bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
Home » Blog » INDUSTRI SEPERTI FARMASI DAN KOSMETIK MEMERLUKAN ETANOL BERKADAR 99,6%.
Filed: Blog
Advertisement
loading...

zz41.ETANOL BERKADAR 99,6%.

Eka •cemudian memurnikan hasil sulingan masyarakat Minahasa Selatan hingga diperoleh kadar etanol 99,6%. Menurut perhitungan Eka, untuk menghasilkan 1 liter bioetanol 99,6% menghabiskan 15 liter nira aren. Di Minahasa Selatan yang menjadi sentra aren, narga seliter nira Rp200. Untuk menghasilkan bioetanol Eka menghabiskan Rp3.000. Itu baru untuk bahan baku. Dengan menghitung biaya proses, transpor Manado—Jakarta, dan pajak, total 3 lay a produksi untuk menghasilkan 1 liter bioetanol 99,6% mencapai Rp4.700. Ongkos transpor Manado—Jakarta Rp700 per liter. Pasar ter ben tang Rata-rata produksi Kreatif Energi Indonesia 1—2 ton per hari atau 20.000 ton per bulan. bahwa volume penjualan bioetanol mencapai 1—2 ton per hari dengan harga Rp6.500 ?er liter. Artinya, setiap hari ia mengutip laba bersih Rpl.800.000—Rp3.600.000 atau Rp36-juta per bulan lari penjualan bioetanol skala rumahan. Memang produksinya belum dikonsumsi oleh •.endaraan bermotor, walau sudah memenuhi ftandar kualitas bahan bakar nabati. Namun, .antaran konsumen bioetanol sangat luas, Eka baru sanggup memasok industri farmasi. “Pasarnya luar riasa besar,” ujar direktur operasional PT Kreatif Energi Indonesia itu. Sebagai gambaran, hingga ?aat ini Eka belum sanggup melayani tingginya Trrmintaan bioetanol. Setidaknya 255 ton permintaan rutin per bulan ang gagal terpasok. Jika itu terlayani, tentu saja £ka bakal meraup laba bersih jauh lebih besar. Oleh •.arena itu lajang kelahiran Medan 16 Juni 1972 :tu kini membuka pabrik pengolahan bioetanol ii Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Daerah :tu dipilih lantaran terdapat 14 kecamatan sentra aren dari total 22 kecamatan. Lokasinya gampang i: angkau dari Jakarta dan relatif dekat. Jarak yang dekat berarti memangkas biaya produksi, terutama biaya pengangkutan. Di Lebak, Banten, bungsu 5 bersaudara itu juga menerapkan pola kemitraan dengan masyarakat. Ia akan menampung seluruh produksi mereka sepanjang memenuhi standar kualitas yang dipersyaratkan. Saat ini 14 kecamatan itu menghasilkan 120 ton nira per pekan. Eka juga mengembangkan 7 ha sorgum sebagai bahan baku. Anggota famili Gramineae itu memang potensial sebagai penghasil biotenaol (baca: Tanaman Penyumbang Bahan Bakar halaman 22). Itulah strategi Eka membangun kilang hijau. Kilang adalah instalasi industri tempat pemurnian minyak bumi. Namun, kilang juga berarti fermentasi air tebu atau nira. Proses itu harus dilalui ketika ia mengolah nira menjadi bioetanol yang terus ia kembangkan. Ia sama sekali tak khawatir soal pemasaran. Selama ada kehidupan,bioetanoltetapdiperlukan:untukminuman, makanan, kosmetik, rokok, juga bahan bakar.

shareShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someonePrint this page

komentar

klikaja bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Related Post INDUSTRI SEPERTI FARMASI DAN KOSMETIK MEMERLUKAN ETANOL BERKADAR 99,6%.

MELANCARKAN AIR ASI DENGAN HERBAL JOSS

SIRIH, PINANG, GAMBIR MAMPU MENYEMPITKAN VAGINA

PERTANAMAN PADI DAN JAGUNG DI KABUPATEN MALANG PROVINSI JAWA TIMUR

SILANGAN SANSEVIERIA MASONIANA DAN S. KIRKII

JAMUR PENGUSIR VERTIGO