telah dibentuk diberi
pupuk kandang seminggu sebelum tanam
sebanyak 5 kg per m2 dan pupuk Urea
dua hari sebelum tanam sebanyak 30 g
per m2.
Setelah bedengan persemaian siap
diolah, bibit tomat dapat segera disebar.
Untuk satu ha pertanaman, benih yang
dibutuhkan adalah sekitar 300 – 400
gram. Pada persemaian diberi lindungan
yang dapat berupa atap rumbia atau
pelepah pisang.
Persemaian disiram setiap pagi dan sore.
Bila bibit telah mencapai tinggi antara 7-
10 cm, yaitu dalam waktu 2 minggu
setelah disebar, bibit itu dapat segera
dipindahkan ke tempat penyapihan.
Penyapihan berguna untuk menyeleksi
bibit yang bagus dan sebagai latihan
hidup bagi tanaman muda. Tempat
penyapihan dapat berupa polybag atau
bumbung dari pelepah pisang. Bibit
dibiarkan di tempat penyapihan sampai
berumur 1 bulan dengan tinggi sekitar 15
cm dan telah berhelai daun 3 atau 4.
Setelah itu, tanaman dapat dipindahkan
ke tempat penanaman yang tetap.
Sebelum penanaman dilakukan,
sebaiknya lahan disiapkan dahulu. Lahan
241
yang telah dipilih segera diolah. Guna
mencegah nematoda yang merugikan,
kita dapat memberikan Nemagon sebagai
fumigan tanah 2 atau 3 minggu sebelum
tanam. Kemudian lahan itu dibuat
bedengan dengan lebar antara 1,4-1,6
meter dan jarak antar bedengan sekitar
20 cm. Lubang penanaman segera dibuat
di atas bedengan itu dengan luas sekitar
15-20 cm sedalam 70-80 cm.
Agar tanah cukup subur, perlu
ditambahkan pupuk kandang sebanyak
0,5-1 kg untuk setiap lubang. Banyaknya
pupuk kandang untuk 1 ha lahan adalah
sekitar 20-30 ton. Lahan yang telah diolah
sebaiknya didiamkan dahulu selama 1
bulan agar diperoleh cukup sinar
matahari, kemudian barulah digunakan.
Selanjutnya bibit yang telah disapih
ditanam pada bedengan yang telah
disiapkan dengan jarak antartanaman
sekitar 50-60 cm.
Setiap bedengan berisi dua baris
tanaman. Sehingga setiap ha lahan dapat
ditanami sebanyak 20.900-28.600 bibit.
f.Teknik Pemeliharaan Tomat
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan
dalam pemeliharaan tanaman tomat,
yaitu:
Penyiraman
Penyiraman dilakukan bila selama
pertumbuhan tanaman jatuh pada musim
kemarau yang berkepanjangan (sesuai
dengan kebutuhan). Hal ini dilakukan
secara hati-hati agar tanaman tidak rusak
dan diusahakan penyiraman tanaman
pada pagi dan sore hari.
Pemupukan
Pupuk yang diperlukan untuk tanaman
tomat adalah :
a. Pupuk kandang dengan dosis 10-
20 ton per hektar atau 0,5-1 kg
per tanaman, yang diberikan
seminggu sebelum tanam.
b. Untuk pupuk TSP dengan dosis
2,5 – 3 kwintal per hektar atau 10-
15 gram per tanaman, yang
diberikan seminggu sebelum
tanam.
c. Pupuk Urea diberikan bersamaan
saat tanam dengan dosis 1
kwintal per hektar atau 4-5 gram
per tanaman. Sedangkan
pemupukan Urea untuk susulan
dilakukan 4 minggu setelah
pemupukan pertama dengan
dosis sama seperti pemupukan
pertama.
d. Cara pemberian pupuk baik
pupuk dasar maupun susulan,
yaitu diletakkan melingkar di
sekeliling tanaman dengan jarak
10-15 cm, kenudian ditutup
dengan tanah.
e. Pemupukan dilakukan pada saat
awal atau akhir musim hujan dan
juga disesuaikan dengan tingkat
kesuburan tanah setempat.
Penyulaman
Penyulaman dilakukan bila ada tanaman
yang mati atau pertumbuhannya kurang
baik, dan diusahakan agar bibit tanaman
pengganti harus subur pertumbuhannya
serta masih seumur dengan tanaman
yang diganti.
Penyiangan dan Pembumbunan
Penyiangan dan pembubunan dilakukan
secara bersamaan setelah tanaman
berumur kira-kira 1 bulan, yaitu dengan
cara membabat atau mencabut
rerumputan, kemudian tanah di sekitar
tanaman dibumbun pada tanaman.
Pemberian Mulsa
Pemberian mulsa utuk menjaga agar
tanah tetap gembur, mengurangi
penguapan, dan menekan pertumbuhan
rerumputan.
Mulsa yang digunakan yaitu sisa-sisa
tanaman atau rumpur-rumput kering.
Caranya yaitu mulsa diletakkan di
Pengajiran
Pengajiran untuk menghindari agar
tanaman tomat tidak rebah dan
memudahkan pemeliharaan.
Ajir dipasang pada saat tanaman berumur
1 bulan atau tanaman mencapai tinggi
242
kira-kira 40 cm. Ajir dapat digunakan
seperti banbu atau tali.
Pemangkasan
Pemangkasan dimaksudkan agar dapat
diperoleh buah yang besar dan cepat
masak. Pemangkasan dilakukan sekali
atau dua kali sebulan yaitu dengan cara
memangkas bagian pucuk atau cabang
ketiga pada batang pokok, atau cabang
kelima pada kedua cabang yang
dibiarkan hidup. Pemangkasan tanaman
tomat dapat dilakukan dengan dua cara
yaitu pemangkasan tunas muda dan
pemangkasan batang. Tanaman tomat
yang telah mempunyai lima dompolan
buah harus dipotong pucuk batangnya
dan tunas-tunasnya agar buah dapat
menjadi besar dan cepat masak.
Tinggalkan dua atau tiga tunas yang
berada di samping atau di sebelah bawah
dompolan buah yang kelima itu.
Dompolan yang berdaun atau berbuah
lebih perlu dipangkas dan dipetik agar
tomat yang dikehendaki (lima dompolan)
tidak terhalang pertumbuhannya.
Hama dan Penyakit
Adapun jenis hama dan penyakit yang
sering menyerang tanaman tomat yaitu :
Hama
– Ulat tanah coklat: Kumpulkan
larva, kemudian musnahkan atau
disemprot dengan Diptrek 95 SL
atau Dusban 20 EC, dengan
dosis 0,1 %.
– Ulat buah: Semprot dengan
Diazinon 60 EC, dengan dosis
0,2 %.
Penyakit dan Jenis Penyakit
Pengendalian
– Penyakit Lanas: Cabut dan buang
tanaman yang terserang
– Rhizoetonia dan Phytium sp.:
Semprot dengan Dithane M -45
0,2%.
Kutu kebul (Bemisia tabaci) Nimfa dan
serangga dewasa mengisap cairan sel
pada daun. Serangga aktif sepanjang hari
dengan gejala serangan : timbul bercak
nekrotik pada daun. Tanaman inang :
cabai, tomat, kacang panjang, tembakau,
dll.
243
Bercak daun alternaria (Alternaria solani)
Penyebab : jamur A. solani Gejala
serangan : pada awal serangan timbul
bercak-bercak kecil berwarna coklat pada
daun bagian bawah.
Tanaman inang : cabai, tomat, semangka,
kentang, dll.
Penyebab : jamur R. solani dan Phythium
spp.
Gejala serangan : terdapat luka pada
pangkal batang yang akan menyebabkan
patahnya batang. Tanaman inang : cabai,
tomat, semangka, dll.
Ulat buah
(Helicoverpa armigera)
Penyakit rebah kecambah
(Rhyzoctona solani dan
Phythium spp.
244
g.Panen dan Pasca Panen
Panen tomat dilakukan sesuai dengan
tujuan pemasarannya sehingga perlu
diperhitungkan lama perjalanan sampai
ke tempat tujuan.
Sebaiknya tomat berada di pasaran pada
saat masak penuh, tetapi tidak boleh
terlalu masak karena akan busuk.
Pada saat masak penuh itulah tomat
memperlihatkan penampilannya yang
terbaik.
Jika tujuan pemasaran adalah pasar lokal
yang jaraknya tidak begitu jauh, dapat
ditempuh dalam beberapa jam, panen
sebaiknya dilakukan sewaktu buah masih
berwarna kekuning-kuningan.
Sedangkan untuk pemasaran ke tempat
yang jauh atau untuk di ekspor, buah
sebaiknya dipetik sewaktu masih
berwarna hijau, tetapi sudah tua benar.
Atau 8-10 hari sebelum menjadi masak
(berwarna merah).
Umur petik tergantung varietas tomat
yang ditanam dan kondisi tanaman.
Umumnya buah tomat dapat dipanen
pertama pada waktu berumur 2 atau 3
bulan setelah tanam.
Panen dilakukan beberapa kali, yaitu
antara 10-15 kali pemetikan buah dengan
selang 2-3 hari sekali.
Pemetikan dapat dilakukan pagi atau sore
hari. Dan, diusahakan buah yang dipetik
tidak jatuh atau terluka.
Karena hal ini dapat menurunkan kualitas
dan dapat menjadi sumber masuknya
bibit penyakit.
9.6.3. Teknik Budidaya Cabai
a. Pendahuluan
Cabe (Capsicum Annum var longum)
merupakan salah satu komoditas
245
hortikultura yang memiliki nilai ekonomi
penting di Indonesia.
Cabe merupakan tanaman perdu dari
famili terong-terongan yang memiliki
nama ilmiah Capsicum sp. Cabe berasal
dari benua Amerika tepatnya daerah Peru
dan menyebar ke negara-negara benua
Amerika, Eropa dan Asia termasuk
Negara Indonesia.
Tanaman cabe banyak ragam tipe
pertumbuhan dan bentuk buahnya.
Diperkirakan terdapat 20 spesies yang
sebagian besar hidup di Negara asalnya.
Masyarakat pada umumnya hanya
mengenal beberapa jenis saja, yakni
Cabe besar, cabe keriting, cabe rawit dan
paprika.
Secara umum cabe memiliki banyak
kandungan gizi dan vitamin. Diantaranya
Kalori, Protein, Lemak, Kabohidarat,
Kalsium, Vitamin A, B1 dan Vitamin C.
Selain digunakan untuk keperluan rumah
tangga, cabe juga dapat digunakan untuk
keperluan industri diantaranya, Industri
bumbu masakan, industri makanan dan
industri obat-obatan atau jamu.
Buah cabe ini selain dijadikan sayuran
atau bumbu masak juga mempunyai
kapasitas menaikkan pendapatan petani.
Disamping itu tanaman ini juga berfungsi
sebagai bahan baku industri, yang
memiliki peluang eksport, membuka
kesempatan kerja.
Gambar 97 Tanaman cabe
b. Jenis-jenis cabe
Saat ini telah banyak benih cabe hibrida
yang beredar di pasaran dengan nama
varietas yang beraneka ragam dengan
berbagai keunggulan yang dimiliki.
Beberapa jenis cabe yang telah dirilis
adalah: Jet set, Arimbi, Buana 07,
Somrak, Elegance 081, Horison 2089,
Imperial 308 dan Emerald 2078.
Dan untuk cabe hibrida keriting
diantaranya, Papirus, CTH 01, Kunthi 01,
Sigma, Flash 03, Princess 06 dan Helix
036, dan untuk cabe rawit hibrida adalah
Discovery.
Tanjung-1
• Potensi hasil 18 ton/ha
• Warna buah merah
• Panjang buah 10 cm
• Cocok untuk dataran rendah
• Toleran terhadap hama pengisap
daun
246
Tanjung-2
• Potensi hasil 12 ton/ha
• Cocok untuk dataran rendah
Lembang-1
• Potensi hasil 9 ton/ha
• Cocok untuk dataran tinggi
c.Syarat Tumbuh
Tanah
– Tanah berstruktur remah/ gembur
dan kaya akan bahan organik.
– Derajat keasaman (PH) tanah
antara 5,5 – 7,0
– Tanah tidak becek/ ada
genangan air
– Lahan pertanaman terbuka atau
tidak ada naungan.
Iklim
– Curah hujan 1500-2500 mm
pertahun dengan distribusi
merata.
– Suhu udara 16° – 32 ° C
– Saat pembungaan sampai
dengan saat pemasakan buah,
keadaan sinar matahari cukup
(10 – 12 jam).
d.Pedoman Teknis Budidaya
Penyiapan Benih
Benih cabe dapat dibuat sendiri dengan
cara sebagai berikut:
– Pilih buah cabe yang matang
(merah)
– Bentuk sempurna, segar
– Tidak cacat dan tidak terserang
penyakit.
– Kemudian keluarkan bijinya
dengan mengiris buah secara
memanjang
– Cuci biji lalu dikeringkan.
– Kemudian pilih biji yang bentuk,
ukuran dan warna seragam,
permukaan kulit bersih, tidak
keriput dan tidak cacat.
Bila kesulitan membuat sendiri, benih
cabe dapat dibeli di toko pertanian
setempat.
Benih yang akan ditanam diseleksi
dengan cara merendam dalam air, biji
yang terapung dibuang.
Persemaian
Sebelum tanam di tempat permanen,
sebaiknya benih disemai dulu dalam
wadah semai yang dapat berupa bak
plastik atau kayu dengan ketebalan
sekitar 10 cm yang dilubangi bagian
dasarnya untuk pengaturan air(drainase).
Persiapannya adalah sebagai berikut:
1. Isikan dalam wadah semai media
berupa tanah pasir, dan pupuk
kandang dengan perbandingan 1
: 1. Untuk menghilangkan
gangguan hama berikan Curater
3 G takaran 10 10 gr/m2. Media
ini disiapkan 1 minggu sebelum
penyemaian benih.
247
2. Benih yang akan ditanam,
sebelumnya direndam dalam air
hangat (50 derajat Celcius)
selama semalam. Lebih baik lagi
bila diberi zat pengatur tumbuh
seperti Atonik.
3. Tebarkan benih secara merata di
media persemaian, bila mungkin
beri jarak antar benih 5 x 5 cm
sehingga waktu tanaman
dipindah/dicabut, akarnya tidak
rusak. Usahakan waktu benih
ditanam diatasnya ditutup selapis
tipis tanah. Kemudian letakkan
wadah semai tersebut di tempat
teduh dan lakukan penyiraman
secukupnya agar media semai
tetap lembab.
Pembibitan
1. Benih yang telah berkecambah
atau bibit cabe umur 10-14 hari
(biasanya telah tumbuh sepasang
daun) sudah dapat dipindahkan
ke tempat pembibitan.
2. Siapkan tempat pembibitan
berupa polybag ukuran 8 x 9 cm
atau bumbungan dari bahan daun
pisang sehingga lebih murah
harganya. Masukkan ke
dalamnya campuran tanah, pasir
dan pupuk kandang serta
tambahkan Curater 3 G.
3. Pindahkan bibit cabe ke wadah
pembibitan dengan hati-hati.
Pada saat bibit ditanam di
bumbungan, tanah di sekitar akar
tanaman ditekan-tekan agar
sedikit padat dan bibit berdiri
tegak. Letakkan bibit di tempat
teduh dan sirami secukupnya
untuk menjaga kelembabannya.
Pembibitan ini bertujuan untuk
meningkatkan daya adaptasi dan daya
tumbuh bibit pada saat pemindahan ke
tempat terbuka di lapangan atau pada
polybag
Pemindahan bibit baru dapat dilakukan
setelah berumur 30-40 hari.
Persiapan Media Tanam
dalam Polybag
1. Siapkan polybag tempat penanaman
yang berlubang kiri kanannya untuk
pengaturan air.
2. Masukkan media tanam ke dalamnya
berupa campuran tanah dengan
pupuk kandang 2 : 1 sebanyak 1/3
volume polybag. Tambahkan Furadan
atau Curater 3G 2- 4 gr/tanaman
untuk mematikan hama pengganggu
dalam media tanah.
3. Masukkan campuran tanah dan
pupuk kandang ke dalam polybag
setinggi 1/3 nya.
4. Tambahkan pupuk buatan sebagai
pupuk dasar yaitu 10 gr SP 36, 5 gr
KCl dan 1/3 bagian dari campuran 10
gr Urea + 20 gr ZA per tanaman (2/3
bagiannya untuk pupuk susulan).
Kemudian siram dengan air agar
pupuk larut dalam tanah.
Penanaman di Lapangan
– Siapkan bedengan yang
dicampur dengan pupuk kandang
– Jika pH tanah rendah (4-5) maka
lakukan terlebih dahulu
pengapuran. Pengapuran
dilakukan bersamaan dengan
pembuatan bedengan sebarkan
kapur, aduk rata, biarkan selama
3 minggu.
– Tutup bedengan dengan mulsa
plastik
– Gunakan kaleng yang diberi
arang untuk melubanginya.
– Pindahkan hati-hati bibit ke dalam
lubang tanam.
248
Gambar 98 Penanaman cabe pada lahan
terbuka dengan menggunakan
mulsa plastik
Penanaman
1. Pilih bibit cabe yang baik yaitu
pertumbuhannya tegar, warna daun
hijau, tidak cacat/terkena hama
penyakit.
2. Tanam bibit tersebut di polybag
penanaman. Wadah media bibit harus
dibuka dulu sebelum ditanam.
Hati-hati supaya tanah yang
menggumpal akar tidak lepas.
Bila wadah bibit memakai bumbungan
pisang langsung ditanam karena
daun tersebut akan hancur sendiri.
Tanam bibit bibit tepat di bagian
tengah, tambahkan media tanahnya
hingga mencapai sekitar 2 cm bibir
polybag.
3. Padatkan permukaan media tanah
dan siram dengan air lalu letakkan di
tempat terbuka yang terkena sinar
matahari langsung.
Pemeliharaan
Penyiraman
Lakukan penyiraman secukupnya untuk
menjaga kelembaban media tanah.
Pemupukan
Lakukan pemupukan susulan :
Umur 30 hari setelah tanam : 5 gr Kcl per
tanaman.
Umur 30 dan 60 hari setelah tanam :
masing-masing 1/3 bagian dari sisa
campuran Urea dan ZA pada pemupukan
dasar.
Perompesan
Perompesan adalah pembuangan cabang
daun di bawah cabang utama dan buang
bunga yang pertama kali muncul.
Pengendalian hama,penyakit, dan gulma
Hama
Untuk mengendalikan hama lalat buah
penyebab busuk buah, pasang jebakan
yang diberi Antraxtan.
Sedang untuk mengendalikan serangga
pengisap daun seperti Thrips, Aphid
dengan insektisida seperti Curacron.
Jenis-jenis hama yang banyak
menyerang tanaman cabai antara lain
kutu daun dan trips.
Kutu daun menyerang tunas muda cabai
secara bergerombol. Daun yang
terserang akan mengerut dan melingkar.
Cairan manis yang dikeluarkan kutu,
membuat semut dan embun jelaga
berdatangan. Embun jelaga yang hitam
ini sering menjadi tanda tak langsung
serangan kutu daun.
Pengendalian kutu daun (Myzus persicae
Sulz) dengan memberikan Furadan 3G
sebanyak 60-90 kg/ha atau sekitar 2
sendok makan/10 m2 area.
Apabila tanaman sudah tumbuh
semprotkan Curacron 500 EC, Nudrin 215
WSC, atau Tokuthion 500 EC. Dosisnya 2
ml/liter air.
Serangan hama trips amat berbahaya
bagi tanaman cabai, karena hama ini juga
vektor pembawa virus keriting daun.
Gejala serangannya berupa bercakbercak
putih di daun karena hama ini
mengisap cairan daun tersebut. Bercak
tersebut berubah menjadi kecokelatan
dan mematikan daun.
249
Serangan berat ditandai dengan
keritingnya daun dan tunas. Daun
menggulung dan sering timbul benjolan
seperti tumor.
Hama trips (Thrips tabaci) dapat dicegah
dengan banyak cara yaitu:
– Pemakaian mulsa jerami
– pergiliran tanaman
– penyiangan gulma atau rumputan
pengganggu, dan menggenangi
lahan dengan air selama
beberapa waktu.
– Pemberian Furadan 3 G pada
waktu tanam seperti pada
pencegahan kutu daun mampu
mencegah serangan hama trip
juga. Akan tetapi, untuk tanaman
yang sudah cukup besar, dapat
disemprot dengan Nogos 50 EC,
Azodrin 15 WSC, Nuracron 20
WSC, dosisnya 2-3 cc/1.
Penyakit
Untuk penyakit busuk buah kering
(Antraknosa) yang disebabkan cendawan,
gunakan fungisida seperti Antracol. Dosis
dan aplikasi masing-masing obat tersebut
dapat dilihat pada labelnya.
Adapun jenis-jenis penyakit yang banyak
menyerang cabai antara lain antraks atau
patek yang disebabkan oleh cendawan
Colletotricum capsici dan Colletotricum
piperatum, bercak daun (Cercospora
capsici), dan yang cukup berbahaya ialah
keriting daun (TMV, CMVm, dan virus
lainnya).
Gejala serangan antraks atau patek ialah
bercak-bercak pada buah, buah
kehitaman dan membusuk, kemudian
rontok.
Gejala serangan keriting daun adalah:
– bercak daun ialah bercak-bercak
kecil yang akan melebar
– Pinggir bercak berwama lebih tua
dari bagian tengahnya. Pusat
bercak ini sering robek atau
berlubang.
– Daun berubah kekuningan lalu
gugur.
– Serangan keriting daun sesuai
namanya ditandai oleh keriting
dan mengerutnya daun, tetapi
keadaan tanaman tetap sehat
dan segar.
Selain penyakit keriting daun, penyakit
lainnya dapat dicegah dengan
penyemprotan fungisida Dithane M 45,
Antracol, Cupravit, Difolatan. Konsentrasi
yang digunakan cukup 0,2-0,3%.
Bila tanaman diserang penyakit keriting
daun maka tanaman dicabut dan dibakar.
Pengendalian keriting daun secara kimia
masih sangat sulit.
e. Panen dan Pasca Panen
Panen
Panen cabai yang ditanam didataran
rendah lebih cepat dipanen dibandingkan
dengan cabai dataran tinggi.
Panen pertama cabai dataran rendah
sudah dapat dilakukan pada umur 70-75
hari.
Sedang di dataran tinggi panen baru
dapat dimulai pada umur 4-5 bulan.
Setelah panen pertama, setiap 3-4 hari
sekali dilanjutkan dengan panen rutin.
Biasanya pada panen pertama jumlahnya
hanya sekitar 50 kg. Panen kedua naik
hingga 100 kg. Selanjutnya 150, 200,
250, hingga 600 kg per hektar.
Setelah itu hasilnya menurun terus,
sedikit demi sedikit hingga tanaman tidak
produktif lagi.
Tanaman cabai dapat dipanen terusmenerus
hingga berumur 6-7 bulan.
250
Cabai yang sudah berwama merah
sebagian berarti sudah dapat dipanen.
Ada juga petani yang sengaja memanen
cabainya pada saat masih muda
(berwarna hijau).
Pemetikan dilakukan dengan hati-hati
agar percabangan/tangkai tanaman tidak
patah. Kriteria panennya saat ukuran
cabai sudah besar, tetapi masih berwama
hijau penuh.
Penentuan umur panen
Umur panen cabe biasanya 70-90 hari
tergantung varietasnya, yang ditandai
dengan 60% cabe sudah berwarna
merah. Untuk dijadikan benih maka cabe
dipanen bila buah sudah menjadi merah
semua.
Pemanenan
Pemanenan cabe dengan cara memetik
buah beserta tangkai buahnya dan
sebaiknya dilakukan pada saat cuaca
cera. Pemanenan pada saat hujan akan
menyebabkan kadar air cabe menjadi
lebih tinggi sehingga cabe akan lebih
cepat busuk.
Pascapanen
Cabe yang telah dipetik diletakkan dalam
keranjang bambu yang sudah dilapisi
dengan daun pisang. Dapat juga
digunakan goni yang terbuat dari serat
atau plastik. Hal ini untuk mengurangi
tercecernya cabe dan menghindari
kerusakan mekanis.
Untuk selanjutnya siap diangkut dan
dipasarkan.
Bila cabe habis untuk dikonsumsi, tidak
perlu dilakukan pengeringan dan
sebaliknya bila produksi cabe melimpah
dimana konsumen tidak mampu untuk
menampung cabe ini, maka perlu
dilakukan pengeringan..
Pembuatan Cabe kering
Cabe yang masak dipilih yang sehat dan
mulus, kemudian tangkainya dibuang
selanjutnya dicuci bersih agar bebas
kotoran dan pestisida.
Setelah bersih direndam dalam larutan
Natrium Bisulfit 0,2 % yaitu dengan
melarutkan 2 gram NaBisulfit dalam 1 liter
air panas selama kurang lebih 6 menit,
sampai betul-betul terendam.
Perendaman ini untuk mempertahankan
warna cabe kering agar tetap seperti
semula.
Selesai perendaman, cabe diangkat dan
dicelupkan dalam air dingin untuk
menghentikan pemanasan, lalu tiriskan
dalam tampah atau niru atau rak bambu.
Kemudian dijemur di panas matahari
selama 7-10 hari sampai kadar air 10%
(supaya lebih tahan lama, kadar air dapat
diturunkan lagi).
Pengeringan juga dapat dilakukan
dengan oven atau alat pengering buatan.
Setelah pengeringan maka cabe kering
bisa langsung dikemas dalam kantong
plastik atau digiling untuk dijadikan bubuk.
Kemudian simpan atau dikirim ke daerah
yang kurang produksi cabenya sehingga
penumpukan cabe di suatu daerah pada
saat panen dapat teratasi.
9.6.4. Teknik Budidaya Paprika
a. Pendahuluan
Paprika (Capsicum annuum) adalah
sejenis cabai yang baru dikenal dan
diusahakan di Indonesia.
Gambar 99 Buah cabe paprika
251
Buahnya besar dan gendut seperti buah
kesemek, rasanya tidak pedas tetapi
sedikit manis. Benihnya banyak
didatangkan dari luar negeri, antara lain
Jepang dan Taiwan.
b. Syarat Tumbuh
Di daerah tropis seperti Indonesia,
paprika hanya dapat tumbuh dengan baik
pada dataran tinggi dengan ketinggian
sekitar 1.500 m dpl.
Suhu yang diperlukan berkisar antara 18-
23,5°C.
Tanah yang baik untuk pertumbuhannya
adalah tanah subur dengan kelembapan
cukup dan pH 5,5-7.
c. Pedoman Budidaya
Persemaian
Seperti halnya cabai lain, paprika juga
dikembangbiakkan dengan biji.
Biji-biji itu harus disemaikan terlebih
dahulu pada kotak atau bedengan
persemaian sebelum ditanam di lapang.
Umur benih di persemaian antara 14-21
hari.
Pengolahan tanah dan penanaman
Tanah yang akan digunakan dicangkul
atau dibajak, kemudian digemburkan.
Tanah itu dibuat bedengan selebar 90
cm, tinggi 20-30 cm, dan jarak antar
bedengan 35 cm.
Berikanlah pupuk dasar pada setiap
lubang tanam. Penanaman dapat
dilakukan setelah bedengan siap
ditanami.
Jarak tanam yang digunakan ada
bermacam-macam, tergantung jenisnya.
Umumnya orang menggunakan jarak
tanam 50 x 50 cm.
Pemeliharaan
Pemeliharaan dilakukan sama seperti
pemeliharaan pada cabai besar lainnya.
Hanya saja yang perlu diperhatikan
adalah kelembaban tanahnya harus
dijaga.
Untuk mengurangi penguapan dari dalam
tanah, tanah perlu ditutupi mulsa. Cara
lain yang biasa dilakukan petani di
Lembang adalah tanah ditutupi plastik.
Panen dan Pasca Panen
Pada umur sekitar 18 minggu sejak
penyemaian hingga penanaman, paprika
sudah dapat dipanen.
Namun, tidak menutup kemungkinan
umur panen lebih singkat jika yang
diusahakan adalah jenis yang berumur
genjah.
9.6.5. Teknik Budidaya Bawang
Merah
a. Pendahuluan
Bawang merah (Allium cepa) merupakan
salah satu komoditas hortikultura yang
sangat dibutuhkan oleh manusia.
Tanaman ini digunakan sebagai rempah
dan obat. Kandungan minyak atsirinya
diduga dapat menyebuhkan beberapa
gangguan kesehatan.
Gambar 100. Bawang marah yang sudah
dikeringkan siap untuk dijual.
b.Syarat Tumbuh
Bawang merah dapat tumbuh pada tanah
sawah atau tegalan, tekstur sedang
sampai liat. Jenis tanah Alluvial, Glei
Humus atau Latosol, pH 5.6 – 6.5,
252
ketinggian 0-400 mdpl, kelembaban 50-70
%, suhu 25-320C.
Pengolahan Tanah
Pupuk kandang disebarkan di lahan
dengan dosis 0,5-1 ton/ 1000 m2, diluku
kemudian digaru (biarkan + 1 minggu)
Dibuat bedengan dengan lebar 120 -180
cm. Diantara bedengan pertanaman
dibuat saluran air (canal) dengan lebar
40-50 cm dan kedalaman 50 cm.
Apabila pH tanah kurang dari 5,6 diberi
Dolomit dosis + 1,5 ton/ha disebarkan di
atas bedengan dan diaduk rata dengan
tanah lalu biarkan 2 minggu.
Untuk mencegah serangan penyakit layu
taburkan GLIO 100 gr (1 bungkus GLIO)
dicampur 25-50 kg pupuk kandang
matang, diamkan 1 minggu lalu taburkan
merata di atas bedengan. ‘
Pupuk Dasar
Berikan pupuk : 2-4 kg Urea + 7-15 kg ZA
+ 15-25 kg SP-36 secara merata diatas
bedengan dan diaduk rata dengan tanah.
Atau jika dipergunakan Pupuk Majemuk
NPK (15-15-15) dosis ± 20 kg/ 1000 m2
dicampur rata dengan tanah di bedengan.
c.Pedoman Teknis
Pemilihan Lahan dan Pengolahan Tanah
1. Lahan Kering :
Tanah dibajak dan dicangkul sedalam 20
cm kemudian diratakan. Dibuat bedengan
dengan lebar 1 – 2 m tinggi bedengan 25
cm dan jarak antar bedengan 20-30 cm.
2. Lahan Sawah :
– Tanah dicangkul dan dibalik dua
kali dengan jarak waktu antara 5-
7 hari
– Sisa-sisa tanaman sebelumnya
(tanaman padi) dimusnahkan
– Dibuat bedengan dengan lebar
1,5-1,75 m, dibuat saluran air
sedalam 50-60 cm dengan lebar
parit 40-50 cm.
– Untuk pH tanah < 5,5 diberikan Kaptan/Dolomit 2 minggu sebelum tanam sebanyak 1,5 ton/ha dengan cara disebar dan diaduk rata diatas bedengan. Pemilihan bibit Bibit bawang merah dipilih yang sehat : warna mengkilat, kompak/tidak keropos, kulit tidak luka dan telah disimpan 2-3 bulan setelah panen). Kultivar atau varietas yang dianjurkan adalah : - Dataran rendah : Kuning, Bima Brebes, Bangkok, Kuning Gombong, Klon No. 33, Klon No. 86. - Dataran mediun atau tinggi : Sumenep, Menteng, Klon No. 88, Klon No. 33, Bangkok2. Pembuatan bedengan Pembuatan bedengan untuk pertanaman bawang merah dilakukan sebagai berikut : - Pada Lahan bekas sawah dibuat bedengan dengan lebar 1.50- 1.75m. Diantara bedengan dibuat parit dengan lebar 0.5 m dan kedalaman 0.5 m. Tanah di atas bedengan dicangkul sedalam 20cm sampai gembur. - Pada Lahan kering Tanah dicangkul atau dibajak sedalam 20 cm sampai gembur. Dibuat bedengan dengan lebar 1.20m dan tinggi 25 cm. - Jarak tanam bawang merah pada musim kemarau 15x15 cm atau 15x20 cm, sedang pada musim hujan 15x20 cm atau 20x20 cm. Jika pH tanah kurang dari 5.6, dilakukan pengapuran dengan menggunakan Kaptan atau Dolomit minimal 2 minggu sebelum tanam dengan dosis 1- 1.5 ton/ha. 253 Penanaman Kemudian umbi bibit ditanam dengan cara membenamkan seluruh bagian umbi. Penyiraman dilakukan sesuai dengan umur tanaman : - umur 0-10 hari, 2 x/hari (pagi dan sore hari) - umur 11-35 hari, 1 x/hari (pagi hari) - umur 36-50 hari, 1 x/hari (pagi atau sore hari) Jarak tanam : 20 cm x 15 cm Umbi bibit yang siap tanam dipotong ujungnya 1/3 bagian umbi. Kemudian ditanam dengan cara membenamkan 2/3 bagian umbi kedalam tanah. Sebelum dan sesudah tanam dilakukan penyiraman. Pemupukan Pupuk dasar diberikan 1 minggu sebelum tanam yaitu 15-20 ton.ha pupuk kandang atau 5-10 ton/ha kompos matang ditambah 200 kg/ha TSP. Pupuk disebar dan diaduk rata sedalam lapisan olah. Jika umur simpan bibit yang akan ditanam kurang dari 2 bulan, dilakukan 'pemogesan' (pemotongan ujung umbi) kurang lebih 0.5 cm untuk memecahkan masa dormansi dan mempercepat pertumbuhan tunas tanaman. Pemupukan susulan dilakukan pada umur 10-15 hari dan umur 30-35 hari setelah tanam. Jenis dan dosis pupuk yang diberikan adalah : Urea 75-100 kg/ha, ZA 150-250 kg/ha, Kcl 75-100 kg/ha. Pupuk diaduk rata dan diberikan di sepanjang garitan tanaman. Penyiangan minimal dilakukan dua kali/musim, yaitu menjelang dilakukannya pemupukan susulan. Penyiraman • Umur 0-10 hst : 2 kali sehari pagi dan sore • Umur 11-35 hst : 1 kali sehari pada pagi hari • Umur 36-50 hst : 1 kali sehari pada sore hari • Umur 50 hst : 1 kali sehari pagi atau sore hari Pendangiran dan penyiangan Dilakukan 2 kali pada umur 10-15 hst dan 25-35 hst, bersamaan dengan pemberian pupuk susulan Pengendalian OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan) Hama a.Hama ulat bawang (Spodoptera spp). Serangan hama ini ditandai dengan bercak putih transparan pada daun. Pengendaliannya adalah : - Telur dan ulat dikumpulkan lalu dimusnahkan - Pasang perangkap ngengat (feromonoid seks) ulat bawang 40 buah/ha - Jika intensitas kerusakan daun lebih besar atau sama dengan 5 % per rumpun atau telah ditemukan 1 paket telur/10 tanaman, dilakukan penyemprotan dengan insektisida efektif, misalnya Hostathion 40 EC, Cascade 50 EC, Atabron 50 EC atau Florbac. b. Hama trip (Thrips sp.) Gejala serangan hama thrip ditandai dengan adanya bercak putih beralur pada daun. Penanganannya dengan penyemprotan insektisida efektif, misalnya Mesurol 50 WP atau Pegasus 500 EC. Penyakit Penyakit layu Fusarium Ditandai dengan daun menguning, daun terpelintir dan pangkal batang membusuk. Jika ditemukan gejala demikian, tanaman 254 dicabut dan dimusnahkan. Penyakit otomatis atau antraknose Gejalanya : bercak putih pada daun, selanjutnya terbentuk lekukan pada bercak tersebut yang menyebabkan daun patah atau terkulai. Untuk mengatasinya, semprot dengan fungisida Daconil 70 WP atau Antracol 70 WP. Penyakit trotol Ditandai dengan bercak putih pada daun dengan titik pusat berwarna ungu. Gunakan fungisida efektif, antara lain Antracol 70 WP, Daconil 70 WP, untuk membasminya. Panen dan pascapanen Panen Kriteria panen adalah jika > 60-90 % daun
telah rebah, pada daerah dataran rendah
pemanenan pada umur 55-70 hari,
sedangkan pada dataran tinggi umur
panen sekitar 70 – 90 hari.
Waktu panen : udara cerah, tanah tidak
basah
Untuk konsumsi : ditandai dengan
kerebahan dan atau perubahan warna
daun menjadi kekuningan mencapai 60-
70% dataran rendah umur 50-60 hari
setelah tanam, dataran medium umur 70-
75 hst
Untuk bibit : ditandai dengan kerebahan
daun lebih dari 90%,dataran rendah umur
65-70 hst, dataran medium 80-90 hst
Hasil rata-rata : 10-12 t/ha
Pemanenan dilakukan dengan
pencabutan batang dan daun-daunnya.
Selanjutnya 5-10 rumpun diikat menjadi
satu ikatan (Jawa:dipocong).
Pasca Panen
Penjemuran dengan alas anyaman
bambu (Jawa : gedeg). Penjemuran
pertama selama 5-7 hari dengan bagian
daun menghadap ke atas, tujuannya
mengeringkan daun.
Penjemuran kedua selama 2-3 hari
dengan umbi menghadap ke atas,
tujuannya untuk mengeringkan bagian
umbi dan sekaligus dilakukan
pembersihan umbi dari sisa kotoran atau
kulit terkelupas dan tanah yang terbawa
dari lapangan.
Kadar air 89 85 % baru disimpan di
gudang. Penyimpanan, ikatan bawang
merah digantungkan pada rak-rak bambu.
Aerasi diatur dengan baik, suhu gudang
26-290C kelembaban 70-80%, sanitasi
gudang.
Untuk bawang konsumsi, waktu panen
ditandai dengan 60-70% daun telah
rebah, sedangkan untuk bibit kerebahan
daun lebih dari 90%.
Panen dilakukan waktu udara cerah.
Pada waktu panen, bawang merah diikat
dalam ikatan-ikatan kecil (1-1.5 kg/ikat),
kemudian dijemur selama 5-7 hari).
Setelah kering ‘askip’ (penjemuran 5-7
hari), 3-4 ikatan bawang merah diikat
menjadi satu, kemudian bawang dijemur
dengan posisi penjemuran bagian umbi di
atas selama 3-4 hari.
Pada penjemuran tahap kedua dilakukan
pembersihan umbi bawang dari tanah dan
kotoran.
Bila sudah cukup kering (kadar air kurang
lebih 85 %), umbi bawang merah siap
dipasarkan atau disimpan di gudang.
Kriteria kualitas
Kriteria kualitas yang dikehendaki oleh
konsumen rumah tangga adalah :
– Umbi berukuran besar
– Bentuk umbi bulat
– Warna kulit merah keunguan
– Umbi kering askip
255
Sedangkan konsumen luar (untuk ekspor)
yang dikehendaki adalah :
– Umbi berukuran besar
– Bentuk umbi bulat
– Wana kulit merah muda
– Umbi kering lokal
9.6.6. Teknik Budidaya Jahe
a.Pendahuluan
Jahe merupakan tanaman obat berupa
tumbuhan rumpun berbatang semu. Jahe
berasal dari Asia Pasifik yang tersebar
dari India sampai Cina. Oleh karena itu
kedua bangsa ini disebut-sebut sebagai
bangsa yang pertama kali memanfaatkan
jahe terutama sebagai bahan minuman,
bumbu masak dan obat-obatan
tradisional.
Jahe termasuk dalam suku temu-temuan
(Zingiberaceae), sefamili dengan temutemuan
lainnya seperti temu lawak
(Cucuma xanthorrizha), temu hitam
(Curcuma aeruginosa), kunyit (Curcuma
domestica), kencur (Kaempferia galanga),
lengkuas (Languas galanga) dan lain-lain.
Nama daerah jahe antara lain halia
(Aceh), beeuing (Gayo), bahing (Batak
Karo), sipodeh (Minangkabau), jahi
(Lampung), jahe (Sunda), jae (Jawa dan
Bali), jhai (Madura), melito (Gorontalo),
geraka (Ternate).
b.Deskripsi
Tanaman ini merupakan tanaman terna
berbatang semu, dengan tinggi 30 cm
sampai 1 m, rimpang bila dipotong
berwarna kuning atau putih.
Daunnya sempit, panjang daun 15 – 23
mm, lebar 8 – 15 mm ; tangkai daun
berbulu, panjang 2 – 4mm.
Bentuk lidah daun memanjang, panjang
7,5 – 10 mm, dan tidak berbulu;
sedangkan seludang agak berbulu.
Perbungaan berupa malai tersembul
dipermukaan tanah, berbentuk tongkat
atau bundar telur yang sempit, 2,75 – 3
kali lebarnya, sangat tajam.
Panjang malai 3,5 – 5 cm, lebar 1,5 –
1,75 cm.
Tangkai bunga hampir tidak berbulu,
panjang 25 cm, rahis berbulu jarang
Sisik pada gagang terdapat 5 – 7 buah,
berbentuk lanset, letaknya berdekatan
atau rapat, hampir tidak berbulu, panjang
sisik sekitar 3 – 5 cm.
Daun pelindung berbentuk bundar telur
terbalik,
bundar pada ujungnya, tidak berbulu,
berwarna hijau cerah, panjang 2,5 cm,
lebarnya sekitar 1 – 1,75 cm.
Mahkota bunga berbentuk tabung 2 – 2,5
cm, helainya agak sempit, berbentuk
tajam, berwarna kuning kehijauan,
panjang 1,5 – 2,5 mm, lebar 3 – 3,5 mm,
bibir berwarna ungu, gelap, berbintikbintik
berwarna putih kekuningan,
panjang 12 – 15 mm.
Kepala sari berwarna ungu, dengan
panjang 9 mm.
c. Jenis-jenis Jahe
256
Jahe dibedakan menjadi 3 jenis
berdasarkan ukuran, bentuk dan warna
rimpangnya.
Umumnya dikenal 3 varietas jahe, yaitu :
1. Jahe putih/kuning besar atau
disebut juga jahe gajah atau
jahe badak Rimpangnya lebih
besar dan gemuk, ruas
rimpangnya lebih
menggembung dari kedua
varietas lainnya. Jenis jahe ini
bias dikonsumsi baik saat
berumur muda maupun
berumur tua, baik sebagai jahe
segar maupun jahe olahan.
2. Jahe putih/kuning kecil atau
disebut juga jahe sunti atau
jahe emprit Ruasnya kecil, agak
rata sampai agak sedikit
menggembung. Jahe ini selalu
dipanen setelah berumur tua.
Kandungan minyak atsirinya
lebih besar dari pada jahe
gajah, sehingga rasanya lebih
pedas, disamping seratnya
tinggi. Jahe ini cocok untuk
ramuan obat-obatan, atau
untuk diekstrak oleoresin dan
minyak atsirinya.
3. Jahe merah
Rimpangnya berwarna merah
dan lebih kecil dari pada jahe
putih kecil sama seperti jahe
putih, jahe merah selalu
dipanen setelah tua, dan juga
memiliki kandungan minyak
atsiri yang sama dengan jahe
kecil, sehingga cocok untuk
ramuan obat-obatan.
d. Manfaat Tanaman
Rimpang jahe dapat digunakan sebagai
bumbu masak, pemberi aroma dan rasa
pada makanan seperti roti, kue, biskuit,
kembang gula dan berbagai minuman.
Jahe juga dapat digunakan pada industri
obat, minyak wangi, industri jamu
tradisional, diolah menjadi asinan jahe,
dibuat acar, lalap, bandrek, sekoteng dan
sirup.
Dewasa ini para petani cabe
menggunakan jahe sebagai pestisida
alami.
Dalam perdagangan jahe dijual dalam
bentuk segar, kering, jahe bubuk dan
awetan jahe. Disamping itu terdapat hasil
olahan jahe seperti: minyak astiri dan
koresin yang diperoleh dengan cara
penyulingan yang berguna sebagai bahan
pencampur dalam minuman beralkohol,
es krim, campuran sosis dan lain-lain.
Adapun manfaat secara pharmakologi
antara lain adalah sebagai karminatif, anti
muntah, pereda kejang, anti pengerasan
pembuluh darah, peluruh keringat, anti
inflamasi, anti mikroba dan parasit, anti
piretik, anti rematik, serta merangsang
pengeluaran getah lambung dan getah
empedu.
e. Syarat Tumbuh
Iklim
Tanaman jahe membutuhkan curah hujan
relatif tinggi, yaitu antara 2.500-4.000
mm/tahun.
Pada umur 2,5 sampai 7 bulan atau lebih
tanaman jahe memerlukan sinar
matahari. Dengan kata lain penanaman
jahe dilakukan di tempat yang terbuka
sehingga mendapat sinar matahari
sepanjang hari.
Suhu udara
Suhu optimum untuk budidaya tanaman
jahe antara 20-35 oC.
Media Tanam
Tanaman jahe paling cocok ditanam pada
tanah yang subur, gembur dan banyak
mengandung humus.
Tekstur tanah yang baik adalah lempung
berpasir, liat berpasir dan tanah laterik
Tanaman jahe dapat tumbuh pada
keasaman tanah (pH) sekitar 4,3-7,4.
257
Tetapi keasaman tanah (pH) optimum
untuk jahe gajah adalah 6,8-7,0.
5.3.
Ketinggian Tempat
Jahe tumbuh baik di daerah tropis dan
subtropis dengan ketinggian 0 – 2.000 m
dpl.
Di Indonesia pada umumnya ditanam
pada ketinggian 200 – 600 m dpl.
f. Pedoman Budidaya
Pembibitan
Persyaratan Bibit
Bibit berkualitas adalah bibit yang
memenuhi syarat mutu genetik, mutu
fisiologik (persentase tumbuh yang
tinggi), dan mutu fisik. Yang dimaksud
dengan mutu fisik adalah bibit yang bebas
hama dan penyakit.
Oleh karena itu kriteria yang harus
dipenuhi antara lain:
– Bahan bibit diambil langsung dari
kebun (bukan dari pasar)
– Dipilih bahan bibit dari tanaman
yang sudah tua (berumur 9-10
bulan).
– Dipilih pula dari tanaman yang
sehat dan kulit rimpang tidak
terluka atau lecet.
Teknik Penyemaian Bibit
Untuk pertumbuhan tanaman yang
serentak atau seragam, bibit jangan
langsung ditanam sebaiknya terlebih
dahulu dikecambahkan.
Penyemaian bibit dapat dilakukan dengan
peti kayu atau dengan bedengan.
Penyemaian pada peti kayu
Rimpang jahe yang baru dipanen dijemur
sementara (tidak sampai kering),
kemudian disimpan sekitar 1-1,5 bulan.
Patahkan rimpang tersebut dengan
tangan dimana setiap potongan memiliki
3-5 mata tunas dan dijemur ulang 1/2-1
hari.
Selanjutnya potongan bakal bibit tersebut
dikemas ke dalam karung beranyaman
jarang, lalu dicelupkan dalam larutan
fungisida dan zat pengatur tumbuh sekitar
1 menit kemudian keringkan.
Setelah itu dimasukkan kedalam peti
kayu. Lakukan cara penyemaian dengan
peti kayu sebagai berikut: pada bagian
dasar peti kayu diletakkan bakal bibit
selapis, kemudian di atasnya diberi abu
gosok atau sekam padi, demikian
seterusnya sehingga yang paling atas
adalah abu gosok atau sekam padi
tersebut. Setelah 2-4 minggu lagi, bibit
jahe tersebut sudah disemai.
Penyemaian pada bedengan
Buat rumah penyemaian sederhana
ukuran 10 x 8 m untuk menanam bibit 1
ton (kebutuhan jahe gajah seluas 1 ha).
Di dalam rumah penyemaian tersebut
dibuat bedengan dari tumpukan jerami
setebal 10 cm.
Rimpang bakal bibit disusun pada
bedengan jerami lalu ditutup jerami, dan
di atasnya diberi rimpang lalu diberi
jerami pula, demikian seterusnya,
sehingga didapatkan 4 susunan lapis
rimpang dengan bagian atas berupa
jerami.
Perawatan bibit
Perawatan bibitpada bedengan dapat
dilakukan dengan penyiraman setiap hari
dan sesekali disemprot dengan fungisida.
Setelah 2 minggu, biasanya rimpang
sudah bertunas. Bila bibit bertunas dipilih
agar tidak terbawa bibit berkualitas
rendah. Bibit hasil seleksi itu dipatahpatahkan
dengan tangan dan setiap
potongan memiliki 3-5 mata tunas dan
beratnya 40-60 gram.
Penyiapan Bibit
Sebelum ditanam, bibit harus dibebaskan
dari ancaman penyakit dengan cara bibit
tersebut dimasukkan ke dalam karung
dan dicelupkan ke dalam larutan fungisida
258
sekitar 8 jam. Kemudian bibit dijemur 2-4
jam, barulah ditanam.
Pengolahan Media Tanam
Persiapan Lahan
Untuk mendapatkan hasil panen yang
optimal harus diperhatikan syaratsyarat
tumbuh yang dibutuhkan tanaman jahe.
Bila keasaman tanah yang ada tidak
sesuai dengan keasaman tanah yang
dibutuhkan tanaman jahe, maka harus
ditambah atau dikurangi keasaman
dengan kapur.
Pembukaan Lahan
Pengolahan tanah diawali dengan dibajak
sedalam kurang lebih dari 30 cm dengan
tujuan untuk mendapatkan kondisi tanah
yang gembur atau remah dan
membersihkan tanaman pengganggu.
Setelah itu tanah dibiarkan 2-4 minggu
agar gas-gas beracun menguap serta
bibit penyakit dan hama akan mati
terkena sinar matahari.
Apabila pada pengolahan tanah pertama
dirasakan belum juga gembur, maka
dapat dilakukan pengolahan tanah yang
kedua sekitar 2-3 minggu sebelum tanam
dan sekaligus diberikan pupuk kandang
dengan dosis 1.500-2.500 kg.
Pembentukan Bedengan
Pada daerah-daerah yang kondisi air
tanahnya jelek dan sekaligus untuk
encegah terjadinya genangan air,
sebaiknya tanah diolah menjadi
bedengan-bedengan engan ukuran tinggi
20-30 cm, lebar 80-100 cm, sedangkan
anjangnya disesuaikan dengan kondisi
lahan.
Pengapuran
Pada tanah dengan pH rendah, sebagian
besar unsur-unsur hara didalamnya,
Terutama fosfor (p) dan calcium (Ca)
dalam keadaan tidak tersedia atau sulit
diserap.
Kondisi tanah yang masam ini dapat
menjadi media perkembangan beberapa
cendawan penyebab penyakit fusarium sp
dan pythium sp.
Pengapuran juga berfungsi menambah
unsur kalium yang sangat diperlukan
tanaman untuk mengeraskan bagian
tanaman yang berkayu, merangsang
pembentukan bulu-bulu akar,
mempertebal dinding sel buah dan
merangsang pembentukan biji.
Adapun dosis kapur yang dibutuhkan
berdasarkan tingkat kemasaman
tanahnya adalah sebagai berikut:
– Derajat keasaman < 4 (paling asam): kebutuhan dolomit > 10
ton/ha.
– Derajat keasaman 5 (asam):
kebutuhan dolomit 5.5 ton/ha.
– Derajat keasaman 6 (agak asam):
kebutuhan dolomit 0.8 ton/ha.
6.3.
Teknik Penanaman dan Pemeliharaan
Tanaman
Penentuan Pola Tanaman
Pembudidayaan jahe secara monokultur
pada suatu daerah tertentu memang
dinilai cukup rasional, karena mampu
memberikan produksi dan produksi tinggi.
Namun di daerah, pembudidayaan
tanaman jahe secara monokultur kurang
dapat diterima karena selalu
menimbulkan kerugian.
Penanaman jahe secara tumpangsari
dengan tanaman lain mempunyai
keuntungan-keuntungan sebagai berikut :
– Mengurangi kerugian yang
disebabkan naik turunnya harga.
– Menekan biaya kerja, seperti:
tenaga kerja pemeliharaan
tanaman.
– Meningkatkan produktivitas
lahan.
– Memperbaiki sifat fisik dan
mengawetkan tanah akibat
rendahnya pertumbuhan gulma
(tanaman pengganggu).
Praktek di lapangan, ada jahe yang
ditumpangsarikan dengan sayursayuran,
259
seperti ketimun, bawang merah, cabe
rawit, buncis dan lain-lain. Ada juga yang
ditumpangsarikan dengan palawija,
seperti jagung, kacang tanah dan
beberapa kacang-kacangan lainnya.
Pembuatan Lubang Tanam
Untuk menghindari pertumbuhan jahe
yang jelek, karena kondisi air tanah yang
buruk, maka sebaiknya tanah diolah
menjadi bedengan-bedengan.
Selanjutnya buat lubang-lubang kecil atau
alur sedalam 3-7,5 cm untuk menanam
bibit.
Cara Penanaman
Cara penanaman dilakukan dengan cara
melekatkan bibit rimpang secara rebah ke
dalam lubang tanam atau alur yang sudah
disiapkan.
Periode Tanam
Penanaman jahe sebaiknya dilakukan
pada awal musim hujan sekitar bulan
September dan Oktober. Hal ini
dimungkinkan karena tanaman muda
akan membutuhkan air cukup banyak
untuk pertumbuhannya.
Pemeliharaan Tanaman
Penyulaman
Sekitar 2-3 minggu setelah tanam,
hendaknya diadakan untuk melihat
rimpang yang mati. Bila demikian harus
segera dilaksanakan penyulaman gar
pertumbuhan bibit sulaman itu tidak jauh
tertinggal dengan tanaman lain, maka
sebaiknya dipilih bibit rimpang yang baik
serta pemeliharaan yang benar.
Penyiangan
Penyiangan pertama dilakukan ketika
tanaman jahe berumur 2-4 minggu
kemudian dilanjutkan 3-6 minggu sekali.
Tergantung pada kondisi tanaman
pengganggu yang tumbuh. Namun
setelah jahe berumur 6-7 bulan,
sebaiknya tidak perlu dilakukan
penyiangan lagi, sebab pada umur
tersebut rimpangnya mulai besar.
Pembubunan
Tanaman jahe memerlukan tanah yang
peredaran udara dan air dapat berjalan
dengan baik, maka tanah harus
digemburkan.
Disamping itu tujuan pembubunan untuk
menimbun rimpang jahe yang kadangkadang
muncul ke atas permukaan tanah.
Apabila tanaman jahe masih muda, cukup
tanah dicangkul tipis di sekeliling rumpun
dengan jarak kurang lebih 30 cm. Pada
bulan berikutnya dapat diperdalam dan
diperlebar setiap kali pembubunan akan
berbentuk gubidan dan sekaligus
terbentuk sistem pengairan yang
berfungsi untuk menyalurkan kelebihan
air.
Pertama kali dilakukan pembumbunan
pada waktu tanaman jahe berbentuk
rumpun yang terdiri atas 3-4 batang
semu, umumnya pembubunan dilakukan
2-3 kali selama umur tanaman jahe.
Namun tergantung kepada kondisi tanah
dan banyaknya hujan.
Pemupukan
Pemupukan Organik
Pada pertanian organik yang tidak
menggunakan bahan kimia termasuk
pupuk buatan dan obat-obatan, maka
pemupukan secara organik yaitu dengan
menggunakan pupuk kompos organik
atau pupuk kandang dilakukan lebih
sering dibandingkan dengan kalau kita
menggunakan pupuk buatan.
Adapun pemberian pupuk kompos
organik ini dilakukan pada awal
pertanaman pada saat pembuatan
guludan sebagai pupuk dasar sebanyak
60 – 80 ton per hektar yang ditebar dan
dicampur tanah olahan.
Untuk menghemat pemakaian pupuk
kompos dapat juga dilakukan dengan
jalan mengisi tiap-tiap lobang tanam di
awal pertanaman sebanyak 0.5 – 1kg per
tanaman.
Pupuk sisipan selanjutnya dilakukan pada
umur 2 – 3 bulan, 4 – 6 bulan, dan 8 – 10
bulan.
260
Adapun dosis pupuk sisipan sebanyak 2 –
3 kg per tanaman.
Pemberian pupuk kompos ini biasanya
dilakukan setelah kegiatan penyiangan
dan bersamaan dengan kegiatan
pembubunan.
Pemupukan Konvensional
Selain pupuk dasar (pada awal
penanaman), tanaman jahe perlu diberi
pupuk susulan kedua (pada saat tanaman
berumur 2-4 bulan).
Pupuk dasar yang digunakan adalah
pupuk organik 15-20 ton/ha. Pemupukan
tahap kedua digunakan pupuk kandang
dan pupuk buatan (urea 20 gram/pohon;
TSP 10 gram/pohon; dan ZK 10
gram/pohon), serta K2O (112 kg/ha) pada
tanaman yang berumur 4 bulan.
Pemupukan juga dilakukan dengan pupuk
nitrogen (60 kg/ha), P2O5 (50 kg/ha), dan
K2O (75 kg/ha). Pupuk P diberikan pada
awal tanam, pupuk N dan K diberikan
pada awal tanam (1/3 dosis) dan sisanya
(2/3 dosis) diberikan pada saat tanaman
berumur 2 bulan dan 4 bulan.
Pupuk diberikan dengan ditebarkan
secara merata di sekitar tanaman atau
dalam bentuk alur dan ditanam di selasela
tanaman.
Pengairan dan Penyiraman
Tanaman Jahe tidak memerlukan air yang
terlalu banyak untuk pertumbuhannya,
akan tetapi pada awal masa tanam
diusahakan penanaman pada awal
musim hujan sekitar bulan September.
Waktu Penyemprotan Pestisida
Penyemprotan pestisida sebaiknya
dilakukan mulai dari saat penyimpanan
bibit yang untuk disemai dan pada saat
pemeliharaan. Penyemprotan pestisida
pada fase pemeliharaan biasanya
dicampur dengan pupuk organik cair atau
vitamin-vitamin yang mendorong
pertumbuhan jahe.
Hama dan penyakit
Hama
Hama yang dijumpai pada tanaman jahe
adalah:
1. Kepik, menyerang daun
tanaman hingga berlubanglubang.
2. Ulat penggesek akar,
menyerang akar tanaman jahe
hingga menyebabkan tanaman
jahe menjadi kering dan mati.
3. Kumbang.
Penyakit
Penyakit layu bakeri
Gejala:
Mula-mula helaian daun bagian bawah
melipat dan menggulung kemudian terjadi
perubahan warna dari hijau menjadi
kuning dan mengering. Kemudian tunas
batang menjadi busuk dan akhirnya
tanaman mati rebah. Bila diperhatikan,
rimpang yang sakit itu berwarna gelap
dan sedikit membusuk, kalau rimpang
dipotong akan keluar lendir berwarna
putih susu sampai kecoklatan.
Penyakit ini menyerang tanaman jahe
pada umur 3-4 bulan dan yang paling
berpengaruh adalah faktor suhu udara
yang dingin, genangan air dan kondisi
tanah yang terlalu lembab.
Pengendalian:
Jaminan kesehatan bibit jahe;
– karantina tanaman jahe yang
terkena penyakit;
– pengendalian dengan
pengolahan tanah yang baik;
– pengendalian fungisida dithane
M-45 (0,25%), Bavistin (0,25%)
Penyakit busuk rimpang
Penyakit ini dapat masuk ke bibit rimpang
jahe melalui lukanya. Ia akan tumbuh
dengan baik pada suhu udara 20-25
derajat C dan terus berkembang akhirnya
menyebabkan rimpang menjadi busuk.
Gejala :
Daun bagian bawah yang berubah
261
menjadi kuning lalu layu dan akhirnya
tanaman mati.
Pengendalian:
– penggunaan bibit yang sehat;
– penerapan pola tanam yang baik;
– penggunaan fungisida.
Penyakit bercak daun
Penyakit ini dapat menular dengan
bantuan angin, akan masuk melalui luka
maupun tanpa luka.
Gejala:
Pada daun yang bercak-bercak berukuran
3-5 mm, selanjutnya bercakbercak itu
berwarna abu-abu dan ditengahnya
terdapat bintik-bintik berwarna hitam,
sedangkan pinggirnya busuk basah.
Tanaman yang terserang bisa mati.
Pengendalian :
Tindakan pencegahan maupun
penyemprotan penyakit bercak daun
sama halnya dengan cara-cara yang
dijelaskan di atas.
Gulma
Gulma potensial pada pertanaman temu
lawak adalah gulma kebun antara lain
adalah rumput teki, alang-alang,
ageratum, dan gulma berdaun lebar
lainnya.
Pengendalian hama/penyakit secara
organik
Dalam pertanian organik yang tidak
menggunakan bahan-bahan kimia
berbahaya melainkan dengan bahanbahan
yang ramah lingkungan biasanya
dilakukan secara terpadu sejak awal
pertanaman untuk menghindari serangan
hama dan penyakit tersebut yang dikenal
dengan PHT (Pengendalian Hama
Terpadu) yang komponennya adalah sbb:
– Mengusahakan pertumbuhan
tanaman yang sehat yaitu
memilih bibit unggul yang sehat
bebas dari hama dan penyakit
serta tahan terhadap serangan
hama dari sejak awal
pertanaman.
– Memanfaatkan semaksimal
mungkin musuh-musuh alami.
– Menggunakan varietas-varietas
unggul yang tahan terhadap
serangan hama dan penyakit.
– Menggunakan pengendalian
fisik/mekanik yaitu dengan tenaga
manusia.
– Menggunakan teknik-teknik
budidaya yang baik misalnya
budidaya tumpang sari dengan
pemilihan tanaman yang saling
menunjang, serta rotasi tanaman
pada setiap masa tanamnya
untuk memutuskan siklus
penyebaran hama dan penyakit
potensial.
– Penggunaan pestisida,
insektisida, herbisida alami yang
ramah lingkungan dan tidak
menimbulkan residu toksik baik
pada bahan tanaman yang
dipanen ma maupun pada tanah.
Disamping itu penggunaan bahan ini
hanya dalam keadaan darurat
berdasarkan aras kerusakan ekonomi
yang diperoleh dari hasil pengamatan.
Beberapa tanaman yang dapat
dimanfaatkan sebagai pestisida nabati
dan digunakan dalam pengendalian hama
antara lain adalah:
– Tembakau (Nicotiana tabacum)
yang mengandung nikotin untuk
insektisida kontak sebagai
fumigan atau racun perut.
Aplikasi untuk serangga kecil
misalnya Aphids
– Piretrum (Chrysanthemum
cinerariaefolium) yang
mengandung piretrin yang dapat
digunakan sebagai insektisida
sistemik yang menyerang urat
syaraf pusat yang aplikasinya
dengan semprotan. Aplikasi pada
serangga seperti lalat rumah,
nyamuk, kutu, hama gudang, dan
lalat buah.
262
– Tuba (Derris elliptica dan Derris
malaccensis) yang mengandung
rotenone untuk insektisida kontak
yang diformulasikan dalam
bentuk hembusan dan
semprotan.
– Neem tree atau mimba
(Azadirachta indica) yang
mengandung azadirachtin yang
bekerjanya cukup selektif.
Aplikasi racun ini terutama pada
serangga penghisap seperti
wereng dan serangga pengunyah
seperti hama penggulung daun
(Cnaphalocrocis medinalis).
Bahan ini juga efektif untuk
menanggulangi serangan virus
RSV, GSV dan Tungro.
– Bengkuang (Pachyrrhizus erosus)
yang bijinya mengandung
rotenoid yaitu pakhirizida yang
dapat digunakan sebagai
insektisida dan larvasida.
– Jeringau (Acorus calamus) yang
rimpangnya mengandung
komponen utama asaron dan
biasanya digunakan untuk racun
serangga dan pembasmi
cendawan, serta hama gudang
Callosobrocus.
Panen dan Pascapanen
Panen
Ciri dan Umur Panen
Pemanenan dilakukan tergantung dari
penggunaan jahe itu sendiri.
Bila kebutuhan untuk bumbu penyedap
masakan, maka tanaman jahe sudah bisa
ditanam pada umur kurang lebih 4 bulan
dengan cara mematahkan sebagian
rimpang dan sisanya dibiarkan sampai
tua.
Apabila jahe untuk dipasarkan maka jahe
dipanen setelah cukup tua. Umur
tanaman jahe yang sudah bisa dipanen
antara 10-12 bulan, dengan ciri-ciri
warna daun berubah dari hijau menjadi
kuning dan batang semua mengering.
Misal tanaman jahe gajah akan
mengering pada umur 8 bulan dan akan
berlangsung selama 15 hari atau lebih.
Cara Panen
Cara panen yang baik, tanah dibongkar
dengan hati-hati menggunakan alat garpu
atau cangkul, diusahakan jangan sampai
rimpang jahe terluka. Selanjutnya tanah
dan kotoran lainnya yang menempel pada
rimpang dibersihkan dan bila perlu dicuci.
Sesudah itu jahe dijemur di atas papan
atau daun pisang kira-kira selama 1
minggu. Tempat penyimpanan harus
terbuka, tidak lembab dan
penumpukannya jangan terlalu tinggi
melainkan agak disebar.
Periode Panen
Waktu panen sebaiknya dilakukan
sebelum musim hujan, yaitu diantara
bulan Juni – Agustus.
Saat panen biasanya ditandai dengan
mengeringnya bagian atas tanah. Namun
demikian apabila tidak sempat dipanen
pada musim kemarau tahun pertama ini
sebaiknya dilakukan pada musim
kemarau tahun berikutnya.
Pemanenan pada musim hujan
menyebabkan rusaknya rimpang dan
menurunkan kualitas rimpang
sehubungan dengan rendahnya bahan
aktif karena lebih banyak kadar airnya.
Perkiraan Hasil Panen
Produksi rimpang segar untuk klon jahe
gajah berkisar antara 15-25 ton/hektar,
sedangkan untuk klon jahe emprit atau
jahe sunti berkisar antara 10-15
ton/hektar.
Pascapanen
Penyortiran Basah dan Pencucian
Sortasi pada bahan segar dilakukan untuk
memisahkan rimpang dari kotoran berupa
tanah, sisa tanaman, dan gulma.
Setelah selesai, timbang jumlah bahan
hasil penyortiran dan tempatkan dalam
wadah plastik untuk pencucian.
Pencucian dilakukan dengan air bersih,
jika perlu disemprot dengan air
bertekanan tinggi. Amati air bilasannya
263
dan jika masih terlihat kotor lakukan
pembilasan sekali atau dua kali lagi.
Hindari pencucian yang terlalu lama agar
kualitas dan senyawa aktif yang
terkandung didalam tidak larut dalam air.
Pemakaian air sungai harus dihindari
karena dikhawatirkan telah tercemar
kotoran dan banyak mengandung
bakteri/penyakit.
Setelah pencucian selesai, tiriskan dalam
tray/wadah yang belubang-lubang agar
sisa air cucian yang tertinggal dapat
dipisahkan, setelah itu tempatkan dalam
wadah plastik/ember.
Perajangan
Jika perlu proses perajangan, lakukan
dengan pisau stainless steel dan alasi
bahan yang akan dirajang dengan
talenan. Perajangan rimpang dilakukan
melintang dengan ketebalan kira-kira 5
mm – 7 mm. Setelah perajangan, timbang
hasilnya dan taruh dalam wadah
plastik/ember. Perajangan dapat
dilakukan secara manual atau dengan
mesin pemotong.
Pengeringan
Pengeringan dapat dilakukan dengan 2
cara, yaitu dengan sinar matahari atau
alat pemanas/oven. pengeringan rimpang
dilakukan selama 3 – 5 hari, atau setelah
kadar airnya dibawah 8%. pengeringan
dengan sinar matahari dilakukan diatas
tikar atau rangka pengering, pastikan
rimpang tidak saling
menumpuk.
Selama pengeringan harus dibolak-balik
kira-kira setiap 4 jam sekali agar
pengeringan merata. Lindungi rimpang
tersebut dari air, udara yang lembab dan
dari bahan-bahan disekitarnya yang bisa
mengkontaminasi. Pengeringan di dalam
oven dilakukan pada suhu 50oC – 60oC.
Rimpang yang
akan dikeringkan ditaruh di atas tray oven
dan pastikan bahwa rimpang tidak saling
menumpuk. Setelah pengeringan,
timbang jumlah rimpang yang dihasilkan
Penyortiran Kering
Selanjutnya lakukan sortasi kering pada
bahan yang telah dikeringkan dengan
cara memisahkan bahan-bahan dari
benda-benda asing seperti kerikil, tanah
atau kotoran-kotoran lain. Timbang
jumlah rimpang hasil penyortiran ini
(untuk menghitung rendemennya).
Pengemasan
Setelah bersih, rimpang yang kering
dikumpulkan dalam wadah kantong
plastik atau karung yang bersih dan
kedap udara (belum pernah dipakai
sebelumnya).
Berikan label yang jelas pada wadah
tersebut, yang menjelaskan nama bahan,
bagian dari tanaman bahan itu,
nomor/kode produksi, nama/alamat
penghasil, berat bersih dan metode
penyimpanannya.
Penyimpanan
Kondisi gudang harus dijaga agar tidak
lembab dan suhu tidak melebihi 30oC dan
gudang harus memiliki ventilasi baik dan
lancar, tidak bocor, terhindar dari
kontaminasi bahan lain yang menurunkan
kualitas bahan yang bersangkutan,
memiliki penerangan yang cukup (hindari
dari sinar matahari langsung), serta
bersih dan terbebas dari hama gudan
9.6.7. TEKNIK BUDIDAYA SELEDRI
a.Klasifikasi
Kingdom: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Apiales
Famili: Apiaceae
Genus: Apium
Spesies: A. graveolens
264
b.Komposisi :
Seledri mempunyai banyak kandungan
gizi antara lain, (per 100 gr):
a. kalori sebanyak 20 kalori,
b. protein 1 gram
c. lemak 0,1 gram
d. hidrat arang 4,6 gram
e. kalsium 50 mg
f. fosfor 40 mg
g. besi 1 mg
h. Vitamin A 130 SI
i. Vitamin B1 0,03 mg
j. Vitamin C 11 mg Dan 63% bagian dapat
dimakan.
Daun seledri juga banyak mengandung
apiin, di samping substansi diuretik yang
bermanfaat untuk menambah jumlah air
kencing.
c. Deskripsi
Terna tegak, tahunan, tinggi 25-100 cm.
Batang bersegi dan beralur membujur.
Bunga banyak, kecil-kecil, berwarna putih
atau putih kehijauan.
Dapat dibudidayakan di mana-mana dari
dataran rendah sampai dataran tinggi,
menyukai tempat yang lembab dan subur.
Sering ditanam dalam pot.
Gambar 101. Seledri daun yang ditanam
dalam pot
Ada tiga kelompok seledri yang
dibudidayakan:
• Seledri daun atau seledri iris (A.
graveolens Kelompok secalinum)
yang biasa diambil daunnya dan
banyak dipakai di masakan
Indonesia.
• Seledri tangkai (A. graveolens
Kelompok dulce) yang tangkai
daunnya membesar dan
beraroma segar, biasanya dipakai
sebagai komponen salad.
Seledri umbi (A. graveolens Kelompok
rapaceum), yang membentuk umbi di
permukaan tanah; biasanya digunakan
dalam sup, dibuat semur, atau schnitzel.
Umbi ini kaya provitamin A dan K
Gambar 102. Penampang tangkai daun
dari seledri tangkai
d. Manfaat
Daun-daunnya digunakan sebagai
penambah aroma/rasa pada masakan,
juga sebagai sayuran atau sebagai salad.
Selain itu, tanaman ini banyak
mengandung vitamin A, C, dan zat besi.,
dan berkhasiat sebagai obat rematik.
e.Syarat Tumbuh
Seledri merupakan tanaman dataran
tinggi yang dapat tumbuh baik pada
kisaran suhu 7-16° C. Tanah yang baik
untuk areal penanamannya adalah yang
subur dan gembur dengan pH 5,5-6,8.
f.Pedoman Budidaya
Persemaian
Seledri dikembangbiakkan dengan biji.
Oleh karena itu, untuk mendapat
pertumbuhan dan produksi yang baik,
maka harus ditunjang dengan benih yang
baik pula.
265
Beberapa jenis seledri seperti parsley dan
celery, bibitnya umumnya didatangkan
dari luar negeri. Sebelum disemaikan,
sebaiknya biji seledri direndam dalam air
dengan suhu 50° C selama 15 menit
untuk merangsang perkecambahan.
Benih-benih ini kemudian ditaburkan pada
alur-alur dalam kotak atau bedeng
persemaian. Jarak antaralur 2 cm dan
dalamnya 1 cm. Alur lalu ditutup setipis
mungkin dengan tanah agar mudah
berkecambah.
Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah dilakukan sebelum
tanaman di persemaian dipindahkan ke
lahan.
Tanah dibajak atau dicangkul, diberi
pupuk kandang sebanyak 15 ton/ha,
digemburkan, serta dibuat bedenganbedengan.
Lebar bedengan lm dan
panjangnya disesuaikan dengan keadaan
lahan.
Bedengan-bedengan itu kemudian
disiram dengan air secukupnya, lalu
didiamkan selama seminggu sehingga
reaksi-reaksi di dalam tanah menjadi
stabil.
Penanaman
Setelah berumur 2 minggu, bibit seledri
sudah dapat dipindahkan ke bedengan
yang telah disiapkan. Jarak tanam yang
digunakan tergantung jenisnya, tetapi
umumnya digunakan jarak tanam (40 x
40) cm.
Pemeliharaan
Pemupukan
Selain penggunaan pupuk kandang
sebagai pupuk dasar, tanah juga perlu
diberi pupuk susulan berupa pupuk
buatan, yaitu urea 435 kg/ha, TSP 400
kg/ha, dan KCl 300 kg/ha.
Hama dan Penyakit
Hama
Hama yang sering menyerang
pertanaman seledri adalah sebagai
berikut.
Nematoda
Bagian tanaman yang diserang adalah
akar sehingga tampak berbintil-bintil
besar atau kecil. Keadaan ini akan
mengganggu aktivitas akar dalam
penyerapan air dan unsur-unsur hara
yang diperlukan tanaman. Serangan yang
berat pada saat tanaman muda dapat
menyebabkan tanaman tumbuh kerdil.
Hama ini dapat dikendalikan dengan
insektisida Curacron dengan dosis 1,3
cc/liter air.
Kutu Daun (Aphid)
Hama ini menimbulkan kerusakan pada
daun. Daun muda yang terserang menjadi
kuning dan akhirnya mengering.
Akibatnya, pertumbuhan tanaman
terhambat. Hama ini dapat diberantas
dengan insektisida Basudin 60 EC
dengan dosis 2 cc/1 air.
Penyakit
Penyakit pada seledri berupa bercakbercak
klorosis dan nekrosis yang bisa
meluas pada daun dan tangkai daun.
Pada bagian yang mengalami nekrosis
tampak bintik-bintik hitam. Sedangkan
pada tangkai daun bercak cokelat tampak
memanjang. Penyakit ini dinamakan late
night yang disebabkan oleh cendawan
Septoria sp.
Penyakit lain yang juga sering menyerang
adalah bakterial soft rot yang disebabkan
oleh Erwinia carotovora. Penyakit ini
dapat dikendalikan dengan penyemprotan
Dhitane dengan dosis 1,5 g/1 air.
Namun, jika tanaman telah terserang,
sebaiknya dicabut dan dimusnahkan.
g.Panen dan Pasca Panen
Seledri mulai dapat dipanen pada umur 6-
8 minggu setelah tanam.
Yang dipanen adalah daun yang tidak
terlalu tua dan tidak terlalu muda.
266
Parsley dapat dipanen beberapa kali
hingga mencapai umur maksimum 5
bulan, biasanya satu tanaman dapat
dipanen 6-8.helai daun.
Sedangkan celery dipanen dengan cara
dipotong.
9.6.8. Teknik Budidaya Wortel
Family Apiaceae
a.Deskripsi
Sayuran ini sudah sangat dikenal
masyarakat Indonesia dan populer
sebagai sumber vit. A karena memiliki
kadar karotena (provitamin A).
Selain itu, wortel juga mengandung vit. B,
vit. C, sedikit vit. G, serta zat-zat lain yang
bermanfaat bagi kesehatan manusia.
Sosok tanamannya berupa rumput dan
menyimpan cadangan makanannya di
dalam umbi.
Mempunyai batang pendek, berakar
tunggang yang bentuk dan fungsinya
berubah menjadi umbi bulat dan
memanjang. Umbi berwarna kuning
kemerah-merahan, berkulit tipis, dan jika
dimakan mentah terasa renyah dan agak
manis.
b.Syarat Tumbuh
Wortel merupakan tanaman subtropis
yang memerlukan suhu dingin (22-24° C),
lembap, dan cukup sinar matahari.
Di Indonesia kondisi seperti itu biasanya
terdapat di daerah berketinggian antara
1.200-1.500 m dpl.
Sekarang wortel sudah dapat ditanam di
daerah berketinggian 600 m dpl.
Dianjurkan untuk menanam wortel pada
tanah yang subur, gembur dan kaya
humus dengan pH antara 5,5-6,5.
Tanah yang kurang subur masih dapat
ditanami wortel asalkan dilakukan
pemupukan intensif. Kebanyakan tanah
dataran tinggi di Indonesia mempunyai
pH rendah. Bila demikian, tanah perlu
dikapur, karena tanah yang asam
menghambat perkembangan umbi.
Pedoman Budidaya
Pengolahan Tanah
Tanah yang akan ditanami wortel diolah
sedalam 30-40 cm. Tambahkan pupuk
kandang sebanyak 1,5 kg/m2 agar tanah
cukup subur. Bila tanah termasuk miskin
unsur hara dapat ditambahkan pupuk
urea 100 kg/ha, TSP 100 kg/ha, dan KCl
30 kg/ha.
Selanjutnya dibuatkan bedengan selebar
1,5-2 m dan panjangnya disesuaikan
dengan lahan. Tinggi bedengan di tanah
kering adalah 15 cm, sedangkan untuk
tanah yang terendam, tinggi bedengan
dapat lebih tinggi lagi. Di antara
bedengan perlu dibuatkan parit selebar
sekitar 25 cm untuk memudahkan
penanaman dan pemeliharaan tanaman.
Penanaman
Kebutuhan benih wortel adalah 15-20
g/10 m2 atau 15-20 kg/ha. Benih wortel
yang baik dapat dibeli di toko-toko
tanaman atau membenihkan sendiri dari
tanaman yang tua. J
ika membeli, pilihlah benih yang telah
bersertifikat. Benih wortel dapat langsung
disebarkan tanpa disemai dahulu.
Sebelumnya, benih direndam dalam air
sekitar 12-24 jam untuk membantu proses
pertumbuhan. Kemudian, benih dicampur
dengan sedikit pasir, lalu digosok267
gosokkan agar benih mudah disebar dan
tidak melekat satu sama lain. Benih
ditabur di sepanjang alur dalam bedengan
dengan bantuan alat penugal, lalu benih
ditutupi tanah tipis-tipis.
Berikutnya, bedengan segera ditutup
dengan jerami atau daun pisang untuk
menjaga agar benih tidak hanyut oleh air.
Jika tanaman telah tumbuh (antara 10-14
hari), jerami atau daun pisang segera
diangkat.
Pemeliharaan
Penyiraman
Setelah tanaman tumbuh segera
dilakukan pemeliharaan. Pemeliharaan
pertama adalah penyiraman yang dapat
dilakukan sekali sehari atau dua kali
sehari jika udara sangat kering.
Cara pemberian air yang lain ialah
dengan jalan menggenangi parit di antara
bedengan. Cara seperti ini dapat
dilakukan bila terdapat saluran drainase.
Penjarangan
Tanaman yang telah tumbuh harus
segera diseleksi. Caranya cabutlah
tanaman yang lemah atau kering,
tinggalkan tanaman yang sehat dan
kokoh. Tindakan ini sekaligus diikuti
dengan penjarangan yang berguna untuk
memberikan jarak dalam alur dan
menjaga tercukupinya sinar matahari
sehingga tanaman tumbuh subur.
Penjarangan menghasilkan alur yang rapi
berjarak antara 5- 10 cm.
Pemupukan
Pemeliharaan selanjutnya adalah
pemupukan yang sudah dapat dilakukan
sejak tanaman berumur dua minggu
berupa 50 kg Urea/ha, disusul pemberian
kedua (1 atau 1,5 bulan kemudian)
berupa urea sebanyak SO kg/ha dan KCl
20 kg/ha.
Dosis dapat berubah sesuai kondisi tanah
dan rekomendasi pemupukan yang ada.
Cara pemupukan adalah dengan
menaburkan pupuk pada alur sedalam 2
cm yang dibuat memanjang berjarak
sekitar 5 cm dari alur tanaman. Ketika
tanaman berumur satu bulan perlu
dilakukan penyiangan dan pendangiran.
Tujuannya agar tanaman tidak terganggu
oleh gulma dan menjaga agar akar
tanaman tidak terkena sinar matahari
secara langsung.
Hama dan Penyakit
Hama
Ada beberapa hama yang penting
diketahui karena sering menyerang
tanaman wortel di Indonesia, di antaranya
sebagai berikut.
Manggot-manggot (Psila rosae)
Umbi wortel yang terserang
memperlihatkan gejala kerusakan
(berlubang dan membusuk) akibat gigitan
pada umbi.
Penyebab kerusakan ini adalah sejenis
lalat wortel yang disebut manggotmanggot
(Psila rosae). Periode aktif
perusakan adalah saat larva lalat ini
memakan umbi selama 5-7 minggu
sebelum berubah menjadi kepompong.
Umbi yang telah terserang tidak dapat di
perbaiki, sebaiknya dicabut dan dibuang.
Pencegahannya, saat tanaman wortel
masih muda disiram dengan larutan
Polydo120 g dicampur air sebanyak 100
liter. Untuk lebih meyakinkan hasilnya,
pemberian Polydol diulangi lagi 10 hari
kemudian.
Semiaphis dauci
Serangan hama ini ditandai dengan
terhentinya pertumbuhan, tanaman
menjadi kerdil, daun-daun menjadi
keriting, dan dapat menyebabkan
kematian. Hama ini umumnya menyerang
tanaman muda sehingga menyebabkan
kerugian besar. Hama perusak ini adalah
serangga berwarna abu-abu bernama
Semiaphis dauci.
Pemberantasan dan pengendaliannya
dilakukan dengan menyemprotkan
Polydol 20 g dicampur air 100 liter. Atau
dapat pula menggunakan Metasyttox 50 g
dicampur air 100 liter.
Penyakit
Penyakit tanaman wortel yang dianggap
penting antara lain sebagai berikut.
Bercak daun cercospora
Penyakit ini ditandai dengan bercakbercak
bulat atau memanjang yang
banyak terdapat di pinggir daun sehingga
daun mengeriting karena bagian yang
268
terserang tidak sama pertumbuhannya
dibanding bagian yang sehat.
Penyebab penyakit ini adalah jamur
Cercospora carotae (Pass).
Penyebarannya dibantu oleh angin.
Bagian tanaman yang lebih dahulu
terserang adalah daun muda.
Pengendaliannya dengan menanam biji
yang sehat, menjaga sanitasi, tanaman
yang telah terserang dicabut dan
dipendam, serta pergiliran tanaman.
Cara pengendalian yang lain adalah
dengan menyemprotkan fungisida yang
mengandung zineb dan maneb, yaitu
Velimex 80 WP sebanyak 2-2,5 g/1
dengan volume semprot 400-800 1/ha.
Busuk hitam (hawar daun)
Gejala penyakit ini ditandai dengan
bercak-bercak kecil berwarna cokelat tua
sampai hitam bertepi kuning pada daun.
Bercak dapat membesar dan bersatu
sehingga mematikan daun-daun
(menghitam). Tangkai daun yang
terinfeksi menyebabkan terjadinya bercak
memanjang berwarna seperti karat.
Gejala pada akar baru tampak setelah
umbi akar disimpan. Pada akar timbul
bercak berbentuk bulat dan tidak teratur,
agak mengendap dengan kedalaman
sekitar 3 mm. Jaringan yang busuk
berwarna hitam kehijauan sampai hitam
kelam. Terkadang timbul pula kapang
kehitaman pada permukaan bagian yang
busuk. Penyebab penyakit ini adalah
jamur Alternaria dauci yang semula
disebut Macrosporium carotae.
Pengendaliannya dengan pergiliran
tanaman, sanitasi, penanaman benih
yang sehat, dan membersihkan tanaman
yang telah terserang (dicabut dan
dipendam atau dibakar). Dapat juga
digunakan fungisida, misalnya Velimex 80
WP sebanyak 2-2,5 g/1 dengan volume
semprot 400-800 1/ha.
Panen dan Pasca Panen
Wortel dapat dipanen setelah 100 hari
tergantung dari jenisnya. Pemanenan
tidak boleh terlambat karena umbi akan
semakin mengeras (berkayu) sehingga
tidak disukai konsumen.
Cara pemanenan dilakukan dengan jalan
mencabut umbi beserta akarnya. Untuk
memudahkan pencabutan sebaiknya
tanah digemburkan dahulu. Pemanenan
sebaiknya dilakukan pagi hari agar dapat
segera dipasarkan.
9.7 BUDIDAYA TANAMAN BUAHBUAHAN
a. PENDAHULUAN
Susunan morfologi buah-buahan tropika
sangat beraneka ragam. Didalamnya
termasuk 16 suku untuk buah-buahan.
Meskipn pada hakekatnya hanya ada dua
tipe dasar buah-buahan berdaging, yaitu
buah buni dan buah batu, namun dalam
susunan anatominya menjadi lebih sulit,
bila yang dihadapi adalah buah majemuk.
b. Klasifikasi Buah-buahan
Perkembangan buah-buahan berasal
dari segregasi daun daun buah yang
terpisah-pisah menjadi satu unit.
Tanaman buah-buahan dapat
diklasifikasikan atas beberapa cara.
Berdasarkan botaninya tanaman buahbuahan
diklasifikasikan atas dua
kelompok yaitu kelompok herba dan
kelompok tanaman berkayu.
Klasifikasi lainnya tanaman buah adalah
pembagian berdasarkan tekstur buahnya
yang terdiri dari buah sukulen dan tidak
sukulen.
Ada juga yang membagi tanaman buahbuahan
atas dua kelompok yaitu buah
berair dan buah kering.
Meskipun adanya susunan anatomi buahbuahan
beraneka ragam, generalisasi
mengenai sifat-sifat fisik, tekstur dan
anatominya masih mungkin dilakukan.
Beberapa dari sifat-sifat itu sangat khas
untuk daerah tropis seperti Indonesia,
seperti pada Tabel 12 berikut
269
Tabel 14 Klasifikasi buah-buahan
menurut kedudukan sistematik, tipe dan pemanfaatan
Suku Buah Nama
Ilmiah
Tipe deskripsi
Anacardi
aceae
Jambe mete Anacardi
um occi
dentale
L.
Buah
keras
Buah kurung berkayu
terdapat pada tangkai yang
membengkak
Mangga Mangifer
a indica.
L
Buah
batu
berda
ging
Kulit luar seperti belulang,
kulit tengah tebal
berdaging, kulit dalam
keras seperti batu dengan
membran tipis seperti
kertas di sebelah
dalamnya.
Annonac
eae
Srikaya Annona
squamo
sa L
Buah
Ganda
Tiap penyusun berupa
buah buni
S i r s a t Annon
a
m u r i c
a t a L
Buah
Ganda
Besar, berdaging dengan
kulit luar lunak berduri,
Buah ganda, tersusun atas
sejumlah buah buni yang
tergabung menjadi satu
disertai daun-daun
pelindung dan sumbu
bunganya
Bromelia
ceae
Nenas Ananas
comosus
Buah
maje
muk
semu
Kumpulan buah buni
menjadi satu, buah
termasuk daun-daun
pelindung dan daun-daun
tenda bunganya.
Bombaca
ceae
Durian Durio
zibethinu
s L
Buah
kotak
sejati
Besar, kulit tebal, berduri
keras, tajam. Pecah
dengan membelah ruang
C a r i c a
ceae
Papaya Carica
papa
y a L
Buah
b u n i
Kulit luar tipis,
daging buah tebal
dengan rongga besar
di tengah, berasal dari
bakal buah yang
menumpang.
Cucurbita
ceae
Semangka Citrullus
vulgaris
S c h r a
d
Buah
menti
mun
(pepo)
Modifikasi buah buni
yang bera s a l d a r i
b a k a l b u a h y a n g
t e n g gelam dengan
dinding daun buah yang
270
tebal berdaging, termasuk
sebagian jaringan dasar
buahnya.
Guttife
rae
Blewah,
garbis
Manggistan
Cucumis
melo L
Garcinia
mango
stana L.
Buah
buni
Kulit buah tebal namun
mudah dipecah, biji
dengan salut berdaging
yang rasanya manis
Luura
ceae
Alpukat Persea
ameri
cans
Buah
buni
Kulit luar agak tebal, kulit
tengah tebal berdaging
lunak dengan lapisan kulit
dalam tipis berbatasan
dengan kulit biji.
Melta
ceue
Langsat Lansium
domestic
um Corr.
Buah
buni
Kulit luar seperti belulang,
biji lunak berair
Sentul,
kecapi
Sandoric
um
koetja
Buah
buni
Kulit luar bersatu dengan
kulit tengah, biji dengan
salut berdaging dan
berserabut
Mora
ceae
Fig Ficus
carica L
Buah
semu
Maje
muk
Kulit luar dan tengah
menjadi satu dengan
salut biji berserabut.
Buah berasal dari ibu
tangkai bungs yang membengkok
dan berbentuk
periuk dengan biji-biji di
dalamnya.
Nangka Artocar
pus
Integra
L
Buah
maje
muk
Sangat besar, kulit luar
berduri, kulit tengah
clan kulit dalam
menjadi satu lapisan
tebal, berbau tajam, kaya
akan getah.
Musa
ceae
Pisang Musa
paradisia
ca L.var
sapien
tum
Buah
buni
Buah tersusun dalam
tandan
Myrta
ceae
Duwet
jamblang
Syzigium
cuminum
Skeels.
Buah
buni
Buah berwarna ungu tua,
berkelompok, dengan
kadar zat penyamak dan
antosian yang tinggi.
Jambu biji Psidium
guajava
L
Buah
buni
Kulit luar buah tidak
nyata batasnya
Jambu kaget Eugenia Buah Buah berbentuk kcrucut
271
javanica.
Lam
buni dengan kulit luar berpori
Passijlor
aceue Buah negri,
markisah
Passiflor
a edulis
Sims.
Buah
buni
Kulit luar tebal,
dengan tepi seperti
cangkang yang rapuh
Ros
aceae
Artie Fragraria
vesca L.
Buah
semu
ganda
Kumpulan buah,
terutama terdiri alas
clasar bungs yang menjadi
tebal berdaging,
dengan di b a g i a n l u a r
banyak buah kurung
kecil-kecil
Rufaceae Jeruk manis Citrus
sinensis
Osb.
Buah
jeruk
Modifikasi buah buni
dengan kulit dalam yang
tebal.
Sapindac
eae
Rambutan Nephe
lium
lappaceum
L.
Buah
buni
Kulit buah seperti
belulang dengan duridur
i lunak, salut buah
berair.
Sapola
ceae
Kenitu, sawo
beludru
Chrysop
hyllum
cainito.L
Buah
buni
Kulit dalam
berdaging, berair, kaya
akan getah.
Sawo
manila
Achras
zapota
L.
Buah
buni
Kulit tengah clan kulit
dalam bersatu
272
9.7.1. Teknik Budidaya Rambutan
a. Nama Lain Rambutan
– English: rambutan
– Thai: ngoh, phruan
– Malaysian Aborigine: nert, gente
– Indonesia dan Malaysia:
rambutan
– Cambodia: saaw maaw
– Vietnam: chom chom, vai tieu
– Chinese (Cantonese): hooun mo
daon; (putonghua): shau tsz

Nama Ilmiah
Species: Nephelium lappaceum L. var.
lappaceum
Famili: Sapindaceae (Soapberry)
b. Mengenal Rambutan
Rambutan (Nephelii lappacei) banyak
ditanam sebagai pohon buah, terkadang
ditemukan sebagai tumbuhan
liar,terutama di luar Jawa.
Tumbuhan tropis ini memerlukan iklim
lembab dengan curah hujan tahunan
paling sedikit 2000 mm. rambutan
merupakan tanaman dataran rendah
hingga ketinggian 300-600 mdpl.
Biasanya tumbuhan ini tingginya antara
15-25 m, bercabang-cabang, dan
daunnya berwarna hijau. Buah bentuknya
bulat lonjong, panjang 3-5 cm dengan duri
temple (rambut) lemas sampai kaku.Kulit
buah berwarna hijau, dan menjadi kuning
atau merah kalau sudah masak. Dinding
buah tebal.
Biji berbentuk elips, terbungkus daging
buah berwarna putih transparan yang
dapat dimakan dan banyak mengandung
air.
Rasanya bervariasi dari masam sampai
manis. Kulit biji tipis berkayu.
Umumnya rambutan berbunga pada akhir
musim kemarau dan membentuk buah
pada musim hujan, sekitar November
sampai Februari.
Rambutan juga mempunyai banyak jenis
di antaranya Ropiah, Si Macan, Si
Nyonya, Lebak Bulus dan Binjei.
Perbanyakan melalui biji, tempelan tunas,
dan mencangkok.
c. Jenis-jenis Rambutan
Dari survey yang telah dilakukan terdapat
22 jenis rambutan baik yang berasal dari
galur murni maupun hasil okulasi atau
penggabungan dari dua jenis dengan
galur yang berbeda.
Ciri-ciri yang membedakan setiap jenis
rambutan dilihat dari sifat buah (dari
daging buah, kandungan air, bentuk,
warna kulit, panjang rambut).
Gambar 103 Aneka jenis buah rambutan
berdasarkan besar kecilnya biji
Dari sejumlah jenis rambutan diatas
hanya beberapa varietas rambutan yang
digemari orang dan dibudidayakan
dengan memilih nilai ekonomis relatif
tinggi diantaranya:
– Rambutan Rapiah buah tidak
terlalu lebat tetapi mutu buahnya
273
tinggi, kulit berwarna hijaukuning-
merah tidak merata
dengan beramut agak jarang,
daging buah manis dan agak
kering, kenyal, ngelotok dan
daging buahnya tebal, dengan
daya tahan dapat mencapai 6
hari setelah dipetik.
– Rambutan Aceh Lebak bulus
pohonnya tinggi dan lebat
buahnya dengan hasil rata-rata
160-170 ikat per pohon, kulit
buah berwarna merah kuning,
halus, rasanya segar manis-asam
banyak air dan ngelotok daya
simpan 4 hari setelah dipetik,
buah ini tahan dalam
pengangkutan.
– Rambutan Cimacan, kurang lebat
buahnya dengan rata-rata hasil
90-170 ikat perpohon, kulit
berwarna merah kekuningan
sampai merah tua, rambut kasar
dan agak jarang, rasa manis,
sedikit berair tetapi kurang tahan
dalam pengangkutan.
– Rambutan Binjai yang merupakan
salah satu rambutan yang terbaik
di Indonesia dengan buah cukup
besar, dengan kulit berwarna
merah darah sampai merah tua
rambut buah agak kasar dan
jarang, rasanya manis dengan
asam sedikit, hasil buah tidak
selebat aceh lebak bulus tetapi
daging buahnya ngelotok.
– Rambutan Sinyonya, jenis
rambutan ini lebat buahnya dan
banyak disukai terutama orang
Tionghoa, dengan batang yang
kuat cocok untuk diokulasi,
warnakulit buah merah tua
sampai merah anggur, dengan
rambut halus dan rapat, rasa
buah manis asam, banyak berair,
lembek dan tidak ngelotok.
d. Kandungan dan Manfaat
Buah ini mengandung karbohidrat,
protein, lemak, fosfor, besi, kalsium dan
vitamin C.
Kulit buah mengandung tanin dan
saponin. Biji mengandung lemak dan
polifenol.
Daun mengandung tannin dan saponin.
Kulit batang mengandung tannin,
saponin, flavonida, pectic substance, dan
zat besi.
Bagian tumbuhan ini juga dapat
digunakan sebagai obat. Yang dapat
digunakan sebagai obat adalah kulit buah
digunakan untuk mengatasi disentri dan
demam, kulit kayu digunakan untuk
mengatasi sariawan, daun digunakan
untuk mengatasi diare dan menghitamkan
rambut, akar digunakan untuk mengatasi
demam, dan biji digunakan untuk
mengatasi kencing manis (diabetes
mellitus).
Rambutan ini ditanam untuk diambil
buahnya yang dapat dikonsumsi dalam
bentuk segar atau dibuat sirop.
Daging buahnya mengandung saponin
yang dapat digunakan sebagai obat
demam, tunas muda digunakan untuk
menghasilkan suatu warna hijau pada
sutera
e. Asal usul rambutan
Tanaman ini diduga berasal dari daerah
tropis mungkin Malaysia atau Indonesia,
yang kemudian menyebar sampai ke
China (Yunnan dan Hainan).
Asal kata rambutan
Istilah rambutan diperoleh dari bahasa
Melayu kata ” rambut”, yang artinya
mengurai. Buahnya beranekabentuk ada
yang bulat, oval dengan warna yang
menarik seperti, merah, oranye, merah
muda, atau kuning.
f. Status Produksi
Pada tahun 1987/88 luar areal
pertanaman rambutan mencapai 71,150
hektar di Thailand (dengan produksi
448,500 ton); 43,000 hektar lebih di
Indonesia (dengan produksi 199,200 ton);
20,000 hektar di Malaysia ( dengan
produksi 57,000 ton) dan 500 hektar di
Filipina.
274
Umumnya rambutan masa panennya
pada bulan Februari sampai
September,dengan panen rayanya
(periode puncak) antara bulan Mei dan
Agustus.
Thailand telah mengekspor rambutan
segar dan rambutan kalengan ke Asia
dan Negara-Negara Eropah. Pada tahun
1983 nilai ekspor buah ini sekitar
US$179,000 dibandingkan dengan
US$2,430,000 untuk rambutan kalengan.
g. Komposisi buah rambutan
Kandungan 100 g daging rambutan
terdiri atas 82.1% air, 0.9% protein, 0.3%
lemak, 0.3%serat kasar, 2.8 g glukosa,
3.0 g fructose, 9.9 g sucrose, 2.8 g serat,
0.05% asam malat, 0.31% vitamin C, 0.5
mg niacin, 15 mg zat kapur, 0.1 per 2.5
mg besi, 70 mg vitamin C, 0.01 mg
thiamine, 0.07 mg riboflavin, 140 mg
kalium, 2 mg natrium dan 10 mg
magnesium.
h. Syarat Tumbuh
Ekologi
Rambutan adalah suatu pohon buahbuahan
tropis yang tumbuh baik pada
kisaran suhu antara 22C ke 35C, dengan
curah hujan 2000 sampai 3000 mm.
Tanaman ini tidak teradaptasi dengan
suhu rendah, pada suhu 4C tanaman ini
menggugurkan daun . Jenis tanah yang
disukai adalah tanah liat dengan pH 5
sampai 6.5.
Iklim
Dalam budidaya rambutan angin
berperan dalam penyerbukan bunga.
Intensitas curah hujan yang dikehendaki
oleh pohon rambutan berkisar antara
1.500-2.500 mm/tahun dan merata
sepanjang tahun Sinar matahari harus
dapat mengenai seluruh areal
penanaman sejak dia terbitsampai
tenggelam, intensitas pancaran sinar
matahari erat kaitannya dengan suhu
lingkungan. Tanaman rambutan akan
dapat tumbuh berkembang serta berbuah
dengan optimal pada suhu sekitar 250C
yang diukur pada siang hari.
Kekurangan sinar matahari dapat
menyebabkan penurunan hasil atau
kurang sempurna (kempes).
Kelembaban udara yang dikehendaki
cenderung rendah karena kebanyakan
tumbuh di dataran rendah dan sedang.
Apabila udara mempunyai kelembaban
yang rendah, berarti udara kering karena
miskin uap air. Kondisi demikian cocok
untuk pertumbuhan tanaman rambutan.
Media Tanam
Rambutan dapat tumbuh baik pada lahan
yang subur dan gembur serta sedikit
mengandung pasir, juga dapat tumbuh
baik pada tanah yang banyak
mengandung bahan organik ataui pada
tanah yang keadaan liat dan sedikit pasir.
Pada dasarnya tingkat/derajat keasaman
tanah (pH) tidak terlalu jauh berbeda
dengan tanaman perkebunan lainnya di
Indonesia yaitu antara 6-6,7 dan kalau
kurang dari 5,5 perlu dilakukan
pengapuran terlebih dahulu.
Kandungan air dalam tanah idealnya
yang diperlukan untuk penanaman pohon
rambutan antara 100-150 cm dari
permukaan tanah.
Pada dasarnya tanaman rambutan tidak
tergantung pada letak dan kondisi tanah,
karena keadaan tanah dapat dibentuk
sesuai dengan tata cara penanaman yang
benar (dibuatkan bedengan) sesuai
dengan petunjuk yang ada.
Ketinggian Tempat
Rambutan dapat tumbuh subur pada
dataran rendah dengan ketinggian antara
30-500 m dpl.
Pada ketinggian dibawah 30 m dpl
rambutan dapat tumbuh namun tidak
begitu baik hasilnya.
Teknik perbanyakan ini dilakukan dengan
menyemai terlebih dahulu benihnya yang
merupakan sumber batang bawah,
kemudian setelah 2 bulan ditempelkan
mata tunas.
275
i. Pedoman Teknis Budidaya
1. Pembibitan
Persyaratan Benih
Benih yang diambil biasanya dipilih dari
benih-benih yang disukai oleh masyarakat
konsumen antara lain: Rambutan Rapiah,
Rambutan Aceh, Lebak bulus, Rambutan
Cimacan, Rambutan, Rambutan
Sinyonya.
Penyiapan Benih
Persiapan benih biji yang dipergunakan
sebagai pohon pangkal setelah buah
dikupas dan diambil bijinya dengan jalan
fermentasi biasa (ditahan selama 1-2hari)
sesudah itu di angin-anginkan selama 24
jam (sehari semalam) dan biji siap
disemaikan.
Disamping itu dapat pula direndam
dengan larutan asam dengan
perbandingan 1:2 dari air dan larutan
asam yang terdiri dari asam chlorida
(HCl)25% atau Asam Sulfat (H2S04) BJ =
1.84, caranya direndam selama 15 menit
kemudian dicuci dengan air tawar yang
bersih sebanyak 3 kali berulang dengan
air yang mengalir selama 10 menit dan
dianginkan selama 24 jam.
Untuk menghidari jamur biji dapat dibalur
dengan larutan Dithane 45, Attracol 70
WP atau fungisida lainnya.
Teknik Penyemaian Benih
Tempat penyemaian benih dipilih lahan
yang gembur dan mudah mendapat
pengairan serta mudah dikeringkan
disamping itu mudah diawasi.
Sebelum dilakukan penyemaian terlebih
dahulu dilakukan persiapan tempat
persemaian seperti:
– Mencangkul tanah sedalam 20-30
cm sambil dibersihkan dari
rumput-rumput, batu-batu dan
sisa pepohonan dan benda keras
lainnya.
– Kemudian tanah dihaluskan
sehingga menjadi gembur dan
buatkan bedeng-bedeng yang
berukuran 1-1,5 m lebar dan
tinggi sekitar 30 cm, panjang
disesuaikan dengan luas
pekarangan/persawahan. Letak
bedengan membujur dari Utara
ke Selatan, supaya mendapatkan
banyak sinar matahari.
– Bagian atas bedeng diberi atap
pelindung
– Untuk menambah kesuburan
dapat diberi pupuk hijau,
kompos/pupuk kandang yang
sudah matang.
Pemeliharaan
Pembibitan/Penyemaian
Setelah bibit berkecambah dan telah
berumur 1-1,5 bulan kecambah dipindah
ke bedeng pembibitan.
Pada saat ini penyiraman cukup 1 kali
tiap pagi hari dengan menggunakan
“gembor” supaya merata dan tidak
merusak bedengan dan diusahakan air
dapat menembus sedalam 3-4 cm dari
permukaan.
Kemudian dilakukan pendangiran
bedengan supaya tetap gembur dan
dilakukan setiap 2-3 minggu sekali,
rumput yang tumbuh disekitarnya supaya
disiangi, hindarkan dari serangan hama
dan penyakit.
Jika umur bibit telah berumur kurang lebih
1 tahun setelah itu dapat dilakukan
pengokulasian dengan sistem Fokkert
yang sudah disempurnakan.
Caranya adalah:
276
– Daun-daun pada pohon induk
dirontokkan.
– Kemudian siapkan tempat untuk
penempelan mata kulit, dengan
menyayat kulit batang pohon
induk
– Tempelkan mata pada pohon
induk, ikat dengan tali rafia,
biarkan sampai mata kulit itu
tumbuh tunas
– Setelah tunas asli tumbuh dan
sehat maka pohon induk yang
telah ditempel dipangkas,
kemudian rawat dengan
penyiraman 2 kali sehari dan
mendangir serta membersihkan
rumput-rumput yang ada disiangi,
kemudian dapat juga diberi pupuk
urea 10 gram untuk tiap 1 m²
untuk 25 tanaman rambutan.
2. Pemindahan Bibit
Cara pemindahan bibit yang telah
berkecambah atau di cangkok maupun
diokulasi dapat dengan cara sebagai
berikut:
– mencungkil/membuka plastik
yang melekat pada media
penanaman dengan cara hati-hati
jangan sampai akar menjadi
rusak.
– agar pertumbuhan akar lebih
banyak maka dalam penanaman
kembali akar tunggangnya
dipotong sedikit
– Untuk menjaga penguapan maka
daun dipotong separuh serta
keping yang menempel dibiarkan
sebab berfungsi sebagai
cadangan makanan sebelum
dapat menerima makanan dari
tanah yang baru.
– Kemudian bibit ditanam pada
bedeng pembibitan dengan jarak
30-40 cm dan ditutupi dengan
atap yang dipasang miring lebih
tinggi di Timur dengan harapan
dapat lebih banyak kena sinar
mata hari pagi.
3. Pengolahan Media Tanam
– Persiapan
Pilihlah tanah yang subur, hindari tanah
yang terlampau liat dan tidak memiliki
sirkulasi yang baik, hendaknya
topografinya rata. Akan tetapi pada
daerah perbukitan (miring) jika tanahnya
subur dapat digunakan dengan cara
membuat sengkedan (teras) pada bagian
yang curam.
Kemudian untuk menggemburkan tanah
perlu dibajak atau cukup dicangkul
dengan kedalaman sekitar 30 cm secara
merata.
– Pembukaan Lahan
Tanah yang akan dipergunakan untuk
kebun rambutan dibebaskan dari
tanaman pengganggu seperti semaksemak
dan rerumputan dibuang dan
benda-benda keras disingkirkan
kemudian tanah dibajak/dicangkul.
Bila bibit berasal dari cangkokan
pengolahan tanah tidak perlu terlalu
dalam tetapi kalau dari hasil okulasi perlu
pengolahan yang cukup dalam.
Kemudian dibuatkan saluran air selebar 1
meter dan kedalamnya disesuaikan
dengan kedalaman air tanah. Hal ini
berguna untuk mengatasi sistem
pembuangan air yang kurang lancar.
Tanah yang kurus dan kurang humus
atau tanah cukup liat diberikan pupuk
organik.
-Pengapuran
Pada dataran yang berasal dari tambak
dan juga dataran yang baru terbentuk
tidak bisa ditanami, selain tanah masih
bersifat asam juga belum terlalu subur,
277
setelah lobang-lobang itu digali dengan
ukuran penanaman di pekarangan dan
dasarnya ditaburkan kapur sebanyak 0,5
liter untuk setiap lobang guna
menetralkan pH tanah hingga mencapai
6-6,7 sebagai syarat tumbuhnya tanaman
rambutan, setelah 1 minggu dari
penaburan kapur diberi pupuk kandang
supaya tanah menjadi subur.
Pemupukan
Setelah jangka waktu 1 minggu dari
pemberian kapur pada lubang-lubang
yang ditentukan kemudian diberikan
pupuk kandang sebanyak 25 kg (kurang
lebih 1 blek) dan setelah 1 minggu lahan
baru siap untuk ditanami bibit rambutan
yang telah jadi.
4.Teknik Penanaman
Penentuan Pola Tanaman
Penyiapan pohon pangkal sebaiknya
melalui proses perkecambahan kemudian
ditanam dengan jarak 10 x 10 cm setelah
berkecambah dan berumur 1-1,5 bulan
atau telah tumbuh daun sebanyak 3 helai
maka bibit/zaeling dapat dipindahkan
pada bedeng ke dua dengan jarak 1-14
meter. Untuk menghindari sengatan sinar
matahari secara langsung dibuat atap
yang berbentuk miring lebih tinggi ke
Timur dengan maksud supaya
mendapatkan sinar matahari pagi hari
secara penuh.
Persiapan lahan
Rambutan biasa ditanam di pekarangan
atau secara kebun. Jarak tanam 10 – 14
m. Ukuran lobang 60 x 60 x 60 cm. Waktu
membuat lobang tanah galian bagian atas
diangkat ke sebelah kanan lobang, tanah
galian bagian bawah ke sebelah kiri
lobang.
Pembuatan Lubang Tanaman
Pembuatan lubang pada bedeng-bedeng
yang telah siap untuk tempat penanaman
bibit rambutan yang sudah jadi dilakukan
setelah tanah diolah secara matang
kemudian dibuat lobang-lobang dengan
ukuran 1 x 1 x 0,5 m yang sebaiknya
telah dipersiapkan 3-4 pekan sebelumnya
dan pada waktu penggalian tanah yang
diatas dan yang dibawah dipisahkan yang
nantinya dipergunakan untuk penutup
kembali lubang yang telah diberi
tanaman, sedangkan jarak antar lubang
sekitar 12-14 m.
Cara Penanaman
Setelah berlangsung selama 2 pekan
lubang ditutup dengan susunan tanah
seperti sedia kala dan tanah yang bagian
atas dikembalikan setelah dicampur
dengan 3 blek (1 blek kurang lebih 20
liter) pupuk kandang yang sudah matang,
dan kira-kira 4 pekan dan tanah yang
berada di lubang bekas galian tersebut
sudah mulai menurun baru rambutan
ditanam dan tidak perlu terlalu dalam
secukupnya, maksudnya batas antara
akar dan batang rambutan diusahakan
setinggi permukaan tanah yang ada
disekelilingnya.
Perawatan
Pada awal penanaman di kebun perlu
diberi perlindungan yang rangkanya
dibuat dari bambu/bahan lain dengan
dipasang posisi agak tinggi disebelah
Timur, agar tanaman mendapatkan lebih
banyak sinar matahari pagi dari pada sore
hari, dan untuk atapnya dapat dibuat dari
daun nipah, kelapa/tebu.
Sebaiknya penanaman dilakukan pada
awal musim penghujan, agar kebutuhan
air dapat dipenuhi secara alamiah.
5. Pemeliharaan Tanaman
Penjarangan dan Penyulaman
Karena kondisi tanah telah gembur dan
mudah tanaman lain akan tumbuh
kembali terutama Gulma (tanaman
pengganggu), seperti rumput-rumputan
dan harus disiangi sampai radius 1-2 m
sekeliling tanaman rambutan.
Apabila bibit tidak tumbuh dengan baik
segera dilakukan penggantian dengan
bibit cadangan.
278
Perempalan Agar supaya tanaman
rambutan mendapatkan tajuk yang
rimbun, setelah tanaman berumur 2 tahun
segera dilakukan perempelan/
pemangkasan pada ujung cabangcabangnya.
Disamping untuk memperoleh tajuk yang
seimbang juga berguna memberi bentuk
tanaman, memperbanyak dan mengatur
produksi agar tanaman tetap terpelihara.
Pemangkasan juga perlu dilakukan
setelah masa panen buah berakhir
dengan harapan muncul tajuk-tajuk baru
sebagai tempat munculnya bunga baru
pada musim berikutnya dan hasil
berikutnya dapat meningkat.
Pemupukan
– Untuk menjaga agar kesuburan
lahan tanaman rambutan tetap
stabil perlu diberikan pupuk secara
berkala dengan aturan: a) Pada
tahun ke 2 setelah penanaman bibit
diberikan pada setiap pohon
dengan campuran 30 kg pupuk
kandang, 50 kg TSP, 100 gram
Urea dan 20 germ ZK dengan cara
ditaburkan disekeliling
pohon/dengan jalan menggali
disekeliling pohon sedalam 30 cm
selebar antara 40-50 cm, kemudian
masukkan campuran tersebut dan
tutup kembali dengan tanah galian
sebelumnya.
– Tahun berikutnya perlu dosis
pemupukan perlu ditambah dengan
komposisi 50 kg pupuk kandang, 60
kg TSP, 150 gr Urea dan 250 gr ZK
dengan cara pemupukan yang
sama, apabila menggunakan pupuk
NPK maka perbandingannya
15:15:15 dengan ukuran diantara
75-125 kg untuk setiap ha, dan bila
ditabur dalam musim hujan dan
dengan komposisi 250-350 kg
apabila dilakukan saat awal musim
penghujan.
Pengairan dan Penyiraman
Selama dua minggu pertama setelah bibit
yang berasal dari cangkokan/okulasi
ditanam, penyiraman dilakukan sebanyak
dua kali sehari, pagi dan sore.
Dan minggu-minggu berikutnya
penyiraman dapat dikurangi menjadi satu
kali sehari.
Apabila tanaman rambutan telah tumbuh
dan benar-benar kuat frekuensi
penyiraman bisa dikurangi lagi yang
dapat dilakukan saat-saat diperlukan saja.
Dan bila hujan turun terlalu lebat
diusahakan agar sekeliling tanaman tidak
tegenang air dengan cara membuat
lubang saluran untuk mengalirkan air.
Pembentukan bentuk pohon:
Setelah tanaman berumur 2 tahun ujungujung
tanaman dipotong.
Pemotongan dimaksudkan untuk
menguatkan cabang yang akan dijadikan
batang pokok.
Selanjutnya tunas tunas yang tumbuh
tidak beraturan, tumbuh ke dalam, harus
dibuang.
Pemangkasan juga dilakukan sesudah
pemanenan buah.
6) Pengendalian Hama penyakit dan
Gulma
Guna mencegah kemungkinan
tumbuhnya penyakit/hama karena kondisi
cuaca/hewan-hewan perusak maka perlu
dilakukan penyemprotan pestisida
umumnya dilakukan antara 15-20 hari
sebelum panen dan juga apabila
kelembaban udara terlalu tinggi akan
tumbuh cendawan, apabila musim
penghujan mulai tiba perlu disemprot
fungisida beberapa kali selama musim
hujan pestisida dan insektisida
Hama pada Daun
279
Hama tanaman rambutan berupa
serangga seperti semut, kutu, kepik,
kalong dan bajing serta hama lainya
seperti, keberadaan serangga ini
dipengaruhi faktor lingkungan baik
lingkungan biotik maupun abiotik. Misal:
ulat penggerek buah (Dichocricic
punetiferalis) warna kecoklat-coklatan
dengan ciri-ciri buah menjadi
kering dan berwarna hitam.
Ulat penggerek batang (Indrabela sp)
membuat kulit
kayu dan mampu membuat lobang
sepanjang 30 cm.
Ulat pemakan daun (Ploneta
diducta/ulat keket) memakan daun-daun
terutama pada musim kemarau.
Ulat Jengkal (Berta chrysolineate)
pemakan daun muda sehingga penggiran
daun menjadi kering, keriting berwarna
cokelat kuning.
Penyakit
Penyakit tanaman rambutan disebabkan
organisme semacam ganggang
(Cjhephaleusos sp) yang diserang
umumnya daun tua dan muncul pada
musim hujan dengan ciri-ciri adanya
bercak-bercak kecil dibagian atas daun
disertai seratserat halus berwarna jingga
yang merupakan kumpulan sporanya.
Ganggang Chaphaleuros Ganggang ini
hidup bersimbiose dengan lumut kerak
(lichen) dan dapat dijumpai pada daun
dan batang rambutan, yang nampak
seperti panu sehingga ranting yang
diserang dapat mati.
Penyakit akar putih yang disebabkan oleh
cendawan (jamur) Rigidoporus Lignosus
dengan tanda rizom berwarna putih yang
menempel pada akar dan apabila akar
yang kena dikupas akan nampak warna
kecoklatan.
7.3. Gulma
Segala macam tumbuhan pengganggu
tanaman rambutan yang berbentuk
rerumputan yang berada disekitar
tanaman rambutan akan mengganggu
pertumbuhan dan perkembangan bibit
rambutan oleh sebab itu perlu dilakukan
penyiangan secara rutin.
6) Pemeliharaan Lain
Untuk memacu munculnya bunga
rambutan diperlukan larutan KNO3
(Kalsium Nitrat) yang akan mempercepat
10 hari lebih awal dari pada tidak diberi
KNO3 dan juga mempunyai keunggulan
memperbanyak “dompolan” bunga
(tandan) rambutan pada setiap stadium
(tahap perkembangan) serta
mempercepat pertumbuhan buah
rambutan.
7. Panen
Ciri dan Umur Panen
Buah rambutan yang telah matang dapat
diamati dengan melihat ciri-ciri warna
buah yang disesuikan dengan jenis
rambutan yang ada juga dengan
mencium baunya serta yang terakhir
dengan merasakan rambutan yang sudah
masak dibandingkan dengan rambutan
yang belum masak.
Dapat dipastikan bahwa pemanenan
dilakukan sekitar bulan Nopember sampai
Februari, juga dapat dipengaruhi musim
kemarau atau musim penghujan.
Prakiraan Produksi
Apabila penanganan dan pemeliharaan
semenjak pembibitan hingga panen
dilakukan secara baik dan benar serta
memenuhi aturan yang ada maka dapat
diperkirakan mendapatkan hasil yang
maksimal.
Setiap pohonnya dapat mencapai hasil
minimal 0,10 kuintal, dan maksimal dapat
mencapai 1,75 kuintal setiap pohonnya
280
Gambar 104. Rambutan mengkal (belum
masak sempurna)
Gambar 105. Rambutan masak
Cara Panen
Cara pemanenan yang terbaik adalah
dipetik beserta tungkalnya yang sudah
matang (hanya yang sudah masak)
sekaligus melakukan pemangkasan
pohon agar tidak menjadi rusak.
Pemangkasan dilakukan sekaligus panen
agar dapat bertunas kembali cepat
berbuah apabila pemetikan tidak
terjangkau dapat dilakukan dengan
menggunakan galah untuk mengkait
tangkai buah rambutan secara benar.
8. Pascapanen
Pengumpulan
Setelah dilakukan pemanenan yang
benar buah rambutan harus diikat secara
baik, biasanya dikumpulkan tidak jauh
dari lokasi pohon sehingga selesai
pemanenan
secara keseluruhan.
Penyortiran dan Penggolongan
Tujuan penyortiran buah rambutan yang
bagus agar harga jualnya tinggi, biasanya
dipilih berdasarkan ukuran dan mutunya,
buah yang kecil tetapi baik mutunya dapat
dicampur dengan buah yang besar
dengan sama mutunya, yang biasanya
dijual dalam bentuk ikatan dan perlu
diingat bahwa dalam 1 ikatan diusahakan
sama besar dan sama baik mutunya.
Dan dilakukan sesuai dengan jenis
rambutan, jangan dicampur adukkan
dengan jenis yang lain.
Penyimpanan
Penyimpanan yang terbaik untuk
mengawetkan buah rambutan biasanya
dilakukan
dengan jalan dibuat asinan/manisan dan
dimasukkan dalam kaleng/botol atau
dapat juga dengan menggunakan
kantong plastik.
Hal ini dapat menjaga kesterilan dan
ketahanan serta lama penyimpanannya.
Pengemasan dan Pengangkutan
Hasil jual dapat tinggi tidak tergantung
dari rasanya saja, tetapi pada
kenampakan dan cara pengikatannya,
apabila akan dijual tidak jauh dari lokasi
maka cukup diikat dan kemudian di
angkut dengan kendaraan/dimasukkan
dalam karung.
Untuk pengiriman dengan jarak yang
agak jauh (antar pulau) yang
membutuhkan waktu hingga 2-3 hari
lamanya perjalanan rambutan.
Caranya di pak dengan menggunakan
peti sebelum dipilih dan di pak sebaiknya
281
dicuci terlebih dahulu dengan air sabun
dan dibilas kemudian dikeringkan, setelah
dipisah dari tangkainya, apabila ada yang
terkena jamur sebaiknya direndam dulu
dengan larutan soda 1,5% selama 3-5
menit kemudian disikat dengan sikat yang
lunak.
Setelah itu disusun berderet berbentuk
sudut terhadap sisi peti, yang sebelumnya
dialasi dengan lumut/ sabut kelapa,
setelah itu dilapisi dengan kertas minyak.
Setelah penuh lapisan atas dilapisi lagi
dengan kertas minyak dan dengan sabut
kelapa yang terakhir ditutup dengan
papan, sebaiknya kedua sisi panjang
dibentuk agak gembung, biasanya
penempatan peti bagian yang pendek
ditempatkan dibawah didalam perjalanan.
9.7.2. TEKNIK BUDIDAYA JERUK
a. Pendahuluan
Jeruk merupakan komoditas buahbuahan
yang mempunyai nilai ekonomi
penting dan nilai kesehatan yang berarti
karena mengandung nilai gizi yang tinggi
( Vitamin C dan A ) .
Buah jeruk dapat dikonsumsi langsung
sebagai buah segar atau juice dan dapat
pula diolah menjadi sirup.
Gambar 106 Kebun jeruk Berastagi
Produktivitas jeruk rata-rata di Indonesia
masih rendah, sekitar 16 t/ha/thn,
sementara potensi hasil bisa lebih dari 25
t/tha/thn.
Lagi pula ada indikasi bahwa setelah
berumur 7 tahun produktivitas jeruk
cenderung menurun. Kemunduran
produktivitas diduga karena kekurangan
air, gangguan, perakaran karena kondisi
tanah, hama, dan penyakit, dan lain-lain
b. Syarat Tumbuh
Iklim
Tanaman jeruk manis, juga jeruk lainnya,
dapat ditanam di daerah anaara 400LS.
Namun, tanaman jeruk paling banyak
ditanam pada daerah 200 –400LU dan
200–400LS. Disekitar laut tengah, daerah
44 derajat LU, masih merupakan daerah
yang cocok untuk tanaman jeruk.
Pada daerah subtropis, tanaman jeruk
ditanam di dataran rendah sampai
ketinggian 650 m dpl.
Sedangkan di daerah khatulistiwa sampai
ketinggian 2.000 m dpl.
Didaerah subtropis, produksi jeruk lebih
tinggi dari daerah tropis. Hal ini
kemungkinan disebabkan oleh iklim yang
berbeda atau karena faktor-faktor lain
yang dilakukan lebih insentif, seperti
pemupukan, pengairan, pengendalian
hama penyakit dan lain-lain.
Produksi jeruk di daerah subtropis bisa
mencapai 36-40 ton per hektar,
sedangkan di daerah tropis hanya
mencapai 13 – 22 ton per hektar.
Temperatur
Aktivitas pertumbuhan jeruk akan sangat
kurang bila temperatur kurang dari 13
derajat celcius tetapi masih bisa bertahan
pada temperatur lebih dari 380C.
Temperatur optimal untuk pertumbuhan
jeruk 250C dan 300C.
Diatas dan dibawah temperatur optimal,
pertumbuhannya akan berkurang. Apabila
temperatur diatas 380C atau dibawah
130C kemungkinan pertumbuhannya akan
terhenti. Namun, ada juga tanaman jeruk
yang masih bisa bertahan sampai
temperatur 500C atau sedikit dibawah
00C.
Jumlah panas tidak merupakan ukuran
282
yang penting, kecuali ditempat yang
tinggi. Waktu yang diperlukan untuk
pertum-buhan dan masaknya buah di
daerah tropis lebih pendek bila
dibandingkan dengan di daerah subtropis.
Kultivar yang berumur genjah yang di
daerah subtropis buahnya masak dalam
waktu 8 bulan, di daerah tropis menjadi 6
bulan, sedangkan kultivar berumur
panjang di daerah subtropis buahnya
masak dalam waktu 11 bulan, di daerah
tropis menjadi 7 bulan.
Sinar Matahari
Tanaman jeruk memerlukan sinar
matahari yang penuh, bila terlindung akan
berkurang produktivitasnya. Penurunan
produksi akibat kekurangan sinar
matahari ini bisa mencapai setengahnya
dibandingkan dengan jeruk yang tidak
ternaungi.
Sinar matahari sangat dibutuhkan
tanaman jeruk dalam proses
pembentukan zat-zat organik dalam daun
yang biasanya kita sebut fotosintesa atau
asimilasi karbon. Tanaman memerlukan
tenaga matahari untuk pertumbuhan
normal, perkembangan buah dan lainnya.
Intensitas sinar matahari ditentukan oleh
sinar langsung dan sinar pantulan dari
sekitarnya.
Derajat intensitas sinar matahari
tergantung pada:
– Letak geografis
– Ketinggian dari permukaan laut
– Ada atau tidak adanya awan,
– Lamanya penyinaran.
Sinar yang tersebar mempunyai peranan
penting dalam fotosintesa karena
bekerjanya bisa lebih lama daripada sinar
langsung. Sinar yang tersebar dapat
masuk ke dalam tajuk tanaman dari
segala penjuru sehingga tersedia bagi
semua daun untuk fotosintesa.
Bagian luar tajuk tanaman mendapat
sinar 5 – 14 kali lebih banyak
dibandingkan dengan bagian dalam tajuk.
Oleh karena itu, cabang dalam seringkali
ada yang mati atau mudah terserang
penyakit karena kekurangan sinar
matahari.
Semakin tinggi suatu tempat, maka makin
bertambah pula intensitas sinar. Oleh
karena itu tanaman jeruk yang ditanam di
daerah pegunungan akan mempunyai
aroma yang baik, warna lebih cerah, dan
lebih banyak mengandung gula bila
dibandingkan dengan tanaman yang
ditanam pada ketinggian lebih rendah,
untuk varietas yang sama.
Jeruk yang ditanam terlalu rapat maka
cabangnya tumbuh cenderung menuju ke
atas.
Bila jeruk terlalu rimbun, perlu dilakukan
pemangkasan cabang tanaman yang tak
berguna.
Di daerah tropis, lamanya penyinaran
setiap bulan boleh dikatakan hampir
sama, yaitu 12 jam, atau antara 11 dan
13 jam. Kemungkinan, dengan adanya
perbedaan lamanya penyinaran,
menyebabkan perbedaan kualitas
kecepatan pertumbuhan dan lain-lain.
Lamanya panjang hari dari fajar sampai
senja, mungkin banyak pengaruhnya
terhadap pembungaan.
Didaerah subtropis, tanaman jeruk manis
pada umumnya ditanam didaerah yang
lebih rendah. Sebagai contoh di daerah
California, jeruk ditanam didaerah dengan
ketinggian kurang dari 700 m, di Spanyol
kurang dari 250 m, sedangkan di
Indonesia banyak ditanam di daerah yang
tinggi, misalnya di Kabanjahe, Ngablak,
Tawangmangu yang tingginya lebih dari
1.000 m.
Curah Hujan, Air, dan Kelembaban
Air merupakan salah satu faktor yang
sangat penting untuk pertumbuhan
tanaman jeruk manis, pembentukan buah,
fotosintesa, dan lain-lain.
Air juga sebagai komponen semua
jaringan tanaman. Kandungan air pada
daun dan tunas sekitar 50-75%, pada
buah lebih kurang 85% dan pada akar
kira-kira 60-85%.
Air berfungsi untuk melarutkan unsur
hara dan membawanya ke seluruh tubuh
tanaman dan aktivitas kehidupan sel-sel
dalam semua jaringan tanaman.
Bila tidak ada irigasi (pengairan) maka
sumber air berasal dari curah hujan.
Masa kering menstimulasi terbentuknya
283
kuncup bunga, kemudian pada musim
hujan akan berbunga dan berbuah.
Tanaman jeruk memerlukan cukup air,
kerperluan air yang terbanyak yaitu pada
waktu mulai berbunga, pembentukan dan
pembesaran buah.
Pada kondisi kering kemudian turun
hujan, mengakibatkan terjadinya fluktuasi
suhu dan kelembaban udara, hal ini
berakibat pada retaknya buah jeruk.
Curah hujan yang baik untuk
pertumbuhan jeruk adalah sekitar 700
mm setiap tahun. Walaupun curah hujan
1.250 – 1.850 mm tetapi kalau turunya
tidak merata, maka perlu ada tambahan
pengairan.
Curah hujan yang terlalu tinggi juga
berakibat buruk pada jeruk karena akan
timbul penyakit (misalnya jamur upas),
atau dapat merusak akar jeruk.
Air yang cukup turut mempengaruhi
warna buah.
Sedangkan di daerah yang
kelembabannya tinggi, akan
menyebabkan buah tetap berwarna hijau
walaupun sudah masak.
Curah hujan yang ideal untuk tanaman
jeruk berkisar antara 1.000 – 2.000 mm,
dan jeruk menghendaki curah hujan yang
merata sepanjang tahun.
Tanah
Tanaman jeruk manis dapat ditanam
diberbagai jenis tanah, dari tanah pasir
kasar sampai tanah liat berat dan tidak
menghendaki kondisi becek.
Pada tanah yang tergenang air, harus
dilakukan pengeringan melalui
pembuatan saluran drainase atau
menanamnya pada tanah yang
ditinggikan.
Drainase yang baik sangat diperlukan
untuk memperoleh hasil yang maksimal.
Tanah yang baik untuk tanaman jeruk
yaitu tanah yang berasal dari endapan
yang subur, cukup dalam dan tidak
mengandung salinitas yang tinggi.
Walaupun tanaman jeruk bisa ditanam
ditanah berat, tetapi lebih baik bila
ditanam di tanah ringan sampai sedang,
yang aerasi (peredaran udara) cukup
baik, gembur, cukup dalam, air bisa
merembes, dan cukup bahan organik.
Tanaman jeruk tidak mempunyai banyak
akar rambut atau boleh dikatakan tidak
mempunyai akar rambut. Oleh karena itu,
tanah tempat tumbuhnya harus cukup
humus atau bahan organik.
Struktur fisik tanah sangat penting untuk
tanaman ini, tanah harus bisa mengikat
dan merembeskan air, jangan sampai
tanah tergenang..
Tanaman jeruk manis yang ditanam pada
tanah yang cukup bahan organik sampai
lapisan dalam lebih dari 50 cm, akan lebih
cepat baik pertumbuhannya.
Tanaman jeruk sangat sensitif bila tanah
banyak mengandung garam. Di Indonesia
tanaman jeruk bisa hidup baik pada pH 5-
6. Bila pH terlalu rendah, tanah dapat
ditambah kapur atau dolomit (dolomit
yaitu campuran karbonat dan magnesium
karbonat).
c.Pedoman Teknis
Pengolahan Tanah
Bila tempat tanam telah ditetapkan dan
syarat-syarat yang diperlukan telah
terpenuhi bisa dimulai mengadakan
persiapan sebagai berikut :
1. Tanah dibersihkan dari tanamantanaman
penggangu.
2. Selanjutnya buatlah batasanbatasan
dengan sebilah bambu
(patok) untuk menentukan tempat
tanam. Dalam pembagian ini
diperhitungkan juga pembagian
jalan untuk mengontrol tanaman
(bila luas areal tanah 1 ha dibagi
menjadi 4). Bila pembuangan air
tidak lancar, buatlah selokanselokan
pembuangan air. Ini
284
penting, terutama untuk tempattempat
yang cekung dan
keadaaan tanahnya liat.
3. Bila bibit yang digunakan berakar
panjang, usahakan agar tanah
digembur-gemburkan lebih
dalam. Tapi bila bibit yang
digunakan berakar dangkal
(misalnya cangkokan, atau stek),
usahakan agar tanah
digemburkan secara meluas.
4. Pada tanah yang letak air
tanahnya tinggi serta sedang
sebaiknya ditanam bibit okulasi,
sedang pada areal yang air
tanahnya tidak dalam
penggunaan bibit cangkokan
adalah sangat tepat.
5. Bila tanah tempat areal tanam
tidak banyak mengandung
humus, kondisi tanah terlalu
kurus dan liar, sebaiknya ditanami
dulu dengan tanaman pupuk hijau
selama 1 – 2 tahun. Setelah itu
batang dan daun dibenamkan,
agar tanah menjadi lebih subur.
6. Setelah tanah selesai dikerjakan,
mulailah diajir. Pada tempat yang
akan ditanami pohon ditancapkan
sebuah ajir. Yang terpenting pada
tahapan ini adalah jarak ajir yang
satu dengan yang lain harus
sama dan lurus. Aturannya ada
dua macam, yaitu bujur sangkar
atau segitiga.
7. Setelah jalan induk, jalan kontrol,
dan tempat air rampung diatur,
dimulailah pembuatan lubanglubang
tempat penanaman.
Lubang dibuat 3 – 4 minggu
sebelum bibit ditanam.
Pembuatan lubang tanam
Saat tanam yang baik untuk menanam
bibit jeruk adalah pada permulaan musim
hujan. Bisa juga penanaman dilakukan
menjelang akhir musim hujan, tetapi
resikonya kita harus rajin menyirami bibit
muda setiap hari agar tidak mati
kekurangan air pada musim kemarau.
Waktu terbaik untuk mulai mengerjakan
tanah adalah pada bulan Juni – Agustus.
Besarnya lubang minimal 60 x 60 x 60
cm. Lebih besar lebih baik, umpamanya
80 x 80 x 70 cm atau 1 x 1 x 0,5 m.
Penggalian lubang jangan terlalu dalam,
pengaruhnya kurang baik ( me-rugikan),
karena akan tanaman akan mengumpul di
lapisan yang dalam dan lapisan atas
kurang.
Selain itu lubang penanaman yang terlalu
dalam sering menarik air dari tanah
sekelilingnya, hal itu akan merusak akar
tanaman dan menghambat
pertumbuhannya.
Lubang tanaman dibuat dengan cara
menggali lubang. Tanah bagian atas yang
subur ( berwarna kehitam-hitaman)
dipisahkan dari tanah bawah. Tanah atas
dibuang disebelah kiri, tanah bawah ke
sebelah kanan. Selanjutnya lubang
dibiarkan menganga terjemur matahari 2
– 4 minggu lamanya.
Tanah bagian bawah dimasukkan dalam
lubang, letaknya tetap dibawah seperti
semula. Sedangkan tanah bagian atas,
sebelum dimasukkan dalam lubang
dicampur dulu dengan 2 – 3 kaleng pupuk
kandang/kompos ditambah 1,5 kg pupuk
fosfat.
Dalam keadaan serupa ini bibit jeruk
belum boleh ditanam. Setelah tanah turun
kembali, hingga muka tanah diatas
lubang sedikit lebih tinggi dari pada tanah
disekelilingnya, barulah bibit pohon
ditanam.
Penanaman
Saat tanam yang baik untuk menanam
bibit jeruk adalah pada permulaan musim
hujan. Sebelum bibit ditanam, tanah
dalam lubang harus betul-betul basah dari
atas sampai kebawah.
285
Bila bibit terletak dalam keranjang
persemaian, keranjangnya harus dilepas
terlebih dahulu, dan selain itu
perakarannya juga harus diperiksa. Bibit
yang akarnya berbelit-belit dan melingkarlingkar
jangan dipakai, sebab akan
menggangu pertumbuhan tanaman
nantinya.
Atau kalau hendak dipakai juga, letak
akar dibenarkan dan diluruskan terlebih
dahulu arah pertumbuhannya. Bila ada
akar yang panjangnya melebihi batas
lubang akar, sebaiknya dipotong saja
kelebihannya.
Janganlah menanam terlalu dalam, tapi
jangan pula terlalu dangkal. Lebih-lebih
untuk bibit okulasi. Jangan sampai tanah
melampaui atau menutupi batang
okulasinya.
Untuk menghindari adanya ronggarongga
antar akar dan tanah, siramlah
tanah dengan air sebanyak mungkin.
adanya rongga dalam tanah akan
mengakibatkan akar mengering. Setelah
itu tanah dipadatkan dengan tangan.
Setelah selesai menanam, sekitar bibit
tanaman diberi jerami kering guna
melindungi tanah agar tidak kering oleh
panas sinar matahari atau mengeras
padat karena terkena siraman air hujan.
Lebih bagus lagi kalau jauh sebelumnya
telah disiapkan bahan perlindungan yang
terbuat dari bumbu dengan atap alangalang,
daun nipah atau kelapa.
Pemeliharaan
Tanaman belum menghasilkan
Langkah pemeliharaan yang perlu
dilakukan adalah:
– pelebaran terumbuk, kegiatan ini
dilakukan 2-3 kali setahun setelah
penyiangan dan pemupukan.
Kegiatan ini bertujuan untuk
mencegah serangan jamur pada
akar tanaman. Untuk jeruk yang
ditanam pada areal pasang surut,
pelebaran terumbuk akan
berfungsi sebagai penambahan
bahan organik.
– Pembuatan parit drainase
tambahan, kegiatan ini
dilaksanakan pada tanaman
berumur 2 tahun.
– Pengairan, karena tanaman jeruk
banyak membutuhkan air maka
pada kondisi kering penyiraman
perlu dilakukan terutama
menjelang tanaman berbunga
sampai berbuah.
– Pemupukan pada tanaman jeruk
yang belum berbuah dilakukan
dua kali setahun yakni pada wal
dan akhir musim hujan masingmasing
setengah dosis yang
ditentukan. Sedangkan
pemberian pupuk kandang
diberikan pada awal musim
penghujan. Untuk tanaman yang
telah berbuah dilakukan 3 kali
setahun, yakni sebelum bunga
muncul (2/5 bagian) pada saat
pemasakan buah (1/5 bagian),
dan sisanya (2/5 bagian) setelah
panen. Tanaman jeruk juga
memerlukan zat pengatur tumbuh
yang diberikan sebelum tanaman
berbunga hingga pentil buah
mulai terbentuk. Zat pengatur
tumbuh yang dapat digunakan
antara lain Atonik, Dekamon, dan
Dharmasri.
– Penyiangan gulma dapat
dilakukan sebulan sekali
bersamaan dengan waktu
pemangkasan, penjarangan, atau
pemetikan buah yang tidak sehat
Tanaman menghasilkan
Tanaman jeruk mulai berbuah pada umur
3 tahun. Dalam masa ini pemeliharaan
yang perlu dilakukan adalah sebagai
berikut:
286
– pemangkasan tunas air, cabang
balik, cabang dan ranting yang
kering atau lapuk
– penjarangan buah, sebaiknya
buah disisakan dipohon hanya
sebanyak 40%. Tujuan
penjarangan adalah agar kita
mendapatkan buah yang besar
dan bermutu baik. Pelaksanaan
dilakukan ketika buah masih
pentil atau sekitar dua bulan
setelah berbunga. Jumlah yang
paling baik bagi pertumbuhan
buah jeruk adalah 10 buah setiap
dompol.
– Pembersihan pentil atau buah
masak yang jatu di bawah pohon,
karena dapat menjadi sumber
hama dan penyakit.
Hama dan penyakit
Hama
Hama yang biasa menyerang tanaman
jeruk adalah ulat penggerek adaun, ulat
bisul buah jeruk, berbagai jenis kutu yang
menyerang daun, ranting, batang dan
buah jeruk, serta lalat jeruk.
Akibat yang ditimbulkannya:
– rontoknya daun
– keringnya bagian yang terserang
dan kemudian mati
Untuk mengatasinya:
Insektisida Azodrin, Novacron, untuk lalat
jeruk, Folidot-E 605 untuk berbagai
serangan hama kutu, dan Anthlo 33 EC,
Azodrin 60 WSC, Sevin 85 untuk penyakit
ulat bisul buah.
Penyakit
Penyakit yang umum menyerang jeruk
adalam CVPD (citrus vein phloem
degeneration), penyakit akar, embun
tepung, antraks buah, dan busuk buah.
Gejala yang timbul adalah:
– klorosis, atau daun menjadi tebal
dan kaku
– tanaman kerdil
– Rusaknya floem tulang daun
Pengendalian penyakit yang dilakukan
adalah dengan penyemprotan insektisida
dan akarisida seperti Dimecron 50 WC,
Bayrusil, Diazinon, Sandoz 6538 atau
Tamaron.
Tanaman yang sudah terserang penyakit
harus di eradikasi, namun bila serangan
masih ringan atau baru menyerang
pengendalian dapat dilakukan dengan
penginfusan tanaman menggunakan
terramycin 21.6 SP dan Dithan M45-
80WP.
Panen dan Pasca Panen
Panen
Cara panen dan waktu panen buah jeruk
sangat menentukan kualitas buah yang
dihasilkan.
Buah jeruk termasuk buah nonklimatrik
yaitu buah yang tidak mengalami proses
pematangan setelah dipanen.
Adapaun tanda-tanda buah jeruk yang
mempunyai derajat kematangan cukup
antara lain:
– kulit buah kekuning-kuningan
(orange)
– Buah tidak terlampau keras jika
dipegang
– Bagian bawah buah agak empuk.
Cara pemanenan adalah dengan tangan
atau gunting.
Bila menggunakan tangan buah dipegang
kemudian diputar sedikit dan ditarik ke
bawah sehingga lepas dari tangkainya.
287
Untuk buah yang terletak pada tangkai
yang tinggi sebaiknya menggunakan
tangga, dan tidak melakukan pemanjatan
pohon karena dapat merusak pohon.
Waktu pemetikan yang baik adalah pada
pukul 9 pagi atau pada sore hari.
Gambar 107 sampai 109 dibawah ini
merupakan gambaran proses perubahan
bentuk dan warna dari buah jeruk
Berastagi dari kecil sampai jeruk siap
untuk dipanen.
Gambar 107 Buah jeruk yang masih pentil
Gambar 108 Buah jeruk yang masih hijau
Gambar 109 buah jeruk siap panen
Pascapanen
Buah jeruk yang sudah dipetik
dikumpulkan dalam keranjang yang
berkapasitas tidak lebih 10 Kg, agar
mudah dibawa pada waktu pemetikan.
Kemudian buah dapat dimasukkan ke
dalam keranjang bambu berkapasitas 50-
60Kg yang diberi alas daun pisang kering.
Sortasi dan Klasifikasi
Buah jeruk yang sudah dipetik
dibersihkan terlebih dahulu sbelum
dilakukan sortasi dan klasifikasi.
Setelah dicuci buah dikeringkan dengan
menggunakan lap, kemudian buah yang
baik dan sehat dipisahkan dari buah yang
rusak atau berpenyakit.
Klasifikasi buah jeruk yang umum
dilakukan adalah sebagai berikut:
– Kelas A: 6 buah per Kg, diameter
buah rata-rata 7.6cm.
– Kelas AB : 8 buah per kg,
diameter buah rata-rata 6.7cm
– Kelas C: 10 kg buah per kg,
diameter buah rata-rata 5.9 cm
– Kelas D: 12-14 buah per kg,
diameter buah rata-rata 5.8cm.
288
Sedangkan buah yang akan diekspor,
kelas dan mutu klasifikasinya adalah
sebagai berikut:
– kelas A: beratnya lebih besar
atau sama dengan 151g/buah
diameternya 7.1cm.
– kelas B: beratnya 101-150g/buah,
diameter 6.1-7.0cm.
– kelas C: beratnya 51-100g/buah,
diameter 5.1 -6.0cm
– KelasD: beratnya lebih kecil atau
sama dengan ro g/buah, diameter
4.0 – 5.0cm.
Pengemasan
Sebelum buah jeruk dikemas terlebih
dahulu dilakukan proses penguningan
untuk memperoleh warna kuning yang
seragam.
Proses penguningan dilakukan dengan
menggunakan gas etilen atau asetilen.
Kemudian buah diberi lapisan lilin untuk
memperpanjang umur kesegaran buah
jeruk.
Dari hasil beberapa penelitian diketahui
bahwa buah jeruk yang dilapisi lilin dapat
memperpanjang kesegaran buah sekitar
18 hari, dengan susut berat maksimum
10%, sedangkan yang tidak dilapisi lilin
hanya bertahan 5 hari.
Selain itu daya simpan jeruk dapat
diperpanjang jika ditaruh pada suhu ruang
18-320C.
9.7.3.Teknik Budidaya mangga
a. Jenis mangga
Mangga Duren
Deskripsi
Nama duren pada mangga ini disebabkan
oleh aroma buahnya yang mirip durian.
Mangga ini dapat ditemukan di kebun
koleksi mangga Cukurgondang,
Pasuruan, Jawa Timur.
Buahnya berbentuk bulat. Kulit buahnya
tipis dan berwarna hijau pada waktu
masih muda, lalu berubah menjadi kuning
kemerahan setelah buah matang.
Gambar 110 Mangga Duren
Kelebihan mangga ini terletak pada
daging buahnya yang tebal, kenyal, dan
rasanya yang manis segar karena
mengandung cukup banyak air.
Daging buahnya berwarna kuning jingga
dan berserat.
Ukuran buahnya termasuk sedang,
panjang antara 8 – 9 cm dan berat ratarata
300 g/buah. Produksinya tergolong
tinggi.
Mangga arumanis
Deskripsi
Mangga ini merupakan salah satu
varietas unggul yang telah dilepas oleh
Menteri Pertanian yang berasal dari
daerah Probolinggo, Jawa Timur.
Buahnya berbentuk jorong, berparuh
sedikit, dan ujungnya meruncing.
289
Pangkal buah berwarna merah keunguan,
sedangkan bagian lainnya berwarna hijau
kebiruan.
Kulitnya tidak begitu tebal, berbintik-bintik
kelenjar berwarna keputihan, dan ditutupi
lapisan lilin.
Gambar 111 Mangga Arumanis
Daging buahnya tebal, berwarna kuning,
lunak, tak berserat, dan tidak begitu
banyak mengandung air.
Rasanya manis segar, tetapi pada bagian
ujungnya kadan:gkadang terasa asam.
Bijinya kecil, lonjong pipih, dan
panjangnya antara 13-14 cm. Panjang
buahnya dapat mencapai 15 cm dengan
berat rata-rata per buah 450 g.
Produktivitasnya cukup tinggi, dapat
mencapai 54 kg/pohon.
b. Manfaat Mangga
Sebagai buah meja atau sebagai
minuman.
C. Syarat Tumbuh
Tanaman mangga termasuk tanaman
dataran rendah.
Tanaman ini dapat tumbuh dan
berkembang baik di daerah dengan
ketinggian antara 0-300 m di atas
permukaan laut.
Meskipun demikian, tanaman ini juga
masih dapat tumbuh sampai ketinggian
1.300 m di atas permukaan laut.
Daerah dengan curah hujan antara 750-
2.250 mm per tahun dan temperatur 24-
27° C merupakan tempat tumbuh yang
baik untuk tanaman buah ini.
Jenis tanah yang disukainya adalah tanah
yang gembur, berdrainase baik, ber-pH
antara 5,5-6, dan dengan kedalaman air
tanah antara 50-150 cm.
d. Pedoman Teknis Budidaya
Perbanyakan tanaman
Umumnya, tanaman mangga diperbanyak
dengan okulasi, walaupun dapat pula
dengan sambung pucuk dan cangkok.
Sebagai batang bawah digunakan semai
mangga madu, cengkir (indramayu), dan
bapang.
Penggunaan bibit dari biji tidak
dibenarkan, kecuali untuk batang bawah.
Batang bawah yang tidak serasi
(inkompatibel) berpengaruh kurang baik
terhadap pertumbuhan dan pembuahan
(produksi buah, bentuk buah, dan rasa
daging buah) batang atas.
Pembuatan bibit (semaian dan okulasi)
biasanya langsung dilakukan di kebun.
Kemudian, dipindahkan ke polibag
setelah tinggi tunas sekitar 20 cm.
Budi daya tanaman
– Bibit ditanam dalam lubang
tanam berukuran 60 cm x 60 cm x
50 cm dengan jarak tanam 8-12
m.
– Setiap lubang diberi pupuk
kandang yang telah jadi
sebanyak 1-2 blek bekas minyak
tanah atau 20 kg.
– Bibit okulasi ditanam di lahan
setelah mencapai ketinggian lebih
dari 75 cm.
290
Pemupukan
Pupuk buatan yang diberikan berupa
campuran 200 kg urea, 500 kg TSP (667
kg SP-36), dan 150 kg KCl per hektar
atau 200 g urea, 500 g TSP, dan 150 g
KCl per tanaman.
Pemupukan dilakukan empat kali dengan
selang tiga bulan. Dosisnya meningkat
sesuai dengan umur tanaman.
Pemangkasan
Setelah mencapai tinggi 1 m, bibit
dipangkas pada perbatasan bidang
pertumbuhan agar dapat bercabang
banyak.
Cabang ini dipelihara 2-3 tunas per
cabang. Pemangkasan diulang setelah
cabang baru mencapai panjang 1 m,
demikian seterusnya hingga diperoleh
susunan 1-3-9 cabang.
Pemeliharaan
Pengendalian Hama dan Penyakit
Hama
Hama yang merisaukan adalah
penggerek batang (Cryptorrhynchus sp)
dan kumbang cicade (Idiocerus
niueosparsus).
Serangga hama pengisap Idiocerus
sangat merusak bunga mangga hingga
berguguran. Jumlah bunga betina rendah
dengan pembuahan oleh tepung sari
yang lemah.
Serangan serangga (wereng)
menyebabkan produksi mangga rendah.
Hama ini dapat diatasi dengan semprotan
insektisida sistemik Tamaron 0,2%.
Pemberian insektisida melalui infus lebih
dianjurkan untuk menghindari pengaruh
jelek terhadap kumbang penyerbuknya.
Penyakit
Penyakit yang sering menyerang,
terutama di daerah beriklim basah adalah
penyakit blendok (lh’plodia sp.), mati
pucuk (Gloeosporium sp.), dan penyakit
pascapanen (Botryodiplodia sp) yang
menyebabkan buah mangga cepat
membusuk pada bagian pangkalnya.
Namun, penyakit ini juga dapat
menyerang batang sambungan bibit
mangga bila kondisi lingkungan tanaman
lembap dan dingin.
Serangan Diplodia yang sangat merusak
batang dapat diatasi dengan
mengoleskan larutan Benlate 0,3% atau
lisol 20-50% pada luka yang telah
dibersihkan lebih dulu.
Panen dan Pasca Panen
Buah mangga dipanen setelah tua benar.
Cirinya adalah sebagai berikut:
– bagian pangkal buah telah
membengkak rata
– warnanya mulai menguning.
Pemungutan buah yang belum tua benar
menyebabkan rasanya agak asam dan
kelat (mutu rendah).
Umur buah dipanen kira-kira 4-5 bulan
(110-150 hari) sejak bunga mekar
(anthesis).
Pemetikan harus hati-hati, tidak boleh
jatuh, dan getahnya tidak boleh mengenai
buah mangga tersebut.
Umumnya, tanaman mangga berbunga
pada bulan Juli-Agustus. Buah matang
dapat dipanen pada bulan September-
Desember.
Buah harus dibersihkan dari kutu, jelaga,
dan getah yang menempel.
291
9.7.4. Teknik Budidaya Pepaya
a. Manfaat
Selain untuk konsumsi buah segar, buah
pepaya matang dapat diolah menjadi
saus pepaya.
Buah yang setengah matang biasanya
dibuat manisan, sedangkan buah muda
disayur.
Daunnya yang masih muda serta
bunganya dibuat urap (lalap masak) dan
buntil.
Tanaman yang masih berdaun 3-5 helai
dan buah muda dapat diambil getahnya
untuk papain.
Papain digunakan untuk penyamak kulit
serta melunakkan daging dan bahan
kosmetik.
b. Jenis-jenis Pepaya
Pepaya Cibinong
Gambar 112 Pepaya Cibinong
Deskripsi
Warna kulit buah bagian ujung biasanya
kuning, sedangkan bagian lainnya tetap
hijau.
Pepaya cibinong memiliki ciri tersendiri,
yaitu buah yang matang tampak pada
warna kulit buahnya. Bentuk buahnya
panjang dengan ukuran besar. Bobot
setiap buah rata-rata 2,5 kg.
Pangkal buah kecil kemudian membesar
di bagian tengah dan melancip di bagian
ujungnya. Permukaan kulit buah agak
halus tetapi tidak rata. Daging buah
berwarna merah kekuningan.
Keistimewaan lainnya pepaya ini ialah
rasanya manis segar, teksturnya keras,
dan tahan selama
pengangkutan
Gambar 113 Pepaya Bangkok
Deskripsi
Pepaya bangkok bukan tanaman asli
Indonesia. Jenis pepaya ini didatangkan
dari Thailand sekitar tahun 70-an.
Pepaya bangkok diunggulkan karena
ukurannya paling besar dibanding jenis
pepaya lainnya. Beratnya dapat mencapai
3,5 kg per buahnya.
Selain ukuran, keunggulan lainnya ialah
rasa dan ketahanan buah.
Daging buahnya berwarna jingga
kemerahan, rasanya manis segar dan
teksturnya keras sehingga tahan dalam
pengangkutan.
Rongga buahnya kecil sehingga
dagingnya tebal. Permukaan kulit buah
kasar dan tidak rata.
Pepaya Hawai
Deskripsi
Pepaya yang berasal dari Kepulauan
Hawaii ini merupakan suatu jenis pepaya
“solo”.
Pepaya “solo” artinya pepaya yang habis
dimakan hanya untuk satu orang.
292
Oleh karena itu, dapat dipastikan
keistimewaan pepaya ini ialah ukurannya
yang kecil.
Gambar 114 Pepaya hawai
Bobot buahnya hanya sekitar 0,5 kg.
Bentuknya agak bulat atau bulat panjang.
Kulit buah yang telah matang berwarna
kuning cerah.
Daging buahnya agak tebal, berwarna
kuning, dan rasanya manis segar.
Pepaya jingga
Deskripsi
Daging buah pepaya ini berwarna merah
jingga
Gambar 115 Pepaya Jingga
Pepaya Mas
Deskripsi
Pepaya ini berwarna kuning keemasan
Gambar 116 Pepaya Mas
c. Syarat Tumbuh
293
Tanaman pepaya dapat tumbuh di
dataran rendah hingga ketinggian 1.000
m dpl.
Tanaman ini lebih senang tumbuh di
lokasi yang banyak hujan (cukup tersedia
air), curah hujan 1000-2000 mm per
tahun dan merata sepanjang tahun.
Tanaman ini lebih senang tumbuh di
lokasi yang banyak hujan (cukup tersedia
air), curah hujan 1000-2000 mm per
tahun dan merata sepanjang tahun.
Di daerah yang beriklim kering, musim
hujannya 2-5 bulan, dan musim
kemaraunya 6-8 bulan, tanaman pepaya
masih mampu berbuah, asalkan
kedalaman air tanahnya 50-150 cm.
Tanah yang subur dengan porositas baik,
mengandung kapur, dan ber-pH 6-7
paling disenangi oleh tanaman pepaya.
Tanaman pepaya lebih menyukai daerah
terbuka (tidak ternaungi) dan tidak
tergenang air. Tanah yang berdrainase
tidak baik menyebabkan tanaman mudah
terserang penyakit akar.
d. Pedoman Budidaya
1. Perbanyakan tanaman
Pepaya hanya diperbanyak dengan
bijinya yang berwarna hitam. Biji yang
berwarna putih dibuang karena bersifat
abortus, yakni tidak mempunyai embrio
dan mati sejak buah pentil. Biji diambil
dari buah pepaya sempurna yang telah
matang pohon.
Untuk menghasilkan tanaman sempurna
sebanyak banyaknya maka biji yang akan
dibiakkan diambil dari bagian ujung buah
pepaya yang telah matang pohon.
Biji-biji dari bagian ujung buah akan
menghasilkan tanaman sempurna antara
70-80%, sedangkan bagian pangkal
menghasilkan tanaman sempurna antara
50-65%.
2. Persemaian
Biji disemaikan dulu atau ditanam
langsung. Budi daya tanaman
Pepaya ditanam dari biji terpilih. Biji
disemai di polibag kecil dan ditanam di
kebun setelah berumur tiga bulan.
Seleksi dilakukan saat tanaman mulai
berbunga. Dalam seleksi ini dipilih
tanaman yang hanya berbunga
sempurna. Seleksi ini dapat dilakukan di
kebun atau saat di pot.
3. Penanaman
Lubang tanam dibuat berukuran 60 cm x
60 cm x 40 cm, kemudian diisi pupuk
kandang yang telah matang sebanyak 20
kg/lubang. Jarak tanam dibuat 3 m x 3 m
atau 13,5 m x 2 m.
Umumnya, tanaman mulai berbunga
setelah berumur tiga bulan. Bunga
sempurna muncul setelah bunga ke-4.
Cara penanaman lain yang biasa
dilakukan petani adalah menanam biji
pepaya langsung ke dalam lubang tanam,
tiap lubang ditanam 3-5 biji.
Setelah bibit berumur sekitar tiga bulan,
biasanya bunga jantan mulai tumbuh.
Setelah itu, dilakukan seleksi, yaitu
membuang tanaman berbunga jantan.
Tiap lubang disisakan satu bibit yang
tumbuh kekar, sehat, dan berbunga
sempurna. Bunga sempurna (dalam satu
bunga ada putik dan benang sari fertill) –
biasanya baru muncul setelah bunga ke-
4.
Bibit yang tidak terpilih dibuang atau
dipindahkan untuk sulaman pada lubang
lain yang bijinya tidak tumbuh.
Pemindahan bibit harus hati hati, disertai
tanah yang membungkus akar bibit.
Kerusakan akar bibit mengakibatkan
tanaman layu/mati.
294
4. Pemeliharaan
Pemupukan
Pupuk buatan yang diberikan berupa NPK
sebanyak 25—-200 g per tanaman,
tergantung umurnya: Dosis pemupukan
mulai dari 25 g, kemudian meningkat
dengan interval 25 g per tanaman.
Pupuk diberikan 3-4 bulan sekali.
Tanaman mulai berbunga terus-menerus
(tidak musiman), tetapi perlu pemberian
air sekurang-kurangnya seminggu sekali
bila kekeringan (musim kemarau).
Pengendalian gulma
Perawatan selanjutnya, membersihkan
gulma/alang-alang.
Pembersihan kebun dengan cangkul atau
traktor harus hati-hati, jangan sampai
merusak akar.
Hama dan Penyakit
Hama
Hama yang sering menyerang tanaman
pepaya pada musim kemarau adalah
tungau merah Tetranychus kansawai dan
kutu daun yang berwarna kuning Myzus
persicae.
Kutu daun inilah yang menjadi vektor dan
penyebar virus keriting (mosaik) yang
ditakuti petani pepaya karena sukar
diberantas.
Penyakit
Penyakit yang biasa menyerang tanaman
pada kondisi lembap dan suhu malam
dingin adalah bercak buah Colletotrichum
gloeosporioides dan penyakit busuk akar
Phytophthora palmivora.
Selain itu, penyakit lain yang sering
menyerang tanaman pepaya adalah layu
bakteri Bacterium papayae.
Tanaman yang terserang bakteri layu
akan menunjukkan gejala layu mendadak,
tanpa ditandai dengan menguningnya
daun. Buah yang masih muda tampak
pucat dan getahnya encer sekaii.
Biasanya, buah yang masih muda
berguguran. Penyakit busuk akar dan
layu dapat dicegah dengan drainase
kebun yang baik. Hama tungau merah
dan kutu daun dapat diatasi dengan
menyemprotkan Kelthane 0,2%.
9.7.5. Teknik Budidaya Pisang
a.Pendahuluan
Salah satu buah yang digemari oleh
sebagian besar penduduk dunia adalah
pisang (Musa Paradisiaca L).
Buah ini digemari karena memiliki rasa
yang enak, kandungan gizinya tinggi,
mudah didapat, dan harganya relatif
murah.
Indonesia mempunyai prospek yang baik
untuk pengembangan komoditas pisang
kaena iklimnya cocok untuk tanaman
pisang, ketersediaan lahan, dan tenaga
kerja yang melimpah.
b. Jenis-jenis Pisang
Pisang Ambon Lumut
Deskripsi
Pisang yang berasal dari Temanggung,
Jawa Tengah ini warna kulit buahnya
tetap hijau walaupun sudah matang.
Gambar 117 Pisang ambon lumut
295
Produksi buahnya tergolong tinggi. Setiap
pohon dapat menghasilkan 7-10 sisir
dengan jumlah buah 140-200.
Panjang buah 20-23 cm dengan diameter
4-5 cm. Bentuk buah memanjang dengan
pangkal buah membengkok.
Kulit buahnya tipis. Daging buah
berwarna putih kekuningan dengan rasa
manis dan pulen.
Pisang ini termasuk genjah karena
biarpun umurnya baru setahun, sudah
mampu menghasilkan buah.
Pisang kapok Kuning
Deskripsi
Pisang yang berasal dari Temanggung,
Jawa Tengah ini warna kulit buahnya
tetap hijau walaupun sudah matang.
Gambar 118 Pisang Kapok kuning
Produksi buahnya tergolong tinggi. Setiap
pohon dapat menghasilkan 7-10 sisir
dengan jumlah buah 140-200.
Panjang buah 20-23 cm dengan diameter
4-5 cm. Bentuk buah memanjang dengan
pangkal buah membengkok. Kulit
buahnya tipis.
Daging buah berwarna putih kekuningan
dengan rasa manis dan pulen.
Pisang ini termasuk genjah karena
biarpun umurnya baru setahun, sudah
mampu menghasilkan buah.
Pisang Ambon Kuning
Deskripsi
Pisang ini berkulit kuning keputihan.
Keunggulannya terletak pada rasa buah
yang manis dan beraroma harum.
Tanaman ini pertama kali dikembangkan
di daerah Malang, Jawa Timur.
Panjang buahnya antara 15-20 cm. Satu
pohon dapat menghasilkan 7-10 sisir
dengan jumlah buah 100-150.
Bentuk buah melengkung dengan
pangkal meruncing. Daging buah
berwarna putih kekuningan.
Umumnya buah pisang ini tidak
mengandung biji.
Gambar 119 Pisang Ambon Kuning
Pisang Barangan Merah
Deskripsi
Pisang ini juga berasal dari Medan.
Sifatnya lebih baik dibanding barangan
kuning. Buahnya diunggulkan karena
memiliki rasa sangat manis, beraroma
harum, dan tidak berbiji.
296
Disebut barangan merah karena daging
buahnya berwarna kuning kemerahan.
Produksi dan ukuran buahnya tidak
berbeda dengan pisang barangan kuning.
Bentuk buah melengkung dengan ujung
meruncing. Kulit buah tebal berwarna
kuning kemerahan berbintik cokelat.
Pisang Nangka
Deskripsi
Pisang ini kulit buahnya tetap berwarna
hijau walaupun sudah matang.
Kulit buah ini agak tebal. Buahnya
berukuran besar, panjangnya dapat
mencapai 28 cm. Bentuk buah
melengkung.
Gambar 120 Pisang Nangka
Walaupun berukuran agak besar, pisang
yang berasal dari Malang, Jawa Timur, ini
hanya berbobot 150-180 g per buah.
Daging buah berwarna kuning kemerahan
dengan rasa manis sedikit asam dan
aroma harum.
Pisang Raja Bulu
Deskripsi
Pisang ini merupakan salah satu jenis
pisang raja yang ukurannya sedang dan
gemuk. Bentuk buahnya melengkung
dengan pangkal buah agak bulat. Kulitnya
tebal berwarna kuning berbintik cokelat.
Gambar 121 Pisang Raja Bulu
Daging buahnya sangat manis, berwarna
kuning kemerahan, bertekstur lunak, dan
tidak berbiji. Panjang buah antara 12-18
cm dengan bobot ratarata 110-120 g.
Setiap pohon biasanya dapat
menghasilkan rata-rata sekitar 90 buah.
c. Manfaat
Buahnya merupakan produk utama
pisang. Pisang dimanfaatkan baik dalam
keadaan mentah, maupun dimasak, atau
diolah menurut cara-cara tertentu. Pisang
dapat diproses menjadi tepung, kripik,
‘puree’, bir (Afrika), cuka, atau didehidrasi.
Daun pisang digunakan untuk menggosok
lantai, sebagai alas ‘kastrol’ tempat
membuat nasi ‘liwet’, dan sebagai
pembungkus berbagai makanan.
Serat untuk membuat kain dapat
diperoleh dari batang semunya.
Bagian-bagian vegetatif beserta buahbuah
yang tidak termanfaatkan digunakan
sebagai pakan ternak; bagian-bagian
vegetatif itu khusus dimanfaatkan jika
pakan ternak dan air sulit diperoleh
(batang semu itu banyak mengandung
air).
Tanaman pisang (atau daun dan
buahnya) juga memegang peranan dalam
upacara-upacara adat, misalnya di
Indonesia, untuk upacara pernikahan,
297
ketika mendirikan rumah, dan upacara
keagamaan setempat.
Dalam pengobatan, daun pisang yang
masih tergulung digunakan sebagai obat
sakit dada dan sebagai tapal dingin untuk
kulit yang bengkak atau lecet.
Air yang keluar dari pangkal batang yang
ditusuk digunakan untuk disuntikkan ke
dalam saluran kencing untuk mengobati
penyakit raja singa, disentri, dan diare; air
ini juga digunakan untuk menyetop
rontoknya rambut dan merangsang
pertumbuhan rambut. Cairan yang keluar
dari akar bersifat anti-demam dan
memiliki daya pemulihan kembali.
Dalam bentuk tepung, pisang digunakan
dalam kasus anemia dan casa letih pada
umumnya, serta untuk yang kekurangan
gizi.
Buah yang belum matang merupakan
sebagian dari diet bagi orang yang
menderita penyakit batuk darah
(haemoptysis) dan kencing manis.
Dalam keadaan kering, pisang bersifat
antisariawan usus. Buah yang matang
sempurna merupakan makanan mewah
jika dimakan pagi-pagi sekali.
Tepung yang dibuat dari pisang
digunakan untuk gangguan pencernaan
yang disertai perut kembung dan
kelebihan asam
d. Syarat Tumbuh
Dengan pertumbuhannya yang sangat
cepat dan terus-menerus, yang akan
mengakibatkan hasil yang tinggi, pisang
memerlukan tempat tumbuh di iklim tropik
yang hangat dan lembap.
Walaupun begitu, pisang ini sangat
menarik sehingga orang menanamnya
juga persis di batas daerah ekologinya,
yang di tempat itu kecepatan tumbuh
rata-ratanya hanya dapat mendukung
hasil yang minim saja.
Suhu merupakan faktor utama untuk
pertumbuhan.
Di sentra-sentra produksi utamanya suhu
udara tidak pernah turun sampai di bawah
15°C dengan jangka – waktu yang cukup
lama; suhu optimum untuk
pertumbuhannya adalah sekitar 27°C,
dan suhu maksimumnya 38°C.
Kebanyakan pisang tumbuh baik di lahan
terbuka, tetapi kelebihan penyinaran akan
menyebabkan terbakar-matahati
(sunburn).
Dalam keadaan cuaca berawan atau di
bawah naungan ringan, daur
pertumbuhannya sedikit panjang dan
tandannya lebih kecil.
Pisang sangat sensitif terhadap angin
kencang, yang akan merobek-robek
daunnya, menyebabkan distorsi tajuk dan
dapat merobohkan pohonnya.
Diperlukan pasokan air yang ajek; untuk
pertumbuhan optimalnya curah hujan
hendaknya 200-220 mm, dan
kelembapan tanahnya jangan kurang dari
60-70% dari kapasitas lapangan, jadi
sebagian besar lahan memerlukan
pengairan tambahan.
Tanah yang paling baik untuk
pertumbuhan pisang adalah tanah liat
yang dalam dan gembur, yang memiliki
pengeringan dan aerasi yang baik.
Kesuburan yang tinggi akan sangat
menguntungkan dan kandungan bahan
organiknya. hendaknya 3% atau lebih.
Tanaman pisang toleran terhadap pH 4,5-
7,5.
e.Pedoman Budidaya
Bibit
1. Bibit dari bonggol (bit)
2. Bibit dari anakan :
• Tunas rebung : belum berdaun,
tinggi 20-40 cm
• Anakan muda : tunas daun telah
keluar tetapi masih menggulung,
tinggi 41-100 cm
• Anakan sedang : tinggi 101-150
cm
298
• Anakan dewasa : daun mekar
lebih dari dua helai, tinggi 151-
175 cm
3. Bibit dari kultur jaringan
Untuk mendapatkan hasil yang optimal,
sebaiknya pisang ditanam di dataran
rendah, dengan ketinggian kurang dari
1.000 m dpl. Iklim yang cocok adalah
iklim basah dengan curah hujan merata
sepanjang tahun, maka pisang
memberikan hasil yang baik pada musim
hujan dan kurang baik pada musim
kemarau.
Tanah yang cocok adalah tanah yang
subur, tanah liat yang mengandung kapur
atau tanah alluvial dengan pH antara 4,5-
7,5.
Selain itu jenis pisang juga
mempengaruhi keberhasilan penanaman
pisang.
1. Pembibitan
Pisang umumnya diperbanyak dengan
anakan. Anakan yang berdaun pedanglah
yang lebih disenangi petani, sebab
pohon pisang yang berasal dari anakan
demikian akan menghasilkan tandan yang
lebih besar pada panen pertamanya
(tanaman induk).
Bonggol atau potongan bonggol juga
digunakan sebagai bahan perbanyakan.
Bonggol ini biasanya dibelah dua dan
direndam dalam air panas (52° C) atau
dalam larutan pestisida untuk membunuh
nematoda dan penggerek sebelum
ditanamkan.
Kini telah dikembangkan kultur jaringan
untuk perbanyakan secara cepat, melalui
ujung pucuk yang bebas-penyakit.
Cara ini telah dilaksanakan dalam skala
komersial, tetapi adanya mutasi yang
tidak dikehendaki menimbulkan
kekhawatiran.
Rekayasa bioteknologi pisang dengan
kultur jaringan mempunyai keunggulan
sebagai berikut:
– Bibit pisang bebas dari infeksi
penyakit seperti virus dan
nematoda sehingga secara
ekonomi lebih menguntungkan
– Persentase hidup tanaman relatif
tinggi (95%).
– Umur berbuah lebih cepat 3-4
bulan dibandingkan dengan cara
lain
– Tanaman lebih seragam dan
sesuai dengan sifat induknya
– Waktu panen serentak sehingga
memudahkan pemasaran
2. Penyiapan lahan
Lahan untuk tanaman pisang harus
disiapkan dengan baik agar dapat
menjadi media pertumbuhan yang subur.
Pekerjaan pengolahan lahan untuk
tanaman pisang tersebut antara lain:
– Pembajakan tanah, untuk
membongkar tanah dengan
kedalaman kurang lebih 7rcm
agar menjadi media yang baik
untuk perakaran tanaman
– Penggaruan, yakni penghancuran
bongkahan-bongkahan tanah dan
meratakan tanah. Penggaruan
dilakukan setelah pemotongan
dan pembalikan tanah.
Penggalian lubang tanam, umumnya
lubang tanam pisang berukuran 60cm X
60cm X 60cm.
3. Penanaman
Penanaman pada umumnya dilakukan
pada awal musim hujan.
Kebutuhan bibit pisang untuk luas
penanaman satu hektar tergantung pada
jarak tanamnya. Untuk jarak tanam
299
6mX6m dibutuhkan 1.700 bibit, jika jarak
tanam 5m x 5m dibutuhkan 2.000 bibit,
sedangkan jarak tanam 4m x 4m
dibutuhkan 2.500 bibit.
Bahan perbanyakan biasanya ditanamkan
sedalam 30 cm.
Pisang dapat dijadikan tanaman utama
atau tanaman pencampur pada sistem
tumpang sari. Pisang biasanya ditanam
sebagai tanaman perawat (nurse drop)
untuk tanaman muda coklat, kopi, lada,
dan sebagainya. Juga dapat digunakan
sebagai tanaman sela pada perkebunan
karet atau kelapa sawit yang baru
dibangun, atau ditanam di bawah pohonpohon
kelapa yang telah dewasa.
Jika ditanam sebagai tanaman utama,
pisang biasanya ditumpangsarikan
dengan tanaman semusim.
3. Pemeliharaan
Penyiangan
Penyiangan berulang-uiang diperlukan
sampai pahon-pohon pisang dapat
menaungi dan menekan gulma.
Gulma diberantas dengan cara-cara
mekanik (dibabat, dibajak, – dan
sebagainya) atau dengan tangan:
Herbisida pratumbuh cukup efektif, dan
jika tanaman telah mencapai tinggi 1,5 m
atau lebih, dapat digunakan herbisida
kontak.
Pemupukan
Pisang memerlukan sejumlah besar hara.
Di pekarangan pemakaian pupuk
kandang dan kompos dianjurkan, yang
dikombinasikan dengan 0,25 kg urea dan
kalium nitrat (muriate of potash) setiap
tiga bulan untuk masing-masing rumpun.
Pengairan
Pengairan diperlukan di areal yang
memiliki musim kemarau panjang, tetapi
juga jika curah hujannya kurang dari 200-
220 mm bulan. Air dapat dialirkan melalui
parit atau disemprotkan; kini pengairantetesan
(drip irrigation) telah banyak
diterima. Selama putaran pemangkasan
ringan, daun-daun yang layu dipotong
agar diperoleh mulsa dan untuk
menghindari sumber infeksi melalui
penyakit-penyakit daun.
Pengurangan anakan
DI perkebunan skala komersial beberapa
tindakan lain dilakukan untuk
mempertahankan produktivitas yang
tinggi dan untuk menjamin buah
berkualitas baik untuk pasatan (ekspor).
Tindakan-tindakan itu mencakup
pembuangan anakan, pembuangan
tunggui-tunggul, pemotongan jantung
pisang, dan pengurangan tandan buah.
Setiap 6-12 minggu tanaman pisang
dibuangi anakannya, hanya ditinggalkan
satu tanaman induk (yang sedang
berbuah), satu batang anakan (yang
tertua), dan dalam hal tanaman-sirung
(ratoons), satu tanaman cucu.
Pada kepadatan yang rendah, setiap
rumpun dapat berisi 2 batang induk
berikut 2 anakannya.
Jadi, untuk menghindari berjejalnya
batang, dan untuk mengatur panen yang
berurutan dalam setiap rumpun, satu
anakan disisakan pada satu pohon induk
setiap 6-10 bulan (atau lebih untuk
daerah beriklun sejuk) untuk
menghasilkan tandan berikutnya. Hanya
anakan yang sehat dan tertancap dalam
yang boleh disisakan.
Penyangga atau tali dapat memberikan
dukungan tambahan bagi tanaman yang
berisi tandan buah; topangan ini akan
menghindarkan tanarnan dari patahnya
batang karena keberatan oleh tandan.
Jantung pisang hendaknya segera
dibuang setelah 2 sisir terakhir dari
tandan itu muncul.
300
Pada waktu yang bersamaan, satu atau
dua sisir terakhir mungkin perlu dibuang
untuk meningkatkan panjangnya masingmasing
buah pisang yang tersisa, dan
tandan itu mungkin perlu dikarungi.
Karung itu dapat berupa kantung plastik
yang telah diberi insektisida, maksudnya
untuk menghindari kerusakan oleh
serangga, burung, debu, dan sebagainya,
dan untuk menaikkan suhu tandan,
memajukan pertumbuhan buah, terutama
untuk daerah beriklim dingin.
Pengendalian Hama dan Penyakit
Penyakit
1.Sigatoka kuning atau bercak daun
merupakan salah satu penyakit yang
paling berbahaya. Penyakit ini
disebabkan oleh Mycosphaerella
musicola (tahap konidiumnya disebut
Cercospora musae) yang endemik untuk
Asia Tenggara, dan hanya dijumpai pada
pisang.
Bercak daun ini menyebabkan kematian
dini sejumlah besar daun pisang,
menyebabkan tandan buah mengecil
dengan sedikit sisiran, dan individu buah
pisang yang kurang penuh.
2. Penyakit layu Fusarium atau penyakit
Panama disebabkan , oleh Fusarium
oxysporum f. cubense.
Penyakit ini berupa jamur tanah yang
meriyerang akar kultivar-kultivar pisang
yang rentan, dan menyumbat sistem
pembuluh, sehingga tanaman akan layu.
Satu-satunya cara pemberantasan ialah
penghancuran fisik atau kimiawi
(herbisida) pada tanaman yang terserang
dan tetangga-tetangganya; lahan
hendaknya dikosongkan dan dipagari,
serta dikucilkan dari penanaman dan
aliran pengairan.
Penyakit layu bakteri atau penyakit Moko
Penyakit ini disebabkan oleh
Pseudomonas solanacearum, dan dapat
membunuh pohon pisang yang terserang
hanya dalam jangka waktu satu-dua
minggu.
Bakteri ini dapat ditularkan secara
mekanik, tetapi biovar 1-SFS adalah galur
yang ditularkan oleh serangga, dan
dianggap sebagai galur yang paling
berbahaya.
Pengendaliannnya mencakup desinfeksi
semua peralatan yang digunakan dalam
berbagai pengolahan pertanian dan
penghancuran tanaman yang terserang,
beserta tetangga-tetangganya.
Fumigasi dan pengkarantinaan lahan
yang terserang sangat dianjurkan.
Penyakit ini umum,di belahan bumi barat;
di Asia Tenggara hanya ada di Filipina
(Mindanao).
Penyakit-penyakit virus mencakup
penyakit pucuk menjurai (bunchy top),
mosaik, dan mosaik braktea. Penyakit
pucuk menjurai dan penyakit mosaik
ditularkan oleh afid [afid pisang,
(Pentalonia nigronervosa), menyebabkan
pucuk pisang menjurai; afid jagung
(Rhopalosiphum maidis), dan afid kapas
(Aphis gossypii), kesemuanya itu adalah
vektor-vektor untuk penyakit mosaik].
Pernberantasan penyakit-penyakit ini
mencakup tindakan karantina,
pemeriksaan secara teratur dan
penghancuran tanaman yang terserang,
penggunaan bahan perbanyakan yang.
bebas virus, pembuangan inang
alternatifnya, dan pemberantasan vektorvektornya.
Hama
Serangga hama yang paling berbahaya
adalah kumbang penggerek pisang
(Cosmopolitis sordidus).
Hama ini berasal dari Asia Tenggara,
tetapi telah tersebar ke semua areal
penanaman pisang. Yang paling merusak
adalah Iarvanya: larva-larva itu
menggerek bonggol dan menjadi pupa di
lorong-lorong yang dibuatnya. Sebagian
301
besar jaringan bonggol akan rusak,
akibatnya akan menurunkan kemampuan
pengambilan air dan hara, juga
kemampuan tertancapnya tanaman.
Serangga dewasanya meletakkan telur
pada jaringan-jaringan bonggol atau di
sekitarnya.
Langkah pemberantasannya mencakup
pencacahan bonggol dan batang semu
agar pembusukan berlangsung lebih
cepat, menjerat dan menangkap
serangga-serangga dewasa,
menggunakan bahan perbanyakan yang
tidak terserang, merusak tempat
berlindung dan tempat makan serangga
dewasa dengan cara menjaga kebersihan
lahan di sekitar tanaman, dan
menggunakan insektisida. Dua macam
‘thrips’ menyerang tanaman pisang.
‘Thrips’ bunga, “thrips florum, berukuran
kecil, dapat memasuki buah yang sedang
berkembang ketika brakteanya masih
ada.
Serangga ini bertelur di situ dan
memakan buah-buah yang muda,
menyebabkan buah berkulit kasar dan
kadang-kadang menjadi pecah-pecah.
‘Thrips’ merah karat (Chaetanaphothrips
signipennis) memakan bagian-bagian
tempat perlekatan buah pisang pada
tandannya, menimbulkan warna kemerahmerahan.
Pemberantasan hama ini dilakukan
dengan insektisida atau pembungkusan
tandan; membantu koloni semut berada di
sekitar tempat itu juga dapat bermanfaat.
Nematoda pelubang (Radopholus similis)
adalah jenis nematoda yang paling
merusak. Bercak-bercak atau bintik bintik
hitam pada akar menunjukkan adanya
serangan yang kemudian diikuti oleh
infeksi jamur.
Tanaman yang terserang hebat hanya
tinggal berupa batang berakar busuk,
yang mudah roboh jika telah terbentuk
tandan buah. Langkah-langkah
pemberantasannya mencakup
pembuangan tanaman yang terserang,
4. Panen dan Pasca Panen
Panen
Buah pisang dipanen ketika masih
mentah. Pemetikan yang dilakukan pada
tingkat kematangan yang tepat akan
menghasilkan buah pisang yang prima.
Tanda-tanda buah pisang yang
mempunyai tingkat kematangan cukup
antara lain:
– Buah tampak berisi dan bagian
tepi buah sudah tidak ada lagi
– Pada sisir buah bagian atas
sudah ada yang matang sekitar
2-3buah
– Tangkai pada putik telah gugur
Tingkat kematangan diperkirakan dari
adanya siku-siku pada individu buah;
buah yang penampang melintangnya
lebih bulat berarti lebih matang.
Sewaktu berat buah meningkat dengan
cepat sejalan dengan menghilangnya
siku-siku pada buah, buah pisang juga
menjadi lebih rentan terhadap kerusakan
selama pengangkutan, dan buah itu tidak
dapat bertahan lama, karenanya harus
dipetik lebih awal.
Untuk memanen pisang diperlukan 2
orang, si pemanen dan si pengumpul. Si
pengumpul menyandang bantalan bahu
untuk menahan jatuhnya tandan setelah
si pemanen menusuk batang pisang
dengan parang, sehingga bagian atas
pohon beserta tandannya merunduk.
Diperlukan satu galah bambu untuk
menopang tandan sampai menyentuh
bantalan di bahu: Setelah tandan itu
merendah dengan cara begitu, si
pemanen memotong gagang tandan
dengan menyisakan sebagian gagang
yang masih berada pada tandan, yang
digunakan sebagai pegangan.
Tandan-tandan itu kemudian diangkut
dengan hati-hati ke ruangan pengepakan
302
melalui sistem kabel atau dengan
gerobak yang ditarik oleh traktor.
Penanganan pasca panen
– Pengumpulan
Pisang yang telah dipanen dikumpulkan
ditempat yang terlindung sinar matahari.
Daun pisang dapat digunakan sebagai
alas agar buah tidak luka. Sebelum
dilakukan sortasi, tandan pisang disisir
dahulu dengan menggunakan pisau yang
tajam agar tidak terjadi luka. Kemudian
buah pisang dibersihkan dan disemprot
dengan fungisida untuk mencegah
timbulnya bahaya penyakit selama saat
penyimpanan.
– Sortasi dan Klasifikasi
Sortasi dan Klasifikasi dilakukan menurut
ukuran besar dan kecilnya buah,
kerusakan atau cacat buah, derajat
kematangan, bobot buah dan
keseragaman warna.
– Pengemasan
Pengemasan bertujuan agar
memudahkan pengangkutan dan
melindungi buah dari kerusakan mekanis
yang terjadi selama pengangkutan.
Hal yang perlu diperhatika dalam
pengemasan adalah kapasitas alat
kemasan dan cara menyusun buah
pisang dalam kemasan.
Untuk pengangkutan jarak dekat dapat
menggunakan keranjang bambu dengan
kapasitas 3-4 sisir . Ada pula pedagang
yang menggunakan kotak kayu yang
berisi 150 pisang per kotak.
Pengemasan untuk ekspor memerlukan
penamnganan yang lebih banyak dan
cermat. Setelah dipetik buah harus dicuci
bersih dan dicelupkan ke dalam larutan
fungisida. Kemudian buah pisang
disortasi dan ditimbang serta diberi
perlakuan untuk mempertahankan
kesegarannya. Pengemasan disesuaikan
dengan alat transportasi yang digunakan.
Kotak kemasan yang digunakan untuk
perdagangan internasional mempunyai
kapasitas 18.14 lb(40 lb) dan 12 Kg.
Daya simpan pisang mentah berkisar
antara 21-30 hari pada suhu 13-15° C.
Kalsium karbida (CaC2) atau larutan
etefon dapat digunakan untuk
mematangkan buah tua-mentah.
Pada perlakuan kalsium karbida, buah
pisang dikenai bahan ini selama 24-36
jam dalam sebuah wadah tertutup,
sedangkan pada perlakuan etefon,
pencelupan selama 5 menit sudah cukup
efektif.
Pada pengusahaan secara komersial
besar-besaran digunakan gas etilena.
Pisang diperlakukan selama 24 jam
dalam kamar tertutup yang berisi etilena
dan suhunya dipertahankan 14-18°C.
Setiap 24 jam sekali kamar dibuka untuk
ventilasi sampai buah-buah pisang itu
mencapai warna yang disenangi
konsumen.
9.8. TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN
HIAS
a. Pendahuluan
Kelompok tanaman hias merupakan salah
satu bagian dari ilmu hortikultura.
Tanaman hias dapat dibudidayakan
didalam ruangan maupun di ruang
terbuka.
b. Klasifikasi
Tanaman hias dapat diklasifikasikan
berdasarkan morfologi, siklus hidup,
bentuk daun, ataupun karakteristik
lainnya.
1.Golongan Herba
Tanaman hias herba adalah tanaman
yang batangnya tidak berkayu, pada
umumnya jenis ini banyak digunakan
untuk tanaman indoor.
303
Kelompok herba ini dapat dikelompokkan
lagi, yaitu:
a.Siklus hidup
a. Annual, tanaman hias annual
(semusim) adalah tanaman hias
yang siklus hidupnya kurang dari
setahun.
b. Biannual, yang termasuk kedalam
kelompok ini adalah tanaman
hias yang pertumbuhan
vegetatifnya terjadi pada tahun
pertama dan masa reproduktifnya
(berkembang biak) pada tahun
berikutnya.
c. Perenial (tahunan), yang
termasuk kedalam kelompok ini
adalah tanaman hias yang siklus
hidupnya sangat panjang. Salah
satu contoh tanaman hias
kelompok ini adalah adalah lidah
mertua (Sansevieria spp).
B Berdasarkan fungsi
Kelompok tanaman hias herba dapat
dibagi berdasarkan fungsinya yaitu:
a. Bedding Plant, yaitu tanaman
yang digunakan sebagai selimut
(pelindung) tanaman lainnya.
Tanaman ini berfungsi untuk
melindungi tanaman lainnya
terhadap fluktuasi suhu ekstrim,
hal ini banya dilakukan pada
daerah sub-tropis. Contoh nya
adalah: Petunia spp, dan
marigold (Tagetes spp).
b. Hanging plant (tanaman
gantung), tanaman yang
penanamannya dalam pot
gantung misalnya geranium,
pakis.
Gambar 122. Tanaman yang diletakkan
pada pot gantung
c. Houseplant (tanaman indoor atau
tanaman rumah) , adalah
tanaman hias yang adaptif pada
kondisi didalam ruangan. Mereka
ditanam pada wadah tertentu,
dan pada umumnya kelompok ini
pertumbuhannya relatif lebih
lambat. Kelompok ini dapat
berupa tanaman berbunga atau
tanaman hias daun. Misalnya
adalah lidah mertua (Sansevieria
spp) , rambung merah (Ficus
elastica)
Ga
mbar 123. Tanaman hias yang
diletakkan dalam ruangan
2. Golongan Tanaman Hias Berkayu
Tanaman hias kelompok ini berbeda
dalam ukuran dan pola pertumbuhannya.
304
Beberapa jenis dapat menggugurkan
daunnya jika terjadi perubahan cuaca,
yang disebut decidous, dan kelompok
kedua adalah tanaman yang tidak
menggugurkan daunnya disebut
evergreen.
Kelompok ini ada yang berbentuk semak,
menjalar, ataupun pohon.
Tanaman berkayu dapat digabungkan
penanamannya dengan kelompok herba
akan tetapi jika menggabung keduanya
perlu diperhatikan kebiasaan hidup
masing masing jenis, warna, tekstur, luas
kanopi, dan kemampuan adaptasinya.
Gambar 124 Penggabungan golongan
tanaman berkayu dan
herba dalam satu lanskap
c. Tanaman Indoor dan outdoor
Penanaman bunga dalam ruangan
(indoor)
Beberapa jenis bunga dapat ditanam di
dalam ruangan, asalkan seluruh
kebutuhan pertumbuhannya terpenuhi.
Faktor yang Mempengaruhi Kemampuan
Tanaman di dalam Ruangan
Kemampuan tanaman untuk hidup dalam
ruangan tertutup, tergantung pada
jenisnya. Pemilihan akan jenis tanaman
yang akan dibudidayakan di dalam
ruangan ini tergantung pada:
Efek individual
Ada beberapa orang lebih tertarik pada
kaktus dibandingkan dengan mawar. Oleh
karenanya penanaman dalam ruangan
sangat tergantung pada siapa penghuni
ruangan tersebut.
Kondisi tempat tumbuh
Ruangan dapat juga digunakan untuk
menanam tanaman hias. Akan tetapi
keberhasilan pertanaman di dalam
ruangan ini tergantung pada kondisi
ruangan dan jenis tanaman hiasnya.
Ruangan yang tidak cukup cahaya
mataharinya tidak mencukupi syarat
untuk tempat penanaman tanaman,
kecuali diberi cahaya lampu selama 24
jam.
Akan tetapi ada beberapa jenis tanaman
yang adaptif di dalam ruangan yang
terbatas sinar mataharinya misalnya:
lidah mertua (Sansevieria trifascita),
rambung merah (Ficus elastica), dan
sebagainya
Dekorasi
Tanaman juga dapat digunakan untuk
menghias ruangan, yang pemilihan
tanamannya tergantung pada besar
kecilnya ruang, warna, dan tekstur bunga.
Karakteristik tanaman
Beberapa alasan pemilihan jenis tanaman
tertentu yang digunakan sebagai tanaman
indoor disebabkan oleh:
Daya pikatnya
Tanaman yang terpilih sebagai tanaman
indoor adalah tanaman yang mempunyai
nilai aestetika. Nilainya dapat terletak
pada keindahan daun ataupun bunganya.
– Penampilannya
Pada umumnya orang jarang
menggunakan satu jenis tanaman indoor
305
sepanjang masa hidup tanaman tersebut,
tanaman akan segera digantikan jika
tanaman itu tua (tidak menarik). Beberapa
jenis tanaman dapat berubah
penampilannya pada waktu muda dan
tua, tanaman yang indah hanya pada
waktu muda, akan segera digantikan, jika
tanaman tua.
Itu sebabnya tanaman indoor selalu
diganti, berdasarkan bagaimana
penampilannya dalam mendukung
keindahan dekorasi ruangan.
– Siklus hidup
Beberapa jenis tanaman hanya menarik
pada saat dia berbunga, dan menjadi
tidak menarik pada saat pertumbuhan
vegetatif. Sebaliknya ada beberapa jenis
tanaman hias daunnya lebih menarik
dibandingkan dengan bunganya.
-Laju pertumbuhan
Beberapa jenis tanaman laju
pertumbuhanya relatif lebih cepat
sedangkan jenis lainnya lebih lambat.
Misalnya kelompok tanaman hias annual
(tanaman semusim) pertumbuhan lebih
cepat dibandingkan dengan kelompok
palma.
Penanaman di Luar Ruangan (outdoor)
Untuk tanaman outdoor jenis dan
keindahannya sangat banyak, tergantung
pada pilihan lanskapnya. Lanskap
memiliki makna penggunaan tanaman
outdoor yang berfungsi untuk menambah
keindahan atau lainnya. Penanaman di
luar ruangan dapat menggabungkan
beberapa jenis tanaman, ataupun hanya
satu jenis.
Tujuan dari pengaturan lanskap adalah;
– Peningkatan keindahan suatu
areal
– Peningkatan nilai tanah dan
bangunan
– Menggabungkan konsep alami
pada bangunan
– Memberi kepuasan pada
khalayak ramai
– Kontrol bagi pengendara dan
pejalan kaki
– Memodifikasi lingkungan
– Tempat rekreasi
– Meningkatkan perlindungan
terhadap semberdaya alam
– Mengurangi polusi suara
d. Teknik Budidaya tanaman hias
secara umum
a. Media tanam
Hampir semua tanaman hias memerlukan
media yang gembur, pouros, subur,
cukup mengadung, bahan organik, bebas
dari hama, aerasi dan drainese yang baik.
Untuk menciptakan kondisi tersebut maka
media tanam yang ideal adalah campuran
bahan organik dan bahan anorganik.
Bahan organik dapat berupa cacahan
pakis, kompos, humus, serutan kayu,
arang sekam, cocopeat, dan sebagainya
Sedangkan bahan anorganik berupa
tanah atau pasir.
Komposisi media yang digunakan untuk
setiap nursery pasti berbeda-beda
tergantung dari kondisi iklim setempat,
campuran media tanam yang dapat
digunakan diantaranya :
1. sekam bakar dan cacahan pakis
dengan perbandingan 4 : 1 untuk
pupuk bisa menggunakan
dekastar atau osmokot atau bisa
juga pupuk kandang yang telah di
fermentasi.
306
2. sekam bakar, andam ( kaliandra)
dan pupuk kadang yang telah
steril dengan perbandingan 1:1:1.
3. humus, pupuk kandang steril dan
pasir malang yang telah diayak
halus dengan perbandingan 5:5:2
Untuk menjaga kelembaban media dan
mengatur drainase yang baik maka
pertama-tama pot diisi terlebih dahulu
dengan pecahan bata merah, pecahan
genting, Styrofoam, dice coco ( sabut
kelapa yang dipotong dadu ), sampai ¼
pot setelah itu baru media tanamnya diisi
hingga penuh.
Untuk menjaga tanaman terhindar dari
jamur, cendawan dan bakteri sebaiknya
media harus dikukus setidaknya 1 jam
b. Teknik Budidaya Bunga Potong
Bunga potong adalah bunga yang
dianfaatkan sebagai bahan rangkaian
bunga untuk berbagai keperluan manusia.
Penggunaan bunga potong ini dimulai
dari kelahiran, perkawinan sampai
kematian, oleh karenanya bunga potong
ini memiliki prospek yang cerah.
Banyak jenis bunga potong yang
dibudidayakan untuk memenuhi
kebutuhan seperti: krisan, mawar,
anthurium, gladiol, dan lain-lain.
Prinsip budi daya bunga potong pada
dasarnya meliputi:
– Penyiapan bibit
– Penyiapan lahan
– Penanaman
– Pemeliharaan
– Panen dan Pascapanen
Faktor-faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan
Beberapa aspek yang perlu diperhatikan
dalam budidaya bunga potong ini adalah:
aspek ekologi produksi, aspek teknik
hortikultura, dan teknik budidaya.
Unsur ekologi
Unsur yang terpenting dari aspek ini
adalah iklim (ketinggian tempat cahaya
matahari, dan curah hujan), tanah
(struktur dan pH tanah), air tanah
(kedalaman air tanah). Aspek ini demikian
penting terutama jika hendak menanam
bibit jenis bunga impor.
Kendala yang dihadapi jika menanam
bunga impor adalah kendala lingkungan.
Akan tetapi kendala ini dapat diatasi
dengan berbagai teknik hortikultura yang
dilaksanakan secara intensif. Sebagai
contoh keadaan tanah yang buruk dapat
dimbangi dengan pemupukan,
pengapuran ataupun penambahan bahan
organik.
c. Aspek teknik hortikultura
Aspek teknik hortikultura penting dalam
hal perbaikan mutu bunga potong melalui
perbanyakan vegetatif dan generatif. Cara
perbanyakan vegetatif maupun generatif
sangat perlu diperhatikan untuk
pengadaan bibit unggul. Teknik
perbanyakan dengan penyambungan
dapat membantu memperbaiki
pertummbuhan bunga terhadap kondisi
lingkungan yang buruk dan dapat
memperbaiki kemampuan berbunga.
Aspek penanaman
Aspek ini perlu diperhatikan menyangkut
ketersediaan sumber daya lahan dan
lingkungan yang dapat mendukung
pertumbuhan bunga potong.
Kondisi suhu dan kesuburan tanah akan
mempengaruhi jumlah populasi yang
terdapat pada satu areal tertentu. Pada
suhu tinggi misalnya maka dapat
digunakan jarak tanam yang lebih rapat,
307
begitu juga untuk tanah-tanah yang
subur.
Pemangkasan batang maupun akar,
pengerdilan tanaman, dan pemaksaan
berbunga dapat membantu mengatasi
kendala ekologi yang kurang cocok.
Aspek teknik budidaya
Dalam memelihara tanaman dan teknik
budidaya kadang-kadang ditemui
permasalahan karena adanya perubahan
kebiasaan masyarakat setempat dari
bertanam secara tradisional ke modern.
Umumnya cara bertani tradisional
menghasilkan mutu bunga yang kurang
baik dibandingkan dengan cara modern.
Pemberian paranet pada budidaya
Aglonema memberikan hasil warna daun
yang lebih menarik dibandingkan dengan
tanpa paranet.
Peningkatan mutu bunga juga dapat
dilakukan dengan pengaturan
pembungaan (memperbesar ukuran
bunga, memperlebat jumlah bunga,
memperpanjang masa berbunga).
Memperbesar ukuran bunga dapat
dilakukan dengan metode pemangkasan,
yang hanya menyisakan beberapa
kuntum bunga yang potensial bermutu
tinggi.
Pascapanen
Mutu bunga potong bergantung pada
penampilan dan daya tahan
kesegarannya. Bunga dengan mutu prima
mempunyai nilai jual lebih tinggi
dibandingkan dengan bunga potong
berkualitas rendah.
Untuk memertahankan mutu bunga dari
panen sampai ke tangan konsumen perlu
memperhatikan:
– Penyimpanan
– pengemasan
– pengangkutan
Penyimpanan
Cara penyimpanan bunga potong
ditentukan berdasarkan jenis bunganya.
Cara penyimpananya antara lain dengan
merendam tangkai bunga di dalam air,
perlakuan kimia, dan dengan cara
pendinginan.
Teknologi penyimpanan sederhana yan
sering dilakukan petani adalah merendam
tangkai bunga dalam air bersih, bunga
krisan sering diberi perlakuan
perendaman dengan chrysal sebanyak 5
g/air.
Bunga Gladiol sering diberi perlakuan 4
ppm GA 60 ppm, magnesium sulfat 40
ppm atau air suling agar bunga ini tetap
awet.
Pengemasan
Pengemasan yang paling sederhana
adalah dengan membungkus bunga
dengan kertas koran. Salah satu bagian
dibiarkan terbuka, kemudian dibungkus
dengan kantong polietilen (PE) yang
diberi lubang dan dikemas lagi dalam
kantong tanpa lubang pada kelambaban
80%, metode ini sering digunakan petani
Thailand dalam pengemasan bunga
mawar.
Pengangkutan
Pengangkutan bunga potong menjadi
perhatian khusus karena erat kaitannya
dengan ketahanan bunga untuk tetap
segar sampai ke tangan konsumen.
9.8.1. Teknik Budidaya Anggrek
a.Pendahuluan
Indonesia mempunyai lebih dari 4,000
jenis anggrek, tanaman ini hampir
terdapat diseluruh kepulauan di
Indonesia.
Anggrek dapat ditemukan mulai dataran
rendah sampai ketinggian 3000 mdpl.
308
Kisaran suhu untuk hidup anggrek ini juga
bervariasi mulai dari 8.7ºC sampai 32ºC.
Tanaman ini juga dapat ditemukan
diberbagai tempat misalnya pada cabang
pohon Tamarindus (asam jawa) pada
pinggir jalan di kota besar besar seperti
Jakarta, Bandung atau Bogor, atau
dibawah tegakan hutan hujan tropis
(misalnya Aerides odorata dan
Rhynchostylis retusa).
Tanaman anggrek Dendrobium,
Phalaenopsis, Oncidium, dan Vanda
beserta kerabatnya serta tanaman
anggrek jenis lain telah banyak
diusahakan.
Tanaman anggrek merupakan salah satu
kelompok tanaman hias yang mempunyai
nilai ekonomi tinggi.
Banyaknya variasi bentuk dan warna
bunga anggrek merupakan salah satu
keunggulan dari bunga anggrek.
Hal ini sangat mendorong terciptanya
varietas-varietas baru yang dapat
dikembangkan dan dibudidayakan secara
baik di Indonesia, karena kondisi iklim
yang sesuai.
Pertumbuhan tanaman anggrek baik
vegetatif maupun generatif tidak hanya
ditentukan oleh faktor genetik. Namun
lebih banyak ditentukan oleh faktor
lingkungan seperti:
– Cahaya
– suhu
– kelembaban
– pemeliharaan tanaman seperti:
penyiraman, pemupukan, media
tumbuh, dan pengendalian hama dan
penyakit.
Berdasarkan tipe pertumbuhan
batangnya, maka anggrek dapat
dikelompokkan menjadi 2 kelompok yaitu:
2. anggrek simpodial yaitu anggrek
yang mempunyai pertumbuhan
batang terbatas seperti:
Dendrobium, Cattleya, dan
Oncidium
3. anggrek tipe monopodial yaitu
anggrek yang mempunyai
pertumbuhan batang yang tidak
terbatas seperti: Vanda dan
kerabatnya.
Berdasarkan habitatnya tanaman anggrek
dibagi dalam 2 golongan yaitu
1. Epifit, anggrek epifit adalah
anggrek yang hidup menumpang
pada batang pohon atau
sejenisnya, namun tidak
merugikan tanaman yang
ditumpanginya dan membutuhkan
naungan.
2. Terestrial, anggrek terestrial
adalah anggrek yang hidup dan
tumbuh di atas permukaan tanah
dan membutuhkan cahaya
matahari langsung.
b.Syarat Tumbuh
Intensitas cahaya
Intensitas cahaya yang dibutuhkan
anggrek di dalam pertumbuhan dan
perkembangannya sangat berbeda,
tergantung pada jenis, ukuran dan
umurnya.
Misalnya anggrek epifit membutuhkan
intensitas cahaya matahari berkisar
antara 1500–3000 fc.
Sedangkan anggrek terestrial
membutuhkan intensitas cahaya matahari
4000 – 5000 fc.
Suhu
Kebutuhan suhu pada tanaman anggrek
sangat tergantung pada jenisnya.
Anggrek yang tumbuh di dataran rendah
309
membutuhkan suhu siang berkisar 24–
33oC dan suhu malam 21–27oC.
Sedangkan untuk anggrek yang tumbuh
di dataran tinggi membutuhkan suhu
siang berkisar antara 18– 27oC dan suhu
malam berkisar antara 13– 18oC.
Kelembaban
Pada umumnya anggrek membutuhkan
kelembaban tinggi yaitu berkisar antara
60-80%. Pada malam hari kelembaban
tidak terlalu tinggi karena dapat
mengakibatkan busuk akar dan busuk
tunas.
Kelembaban yang terlalu rendah pada
siang hari dapat diatasi dengan cara
pemberian semprotan kabut (mist) di
sekitar tempat pertanaman.
c. Hal-hal yang perlu diperhatikan
dalam budidaya anggrek
Aspek lingkungan
Secara alami anggrek (Famili
Orchidaceae) hidup epifit pada pohon dan
ranting-ranting tanaman lain, namun
dalam pertumbuhannya anggrek dapat
ditumbuhkan dalam pot yang diisi media
tertentu. Ada beberapa faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan tanaman,
seperti faktor lingkungan, antara lain sinar
matahari, kelembaban dan temperatur
serta pemeliharaan seperti : pemupukan,
penyiraman serta pengendalian OPT.
Pada umumnya anggrek-anggrek yang
dibudidayakan memerlukan temperatur
28 + 2° C dengan temperatur minimum
15° C. Anggrek tanah pada umumnya
lebih tahan panas dari pada anggrek pot.
Tetapi temperatur yang tinggi dapat
menyebabkan dehidrasi yang dapat
menghambat pertumbuhan tanaman.
Kelembaban nisbi (RH) yang diperlukan
untuk anggrek berkisar antara 60–85%.
Fungsi kelembaban yang tinggi bagi
tanaman antara lain untuk menghindari
penguapan yang terlalu tinggi. Pada
malam hari kelembaban dijaga agar tidak
terlalu tinggi, karena dapat
mengakibatkan busuk akar pada tunastunas
muda. Oleh karena itu diusahakan
agar media dalam pot jangan terlampau
basah. Sedangkan kelembaban yang
sangat rendah pada siang hari dapat
diatasi dengan cara pemberian
semprotan kabut (mist) di sekitar tempat
pertanaman dengan bantuan sprayer.
Berdasarakan pola pertumbuhannya,
tanaman anggrek dibedakan menjadi dua
tipe yaitu, simpodial dan monopodial.
Anggrek tipe simpodial adalah anggrek
yang tidak memiliki batang utama, bunga
ke luar dari ujung batang dan berbunga
kembali dari anak tanaman yang tumbuh.
Kecuali pada anggrek jenis Dendrobium
sp. yang dapat mengeluarkan tangkai
bunga baru di sisi-sisi batangnya. Contoh
dari anggrek tipe simpodial antara lain :
Dendrobium sp., Cattleya sp., Oncidium
sp.,dan Cymbidium sp. Anggrek tipe
simpodial pada umumnya bersifat epifit.
Anggrek tipe monopodial adalah anggrek
yang dicirikan oleh titik tumbuh yang
terdapat di ujung batang,
pertumbuhannnya lurus ke atas pada satu
batang. Bunga ke luar dari sisi batang di
antara dua ketiak daun. Contoh anggrek
tipe monopodial antara lain : Vanda sp.,
Arachnis sp., Renanthera sp.,
Phalaenopsis sp., dan Aranthera sp.
Habitat tanaman anggrek dibedakan
menjadi 4 kelompok sebagai berikut :
> Anggrek epifit, yaitu anggrek yang
tumbuh menumpang pada pohon
lain tanpa merugikan tanaman
inangnya dan membutuhkan
naungan dari cahaya matahari,
misalnya Cattleya sp.
memerlukan cahaya +40%,
Dendrobium sp. 50–60%,
Phalaenopsis sp. + 30 %, dan
Oncidium sp. 60 – 75 %.
> Anggrek terestrial, yaitu anggrek
yang tumbuh di tanah dan
membutuhkan cahaya matahari
langsung, misalnya Aranthera sp.,
310
Renanthera sp., Vanda sp., dan
Arachnis sp.
Tanaman anggrek terestrial
membutuhkan cahaya matahari
70 – 100 %, dengan suhu siang
berkisar antara 19 – 380C, dan
malam hari 18–210C. Sedangkan
untuk anggrek jenis Vanda sp.
yang berdaun lebar memerlukan
sedikit naungan.
> Anggrek litofit, yaitu anggrek yang
tumbuh pada batu-batuan, dan
tahan terhadap cahaya matahari
penuh, misalnya Dendrobium
phalaenopsis.
> Anggrek saprofit, yaitu anggrek
yang tumbuh pada media yang
mengandung humus atau daundaun
kering, serta membutuhkan
sedikit cahaya matahari, misalnya
Goodyera sp.
1.1 Persilangan Anggrek
Persilangan ditujukan untuk mendapatkan
varietas baru dengan warna dan bentuk
yang menarik, mahkota bunga kompak
dan bertekstur tebal sehingga dapat
tahan lama sebagai bunga potong, jumlah
kuntum banyak dan tidak ada kuntum
bunga yang gugur dini akibat kelainan
genetis serta produksi bunga tinggi.
Oleh karena itu untuk mendapatkan hasil
yang diharapkan, sebaiknya dan
seharusnya pedoman persilangan perlu
dikuasai, antara lain :
> Persilangan sebaiknya dilakukan
pada pagi hari setelah
penyiraman. Kuntum bunga
dipilih yang masih segar atau
setelah membuka penuh.
> Sebagai induk betina dipilih yang
mempunyai bunga yang kuat,
tidak cepat layu atau gugur.
> Mengetahui sifat-sifat kedua induk
tanaman yang akan disilangkan,
agar memberikan hasil yang
diharapkan, misalnya sifat
dominasi yang akan terlihat atau
muncul pada turunannya seperti
: warna, bentuk, dan lain-lain.
> Bunga tidak terserang OPT
terutama pada polen dan stigma.
> Setiap mendapatkan varietas
baru yang baik, sebaiknya
didaftarkan pada “Royal
Horticultural Society” di London,
dengan mengisi formulir
pendaftaran anggrek hibrida
dengan beberapa persyaratan
lainnya.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam
melakukan penyerbukan (polinasi) adalah
sebagai berikut:
> Sediakan sehelai kertas putih dan
sebatang lidi kecil atau tusuk gigi
atau sejenisnya yang bersih.
> Cap polinia yang terdapat pada
ujung column dibuka, dimana
akan terlihat di dalamnya polinia
yang berwarna kuning.
> Ujung lidi/tusuk gigi dibasahi
dengan cairan yang ada di dalam
lubang putih atau dengan sedikit
air.
> Polinia diambil dengan hati-hati.
Pegang kertas putih sebagai
wadah di bawah bunga untuk
menghindari bila polinia jatuh
pada waktu diambil.
> Polinia kemudian dimasukkan ke
dalam stigma (kepala putik).
> Beri label yang diikatkan pada
tangkai kuntum (pedicel) bunga
yang berisi catatan tentang
tanggal penyerbukan dan nama
bunga yang diambil polinianya.
Beberapa hari kemudian bunga yang
telah diserbuki akan layu. Apabila
penyerbukan berhasil, dan bila tidak
ada OPT, maka bakal buah tersebut
akan terus berkembang menjadi
buah.
311
Buah anggrek ada yang masak
setelah tiga bulan sampai enam bulan
atau lebih. Buah yang masak akan
merekah dengan dicirikan adanya
perubahan warna buah dari hijau
menjadi hijau kekuning-kuningan.
Dalam memilih biji anggrek yang akan
disemaikan dalam botol perlu
diperhatikan sebagai berikut :
> Biji yang berwarna keputihputihan
dan kosong adalah biji
yang kurang baik.
> Biji yang baik yaitu yang bulat
penuh berisi, berwarna kuning
atau kecoklat-coklatan
1.2 3. Perbanyakan Anggrek
Perbanyakan tanaman anggrek pada
umumnya dilakukan melalui dua cara
yaitu, konvensional dan dengan metoda
kultur in vitro.
Perbanyakan tanaman yang dilakukan
secara konvensional adalah sebagai
berikut :
Perbanyakan vegetatif melalui beberapa
cara seperti:
– Pemecahan/pemisahan rumpun
seperti Dendrobium sp.,
Oncidium sp., Cattleya sp., dan
Cymbidium sp.
– Pemotongan anak tanaman yang
ke luar dari batang seperti
Dendrobium sp.
– Pemotongan anak tanaman
yang ke luar dari akar dan
tangkai bunga seperti
Phalaenopsis sp., yang
selanjutnya ditanam ke media
yang sama seperti pakis, mos
serabut kelapa, arang, serutan
kayu, disertai campuran pecahan
genting atau batu bata.
Perbanyakan secara vegetatif ini akan
menghasilkan anak tanaman yang
mempunyai sifat genetik sama dengan
induknya.
Namun perbanyakan konvensional secara
vegetatif ini tidak praktis dan tidak
menguntungkan untuk tanaman bunga
potong, karena jumlah anakan yang
diperoleh dengan cara-cara ini sangat
terbatas.
Perbanyakan generatif yaitu dengan biji.
Biji anggrek sangat kecil dan tidak
mempunyai endosperm (cadangan
makanan), sehingga perkecambahan di
alam sangat sulit tanpa bantuan jamur
yang bersimbiosis dengan biji tersebut.
Secara generatif, benih tanaman
diperoleh melalui biji hasil persilangan
yang secara genetis biji-biji tersebut
bersifat heterozigot. Sehingga benihbenih
yang dihasilkan mempunyai sifat
tidak mantap dan beragam.
Untuk menghasilkan bunga dalam jumlah
banyak dan seragam diperlukan tanaman
dalam jumlah banyak pula. Oleh karena
itu peningkatan produksi bunga pada
tanaman anggrek hanya dapat dicapai
dengan usaha perbanyakan tanaman
yang efisien.
Pada saat ini metode kultur in vitro
merupakan salah satu cara yang mulai
banyak digunakan dalam perbanyakan
klon atau vegetatif tanaman anggrek.
Kultur in vitro pertama kali dicoba oleh
Haberlandt pada tahun 1902, karena
adanya sifat tanaman yang disebut
totipotensi yang dicetuskan oleh kedua
orang sarjana Jerman Schwann dan
Schleiden pada tahun 1830.
Metode kultur in vitro yaitu menumbuhkan
jaringan-jaringan vegetatif (seperti :
– akar
– daun
– batang
– mata tunas
312
– jaringan-jaringan generatif
(seperti : ovule, embrio dan biji).
Jaringan ini kemudian ditumbuhkan pada
media buatan berupa cairan atau padat
secara aseptik (bebas mikroorganisme).
Dengan metode ini dapat diharapkan
perbanyakan tanaman dapat dilakukan
secara cepat dan berjumlah banyak, serta
sama dengan induknya.
Penanaman dan pemeliharaan
1.3 Persiapan Lahan
Tanaman anggrek dapat ditanam di
sekitar rumah atau pekarangan atau di
kebun yaitu di bawah pohon atau dengan
naungan yang diberi paranet atau
sejenisnya dengan pengaturan intensitas
cahaya tertentu atau di lahan terbuka.
Oleh karena tanaman anggrek
mempunyai potensi ekonomis yang tinggi,
maka untuk jenis-jenis tertentu dapat
ditanam di dalam rumah kaca (green
house). Selain untuk melindungi tanaman
dari gangguan alam, juga akan
mengurangi intensitas serangan OPT.
1.3.1 Persiapan Media Tumbuh
Media tumbuh yang baik harus memenuhi
beberapa persyaratan, yaitu tidak lekas
melapuk, tidak menjadi sumber penyakit,
mempunyai aerasi baik, mampu mengikat
air dan zat-zat hara secara baik, mudah
didapat dalam jumlah yang diinginkan dan
relatif murah harganya.
Sampai saat ini belum ada media yang
memenuhi semua persyaratan untuk
pertumbuhan tanaman anggrek.
Untuk pertumbuhan tanaman anggrek,
kemasaman media (pH) yang baik
berkisar antara 5–6. Media tumbuh
sangat penting untuk pertumbuhan dan
produksi bunga optimal, sehingga perlu
adanya suatu usaha mencari media
tumbuh yang sesuai.
Media tumbuh yang sering digunakan di
Indonesia antara lain : moss, pakis,
serutan kayu, potongan kayu, serabut
kelapa, arang dan kulit pinus.
Pecahan batu bata banyak dipakai
sebagai media dasar pot anggrek, karena
dapat menyerap air lebih banyak bila
dibandingkan dengan pecahan genting.
Media pecahan batu bata digunakan
sebagai dasar pot, karena mempunyai
kemampuan drainase dan aerasi yang
baik.
Moss yang mengandung 2–3% unsur N
sudah lama digunakan untuk medium
tumbuh anggrek. Media moss
mempunyai daya mengikat air yang baik,
serta mempunyai aerasi dan drainase
yang baik pula.
Pakis sesuai untuk media anggrek karena
memiliki daya mengikat air, aerasi dan
drainase yang baik, melapuk secara
perlahan-lahan, serta mengandung unsurunsur
hara yang dibutuhkan anggrek
untuk pertumbuhannya.
Serabut kelapa mudah melapuk dan
mudah busuk, sehingga dapat menjadi
sumber penyakit, tetapi daya menyimpan
airnya sangat baik dan mengandung
unsur-unsur hara yang diperlukan serta
mudah didapat dan murah harganya.
Dalam menggunakan serabut kelapa
sebagai media tumbuh, sebaiknya dipilih
serabut kelapa yang sudah tua.
Media tumbuh sabut kelapa, pakis, dan
moss merupakan media tumbuh yang
baik untuk pertumbuhan tanaman
anggrek Phalaenopsis sp. Namun bila
pakis dan moss yang tumbuh di hutan ini
diambil secara terus-menerus untuk
digunakan sebagai media tumbuh,
dikhawatirkan keseimbangan ekosistem
akan terganggu.
Serutan kayu atau potongan kayu kurang
sesuai untuk media anggrek karena
memiliki aerasi dan drainase yang baik,
tetapi daya menyimpan airnya kurang
baik, serta miskin unsur N. Proses
pelapukan berlangsung lambat, karena
313
kayu banyak mengandung senyawasenyawa
yang sulit terdekomposisi
seperti selulosa, lignin, dan hemiselulosa.
Media serutan kayu jati merupakan media
tumbuh yang baik untuk pertumbuhan
anggrek Aranthera James Storie.
Pecahan arang kayu tidak lekas lapuk,
tidak mudah ditumbuhi cendawan dan
bakteri, tetapi sukar mengikat air dan
miskin zat hara. Namun arang cukup baik
untuk media anggrek.
Penggunaan media baru (repotting)
dilakukan antara lain sebagai berikut :
> Bila ditanam dalam pot
(wadah) sudah terlalu padat
atau banyak tunas.
> Medium lama sudah hancur,
sehingga menyebabkan
medium bersifat asam, bisa
menjadi sumber penyakit.
1.3.2 Penyiraman
Tanaman anggrek yang sedang aktif
tumbuh, membutuhkan lebih banyak air
dibandingkan dengan yang sudah
berbunga.
Frekuensi dan banyaknya air siraman
yang diberikan pada tanaman anggrek
bergantung pada jenis dan besar kecil
ukuran tanaman, serta keadaan
lingkungan pertanaman. Sebagai contoh
adalah tanaman anggrek Vanda sp.,
Arachnis sp., dan Renanthera sp., yaitu
anggrek tipe monopodial yang tumbuh di
bawah cahaya matahari langsung,
sehingga membutuhkan penyiraman lebih
dari dua kali sehari, terutama pada musim
kemarau.
Pemupukan
Seperti tumbuhan lainnya, anggrek selalu
membutuhkan makanan untuk
mempertahankan hidupnya.
Kebutuhan tanaman anggrek akan nutrisi
sama dengan tumbuhan lainnya, hanya
anggrek membutuhkan waktu yang cukup
lama untuk memperlihatkan gejala-gejala
defisiensi, mengikat pertumbuhan
anggrek sangat lambat.
Dalam usaha budidaya tanaman anggrek,
habitatnya tidak cukup mampu
menyediakan unsur-unsur yang
dibutuhkan oleh tanaman untuk
pertumbuhan. Untuk mengatasi hal
tersebut, biasanya tanaman diberi pupuk
baik organik maupun anorganik.
Pupuk yang digunakan umumnya pupuk
majemuk yaitu yang mengandung unsur
makro dan mikro.
Kualitas dan kuantitas pupuk dapat
mengatur keseimbangan pertumbuhan
vegetatif dan generatif tanaman. Pada
fase pertumbuhan vegetatif bagi tanaman
yang masih kecil perbandingan
pemberian pupuk NPK adalah 30:10:10,
pada fase pertumbuhan vegetatif bagi
tanaman yang berukuran sedang
perbandingan pemberian pupuk NPK
adalah 10:10:10.
Sedangkan pada fase pertumbuhan
generatif yaitu untuk merangsang
pembungaan, perbandingan pemberian
pupuk NPK adalah 10:30:30.
Jika dilakukan pemupukan ke dalam pot
maka hanya pupuk yang larut dalam air
dan kontak langsung dengan ujung akar
yang akan diambil oleh tanaman anggrek
dan sisanya akan tetap berada dalam
pot.
Pemupukan pada sore hari menunjukkan
respon pertumbuhan yang baik pada
anggrek Dendrobium sp.
d.Pedoman teknis
Penanaman anggrek
Anggrek tumbuh menumpang di batang,
cabang pohon atau bahan lain tanpa
merugikan tanaman inangnya.
Karena terbiasa dibawah naungan,
anggrek ini tidak tahan terkena sinar
314
matahari terik dan membutuhkan
naungan dengan persentase tertentu,
tergantung jenisnya.
Kisaran naungan antara 25 – 75%.
Sebagai contoh misalnya anggrek epifit,
Cattleya sp, Cymbidium sp, Dendrobium
sp, Oncidium sp dan Phalaenopsis sp,
serta Vanda daun lebar alias vanda daun
.
Untuk menanam anggrek epifit digunakan
media berupa pakis, moss, sabut kelapa,
arang, dan kulit kayu atau sejenisnya.
Bisa juga menggunakan lebih dari satu
jenis, tergantung kondisi linggan
setempat.
Sebagai wadah dapat dipilih pot bahan
plastik, tanah atau yang terbuat dari kayu.
Ada 3 cara penanaman anggrek epifit
yaitu : pot, pohon, dan di tanah
– Penanaman di pot
Pedoman teknis:
Sebelum ditanami, dasar pot diisi dengan
pecahan batu bata/genting 1/3 dari tinggi
pot
Kemudian pada bagian atasnya diisi
dengan arang.
Tanam anggrek dengan bagian bulbnya
yang muda berada disebelah dalam, hal
ini dilakukan agar anakan berikutnya
dapat mengisi pot bagian tengahnya.
Untuk menghindari agar anggrek tetap
tegak, anggrek dapat diikat dengan
kawat.
Setelah itu, isi seluruh pot dengan media.
Untuk tanaman di pot sebaiknya
diletakkan di atas rak-rak atau digantung.
– Penanaman di pohon
Letakkan bibit anggrek pada akar pakis,
ikat dengan kawat atau tali rafia.
Sebelum meletakkan anggrek muda ada
baiknya terlebih dahulu menyemprot
315
pakis dengan pesitida, agar terbebas dari
semut atau serangga lainnya.
Kemudia rendam dengan sedikit dengan
larutan pupuk hyponex, selama 24 jam.
Hal ini dilakukan agar media tempat
tumbuh anggrek muda mengandung hara.
Jika akar sudah kuat, tali dapat dilepas.
Tanaman yang sudah siap ditanam
diletakkan ditempat yang telah disiapkan,
tergantung pada jenisnya.
Berikut ini adalah salah atu contoh
anggrek epifit yang sudah berkembang
sempurna.
316
Tanaman ditempatkan di tempat yg diberi
naungan sesuai dengan kebutuhan jenis
anggreknya.
Misalnya:
1. Cattleya butuh naungan dengan
penerimaan cahaya matahari
sekitar 25-45%
2. Dendrobium 55-65%
3. Oncidium 55-75%
4. Phalaenopsis 25-35%
5. Vanda 65-75%
– Penanaman di Tanah
Anggrek Terestrial
Anggrek terestrial yaitu anggrek yang
tumbuh diatas permukaan tanah. Ada
yang membutuhkan sinar matahari
penuh dan ada yg perlu sedikit naungan.
Contoh yg butuh sinar matahari penuh
(100%):
• Arachnis
• Renanthera
• Aranthera
– Vanda teret ( berdaun pensil)
seperti: vanda teres dan Vanda
hookeriana.
Anggrek ini membutuhkan media lain
seperti: serutan kayu, sabut kelapa dan
dicampur dengan kompos dan pupuk
kandang yg sudah matang.
Anggrek terestrial umumnya ditanam
dengan sistem bedengan, tetapi dapat
juga ditanam dalam pot tanah.
Bedengan
Jika ingin menanam anggrek di tanah
pertama yang harus kita lakukan adalah
membuat bedengan. Bedengan dibuat
tidak dengan meninggikan tanah seperti
kalau kita membuat bedengan untuk
tanaman lainnya, akan tetapi kita
membuat bedengan yang tepinya
dibatasi dengan batubata, seperti gambar
dibawah ini.
Pada bagian dasar bedengan ditaruh
pecahan genting atau batubata kira-kira
sepertiga dari tinggi batu bata. Diatasnya
diberi serutan kayu atau sabut kelapa,
baru diatasnya lagi diberi kompos dan
pupuk, seperti gambar berikut.
Pemeliharaan
Penyiraman
317
Penyiraman pada umumnya dilakukan 2
kali sehari yaitu pagi hari, sekitar pukul
6.00– 7.00 dan sore hari sekitar pukul
17.00 – 18.00. Pada musim kemarau
dapat dilakukan lebih dari 2 kali sehari
yaitu dengan cara penyemprotan pada
seluruh bagian tanaman terutama bagian
bawah permukaan daun.
Tak ada salahnya berhati-hati saat
melakukan penyiraman di rumpun
anggrek.
Penyiraman yang kurang hati-hati dapat
menyebabkan pembusukan pada tunas
anakan.
Tunas anakan anggrek, khususnya pada
golongan dendrobium saat tumbuh akan
membentuk kuncup daun yang
menyerupai mahkota pada bagian
atasnya. Tunas ini amat peka terhadap
perubahan lingkungan, terutama
kelembaban.
Gambar Daun anggrek yang busuk
Kuncup yang menyerupai mahkota ini tak
lain adalah ujung-ujung daun muda yang
belum membuka sempurna dan posisi
ujung daun tegak keatas dengan
membentuk suatu cekungan/rongga
sempit di bagian tengahnya, persis
menyerupai mahkota.
Kuntum bunga juga akan rontok jika kita
salah dalam penyiraman
Pemupukan
Pupuk Organik
Pupuk Kompos
Seringkali apabila kita memelihara
anggrek jenis terestrial, litofit, saprofit
atau semi terestrial untuk menambahkan
pupuk organik kedalam media tanamnya
sebagai sumber unsur hara makro dan
mikro dan juga dapat untuk memperbaiki
sifat kimia, biologi dan fisik tanah disekitar
perakaran anggrek
Air kelapa
Air kelapa ternyata memiliki manfaat
untuk meningkatkan pertumbuhan
tanaman.
Air kelapa yang sering dibuang oleh para
pedagang di pasar tidak ada salahnya
untuk kita manfaatkan sebagai penyubur
tanaman.
Selama ini air kelapa banyak digunakan
di Laboratorium sebagai nutrisi tambahan
di dalam media kultur jaringan.
Pemberian pupuk majemuk dilakukan 2
kali seminggu dengan dosis 0,2% atau
sesuai dosis anjuran. Pemberian pupuk
dilakukan melalui daun dengan cara
penyemprotan di seluruh bagian
tanaman, terutama di bagian bawah
permukaan daun.
Pupuk majemuk yang diberikan
sebaiknya lebih dari 2 jenis pupuk yang
diaplikasikan secara bergantian.
Komposisi unsur N, P dan K yang
diberikan tergantung pada besar kecilnya
tanaman.
Perlu dibedakan pemberian pupuk untuk
bibit, tanaman remaja, dan untuk
merangsang pembungaan.
3. Pengendalian hama dan Penyakit
Penyemprotan pestisida seperti:
insektisida, fungisida dan bakterisida
dapat dilakukan 1 kali seminggu secara
bergantian atau sesuai dosis anjuran dan
tergantung juga pada berat ringannya
tingkat serangan.
318
Bioinsektisida (organik)
Serangan hama merupakan salah satu
faktor pembatas untuk peningkatkan
produksi pertanian yang dalam kasus ini
adalah pemeliharaan anggrek.
Untuk megendalikan hama seringkali
digunakan pestisida kimia dengan dosis
yang berlebih. Padahal akumulasi
senyawa-senyawa kimia berbahaya dapat
menimbulkan dampak negatif terhadap
kelestarian lingkungan dan kesehatan
manusia.
Ditengah maraknya budidaya pertanian
organik, maka upaya pengendalian hama
yang aman bagi produsen/petani dan
konsumen serta menguntungkan petani,
menjadi prioritas utama. Salah satu
alternatif pengendalian adalah
pemanfaatan jamur penyebab penyakit
pada serangga (bioinsectisida), yaitu
jamur patogen serangga Beauveria
bassiana.
Jamur Beauveria bassiana adalah jamur
mikroskopik dengan tubuh berbentuk
benang-benang halus (hifa). Kemudian
hifa-hifa tadi membentuk koloni yang
disebut miselia.
Gambar Insektisida hayati
Jamur ini tidak dapat memproduksi
makanannya sendiri, oleh karena itu
jamur ini bersifat parasit terhadap
serangga inangnya.
Laboratorium BPTPH Propinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta telah
mengembangkan dan memproduksi
secara massal jamur patogen serangga
B. bassiana sebagai insektisida alami.
Berdasarkan kajian jamur B. bassiana
efektif mengendalikan hama walang
sangit, wereng batang coklat, dan kutu
(Aphids sp).
Akan tetapi, bukan tidak mungkin akan
efektif bila diuji coba pada seranggaserangga
hama anggrek seperti kutu
gajah.
Sistem kerjanya yaitu spora jamur B.
bassiana masuk ketubuh serangga inang
melalui kulit, saluran pencernaan, spirakel
dan lubang lainnya.
Selain itu inokulum jamur yang menempel
pada tubuh serangga inang dapat
berkecambah dan berkembang
membentuk tabung kecambah, kemudian
masuk menembus kutikula tubuh
serangga.
Penembusan dilakukan secara mekanis
dan atau kimiawi dengan mengeluarkan
enzim atau toksin.
Jamur ini selanjutnya akan mengeluarkan
racun beauverin yang membuat
kerusakan jaringan tubuh serangga.
Dalam hitungan hari, serangga akan mati.
Setelah itu, miselia jamur akan tumbuh ke
seluruh bagian tubuh serangga.
Serangga yang terserang jamur B.
bassiana akan mati dengan tubuh
319
mengeras seperti mumi dan tertutup oleh
benang-benang hifa berwarna putih.
Dilaporkan telah diketahui lebih dari 175
jenis serangga hama yang menjadi inang
jamur B. bassiana.
Berdasarkan hasil kajian jamur ini efektif
mengendalikan hama walang sangit
(Leptocorisa oratorius) dan wereng
batang coklat (Nilaparvata lugens) pada
tanaman padi serta hama kutu (Aphids
sp.) pada tanaman sayuran.
Beberapa keunggulan jamur patogen
serangga B. bassiana sebagai pestisida
hayati yaitu :
• Selektif terhadap serangga sasaran
sehingga tidak membahayakan
serangga lain bukan sasaran, seperti
predator, parasitoid, serangga
penyerbuk, dan serangga berguna
lebah madu.
• Tidak meninggalkan residu beracun
pada hasil pertanian, dalam tanah
maupun pada aliran air alami.
• Tidak menyebabkan fitotoksin
(keracunan) pada tanaman
• Mudah diproduksi dengan teknik
sederhana.
Teknik aplikasinya cukup mudah, yaitu
dengan mengambil 2-3 gram formulasi
dan disuspensikan dalam 1 ltr air,
tambahkan 3 sendok gula pasir per
tangki, waktu semprot sore hari.
Dalam satu kemasan formulasi B.
bassiana, berisi 100 gram formulasi
padat. Itupun dapat dikembangbiakan
secara konvensional, sehingga lebih
menghemat pengeluaran.
Akhirnya, walaupun keberhasilan dari
insektisida biologis dari jamur ini
memberikan dampak positif terhadap
pengendalian serangga hama tanaman
dan keselamatan lingkungan. Namun
dalam penerapannya di masyarakat
masih minim, sehingga memerlukan
upaya sosialisasi yang lebih intensif.
Insektisida
Budidaya anggrek tentunya akan
mengalami interaksi baik dari lingkungan
abiotik (tak hidup) dan lingkungan biotik
(hidup). Salah satu bentuk interaksi biotik
yaitu parasitisme, dimana anggrek berada
sebagai organisme yang dirugikan,
sedangkan hama sebagai organisme
yang diuntungkan.
Fungisida adalah zat kimia yang
digunakan untuk mengendalikan
cendawan (fungi).
Fungisida umumnya dibagi menurut cara
kerjanya di dalam tubuh tanaman sasaran
yang diaplikasi, yakni fungisida
nonsistemik, sistemik, dan sistemik local.
Pada fungisida, terutama fungisida
sistemik dan non sistemik, pembagian ini
erat hubungannya dengan sifat dan
aktifitas fungisida terhadap jasad
sasarannya.
Insektisida secara umum adalah senyawa
kimia yang digunakan untuk membunuh
serangga pengganggu (hama serangga).
Insektisida dapat membunuh serangga
dengan dua mekanisme, yaitu dengan
meracuni makanannya (tanaman) dan
dengan langsung meracuni si serangga
tersebut.
Pengamatan Hama dan Penyakit
Hama
a. Tungau Merah Tennuipalvus
orchidarum Parf
Ordo : Acarina
Famili : Tetranychidae
1. Tanaman Inang : Jenis-jenis yang
dapat diserang hama ini adalah
Phalaenopsis sp., Dendrobium sp.,
Orchidium sp., Vanda sp. dan
Granatophyllium sp., kapas, kacangkacangan,
jeruk, dan gulma terutama
golongan dikotil.
2. Gejala Serangan : Tungau ini sangat
cepat berkembang biak dan dalam
waktu singkat dapat menyebabkan
kerusakan secara mendadak.
Bagian tanaman yang diserang
antara lain tangkai daun dan bunga.
Tangkai yang diserang akan
berwarna seperti perunggu. Pada
permukaan atas daun terdapat
titik/bercak berwarna kuning atau
coklat, kemudian meluas dan seluruh
daun menjadi kuning. Pada
permukaan bawah berwarna putih
perak dan bagian atas berwarna
320
kuning semu. Pada tingkat serangan
lanjut daun akan berbercak coklat
dan berubah menjadi hitam
kemudian gugur. Pada daun
Phalaenopsis sp. mula-mula
berwarna putih keperakan kemudian
menjadi kuning. Hama ini dapat
berjangkit baik pada musim hujan
maupun musim kemarau, namun
umumnya serangan meningkat pada
musim kemarau, sedangkan pada
musim hujan serangan berkurang
karena terbawa air. Kerusakan
dapat terjadi mulai dari pembibitan.
3. Biologi :Tungau berwarna merah,
berukuran sangat kecil yaitu 0,2 mm
sehingga sukar untuk dilihat dengan
mata telanjang. Tungau dapat
dijumpai pada daun, pelepah daun
dan bagian-bagian tersembunyi
lainnya. Telur tungau berwarna
merah, bulat dan diletakkan
membujur pada permukaan atas
daun.
b. Kumbang Gajah Orchidophilus
aterrimus (Acythopeus)
Ordo : Coleoptera
Famili : Curculionidae
1) Tanaman Inang: Jenis anggrek yang
diserang adalah anggrek epifit antara
lain Arachnis sp., Cattleya sp.,
Coelogyne sp., Cypripedium sp.,
Dendrobium sp., Cymbidium sp.,
Paphiopedilum sp., Phalaenopsis sp.,
Renanthera sp., dan Vanda sp.
2) Gejala Serangan : Kumbang bertelur
pada daun atau lubang batang
tanaman. Kerusakan terjadi karena
larvanya menggerek daun dan
memakan jaringan di bagian dalam
batang sehingga mengakibatkan
aliran air dan hara dari akar terputus
serta daun-daun menjadi kuning dan
layu. Kerusakan pada daun
menyebabkan daun berlubanglubang.
Larva juga menggerek
batang umbi, pucuk dan batang untuk
membentuk kepompong, sedangkan
kumbang dewasa memakan
epdermis/permukaan daun muda,
jaringan/tangkai bunga dan
pucuk/kuntum sehingga dapat
mengakibatkan kematian bagian
tanaman yang dirusak. Serangan
pada titik tumbuh dapat mematikan
tanaman. Pada pembibitan
Phalaenopsis sp. dapat terserang
berat hama ini. Seangan kumbang
gajah dapat terjadi sepanjang tahun,
tetapi paling banyak terjadi pada
musim hujan, terutama pada awal
musim hujan tiba.
3) Biologi : Kumbang berwarna hitam
kotor/tidak mengkilap dengan ukuran
bervariasi 3,5-7 mm termasuk
moncong. Kumbang bertelur pada
daun atau lubang pada batang
tanaman. Larva menggerek ke
jaringan batang atau masuk ke
pucuk/kuncup dan tangkai sampai
menjadi pupa. Fase larva (ulat),
pupa (kepompong) sampai dewasa
(kumbang) berlangsung dalam
pseudobulb. Larva yang baru
menetas menggerek pseudobulb,
makan dan tinggal di dalam
pseudobulb tersebut. Pupa
terbungkus oleh sisa makanan dan
terletak di rongga bekas gerekan di
dalam pseudobulb.
d. Kumbang Penggerek Omobaris
calanthes Mshl.
Ordo : Colepotera
Famili : Curculionidae
1) Tanaman Inang :Jenis anggrek yang
diserang terutama adalah anggrek
tanah terutama jenis Calanthe sp. dan
Phajus sp.
2) Gejala Serangan : Berbeda dengan
kumbang gajah, larva kumbang ini
menggerek masuk ke jaringan
akar/umbi, pucuk dan tangkai bunga
sehingga dinding gerekan menjadi
hitam. Sedangkan kumbang dapat
dijumpai di bagian tengah tanaman di
antara daun bawah. Serangga
membuat sejumlah lubang, seringkali
berbaris di daun dan juga tunas
utama yang masih terlipat yang
kemudian dapat patah dan mati.
321
Pada tahap awal seringkali merusak
akar tanaman dan pada saat bunga
masih kuncup. Serangan berat
menyebabkan tanaman terlihat
merana dan dapat mematikan
tanaman anggrek secara
keseluruhan.
3) Biologi :Pertumbuhan larva dapat
mencapai panjang 5 mm.
d. Kumbang Penggerek Akar Diaxenes
phalaenopsidis Fish.
Ordo : Coleoptera
Famili : Cerambycidae
1) Tanaman Inang :Larva maupun
kumbang ini dapat menyerang
tanaman anggrek Renanthera sp.,
Vanda sp., Dendrobium sdp.,
Oncidium sp. dan lebih khusus
anggrek Phalaenopsis sp.
2) Gejala Serangan :Larva menggerek
akar sehingga akar mengering dan
dapat mengakibatkan kematian.
Larva juga menyerang bunga.
Kerusakan yang diakibatkan oleh
hama ini akan sangat berat jika tidak
segera dikendalikan.
3) Biologi :Telur berwarna hijau terang
dengan panjang 2,4 mm dan
diletakkan di bawah kutikula akar.
Larva berwarna kuning dan
membentuk pupa dalam suatu kokon
yang berserabut/berserat padat.
Kumbang dapat hidup sampai 3 bulan
dan daur hidup mencapai 50-60 hari.
Pada siang hari kumbang ini
bersembunyi dan pada malam hari
memakan daun bagian atas dan
meninggalkan potongan/bekas
gerekan yang tidak beraturan di
permukaan.
e. Kumbang Penggerek Oulema (=
Lema) pectoralis Baly.
Ordo : Coleoptera
Famili : Chrysomelidae
1) Tanaman Inang :Arachnis sp.,
Grammatophyllum sp., Vanda sp.,
Phalaenopsis sp., Calanthes sp.
dan kadang-kadang menyerang
Dendrobium sp.
2) Gejala Serangan :Larva membuat
lubang pada daun, akar, kuntum
bunga dan bunga. Serangga
dewasa juga dapat memakan
daun.
3) Biologi :Kumbang berwarna hijau
kekuningan. Tubuhnya
diselubungi busa yang berwarna
hijau tua. Larvanya membuat
lubang pada daun, akar, kuntum
bunga dan bunganya. Kumbang
mempunyai tipe criocerin
sepanjang punggung dan
pronotum yang sempit. Serangga
dari famili ini berasosiasi dengan
rumput-rumputan dan
monokotiledon lain. Larva yang
semula berwarna abu-abu,
dengan meningkatnya umur,
akan berubah menjadi kuning.
Tubuh larva senantiasa tertutup
oleh kotorannya sendiri. Telur
diletakkan terpisah-pisah pada
bunga dan petiola. Telur
berwarna kuning kehijauan
dengan panjang 1,25 mm. Larva
yang baru menetas membawa
kulit telur di punggungnya. Daur
hidup mencapai 30 hari.
f. Kutu Perisai Parlatoria proteus Curt.
Ordo : Hemiptera
Famili : Diaspididae
1) Tanaman Inang : Kutu ini tersebar
luas dan terutama dijumpai pada
tanaman anggrek Dendrobium sp.,
Renanthera sp., Vanda sp. dan
jenis-jenis anggrek tanah, dan
palem.
2) Gejala Serangan :Tanaman yang
terserang berwarna kuning merana,
kadang-kadang daun berguguran.
3) Biologi : Kutu mempunyai perisai
berwarna coklat merah berukuran +
1,5 mm, kutu dewasa berwarna
gelap berbentuk bulat, pipih,
melekat pada bagian tanaman
terserang. Telurnya diletakkan di
bawah perisai/tempurung, sehingga
tidak terlihat dari atas. Larva tidak
bertungkai, berbentuk bulat. Kutu
322
dewasa betina tidak bersayap
sedangkan yang jantan bersayap.
g. Pengerekk Daun Gonophora
xanthomela ( = Agonita spathoglottis)
Ordo : Coleoptera
Famili : Chrysomelidae
1) Tanaman Inang :Hama ini
menyerang jenis-jenis anggrek
Phalaenopsis amabilis, Vanda
tricolor, V. coerulea, Arundina sp.
dan Aspathoglottis sp.
2) Gejala Serangan Larva mengorok
bagian dalam daun dan
meninggalkan bagian epidermis
sehingga daun tampak transparan.
Serangan berat terjadi pada musim
hujan.
3) Biologi :Kumbang berukuran 6 mm,
terdapat tanda hitam dan oranye.
Telur diletakkan pada permukaan
bawah daun dan ditutupi kotoran.
h. Ulat Bunga Chliaria othona
Ordo : Lepidoptera
Famili : Lycaenidae
1) Tanaman Inang : Ulat ini menyerang
jenis-jenis anggrek Dendrobium sp.,
Phalaenopsis sp., Arundina sp.,
Phajus sp.
2) Gejala Serangan :Ulat memakan
bunga atau pucuk anggrek. Setelah
menetas dari telur segera masuk dan
merusak ke dalam pucuk sampai ke
bunga.
3) Biologi :Ulat berbentuk pipih. Larva
yang baru menetas dari telur masuk
ke dalam pucuk sampai bunga.
Stadia pupa terjadi di daun dan
umbi-umbian dalam lapisan
anyaman dan pupa berbalut lapisan
sutera.
i. Pemakan Daun Negeta chlorocrota
Hps.
Ordo : Lepidoptera
Famili : Noctuidae
1) Tanaman Inang :Kerusakan paling
banyak pada Dendrobium sp., dan
Arachnis sp.. dan serangga juga
dijumpai pada Phalaenopsis sp. dan
aneka anggrek liar.
2) Gejala Serangan :Larva memakan
daun muda dan meninggalkan
potongan-potongan daun yang putih
dan transparan. Kerusakan
disebabkan oleh instar selanjutnya
pada daun yang lebih tua. Pucukpucuk
muda juga diserang. Pada
populasi tinggi larva menggerogoti
daun, potongan oval dari daun yang
tertinggal di atas dan digunakan
untuk membentuk tempat pupa.
3) Biologi :Ulat merupakan semi
penggulung daun anggrek. Ulat
instar lanjut berwarna hijau pudar
dengan garis gelap membujur dan
empat tanda di punggung. Seta
(bulu) panjang tumbuh dari kecil dan
hitam. Panang larva + 35 mm.
Ngengat muda tidak terbang sangat
jauh. Telur berduri dan dijumpai di
daun, pucuk dan bunga. Di Bogor
siklus hidup mencapai 38 hari.
j. Kutu Putih Pseudococcus sp.
Ordo : Hemiptera
Famili : Pseudococcidae
1) Tanaman Inang : Hama ini tersebar
luas dan merupakan hama penting
pada tanaman buah-buahan dan
tanaman hias.
2) Gejala Serangan :Pada Dendrobium
sp., kutu menyerang ujung akar,
bagian daun sebelah bawah dan
batang. Bagian tanaman terserang
akan berwarna kuning dan akhirnya
mati karena hama ini mengisap
cairan sel. Pada Phalaenopsis sp.,
kutu menyerang ketiak daun di
sekitar titik tumbuhnya, sehingga
menyebabkan tanaman mati.
3) Biologi :Seluruh tubuh tertutup oleh
lilin termasuk tonjolan pendek yang
terdapat pada tubuhnya. Kutu
berwarna coklat kemerahan, panjang
2 mm, dan memproduksi embun
madu sehingga menarik bagi semut
untuk berkumpul. Kutu
323
memperbanyak diri melalui atau
tanpa perkawinan (partenogenesis).
Perkembangan satu generasi
memerlukan waktu selama 36 hari.
k. Siput Setengah Telanjang (Slug)
Parmarion pupillaris
Phyllum : Mollusca
1) Tanaman Inang : Bersifat polifag,
selain menyerang anggrek juga pada
kol, sawi, tomat, kentang, tembakau,
karet dan ubi jalar.
2) Gejala Serangan :Siput memakan
daun dan membuat lubang-lubang
tidak beraturan. Seringkali ditandai
dengan adanya bekas lendir sedikit
mengkilat dan kotoran. Akar dan
tunas anakan juga diserang.
Seringkali merusak pesemaian atau
tanaman yang baru saja tumbuh.
Siput juga makan bahan organik
yang telah membusuk atauun
tanaman yang masih hidup.
3) Biologi :Siput tidak memiliki cangkok,
berukuran panjang 5 cm, berwarna
coklat kekuningan atau coklat
keabuan. Rumah pada
punggungnya kerdil dan sedikit
menonjol. Siput tidak beruas,
badannya lunak, bisa mengeluarkan
lendir, berkembang biak secara
hermaprodit namun sering juga
terliha mereka mengadakan
perkawinan dengan sesama. Siput
menyukai kelembaban. Telur
diletakkan pada tempat-tempat yang
lembab. Siput biasanya pada waktu
siang hari bersembunyi di tempat
yang teduh dan aktif mencari makan
pada malam hari. Alat untuk makan
berbentuk seperti lidah yang kasar
seperti parut yang disebut radula.
l. Siput Telanjang Vaginula bleekeri atau
Filicaulis bleekeri
Phyllum : Mollusca
1) Tanaman Inang : Selain menyerang
anggrek, juga merusak pesemaian
sayuran seperti kol, sawi, tomat
dan tembakau.
2) Gejala Serangan :Gejala serangan
mirip Parmarion. Siput menyerang
tanaman pada waktu malam hari.
Bagian tanaman yang diserang
adalah daun dan pucuk-pucuknya
3) Biologi :Bentuk siput seperti lintah,
berwarna coklat keabuan, pada
punggungnya terdapat bercakbercak
coklat tua yang tidak teratur
dan ada sepasang garis memanang,
panjang tubuh + 5 cm.
m. Bekicot Achatina fulica atau A.
variegata
Phyllum : Mollusca
1) Tanaman Inang :Bekicot selain
merusak tanaman anggrek, juga
tanaman bunga bakung, bunga
dahlia, pepaya, tomat
2) Gejala Serangan : Bekicot banyak
merusak seluruh bagian tanaman
dengan memakan daun dan bagian
tanaman lain. Selain itu juga makan
tanaman yang telah mati.
3) Biologi : Bekicot mempunyai
cangkok (rumah), dengan ukuran
panjang + 10-13 cm. Pada
waktu siang hari bekicot ini sering
istirahat pada batang pepaya, pisang
dan dinding rumah. Pada waktu
malam hari mencari makanan. Siang
hari mencari tempat perlindungan di
lubang tanah, kaleng atau bambu.
Bila diganggu mereka akan menarik
kepalanya ke dalam rumahnya.
Kadang-kadang dapat mengeluarkan
suara. Pada waktu musim kemarau
yang panjang dan udara panas,
kepala dan seluruh badan
dimasukkan dalam rumah dan
lubangnya ditutup dengan suatu
lapisan membran yang tebal hingga
ia dapat bertahan hidup selama
musim kemarau + 6 bulan.
Bila musim hujan tiba dalam beberapa
jam mereka dapat segera mengakhiri
masa istirahatnya dan mulai mencari
makanan. Bekicot yang baru saja
menetas bisa tahan tidak makan selama
1 bulan. Bekicot yang besar bisa tahan
terendam air tawar selama 12 jam, tetapi
kalau air mengandung garam bekicot
324
akan mati dengan pelan-pelan. Telurnya
berwarna kuning dengan diameter + 5
mm, biasanya terdapat dalam kelompok
telur yang jumlahnya 100-500 butir
gumpalan telur yang diameternya bisa
sampai + 5 cm. Biasanya terletak di
bawah batu, tanaman atau dalam tanah
gembur. Telur ini akan menetas dalam
10-14 hari.
n. Tungau Jingga Anggrek Pseudoleptus
vandergooti (Oud)
Ordo : Acarina
Famili : Tertranychidae
1) Tanaman Inang :Anggrek
Dendrobium sp. sangat peka
terhadap serangan tungau jingga.
2) Gejala Serangan :Serangan hama ini
mengakibatkan daun dan jaringan
batang berubah warna.
3) Biologi :Tungau berukuran 0,3 mm,
hidup berkoloni pada daun-daun
yang mati.
o. Thrips AnggrekDichromothrips
(=Eugniothrips) smithi (Zimm)
Ordo : Thysanopter
Sub Ordo : Terebrantia
1) Tanaman Inang :Thrips anggrek dari
P. Jawa ditemukan pula di Taiwan.
Thrips mengakibatkan kerusakan
serius pada pembibitan anggrek
Arachnis sp., Cattleya sp.,
Dendrobium sp., Renanthera sp.,
dan Vanda sp.
2) Gejala Serangan : Serangan hama
ini mengakibatkan pertumbuhan
tanaman terhambat, bunga
berguguran, daun berubah bentuk
dan berwarna keperakan. Pada
musim kemarau serangan thrips
dapat mengakibatkan penurunan
produksi bunga.
3) Biologi :Hama ini sangat kecil, dan
berwarna abu-abu, ada juga yang
berwarna kecoklatan. Panjangnya
kira-kira 1-1½ mm. Trips mempunyai
tiga pasang kaki, dan berbadan
ramping.
p. Kepik Anggrek Mertila malayensis
Dist.
Ordo : Hemiptera
Famili : Miridae
1) Tanaman Inang :Kepik ini memiliki
daerah penyebaran meliputi wilayah
Asia Selatan dan Timur. Kepik dapat
ditemukan pada anggrek
Phalaenopsis sp., Bulbophyllum sp.,
Renanthera sp., Vanda sp.
2) Gejala Serangan : Serangan kepik
menimbulkan gejala bintik-bintik
putih kuning pada permukaan atas
dan bawah daun anggrek. Kadangkadang
titik-titik tersebut sangat
rapat sehingga merupakan bercak
putih. Tanaman yang terserang
lama-lama menjadi gundul.
3) Biologi :Kepik berwarna merah
kehitaman. Telur diletakkan di daun,
dan nimfa yang baru menetas
berwarna merah mirip dengan
tungau. Serangga biasanya hidup
berkelompok, jika diganggu maka
akan melarikan diri dengan cepat. Di
Salatiga siklus hidup sekitar 4
minggu, dan serangga dewasa dapat
hidup selama 2 bulan.
q. Kutu Daun Anggrek Cerataphis
oxhidiarum (West)
Ordo : Homoptera
Famili : Aphidoidea
1) Tanaman Inang :Kutu ini tersebar
luas dan terutama dijumpai pada
tanaman anggrek Dendrobium sp.,
Renanthera sp., Vanda sp. dan jenisjenis
anggrek tanah.
2) Gejala Serangan :Kutu daun
menempel pada daun, dan
menyebabkan daun yang terserang
berubah menjadi kuning, kemudian
coklat, akhirnya mati.
3) Biologi :Spesies kutu daun ini
berwarna coklat gelap sampai hitam.
Pada waktu masih muda, serangga
berwarna hijau. Penyebaran meliputi
di daerah tropis.
325
r. Kutu Tempurung Aspidiotus sp.
Ordo : Homoptera
Famili : Diaspididae
1) Tanaman Inang : Di daerah Bogor
kutu tempurung ditemukan pada
anggrek Renanthera sp. dan Vanda
sp., kelapa, kelapa sawit, pisang,
mangga, alpukat, jambu biji, kakao,
karet, keluwih, dan jahe.
2) Gejala Serangan : Serangga ini
mengisap cairan daun di bagian
permukaan bawah sehingga
meninggalkan bercak-bercak dan
menyebabkan daun berwarna kuning
kecoklatan. Kutu mengisap cairan
daun, sehingga makin lama cairan
daun habis dan jaringan di
sekelilingnya terjadi nekrosis. Pada
serangan berat seluruh daun menjadi
kering dan kemudian rontok.
3) Biologi : Serangga dewasa
berwarna merah coklat gelap
berukuran panjang 1,5 mm. Kutu
betina dapat menghasilkan telur 20-
30 butir. Telur diletakkan di dalam
perisai di bawah badannya. Nimfa
yang baru menetas akan ke luar dari
perisai, berkelompok di permukaan
bawah daun. Periode telur sampai
dewasa mencapai 1,5-2 bulan.
Aktivitas puncak terjadi pada musim
kering.
s. Siput Kecil Lamellaxis (= Opeas)
gracilis (Hutt.) dan Subulina octona Brug.
Phyllum : Mollusca
1) Tanaman Inang :Di daerah Deli
(Sumatera) sering ditemukan pada
bedengan pembibitan tembakau, dan
di daerah lain di Indonesia ditemukan
menyerang sayuran di rumah kaca.
2) Gejala Serangan :Siput ini tinggal
pada tanaman anggrek di antara
media tumbuh dalam pot dan
menyerang bagian akar. Malam hari
siput naik ke permukaan pot dan
menyerang bagian daun. Serangan
berat terjadi pada musim hujan.
3) Biologi :Tempurung hama
panjangnya 11 mm dan berwarna
kuning terang. Kedua spesies hama
ini di alam sering bercampur.
2. Penyakit
a. Busuk Hitam
Phytopthora spp.
1) Tanaman Inang :Penyakit ini
terutama dijumpai pada anggrek
Cattleya sp., Phalaenopsis sp.,
Dendrobium sp., Epidendrum sp. dan
Oncidium sp.
2) Gejala Serangan : Infeksinya tampak
dengan adanya noda-noda hitam
yang menjalar dari bagian tengah
tanaman hingga ke daun. Dalam
waktu relatif singkat seluruh daun
sudah berjatuhan. Cendawan ini
menyerang pucuk tanaman dan titik
tumbuh. Bagian pangkal pucuk daun
terlihat basah dan bila ditarik mudah
terlepas. Bila menyerang titik
tumbuh, pertumbuhan akan terhenti.
Penyebaran penyakit ini sangat
cepat bila keadaan lingkungan
lembab. Pada Cattleya penyakit
dapat timbul pada daun, umbi semu,
akar rimpang dan kuncup bunga.
Penyakit ini juga dapat timbul pada
pesemaian sebagai penyakit busuk
rebah. Pada daun terjadi bercak
besar, berwarna ungu tua, coklat
keunguan, atau hitam. Bercak
dikelilingi halo kekuningan. Dari
daun penyakit berkembang ke umbi
semu, akar rimpang, bahkan
mungkin ke seluruh tanaman. Jika
penyakit mula-mula timbul pada umbi
semu, maka umbi ini akan menjadi
hitam ungu, dan semua yang terletak
di atasnya akan layu. Seringkali
daun menjadi rapuh dengan
goyangan sedikit saja daun akan
terlepas sedikit di atas umbi semu.
Infeksi yang terjadi pada permukaan
tanah dapat menyebabkan busuk
kaki. Pada Vanda, mula-mula pada
pangkal daun terjadi bercak hitam
kecoklatan tidak teratur, dengan
cepat meluas ke seluruh permukaan
daun dan pada daun-daun
sekitarnya. Pada umumnya penyakit
timbul di daerah pucuk tanaman.
Pada bagian ini daun-daun berwarna
hitam coklat kebasah-basahan dan
mudah sekali gugur. Kadang326
kadang penyakit juga timbul pada
batang dan daerah perakaran.
3) Morfologi/Epidemiologi : Cendawan
membentuk sporangium, mudah
terlepas, bulat telur atau jorong,
pangkalnya membulat, mempunyai
tangkai pendek dan hialin. Spora
Phytophthora dapat dipencarkan
oleh angin, dan percikan air. Akar
rimpang dapat dapat terinfeksi
karena patogen yang terbawa oleh
pisau yang dipakai untuk memotong
(memisahkan tanaman). Penyakit
juga berkembang oleh kelembaban
yang tinggi, karena air membantu
pembentukan, pemencaran, dan
perkecambahan spora.
b. Antraknosa. Colletotrichum
gloeosporioides (Penz.) Sacc. (Stadium
Sempurna : Glomerella cingulata)
1) Tanaman Inang :Penyakit ini
dijumpai pada anggrek jenis
Dendrobium sp., Arachnis sp.,
Ascocendo sp., Phalaenopsis sp.,
Vanda sp. dan Oncidium sp.
2) Gejala Serangan : Pada daun atau
umbi semu mula-mula timbul bercak
bulat, mengendap, berwarna kuning
atau hijau muda. Akhirnya bercak
menjadi coklat dan mempunyai
bintik-bintik hitam yang terdiri dari
tubuh buah (aservulus) cendawan.
Pada umumnya bintik-bintik ini
teratur pada lingkaran-lingkaran yang
terpusat. Dalam keadaan yang
lembab tubuh buah mengeluarkan
massa spora (konidium) yang
berwarna merah jambu atau jingga.
Daun yang terserang akan gugur
akhirnya umbi akan gundul. Pada
bunga, penyakit menyebabkan
terjadinya bercak-bercak coklat kecil
yang dapat membesar dan bersatu
sehingga dapat meliputi seluruh
bunga. Cendawan dapat
mempertahankan diri dengan hidup
secara saprofitik pada sisa tanaman
sakit. Pada cuaca menguntungkan
(lembab), cendawan membentuk
konidium yang apabila terbentuk
dalam massa yang lekat, konidium
dipencarkan oleh percikan air
hujan/air siraman, mungkin juga oleh
serangga. Cendawan adalah parasit
lemah, yang hanya dapat
mengadakan infeksi pada tanaman
yang keadaannya lemah, terutama
melalui luka-luka, termasuk luka
karena terbakar matahari.
Terjadinya penyakit juga dibantu oleh
pemberian pupuk nitrogen yang
terlalu banyak.
3) Morfologi/Epidemiologi :
C.gloeosporioides berbentuk
aservulus pada bagian yang mati
(nekrosis) yang berbatas tegas,
biasanya berseta, kadang-kadang
berseta sangat jarang atau tidak
sama sekali. Aservulus berbentuk
bulat, memanjang atau tidak teratur,
garis tengahnya dapat mencapai 500
μm. Seta mempunyai panjang yang
bervariasi, jarang lebih dari 200 μm,
dengan lebar 4-8 μm, bersekat 1-4,
berwarna coklat, pangkalnya agak
membengkak, mengecil ke ujung,
pada ujungnya kadang-kadang
berbentuk konidium. Konidium
berbentuk tabung, ujungnya tumpul,
pangkalnya sempit terpancung,
hialin, tidak bersekat, berinti 1,9-24 x
3,6 μm. Konidiofor berbentuk
tabung, tidak bersekat, hialin atau
coklat pucat. C. gloeosporioides
tersebar luas, sebagai parasit lemah
pada bermacam-macam tumbuhan
inang, bahkan ada yang hanya hidup
sebagai saprofit. Cendawan dapat
mempertahankan diri dengan hidup
secara saprofitis pada bermacammacam
sisa tanaman sakit. Pada
cuaca menguntungkan jamur
membentuk konidium. Karena
terbentuk dalam massa yang lekat,
konidium dipencarkan oleh percikan
air, dan mungkin oleh serangga.
Pembentukan konidium dibentuk
oleh cuaca yang lembab, sedang
pemencaran konidium dibantu oleh
percikan air hujan maupun siraman.
c. Layu Sklerotium rolfsii Sacc. (Stadium
Sempurna : Corticium rolfsii Curzi)
1) Tanaman Inang :Selain menyerang
anggrek, penyakit ini diketahui
327
menyerang pada tanaman pertanian
lainnya. Pada anggrek terutama
menyerang jenis-jenis terestrial,
seperti Vanda sp., Arachnis sp. dan
sebagainya.
2) Gejala Serangan : Tanaman yang
terserang menguning dan layu.
Infeksi terjadi pada bagian-bagian
yang dekat dengan tanah. Bagian ini
membusuk, dan pada permukaannya
terdapat miselium cendawan
berwarna putih, teratur seperti bulu.
Miselium ini membentuk sklerotium,
yang semula berwarna putih, kelak
berkembang menjadi butir-butir
berwarna coklat yang mirip dengan
biji sawi. Pada Phalaenopsis
penyakit menyebabkan busuk akar
dan pangkal daun. Jaringan menjadi
berwarna kuning krem, berair, yang
segera berubah menjadi coklat lunak
karena adanya bakteri dan
cendawan tanah. Sklerotium
bentuknya hampir bulat dengan
pangkal yang agak datar,
mempunyai kulit luar, kulit dalam dan
teras. Di daerah tropis S. rolfsii tidak
membentuk spora. Cendawan dapat
bertahan lama dengan hidup secara
saprofitik, dan dalam bentuk
sklerotium yang tahan terhadap
keadaan yang kurang baik. S. rolfsii
umumnya terdapat dalam tanah.
Cendawan terutama terpencar
bersama-sama dengan tanah atau
bahan organik pembawanya.
Sklerotium dapat terpencar karena
terbawa oleh air yang mengalir. S.
rolfsii terutama berkembang dalam
cuaca yang lembab. Cendawan
dapat menginfeksi tanaman anggrek
melalui luka ataupun tidak, bila
melalui luka infeksi akan
berlangsung lebih cepat. Di
Indonesia Oncidium sp. dan
Phalaenopsis sp. sangat rentan
terhadap S. rolfsii, Cattleya sp. agak
tahan, sedangkan Dendrobium sp.
sangat tahan.
3) Morfologi/Epidemiologi : S. rolfsii
adalah cendawan yang kosmopolit,
dapat menyerang bermacam-macam
tumbuhan, terutama yang masih
muda. Cendawan itu mempunyai
miselium yang terdiri dari benangbenang
berwarna putih, tersusun
seperti bulu atau kipas. Cendawan
tidak membentuk spora. Untuk
pemencaran dan mempertahankan
diri cendawan membentuk sejumlah
sklerotium yang semula berwarna
putih kelak menjadi coklat dengan
garis tengah kurang lebih 1 mm.
Butir-butir ini mudah sekali terlepas
dan terangkut oleh air. Sklerotium
mempunyai kulit yang kuat sehingga
tahan terhadap suhu tinggi dan
kekeringan. Di dalam tanah
sklerotium dapat bertahan selama 6-
7 tahun. Dalam cuaca yang kering
sklerotium akan mengeriput, tetapi
justru akan berkecambah dengan
cepat jika kembali berada dalam
lingkungan yang lembab.
d. Layu Fusarium oxysporum
1) Tanaman Inang :Penyakit layu
Fusarium dapat dijumpai pada
anggrek jenis Cattleya sp.,
Dendrobium sp. dan Oncidium sp.
Selain itu juga menyerang kubis,
caisin, petsai, cabai, pepaya, krisan,
kelapa sawit, lada, kentang, pisang
dan jahe.
2) Gejala serangan : Patogen
menginfeksi tanaman melalui akar
atau masuk melalui luka pada akar
rimpang yang baru saja dipotong,
menyebabkan batang dan daun
berkerut. Bagian atas tanah tampak
merana seperti kekurangan air,
menguning, dengan daun-daun yang
keriput, umbi semu menjadi kurus,
kadang-kadang agak terpilin.
Perakaran busuk, pembusukan pada
akar dapat meluas ke atas, sampai
ke pangkal batang.
3) Jika akar rimpang dipotong akan
tampak bahwa epidermis dan
hipodermis berwarna ungu, sedang
phloem dan xylem berwarna ungu
merah jambu muda. Akhirnya
seluruh akar rimpang menjadi
berwarna ungu.
4) Epidemiologi :Patogen dapat
bertahan secara alami di dalam
328
media tumbuh dan pada akar-akar
tanaman sakit. Apabila terdapat
tanaman peka, melalui akar yang
luka dapat segera menimbukan
infeksi. Penyakit ini mudah menular
melalui benih, dan alat pertanian
yang dipakai.
e. Bercak Daun Cercospora spp.
1) Tanaman inang :Semua jenis
anggrek terserang oleh penyakit ini,
terutama yang ditanam di tempat
terbuka, seperti Vanda sp., Arachnis
sp., Aranda sp., Aeridachnis sp. dan
sebagainya.
2) Gejala serangan : Penyakit timbul
hanya apabila keadaan lingkungan
lembab. Mula-mula pada sisi bawah
daun yang masih muda timbul
bercak kecil berwarna coklat.
Bercak-bercak dapat berkembang
melebar dan memanjang, dan dapat
bersatu membentuk bercak yang
besar. Pada pusat bercak yang
berwarna coklat keputihan,
cendawan membentuk kumpulankumpulan
konidiofor dengan
konidium, yang bila dilihat dengan
kaca pembesar (loupe) tampak
seperti bintik-bintik hitam kelabu.
Pusat bercak akhirnya mengering
dan dapat menjadi berlubang. Gejala
ini lebih banyak terdapat pada daundaun
tua.
3) Morfologi/Epidemiologi : Konidium
cendawan ini berbentuk gada
panjang bersekat 3-12. Konidiofor
pendek, bersekat 1-3, cendawan
dapat terbawa oleh benih dan
bertahan pada sisa-sisa tanaman
sakit selama satu musim. Cuaca
yang panas dan basah membantu
perkembangan penyakit. Penyakit
dapat timbul pada tanaman muda,
meskipun cenderung lebih banyak
pada tanaman tua.
f. Bercak Coklat Ralstonia
(Pseudomonas) cattleyae (Pav.) Savul
1) Tanaman Inang :Penyakit terutama
menyerang Phalaenopsis sp. dan
Catleya sp.
2) Gejala serangan : Penyakit ini
terutama merugikan Phalaenopsis
sp. Bagian tanaman yang terserang
yaitu daun dan titik tumbuh. Penyakit
sangat cepat menjalar, dan pada
daun yang terserang terjadi bercak
lunak, kebasah-basahan dan
berwarna kecoklatan atau hitam.
Penyakit meluas dengan cepat. Jika
penyakit mencapai titik tumbuh,
tanaman akan mati. Bagian yang
sakit mengeluarkan lendir (eksudat),
yang dapat menularkan penyakit ke
tanaman lain, melalui penyiraman.
Pada daun Cattleya sp. penyakit
tampak sebagai bercak-bercak
mengendap, hitam dan kebasahbasahan.
Pada umumnya penyakit
hanya terbatas pada satu atau dua
daun, dan tidak mematikan tanaman.
3) Epidemiologi : Massa bakteri sering
muncul di permukaan jaringan
tanaman sakit. Penyakit ini
berkembang pada kondisi lingkungan
yang basah dan suhu yang tinggi.
Penyakit dapat menular melalui alatalat
pertanian, air, media tumbuh
dan benih yang terinfeksi.
g. Busuk Lunak Erwinia spp.
1) Tanaman Inang :Penyakit ini dapat
menyerang semua jenis anggrek
bahkan tanaman lain yang lunak
jaringannya.
2) Gejala Serangan : Penyakit ini
menyerang tanaman anakan dalam
kompot. Daun-daun anakan terlihat
berair dan warna daun berubah
kecoklatan. Pada pseudobulb atau
bagian lunak lainnya terjadi
pembusukan disertai bau yang tidak
enak. Bakteri ini menimbulkan
pembusukan pada jaringan yang
lunak dan pada jaringan yang bekas
digigit serangga.
3) Morfologi/Epidemiologi : Sel bakteri
berbentuk batang, tidak mempunyai
kapsul, dan tidak berspora. Bakteri
bergerak dengan menggunakan
flagela yang terdapat di sekeliling sel
bakteri. Bakteri patogen mudah
terbawa oleh serangga, air, media
tumbuh dan sisa tanaman yang
329
terinfeksi, serta alat-alat pertanian.
Suhu optimal untuk perkembangan
bakteri adalah 27° C. Pada kondisi
suhu rendah dan kelembaban
rendah bakteri terhambat
pertumbuhannya.
h. Rebah Bibit Pythium ultinum,
Phytohpthora cactorum dan Rhizoctonia
solani.
1) Tanaman Inang : Penyakit ini
dijumpai pada tanaman muda dalam
kompot pada anggrek jenis
Cymbidium sp., Dendrobium sp.,
Oncidium sp. dan sebagainya.
2) Gejala Serangan :Pada tanaman
muda ditandai dengan gejala
damping off, yaitu tanaman mati dan
roboh. Bagian pangkal tanaman
membusuk, sehingga tidak kuat
berdiri tegak. Penyakit berkembang
ke atas ke bagian-bagian lunak
lainnya.
3) Epidemiologi : Patogen tersebut
terpencar malalui air. R. solani
bertahan lama di dalam tanah (media
tumbuh).
h. Bercak Daun Pestalotia sp.
1) Tanaman Inang : Penyakit ini
dijumpai pada anggrek jenis Vanda
sp., Arachnis sp., Dendrobium sp.
dan Oncidium sp.
2) Gejala Serangan Pada daun-daun
tua dijumpai bercak dengan titik-titik
hitam di bagian tengahnya. Mulamula
bercak berwarna kuning agak
coklat.
3) Epidemiologi Patogen memencar
dengan spora yang terjadi apabila
ada perubahan yang mendadak dari
keadaan basah kemudian kering dan
disertai angin.
i. Bercak Botryodiplodia sp.
1) Tanaman Inang :Penyakit ini
dijumpai pada anggrek jenis Vanda
sp. dan Arachnis sp.
2) Gejala Serangan :Pada anggrek
Vanda sp. penyakit ditandai dengan
bercak memanjang berwarna coklat
sampai hitam. Gejala terjadi baik di
daun maupun batangnya. Bercak
tidak terbatas pada bagian-bagian
yang tua saja tetapi yang mudapun
terserang.
3) Epidemiologi :Penyakit memencar
dengan sporanya yang berada di
dalam badan buahnya. Spora
memencar bila terjadi perubahan
cuaca yang mendadak dari basah ke
kering.
k. Bercak Bunga Botrytis cenerea
1) Tanaman Inang :Penyakit ini
terutama menyerang bunga pada
anggrek jenis Phalaenopsis sp. dan
Cattleya sp.
2) Gejala Serangan Pada mahkota
bunga mula-mula terdapat bintikbintik
hitam. Bila penyakit telah
berkembang lebih lanjut dengan
bintik yang sangat banyak, bunga
akan busuk dan menghitam.
3) Epidemiologi; Penyakit ini
berkembang bila kelembaban sangat
tinggi. Pemencaran penyakit
dilakukan dengan sporanya yang
sangat mudah diterbangkan angin.
l. Karat Uredo sp.
1) Tanaman Inang :Penyakit karat
dijumpai pada Oncidium sp. dan
jenis-jenis lainnya.
2) Gejala Serangan : Pada permukaan
daun terdapat pustul berwarna
kuning. Setiap pustul dikelilingi oleh
jaringan daun klorotik. Serangan
yang hebat menyebabkan daun
mengering.
3) Epidemiologi :Spora patogen mudah
melekat pada kaki serangga dan
oleh tiupan angin. Kondisi
lingkungan yang lembab sangat
membantu perkembangan penyakit.
m. Virus Mosaik Cymbidium (Cymbidium
mosaic virus= CyMV).
Virus mosaik cymbidium dikenal juga
dengan nama “Cymbidium black streak
virus” atau “Orchid mosaic virus”.
1) Tanaman Inang : Virus ini dijumpai
pada 8 genera, yaitu Aranthera sp.,
330
Calanthe sp., Cattleya
sp.,Cymbidium sp., Gromatophyllum
sp., Phalaenopsis sp., Oncidium sp.,
dan Vanda sp.
2) Gejala Serangan : Pada Cymbidium
sp. gejala mosaik akan tampak lebih
jelas pada daun-daun muda berupa
garis-garis klorotik memanjang
searah serat daun. Bunga pada
tanaman Cattleya sp. yang terinfeksi
biasanya memperlihatkan gejala
bercak-bercak coklat nekrosis pada
petal dan sepalnya. Bunga biasanya
berukuran lebih kecil dan mudah
rontok dibandingkan dengan bunga
tanaman sehat.
3) Morfologi/Epidemiologi : Partikel
CyMV berbentuk filamen memanjang
berukuran 13 x 475 nm. Virus ini
menular secara mekanik melalui
cairan atau ekstrak bagian tanaman
sakit, tetapi tidak menular melalui biji
ataupun serangga vektor.
n. Virus Mosaik Tembakau Strain Orchid
(Tobacco Mosaic
Virus-Orchid = TMV-O)Virus ini dikenal
juga dengan nama virus bercak bercincin
odontoglossum (odontoglossum ringspot
virus = ORSV).
1) Tanaman Inang : Jenis-jenis anggrek
lain yang dapat terserang virus ini
mencakup Dendrobium sp.,
Epidendrum sp., Vanda sp., Cattleya
sp., Oncidium sp. Cymbidium sp.
dan Phalaenopsis sp.
2) Gejala Serangan :Pada beberapa
jenis anggrek seperti Cattleya sp.,
gejala infeksi virus ini bervariasi,
yaitu berupa garis-garis klorotik,
bercak-bercak klorotik sampai
nekrotik atau bercak-bercak
berbentuk cincin. Pada Oncidium sp.
bercak-bercak nekrotik berwarna
hitam tampak nyata pada permukaan
bawah daun. Di lapang persentase
tanaman anggrek Oncidium sp.
terinfeksi virus ini dapat mencapai
100 %. Gejala pada bunga, misalnya
pada anggrek Cattleya sp., berupa
mosaik pada sepal dan petal. Bagian
tepi bagian bunga ini biasanya
bergelombang.
3) Morfologi/Epidemiologi : Partikel
virus berbentuk batang berukuran 18
x 300 nm. TMV-O mudah ditularkan
secara mekanik melalui ekstrak
bagian tanaman sakit, tetapi tidak
menular melalui serangga vektor
ataupun biji.
Pengendalian OPT Anggrek
a Fisik
Media tumbuh disucihamakan dengan
uap air panas agar tanaman bebas dari
OPT yang dapat ditularkan melalui media
tumbuh.
Untuk menghindari penularan virus,
usaha sanitasi harus dilakukan meliputi
sterilisasi alat-alat potong.
Setelah dicuci bersih alat-alat potong
dipanaskan dalam oven pada suhu 149 °
C selama 1 jam.
b. Mekanis
Pengendalian secara mekanis dilakukan
bilamana serangga hama dijumpai dalam
jumlah terbatas. Misalnya pada pagi dan
sore hari kumbang gajah dapat dijepit
dengan jari tangan dan dimatikan.
Demikian pula kutu tempurung pada daun
anggrek dapat didorong dengan kuku,
tetapi harus dilakukan secara hati-hati lalu
dimatikan. Keong besar atau yang kecil
dengan mudah dapat ditangkap pada
malam hari dan dimusnahkan.
Dengan membersihkan sampah dan
gulma, maka keong tidak mempunyai
kesempatan untuk bersarang dan
bersembunyi.
Pengendalian secara mekanis juga
dilakukan pada bagian tanaman yang
menunjukkan gejala serangan penyakit,
yaitu dengan memotong dan
memusnahkan bagian tanaman yang
terserang.
c.Kultur Teknis
Pemeliharaan tanaman yang baik dapat
meningkatkan kesehatan tanaman,
sehingga tanaman dapat tumbuh lebih
subur.
Penyiraman, pemupukan dan
penambahan atau penggantian media
331
tumbuh dapat meningkatkan
pertumbuhan tanaman. Secara tidak
langsung pemeliharaan yang
berkelanjutan dapat memantau keadaan
tanaman dari serangan OPT secara dini.
Penyiraman dilakukan apabila diperlukan
dan dilakukan pagi hari sehingga siang
harinya sudah cukup kering.
Pelihara tanaman dari serangan atau
kehadiran serangga yang dapat menjadi
pembawa atau pemindah penyakit. Udara
dalam pertanaman sebaiknya dijaga agar
tidak terlalu lembab, sehingga penyakit
tidak mudah berkembang.
Tanaman yang baru atau diketahui
menderita penyakit diisolasi selama 2-3
bulan, sampai diketahui bahwa tanaman
tersebut betul-betul sehat.
Tanaman yang akan dibudidayakan
sebaiknya juga berasal dari induk yang
telah diketahui bebas penyakit.
d. Kimiawi
Untuk pengendalian OPT anggrek dapat
dipilih jenis pestisida yang tepat sesuai
dengan organisme pengganggu
tumbuhan yang akan dikendalikan.
Formulasi pestisida dapat berupa cairan
(emulsi), tepung (dust) pasta ataupun
granula.
Konsentrasi dan dosis penggunaan
biasanya dicantumkan pada tiap
kemasan.
Jenis-jenis pestisida yang dapat
digunakan untuk mengendalikan OPT
pada tanaman anggrek tercantum dalam
Lampiran 1.
Sebagai pencegahan, pot atau wadah
lainnya, alat-alat seperti pisau dan
gunting stek, sebaiknya setiap kali
memakai alat-alat tersebut,
disucihamakan dengan formalin 2 % atau
desinfektan lainnya.
e. Hayati
Dilakukan dengan menggunakan :
Predator tungau : Phytoseiulus persimilis
Athias Heniot dan Typhodiromus sp.
(Phytoseiidae)
Predator kutu daun : kumbang koksi
(Coccinelidae), lalat Syrpidae, dan labalaba
Lycosa sp.
Predator kutu putih : Scymnus
apiciflavus.
Predator bekicot Achatina fulica :
Gonaxis sp., Euglandina sp.,
Lamprophorus sp., dan bakteri
Aeromonas liquefacicus.
Parasitoid Thrips : Famili Eulophidae
Parasitoid kutu daun : Aphidius sp. dan
Encarsia sp.
Parasitoid pengorok daun Gonophora
xanthomela : Achrysocharis
promecothecae (Eulophidae).
Pemanfaatan agens antagonis
Trichoderma sp., Gliocladium sp. dan
Pseudomonas fluorescens untuk penyakit
layu Fusarium sp. dan Ralstonia
(Pseudomonas ) solanacearum.
Panen dan Pascapanen
Keistimewaan tanaman anggrek terletak
pada penampilannya saat konsumsi,
sehingga usaha untuk mempertahankan
mutu penampilan selama mungkin
menjadi tujuan utama penanganan pasca
panen dan pasca produksi.
Untuk melaksanakan upaya tersebut
perlu dipahami berbagai faktor yang
dapat mempengaruhi mutu pasca panen
atau pasca produksi tanaman anggrek.
Faktor yang mempengaruhi mutu pasca
panen anggrek bunga potong adalah:
• tingkat ketuaan bunga
• suhu
• pasokan air dan makanan
• etilen
• kerusakan mekanis dan penyakit.
Sedangkan yang mempengaruhi untuk
anggrek pot yang mempengaruhi
mutunya antara lain:
• kultivar
• stadia pertumbuhan
• cahaya,
• medium, pemupukan
• ,temperatur
332
• lama pengangkutan.
e. Bunga Anggrek Potong
Ketuaan Bunga
Selama ini bunga anggrek dipanen
setelah 75%-80% bunga telah mekar
terutama pada anggrek Dendrobium sp.
Adakalanya pada jenis anggrek tertentu,
seperti Cattleya sp., bunga dipanen 3
sampai 4 hari setelah mekar, karena
bunga yang dipotong prematur akan
gagal untuk mekar.
Saat pemanenan perlu diperhatikan
penularan penyakit virus dari satu pohon
ke pohon lain.
Sebaiknya alat pemotong hendaknya
disterilkan lebih dulu sebelum digunakan
lagi pada pohon berikutnya.
Temperatur
Bunga potong Cymbidium sp. dan
Paphiopedilum sp. dapat bertahan
selama 3 minggu pada temperatur 330–
350 F (10 C) dan 6 sampai 7 minggu bila
tetap di pohon.
Jenis Cymbidium sp., Cattleya sp., Vanda
sp., Paphiopedilum sp. dan Phalaenopsis
sp. umumnya bisa bertahan sampai 2
minggu kalau disimpan pada suhu 5–70 C,
sedangkan Dendrobium sp. potong cukup
disimpan pada temperatur 10–130 C.
Pasokan Air dan Hara
Bunga anggrek potong peka terhadap
kekeringan. Air yang hilang setelah bunga
dipanen harus segera diimbangi dengan
larutan perendam yang mengandung air
dan senyawa lain yang diperlukan.
Penggunaan berbagai senyawa kimia
pengawet yang dilarutkan dalam air
dianjurkan untuk memperpanjang
kesegaran bunga potong.
Etilen dan Kerusakan Mekanis
Usahakan untuk menjauhkan bunga
anggrek potong dari sumber/tempat
kebocoran gas, asap, pemeraman buah
dan kumpulan bunga yang sudah rusak
dan layu.
Ruangan untuk penanganan pasca panen
(sortasi/grading dan pengemasan)
hendaknya berventilasi baik.
Kepekaan terhadap gas etilen dapat
dikurangi dengan pemberian suhu dingin,
baik setelah panen maupun setelah
pengiriman.
Bunga potong harus segera dikeluarkan
dari wadah pengemasnya dan diletakkan
pada ruangan dingin yang bersuhu cocok
untuk bunga anggrek.
Penyakit
Bunga anggrek potong peka terhadap
penyakit, tidak saja karena berpetal agak
rapuh, tetapi juga terdapatnya cairan
madu yang bergizi yang sangat baik
untuk pertumbuhan patogen.
Kerusakan akibat penyakit ini dapat
dihindari dengan melakukan:
• Kebersihan baik di rumah kaca
maupun di kebun
• Pengendalian temperatur, dan
minimalisasi terjadinya kondensasi
pada bunga potong.
• Pengamatan populasi hama dan
penyakit
Bunga anggrek makin diminati. Pada saat
ini makin banyak dihasilkan varietas baru
anggrek didalam negeri.
Tantangannya adalah menjaga agar
bunga anggrek potong dapat tetap segar
dalam waktu cukup lama.
Pengiriman bunga anggrek potong tanpa
pengawet kesegaran bunga,
dikhawatirkan menurunkan umur
peragaan bunga dan diameter bunga.
Biasanya dilakukan pulsing, yaitu
mencelupkan tangkai bunga potong
sedalam 4 cm kedalam larutan nutrisi
selama 16 jam dalam ruang sejuk (21
derajat celcius).
Perlakuan ini bertujuan untuk memberi
bekal nutrisi cadangan sekaligus dapat
melindungi tangkai bunga dari serangan
mikroorganisme penyumbat pembuluh
tangkai.
Selama ini dipergunakan larutan pulsing
berupa sukrosa 50 g/l, perak nitrat 25
ppm, asam sitrat 200 ppm.
Jenis-jenis anggrek
Paphiopedilum chamberlainianum
333
Phragmipedium pearcei
Dendrobium affine
Si Raja Tanduk dari Papua
Begitulah sebutan bagi anggrek yang
memiliki nama latin Dendrobium sutiknoi
P.O’bryne.
Anggrek ini dideskripsikan dan
dipublikasikan untuk pertama kali pada
Mei 2005 di Jurnal fur den
Orchideenfreund.
Nama sutikno ini sendiri diambil dari
nama seorang hobiis dan pedagang
anggrek di Tretes, Prigen, Pasuruan,
Jawa Timur yang kemudian
dideskripsikan untuk pertama kali oleh Mr.
Peter O’bryne di Singapura.
Sejarahnya, ternyata anggrek ini
ditemukan secara tidak sengaja oleh
beliau di antara batang-batang D.
lasianthera, namun tiba saat berbunga
tampaklah perbedaan tersebut.
Oleh karena karakter bunganya yang unik
maka beliau yakin bahwa anggrek ini
berpotensi menjadi species baru.
Species ini berasal dari Papua dan
Kepulauan Morotai (Indonesia). Sejauh ini
telah ditemukan dua varian warna, yaitu
oranye tembaga dan hijau kekuningan.
Sosok tanamannya mirip dengan
anggrek-anggrek section Spatulata
lainnya. Batangnya cukup tinggi
mencapai 1-1,5 meter.
Bentuk daunnya elips agak bulat telur,
semakin kearah ujung atas ukuran
daunnya semakin mengecil. Karakter unik
dari anggrek ini adalah petal nya yang
sangat panjang (mirip petal D.stratiotes)
serta bentuk ujung labellumnya yang
sempit dan melengkung dan hampir
menyerupai labellum Dendrobium
tobaense.
Kelebihan anggrek section Spatulata ini
adalah sifat dominan nya yang sangat
kuat pada hybrid-hybrid keturunannya.
Tidak seperti pada D.tobaense yang
bentuk labellumnya bersifat resesif
sehingga akan mudah terdegradasi oleh
hybridisasi.
Saat ini, hybrid-hybrid maupun hasil
selfing dari D.sutiknoi telah banyak
beredar di pasaran anggrek di Asia
tenggara. Namun menurut informasi dari
seorang rekan hobiis senior dari
Malaysia, setelah sekian lama D.sutiknoi
dimanfaatkan sebagai parent/induk
silangan, ternyata anggrek ini kurang
begitu diminati oleh para penyilang
sebagai parent karena sifatnya
genetiknya yang sangat dominan,
334
sehingga selalu mengalahkan karakter
dari induknya yang lain, akibatnya hybrid
yang terbentuk juga terlalu condong ke
arah karakteristik D.sutiknoi.
Namun hal ini tidak begitu dipersoalkan
oleh para penggemar dan konsumen
anggrek hybrid, sehingga tidak
mengurangi minat para penggemar
anggrek pada umumnya untuk tetap
mengkoleksi hybrid-hybrid turunan
D.sutiknoi, karena tetap saja hybridnya
cantik dan unik dipandang.
Di Indonesia sendiri, anggrek ini maupun
hybridnya belum begitu tersosialisasi
secara luas, sehingga tak heran bila
harganya melambung sangat tinggi.
Meskipun demikian, anggrek ini
merupakan harta genetis yang tak ternilai.
Sehingga langkah-langkah serius untuk
menjaga kelestarian genetisnya perlu
segera dilakukan.
Pohon Anggrek Terbesar dan Terberat di
Dunia
Ini adalah si jawara kelas berat dari dunia
anggrek. Jawara ini bernama
Grammatophyllum speciosum atau
seringpula disebut-sebut dengan nama G.
papuanum yang diyakini sebagai salah
satu variannya.
Tanaman ini tersebar luas dari Sumatera,
Kalimantan, Jawa, hingga Papua. Oleh
karena itu, tidak heran bila banyak
ditemukan varian-varian nya dengan
bentuk tanaman dan corak bunga yang
sedikit berbeda.
Dalam satu rumpun dewasa, tanaman ini
dapat mencapai berat lebih dari 1 ton dan
panjang malai bunga hingga 3 meter
dengan diameter malai sekitar 1,5-2 cm.
Itulah sebabnya malai bunganya mampu
menyangga puluhan kuntum bunga
berdiameter 7-10 cm.
Dari corak bunganya penduduk lokal
sering menjulukinya dengan sebutan
anggrek macan, akan tetapi sebutan ini
sering rancu dengan kerabatnya,
Grammatophyllum scriptum yang memiliki
corak serupa.
Oleh sebab itu, anggrek ini populer juga
dengan sebutan sebagai anggrek tebu,
karena sosok batang tanamannya yang
menyerupai batang pohon tebu.
Meskipun persebarannya cukup luas
anggrek ini justru menghadapi ancaman
serius dari perburuan tak terkendali serta
kerusakan habitat.
Sosok pohonnya yang sangat besar
mudah terlihat oleh para pemburu,
terlebih lagi saat memunculkan bunganya
yang mencolok.
Belum lagi perkembangbiakan alami di
habitat dengan biji sangatlah sulit
diandalkan karena lambatnya laju
pertumbuhan dari fase biji hingga
mencapai tanaman dewasa yang siap
berbunga.
Mungkin hal inilah yang mendasari
kenapa anggrek ini menjadi salah satu
species anggrek yang dilindungi.
Sebagai pecinta anggrek, pasti anggrek
ini akan menjadi salah satu “most wanted”
dalam daftar koleksi.
Agar perburuan liar terhadap anggrek ini
di habitatnya dapat dikendalikan, maka
langkah-langkah budidaya secara
vegetatif maupun generatif harus segera
diberdayakan. Apalagi anggrek ini
terkenal sangat mudah menumbuhkan
tunas dari stek bulbnya.
Setidaknya, dengan membudidayakannya
secara vegetatif atau membeli bibit
anggrek tebu hasil perkembangbiakan
vegetatif (tunas dari stek bulb) dapat
menjadi salah satu upaya memelihara
kelestarian anggrek alam Indonesia.
Coelogyne celebensis si Jelita dari
Celebes
335
Anggrek ini memiliki nama ilmiah
Coelogyne celebensis. Kata celebensis
diambil dari nama Celebes atau Sulawesi.
Dari namanya, kita tahu jika tanaman ini
memiliki habitat asal di Sulawesi.
Morfologi tanamannya sekilas nampak
serupa dengan kerabat dekatnya
Coleogyne speciosa. Bahkan tipe bunga
nya pun tampak tak ada beda. Namun
bagi yang jeli, perbedaan yang cukup
mencolok dapat dikenali lewat bentuk
labellum serta tonjolan-tonjolan yang
berada diatas labellum tersebut.
Bunga ini mampu merekah sempurna
selama 5-7 hari, setelah itu bunga akan
layu dan segera digantikan dengan tunas
bunga selanjutnya.
Tandan bunganya berukuran kecil dan
panjang, sehingga tidak proporsional jika
dibandingkan dengan ukuran bunganya
yang cukup besar.
Itulah sebabnya, saat bunga nya mekar,
maka tandannya akan terkulai kebawah,
sehingga bunganya tampak menunduk.
Anggrek ini memiliki daun yang lebar,
berbentuk bulat telur, dan permukaannya
bergelombang.
Seperti kebanyakan anggrek lainnya,
tanaman ini juga memiliki bulb/umbi semu
yg menggembung untuk menyimpan air
dan cadangan makanan.
Anggrek ini termasuk anggrek dataran
rendah yang rajin berbunga dan cepat
beradaptasi.
Dendrobium insigne
Dendrobium fimbriatum
Dendrobium litoreum
Paphiopedilum liemianum, mungil nan
tangguh
Phalaenopsis kunstleri
Anggrek ini akrab disebut sebagai
anggrek kantong, karena labellumnya
yang menyerupai kantung kecil.
Sosok tanaman anggrek ini cukup pendek
(tinggi tanaman sekitar 5-7 cm) dengan
posisi daun yang berselang seling.
Daunnya melebar dengan ujung
membulat.
Lebar daun sekitar 3-6 cm dengan
panjang daun bervariasi antara 15-20 cm.
Tanaman ini termasuk anggrek terestrial,
artinya anggrek ini memiliki habitat
tumbuh di tanah, dengan mengandalkan
336
organ akarnya sebagai alat untuk
menyerap air dan unsur hara.
Anggrek ini senang dengan kondisi media
yang cukup lembab, akan tetapi jika
terlalu lembab bisa menyebabkan
pembusukan pada pangkal batangnya.
Anggrek yang dahulu diisukan sebagai
anggrek yang sulit dipelihara ini, ternyata
justru memiliki kelebihan lain, yaitu
toleran terhadap kekeringan dan toleran
dengan rentang suhu yang lebar.
Selain itu, dalam satu tandan bunga bisa
memunculkan lebih dari 3 kali bunga.
Bunganya yang unik muncul bergantian
satu per satu dengan masa mekar tiap
kuntum bunga lebih dari 1 minggu.
Pemeliharaan anggrek ini cukup mudah,
hanya dengan menjaga kelembaban
media dan melakukan pemberian pupuk
organik pada media tanamnya. Satu hal
yang cukup penting yaitu tempatkan
anggrek ini pada tempat yang ternaungi,
misal dibawah paranet 50 % atau di
bawah tajuk pepohonan.
Meskipun bunganya unik dan indah,
sayangnya pertumbuhan anggrek ini
termasuk sangat lambat.
Media tumbuh anggrek ini dapat berupa
campuran tanah (usahakan yang kadar
lempungnya rendah) dan pupuk organik.
Atau media kombinasi seperti cacahan
pakis/arang/kerikil + potongan sabut,
pupuk organik + sedikit moss.
2. Tanaman Anggrek Pot Berbunga
Indah
a. Kultivar
Berbagai karakter morfologi, seperti
warna bunga, jumlah kuntum bunga dan
waktu berbunga telah digunakan untuk
mengevaluasi kultivar baru industri
bunga. Kriteria tersebut merupakan
faktor-faktor penting dalam menciptakan
kultivar baru. Pada masa yang akan
datang kriteria toleransi terhadap kondisi
pengangkutan, tingkat cahaya interior
yang rendah, etilen dan pendinginan perlu
pula dimasukkan ke dalam penilaian.
b. Stadia Pertumbuhan
Stadia pertumbuhan (umur) tanaman pot
anggrek berbunga indah pada saat
dipasarkan merupakan faktor utama yang
mempengaruhi penampilan tanaman
tersebut di dalam ruangan. Perlu
diperhatikan bahwa stadia yang tepat
untuk pemasaran tergantung dari waktu
yang diperlukan untuk memperoleh
tanaman. Umumnya tanaman dengan
banyak bunga mekar lebih sulit dalam
pengangkutan, lebih peka terhadap etilen
dan lebih mudah rusak dari pada
tanaman yang diangkut dalam stadia
yang bunganya masih kuncup atau
persentase bunga yang mekar masih
rendah.
c. Temperatur
Temperatur perlu diturunkan selama
siklus 2–3 minggu terakhir untuk
memperkuat warna bunga dan
meningkatkan kandungan karbohidrat
tanaman, sehingga dapat mengakibatkan
ketahanan simpan. Semua tanaman pot
berbunga indah akan lebih tahan pada
temperatur yang lebih rendah dan
kisarannya sangat tergantung pada jenis
tanaman. Selanjutnya tanaman berbunga
yang ditempatkan pada temperatur 270 C
atau lebih tinggi, umumnya mempunyai
warna bunga lebih pudar, batang/tangkai
lebih tinggi, daun cepat menguning dan
rontok.
d. Media
Media berstruktur remah yang mudah
dibasahi kembali oleh konsumen atau
penata ruang sangat penting untuk
menghasilkan penampilan optimum dari
tanaman berbunga indah di dalam
ruangan. Sejumlah gel polimer dapat
digunakan untuk mempertahankan
kelembaban media dan mencegah
tanaman dalam ruangan menjadi kering.
Irigasi dengan menggunakan wetting
agent pada saat pemasaran berguna
untuk memudahkan pembasahan kembali
media.
e. Pemupukan
Nisbah N : K yang dianjurkan 1 : 1
sampai 3 minggu sebelum pembungaan,
diubah menjadi 0,5 : 1. Nisbah ini
mencegah masalah keracunan amonia
dan meningkatkan masa simpan.
337
f. Kepekaan Terhadap Etilen
Tanaman pot anggrek berbunga indah
peka terhadap etilen. Gejala yang
ditimbulkan adalah kerontokan daun,
kuncup dan bunga, dan kelayuan bunga,
epinasti, peningkatan kerentaan terhadap
mikroba dan aborsi bunga / kuncup.
Salah satu cara efektif untuk mengurangi
kepekaan terhadap etilen, yaitu dengan
menurunkan temperatur selama
pengangkutan.
Cara lain yang digunakan secara
komersial adalah dengan penyemprotan
daun menggunakan senyawa antagonis
terhadap etilen, sehingga dapat menekan
produksi etilen dalam bunga, serta
mengurangi pengaruh buruk etilen.
g. Pengairan
Kurangnya penyiraman tanaman yang
berbunga indah serta membiarkannya
layu akan menurunkan umur peragaan.
Sebaliknya kelebihan air akan
menyebabkan rusaknya akar, sehingga
tanaman cepat rusak. Sebaiknya
tanaman diairi tiap hari atau tiap dua hari
sekali, tergantung pada tingkat cahaya,
temperatur dan kelembaban, juga ukuran
dan media tumbuh. Pengairan dilakukan
terhadap media tanpa membasahi bunga
dan daun.
h. Cahaya
Cahaya optimum yang diperlukan oleh
tiap tanaman harus dipertahankan untuk
menghasilkan tanaman yang mempunyai
masa penampilan yang lebih baik, jumlah
bunga maksimum, pembentukan daun
yang sempurna, warna bunga indah, dan
tinggi tanaman yang memadai. Umumnya
tanaman pot berbunga indah akan
membentuk bunga dalam jumlah
maksimum dengan warna yang indah
pada kondisi ruang bercahaya tinggi,
meskipun cahaya matahari langsung
dihindari
9.8.2. Teknik Budidaya Mawar
a. Pendahuluan
Mawar merupakan tanaman bunga hias
berupa herba dengan batang berduri.
Mawar yang dikenal nama bunga ros
atau “Ratu Bunga” merupakan simbol
atau lambang kehidupan religi dalam
peradaban manusia.
Mawar berasal dari dataran Cina, Timur
Tengah dan Eropa Timur. Dalam
perkembangannya, menyebar luas di
daerah-daerah beriklim dingin (sub-tropis)
dan panas (tropis).
Gambar 125. Mawar kampung
b. Jenis-jenis mawar
Beberapa varietas mawar yang digemari
adalah:
• Hybrid tea; jenis bunga potong
bertangkai panjang bunga
tunggalnya diujung sehingga tampak
megah dan cantik
• Floribunda; jenis bunga potong dan
tanaman taman yang bunganya
cukup besar dengan warna
bervariasi dan tangkai tegak panjang
• Grandiflora; bunganya berukuran
raksasa dengan diameter dapat
mencapai 7.5-12.5cm
• Climbing rose; diameter bunga
berkisar antara 5-15cm dan tumbuh
merunduk karena beratnya cabang
serta tersusun dalam tandan yang
jarang. Kelompok mawar ini
pertumbuhannya sangat lambat
dibandingkan dengan kelompok
lainnya dan rata-rata baru dapat
berbunga setelah umurnya lebih dari
dua tahun
• Polyantha; jenis mawar ini warna
bunganya sangat beraneka ragam,
bunganya kecil dengan garis tengah
sekitar 5 cm dan didekat pucuk
cabangnya terdapat banyak ranting
yang masing-masing memiliki
sekuntum bunga.
338
• Hybrid perpetual; jenis mawar yang
dimater bunganya sangat lebar
(15cm) dan juga merupakan kelopak
mawar yang sudah sulit ditemukan
• Mawar tea; merupakan nenek
moyang mawar, disebut juga mawar
kuno, aromanya sangat wangi
Special purpose; mawar yang dibedakan
atas 3 golongan yaitu mawar pohon,
mawar perdu dan mawar mini.
c. Syarat Tumbuh
IklimBunga mawar dapat tumbuh sampai
ketinggian 900mdpl. Dbawah ketinggian
ini kuncup bunga menjadi lebih kecil.
Kisaran tumbuh bunga mawar adalah
700-1200 mdpl.
Suhu dan kelembaban udara
Bunga mawar membutuhkan suhu
berkisar 15-300C, dengan kelembaban
udara rata-rata 50-60%.
Sinar matahari
Tanaman mawar membutuhkan
cahaya/penyinaran matahari penuh
sepanjang hari, karena bila tempatnya
terlindung akan mudah terserang
cendawan dan pertumbuhannya kurang
baik.
Tanah
Lingkungan tumbuh mawar yang cocok
adalah tanah bertekstur dan drainase
yang baik, gembur, cukup bahan organik
dan tidak terlalu masam (pH6-7).
d.Pedoman teknis budidaya
Pembibitan
Bibit bunga mawar dapat berasal dari
perbanyakan vegetatif dan generatif (biji).
Umumnya di Indonesia perbanyakan
mawar dengan menggunakan okulasi,
cangkok, sambung, maupun stek.
Perbanyakan generatif jarang dilakukan
karena disamping tanaman baru yang
diperoleh sering tidak sama dengan
induknya, juga karena pengerjaannya
cukup sukar.
Perbanyakan Cepat Bibit Mawar Dengan
Cara Okulasi Mata Berkayu
Bahan dan Peralatan
1.Bahan
Batang bawah, batang atas, sekam,
pupuk organik dan non organik, pestisida,
polybag diameter 10-15 cm, parafilm,
varietas mawar, galur yang ada, paranet
sungkup dari kawat, kaso-kaso
2.Peralatan
Pisau okulasi, gunting stek, sprayer
3.Cara kerja
a. Persiapan Media
• Tanah dicampur dengan pupuk
kandang dan pasir, dengan
perbandingan 1:1:1 dan disterilkan.
• Paranet sungkup dari kawat, ukuran
1,2×2 m (jumlahnya tergantung
kebutuhan) dan naungan paranet
atau rumah kaca/plastik
b. Persiapan batang bawah
• Ambil batang mawar pagar yang
cukup tua, dan buang daun-daunnya
• Potong bagian pucuk (ñ 1/3 panjang
batang) lalu batang stek dipotong
dengan panjang 15 cm
• Tanam dipersemaian (media) yang
sudah disiapkan kemudian diberikan
sungkup kasa dengan tinggi 60 cm
dan intensitas cahaya 60%
c. Persiapan batang atas
Siapkan tangkai bunga yang sedang
makar dari varietas yang diinginkan, dan
buang semua daunnya
d. Pelaksanaan okulasi mata berkayu
• batang mawar yang akan diokulasi
dibuang durinya lalu dibersihkan
• buat keratan untuk batas okulasi
bawah
• buat irisan kearah bawah dengan
mengikuti sedikit jaringan kayu, lalu
dibuat irisan yang berukuran kira-kira
339
lebarnya 4-5 mm, panjang 1,5-2 cm
dan tebal 1-2 mm
• ambil mata tunas dari entres dan
buat irisan berupa kepingan dengan
mata tunas terletak di tengah-tengah
ukuran irisan sama dengan irisan
batang bawah
• tempelkan kepingan mata tunas ke
celah yang telah dibuat pada batang
bawah
• Ikat dengan menggunakan parafilm
atau tali rafia
• simpan bibit di bawah naungan
Penanaman
Bibit dapat ditanam di lapang sekitar 2
bulan setelah dilakukan okulasi mata
berkayu. Penanaman bunga mawar dapat
dilakukan pada pot atau di lapangan.
Kedua metode ini prinsipnya sama,
menyediakan tempat tumbuh yang paling
sesuai untuk pertumbuhan mawar.
Persiapan Media
Penanaman di pot
Campurkan pupuk kandang, sekam padi
dan tanah dengan perbandingan 1:1:1.
Media dimasukkan kedalam pot, pada
tahap awal tanaman dapat diletakkan
dibawah naungan (intensitas cahaya
matahari 60%), setelah tanaman kuat
baru diberi sinar matahari penuh.
Penanam di tanah
Untuk penanaman di tanah, maka terlebih
dahulu dibuat bedengan, tujuannya
adalah agar tanah menjadi gembur.
Penggunaan kompos sangat dianjurkan
untuk memperbaiki struktur tanah. Jika
pH tanah sangat rendah maka dilakukan
pengapuran.
Pemeliharaan
Pemeliharaan mawar meliputi
penyiraman, penyiangan, pemangkasan
dan pemupukan, serta pengendalian
hama dan penyakit.
Penyiraman dilakukan dua kali sehari,
yang disesuaikan dengan jumlah curah
hujan.
Pemangkasan merupakan faktor penting
dalam pemeliharaan karena dapat
mendorong pertumbuhan dan
pembentukan bunga yang lebih banyak
dengan kualitas yang lebih baik.
Pemangkasan dilakukan secara periodik
setiap musim bunga berakhir.
Pemupukan dilakukan dengan
menggunakan pupuk kandang maupun
pupuk buatan. Pupuk majemuk anorganik
NPK diberikan dengan dosis 15-20
gram/tanaman. Interval pemupukan dapat
dilakukan 2-3 bulan sekali disesuaikan
dengan tingkat kesuburan tanahnya
9.8.3 Teknik Budidaya Anthurium
Gambar 127 Salah satu jenis anthurium
a.Pendahuluan
Anthurium disebut juga bunga lilin.
Tanaman ini merupakan tanaman
tahunan, umumnya tumbuh di tempattempat
yang terlindung dari cahaya
matahari. Bentuk bunganya sangat
dekoratif, menarik, dan menawan dengan
bunganya yang tahan lama.
Anthurium adalah tanaman hias tropis,
memiliki daya tarik tinggi sebagai
penghias ruangan, karena bentuk daun
dan bunganya yang indah.
Anthurium yang berdaun indah adalah
asli Indonesia, sedangkan yang untuk
bunga potong berasal dari Eropa.
b.Jenis Anthurium
Di Indonesia tidak kurang terdapat 7 jenis
anthurium, yaitu
– Anthurium cyrstalinum (kuping
gajah)
– Anthurium pedatoradiatum (wali
songo)
– Anthurium andreanum
– Anthurium rafidooa,
– Anthurium hibridum (lidah gajah),
– Anthurium makrolobum
– Anthurium scherzerianum.
340
c.Teknik Budidaya
Perbanyakan
Anthurium dapat diperbanyak dengan 2
cara, yaitu generatif (biji) dan vegetatif
(stek).
Perbanyakan dengan cara generatif (biji)
Tanaman anthurium memiliki 2 macam
bunga yaitu bunga jantan dan bunga
betina.
Bunga jantan ditandai oleh adanya
benang sari, sedangkan bunga betina
ditandai oleh adanya lendir.
Biji diperoleh dengan menyilangkan
bunga jantan dan bunga betina. Dengan
menggunakan jentik, bunga sari diambil
dan dioleskan sampai rata di bagian
lendir pada bunga betina.
Sekitar 2 bulan kemudian, bunga yang
dihasilkan sudah masak, di dalamnya
terdapat banyak biji anthurium.
Biji-biji tersebut di kupas, dicuci sampai
bersih dan diangin-anginkan, kemudian
ditabur pada medium tanah halus.
Persemaian ditempatkan pada kondisi
lembab dan selalu disiram.
Perbanyakan dengan cara vegetatif (stek)
Ada 2 cara perbanyakan secara vegetatif,
yaitu stek batang dan stek mata tunas.
Cara perbanyakan dengan stek batang
adalah
• memotong bagian atas tanaman
(batang) dengan menyertakan 1 – 3
akar
• bagian atas tanaman ‘yang telah
dipotong kemudian ditanam, pada
medium tumbuh yang telah disiapkan
Sebaliknya perbanyakan dengan mata
tunas adalah mengambil satu mata pada
cabang, kemudian menanam mata tunas
pada medium tumbuh yang telah
disiapkan.
Persiapan media tumbuh
Berdasarkan kegunaannya, medium
tumbuh dibagi menjadi 2 macam, yaitu
medium tumbuh untuk persemaian dan
untuk tanaman dewasa.
Medium tumbuh terdiri dari campuran
humus, pupuk kandang dan pasir kali.
Humus atau tanah hutan dan pupuk
kandang yang sudah jadi di ayak dengan
ukuran ayakan 1 cm, sedangkan pasir kali
di ayak dengan ukuran ayakan 3 mm.
Humus, pupuk kandang dan pasir kali
yang telah di ayak, dicampur dengan
perbandingan 5 : 5 : 2.
Untuk persemaian, medium tumbuh perlu
disterilkan dengan cara mengukus
selama satu jam.
Penyiapan pot
Untuk menanam bunga anthurium, dapat
digunakan pot tanah, pot plastic atau pot
straso. Pot yang paling baik adalah pot
tanah karena memiliki banyak pori-pori
yang dapat meresap udara dari luar pot.
Apabila digunakan pot yang masih baru,
pot perlu direndam dalam air selama 10
menit. Bagian bawah pot diberi pecahan
genting/pot yang melengkung, kemudian
di atasnya diberi pecahan batu merah
setebal 1/4 tinggi pot.
Medium tumbuh berupa campuran
humus, pupuk kandang dan pasir kali
dimasukkan dalam pot.
Pemeliharaan
Setelah tanam, tanaman dipelihara
dengan menyiram 1 – 2 kali sehari. Daun
yang sudah tua atau rusak karena hama
dan penyakit, dipotong agar tanaman
tampak bersih dan menarik. Sebaiknya
tanaman ini dipelihara di tempat teduh
karena tanaman tidak tahan sinar
matahari langsung.
9.8.4. Teknik Budidaya Adenium
Socotranum
Gambar 128 Adenium
a.Pendahuluan
Setiap spesies punya beberapa keunikan
tersendiri yang membedakan satu dengan
yang lainnya baik itu bentuk bunga, warna
bunga, bentuk daun, bentuk akar dan
lainnya.
341
Karena tanaman adenium ini unik dan
menarik dari akar sampai bunga maka
kepopulerannya sulit pudar.
b.Asal-usul
Asal Adenium sp. socotranum adalah
pulau Socotra di negara Yaman. Pulau ini
juga terkenal dengan beberapa tanaman
unik seperti Dorstenia Gigas dan
Dracaena cinnabari. Karena pulau ini
berada di Jazirah Arab, maka
daerahnyapun mirip gurun. Adenium ini
banyak tumbuh baik diperbukitan maupun
di lembah. Kadang juga ada yang tumbuh
di bukit karang yang menghadap ke laut.
Lingkungan daerah ini cukup ekstrim
walau kelihatannya tidak seektrim gurun
pasir di arab dan afrika
c.Ciri-ciri umum
Batang kokoh dan Bunga Indah
Menurut referensi online batang adenium
ini kokoh dan berbunga indah.
Diameter batangnya bisa lebih dari 2
meter sedangkan tingginya bisa
mencapai 3 meteran (Gambar 128).
Untuk bisa mencapai bentuk itu mungkin
diperlukan waktu lebih dari 20 tahun. Usia
4 tahun adenium ini baru bisa mencapai
diameter bonggol 5cm.
Sedangkan waktu berbunga pertama
kalinya ada yang harus menunggu 7
tahunan. Perlu kesabaran tinggi
menunggu berbunganya adenium ini.
Bentuk bunganya sebenarnya mirip
adenium multiflorum, hanya warna
merahnya tidak terpusat dipinggir kelopak
bunga.
Daun yang Indah
Warnanya didominasi pink muda
keputihan. Biasanya adenium ini dapat
dikenali dari daunnya yang punya urat
berwarna putih menonjol.
Saat baru tumbuh daun, warna daunnya
coklat keemasan. Bandingkan dengan
adenium biasa yang dari pucuk sudah
berwarna hijau segar.
Warna daun cenderung lebih gelap dan
kecoklatan dari adenium jenis lain.
Sedangkan batangnya dapat dikenali dari
gurat-gurat garis yang kuat bekas daun
yang gugur seperti batang pohon tua.
Warna batang yang kontras
Warna batangnyapun cenderung
berwarna coklat keputihan.
d. Pedoman teknis
Pembibitan
Bila sumber bibit berasal dari impornya
dari luar negeri, sesampainya dari
pengiriman sebaiknya beri tambahan
vitamin B1 dan hormon pertumbuhan akar
takaran secukupnya.
Pada awal proses adaptasi letakkan
Adenium sp ini ditempat terlindung
selama 2 minggu sampai sebulan
bergantung kondisi kemampuan adaptasi
tanamannya. Pengenalan terhadap
tanaman yang sudah mampu beradaptasi
adalah batangnya yang kelihatan kokoh
dan segar, serta tumbuhnya tunas baru.
Perawatan
Sebenarnya perawatan adenium ini
samaseperti Adenium spesies lainnya.
Akan tetapi jenis adenium ini memerlukan
kesabaran khusus dalam merawatnya.
Perawatan merupakan syarat utama agar
tanaman ini berbunga.
Perawatan sehari-hari sama saja dengan
adenium lainnya. Hanya karena tanaman
ini berharga, bisa juga dibuatkan mini
greenhouse agar perkembangannya
dapat dikendalikan sekaligus aman dari
jangkauan tangan jahil.
Sebaiknya tanaman ini jangan terkena air
hujan secara langsung, karena takut air
hujan (khususnya di kota besar) dapat
mengurangi imunitas dari adenium ini
sehingga bisa timbul penyakit baik dari
jamur, bakteri maupun yang lain. Kondisi
yang kering dan panas cukup disenangi
adenium jenis ini.
Pemberian pupuk berimbang juga
diperlukan. Ketika berusia lebih dari 5
tahun (kalau belum berbunga) dapat
diberikan pupuk yang memacu
pertumbuhan bunga. Pupuk pemacu
bunga dapat juga diberikan dibawah usia
5 tahun.
9.8.5. Teknik Budidaya
Begonia
342
Gambar 129 Salah satu jenis begonia
a.Ciri-ciri umum
Sekilas, beberapa jenis tanaman ini daun
berbentuk agak oval dengan serat yang
tegas. Jika melihatnya, kita jadi teringat
oleh sosok lidah. Namun bulu daunnya
menyerupai permadani yang halus dan
tebal laiknya sutera. Maka tak jarang,
beberapa penggemar tanaman hias
menyebutnya tanaman lidah yang
halusnya-sehalus permadani berbahan
sutera.
Bentuknya imut, namun tetap berkarakter,
baik di warna maupun di struktur daunnya
yang banyak ditumbuhi rambut halus.
Daunnya agak oval, dengan ruas jari-jari
yang tegas, dan corak warna yang khas,
warna dasarnya di atas dan sebagian lagi
merah (di bawah).
Selain berambut, beberapa jenis Begonia
yang lain juga terbentuk dengan
permukaan daun yang berlilin dan lembut,
ada juga yang kasar dan penuh kerutan.
Hampir semua Begonia daunnya
menghasilkan rizoma yang menjalar
ataupun berada di dalam tanah.
Pertumbuhan tanaman ini biasanya
menyemak maupun menjalar, ada juga
yang tumbuh vertikal.
b. Syarat Tumbuh
Begonia daun tidak menyukai air yang
berlebihan dan sinar matahari langsung.
Mereka membutuhkan kondisi yang
hangat. Begonia kelompok ini hanya
mampu bertahan selama 1-2 tahun.
Namun tanaman ini sangat mudah dan
cepat diperbanyak.
Begonia merupakan tumbuhan liar yang
tumbuh di hutan-hutan basah atau
kadang ditanam sebagai tanaman hias.
Begonia bisa tumbuh dengan baik di
tempat-tempat lembab, tanah berhumus,
dan di tempat yang sedikit ternaungi,
mulai dari ketinggian 900 – 2.300 m di
atas permukaan laut.
Biasanya Begonia akan berbunga pada
bulan Juni sampai bulan September.
Waktu panen yang tepat adalah bulan
September hingga bulan November.
c. Perawatan
Dalam hal perawatan, tanaman ini hanya
memerlukan panas dan air yang cukup.
Namun jika ingin tanaman Begonia
tumbuh maksimal, tak ada salahnya diberi
perawatan khusus.
Pada dasarnya, tanaman yang bibitannya
berasal dari kota Malang ini berhabitat
asli di alam liar dan hutan belantara.
Untuk itu, dalam hal perawatan, tanaman
ini sudah biasa bila tidak mendapatkan
perhatikan.
Namun jika ingin tumbuh maksimal,
sebaiknya pencahayaan dan pengairan
diperhatikan, karena hal ini akan
berpengaruh pada warna daun dan
kelangsungan kehidupan tanaman itu
sendiri.
Tanaman ini tidak menyukai panas,
maka sebaiknya jangan menaruh
tanaman ini langsung pada terpaan sinar
matahari. Jika hal itu terjadi, sebaiknya
beri paranet untuk mengurangi efek dari
sinar UV (Ultra Violet) yang masuk ke
area tanaman Begonia.
Selain itu, tanaman yang satu ini juga
tergolong tanaman yang suka air,
sehingga proses penyiraman yang
dianjurkan pada tanaman Begonia
biasanya bisa dilakukan dua kali sehari,
yaitu pada pagi dan sore hari.
Untuk meningkatkan keindahan
permukaan daun, maka dapat
menggunakan beberapa bahan yang bisa
mengkilapkan daun, misalnya dengan
menggunakan susu segar, air, atau leaf
shinner untuk performa daun yang lebih
berkualitas.
Kita dapat juga melap daun, setiap kali
daun terlihat kusam, namun jangan terlalu
keseringan, karena pengelapan terlalu
sering akan merusak struktur daun.
d. Teknik Budidaya
343
anaman ini relatif mudah dibudidayakan.
Cara budidayanya umumnya dengan
menggunakan setek batang.
Media yang dibutuhkan adalah gembur,
dan cukup air.
9.8.6. TEKNIK
BUDIDAYA BONSAI
a.Pendahuluan
Gambar 130 Tanaman yang dibonsai
Bonsai merupakan salah satu seni
pemangkasan tumbuhan atau pohon
yang berasal dari Jepang.
Perlakuan pemangkasan atau
penghambatan pertumbuhan ini
bertujuan untuk membiasakan tumbuhan
atau pohon tersebut tumbuh dalam
keadaan yang kerdil/cebol.
Dalam bahasa Jepang,bonsai berarti
“tanaman di pot”. Biasanya akan
berasosiasi dengan sebuah miniatur
pohon yang ditanam di dalam pot atau
kontainer.
Pohon yang di bonsai umumnya berupa
pohon berkayu (misalnya pohon beringin,
dll) atau pohon buah-buahan dan kadang
berupa pohon bunga. Bonsai yang baik
dapat diletakkan diluar pekarangan
sepanjang tahun.
Effek artistik dari bonsai dapat dilihat dari
keseimbangan dalam ukuran batang
daun, ranting bunga atau buah dan pot
yang digunakan. Pot yang dipakai
haruslah yang mendukung suasana
pohon yang ditanam.
Keunikan dari bonsai adalah tanaman
tumbuh dan menjadi tua namun tidak
berkembang menjadi tinggi. Sebuah
kekerdilan alam yang menjadi suatu
keindahan bentuk tanaman menarik,
menantang untuk selalu
mempertahankannya.
Untuk menghasilkan bonsai ada yang
membutuhkan waktu yang panjang
sampai berpuluh tahun, dan sebagian
lainnya hanya membutuhkan waktu yang
singkat.
Akan tetapi pembuatan dan perawatan
bonsai yang membutuhkan waktu yang
lama juga memberikan imbalan yang
cukup sepadan.
Imbalan itu berupa sebuah keindahan dari
alam liar tanaman yang terminiatur dan
nilai ekonomi yang cukup lumayan.
b. Ukuran Bonsai
Ada 4 ukuran bonsai yang umum
digunakan, yaitu
– miniatur
– kecil
– sedang
– rata-rata.
Umumnya bonsai miniatur disiapkan
dalam waktu sekitar 5 tahun.
Bonsai kecil biasanya mempunyai tinggi
antara 5 sampai 15 cm dan memerlukan
persiapan sekitar 5-10 tahun.
Bonsai ukuran sedang mempunyai tinggi
antara 15 sampai 30 cm, dan bonsai ratarata
mempunyai tinggi 60 cm dengan
waktu persiapan sekitar 3 tahun.
c. Asesoris bonsai
Untuk industri bonsai sisi asesoris adalah
penghasilan yang terbesar dibandingkan
dengan menjual bibit bonsai maupun
bonsai itu sendiri. Asesoris bonsai ini
meliputi:
– pot
– bebatuan penghias
– alas bonsai
– dan lain sebagainya.
Pot
Bonsai pada dasarnya adalah tanaman
hias dan untuk lebih menonjolkan
keindahannya dibutuhkan pendukungnya
yaitu pot. Pot yang terbuat dari keramik
akan semakin membuat tampilan bonsai
anda lebih eksklusif.
Gambar 131 berikut ini memperlihatkan
berbagai bentuk pot
344
Gambar 131
Aneka bentuk pot bonsai
Untuk kondisi bonsai yang
penempatannya ditaman memerlukan pot
yang terbuat dari bahan semen yang
mempunyai nilai artistik tersendiri.
Ada juga bentuk pot yang menyerupai
hewan dan sebagainya seperti pada dua
gambar berikut ini.
Gambar 132 Beberapa pot bonsai
bentuk gajah (A) dan naga (B)
Batuan penghias
Dalam memperindah bonsai ada
banyaknya sarana yang dapat dilakukan,
diantaranya dengan memberikan
bebatuan yang indah akan bentuknya.
Jenis bebatuan granit dapat memberikan
kesan bonsai yang kuat saat menghiasi
kaki batangnya.
Gambar 133
Batu penghias bonsai Alas pot
Pot bonsai akan lebih tahan lama
pemakaiannya bila dilapisi oleh alas.
Alas yang terbuat dari kayu dan
berbentuk meja sangat digemari para
perawat bonsai dalam ruangan.
Meja yang diperuntukan bagi alas bonsai
umumnya mempunyai kekuatan yang
cukup. Selain meja alas yang terbuat dari
bahan yang sama dengan pot juga
banyak digunakan. Artinya pot dan
alasnya tersedia secara berpasangan.
d. Bentuk Bonsai
Bentuk bonsai yang telah manjadi main
stream dikalangan para penggemar
bonsai terdapat lima macam bentuk yaitu:
– bentuk batang yang tegak lurus
teratur
– tegak lurus tidak teratur
– tersapu angin
– anak air terjun,
– bentuk semi air terjun.
Bentuk bonsai yang terdiri dari 2 hingga 3
tanaman didalam satu pot juga cukup
digemari oleh para perawat bonsai selain
dari lima mainstream diatas.
Disamping kelima bentuk diatas juga
diciptakan beberapa bentuk variasi bonsai
lainnya.
Bonsai tegak lurus
Dasar bentuk bonsai ini adalah tegak
lurus dan terdapat bentuk lancip dibagian
paling atasnya dimana membentuk suatu
bangunan kerucut.
Bentuk macam ini biasanya lebih cocok
untuk tanaman yang berusia muda
A
B
345
karena bentuk ini akan membutuhkan
kekuatan batang, cabang, dan ranting.
Para pemula perawat bonsai biasanya
menggunakan jenis ini untuk memulai
keterlibatannya dalam merawat bonsai,
karena tidak terlalu dibutuhkan
banyaknya eksperimen namun
membutuhkan ketelitian, menjadi alasan
yang tepat bagi para pemula perawat
untuk memakai bentuk bonsai ini.
Jenis tegak lurus terbagi lagi menjadi dua
kategori yaitu yang teratur dan tidak
teratur.
Bonsai tegak lurus teratur
Tegak lurus teratur merupakan tanaman
bonsai yang terlihat simple namun
mempunyai tingkat kesulitan
pembentukan yang cukup signifikan.
Gambar 134
Bonsa bentuk tegak lurus teratur
Keadaan lingkungan seperti suhu
ruangan, jumlah cahaya matahari, serta
pemilihan pemakaian tanah sebagai
dasar perkembangannya turut
menentukan keberhasilan pembentukan
bonsai ini.
Pastikan perkembangan cabangnya
berkembang kearah vertikal bukan
horizontal.
Cabang pertama hendaknya terdapat
pada setengah dari tinggi batang utama.
Jarak antara permukaan tanah dengan
adanya permulaan cabang, diharapkan
memberikan keindahan utama dalam
bentuk tegak lurus.
Untuk kelurusan batang setidaknya harus
dapat dilihat jelas sehingga memberikan
kesempurnaan bentuk suatu bonsai tegak
lurus teratur.
Umumnya jenis tanaman cemara, apel
liar, delima dan berbagai macam tanaman
hias tanpa buah lainnya cocok untuk
dijadikan bonsai tegak lurus ini.
Bonsai tegak lurus
tidak teratur
Untuk bonsai tegak lurus tidak teratur,
bentuknya tidak jauh berbeda dengan
tegak lurus beraturan hanya pada
umumnya batang utama dari tegak lurus
tidak beratur terdapat lekukan, dimana
cabang dan daunnya menjadi
penyeimbang agar terjadi sebuah
pemandangan tanaman yang menjulang
tinggi namun agak tidak beraturan yang
memberikan kesan alamiah dan natural.
Gambar 135
Bonsai tegak lurus tidak teratur
Kelompok bonsai jenis ini menghendaki
perkembangan daun maupun cabang
yang seimbang, kondisi yang tidak
seimbang akan memberi kesan miring,
dan tentunya akan mengurangi keindahan
bonsai. Kemiringan ini membuat bentuk
bonsai terlihat kurang baik.
Jenis pohon yang cocok untuk bonsai
bentuk tegak lurus teratur cocok juga
untuk bonsai kelompok ini.
Bonsai tersapu angin (condong)
Bentuk bonsai ini mempunyai kemiringan
yang terlihat seperti tanaman akan roboh.
Bonsai golongan ini sedikit mempunyai
kesamaan dengan bentuk tegak lurus
hanya mempunyai perbedaan di sisi
kelurusannya yang mengarah horizontal.
Bentuk bonsai condong ini merupakan
jenis bentuk peralihan dari bentuk tegak
lurus dan anak air terjun.
346
Gambar 136 Bentuk bonsai tersapu angin
Kecondongannya dapat dibentuk kearah
kanan atau kiri sesuai sesuai selera
perawat tanaman.
Peletakan batang utama awal tumbuhnya
tanaman, akan lebih baik bila ditempatkan
pada bagian tengah pot. Peletakan pada
tengah pot membuat bentuk condongnya
lebih terlihat sehingga lebih terlihat
keindahannya. Tanaman yang digunakan
untuk jenis bonsai ini adalah dari
kelompok tanaman hias.
Bonsai anak air terjun
Bentuk anak air terjun ini batang
utamanya agak tegak lalu berbengkok
jatuh kebawah dengan berbagai lekukan
selanjutnya hingga sejajar dengan alas
pot untuk menimbulkan bentuk jatuhnya
air pada anak air terjun.
Gambar 137 Bonsai anak air terjun
Bentuk pot berbentuk bulat atau segi
enam lebih cocok untuk jenis bentuk ini,
diawal pertumbuhan tanaman lebih baik
diletakan pada bagian pinggir pot.
Penempatan awal batang utama dibagian
pinggir pot bertujuan untuk
mempermudah pembengkokan awal.
Penggunaan kawat akan banyak
digunakan dalam proses
pembentukannya sehingga diperlukan
keahlian yang cukup untuk
mengembangkannya.
Bentuk anak air terjun membutuhkan
suatu kecermatan dalam melakukan
pemangkasan maupun perawatan.
Keseimbangan antara dahan dan ranting
menjadi suatu tujuan bentuk bonsai anak
air terjun dimana agar terlihat lebih
alamiah.
Jenis pohon cemara dari berbagai macam
speciesnya cocok untuk dijadikan bonsai
dalam bentuk anak air terjun.
Bonsai semi anak air terjun
Bentuk semi anak air terjun ini lekukan
batang utamanya tidak merupakan
bagian yang penting, melainkan
kekuatan batang dibagian yang
mendatarlah yang harus diperhatikan
karena beban gravitasi akan tertumpu
disana dan tentunya mempengaruhi
perkembangan tanaman.
Dibutuhkan pengikatan kawat yang
sangat banyak untuk pembentukannya.
Pengikatannya juga harus dilakukan
dengan hati–hati, dan hindari
pengkawatan yang terlalu lama, agar
tanaman tidak terluka.
Menarik tidaknyanya bonsai bentuk semi
air terjun ini sangat tergantung pada
ketepatan dan teknik pemangkasan yang
khusus.
Beberapa jenis cemara dengan berbagai
spesiesna cocok untuk dibentuk bonsai
golongan ini.
Bonsai berkelompok
Tanaman bonsai berkelompok
merupakan penempatan dua hingga tiga
bahkan lima tanaman bonsai didalam
satu pot.
Pot yang digunakan untuk bentuk bonsai
ini akan lebih baik bila digunakan bentuk
pot bundar.
347
Gambar 138
Bonsai berkelompok
Karena terdiri dari lebih dari satu tanaman
dalam satu pot maka perawat bonsai
harus memperhatikan kebutuhan
pertumbuhan dari masing masing jenis.
Ukuran untuk bonsai kelompok ini
umumnya tidak lebih dari 60cm. Jenis
pohon cemara dan apel liar cocok untuk
bentuk bonsai jenis ini
e. Pedoman teknis budidaya
Bertanam bonsai ini memerlukan
kesabaran yang tinggi.
Berikut akan dijabarkan langkah-langkah
utama dalam memulai teknik
pengkerdilan tanaman melalui seni
pemangkasan.
Pemilihan tanaman
Pemilihan tanaman yang akan anda
jadikan bonsai merupakan suatu awal
kesuksesan dalam pembentukan bonsai.
Bakal bonsai dapat kita temukan di toko
tanaman hias disekitar daerah tempat
tinggal atau mancarinya dari tanaman liar.
Pilihlah tanaman yang mempunyai batang
utama yang cukup kuat karena ini
dibutuhkan sebagai awal dari
pemangkasan.
Untuk bahan tanaman liar, proses
pemindahan bibit tanaman ke dalam pot
hendaknya dikerjakan dengan hati-hati
agar akarnya tidak mengalami kerusakan.
Beberapa alat yang dibutuhkan dalam
bertanam bonsai ini adalah sebagai
berikut
Gambar 139
Beberapa alat bantu yang digunakan
dalam bertanam bonsai
Pemindahan tanaman
Langkah pertama yang harus dilakukan
adalah menentukan tanaman yang akan
dibonsai, kemudian pemindahan
tanaman yang akan dijadikan bonsai dari
alamnya kedalam sebuah pot dengan
menggunakan pengungkit akar.
Tanamlah pohon calon bonsai ke dalam
pot dengan hati-hati. Bersamaan dengan
proses pemindahan tersebut, perhatikan
perakarannya jika ditemukan akar-akar
yang sudah mati atau tidak berkembang
lagi maka akar tersebut dipotong.
Gambar 140
Tahapan pembuangan akar
Pangkas serabut akar maupun batang
akar yang telah tidak berkembang karena
akar yang telah mati hanya akan
memperlambat perkembangan akar yang
lainnya. Pemeriksaan pada batang,
cabang maupun akar ini juga harus
dilakukan secara berkala.
348
Perkembangan akar diharuskan tetap
terjadi dengan tidak melebihi pot sebagai
pijakannya.
Calon bonsai dapat diambil dari alam
langsung atau melalui cangkok, okulasi
maupun setek.
Pembentukan bonsai
Langkah berikutnya yang dilakukan
setelah penanaman, dan tanaman sudah
kuat, adalah pembentukan bonsai.
Pertama sekali buatlah kerangka dasar
bentuk bonsai sesuai temanya. Untuk
melakukan pembentukan batang maupun
cabang yang dikehendaki, bisa dengan
menggunakan kawat yang dibantu oleh
alat pembengkok yang tersedia ditoko
tanaman hias. Pengkawatan yang baik
untuk membentuk alur bonsai bisa anda
lakukan dengan menggunakan plastik
sebagai pelapisnya sebelum diikat oleh
kawat.
Gambar 141 Pengkawatan pada proses
pembentukan bonsai
Periksalah lekuk batang maupun cabang
secara berkelanjutan agar
perkembangannya tidak menjadi liar.
Lepaskanlah kawat dari batang diwaktu
yang tepat dan diharapkan jangan sampai
meninggalkan suatu luka bekas kawat
dibatang maupun cabang.
Lakukanlah pemangkasan dengan
seperlunya periksa secara berkala bentuk
ranting sesuai tema bentuk yang akan
kita tuju.
Gambar 142.
Beberapa teknik pemangkasan pada
pembentukan bonsai
Untuk langkah selanjutnya lakukanlah
pemeliharan yang berkelanjutan agar
bonsai yang akan anda pelihara
mempunyai bentuk yang indah dan sehat.
Pemilihan bentuk Bonsai
Bentuk yang umum digunakan oleh
sebahagian pemula adalah bentuk tegak
lurus. Karena dari bentuk bonsai ini akan
dipelajari dasar apa saja yang akan
diperlukan dalam merawat bonsai.
Kawat dapat digunakan dalam
pembentukan alur perkembangan
tanaman.
Gambar 143
Pengikatan pada pangkal batang
sehingga batang membengkak
349
Periksa pertumbuhan cabang dan ranting
secara seksama dan berkala karena akan
menentukan keberhasilan kita dalam
membentuk bonsai.
Setelah berhasil pada bentuk tegak lurus
maka dapat diteruskan dengan bentuk
bonsai lainnya.
Pada dasarnya perbedaan antara bentuk
tegak lurus dan tegak lurus tidak
beraturan, hanya pada bentuk
lengkungan yang terjadi dibatang
utamanya. Adanya lengkungan dibentuk
tegak lurus tidak beraturan hanya sebagai
variasi bukan penghilang bentuk
utamanya yaitu ujung yang lancip dan
memberikan kesan bangunan kerucut.
Gambar 144
Pembentukan cabang bonsai
Selanjutnya kita bisa memulai membuat
bonsai dengan jenis yang agak
memerlukan keahlian yaitu anak air
terjun dan bentuk tersapu angin.
Pembentukan bonsai jenis ini merupakan
bentuk kreativitas yang dapat dijabarkan
secara bebas dan tidak ada aturan baku
pada perkembangannya.
Pemilihan tanah
Tanah merupakan bagian yang penting
dalam memulai pembentukan bonsai
karena ditanahlah perkembangan dahan,
batang, dan ranting ditentukan.
Pilihlah tanah yang kadar humus tidak
terlalu tinggi dikarenakan kadar humus
yang terlalu tinggi akan memberikan
kegemburan tanah yang berlebihan.
Kemudian aturlah agar kelembaban tanah
selalu terjaga dimana kelembapan tanah
mempunyai pengaruh pada suhu tubuh
bonsai.
Perhatikan kondisi kadar air tanah saat
melakukan penyiraman, hindari
penumpukan air hanya pada satu bagian
saja. Kelebihan air tentunya dapat
membahayakan kesehatan tanaman.
Perawatan Bonsai
Dalam perawatan bonsai diperlukan
kesabaran. Langkah utama yang paling
diperlukan untuk merawat bonsai adalah
pemberian air, pupuk, pemangkasan
perkembangan cabang maupun ranting,
banyaknya cahaya, dan pencegahan
hama bagi tanaman bonsai.
Yang utama dalam merawat bonsai ini
adalah mengerti kebutuhan tanaman.
Kontinuitas pemberian kebutuhan
tanaman yang tepat, merupakan suatu
awal keberhasilan pembentukan bonsai.
Perlu diingat bahwa setiap jenis tanaman
kebutuhan akan faktor-faktor tumbuhnya
berbeda.
Pengairan
Ketelitian merupakan kata yang paling
tepat untuk melakukan pengairan
terhadap tanaman bonsai.
Tidak hanya rutinitas pengairan yang
dituntut disini tapi pengetahuan tentang
keperluan tanaman akan air merupakan
suatu keharusan yang tentunya
membutuhkan sebuah pengalaman dan
keahlian tersendiri dalam melakukan
pengairan.
Ada beberapa hal penting yang harus
diperhatikan dalam pengairan. Jenis
tanah adalah bagian yang harus
diperhitungkan dalam pengairan, artinya
kita akan mengukur tingkat kadar pH
dalam air demi memperoleh kecocokan
yang berkesinambungan dengan tanah
untuk memudahkan perkembangan akar.
Penentuan kapan waktu yang tepat
tanaman memerlukan air memerlukan
pengetahuan tersendiri dari masingmasing
jenis tanaman.
Bentuk pot
Bentuk pot juga harus diperhatikan
karena bentuk pot akan menjadi bahan
pertimbangan dari mana kita akan
mengucurkan air dan kemana air akan
350
jatuh agar penyiramannya menyeluruh
dan merata.
Suhu udara dan keadaan cuaca juga
cukup mempengaruhi kapan waktu yang
sangat tepat untuk melakukan
penyiraman.
Penyiraman yang berlebihan akan
menyebabkan kerusakan pada bonsai,
dan dapat menyebabkan berbagai hama
dan penyakit. Begitu juga sebaliknya
kekurangan air akan menyebabkan
tanaman menderita dan dapat berakibat
pada kematian.
Peralatan yang digunakan untuk
menyirami tanaman dapat menggunakan
gembor kecil dan alat ini umumnya
tersedia ditoko penjualan tanaman hias.
Pemupukan
Pemberian pupuk pada bonsai bukan
diperuntukkan untuk memacu
pertumbuhannya akan tetapi yang
terpenting untuk menjaga kesehatan
tanaman.
Pada dasarnya berbagai jenis pupuk
dapat digunakan, namun yang perlu
diperhitungkan adalah kandungan zat
didalam pupuk tersebut. Bonsai seperti
tanaman lainnya membutuhkan hara N, P
dan K.
Jumlah dan jenis hara yang akan
ditambahkan sebagai pupuk pada
perawatan bonsai tergantung pada jenis
tanamannya.
Nitrogen diperlukan oleh bonsai karena
zat ini mampu memberikan kesejukan
bagi akar. Perubahan kadar oksigen
dalam tanah dapat berkurang
dikarenakan adanya perubahan panas
suhu ruangan atau terjadinya kelembapan
tanah yang berlebihan, maka dibutuhkan
nitrogen sebagai keseimbangan kadar
oksigen didalam tanah.
Untuk fosfor zat ini mempunyai kegunaan
utama yaitu sebagai zat senyawa yang
dibutuhkan bagi kesehatan
perkembangan tanaman, dan kegunaan
kalium bagi bonsai adalah sebagai
pelengkap sinergi antara nitrogen dan
fospor.
Vitamin
Selain pupuk bonsai dapat juga diberi
vitamin. Kegunaan dari vitamin ini untuk
menambah daya tarik dari bonsai itu
sendiri seperti mengkilapnya daun,
kuatnya ranting dan sebagainya.
Pemangkasan perkembangan ranting dan
dahan
Seorang penanam bonsai dapat
menemukan keasyikannya dalam
merawat bonsai disaat perawatan ranting
dan daun. Saat perawatan ranting dan
daun inilah yang merupakan perwujudan
sisi kreatif manusia, yang tentunya tanpa
menghentikan perkembangan tanaman
itu sendiri. Pemangkasan yang baik
memerlukan alat pemangkasan yang
tepat.
Untuk pemakaian alat yang dibutuhkan
tergantung dengan apa yang hendak
dipangkas karena pemangkasan untuk
ranting, daun, pucuk, maupun serabut
akar diperlukan alat tersendiri.
Pemangkasan pada ranting biasakanlah
untuk memangkas bagian bawah ranting
yang tidak diinginkan, karena
pemotongan pada bagian itu akan
menghentikan pertumbuhan ranting yang
kita tidak inginkan.
Memangkas bagian daun juga harus
dilakukan tepat pada bagian awal
tumbuhnya daun. Pemangkasan serabut
akar harus dilakukan untuk mencegah
pertumbuhan serabut akar yang liar. Cara
memangkas yang baik adalah dengan
tidak menimbulkan bentuk luka yang
permanen pada bagian yang dipangkas.
Untuk alat pemangkasnya dapat anda
peroleh dari toko tanaman hias di sekitar
anda.
Cahaya
Seberapa banyaknya cahaya yang
diberikan, tergantung pada jenis
tanamannya.
Untuk bonsai yang dberada di dalam
ruangan maka setidaknya setidaknya
setiap pagi sinar matahari dari arah
jendela dapat digunakan untuk keperluan
cahayanya.
Jika keberadaan jendela juga tidak
memungkinkan maka sebagai pengganti
cahaya matahari dapat digunakan cahaya
lampu yang telah dirancang khusus untuk
keperluan tanaman bonsai.
351
Keperluan untuk cahaya buatan dapat
disesuaikan dengan keadaan iklim udara
dimana perawatan tanaman ini dilakukan.
Pengendalian hama dan penyakit
Pada dasarnya pencegahan hama akan
sangat terbantu apabila pemberian air,
pupuk, dan pemotongan ranting dilakukan
dengan teratur dan terukur. Bukan berarti
juga keteraturan tersebut menghilangkan
serangan hama, akan tetapi setidaknya
dapat menghindar dari seranganya
Tanaman yang dirawat secara baik, akan
berkurang serangan hama dan
penyakitnya karena tanam nya sehat,
sehingga ketahanannya juga meningkat.
Beberapa senyawa organik maupun
anorganik, dapat digunakan untuk
mengendalikan hama dan penyakit, yang
dosisinya disesuaikan dengan jenis dan
fase pertumbuhan tanaman.
9.8.7. TEKNIK
BUDIDAYA RUMPUT
a. Pendahuluan
Rerumputan mempunyai struktur
tersendiri yang memungkinkan untuk
bersaing di alam bebas dengan tumbuhan
lain dan menang.
Rumput banyak digunakan sebagai
penutup tanah pada lapangan bola, golf,
tempat tinggal, super mall dan
sebagainya.
Lapangan rumput merupakan bagaian
yang amat penting dari suatu lanskap
untuk mendukung keindahannya.
Disamping itu lapangan rumput ini juga
dapat digunakan untuk mencegah
terjadinya erosi.
Lapangan hijau ini bertindak sebagai
“karpet alami yang melindungi tanah dari
kondisi lingkungan yang jelek (suhu,
curah hujan, dan angina).
Kesehatan dan keindahan suatu padang
rumput sangat tergantung pada bagaiman
teknik budidaya yang dilakukannya.
Gambar 145 Lapangan rumput pada
halaman rumah
b. Perkembangbiakan Rumput
Rumput umumnya membiak dengan dua
cara yaitu generatif (biji) dan vegetatif.
Generatif (Biji)
Perbanyakan tanaman melalui biji, akan
menghasilkan individu baru yang
bergantung pada sifat kedua induknya.
Perkembangbiakan dengan cara ini
kadang-kadang menghasilkan anak yang
tidak menyerupai induknya.
Untuk penanaman rumput yang berasal
dari biji maka terlebih dahulu harus
disemai pada petak semaian atau bak
kecambah.
Ukuran petak semaian beraneka ragam
bergantung dari berapa luasan yang akan
ditanami dan jenis rumputnya.
Ada baiknya meletakkan tanah top soil
dan bahan organik dengan ketebalan 2
inchi, bahan organik ini akan membantu
pertumbuhan dan meningkatkan porositas
tanah sehingga memudahkan pindah
tanam.
Tanaman rumput baru dapat dipindah
tanam, setelah berumur lebih kurang 2
(dua) bulan.
Vegetatif
Perkembangbiakan secara vegetatif
dapat dilakukan melalui bahagianbahagian
tertentu rumput tersebut.
Biasanya stolon atau rhizome. Cara ini
biasa dilakukan untuk rumput-rumput
hybrid yang biasanya menghasilkan
bunga dan tidak dapat menghasilkan biji
352
(steril atau mandul). Cara ini akan
menghasilkan tumbuhan anak yang
mempunyai sifat sama dengan induknya.
Gambar 146 Bibit rumput gajah
Stolon ialah sejenis akar yang menjalar di
atas permukaan tanah, sedangkan rhizom
ialah akar yang menjalar di bawah
permukaan tanah.
Tiap jenis rumput akan mempunyai sifat
“stoloniferous” atau “rhizomatous” yang
akan menunjukkan bagaimana ia paling
mudah dibiakkan. Pucuk daun atau akar
akan keluar dari buku
Gambar 147 Stolon rumput
Gambar 148 Bagian-bagian rumput
Jika stolon atau rhizom yang mempunyai
buku ini jatuh pada habitat yang sesuai,
maka akan tumbuh akar untuk memulai
kehidupan sebagai suatu tumbuhan yang
baru.
Penanaman juga dapat dilakukan dengan
cara memisahkan anakan.
c. Jenis-jenis Rumput
Rumput gajah
Rumput gajah merupakan jenis rumput
yang paling banyak digunakan. Jenis ini
juga terbilang cepat tumbuh begitu
menyentuh tanah.
Harganya yang lebih terjangkau
membuatnya banyak dibeli orang. Dijual
sekitar Rp 5.000 per meter persegi,
rumput gajah bukan berarti remeh
pemeliharaannya. Mereka yang memilih
rumput gajah sebagai penutup tanah
harus siap-siap repot. Karena rumput ini
cepat bertambah tingginya, dan harus
dipangkas agar kelihatan indah.
Gambar 149 Rumput gajah
353
Rumput gajah mini
Sejak tahun 2000-an, rumput gajah mini
mulai dikenal publik. Awalnya, rumput
gajah mini dikembangkan di Bandung,
Jawa Barat.
Karakteristiknya yang lebih ‘bandel’
ketimbang pendahulunya rumput gajah
biasa membuat gajah mini cepat merebut
hati masyarakat.
Berbeda dengan rumput gajah biasa,
rumput gajah mini akan tumbuh baik di
tempat teduh. Di area sekitar bawah
pohon sekalipun.
Hingga kini, rumput gajah mini masih
terus digemari. Untuk memperoleh satu
meter persegi rumput gajah mini, peminat
harus merogoh uang senilai Rp 25 ribu.
Itu sudah termasuk jasa pemasangan.
Jasa tersebut ditawarkan lantaran rumput
gajah mini memerlukan perlakuan khusus
dalam penanamannya.
Hal tersulit dalam pemasangan rumput
gajah mini ialah menentukan kerapatan
tanamnya. Jika terlampau dekat, ia akan
tumbuh menebal di bagian tertentu.
Alhasil, permukaan tanah yang ditutupi
tak tampak mulus seperti permadani
hijau.
Rumput jepang
Rumput jepang dijual dengan kisaran
harga Rp 10 ribu per meter persegi.
Daunnya yang kurus tumbuh rapat. Kalau
tidak dipangkas sebulan sekali, bagian
bawahnya akan berwarna kekuningan.
Daun yang kuning ini disebabkan karena
sinar matahari tidak dapat menembus
sampai ke bagian bawah.
Rumput jepang perlu pupuk urea yang
lebih banyak dibandingkan dengan
rumput gajah mini. Dalam satu bulan, ia
harus dipupuk dua kali.
Rumput peking
Sebelum tahun 2000, rumput peking
sempat menjadi idola. Meski pesonanya
mulai redup, harga per meter perseginya
masih bertahan di angka Rp 10 ribu.
Penampilannya mirip rumput jepang
namun lebih jarang daunnya.
Rumput golf
Yang satu ini jarang diaplikasikan untuk
rumah tinggal. Karena rumput ini
tergolong rumput ”manja”.
Rumput golf ini cepat busuk jika
tergenang air, dan memerlukan resapan
yang baik berupa tumpukan ijuk, pasir,
batu, serta pipa untuk mengalirkan air di
bawah permukaan tanam. Rumput golf
ditawarkan seharga Rp 15 ribu hingga Rp
20 ribu.
Gambar 150 Padang golf
d. Pedoman Teknis
Persiapan lahan
Lahan yang dibutuhkan untuk bertanam
rumput dapat merupalan lahan yang rata
ataupun bergelombang tergantung tanah
yang tersedia.
Kemudian kita dapat membuat saluran
air, agar lahan rumput tidak tergenang air.
Persipan media Tanam
Analisa tanah (Soil test)
Tujuan utama dari analisa tanah ialah
untuk mengetahui unsur apa yang kurang
untuk tanah yang digunakan dan untuk
menentukan rumput jenis apa yang paling
sesuai untuk tanah tersebut.
Analisa tanah dapat dilakukan di
laboratorium-laboratorium yang
melaksanakan analisa hara tanah.
Pengairan
Untuk halaman yang luas, park, padang
bola atau golf, yang harus diperhatikan
adalah tata air tanah.
Beberapa saluran dibuat untuk mengatur
kelebihan air pada musim penghujan, dan
pemberian air pada musim kemarau.
Pertanaman rumput yang tergenang air
akan menyebabkan rumput menguning
dan akhirnya mati.
354
Untuk lapangan rumput yang luas
disamping saluran irigasi juga dibantu
dengan sprinkles, agar seluruh sudut
padang rumput terairi pada musim
kemarau.
Pengolahan tanah
Lakukan pengolahan tanah untuk
menyediakan media tanam yang gembur.
Untuk penanaman rumput yang luas,
misalnya untuk lapangan golf atau bola,
dapat di semprot dengan herbisida untuk
mematikan gulma.
Pembajakan
Untuk kawasan yang luas pengolahan
tanah dapat menggunakan mesin, akan
tetapi untuk kawasan kecil misalnya
halaman rumah atau mal kita dapat
menggunakan cangkul.
Pengolahan tanah ini berfungsi untuk:
– membongkar dan membalikkan
tanah
– meratakan pemberian kapur
pertanian
– meratakan permukaan tanah
Penggaruan
Penggaruan bermaksud untuk meratakan
permukaan tanah dan membuang
kotoran-kotoran seperti ranting pohon,
batu, gulma dari permukaan tanah.
Pembentukan lanskap
Sebelum dilakukan penanaman maka
terlebih dahulu dilakukan pembentukan
lanskap sesuai dengan keinginnan.
Pengaturan lanskap ini memberikan peta
pada bagian mana yang akan dilakukan
penanaman rumput.
Penanaman
Penanaman rumput dapat menggunakan
4 cara yaitu: bici, sod, sprig, dan stolon.
Biji/benih
Benih rumput dapat dibeli di kebanyakkan
supermarket dan di beberapa nursery.
Jenis rumput yang selalu ditanam melalui
biji adalah spesis Bermudagrass.
Sod/lempengan rumput
Yaitu lempengan rumput bersama
selapis tanah. Biasanya lempengan
rumput ini dijual dalam ukuran 30 x 30
cm, 1 x 1 m, atau dalam bentuk gulungan
seperti permadani.
Cara ini lebih sering digunakan karena
pertumbuhan rumput relatif lebih cepat
dibandingkan dengan metoda lainnya.
Rumpun
Cara ini sama seperti bertanam padi di
sawah. Bibit rumput dipisahkan atas
beberapa rumpun dan kemudian
mencucukkannya ke tanah pada jarak
tertentu.
Kita dapat membeli bibit rumput dalam
bentuk sod kemudian memisahmisahkannya
menjadi beberapa rumpun.
Gambar 151 Bibit rumput dalam bentuk
rumpun(A) penanaman rumpun
rumput di lapangan (B)
Gambar 152 Bibit rumput dalam bentuk
sod/lempengan
B
A
355
Gambar 153 Cara penanaman bibit di
lapangan
Rumput yang baru ditanam dalam bentuk
lempengan. perlu disiram dan dipukulpukul
agar akarnya menyatu dengan
tanah.
Pada tahap awal pindah tanam tanaman
ini, jangan diinjak dulu supaya cepat
tumbuhnya.
Pasca penanaman, rumput perlu disiram
tiga kali sehari. Guyuran air di pagi, siang,
dan sore hari selama satu minggu
pertama membantunya mendapatkan
kesegaran dan mempercepat proses
pertumbuhan.
Stolon
Stolon merupakan bahagian-bahagian
rumput yang dapat tumbuh, termasuk
juga rhizome dan batang rumput yang
mempunyai nod/buku untuk tumbuh
pucuk yang akan menjadi suatu
tumbuhan baru.
Cara paling mudah untuk menanam
rumput ialah dengan menggunakan
stolon.
Tetapi harus diingat bahawa stolon atau
sprig harus segera ditanam setelah
diambil dari sumber pembibitan.
Laju pertumbuhan bahan vegetatif ini
turun drastis kalau tidak segera ditanam.
Pemeliharaan
Pengendalian Gulma
Semua jenis rumput tak ada yang bebas
gulma. Tanaman pengganggu ini bisa
tumbuh di diantara rumput.
Sebelum merusak rumput, maka
pengendalian dapat dilakukan secara
mekanis dengan mencabut tumbuhan
pengganggu tersebut ataupun dengan
menyemprot dengan herbisida.
Pemangkasan
Pekerjaan memotong rumput turf adalah
membuat rumput ini dari panjang menjadi
pendek.
Pemotongan rumput ini dapat
menggunakan salah satu alat pemotong
rumput seperti Gambar 154 dibawah ini.
Gambar 154 Beberapa jenis alat
pemotong rumput
Pemupukan
Keperluan unsur hara dari masing-masing
tanaman berbeda satu sama lain.
Umumnya tanah-tanah daerah tropis
memiliki pH yang rendah (dibawah 6) dan
bersifat masam, kondisi ini membutuhkan
pengapuran yang jumlahnya bergantung
tinggi rendahnya pH tersebut.
Umumnya kita dapat menggunakan
kapur pertanian sebanyak 5-10kg/100m
persegi.
Pemberian hara pada tanaman rumput
mutlak diperlukan agar pertumbuhannya
indah.
356
Terdapat sekitar 16-17 unsur hara yang
dibutuhkan rumput.
Hilangnya hara pada rumputan dapat
disebabkan oleh terbawa panen, diambil
tanaman, pencucian, penguapan dan
sebagainya yang menyebabkan
berkurangnya hara dari dalam tanah.
Peningkatan produktivitas tanah ini dapat
dilakukan dengan penambahan berbagai
hara.
Kapan kita harus melakukan pemupukan
tergantung pada:
– Kebutuhan tanaman
– Kondisi hara pada tanah
Jumlah pupuk yang diberikan pada tanah
tergantung pada:
– Analisa tanah
– Analisa tanaman

Penambahan pupuk urea akan
melancarkan proses adaptasi rumput
gajah ke lingkungan barunya cukup satu
kali dalam sebulan pertama. Selanjutnya,
berikan pupuk urea tiga bulan sekali.
Belakangan ini dikenal soil conditioner
(kondisioner tanah) sebagai campuran
media tanah.
Untuk luasan 2m2 tanah dicampur 1 kg
kondisioner tanah berbahan copolymer
asam acrylamide dan acrylic.
Pertumbuhan rumput menjadi prima
selama 2 tahun. Pemberian kondisioner
tanah membantu rumput beradaptasi
pada kondisi kekeringan.
Kondisioner tanah ialah bahan yang
mampu membuat kondisi tanah atau
media menjadi lebih baik. Umumnya sifat
tanah yang diperbaiki meliputi: struktur
tanah, aerasi dan drainase tanah, serta
kemampuan memegang air dan hara
tanah
Dewasa ini tujuan utama konsumen
memakai kondisioner untuk menstabilkan
struktur tanah
Pengairan/Penyiraman;
Pada awal penanaman rumput disiram 3
kali sehari, setelah itu, cukup disiram dua
kali sehari.
Teknik pengairan yang betul berdasarkan
pada:
– Jumlah air yang di siram tidak
menyebabkan air tergenang, dan
sebaiknya dilakukan per periodik
yang disesuaikan dengan fase
pertumbuhan dan jenis rumput
yang ditanam.
– Waktu penyiraman paling baik
dilakukan sewaktu suhu masihg
rendah, sebaik-baiknya waktu
awal pagi, atau sore hari
Penyiraman jangan diberikan secara
langsung, akan tetapi hendaknya
menggunakan alat (gembor) sehingga
tanah tidak padat.
Lakukan penyiraman jarang-jarang akan
tetapi jumlahnya banyak. Hal ini akan
merangsang akar rumput untuk tumbuh
panjang karena berusaha untuk mencari
air.
Topdressing
Topdressing adalah menabur pasir,
tanah, atau campuran bahan-bahan lain
(contohnya zeolite atau bahan organik) ke
atas permukaan rumput dan di masukkan
ke dalam celah-celah rumput dengan
menyiramkannya. Perlakuan ini dapat
dilakukan sebulan sekali atau dua minggu
sekali bergantung keadaan tanaman
rumput.
e.Rumput dan Permasalahannya
Rumput merupakan tanaman yang manja,
sifat kemanjaan rumput ini salah satu
penyebabnya adalah akarnya
Untuk menentukan apakah tanaman kita
cukup kebutuhan hara atau sedang
mengalami cekaman maka berikut ini
beberapa contoh dan cara untuk
mengatasinya. yang pendek dan
sebarannya tidak luas.
357
Terkena tumpahan zat kimia
Pupuk,
racun atau
minyak.
Jika tertumpah pupuk
minyak, atau racun
lakukan pencucian agar
racunnya terlarut, jika
masih dapat dikutip
kutiplah tumpahan tadi.
Kotoran Kawasan ini akan mati
dan kelilingnya berwarna
hijau. Siram dengan air
bagian yang terkena
kotoran atau kencing ini.
Pemadatan
tanah
karena
sering
dipijak
Lahan rumput yang
tanahnya sudah pada
akibat pijakan dan
sebagainya memerlukan
pengudaraan. Gunakan
cangkul dan
tambahkan bahan
organik , lalu lakukan
penanaman kembali jika
rumput tidak pulih
setelah diberi perlakuan.
Potonga
terlalu
rendah
Akan menyebabkan
daun rumput terpotong
hingga nampak batang
atau akar. Kurangi
pemotongn.
Stres
Kelebihan
atau
kekurangan
air
Kurangi penyiraman jika
curah hujan tinggi.
Kelebihan
atau
kekurangan
pupuk
Terlalu banyak pupuk,
pertumbuhan terlalu
cepat. Jika terlalu
sedikit akan
menyebabkan rumput
kurus.
Terlalu
banyak
racun
Racun kimia yang
banyak dapat
‘membakar’ rumput.
Kekurangan hara (defisiensi)
Nitrogen Daun tua akan berwarna
hijau muda. Pertumbuhan
lambat . Penambahan pupuk
N sedikit akan kelihatan
perbedaannya dibandingkan
dengan tidak dipupuk. Untuk
rumput taman, stadium atau
padang golf; pemupukan
dilakukan sesuai dengan
anjuran.
Zat besi Kekurangan hara ini akan
menyebabkan daun muda
berwarna kuning.
Pertumbuhan lamban.
Air Rumput mengering. Bila di
pijak atau di tekan, rumput
lambat untuk kembali ke
bentuk semula kondisi ini
disebut ‘footprinting’ , segera
lakukan penyiraman
Gambar 155 Dua jenis rumput yaitu
rumput golf (kiri) dan rumput
gajah (kanan)
358
LAMPIRAN A
359
DAFTAR PUSTAKA
Abidin. 1990. Dasar-Dasar Pengetahuan
tentang Zat Pengatur Tumbuh,
Angkasa, Jakarta.
Access South Bonsai information.
Perawatan sederhana Bonsai.
Diakses 25 Februari 2008
Access South Bonsai information.
Memualai Bertanam Bonsai. Diakses
25 Februari 2008
Aggangan, N.S. B.Dell and N. Malajczuk,
1998. Effects of chromium and nickel
on growth of the ectomycorrizal
fungus Pisolithus and formation
of ectomycorrizas on Eucalyptus
urophylla S.T. Blake. Geoderma 84 :
15-27.
Anggrek@yahoogroups.com. Vanda
Metusalae Anggrek Baru dari
Indonesia. Diakses 23 januari 2008
Agustina, L., 2004.Dasar Nutrisi
Tanaman, PT Rineka Cipta, Jakarta.
Agroklimat, Badan Litbang Pertanian.
Asahi Chemical MFG.Co ltd.1980. Atonik
a New Plant Stimulant. Japan.
Al-Kariki, G.N., 2000. Growth of
mycorrhizal tomato and mineral
acquisition under salt stress.
Mycorrhiza J. 10/2 : 51-54.
Ali, G.M., E.F. Husin, N. Hakim dan Kusli,
1997. Pemberian mikoriza vesikular
asbuskular untuk meningkatkan
efisiensi pemupukan fosfat tanaman
padi gogo pada tanah Ultisols
dengan perunut 32P. p. 597- 605
dalam Subagyo et al (Eds). Prosiding
Kongres Nasional VI HITI, Jakarta,
12-15 Desmber 1995.
Suprapto SS. 2007. Budidaya
Tembakau. http://72.14.235.104/se
arch?q=cache:k- UhXqs_TKkJ:
www.ekol ogi.litbang.depkes.go.id
/data/vol%25202/SSuprapto2_3.pdf
+Budidaya+tembakau&hl=id&ct=cln
k&cd=6&gl=id. Diakses tanggal 19
September 2007. 1 page.
http://id.Wikipedia.org/wiki. bawang
Merah. Diakses 24 januari 2008
http://72.14.235.104/search?q=cache:
k-UhXqs_TKkJ:www.ekologi.litba
ng.depkes.go.id/data/vol%25202/
SSuprapto 2_3.pdf+Budidaya+tem
bakau&hl=id&ct=clnk&cd=6&gl=id2
007. Budidaya Tembakau.. Diakses
tanggal 19 September 2007. 1 page.
http://warintek.bantul.go.id/web.php?mod
=basisdata&kat=1&sub=2&file=32b.
,2007. Budidaya Tembakau Virginia.
Diakses tanggal 19 September 2007.
1 page.
http://www.boyolali.go.id 2007. Kebun.
Diakses tanggal 19 September 2007.
1 page.
Acquaah G. 199. Horticulture Principles
and Practices. Prentice-Hall, Inc.
United States of America.
Azcon, R. and F. El-Atrash, 1997. Influence
of arbuscular mycorrhizae and
LAMPIRAN A
360
phosphorus fertilization on growth,
nodulation an N2 fixation (15N) in
Medicago sativa at four salinity level.
Biol. Fertil. Soils 24 : 81-86.
Ba, A.M., K.B. Sanon , R. Doponnois, and
J. Dexheimer, 2000. Growth response
of Afselia africana Sm. seedlings
to ectomycorrhizal inoculation in a
nutrientdeficient soil. Mycorrhiza J.
9/2 : 91-95.
Badan Agribisnis Departemen Pertanian
bekerjasama Penerbit Kanisius.
1999. Kelayakan Investasi Agribisnis
I (Pisang, Durian, jeruk, alpukat).
Kanisius. Yogyakarta
Badan Penelitian dan Pengembangan
Pertanian. 1992.
Baharsyah, J.S. 2007. Mengonveri Air
dengan Limbah Pabrik Gula. Fakultas
Pertanian IPB. www. google.com
Baharsyah, J.S. 2007. Mengonveri Air
dengan Limbah Pabrik Gula. Fakultas
Pertanian IPB. www. google.com
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (
BPTP ) Sulawesi Selatan: http://sulse
l.litbang.deptan.go.id/Online version:
http://sulsel.litbang.deptan.go.id/mod
.php?mod=buletin&op=viewarticle&c
id=1&artid=17
Baon, J.B. 1996. Blotong Sebagai Bahan
Organik dan Hara Bagi Pertanaman
Kakao, Balai Penelitian Perkebunan
Jember.
Bertanaman Rambutan. Panebar
Swadaya.
Bonus Trubus no. 342. 1998. Analisis
Komoditas Kebal Resesi.
BPPT, Gd.1 – Lt.16 , Jl. M.H. Thamrin 8,
Jakarta 10340 Telpon : (021) 3168701
– 02, Fax. (021)3149058
BPPT, Gd.1 – Lt.16 , Jl. M.H. Thamrin
8, Jakarta 10340 Technical Support
(021)71112109; Customer Care
081389010009; Fax. (021)3149058
bptp-jatim@litbang.deptan.go.id; bptp_
jatim@yahoo.com.
Buckman, H.O dan N.C Brady. 1982. Ilmu
Tanah.TerjemahanSoegiman.Bratara
Karya Aksara Jakarta.
Budi Samadi, Ir. 1997. Usaha Tani
Kentang. Penerbit Kanisius.
Yogyakarta
Budidaya Tanaman Anthurium. Balai
Pengkajia Teknologi Pertanian
KarangplosoInstalasi Penelitian
Dan PengkajianTeknologi Pertanian
Wonocolo
Cahyono, B., 1998. Tembakau: Budidaya
dan Analisis Usaha Tani. Kanisius,
Yogyakarta.
Chan, E. (2000). Tropical fruits of Malaysia
& Singapore. Hong Kong: Periplus
Editions. (Call no.: RSING 581.95957
CHA) Purdue University, Centre for
new crops & plant products. (1995).
New crop factsheet: Rambutan.
Retrieved on February 11, 2003.
Chang, S-t, J.A. Bushwell & S-w. Chiu.
1993. Mushroom Biology and
Mushroom Products. Nam Fung
Printing Co., Ltd.
Contributor Francis T. Zee, 1995.
Nephellium Sp. USDAARS, National
Clonal Germplasm Repository, Hilo,
LAMPIRAN A
361
HI. Pardue Uiversity (center for New
crops & Plant product.
Cruz, 1995. Mechanism of drought
resistance in Pterocarpus indicus
enhanced by inoculation with VA
mycorriza and Rhizobium. Biotrop
Spec. Publ.No56 : 131-137. Biology
and Biotechnology of Mycorrhizae.
Cruz, A.F., T. Ishii, and K. Kadoya., 2000.
Effect of arbuscular mycorrhizal fungi
on tree growth, leaf water potential,
and levels of 1-aminocyclopropane-
1-carboxylic acid and ethylene in the
roots of papaya under water stress
conditions. Mycorrhiza J. 10/3 : 121-
123.
C.T. Wheeler, I.M. Miller, R. Narayanan,
D.Purushothaman
Daswir dan L, Panjaitan. 1981.
Perkembangan Kelapa Sawit
diIndonesia.ProsidingKonp.Budidaya
Karet dan Kelapa Sawit. BPPM.p189-
198.
Departemen Pertanian. 2005. Organisme
Pengganggu Utama Tomat
Dinas Pertanian dan Kehutanan
Kabupaten Bantul Jalan KH. Wahid
Hasyim 210 Palbapang Bantul 55713
Telp. 0274-367541
Duriat AS. Budidaya cabai Sehat.
Balai penelitian tanaman Sayuran
lembang. Bandung.
Endang, S. R. 2001. FORKOMIKRO.email
:endangyk@yogya.wasan
tara.net.id
Graham H. N.; Green tea composition,
consumption, and polyphenol
chemistry; Preventive Medicine
21(3):334-50 (1992).
Gandjar, I. 1993. Microbial utilization of
agricultural waste for food. UNESCO
Regional Training Workshop on
Advances in Microbial Processings
for th Utilization of Tropical Raw
Materials in the Production of Food
Products. Los Banos, The Philippines.
October 11-20, 1993.
Februari 2000 Editor : Kemal Prihatman
Fleibach, A.R. Martens and H.H. Reber,
1994. Soil microbial biomass and
microbial activity in soil treated with
heavy metal contaminated sewage
sludge. Soil Biol. Biochem. 26 (9):
1201 – 1205.
Fitter AH dan Hay RKM. Fisiologi
Lingkungan Tanaman.Gadjah mada
Universiy Press. Yogyakarta
Fragrant Orchids.mht. Orchid of
Indonesia
Hakim,N;M.Y.Nyakpa;A.M.Lubis;
S.G.Nugraha;M.R.Saul;M.A.Diha;Go
Ban Hong dan H.H. Beiley. 1986.
Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas
Lampung, Lampung.
Heddy, S. 1996. Hormon Pertumbuhan,
Program Penulisan Proyek Pelita
DEPDIKBUD dan Pelaksanaan
Pendidikan Diploma (DIII) Universitas
Brawijaya. Rajawali Press. Jakarta.
Heddy Suwasono. 1987. Biologi Pertanian
(Tinjauan singkat tentang anatomi,
fisiologi, sistematika, dan genetika
dasar tumbuhtumbuhan. Rajawali
pers. Jakarta.
LAMPIRAN A
362
Hong Kong.Desmeth, P. 1999.
Microorganisms Sustainable Use
and Access Regulation International
Code of Conduct. MOSAICC.
Directorate General XII Science,
Research and Development of the
Commission of theEuropean Union.
Belgian Coordinated Collections of
Microorganisms, Brussels, Belgium.
http://www.anisorchid.com. Anggrek Lain.
Diakses 15 Januari 2008
http://www.my normas.com// Rumput
apa?. Diakses 15 januari 2008
http://www.my normas.com// cara-cara
Rumput membiak Diakses 15 januari
2008
http://www.my normas.com// Jenis-jenis
Rumput Turf. Diakses 15 januari
2008
http://www.my normas.com// Masalahmasalah
Rumput Turf. Diakses 15
januari 2008
http://www.my normas.com// Nama
Scientifik. Diakses 15 januari 2008
http://www.my normas.com// Penanaman
Diakses 15 januari 2008
http://www.my normas.com// Penyediaan
Tapak Diakses 15 januari 2008.
http://warintek.bantul.go.id/web.php?mo
d=basisdata&kat=1&sub=2&file=32
., 2007. Budiaya Tembakau Virginia.
Diakses tanggal 19 September 2007.
1 page.
http://www.boyolali.go.id/isi/isi_pt
s.asp?isi=kebun. 2007. Kebun.
Diakses tanggal 19 September 2007.
1 page.
http://en.wikipedia.org/wiki/Hydro ponics
Diakses 15 januari 2008
http://id.wikipedia.org/wiki/Fotosintesis”
Diakses 15 januari 2008
http://tabloidgallery.wordpress.com/2007/
09/29/begonia/ Diakses 15 januari
2008
http://warintek.bantul.go.id/web.php?mo
d=basisdata&kat=1&sub=2&file=32
September 2000
http:// warintek.progressio.or.id/-by rans,
2006. Diakses 15 januari 2008
http://whatcom.wsu.edu/ Diakses 15
januari 2008
http://www.deptan. .go-id/ Diakses 15
januari 2008
http://www.orchid.or.jp/ Diakses 15
januari 2008
http://www.ristek.go.id Diakses 15 januari
2008
http://www.votawphotography.com.com.
teknik
http://id.wikipedia.org/wiki/Bunga_
matahari” Diakses 23 Januari 2008
http://agrolink.moa.my/doa/bdc/
bungaros.html. diakses 23 Januari
2008
http://www.agromedia.net/component/
option.com_banner//Itemid,o/
task,click.bid,3.Membentuk Bonsai
Adenium. Diakses 23 januari 2008.
“http://id.wikipedia.org/wiki/Bonsai”
diakses 18 Februari 2008
http://www.mynormas.com/ caracara
Rumput membiak. Diakses 25
Februarai 2008
LAMPIRAN A
363
http://www.mynormas.com/Amalan
Kultura Diakses 25 Februarai 2008
http://www.mynormas.com/ jenisjenis
Rumpurt Turf. Diakses 25 Februarai
2008
www.mynormas.com masalahmasalah
Rumputr Turf. Diakses 25 Februarai
2008
www.mynormas.com. Penanaman.
Diakses 25 Februarai 2008
http://www.mynormas.com. Penyediaan
tapak. Diakses 25 Februarai 2008
http://www.mynormas.com/ Diakses 25
Februarai 2008
http://www.mynormas.com/ Top dressing.
Diakses 25 Februarai 2008
http://ms.wikipedia.org/wiki/Hidroponik.
Diakses 25 Februarai 2008
http://groups.yahoo.com/group/
agromania/BUDIDAYA TANAMAN
KAKAO, Persiapan Naungan dan
Pangkasan Bentuk.
http://www.pustakadeptan. go.id/agritek/
ppua 0148.pdf. Budidaya Tanaman
karet Diakses 25 Februarai 2008
“http://id.wikipedia.org/wiki/Ercis” Diakses
25 Februarai 2008
Pusat penelitian & Pengembangan
Hortikultura. Pengeringan Sayuran.
Diakses 25 Februarai 2008
Pusat Penelitian & Pengembangan
Hortikultura. Jenis kentang. Diakses
23 januari 2008.
Pusat Penelitian & Pengembangan
Hortikultura. Budidaya Bawang
Merah. Diakses 23 januari 2008.
Pusat Penelitian & Pengembangan
Hortikultura. Jenis Tomat. Diakses 23
januari 2008.
Pusat penelitian & Pengembangan
Hortikultura. Budidaya Tanaman
Buncis rambat. Diakses 23 januari
2008
Pusat penelitian & Pengembangan
Hortikultura.tanaman Sayur Cabai..
Diakses 23 januari 2008
Indonext.com. Budidaya Cabe dalam
Polybag. Diakses 23 Januari 2008.
IPTEKnet. All rights reserved Office :
BPPT, Gd.1 – Lt.16 , Jl. M.H. Thamrin
8, Jakarta 10340 Technical Support
(021)71112109; Customer Care
081389010009; Fax. (021)3149058
Seledri. Diakses 23 januari 2008
IPTEKnet. Bawang merah rights
reserved Office : BPPT, Gd.1 – Lt.16
, Jl. M.H. Thamrin 8, Jakarta 10340
Technical Support (021)71112109;
Customer Care 081389010009; Fax.
(021)3149058
Imas, T., R.S. Hadioetomo, A.W. Gunawan
dan Y. Setiadi, 1989. Mikrobiologi
Tanah II. Depdikbud Ditjen Dikti,
Pusat Antar Universitas Bioteknologi,
IPB.
Interstate publisher. 1998. Western
Fertilizer Handbook. United Stated
Amerika.
Indonext.com. Teknik Budidaya Bawang
Merah. Diakses 12 Januari 2008
Isroi, S.Si, M.SiPeneliti Mikroba Balai
Penelitian Bioteknologi Perkebunan
Indonesia Lembaga Riset
Perkebunan Indonesia Jalan Taman
LAMPIRAN A
364
Kencana No. 1 Bogor 16151 Telp.
0251 324048/327449 Fax. 0251
328516 Email:mailto:ipardboo@in
do.net.id; mailto:isroi@ipard.com
info@duniaflora.com. 2007. Hijau
Rumput berkat kondisioner. Diakses
27 Januari 2008
Jana Arcimovicová, Pavel Valícek (1998):
Vune caje, Start Benešov. ISBN 80-
902005-9-1 (in Czech) Jahe (Zingiber
Officinale) Sumber: Sistim Informasi
Manajemen Pembangunan di
Perdesaan, BAPPENAS, Jakarta,
Joner, E.J. and C. Leyval, 2001. Influence
of arbuscular mycorrhiza on clover
and ryegrass grown together in a
soil spiked with polycyclic aromatic
hydrocarbons. Mycorrhiza J. 10/4 :
155-159.
Joiner, J.N. 1981. Foliage Plant
Production, Prent Production.
Prentice- Hall Englewood Cliffs, New
Jersey.
Jumin HB, 1994, dasar-dasar Agronomi.
PT Rja Gafindo persada. Jakarta.
Jana Arcimovicová, Pavel Valícek (1998):
Vune caje, Start Benešov. ISBN 80-
902005-9-1 (in Czech)
Kabirun, S. and J. Widada, 1995.
Response of soybean grown
on acid soil to inoculation of
vesiculararbuscular mycorrhizal
fungi. Biotrop Spec. Publ.No56 : 131-
137. Biology and Biotechnology of
Mycorrhizae.
Kanisius an badan Agribisnis Departemen
pertanian. Kelayakan investasi
Agribisnis 1 (Pisang, Durian, Jeruk
Alpukat). Jakarta
Kantor Wilayah Departemen Pertanian
Propinsi Maluku. 1996.Pertanian
Maluku dalam Prospek Agribisnis.
Kantor Wilayah. Departemen
Pertanian Propinsi Maluku, Ambon.
hlm 4.
Kantor Statistik Propinsi Maluku. 2000.
Maluku dalam Angka.
Kantor Statistik Propinsi Maluku, Ambon.
hlm 246.
Kartasapoetra AG. Dan Mulyani Sutedjo.
Teknologi Pengairan Pertanian
Irigasi.1994. Bumi Aksara. Jakarta.
Khan, A.G., 1993. Effect of various
soil environment stresses on
the occurance, distribution and
effectiveness of VA mycorrhizae.
Biotropia 8 : 39-44.
Khan, M.H., 1995. Role of mycorrhizae
in nutrient uptake and in the
amelioration of metal toxicity. Biotrop
Spec. Publ.No56 : 131-137. Biology
and Biotechnology of Mycorrhizae.
Killham, K, 1994. Soil ecology. Cambridge
University Press
Kim, K.Y., D. Jordan, and McDonald,
1998. Effect of phosphate-solubilizing
bacteria and vesiculararbuscular
mycorrhizae on tomato growth and
soil microbial activity. Biol. Fertil. Soils
26 : 79-87.
Kirsop B.E. & J.J. Snell (eds.). 1982.
Maintenance of Microorganisms.
A Manual of Laboratory Methods.
Academic Press, Inc. London.
LAMPIRAN A
365
Komagata, K. 1994. Background of
Microbial Industry in Japan. In:
Komagata, K., T. Yoshida, T. Nakase,
H. Osada. (eds.). Proceedings of the
International Workshop on Application
and Control of Microorganisms in
Asia, pp. 1-11. March 14-18, 1994,
Science and Technology Agency,
Tokyo, Japan.
Kusumo, S. 1990. Zat Pengatur
TumbuhTanaman. Jasa Guna,
Jakarta.
Lamina. 1989. Kedelai dan
Pengembangannya. CV Simplex,
Jakarta.
Lembar Informasi Pertanian (LIPTAN)
LPTP Koya Barat, Irian Jaya No.
02/99
Lembar Informasi Pertanian (LIPTAN)
BIP Irian Jaya No. 109/92 Diterbitkan
oleh: Balai Informasi Pertanian Irian
Jaya Jl. Yahim – Sentani – Jayapura
Budidaya Tanaman Karet.
Lima Tahun Penelitian dan
Pengembangan Pertanian 1987-
1991. BadanPenelitian dan
Pengembangan Pertanian, Jakarta.
hlm. 14.
Lingga, P. 1994. Petunjuk Penggunaan
Pupuk. Penebar Swadaya, Jakarta.
Loka Pengkajian Teknologi Pertanian
Koya Barat
Lozano, JMR., and R. Azcon, 2000.
Symbiotic efficiency and effectivity
of an autochthonous arbuscular
mycorrhizal Glomus sp. from saline
soils and Glomus deserticola under
salinity. Mycorrhiza 10/3 : 137-143.
Mahisworo, Kusno Susanto dan Agustinus
Anung, Bertanam Rambutan;
Jakarta:
Malaysian Agricultural Research and
DevelopmentInstitute,MARDI,G.P.O.
Box 12301, Kuala Lumpur, 50774
Malaysia Chanthaburi Horticultural
Research Center, Amphur Kloong,
Chanthaburi, Thailand USDA/
ARS, National Clonal Germplasm
Repository, P.O. Box 4487, Hilo,
Hawaii 96720, U.S.A.
Masiworo, Sutanto K dan Anung A. 1990.
Lembar Informasi Pertanian (LIPTAN)
BIP Irian Jaya No. 136/93 Diterbitkan
oleh: Balai Informasi Pertanian Irian
Jaya Jl. Yahim – Sentani – Jayapura.
Matnawi, H., 1997. Budidaya Tembakau
Bawah Naungan Karet
Matsuo T dan Hoshikawa. 1993. Science
of The Rice Plant. Morphology. Nosan
Gyoson Bunka Kyokai. Tokyo
McGonigle, T.P.M. and M.H. Miller,
1993. Mycorrhizal development and
phosphorus absorption in maize
under conventional and reduced
tillage. Soil Sci. Soc. Am. J. 57 (4) :
1002-1006.
Morte, A., C.Lovisolo and A. Schubert,
2000. Effect of drought stress
on growth and water relations
of the mycorrhizal association
Helianthemum almeriense – Tervesia
claveryi. Mycorrhiza J. 10/3 : 115-
119.
Munyanziza, E., H.K. Kehri, and
D.J. Bagyaraj, 1997. Agricultural
intensification, soil biodeversity and
agroecosystem function in the tropics
LAMPIRAN A
366
the role of mycorrhiza in crops and
trees. Applied Soil Ecology 6 : 77-85.
Nakase, T. 1998. Asian Network on
Microbial Researckes (ANMR):
Promotion of Microbiology and
Biotechnology in Asian Region.
International Conference on Asian
Network on Microbial Researches.
Gadjah Mada University, Yogyakarta,
February 23-25.
Nuhamara, S.T., 1994. Peranan mikoriza
untuk reklamasi lahan kritis. Program
Pelatihan Biologi dan Bioteknologi
Mikoriza.
Oliveira, R.S., JC. Dodd and PML.
Castro, 2001. The mycorrhizal status
of Pragmites australis in several
polluted soils and sediments of an
industrialised region of Northern
Portugal. Mycorrhiza J. 10/5 : 241-
247.
Pracaya. 1989. Bertanam mangga.
Penebar Swadaya. Jakarta
Prada@com. Rumput penutup tanah
yang paling ideal
Penebar Swadaya, 1991, cet ke-3. 80p;
21 cm.
Pierce LC. 1987. Vegetables
characteristics, production, and
Marketing. John Wiley and Sons.
United States of America.
pn8.co.id. Budidaya Teh
Poedjiwidodo Y. 1996. Sambung Samping
Kakao.Trubus Agriwidya Ungaran
Pusposutarjo S. 2001. Pengembangan
irigasi (Usaha tani berkelanjutan
dan gerakan hemat air. Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi
Departemen Pendidikan nasional.
Rahardi F.; Rina Nirwan S. dan Iman
Satyawibawa, Agribisnis tanaman
perkebunan. Jakarta: Penebar
Swadaya, 1994. Vi + 67p; ilus.; 21 p.
Rambutans set to become mainstream
fruit Copyright © 2001-6, The
Australian Nutrition Foundation Inc
(Nutrition Australia is the registered
business name for the Australian
Nutrition Foundation Inc) – All rights
reserved Disclaimer – Privacy Policy
Rani, D.B.R., S. Ragupathy and A.
Mahadevan, 1991. Incidence of
vesicular – arbuscular mycorrhizae
(VAM) in coal waste. Biotrop Special
Publ. 42 : 77-81 in Soerianegara
and Supriyanto (Eds) Proceedings
of Second Asean Conference on
Mycorrhiza.
Rao, N.S Subha, 1994. Mikroorganisme
tanah dan pertumbuhan tanaman.
Edisi Kedua. Penerbit Universitas
Indonesia.
Ratledge, C. 1992. Biotechnology:
the socioeconomic revolution? A
synoptic view of the world status
of biotechnology. In : DaSilva, E.J.,
C. Ratledge, A. Sasson (eds.).
Biotechnoloy, economic and social
aspects. Issues for developing
countries. Cambridge University
Press.
Saono, S. 1994. Non-medical application
and control of microorganisms in
Indonesia. In: Komagata, K. , T.
Yoshida, T. Nakase & H. Osada. (eds.).
Proceedings of the International
LAMPIRAN A
367
Workshop on Application and Control
of Microorganisms in Asia, pp 39-60.
March 14-18, 1994. Science and
Technology Agency, Tokyo, Japan.
Sasson, A. 1998. Biotechnologies in
developing countries: present and
future Volume 2: International cooperation.
UNESCO Publishing
Imprimerie PUF, France. Steinkraus,
K. H. (ed.) 1996. Handbook of
indigenous fermented foods. 2nd
revised and expanded edition. Marcel
Dekker. New York.
Singh, S., and K.K. Kapoor, 1999.
Inoculation with phosphatesolubilizing
microorganisms and a
vesicular-arbuscular mycorrhizal
fungus improves dry matter yield
and nutrient uptake by wheat grown
in a sandy soil. Biol. Fertil. Soils 28 :
139-144.
Soepardi.1979. Sifat dan Ciri Tanah I.
IPB.Bogor
T. Yamamoto, M Kim, L R Juneja (editors):
Chemistry and Applications of Green
Tea, CRC Press, ISBN 0-8493-4006-
3
Solaiman, M.Z., and H. Hirata, 1995.
Effect of indigenous arbuscular
mycorrhizal fungi in paddy fields on
rice growth and NPK nutrition under
different water regimes. Soil Sci.
Plant Nutr., 41 (3) : 505-514.
Splittstoesser WE. 1984. Vegetables
Growing Handbook. Van Nostrand
Reinhold Company.New York.
Sudarmo, S., 1991. Tembakau :
Pengendalian Hama dan Penyakit.
Kanisius, Yogyakarta.
Sumarno. 1993. Teknik pemuliaan
kedelai. Dalam S. Somaatmadja,
M. Ismusnadji, Sumarno, M. Syam,
S.O. Manurung, dan Yuswadi (Ed.).
Kedelai. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Tanaman Pangan,
Bogor. hlm. 243-261.
Surono, I.S. & A. Hosono. 1994. Microflora
and their enzyme profile in terasi
starter. Biosc. Biotech. Biochem. 58
(6): 1167-1169.
Thomas, R.S., R.L. Franson, and G.J.
Bethlenfalvay, 1993 Separation of
arbuscular mycorrhizal fungus and
root effect on soil aggregation. Soil
Sci. Soc. Am. J. 57 : 77-81.
Van Wambake A. 1991. Soil of the Tropic
(properties and apprasial) McGraw-
Hill, Inc.Toronto.
Widada, J, dan S. Kabirun, 1997. Peranan
mikoriza vesikular arbuscular dalam
pengelolaan tanah mineral masam. p.
589-595 dalam Subagyo et al (Eds).
Prosiding Kongres Nasional VI HITI,
Jakarta, 12-15 Desmber 1995.
Widyawan R dan Prahastuti S. 1994.
Bunga Potong. Pusat dokumentasi
dan Informasi Ilmiah. LIPI. Jakarta
Wright, S.F. and A. Upadhyaya, 1998.
A survey of soils for aggregate
stability and glomalin, a glycoprotein
produced by hyphae of arbuscular
mycorrhizal fungi. Plant and Soil 198
97 – 107.
www.hort.purdue.edu/newcrop/cr
opfactsheets/Rambutan.html
www.irwantoshut.com
www.irwantoshut.com
LAMPIRAN A
368
www.naturalnusantara.,co.id. 2008
Budidaya karet. Diakses 23 Januari
2008
www.perkebunan.litbang.deptan.go.id.2
007. Tembakau. Diakses tanggal 15
November 2007. 1 page.
www.wikipedia.org. 2007. Tembakau.
Diakses tanggal 15 November 2007.
1 page.
www.warintek.com. 2007. Tembakau
(Nicotiana tabacum L.). Diakses
tanggal 15 November 2007. 4 pages.
www.perkebunan.litbang.deptan.go.id.,
2007. Tembakau. Diakses tanggal 15
November 2007. 1 page.
www.wikipedia.org. 2007. Tembakau.
Diakses tanggal 15 November 2007.
1 page.
www.warintek.com. 2007. Tembakau
(Nicotiana tabacum L.). Dikutip dari:
Diakses tanggal 15 November 2007.
4 pages.
www.balittas.info/index.php?option=isi&
task=view&id=16&Itemid=50 – 75k
– Cached. 2007. Balittas. Diakses
tanggal 20 September 2007. 1 page
Zaini, Z., T. Sudarto, J. Triastoro, E. Sujitno
dan Hermanto, 1996. Usahatani
lahan kering : Penelitian dan
Pengembangan. Proyek Penelitian
Usahatani lahan Kering. Pusat
Penelitian Tanah dan Agroklimat.
Bogor
Zarate, J.T. and R.E. Dela Cruz, 1995.
Pilot testing the effectiveness of
arbuscular mycorrhizal fungi in the
reforestation of marginal grassland.
Biotrop Spec. Publ.No56 : 131-
137. Biology and Biotechnology of
Mycorrhizae.
Zedan, H. 1992. The economic value of
microbial diversity. Key note paper
presented at the VIIth International
Conference for Culture Collections.
Beijing, China. October 1992.
LAMPIRAN B
369
GLOSARIUM
Analisa hara pupuk : menyatakan berapa jumlah relatif dari N, P2O5,dan K2O
dalam pupuk tersebut
ATP (Adenosine Triposfat) : satuan pertukaran energi dalam sel.
Aerasi : Tata udara tanah
Allelopati :
Auksin : zat tumbuh yang pertama ditemukan yang bekerja
pada proses perpanjangan atau pembesaran sel.
Bekerjanya pupuk : adalah waktu yang diperlukan sejak saat pemberian
pupuk hingga pupuk tersebut dapat diserap tanaman
Curah hujan :
Daur air : adalah perubahan yang terjadi pada air secara berulang
dalam suatu pola tertentu.
Diferensiasi : proses pertumbuhan tanaman disebut Derajat
peresapan air Angka yang menyatakan derajat
meresapnya air pengairan ke dalam tanah dan
keseragaman peresapannya ke dalam lapisanlapisan
bawah tanah
Derajat ketebakan kebasahan : merupakan pernyataan yang menyatakan berapa besar
pembasahan tanah, yang seharusnya segera dilakukan
setelah kurun waktu pemberian air pengairan.
Difusi : adalah pergerakan molekul atau ion dari dengan daerah
konsentrasi tinggi ke daerah dengan konsentrasi
rendah
Embrio : Calon individu baru
Epidermis : Kulit luar organ berupa lapisan lilin yang mencegah
kehilangan air secara berlebihan
Epigeal : Proses perkecambahan yang hipokotilnya tumbuh
memanjang akibatnya kotiledon dan plumula terdorong
ke permukaan tanah, sehingga kotiledon berada diatas
tanah
LAMPIRAN B
370
Fotosintesis : Pengubahan bentuk tanaga matahari menjadi bentuk
lain
Fotosisitem I : Molekul klorofil yang menyerap cahaya pada panjang
gelombang 700 nM.
Fotosistem II : Terdiri dari molekul klorofil yang menyerap cahaya
pada panjang gelombang 680nM
Fototropisme : merupakan peristiwa pembengkokan ke arah cahaya
Flooding (Cara penggenangan) adalah cara pemberian air ke lahan pertanian
sehingga menggenangi permukaan tanahnya.
Gen : faktor pembawa sifat menurun yang terdapat di dalam
makhluk hidup
Giberelin : Hormon yang bekerja hanya merangsang pembelahan
sel. Terutama untuk merangsang pertumbuhan primer
Gravity irrigation atau irigasi gaya berat Sistem ini menggunakan cara di mana
pemberian/ penyaluran air pengairan ini sepenuhnya
dengan memperhatikan gaya berat
ground water, yaitu air tanah atau jelasnya air permukaan yang meresap ke dalam
tanah dan berkumpul di bagian lapisan bawah tanah
yang kemudian sedikit demi sedikit akan ke luar melalui
mata air
Habitat : Tempat tinggal makluk hidup
Higroskopisitas pupuk : adala sifat mudah tidaknya pupuk bereaksi dengan uap
air.
Hipogeal : Pada perkecambahan ini terjadi pertumbuhan memanjang
dari epikotil yang menyebabkan plumula
keluar menembus kulit biji dan muncul diatas tanah
kotiledon tetap berada di dalam tanah
Hormon (zat tumbuh) : suatu senyawa organik yang dibuat pada suatu bagian
tanaman dan kemudian diangkut ke bagian lain, yang
konsentrasinya rendah dan menyebabkan suatu
dampak fisiologis
Hiposonik : Suatu larutan yang mempunyai tekanan osmosis lebih
rendah daripada larutan lain
Indeks garam : merupakan gambaran perbandingan kenaikan tekanan
osmotik karena penambahan 100 g pupuk dengan
LAMPIRAN B
371
kenaikan tekanan osmotik karena penambahan 100 g
NaNO3
Irigasi Isecara umum didefinisikan sebagai pemberian air kepada tanah dengan
maksud untuk memasok kelembaban tanah esensial
bagi pertumbuhan tanaman
interflow, yaitu aliran air yang meresap ke lapisan tanah permukaan dan kemudian
mengalir kembali ke luar dari lapisan tanah permukaan
tersebut ke permukaan tanahnya
Isotonik atau isomosi : Suatu larutan yang mempunyai tekanan osmosis yang
sama dengan larutan lain
Kelarutan pupuk : menyatakan mudah tidaknya suatu pupuk larut dalam
air, dan diserap akar tanaman.
Kekeringan dapat dinyatakan sebagai suatu keadaan dimana berkurangnya jumlah
air disebabkan oleh menurunnya daya dukung tanah
terhadap ketersediaan air
Kekeringan hidrologi, adalah kekeringan yang berasosiasi dengan efek periode
singkat dari curah hujan
Kekeringan meteorology , adalah cekaman kekeringan yang disebabkan keterbatasan
curah hujan yang berkepanjangan
Kekeringan sosial ekonomi, adalah keadaan perubahan sosial ekonomi masyarakat
yang disebabkan oleh keterbatasan air
Kadar unsur pupuk Banyaknya unsur hara yang dikandung oleh sutatu pupuk
Kemasaman pupuk : Reaksi fisiologis masam dari pupuk yang diberikan ke
tanah
Karbohidrat : Zat gula
Klorofil : Atau biasa disebut zat hijau daun. zat ini sangat
berguna untuk mengubah zat yang diserapnya menjadi
zat-zat makanan
Kloroplas :
Kinin atau sitokinin : Zat hormone yang bekerja mempercepat pembelahan
sel, membantu pertumbuhan tunas dan akar, dan dapat
menghambat proses penuaan (senescence).
Kutikula : Lapisan dari lilin yang melindungi permukaan daun dari
teriknya cahaya matahari atau lingkungan yang kurang
menguntungkan
LAMPIRAN B
372
Kualitas air pengairan Adalah jumlah kandungan ion yang berbahaya, ataupun hara
yang berguna bagi tanaman
Kohesi : Gaya tarik menarik Molekul air dengan molekul air
lainnya
Layu permanen : Tanaman yang kekurangan air dan apabila disiram
tidak dapat pulih kembali.
Mesofil : Sel-sel pada bagian daun yang banyak mengandung
kloroplas (lebih kurang setengah juta kloroplas setiap
milimeter perseginya)
Meiosis : pembelahan sel kelamin
Meristem : Jaringan muda yang senantiasa membelah
(meristematis)
Mitosis : pembelahan dari sel tubuh
Multiselluler : makhluk hidup bersel banyak
nilai ekivalen kemasaman, : yang artinya berapa jumlah Kg kapur (CaCO3) yang
diperlukan untuk meniadakan kemasaman yang
disebabkan oleh penggunaan 100 Kg suatu jenis
pupuk
Nutrisi : Mineral yang dibutuhkan tanaman
Osmosis : peristiwa bergeraknya pelarut antara dua larutan
yang dibatasi membran semi permiable dan (selaput
permiable diffrensial) berlangsung dari larutan yang
konsentrasinya tinggi ke konsentrasi rendah
Pertumbuhan : didefinisikan sebagai peristiwa perubahan biologis
yang terjadi pada makhluk hidup berupa perubahan
ukuran yang bersifat irreversible (tidak berubah kembali
ke asal atau tidak dapat balik)
Pertumbuhan primer : adalah pertumbuhan ukuran panjang pada bagian
batang tumbuhan karena adanya aktivitas jaringan
meristem primer.
Pertumbuhan sekunder : adalah pertambahan besar dari organ tumbuhan
karena adanya aktivitas jaringan meristem sekunder
yaitu kambium pada kulit batang, kambium batang,
dan dan akar.
Perkembangan : proses menuju pencapaian kedewasaan atau tingkat
yang lebih sempurna pada makhluk hidup
LAMPIRAN B
373
Perkecambahan : merupakan proses pertumbuhan dan perkembangan
embrio
Phloem : pembuluh tempat transport makanan
Plasmolisis : Peristiwa lepasnya plasma sel dari dinding sel
Potensi air : energi potensial air yang terkandung dalam tubuh
tanaman
Pupuk buatan Pupuk buatan merupakan pupuk yang dibuat oleh pabrik dengan
kandungan unsur hara tertentu
Pupuk asam Pupuk dapat menurunkan pH disebut
Pupuk basa Pupuk yang dapat menaikkan pH
Pupuk tunggal : Pupuk yang hanya mengandung satu unsur
Pupuk majemuk : Pupuk yang mengandung lebih dari satu unsur
Reaksi terang : reaksi fotosintesis yang memerlukan cahaya
Reaksi gelap : reaksi fotosintesis yang tidak memerlukan cahaya
Respirasi : merupakan proses perombakan senyawa organik
menjadi senyawa anorganik dan menghasilkan energi
Respirasi aerob : suatu proses metabolisme tanaman dengan menggunakan
oksigen yang
Respirasi anaerob : reaksi pemecahan karbohidrat untuk mendapatkan
energi tanpa menggunakan oksigen
Run off aliran air permukaan
Stomata : Mulut daun
Suhu minimum : Suhu paling rendah dimana organisme masih dapat
melaksanakan metabolismenya
Suhu maksimum : Suhu paling tinggi dimana organisme masing dapat
melaksanakan metabolisme
Suhu optimum : Suhu paling baik untuk kelangsungan metabolisme
pada makhluk hidup
Sugar sink : Tempat penerima gula, tempat gula disimpan atau
dikonsumsi
Supertonik : Suatu larutan yang mempunyai tekanan osmosis lebih
tinggi daripada larutan lain
LAMPIRAN B
374
Sprinkle Irigation air pengairan secara pancaran Stomata : merupakan celah yang
dibatasi oleh dua sel penjaga
Tumbuhan hijau : Tumbuhan yang mengandung zat hijau daun (klorifil)
Tekanan turgor. : Tekanan hidrostatik dalam sel disebut
Top dressing Pembeian pupuk melalui disebar di atas permukaan tanah.
Transpirasi : adalah proses penguapan air melalui stomata
Uniselluler : Organisme ber sel tunggal
Xylem : Merupakan jaringan pengangkutan air
Zigot : Sel hasil penyatuan sel betina (ovum) dengan sel
kelamin jantan

shareShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someonePrint this page

komentar

klikaja bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Related Post Teknik Budidaya Tanaman 2016

Agroteknology

Budidaya cabai merah masih berprospek baik didunia

Ikan Louhan

PRODUSEN BOLEH OPLOS BIOETANOL

Budidaya Bertanam Buncis Perancis